Hari itu, cuaca di sekolah terasa sama seperti biasanya, namun bagi Luna, ada sesuatu yang berbeda. Angin sore menghembus lembut, menggoyangkan rambutnya ketika ia melangkah masuk ke ruang kelas, di mana ia dan beberapa siswa lain berkumpul untuk sebuah proyek sekolah. Papan tulis di depan ruangan dipenuhi dengan tulisan besar: *Proyek Kelompok: Pameran Sejarah Lokal.*
Luna menatap sekeliling ruangan, matanya menyisir wajah-wajah yang tak asing baginya, hingga akhirnya pandangannya terhenti pada satu sosok yang tak pernah ia duga akan dilihat lagi.
Raka.
Ia duduk di sudut ruangan, sibuk dengan buku catatannya, tampak tidak terlalu tertarik dengan suasana sekitarnya. Luna terdiam sejenak. Seolah waktu berhenti, ingatan masa kecilnya melintas begitu cepat, membawa kembali kenangan tentang seorang anak laki-laki yang dulu sangat dekat dengannya. Mereka dulu tidak terpisahkan. Setiap hari selepas sekolah, mereka akan berlarian di taman dekat rumah, membuat janji-janji kekanak-kanakan di bawah langit senja yang indah. Namun, seiring berjalannya waktu, kehidupan membawa mereka ke arah yang berbeda. Tanpa peringatan, persahabatan itu perlahan memudar.
Luna tidak pernah tahu alasan sebenarnya mengapa Raka menjauh. Mereka berdua bersekolah di tempat yang sama, namun bertahun-tahun tidak pernah berinteraksi. Dan sekarang, di sinilah mereka, dipertemukan kembali dalam sebuah proyek yang sama.
Guru mereka, Pak Arif, mulai membagi kelompok, dan dengan keberuntungan yang aneh, Luna dan Raka ditempatkan dalam kelompok yang sama. "Luna, Raka, kalian akan bekerja bersama-sama dengan Sinta dan Adi," ujar Pak Arif tanpa menyadari ketegangan yang tiba-tiba melingkupi ruangan itu.
Luna menelan ludah, gugup. Ia melirik Raka, yang terlihat tak menunjukkan reaksi apapun. Hatinya berdebar-debar saat ia melangkah mendekat ke meja di mana kelompok mereka akan berkumpul. Bagaimana ini akan berjalan? Apakah Raka masih mengingatnya? Ataukah ia sudah benar-benar melupakan masa lalu mereka?
"Luna," suara Sinta memecah lamunan Luna, "kamu setuju nggak kalau kita mulai riset dari buku-buku sejarah di perpustakaan?"
Luna mengangguk sambil tersenyum kaku, mencoba fokus pada pembicaraan, tapi pikirannya tak bisa lepas dari sosok Raka yang duduk di sebelahnya. Sesekali, ia meliriknya, mencari tanda-tanda pengakuan di mata Raka. Namun Raka tetap tenang, seperti tidak ada yang terjadi.
Setelah pertemuan kelompok selesai, Luna merasa ada sesuatu yang tidak terselesaikan. Ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Raka. Sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, kata-kata itu keluar begitu saja.
"Raka," panggilnya, membuat Raka menoleh perlahan. Ada jeda sejenak sebelum Luna melanjutkan, "Kamu masih ingat aku?"
Raka terdiam, menatap Luna dengan pandangan yang sulit diartikan. Sekilas, matanya tampak mengenalinya, namun ada sesuatu yang menahan. Setelah beberapa detik yang terasa begitu lama, Raka mengangguk pelan.
"Iya, aku ingat," jawabnya singkat, tanpa senyuman, tanpa ekspresi lebih lanjut.
Jawaban itu membuat Luna sedikit lega, namun juga menambah kebingungannya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan-mengapa mereka berhenti berbicara, mengapa Raka tiba-tiba menjauh bertahun-tahun lalu. Tapi melihat sikap dingin Raka, Luna menyadari bahwa mungkin, ini bukan saat yang tepat untuk menggali lebih dalam.
Hari itu berakhir dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, pertemuan dengan Raka membawa kenangan manis masa kecil kembali ke permukaan, namun di sisi lain, ia merasa ada jarak yang sangat besar di antara mereka sekarang. Jarak yang tak pernah ia pahami.
