Hari-hari berikutnya, Luna dan Raka semakin sering bertemu untuk mengerjakan proyek mereka. Awalnya, semuanya terasa canggung, dengan jeda percakapan yang panjang dan sikap hati-hati di antara keduanya. Namun perlahan, seiring dengan semakin dalamnya mereka terlibat dalam tugas, suasana mulai mencair. Bukan hanya proyek yang membuat mereka bekerja sama, tetapi juga kenangan-kenangan lama yang kembali bermunculan, membawa mereka kembali ke masa kecil.
Suatu sore, ketika mereka sedang berada di perpustakaan sekolah, Luna secara tak sengaja menemukan sebuah buku tua yang dulu pernah mereka baca bersama. Buku itu usang, dengan sampul yang hampir terlepas, tetapi di balik semua kerusakan fisiknya, ada sesuatu yang spesial.
"Masih ingat ini?" Luna mengangkat buku itu ke arah Raka, senyumnya tipis, penuh arti.
Raka menatap buku itu sejenak, lalu sebuah senyuman kecil muncul di sudut bibirnya. "Buku dongeng. Kita dulu sering baca ini di taman," ujarnya pelan, seolah mencoba mengingat detail-detail masa lalu.
"Ya, setiap sore. Kamu selalu bilang pengen jadi pahlawan yang menyelamatkan dunia," Luna tertawa kecil, mengenang saat-saat itu.
Raka menunduk sedikit, mungkin malu dengan impian kekanakannya dulu. "Iya, aku inget. Tapi kamu selalu jadi yang lebih berani. Kamu malah pengen jadi penjelajah, katanya pengen keliling dunia."
Luna tersenyum, mengangguk. "Waktu itu dunia kita cuma taman kecil itu, dan senja yang kita lihat setiap sore." Ia terdiam sejenak, sebelum melanjutkan, "Aku masih ingat, kita sering buat janji di bawah langit senja."
Raka menatap Luna, matanya berubah lembut. "Janji kalau kita nggak akan pernah terpisah, apapun yang terjadi," gumam Raka. Seolah kata-kata itu mengembalikan semua kenangan yang dulu terkubur di dalam hati mereka.
Ingatan tentang janji itu kembali menghantui Luna. Mereka berdua, berbaring di rumput taman saat matahari terbenam, menatap langit jingga yang memudar, berjanji bahwa persahabatan mereka akan abadi, tak peduli seberapa besar dunia di luar sana. Tapi dunia mereka yang kecil ternyata tak sekuat janji yang mereka buat. Waktu dan kehidupan perlahan menarik mereka ke arah yang berbeda, hingga akhirnya janji itu terasa seperti angin-menguap begitu saja.
"Kita dulu terlalu percaya diri," kata Luna tiba-tiba, suaranya lebih pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Raka mengangguk, matanya menerawang, penuh dengan pikiran yang tidak terucap. "Aku nggak tahu apa yang terjadi setelah itu, kenapa kita bisa sejauh ini..."
"Aku juga nggak ngerti," potong Luna, menatap buku di tangannya. "Tapi aku tahu satu hal-aku kangen masa-masa itu."
Keduanya terdiam lagi. Suasana di antara mereka perlahan berubah, tidak lagi dipenuhi kecanggungan seperti di awal, tapi lebih pada rasa melankolis. Mereka kini bukan hanya dua siswa yang bekerja sama dalam proyek sekolah, melainkan dua orang yang sedang menggali masa lalu mereka, mencoba memahami apa yang hilang di tengah perjalanan waktu.
Proyek sekolah menjadi alasan mereka untuk bertemu, namun kenangan yang tak terbantahkan mulai membawa mereka lebih dalam. Setiap kali mereka bersama, ada potongan kecil dari masa lalu yang kembali, seakan mendorong mereka untuk mengingat siapa mereka sebenarnya-bukan sebagai dua orang asing yang terpisah oleh waktu, melainkan dua sahabat yang dulu tak terpisahkan.
