Bab 1

"Aku lelah dengan semua ini, Bang. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat."

Ranti terisak. Menahan ledakan tangis sedapat mungkin agar tak terdengar anak-anaknya.

"Abang tahu, Dek. Tapi bukan dengan cara seperti ini untuk menyelesaikannya."

Laki-laki itu beranjak, merangkulnya dalam dekapan erat. Membenamkan kepala istrinya ke dada bidang yang juga merasa sakit dengan semua kenyataan yang terjadi.

"Yang terpenting kita, Dek. Cinta kita. Kepercayaan di antara kita. Bukan tentang mereka."

Ranti mendongakkan kepalanya. Menatap laki-laki itu. Suaminya yang telah berjuang memperjuangkan cinta mereka.

"Tapi mereka keluargamu, Bang. Tak ada kata mantan adik ataupun mantan kakak. Yang ada mantan istri. Hubungan kalian bagaikan air, tak akan putus walaupun dicincang. Jangan jadikan aku sebagai penghalang. Aku ikhlas."

Netra mereka saling bertemu. Ranti mencoba meyakinkan Bayu, suaminya bahwa pilihan ini adalah yang terbaik.

"Anak-anak kita, Dek. Mana yang lebih berharga? Saudara-saudara Abang atau anak-anak kita?"

Ranti mengusap wajahnya yang telah basah, penuh air mata.

"Ini bukan tentang pilihan mana yang lebih berharga, Bang. Mereka semua berharga. Tapi ini adalah pilihan, mana yang terbaik. Anak-anak akan mengerti. Abang tetap ayah bagi mereka, selamanya ... tak akan pernah terganti."

Bayu menghela napasnya. Keadaan ini sangat sulit. Lima belas tahun Ranti berusaha mendekatkan diri pada keluarganya, tak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Dan kondisi ini menjadi puncaknya.

"Abang tahu ini berat. Tapi Abang yakin, dirimu mampu menyingkirkan ego yang ada di hati saat ini. Tak penting mereka menganggapmu ada atau tidak. Di mata Abang, kamu tetap yang terbaik. Abang tahu ... sebesar apapun kesalahan Abang selama ini, selalu Adek maafkan. Hati Adek luas untuk selalu membuka pintu maaf untuk Abang. Tolong ... jangan akhiri seperti ini."

Akhirnya Bayu pun tak kuasa membendung lelehan bulir dari netranya. Dirinya menangis.

"Aku selamanya tetap tak akan bisa jadi saudara bagi adik dan kakak Abang. Termasuk bagi Ibu. Hanya almarhum Abah yang bisa sedikit menerima kehadiranku. Kalau hanya sekadar kata, aku masih terima, Bang. Tapi dengan fitnah ini, aku tak sanggup lagi menerima semuanya."

Ranti mencoba mengusap-usap dadanya yang mulai terasa sesak. Berat beban yang dirasakannya saat ini. Bukan hanya raganya letih, jiwanya pun sudah merasa tak kuat lagi menanggung semua kecewa ini.

"Aku tahu, Bang. Aku bukan manusia baik, manusia sempurna. Aku masih masih khilaf dan salah. Amalanku pun terbatas yang wajib ditambahkan sedikit sunah. Tak banyak, tapi aku berharap itu akan membawa keberkahan dalam keluarga kita. Tak mengapa keluarga Abang membenciku, menghinaku, merendahkanku. Tapi tolong jangan fitnah aku, Bang," ucap Ranti setelah mengurai pelukan yang ada di antara mereka.

Ranti beranjak melangkah menuju jendela. Melepaskan pandangan ke arah taman yang tepat berada dalam jangkauan matanya.

"Harusnya keluarga Abang bersyukur. Aku mampu merubah Abang menjadi pribadi yang lebih baik daripada dulu. Merubah segala tabiat Abang yang kurasa tak pantas untuk dilihat anak-anak kita. Aku yang berusaha membimbing Abang, kita sama-sama belajar. Berusaha jadi manusia yang lebih baik ke depannya. Pantaskah jika aku mendapat balasan seperti ini, Bang?"