Saat Luna berjalan pulang, matahari mulai terbenam, menciptakan kilauan jingga di langit senja. Dia berhenti sejenak, memandangi langit yang sama seperti yang mereka tatap dulu, saat mereka masih kecil, saat segala sesuatu tampak lebih sederhana. Di bawah langit yang sama, Luna bertanya-tanya, apakah janji-janji masa kecil mereka masih tersisa? Ataukah semuanya sudah hilang bersama waktu?
Di kejauhan, Luna bisa merasakan bahwa ini bukanlah kebetulan. Pertemuan ini mungkin adalah kesempatan untuk mengungkap apa yang telah terkubur selama ini. Namun, ia juga tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Karena di balik setiap kenangan indah, selalu ada rahasia yang tersembunyi di dalamnya.
Luna masih memandangi langit yang mulai memudar warnanya, teringat bagaimana dulu mereka sering kali berlomba-lomba menebak warna apa yang akan muncul di langit senja berikutnya. Saat itu, segalanya terasa begitu sederhana. Tidak ada rasa canggung, tidak ada jarak-hanya dua anak kecil yang menikmati waktu bersama. Namun sekarang, perasaan itu terasa jauh, seperti sebuah mimpi yang perlahan memudar.
Langkah kaki di belakangnya menyadarkannya dari lamunan. Luna berbalik dan terkejut melihat Raka berdiri tak jauh darinya, tangan dimasukkan ke saku seragam, matanya masih menatap ke bawah, seolah ragu untuk mendekat.
"Kamu masih suka lihat senja?" tanya Raka, suaranya pelan tapi jelas, memecah keheningan di antara mereka. Pertanyaan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dada Luna terasa sesak.
Ia mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya, masih," jawab Luna, menatap Raka dengan tatapan yang sarat pertanyaan, seolah meminta penjelasan tentang apa yang terjadi di antara mereka selama bertahun-tahun. Tapi, seperti yang diduganya, Raka tidak memberi jawaban. Hanya pertanyaan senja yang ia sampaikan, seakan itu sudah cukup untuk membuka percakapan pertama mereka setelah sekian lama.
"Kamu kenapa tiba-tiba menjauh?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Luna, meski ia tahu suasananya mungkin belum tepat. Namun, rasa penasaran yang terpendam selama bertahun-tahun itu tak bisa lagi ia tahan. Ia harus tahu.
Raka terlihat kaget mendengar pertanyaan itu, namun dengan cepat ia memasang ekspresi datar. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap Luna, seakan mencari kata-kata yang tepat, atau mungkin mencari cara untuk menghindar. Angin sore menghembus lembut, membuat suasana semakin dingin.
"Ada banyak hal yang terjadi waktu itu," kata Raka akhirnya, suaranya rendah dan berat. "Aku nggak tahu harus gimana, jadi aku pergi. Aku pikir... mungkin itu cara terbaik."
Luna menggigit bibirnya, mencoba menahan emosi yang tiba-tiba menyeruak. "Cara terbaik?" ulangnya pelan. "Kamu pikir dengan pergi begitu aja semua akan baik-baik aja?"
Raka tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajahnya, menatap senja yang hampir menghilang di balik cakrawala. "Aku nggak tahu, Luna. Mungkin aku salah. Tapi aku cuma anak kecil waktu itu, aku nggak ngerti apa yang aku rasain."
Kata-katanya membuat Luna terdiam. Rasa kecewa, marah, dan bingung bercampur aduk di dalam hatinya. Tapi di balik itu semua, ada sesuatu yang ia pahami. Waktu itu, mereka masih sangat muda. Mungkin benar, Raka tidak tahu bagaimana harus menghadapi perasaannya sendiri, apalagi pertemanan mereka yang mulai berubah.
"Aku juga nggak tahu," jawab Luna akhirnya, suaranya mulai melembut. "Aku cuma ingat, waktu itu aku kehilangan sahabatku, dan aku nggak ngerti kenapa."
Untuk pertama kalinya, Luna melihat sesuatu yang berbeda di mata Raka. Seperti ada rasa bersalah yang tersembunyi di balik sikap dinginnya. Dia mengangkat pandangannya dan berkata dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya, "Maaf."
Hanya satu kata, tapi itu cukup. Meskipun tidak bisa mengembalikan semua yang telah hilang, setidaknya itu adalah awal. Awal dari sesuatu yang mungkin bisa menyembuhkan luka yang telah lama mereka bawa.