Ketika mereka sedang bekerja di kelas, suasana sore hari yang tenang kembali membangkitkan ingatan Luna. Ia menatap Raka yang sedang serius mencatat sesuatu di buku catatannya, dan tanpa sadar, ia tersenyum kecil.
"Kamu masih suka sama senja?" Luna bertanya tiba-tiba, suaranya hampir tenggelam dalam suara angin yang masuk lewat jendela yang sedikit terbuka.
Raka mengangkat pandangannya. "Masih," jawabnya singkat, lalu berhenti sejenak. "Kamu juga?"
"Selalu," jawab Luna sambil tersenyum. "Aku sering nungguin senja dari jendela kamarku, meskipun sekarang jarang bisa lihat dengan jelas."
Raka menatapnya lebih dalam kali ini. "Aku juga sering lihat senja, tapi nggak pernah terasa sama lagi. Sejak kita nggak pernah bareng lagi."
Ucapan Raka itu membuat hati Luna berdebar. Ada kejujuran yang sederhana di balik kalimat itu, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa bukan hanya dirinya yang merindukan masa lalu. Mungkin, Raka juga merasakan hal yang sama-rindu akan persahabatan mereka, rindu akan janji yang dulu pernah mereka buat.
Hari semakin larut, dan mereka berdua memutuskan untuk berhenti bekerja. Saat keluar dari ruangan, langit sudah berubah warna menjadi jingga, senja mulai menampakkan diri. Tanpa sadar, mereka berdua berhenti, menatap langit yang perlahan berubah warna.
"Langit senja ini... selalu ngingetin aku sama kamu," kata Raka tiba-tiba, suaranya lirih tapi terdengar jelas oleh Luna.
Luna menatap Raka, terkejut dengan keterusterangannya. Tapi di saat yang sama, ia merasa lega. Karena di balik segala kebisuan mereka selama bertahun-tahun, ada rasa yang masih tersisa-rasa yang tak pernah hilang.
Dan di bawah langit senja yang sama, Luna merasa bahwa janji-janji yang dulu mereka buat mungkin belum sepenuhnya hilang. Mungkin, ini adalah kesempatan untuk menepati janji itu, meski kehidupan telah membawa mereka pada arah yang berbeda.
Raka dan Luna berdiri di bawah langit senja yang semakin memudar. Keheningan di antara mereka terasa begitu padat, seolah-olah dipenuhi oleh kata-kata yang belum terucap. Angin sore menyapa lembut wajah mereka, membawa kenangan lama yang semakin jelas.
"Kamu masih ingat janji itu?" tanya Luna tiba-tiba, memecah keheningan. Ia memandang Raka dengan tatapan yang sarat emosi. Ada keraguan, ada harapan, dan di balik semua itu, ada rasa takut akan jawaban yang mungkin tidak seperti yang ia harapkan.
Raka mengalihkan pandangannya dari langit ke arah Luna. Untuk beberapa detik, ia hanya menatapnya, seolah mencari jawaban di dalam dirinya. Lalu, ia mengangguk perlahan.
"Aku ingat," jawab Raka dengan suara rendah. "Kita berjanji untuk selalu bersama. Nggak peduli apa yang terjadi."
Luna menahan napas mendengar jawaban itu. Ada kelegaan yang merayap di dadanya, namun juga sedikit kepedihan. "Tapi kita nggak menepati janji itu, kan?" Ia tertawa kecil, tetapi tawanya lebih terdengar seperti usaha untuk menutupi perasaan sakit yang perlahan muncul di dalam dirinya.
Raka menunduk, merasa berat untuk menjawab. "Iya, kita nggak menepati janji itu. Aku... aku nggak tahu kenapa aku menjauh waktu itu, Luna. Mungkin aku takut. Takut kalau persahabatan kita akan berubah seiring bertambahnya usia kita. Dan ternyata... perasaan takut itu malah membuat kita benar-benar terpisah."
Luna terdiam, merasakan setiap kata Raka seolah menyentuh bagian terdalam hatinya. Ia juga tahu, rasa takut itu bukan hanya milik Raka. Ia sendiri merasakan hal yang sama-takut jika kedekatan mereka akan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan.