Ranti menghela napasnya. Mencoba menekan sakit yang kian terasa.

"Menuduhku sudah mengguna-gunai Abang sehingga tak ingat mereka lagi ... hanya karena Abang tak lagi royal memberikan uang pada mereka? Harusnya mereka sadar jika Abang tak lagi bekerja. Tak lagi memegang jabatan seperti dulu. Tak lagi mampu memfasilitasi mereka seperti yang mereka mau. Harusnya ... mereka mengerti dengan kondisi Abang saat ini. Bukan lantas menuduhku berbuat keji seperti itu!"

Ranti diam. Bahkan tak merespon saat suaminya itu memeluknya dari belakang. Pandangannya tetap lurus, menatap kejauhan.

"Sehina-hinanya aku ... tak akan aku berbuat syirik seperti itu. Dukun ... sosok yang Insya Allah tak akan aku temui di sepanjang hidupku, Bang. Kalau kamu berubah, itu karena pintaku pada-Nya. Karena doa tulusku di atas sajadah. Karena lirih tangisku di sepertiga malam. Karena niatku untuk membuat hidup hidup kita lebih baik."

Ranti kembali mengusap wajahnya, menyapu air mata yang tersisa.

"Abang paham ... Abang tahu. Karena itu Abang minta, abaikan mereka."

Ranti merasakan pelukan di pinggangnya semakin erat. Punggungnya dapat merasakan bulir bening yang mengalir di wajah laki-laki yang sedang memeluknya itu.

"Lantas sampai kapan mereka berhenti mengusik kehidupan kita? Sampai kapan aku akan dicap sebagai pemisah keluarga Abang? Aku bertanya masalah hutang ... itu karena mereka meminjam. Bukan meminta, Bang. Puluhan juta, Bang. Bukan jumlah yang sedikit bagiku, entah bagi mereka. Dan itu sudah bertahun-tahun. Bukan pula mereka tak mampu, tapi lebih pada tak mau untuk melunasinya."

Tak ada reaksi dari Bayu. Laki-laki itu tetap dalam posisi yang sama. Menahan tubuh Ranti agar tak beranjak pergi meninggalkannya. Bak buah simalakama, Bayu tak tahu harus berkata apa. Istrinya benar jika tindakan dan fitnah yang diucapkan saudara-saudaranya itu menyakitkan hatinya. Lantas dia harus berbuat apa? Berkelahi dengan sesama saudara kandungnya? Hanya ini yang dapat dilakukan Bayu saat ini. Menenangkan istrinya, memohon maaf dan pengertian atas kekurangajaran saudara-saudara yang lahir dari rahim yang sama dengannya.

"Ibu, kakak dan adikmu tak pernah menganggap keberadaan aku dan anak-anakku. Enam kali aku melahirkan, apakah pernah Ibu sengaja menjengukku? Meluangkan waktu untuk melihat kehadiran cucunya. Tak pernah Bang ... Ibu hanya akan datang ke rumah ini untuk meminta jatah bulanannya. Bukan untuk dekat dengan cucu-cucunya. Tak heran, anak-anak tak dekat dengan keluargamu, Bang. Mereka hanya sebatas mengenal Mak Cik, Pak Ngah dan Pak Wo dalam panggilan. Tidak dengan sosok mereka."

Ranti melepaskan pelukan Bayu. Membalikkan tubuhnya sehingga posisi mereka sekarang saling berhadapan.

"Niatku sudah bulat, Bang. Kita berpisah saja, untuk kebaikan semuanya. Ku kembalikan Abang pada keluarga karena selama ini mereka pikir aku telah merebut Abang dari mereka. Aku tak melarang Abang datang ke rumah ini, walaupun Abang tahu rumah ini adalah murni hasil kerja kerasku. Mereka anak-anak Abang ... selamanya."

Ranti menatap tegak. Netranya dan Bayu saling bertemu dalam luka.

"Jangan mengambil keputusan yang gegabah, Dek. Abang tak mau berpisah denganmu."