Luna tersenyum kecil, merasakan sedikit beban di hatinya mulai terangkat. "Aku nggak tahu apa yang terjadi setelah ini, tapi mungkin kita bisa mulai lagi... pelan-pelan."
Raka mengangguk. "Iya, mungkin kita bisa," jawabnya dengan nada lebih tenang.
Mereka berdiri di sana untuk beberapa saat, tanpa kata-kata. Hanya ditemani oleh sisa-sisa cahaya senja yang perlahan menghilang, seakan memberi ruang untuk awal yang baru di antara mereka.
Hari itu, di bawah langit senja yang sama, Luna dan Raka tidak lagi dua orang asing yang dipisahkan oleh masa lalu. Mereka adalah dua orang yang berusaha menemukan kembali janji-janji yang dulu pernah mereka buat. Dan meskipun jalan di depan masih panjang, mereka tahu bahwa ini adalah langkah pertama menuju sesuatu yang lebih besar.
Senja akhirnya menghilang, meninggalkan langit yang gelap dan penuh bintang. Tapi bagi Luna, hari ini terasa seperti sebuah awal-awal dari perjalanan baru yang mungkin akan membawa mereka kembali ke masa-masa indah yang pernah hilang.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Luna merasa sedikit lebih ringan, seolah-olah bebannya sudah mulai terangkat sedikit demi sedikit. Raka mungkin belum sepenuhnya kembali, tapi dia ada di sana. Itu sudah cukup untuk sekarang.
Bersambung...
Hari-hari berikutnya, Luna dan Raka semakin sering bertemu untuk mengerjakan proyek mereka. Awalnya, semuanya terasa canggung, dengan jeda percakapan yang panjang dan sikap hati-hati di antara keduanya. Namun perlahan, seiring dengan semakin dalamnya mereka terlibat dalam tugas, suasana mulai mencair. Bukan hanya proyek yang membuat mereka bekerja sama, tetapi juga kenangan-kenangan lama yang kembali bermunculan, membawa mereka kembali ke masa kecil.
Suatu sore, ketika mereka sedang berada di perpustakaan sekolah, Luna secara tak sengaja menemukan sebuah buku tua yang dulu pernah mereka baca bersama. Buku itu usang, dengan sampul yang hampir terlepas, tetapi di balik semua kerusakan fisiknya, ada sesuatu yang spesial.
"Masih ingat ini?" Luna mengangkat buku itu ke arah Raka, senyumnya tipis, penuh arti.
Raka menatap buku itu sejenak, lalu sebuah senyuman kecil muncul di sudut bibirnya. "Buku dongeng. Kita dulu sering baca ini di taman," ujarnya pelan, seolah mencoba mengingat detail-detail masa lalu.
"Ya, setiap sore. Kamu selalu bilang pengen jadi pahlawan yang menyelamatkan dunia," Luna tertawa kecil, mengenang saat-saat itu.
Raka menunduk sedikit, mungkin malu dengan impian kekanakannya dulu. "Iya, aku inget. Tapi kamu selalu jadi yang lebih berani. Kamu malah pengen jadi penjelajah, katanya pengen keliling dunia."
Luna tersenyum, mengangguk. "Waktu itu dunia kita cuma taman kecil itu, dan senja yang kita lihat setiap sore." Ia terdiam sejenak, sebelum melanjutkan, "Aku masih ingat, kita sering buat janji di bawah langit senja."
Raka menatap Luna, matanya berubah lembut. "Janji kalau kita nggak akan pernah terpisah, apapun yang terjadi," gumam Raka. Seolah kata-kata itu mengembalikan semua kenangan yang dulu terkubur di dalam hati mereka.
Ingatan tentang janji itu kembali menghantui Luna. Mereka berdua, berbaring di rumput taman saat matahari terbenam, menatap langit jingga yang memudar, berjanji bahwa persahabatan mereka akan abadi, tak peduli seberapa besar dunia di luar sana. Tapi dunia mereka yang kecil ternyata tak sekuat janji yang mereka buat. Waktu dan kehidupan perlahan menarik mereka ke arah yang berbeda, hingga akhirnya janji itu terasa seperti angin-menguap begitu saja.
"Kita dulu terlalu percaya diri," kata Luna tiba-tiba, suaranya lebih pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Raka mengangguk, matanya menerawang, penuh dengan pikiran yang tidak terucap. "Aku nggak tahu apa yang terjadi setelah itu, kenapa kita bisa sejauh ini..."