"Tapi kenapa kamu nggak pernah ngomong apa-apa? Kenapa kamu pergi begitu aja?" tanya Luna, suaranya kini dipenuhi oleh emosi yang tertahan selama bertahun-tahun.
Raka menatapnya, kali ini dengan ekspresi penuh penyesalan. "Aku nggak tahu gimana harus mengatakannya, Luna. Waktu itu aku masih kecil, dan aku nggak ngerti apa yang aku rasain. Semuanya terlalu membingungkan."
Luna menghela napas panjang. Ia ingin marah, ingin mengungkapkan rasa sakit yang telah ia simpan selama ini. Tapi saat melihat Raka sekarang-dengan semua rasa bersalah dan kebingungannya-ia tidak bisa melakukannya. Sebagian dari dirinya memahami apa yang Raka rasakan. Mereka berdua masih terlalu muda saat itu, dan perasaan-perasaan yang mereka miliki mungkin terlalu besar untuk bisa dimengerti.
"Aku juga nggak ngerti waktu itu, Raka," kata Luna akhirnya, suaranya lebih lembut. "Aku nggak tahu kenapa semuanya berubah. Tapi yang aku tahu, aku kangen sama sahabatku. Aku kangen sama kamu."
Raka menatap Luna dengan mata yang penuh penyesalan dan rasa bersyukur. "Aku juga kangen sama kamu, Luna. Lebih dari yang kamu tahu."
Mereka berdua kembali terdiam, membiarkan keheningan di antara mereka berbicara lebih banyak daripada kata-kata yang bisa mereka ucapkan. Langit senja perlahan mulai gelap, tapi di hati mereka, ada secercah harapan yang mulai muncul kembali.
"Apa menurutmu kita bisa mulai lagi?" tanya Luna dengan hati-hati, seolah-olah ia takut jika jawaban Raka akan menghancurkan harapannya.
Raka mengangguk pelan. "Aku harap begitu, Luna. Aku harap kita bisa mulai lagi, pelan-pelan."
Luna tersenyum kecil, merasa bahwa ini adalah awal yang baru bagi mereka. Meski mereka belum tahu ke mana pertemuan ini akan membawa mereka, setidaknya mereka tahu bahwa mereka memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Dan mungkin, di bawah langit senja yang sama, janji-janji lama itu masih bisa mereka tepati, meskipun waktu telah berubah.
"Kita bisa mulai dengan proyek sekolah ini dulu," ujar Raka, berusaha mencairkan suasana yang sedikit berat.
Luna tertawa kecil. "Iya, kita mulai dari situ."
Mereka berdua tertawa pelan, menyadari bahwa meski perjalanan mereka mungkin masih panjang dan penuh tantangan, mereka siap untuk melaluinya bersama-sama. Setidaknya kali ini, mereka tidak lagi berjalan sendirian.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Luna merasa bahwa persahabatan mereka belum benar-benar hilang. Senja mungkin telah berganti malam, tapi janji di bawah langit itu masih hidup dalam hati mereka-siap untuk dihidupkan kembali.
Bersambung...
Proyek sekolah yang seharusnya menjadi jembatan untuk mendekatkan mereka kembali malah terasa seperti benteng yang menghalangi. Pada awalnya, suasana di antara Raka dan Luna sangat canggung. Setiap kali mereka bertemu untuk membahas proyek, ada rasa asing yang tiba-tiba hadir di antara mereka, seolah-olah kenangan masa lalu hanya memperbesar jarak, bukan menghapusnya.
Di perpustakaan, di mana mereka sering bertemu, suasana itu terasa semakin nyata. Raka tampak dingin, seperti sengaja menjaga jarak. Setiap kali Luna mencoba memulai percakapan, jawabannya selalu pendek dan formal, seolah mereka hanya teman kerja, bukan dua orang yang pernah sangat dekat.