"Cinta tak harus menyatu kan, Bang? Berkorban untuk kebahagiaan orang yang kita cintai tentunya adalah hakikat dari cinta sesungguhnya. Kembalilah pada keluargamu, Bang. Aku ikhlas menemani Abang. Aku ikhlas mendampingi Abang. Kebahagiaan Abang sekarang ada pada mereka."

Tak ada balasan dari Bayu. Hanya hembusan napas yang masih memecah keheningan kamar itu.

"Abang akan pergi jika memang itu yang terbaik untukmu saat ini, Dek. Tapi bukan untuk kembali pada keluarga Abang. Abang hanya memberikan waktu pada dirimu untuk berpikir lebih jernih, lebih tenang. Satu hal yang harus kamu tahu, Abang selalu ada di sampingmu. Jangan korbankan egos saat ini untuk sesuatu yang akan kita sesali sepanjang hidup kita nantinya."

Ranti menatap pilu saat Bayu mulai memberekan baju-bajunya dari lemari. Tak banyak yang dibawanya. Hanya satu ransel yang dijadikan pembungkus baju-baju itu.

"Abang hanya akan membawa motor. Karena Abang tahu, semua yang kita miliki ini saat ini adalah hasil kerja kerasmu."

Tatapan nanar dilepaskan Ranti saat melihat kepergian Bayu, laki-laki yang telah berjuang bersamanya dari titik nol. Ranti tak membenci suaminya itu, hanya saja Allah sedang menguji mereka saat ini. Ingatan Ranti berputar, mengenang kejadian lima belas tahun silam saat dirinya mulai resmi menjadi istri Bayu Purnama, laki-laki yang dianggap keluarganya telah berubah karena dukun dan guna-guna.

Bab 2

Ranti ragu melangkahkan kakinya mengikuti jejak Bayu, laki-laki yang telah menghalalkan dirinya seminggu yang lalu. Tiga tahun menjalin hubungan dengan laki-laki yang berasal dari pulau yang berbeda cukup untuknya memantapkan hati. Melabuhkan hati pada Bayu, kakak tingkatnya sejak duduk di tahun keempat dirinya menjadi mahasiswi.

Ajakan menikah sudah dilakukan Bayu sejak dua tahun yang lalu. Tepatnya saat hari wisuda Bayu, laki-laki yang sekarang menjadi aparatur negara itu melamarnya.

"Dek, Abang akan kembali ke daerah. Ada penerimaan pegawai di sana. Abang rasa lebih baik kita halalkan dulu hubungan kita ini. Biar hati kita saling terikat, walau jarak memisahkan kita sementara ini."

Bayu menyampaikan niatnya untuk menikahi Ranti kala itu, saat keduanya menghabiskan malam di warung tenda pinggir jalan. Menikmati ayam bakar dengan nasi dan lalapan, cukuplah untuk santapan anak kuliahan.

"Kalau memang kita jodoh, tak akan kemana Bang. Adek harus menyelesaikan kuliah dulu, fokus pada skripsi. Insya Allah jika dimudahkan, tahun depan selesai. Abang juga fokus pada tes. Jaga hati kita, lagipula setahun tak terasa Bang nantinya."

Ranti menatap sendu pada kekasih hatinya itu. Menjalani hubungan dalam rentang jarak yang terpisah oleh lautan. Ada cita-cita yang harus mereka berdua perjuangkan saat ini.

Sampai akhirnya, saat yang mereka nantikan tiba. Minggu kemarin, Ranti resmi menjadi istri Bayu Purnama, laki-laki yang berdinas di Badan Keuangan Daerah provinsi mereka. Bukan keputusan yang mudah bagi Ranti, saat harus menekan ego untuk berkarir setelah menamatkan kuliahnya.

"Dek, ayo masuk! Kenapa berdiri di situ saja?" Panggilan Bayu menyadarkan Ranti dari bayangan perjalanan kisah cinta mereka.

Bayu melangkah mendekati Ranti, menggandeng tangan istrinya itu. Memastikan langkah wanita itu tegak bersamanya.