"Aku juga nggak ngerti," potong Luna, menatap buku di tangannya. "Tapi aku tahu satu hal-aku kangen masa-masa itu."
Keduanya terdiam lagi. Suasana di antara mereka perlahan berubah, tidak lagi dipenuhi kecanggungan seperti di awal, tapi lebih pada rasa melankolis. Mereka kini bukan hanya dua siswa yang bekerja sama dalam proyek sekolah, melainkan dua orang yang sedang menggali masa lalu mereka, mencoba memahami apa yang hilang di tengah perjalanan waktu.
Proyek sekolah menjadi alasan mereka untuk bertemu, namun kenangan yang tak terbantahkan mulai membawa mereka lebih dalam. Setiap kali mereka bersama, ada potongan kecil dari masa lalu yang kembali, seakan mendorong mereka untuk mengingat siapa mereka sebenarnya-bukan sebagai dua orang asing yang terpisah oleh waktu, melainkan dua sahabat yang dulu tak terpisahkan.
Ketika mereka sedang bekerja di kelas, suasana sore hari yang tenang kembali membangkitkan ingatan Luna. Ia menatap Raka yang sedang serius mencatat sesuatu di buku catatannya, dan tanpa sadar, ia tersenyum kecil.
"Kamu masih suka sama senja?" Luna bertanya tiba-tiba, suaranya hampir tenggelam dalam suara angin yang masuk lewat jendela yang sedikit terbuka.
Raka mengangkat pandangannya. "Masih," jawabnya singkat, lalu berhenti sejenak. "Kamu juga?"
"Selalu," jawab Luna sambil tersenyum. "Aku sering nungguin senja dari jendela kamarku, meskipun sekarang jarang bisa lihat dengan jelas."
Raka menatapnya lebih dalam kali ini. "Aku juga sering lihat senja, tapi nggak pernah terasa sama lagi. Sejak kita nggak pernah bareng lagi."
Ucapan Raka itu membuat hati Luna berdebar. Ada kejujuran yang sederhana di balik kalimat itu, tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa bukan hanya dirinya yang merindukan masa lalu. Mungkin, Raka juga merasakan hal yang sama-rindu akan persahabatan mereka, rindu akan janji yang dulu pernah mereka buat.
Hari semakin larut, dan mereka berdua memutuskan untuk berhenti bekerja. Saat keluar dari ruangan, langit sudah berubah warna menjadi jingga, senja mulai menampakkan diri. Tanpa sadar, mereka berdua berhenti, menatap langit yang perlahan berubah warna.
"Langit senja ini... selalu ngingetin aku sama kamu," kata Raka tiba-tiba, suaranya lirih tapi terdengar jelas oleh Luna.
Luna menatap Raka, terkejut dengan keterusterangannya. Tapi di saat yang sama, ia merasa lega. Karena di balik segala kebisuan mereka selama bertahun-tahun, ada rasa yang masih tersisa-rasa yang tak pernah hilang.
Dan di bawah langit senja yang sama, Luna merasa bahwa janji-janji yang dulu mereka buat mungkin belum sepenuhnya hilang. Mungkin, ini adalah kesempatan untuk menepati janji itu, meski kehidupan telah membawa mereka pada arah yang berbeda.
Raka dan Luna berdiri di bawah langit senja yang semakin memudar. Keheningan di antara mereka terasa begitu padat, seolah-olah dipenuhi oleh kata-kata yang belum terucap. Angin sore menyapa lembut wajah mereka, membawa kenangan lama yang semakin jelas.
"Kamu masih ingat janji itu?" tanya Luna tiba-tiba, memecah keheningan. Ia memandang Raka dengan tatapan yang sarat emosi. Ada keraguan, ada harapan, dan di balik semua itu, ada rasa takut akan jawaban yang mungkin tidak seperti yang ia harapkan.
Raka mengalihkan pandangannya dari langit ke arah Luna. Untuk beberapa detik, ia hanya menatapnya, seolah mencari jawaban di dalam dirinya. Lalu, ia mengangguk perlahan.
"Aku ingat," jawab Raka dengan suara rendah. "Kita berjanji untuk selalu bersama. Nggak peduli apa yang terjadi."