Luna tidak tahu harus memulai dari mana. Dia berharap proyek ini bisa menjadi titik balik untuk hubungan mereka, tapi yang ia rasakan hanyalah kebingungan. Ia memandang Raka yang duduk di sebelahnya, fokus pada laptopnya, mengetik sesuatu yang berkaitan dengan tugas mereka. Senyap, seolah-olah mereka berada di dua dunia yang berbeda meskipun duduk bersebelahan.
"Kamu udah selesai bagianmu?" tanya Luna akhirnya, berusaha memecah kebekuan.
Raka hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Luna. "Sudah, tinggal bagianmu yang perlu direvisi sedikit," jawabnya dengan nada datar.
Luna menghela napas pelan. Setiap kali ia mencoba mendekatkan diri, Raka selalu membalas dengan sikap yang menjaga jarak. Rasa hangat yang sempat muncul saat mereka berbicara tentang masa lalu di bawah langit senja kini terasa seperti mimpi yang jauh. Luna mulai meragukan apakah Raka benar-benar ingin memperbaiki hubungan mereka, atau apakah ia hanya bersikap sopan untuk proyek ini.
"Aku nggak ngerti kenapa kamu jadi begini," gumam Luna perlahan, setengah berharap Raka tidak mendengarnya.
Namun, Raka berhenti mengetik dan menatapnya, meskipun ekspresinya tetap dingin. "Begini bagaimana?"
"Begini... seperti kamu nggak peduli lagi," jawab Luna, memberanikan diri untuk menyuarakan apa yang mengganggu pikirannya.
Raka terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop. "Bukan itu, Luna. Aku cuma... butuh waktu."
Luna menatapnya dengan tatapan bingung. "Waktu untuk apa?"
Raka tidak segera menjawab. Suasana perpustakaan yang sunyi membuat setiap detik terasa lebih lama. Akhirnya, dengan suara yang lebih pelan, Raka menjawab, "Untuk memahami apa yang terjadi di antara kita. Banyak yang berubah, dan aku nggak yakin bisa kembali ke masa lalu begitu aja."
Mendengar itu, Luna merasakan sedikit kelegaan, tetapi juga kesedihan. Dia mengerti bahwa Raka butuh waktu, tapi sikap dinginnya membuat Luna merasa terasing. Mereka tidak lagi seperti dua anak kecil yang bisa dengan mudah kembali seperti semula. Waktu memang telah merenggut sesuatu dari mereka, dan sekarang mereka harus belajar menghadapi kenyataan itu.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Luna, mencoba mencari cara untuk mengatasi kebuntuan ini.
Raka menarik napas dalam, lalu mengembuskannya dengan berat. "Aku nggak tahu, Luna. Kita bisa mulai dari sini-selesaikan proyek ini dulu, dan mungkin... sisanya akan datang sendiri."
Percakapan itu mengakhiri pertemuan mereka hari itu, tetapi tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Mereka berdua tahu bahwa lebih dari sekadar proyek yang harus diselesaikan-ada perasaan lama yang masih menggantung di udara, dan waktu tidak akan menyelesaikannya dengan sendirinya.
Saat mereka berjalan keluar dari perpustakaan, Luna melihat Raka menghindari tatapannya, masih terbungkus dalam sikap dingin yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya. Luna merasa semakin frustasi. Setiap kali ia mencoba meruntuhkan dinding itu, Raka tampak membangunnya lebih tinggi.
Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang masih terasa nyata-kenangan masa kecil mereka, janji-janji di bawah langit senja yang meskipun terabaikan, belum benar-benar terlupakan. Luna tahu, jika mereka berdua ingin menemukan jalan kembali, mereka harus melewati fase awkward dan dingin ini.
Tapi pertanyaannya sekarang: apakah Raka bersedia membuka diri, atau justru akan terus menjaga jarak?
Luna dan Raka berjalan keluar dari perpustakaan, dan meskipun mereka melangkah beriringan, jarak di antara mereka terasa seperti jurang yang tidak kasat mata. Angin sore yang dingin menyapu wajah mereka, membuat Luna menggigil sedikit. Ia melirik ke arah Raka yang tetap tenang, menatap lurus ke depan, tanpa ada sedikit pun kehangatan dalam sikapnya.