"Adek jangan terkejut ya kalau mendengar nada tinggi saat berbicara di rumah ini. Bukan karena marah ataupun tak suka, tapi memang beginilah nada bicara orang di daerah Abang."

Genggaman tangan Bayu menguatkan hati Ranti yang sempat khawatir dengan drama kehidupan menantu dan mertua yang selama ini sering didengarnya.

"Assalamu'alaikum." Serempak pasangan suami istri itu mengucapkan salam.

Tak ada balasan dari dalam rumah. Bayu melepaskan genggaman tangannya dari Ranti, membuka pintu yang sedari tadi tak siapa pun membukanya.

Tampak ibunya sedang duduk di depan televisi. Menonton drama kehidupan yang ujung ceritanya pasti sudah bisa ditebak. Mustahil sebenarnya jika ibu tak mendengar ucapan salam yang mereka ucapkan.

"Bu ... Ibu tak mendengar salam kami tadi?" Bayu mendekati ibunya dan segera mengulurkan tangan mencium takzim tangan kanan wanita yang telah melahirkannya itu. Keluarga besar Bayu memang hanya dua hari saja di daerah Ranti. Keesokan hari setelah resepsi, tinggallah Bayu sendiri di rumah keluarga istrinya itu.

"Oh ... kalian sudah sampai? Maaf ... Ibu tak mendengar salam kalian."

Wanita paruh baya yang sedang duduk itu tak beranjak sama sekali. Menyambut uluran tangan Bayu yang diikuti Ranti tanpa mengangkat tubuhnya sama sekali dari sofa. Matanya pun tak berpindah, masih menatap layar datar di hadapannya.

Sontak saja perasaan Ranti tak nyaman. Tak ada sambutan hangat yang selayaknya ditunjukkan mertua pada seorang menantu yang baru saja tiba.

Ranti memang tak terlalu mengenal keluarga Bayu, suaminya. Lautan yang memisahkan asal mereka membuat acara tatap muka hanya terjadi melalui video di gawai saja. Bahkan pada saat lamaran, tak ada keluarga besar Bayu yang datang. Alasan jarak yang jauh serta bapaknya yang sering sakit-sakitan membuat kedua orang tua Ranti tak mempermasalahkan kehadiran calon besannya itu.

"Jadi ... kalian akan tinggal bersama Ibu dan Bapak ya?" Pertanyaan itu meluncur saat pasangan suami istri itu baru saja mendudukkan tubuh lelah mereka di sofa yang ada di hadapan wanita paruh baya itu.

"Hanya sementara, Bu. Nanti Bayu dan Ranti akan mencari kontrakan. Sengaja kemarin-kemarin Bayu belum mencari kontrakan, biar sekalian menunggu Ranti sana. Mana yang lebih nyaman baginya nanti."

Bayu jelas merasa tak nyaman dengan istrinya atas pertanyaan yang dilontarkan ibunya itu. Pelan, tangannya meraih jemari Ranti. Memastikan semuanya akan baik-baik saja.

"Ya ... bagus itu. Jangan sampai nanti ada cerita jelek yang beredar antara Ibu dan istrimu baru kalian baru mau cari kontrakan. Bukan Ibu dan Bapak keberatan, tapi kami lebih menghindari saja. Takut jelek di belakang hari. Benar kan, Ran?"

Ranti menganggukkan kepala seraya melemparkan senyum kecil. Walau benar apa yang dikatakan mertuanya, tetap saja hal ini terlalu dini untuk dibicarakan pada anggota keluarga baru seperti dirinya.

Tak ada tawaran teh hangat ataupun nasi untuk disantap. Padahal jelas sekali jam makan siang telah dilewatkan Ranti dan Bayu karena ingin buru-buru sampai di rumah, tempat Bayu dibesarkan selama ini.

"Kakak dan abangnya Bayu juga langsung memisahkan diri dengan Ibu dan Bapak setelah menikah. Agar tak terjadi konflik menurut mereka. Alhamdulillah, hubungan kami baik-baik saja selama ini. Benar kan, Pak?"