Luna menahan napas mendengar jawaban itu. Ada kelegaan yang merayap di dadanya, namun juga sedikit kepedihan. "Tapi kita nggak menepati janji itu, kan?" Ia tertawa kecil, tetapi tawanya lebih terdengar seperti usaha untuk menutupi perasaan sakit yang perlahan muncul di dalam dirinya.
Raka menunduk, merasa berat untuk menjawab. "Iya, kita nggak menepati janji itu. Aku... aku nggak tahu kenapa aku menjauh waktu itu, Luna. Mungkin aku takut. Takut kalau persahabatan kita akan berubah seiring bertambahnya usia kita. Dan ternyata... perasaan takut itu malah membuat kita benar-benar terpisah."
Luna terdiam, merasakan setiap kata Raka seolah menyentuh bagian terdalam hatinya. Ia juga tahu, rasa takut itu bukan hanya milik Raka. Ia sendiri merasakan hal yang sama-takut jika kedekatan mereka akan berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan.
"Tapi kenapa kamu nggak pernah ngomong apa-apa? Kenapa kamu pergi begitu aja?" tanya Luna, suaranya kini dipenuhi oleh emosi yang tertahan selama bertahun-tahun.
Raka menatapnya, kali ini dengan ekspresi penuh penyesalan. "Aku nggak tahu gimana harus mengatakannya, Luna. Waktu itu aku masih kecil, dan aku nggak ngerti apa yang aku rasain. Semuanya terlalu membingungkan."
Luna menghela napas panjang. Ia ingin marah, ingin mengungkapkan rasa sakit yang telah ia simpan selama ini. Tapi saat melihat Raka sekarang-dengan semua rasa bersalah dan kebingungannya-ia tidak bisa melakukannya. Sebagian dari dirinya memahami apa yang Raka rasakan. Mereka berdua masih terlalu muda saat itu, dan perasaan-perasaan yang mereka miliki mungkin terlalu besar untuk bisa dimengerti.
"Aku juga nggak ngerti waktu itu, Raka," kata Luna akhirnya, suaranya lebih lembut. "Aku nggak tahu kenapa semuanya berubah. Tapi yang aku tahu, aku kangen sama sahabatku. Aku kangen sama kamu."
Raka menatap Luna dengan mata yang penuh penyesalan dan rasa bersyukur. "Aku juga kangen sama kamu, Luna. Lebih dari yang kamu tahu."
Mereka berdua kembali terdiam, membiarkan keheningan di antara mereka berbicara lebih banyak daripada kata-kata yang bisa mereka ucapkan. Langit senja perlahan mulai gelap, tapi di hati mereka, ada secercah harapan yang mulai muncul kembali.
"Apa menurutmu kita bisa mulai lagi?" tanya Luna dengan hati-hati, seolah-olah ia takut jika jawaban Raka akan menghancurkan harapannya.
Raka mengangguk pelan. "Aku harap begitu, Luna. Aku harap kita bisa mulai lagi, pelan-pelan."
Luna tersenyum kecil, merasa bahwa ini adalah awal yang baru bagi mereka. Meski mereka belum tahu ke mana pertemuan ini akan membawa mereka, setidaknya mereka tahu bahwa mereka memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Dan mungkin, di bawah langit senja yang sama, janji-janji lama itu masih bisa mereka tepati, meskipun waktu telah berubah.
"Kita bisa mulai dengan proyek sekolah ini dulu," ujar Raka, berusaha mencairkan suasana yang sedikit berat.
Luna tertawa kecil. "Iya, kita mulai dari situ."
Mereka berdua tertawa pelan, menyadari bahwa meski perjalanan mereka mungkin masih panjang dan penuh tantangan, mereka siap untuk melaluinya bersama-sama. Setidaknya kali ini, mereka tidak lagi berjalan sendirian.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Luna merasa bahwa persahabatan mereka belum benar-benar hilang. Senja mungkin telah berganti malam, tapi janji di bawah langit itu masih hidup dalam hati mereka-siap untuk dihidupkan kembali.
Bersambung...
Proyek sekolah yang seharusnya menjadi jembatan untuk mendekatkan mereka kembali malah terasa seperti benteng yang menghalangi. Pada awalnya, suasana di antara Raka dan Luna sangat canggung. Setiap kali mereka bertemu untuk membahas proyek, ada rasa asing yang tiba-tiba hadir di antara mereka, seolah-olah kenangan masa lalu hanya memperbesar jarak, bukan menghapusnya.
Di perpustakaan, di mana mereka sering bertemu, suasana itu terasa semakin nyata. Raka tampak dingin, seperti sengaja menjaga jarak. Setiap kali Luna mencoba memulai percakapan, jawabannya selalu pendek dan formal, seolah mereka hanya teman kerja, bukan dua orang yang pernah sangat dekat.
Luna tidak tahu harus memulai dari mana. Dia berharap proyek ini bisa menjadi titik balik untuk hubungan mereka, tapi yang ia rasakan hanyalah kebingungan. Ia memandang Raka yang duduk di sebelahnya, fokus pada laptopnya, mengetik sesuatu yang berkaitan dengan tugas mereka. Senyap, seolah-olah mereka berada di dua dunia yang berbeda meskipun duduk bersebelahan.
"Kamu udah selesai bagianmu?" tanya Luna akhirnya, berusaha memecah kebekuan.
Raka hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Luna. "Sudah, tinggal bagianmu yang perlu direvisi sedikit," jawabnya dengan nada datar.
Luna menghela napas pelan. Setiap kali ia mencoba mendekatkan diri, Raka selalu membalas dengan sikap yang menjaga jarak. Rasa hangat yang sempat muncul saat mereka berbicara tentang masa lalu di bawah langit senja kini terasa seperti mimpi yang jauh. Luna mulai meragukan apakah Raka benar-benar ingin memperbaiki hubungan mereka, atau apakah ia hanya bersikap sopan untuk proyek ini.
"Aku nggak ngerti kenapa kamu jadi begini," gumam Luna perlahan, setengah berharap Raka tidak mendengarnya.
Namun, Raka berhenti mengetik dan menatapnya, meskipun ekspresinya tetap dingin. "Begini bagaimana?"
"Begini... seperti kamu nggak peduli lagi," jawab Luna, memberanikan diri untuk menyuarakan apa yang mengganggu pikirannya.
Raka terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop. "Bukan itu, Luna. Aku cuma... butuh waktu."
Luna menatapnya dengan tatapan bingung. "Waktu untuk apa?"
Raka tidak segera menjawab. Suasana perpustakaan yang sunyi membuat setiap detik terasa lebih lama. Akhirnya, dengan suara yang lebih pelan, Raka menjawab, "Untuk memahami apa yang terjadi di antara kita. Banyak yang berubah, dan aku nggak yakin bisa kembali ke masa lalu begitu aja."
Mendengar itu, Luna merasakan sedikit kelegaan, tetapi juga kesedihan. Dia mengerti bahwa Raka butuh waktu, tapi sikap dinginnya membuat Luna merasa terasing. Mereka tidak lagi seperti dua anak kecil yang bisa dengan mudah kembali seperti semula. Waktu memang telah merenggut sesuatu dari mereka, dan sekarang mereka harus belajar menghadapi kenyataan itu.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Luna, mencoba mencari cara untuk mengatasi kebuntuan ini.
Raka menarik napas dalam, lalu mengembuskannya dengan berat. "Aku nggak tahu, Luna. Kita bisa mulai dari sini-selesaikan proyek ini dulu, dan mungkin... sisanya akan datang sendiri."
Percakapan itu mengakhiri pertemuan mereka hari itu, tetapi tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Mereka berdua tahu bahwa lebih dari sekadar proyek yang harus diselesaikan-ada perasaan lama yang masih menggantung di udara, dan waktu tidak akan menyelesaikannya dengan sendirinya.
Saat mereka berjalan keluar dari perpustakaan, Luna melihat Raka menghindari tatapannya, masih terbungkus dalam sikap dingin yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya. Luna merasa semakin frustasi. Setiap kali ia mencoba meruntuhkan dinding itu, Raka tampak membangunnya lebih tinggi.
Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang masih terasa nyata-kenangan masa kecil mereka, janji-janji di bawah langit senja yang meskipun terabaikan, belum benar-benar terlupakan. Luna tahu, jika mereka berdua ingin menemukan jalan kembali, mereka harus melewati fase awkward dan dingin ini.
Tapi pertanyaannya sekarang: apakah Raka bersedia membuka diri, atau justru akan terus menjaga jarak?
Luna dan Raka berjalan keluar dari perpustakaan, dan meskipun mereka melangkah beriringan, jarak di antara mereka terasa seperti jurang yang tidak kasat mata. Angin sore yang dingin menyapu wajah mereka, membuat Luna menggigil sedikit. Ia melirik ke arah Raka yang tetap tenang, menatap lurus ke depan, tanpa ada sedikit pun kehangatan dalam sikapnya.
Di tengah jalan menuju parkiran sekolah, Luna merasa hatinya semakin berat. Keheningan di antara mereka tidak lagi terasa nyaman, melainkan penuh dengan pertanyaan yang tak terucapkan. Sebagai sahabat lama, seharusnya mereka bisa berbicara dengan lebih mudah. Tapi sekarang, semuanya terasa canggung dan asing.
"Kamu nggak ngerasa aneh dengan semua ini?" tanya Luna, mencoba memecah kesunyian. Nada suaranya terdengar lebih ragu daripada yang ia inginkan.
Raka melirik sekilas, lalu menghela napas. "Aneh gimana?" tanyanya, meski sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Luna menghentikan langkahnya, membuat Raka ikut berhenti. Dia menatap Raka dengan penuh kejujuran, mencoba menembus dinding yang Raka bangun di sekelilingnya.
"Ini. Kita. Dulu kita bisa bicara tentang apa aja, tapi sekarang kamu... dingin. Jauh. Kayak kamu nggak benar-benar mau ada di sini."
Raka menunduk, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaketnya. Ada ketegangan di wajahnya, tapi ia tidak segera menjawab. Matahari senja yang perlahan tenggelam di balik gedung sekolah memberi warna oranye lembut pada langit, mengingatkan mereka pada kenangan masa kecil yang tak bisa mereka hindari.
"Aku cuma...," Raka mulai berbicara pelan. "Aku nggak tahu gimana harus menghadapi semua ini. Kita udah lama banget nggak ketemu, Luna. Banyak hal yang berubah. Dan... mungkin aku takut kalau kita mencoba terlalu keras untuk kembali seperti dulu, kita malah semakin kecewa."
Luna merasa dada Raka penuh dengan sesuatu yang ingin dia katakan, tapi dia menahannya. Dia paham, ada keraguan besar di balik sikap dingin itu. Raka tidak hanya menjaga jarak darinya, tapi mungkin juga dari perasaannya sendiri.
"Tapi kamu nggak perlu bersikap seolah-olah kita nggak pernah kenal," sahut Luna pelan. "Aku juga nggak minta kita kembali ke masa lalu. Aku cuma pengen kita... nggak terus-terusan kayak gini."
Raka akhirnya menatap Luna, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, ada ketulusan dalam matanya. "Aku minta maaf kalau aku bikin kamu ngerasa jauh. Aku juga nggak suka kita kayak gini, tapi aku cuma... butuh waktu buat nerima semua ini."
Luna tersenyum kecil, meski perasaannya masih campur aduk. "Aku ngerti, Raka. Aku juga nggak terburu-buru. Tapi aku cuma pengen kita bisa mulai bicara lagi, kayak dulu. Mungkin nggak sama persis, tapi kita bisa coba, kan?"
Raka mengangguk pelan, lalu menatap langit senja yang semakin memudar. "Mungkin kita bisa mulai dengan ini," katanya sambil tersenyum kecil. "Liat senja bareng lagi, kayak dulu."
Luna mengikutinya memandang ke arah langit. Ada perasaan hangat yang perlahan kembali di dadanya. Meskipun semuanya belum sepenuhnya jelas, setidaknya mereka mulai melangkah ke arah yang benar. Proyek sekolah memang mempertemukan mereka lagi, tapi lebih dari itu, ada kesempatan untuk memperbaiki apa yang pernah hilang-meskipun jalan yang harus mereka lalui penuh dengan kecanggungan dan kebekuan.
"Ya," jawab Luna dengan senyum tipis. "Mungkin kita bisa mulai dari senja."
Dan di bawah langit senja itu, mereka berdua berdiri dalam keheningan. Meskipun kata-kata mereka masih terbatas, ada rasa yang mulai menyusup perlahan. Mereka mungkin masih jauh dari keakraban yang dulu, tapi setidaknya, langkah pertama sudah diambil.
Malam itu, Luna pulang dengan perasaan yang lebih ringan. Masih ada perjalanan panjang di depan mereka, tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mereka berdua sudah tidak lagi berjalan sendirian.
Bersambung...