Di tengah jalan menuju parkiran sekolah, Luna merasa hatinya semakin berat. Keheningan di antara mereka tidak lagi terasa nyaman, melainkan penuh dengan pertanyaan yang tak terucapkan. Sebagai sahabat lama, seharusnya mereka bisa berbicara dengan lebih mudah. Tapi sekarang, semuanya terasa canggung dan asing.
"Kamu nggak ngerasa aneh dengan semua ini?" tanya Luna, mencoba memecah kesunyian. Nada suaranya terdengar lebih ragu daripada yang ia inginkan.
Raka melirik sekilas, lalu menghela napas. "Aneh gimana?" tanyanya, meski sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Luna menghentikan langkahnya, membuat Raka ikut berhenti. Dia menatap Raka dengan penuh kejujuran, mencoba menembus dinding yang Raka bangun di sekelilingnya.
"Ini. Kita. Dulu kita bisa bicara tentang apa aja, tapi sekarang kamu... dingin. Jauh. Kayak kamu nggak benar-benar mau ada di sini."
Raka menunduk, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaketnya. Ada ketegangan di wajahnya, tapi ia tidak segera menjawab. Matahari senja yang perlahan tenggelam di balik gedung sekolah memberi warna oranye lembut pada langit, mengingatkan mereka pada kenangan masa kecil yang tak bisa mereka hindari.
"Aku cuma...," Raka mulai berbicara pelan. "Aku nggak tahu gimana harus menghadapi semua ini. Kita udah lama banget nggak ketemu, Luna. Banyak hal yang berubah. Dan... mungkin aku takut kalau kita mencoba terlalu keras untuk kembali seperti dulu, kita malah semakin kecewa."
Luna merasa dada Raka penuh dengan sesuatu yang ingin dia katakan, tapi dia menahannya. Dia paham, ada keraguan besar di balik sikap dingin itu. Raka tidak hanya menjaga jarak darinya, tapi mungkin juga dari perasaannya sendiri.
"Tapi kamu nggak perlu bersikap seolah-olah kita nggak pernah kenal," sahut Luna pelan. "Aku juga nggak minta kita kembali ke masa lalu. Aku cuma pengen kita... nggak terus-terusan kayak gini."
Raka akhirnya menatap Luna, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, ada ketulusan dalam matanya. "Aku minta maaf kalau aku bikin kamu ngerasa jauh. Aku juga nggak suka kita kayak gini, tapi aku cuma... butuh waktu buat nerima semua ini."
Luna tersenyum kecil, meski perasaannya masih campur aduk. "Aku ngerti, Raka. Aku juga nggak terburu-buru. Tapi aku cuma pengen kita bisa mulai bicara lagi, kayak dulu. Mungkin nggak sama persis, tapi kita bisa coba, kan?"
Raka mengangguk pelan, lalu menatap langit senja yang semakin memudar. "Mungkin kita bisa mulai dengan ini," katanya sambil tersenyum kecil. "Liat senja bareng lagi, kayak dulu."
Luna mengikutinya memandang ke arah langit. Ada perasaan hangat yang perlahan kembali di dadanya. Meskipun semuanya belum sepenuhnya jelas, setidaknya mereka mulai melangkah ke arah yang benar. Proyek sekolah memang mempertemukan mereka lagi, tapi lebih dari itu, ada kesempatan untuk memperbaiki apa yang pernah hilang-meskipun jalan yang harus mereka lalui penuh dengan kecanggungan dan kebekuan.
"Ya," jawab Luna dengan senyum tipis. "Mungkin kita bisa mulai dari senja."
Dan di bawah langit senja itu, mereka berdua berdiri dalam keheningan. Meskipun kata-kata mereka masih terbatas, ada rasa yang mulai menyusup perlahan. Mereka mungkin masih jauh dari keakraban yang dulu, tapi setidaknya, langkah pertama sudah diambil.
Malam itu, Luna pulang dengan perasaan yang lebih ringan. Masih ada perjalanan panjang di depan mereka, tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mereka berdua sudah tidak lagi berjalan sendirian.
Bersambung...