Laki-laki paruh baya yang baru keluar dari kamarnya itu duduk di samping istrinya. Bayu dan Ranti beranjak dan mengulurkan tangan mereka, mencium takzim tangan laki-laki itu dengan hormat.

"Bapak terserah mereka saja, Bu. Mana yang baik saja untuk mereka." Kalimat itu jelas lebih menenangkan Ranti.

"Ya ... tidak bisa seperti itu, Pak. Jadi orang tua itu harus adil. Kalau satu anak setelah menikah langsung memisahkan diri dengan kita, anak lain juga seperti itu. Jangan sampai kesannya, kita ini pilih kasih. Mau menantu dari daerah mana pun, sama bagi Ibu."

Ada hati yang tergores saat kalimat itu diucapkan. Bayu bukannya tak tahu apa yang dirasakan Ranti saat ini. Terlihat wanita pilihannya itu menunduk. Tak berani bertatap muka dengan ibunya. Bukan tak mungkin, netranya sudah mengembun saat ini.

" Iya, Bu. Bayu dan Ranti paham. Kami hanya tinggal sementara saja di sini. Mudah-mudahan cepet ketemu yang cocoknya. Besok juga kami langsung survei ke lokasi. Kebetulan Bayu sudah punya beberapa alternatif, tinggal menunggu persetujuan Ranti saja."

Ranti sama sekali tak mengangkat wajahnya. Netranya menekuri ubin lantai yang mereka injak saat ini. Sepahit inikah rasanya hidup di perantauan bersama suami? Apakah semua menantu akan merasakan yang dialaminya saat ini? Mertua, semoga tak menjadi neraka baginya.

"Ran ... jangan terlalu cerewet memilih rumah kontrakannya. Susah kalau mau mencari kontrakan sesuai selera kita. Lagi pula, Bayu juga masih merintis karirnya. Tak ada uang banyak untuk menyewa rumah yang bagus. Uangnya sudah habis untuk biaya pernikahan kalian kemarin."

Bak belati yang menggores dinding hatinya, Ranti tak menyangka kejutan dari mertuanya sungguh luar biasa. Perih, walau luka itu tak berdarah.

"Ya sudah, Bu. Anak dan menantunya juga baru sampai. Kalian istirahatlah dulu. Capek tentunya di perjalanan. Ranti, anggap rumah sendiri ya!" Ucapan laki-laki itu mengakhiri ceramah panjang dari sang istri. Gumaman tak jelas masih terdengar lirih dari bibir wanita yang sepertinya belum menyampaikan seluruh isi hatinya itu

"Kami belum makan. Tadi dari bandara langsung ke rumah. Ada makanan nggak, Bu?"

Wanita yang disapa ibu itu akhirnya mengangkat tubuhnya. Berjalan, melangkah menuju dapur.

"Tak ada, sudah dihabiskan Nina dan Ririn tadi. Kalau kalian mau makan, beli saja sebaiknya, Yu."

Bayu menelan ludahnya. Padahal niatnya mempersunting Ranti sama sekali tak mendapat bantahan dari ibunya itu. Tapi mengapa semuanya berubah setelah pernikahan ini terjadi.

"Kita salat dulu, Dek. Habis itu kita keluar. Cari makan di warung ya! Kamu pasti lapar, Abang juga. Sekalian kita beli bahan masakan untuk nanti malam di pasar."

Ranti mengangkat wajahnya dan mengangguk, pertanda setuju. Bayu dapat melihat dengan jelas, ada luka di mata itu. Netra istrinya mengembun. Mencoba menahan rasa yang sama sekali tak diharapkan saat kakinya melangkah memasuki rumah mertua, dua sosoknya telah menghadirkan Bayu di dunia.

"Jangan diambil hati. Ibu memang mulutnya seperti itu. Tapi hatinya insyaAllah baik, Dek."

Ranti memilih tak menanggapi ucapan suaminya. Hanya senyum getir yang mengulas dari bibirnya. Entah kejutan apalagi yang akan ditemuinya nanti. Di sini, di rumah mertuanya ini.

Bab 3

Adzan Subuh sayup terdengar. Ranti menarik selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke arah leher. Dinginnya udara pagi benar-benar terasa menusuk tulang.

"Dek, bangun dulu. Subuh bareng yuk!" Terdengar panggilan Bayu sambil menggoyang-goyangkan ujung kakinya. Sontak saja membuat Ranti terpaksa harus membuka matanya.

"Luar biasa capeknya, Bang. Tulangku remuk semua rasanya."

Ranti mengucek matanya. Menyibak selimut yang menutupi tubuhnya seraya meluruskan kedua tangannya ke samping kiri dan kanan serempak.

"Nanti habis salat, tidur saja lagi."

Tampak Bayu sudah siap dengan baju koko dan sarungnya. Air wudhu membasahi wajah laki-laki itu.

"Abang sudah wudhu ya? Nggak salat ke masjid." tanya Ranti seraya bangun dari tempat tidur. Mendudukkan tubuhnya di sisi kasur seraya memandang suaminya.

"Sudah. Abang salat di rumah saja. Masjidnya agak jauh. Lagipula udaranya dingin banget. Dari tadi Abang bangunkan. Adek tidurnya pulas banget. Untung saja Abang tidak mengajak bertempur semalam hehe ...."

Bayu tertawa kecil, menggoda istrinya. Menyibakkan anak rambut yang menutup sebagian wajah perempuan yang telah merebut hatinya itu.

"Apaan sih, Bang! Lain kali salat di masjid, Bang. Abang mau jadi suami solehah? Udah ... aku wudhu dulu. Abang tolong siapkan sajadah.

"Siap istri cantikku."

Ranti beranjak dari duduknya. Melangkahkan kaki keluar kamar. Tampak suasana rumah masih sepi.

Tak lama kemudian, tampak gerakan pasangan suami istri itu menjalankan ibadah wajibnya. Menghadap Allah sebagai bentuk kepatuhan umat-Nya. Salam mengakhiri aktivitas mereka, diiringi kecupan takzim Ranti pada tangan kanan suaminya.

"Tidur lagi saja, Dek. Kalau memang masih mengantuk. Abang mau jalan-jalan pagi. Sudah lama nggak jogging pagi."

"Abang rutin olahraga tiap pagi? Walaupun kerja?" tanya Ranti seraya membuka mukena yang dikenakannya.

"Hampir setiap pagi. Lumayanlah untuk menjaga kebugaran tubuh. Paling juga setengah jam. Itu pun hanya seputaran kampung ini saja."

Ranti melanjutkan gerakan tangannya dengan melipat kembali sajadah yang telah mereka gunakan. Menyimpannya di lemari pakaian milik Bayu.

"Boleh Adek ikut, Bang?" tanya Ranti.

Bayu terkekeh saat mendengar pertanyaan istrinya itu.

"Tentu saja. Tapi kata Adek capek. Kalau memang masih capek mending istirahat."

Bayu membuka baju koko sarung, menggantinya dengan setelan celana pendek dan kaos. Khas untuk pakaian olahraga.

"Ya ... hitung-hitung sambil mengenal daerah sini, Bang. Lagi pula sambil beradaptasi dengan cuaca di sini."

Ranti membuka koper hitam berisi pakaiannya yang memang belum dikeluarkan isinya. Menurut Bayu, hari ini mereka akan melakukan langsung melakukan cek rumah kontrakan. Jika ada yang cocok, mereka akan langsung pindah esok hari. Jadi, Ranti sengaja membiarkan bajunya di koper tanpa dibongkar. Biar tak kerja dua kali.

"Ya sudah. Nanti sekalian kita beli sarapan saja, Dek. Abang tunggu di depan," ujar Bayu seraya melangkah keluar dari kamar.

Ranti memilih celana panjang hitam dan kaos lengan panjang berwarna biru Dongker sebagai setelan olahraganya. Tak lupa, mengenakan hijab instan berwarna senada dengan baju kaosnya.

Lampu ruang tengah masih belum dinyalakan. Hanya lampu dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi yang menyala. Tampaknya belum siapa pun yang melakukan aktivitas di rumah ini.

Ranti melangkahkan kakinya keluar rumah. Tampak sang suami sedang menggerakkan anggota badannya.

"Kita langsung jalan, Bang? Tak pamit dulu pada Ibu?"

"Iya, langsung saja. Biasanya Ibu dan Bapak habis salat Subuh juga emang tiduran lagi. Abang matikan dulu lampu luar rumah, Dek."

Bayu melangkah kembali ke rumah. Menekan saklar lampu penghubung aliran listrik ke lampu yang berada di luar rumah.

Ranti melangkahkan kakinya perlahan sembari menghirup udara pagi. Nyaman sekali rasanya jika menghirup udara yang bersih. Aroma tanah yang belum tersentuh debu. Wangi melati yang kebetulan ditanam di pekarangan rumah mertuanya menguar memenuhi penciuman Ranti, memberikan rasa tenang di hatinya.

Suasana perkampungan yang masih cukup terasa kental membuat hati Ranti terasa damai. Sesekali Bayu menyapa orang-orang yang berpapasan dengan mereka. Ada beberapa warung yang mulai dibuka oleh para pemiliknya.

"Bayu, sama istrinya ya?" Langkah mereka terhenti saat melewati warung yang sepertinya menjajakan berbagai jenis sayuran.

"Iya, Bik. Baru datang kemarin."

Ranti menyangkutkan kedua telapak tangannya di dada sebagai bentuk perkenalan diri. Tak lupa, senyum manis tersungging di bibirnya. Lesung pipit yang membentuk dua cekungan kecil di pipinya seolah menambah pesona yang ditebarkannya.

"Cantik, Yu. Pintar kau memilih istri."

Bayu hanya mampu melemparkan senyum sembari tergelak.

"Bisa saja Bik Yani ini menggoda. Kami lanjut jalan ya Bik! Semoga dagangannya laris manis hari ini."

Terdengar ucapan syukur dari Bik Yani saat Bayu dan Ranti kembali melangkahkan kaki.

"Kalau mau belanja sayuran dan lauk bisa di warung Bik Yani, Dek. Kamu belanja saja nanti biar bisa masak hari ini."

Ranti tak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju.

"Nanti sekalian jalan pulang kita singgah di warung Mang Yadi. Banyak menu di sana. Adek bisa pilih jajanan khas daerah ini di sana nanti."

Ranti tersenyum saat mendengar ucapan Bayu. Semoga daerah ini tak membuatnya merasa seperti orang asing nantinya. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Paling tidak Ranti dimudahkan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di daerah suaminya. Kebiasaan, cara bertutur sampai untuk urusan perut dan lidah. Walau masih berada di kawasan kepulauan yang sama, tiap daerah punya kebiasaan dan kekhasan masing-masing.

Lampu penerang jalan sudah dimatikan. Jalan yang mereka lalui tak lagi gelap seperti saat meninggalkan rumah tadi. Semburat cahaya matahari mulai menampakkan pendarnya, walau terlihat masih malu. Orang yang berlalu-lalang pun mulai ramai. Kendaraan bermotor menjadi alat transportasi utama di daerah ini. Belum ada angkutan umum yang lewat sejak kaki mereka melangkah tadi.

Tampak kerumunan di ujung jalan. Sepeda motor tampak berjejer di pinggir jalan.

"Itu warung Mang Yudi, Dek. Kita singgah ya!"

Bayu menggandeng tangan Ranti, menyebrangi jalan untuk sampai ke tujuan.

Tampak aneka jajan berjejer rapi. Semua yang datang sibuk memilih jajanan yang mereka sukai. Ranti hanya mengenal beberapa jenis jajanan yang memang juga ada di daerah asalnya. Pempek dan aneka gorengan menjadi menu wajib penjual makanan sepertinya.

"Di sini, jajanan langsung diambil sendiri. Pakai wadah plastik ini. Nanti kalau sudah selesai, baru dikasih ke Mang Yudi atau istrinya itu. Baru dihitung."

Ranti menganggukkan kepala pertanda mengerti apa yang disampaikan suaminya. Berbeda dengan kebiasaan belanja di kampungnya. Cukup menyebutkan apa yang dikehendaki, penjual akan membungkus pesanan pembeli.

Bayu segera memilih beberapa jenis kue. Laki-laki itu memang jarang sekali sarapan dengan nasi. Cukup dengan kue dan gorengan untuk mengisi perut sebelum memulai aktivitas sehari-hari.

"Ini kesukaan Ibu, Dek. Lakso namanya. Kamu bisa ambil juga kalau mau mencoba," ujar Bayu seraya menunjukkan sebuah wadah plastik berisi tumpukan tepung putih dengan cairan berwarna kuning di bungkus yang terpisah.

"Ambil satu, Bang. Aku mau coba."

Ranti meneruskan gerakan tangannya yang sempat terhenti. Memilih kue-kue unik yang belum pernah dilihatnya selama ini.

Setelah membayar jajanan mereka, Ranti dan Bayu meneruskan perjalananan. Langkah kaki yang tergolong lambat karena keduanya mencoba menikmati pagi dengan suasana yang berbeda hari ini. Berjalan kaki dengan pasangan tentu akan beda sensasinya dibandingkan saat jalan sendiri.

Tepat jam tujuh saat Bayu melirik arloji di tangannya, mereka melangkah kembali ke rumah. Hanya ada Bapak yang sedang duduk menikmati secangkir kopi di teras saat keduanya tiba.

"Pagi, Pak," sapa Ranti.

"Ini tadi kami belikan kue untuk sarapan."

Ranti meletakkan plastik aneka jajanan yang mereka bawa di meja kecil yang terletak di dekat mertuanya.

"Isi di piring saja, Ran."

Mendengar ucapan mertuanya, Ranti segera bergegas masuk ke rumah dan langsung menuju dapur.

"Enak ya, pagi-pagi pengantin baru jalan-jalan. Orang sibuk membersihkan rumah, mencuci piring eh anggota keluarga baru sibuk berduaan. Nggak puas ya tadi malam berduaannya?"

Ranti menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Nina, sang ipar. Jelas sekali, ucapan itu ditujukan untuk dirinya.

"Maaf, Dek. Tadi pagi habis Subuh, Bang Bayu ngajak Kakak jalan pagi. Sekalian lihat suasana kampung di pagi hari. Sini ... Kakak lanjutkan cuci piringnya."

Rasa tak nyaman mendadak menyelimuti hati Ranti. Tadi pagi saat meninggalkan rumah, belum ada aktivitas yang terjadi.

"Tak perlu, anggap saja Kakak tamu di rumah ini. Tamu kan tidak harus membantu pekerjaan rumah?!"

Kalau tak memandang status dirinya sebagai orang baru di rumah ini, Ranti akan menjawab perkataan iparnya itu. Tapi demi rasa hormat pada sang mertua, Ranti memilih mengalahkan egonya.

"Ranti itu tak pernah bergelut dengan pekerjaan rumah, betul kan Ran? Nina, tak sepatutnya kamu mengajak Ranti untuk ikut membantu kita untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Kita tetap seperti biasanya, dengan pekerjaan rutin kita. Tak perlu kita mengharap Ranti membantu pekerjaan rumah ini. Lagipula, Ranti dan Bayu tak lama di sini. Mereka mau mencari kontrakan hari ini. Jadi ... jangan sampai kita bergantung pada Ranti."

Jantung Ranti terasa sesak seketika. Oksigen yang mengalir di darahnya serasa berhenti menyuplai kebutuhan untuk paru-parunya. Tubuhnya gemetar, menahan emosi yang terasa membuncah. Sesakit inilah rasanya saat mengawali kehidupan rumah tangga?

Ternyata hadirnya memang tak diharapkan keluarga Bayu, laki-laki yang dicintainya. Dua hari menginjakkan kaki di rumah ini cukup menjelaskan segalanya. Pagi yang tadinya dirasa indah oleh Ranti mendadak terasa bagaikan belati yang menghujam dasar hatinya. Ternyata, pagi ini menjadi awal kehidupan buruk rumah tangganya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED