Suara alat-alat rumah sakit menggema ditelinga anak perempuan itu, dia sedang menangisi ibunya yang telah lama tidak mau membuka mata lagi. Di umur yang masih sangat kecil, gadis itu harus mengenal rasa sakit hati, kesepian, sendirian. Ya, gadis kecil itu menunggu Ibunya setiap hari agar terbangun dari tidur panjangnya.
Suara tangisannya semakin keras, disusul dengan suara mendengung dari layar pendeteksi detak jantung yang menunjukkan gelombang dan kini berubah menjadi garis lurus. Para perawat datang ke ruangan itu, tubuh gadis kecil itu digendong oleh salah satu perawat wanita dan membawanya menjauh dari ibunya yang dia ketahui sudah meniggal dunia.
Disaat anak seusianya bermain-main hingga tak ingat waktu, memainkan banyak permainan bersama teman-temannya seperti main bola bekel, congklak, gobak sodor, engklek, ular tangga, boneka kertas, yoyo, petak umpet, atau main petasan dari tumbuhan. Terpikirkan saja tidak oleh Evelyn Restama, anak 6 tahun itu. Hidupnya bak ratu yang terkurung di istana mewah dengan banyak pengawal yang menjaganya, bergelimang harta dan tak pernah kekurangan namun tidak mengenal kata bahagia.
Hari terburuk dimulai sewaktu Evelyn sedang tertidur lelap di malam hari dan tidak sengaja terbangun karena merasa haus. Saat sampai di dapur, Evelyn mendengar suara benda terjatuh dengan keras, membuatnya tersentak. Niat untuk mengambil minum dia urungkan, rasa penasarannya sangat besar dibandingkan rasa hausnya.
Saat itu juga, diruangan tengah, Evelyn melihatnya. Dia melihat ayahnya menampar, menjambak dan membenturkan kepala ibunya ke tembok. Evelyn berteriak, berusaha menghentikan aksi gila ayah terhadap ibunya.
Ayah Evelyn akhirnya berhenti, keduanya terkejut melihat sosok gadis kecil berdiri di dekat tangga dengan air mata yang sudah berlinang. Ayahnya hendak menghampiri Evelyn namun gadis kecil itu lebih dulu berlari menaiki tangga untuk sampai ke atas menuju kamarnya lagi. Dia menutup pintu dan menguncinya. Suara Ayah Evelyn terdengar ada di balik pintu kamarnya, memanggil namanya dengan lembut. Tapi bujuk rayu apapun tidak akan bisa membuat Evelyn membuka pintunya, bahkan dia lebih baik tertidur dan menahan hausnya hingga besok pagi. Evelyn rela melakukan itu dibandingkan harus membuka pintu dan melihat wajah ayahnya.
Evelyn masih mengingatnya dengan jelas kondisi Ibunya waktu itu, sudut bibir Ibu Evelyn sudah berdarah, matanya bengkak dan merah. Semenjak kejadian itu, Ayah Evelyn telah meninggalkan sebuah luka besar di hati Evelyn kecil. Ayah yang biasanya menjadi cinta pertama anak gadisnya, kali itu dia menjadi patah hati pertama Evelyn Restama.
****
Kehidupan di rumah berubah drastis.
Rumah bagi Evelyn seperti neraka, kalau dulu kepulangan ayahnya selalu membuat Evelyn senang, kini justru anomali. Kepulangan Ayah Evelyn jadi sesuatu yang ditakuti, karena dia akan marah ke Ibu Evelyn atau mencari-cari kesalahan, seperti gosokan baju tidak terlalu rapi, susunan berantakan di lemari, masakan yang terlalu asin, atau Ibunya lupa menggosok sepatu kerja Ayah Evelyn yang akan dipakai di pagi hari. Kekerasan jadi makanan sehari-hari. Ayah Evelyn jadi ringan tangan dan tidak merasa kalau dia melakukan kesalahan.
Kalau seandainya Ibu Evelyn dipukuli, Evelyn hanya bisa berharap, Panji Manusia Millenium, Gerhana, si Toloy, dan berbagai pahlawan yang sering Evelyn tonton di TV bisa datang membantu.
Bahkan Evelyn sempat berpikir untuk ingin menjadi dewasa, agar bisa membantu Ibunya untuk membalas perbuata ayahnya.
****
Hujan sore itu tidak begitu deras, namun rintikannya terasa menyakitkan bagi Evelyn yang baru saja beberapa jam ditinggal pergi oleh orang yang sangat dirinya cintai, sayangi dan miliki.
Kini yang dia rasakan hanyalah kesepian, dia sendirian disini. Semua orang yang mengantar satu per satu telah pergi untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Lambat laun orang yang disayanginya akan dilupakan seiring berjalannya waktu. Di depan pusara Ibunya, tangisan Evelyn akhirnya pecah, air matanya luruh begitu saja menetes bersamaan dengan ar hujan yang menemaninya runtuh. Evelyn kecil menangis di makam ibunya sendirian. Ayahnya menunggu diparkiran terlebih dahulu karena Evelyn tidak ingin ikut bersamannya.
Tangan kecilnya bergerak ke arah patok kayu yang bertuliskan nama ibunya. Evelyn memeluknya dengan erat, masih teringat pelukan hangat yang dulu sempat tercipta diantara keduanya, seakan semua tidak mungkin secepat ini menghilang. Dan yang tersisa hanya kenangan yang Ibu Evelyn tinggalkan, tidak ada lagi waktu untuk mereka bersama.
“Kenapa Mama pergi sendirian? Kenapa nggak ajak aku, Ma?" ucapnya begitu lirih dengan tangisan yang luruh.
Hari itu, Evelyn merasa dirinya paling menderita di dunia. Seakan tadir begitu jahat padanya. Dengan segala luka yang dia sudah rasakan di umur yang terlalu dini, memunculkan sebuah pertanyaan yang tertahan dibenaknya:
Kalau memang Evelyn tidak di sayang, untuk apa Alsava lahir di dunia?
Ada sebuah standar konstruksi sosial yang Evelyn benci selama hidup sebagai seorang perempuan di Indonesia. Pertama, seorang perempuan tidak boleh lebih tinggi pendidikannya daripada laki-laki atau risikonya adalah akan sedikit laki-laki yang mau pedekate. Evelyn pernah disindir oleh Bibinya saat perkumpulan keluarga. “Jadi perempuan itu, ya nggak perlu sekolah tinggi-tinggi toh ujungnya nanti bakal bekerja di dapur, laki-laki juga kan punya ego yang tinggi, nggak mau dikalahkan sama perempuan.”
Evelyn yang panas pun langsung menjawab, “Tapi Bu, perempuan itu calon ibu yng bakal mendidik anak-anaknya kelak. Pendidikan pertama seorang anak didapat dari rumah, bukankah punya kebanggaan sendiri kalau punya istri dan ibu yang cerdas? Lagipula Bu, saya nggak mau menurunkan standar hidup saya hanya demi seorang laki-laki.”
Alhasil tiap kali ada perkumpulan keluarga, Evelyn jarang datang hanya untuk menghindari pertanyaan seputar “Kapan menikah?” atau “Kapan nih ngasih momongan ke Mami kamu? Kasihan lho kalau kumpulan, dia sendiri yang belum menimang cucu.” Cih, Evelyn kesal sekali dengan ucapan demikian. Memangnya pernikahan itu ajang cepat-cepatan seperti area balapan, ya? Lalu seandainya suatu hari bercerai, lingkungan akan kembali mencemooh, “Tuh kan, harusnya pedekate dulu, jangan buru-buru menikah. Begini ujungnya kalau belum saling mengenal.”
Usia Evelyn 26 tahun, menjabat sebagai founder dari sebuah e-commerce sepatu yang sudah terkenal di Indonesia, Eve's Beaute. Sebetulnya ada banyak pria berkualitas yang ingin mendekati Evelyn. Sebut saja Niko, seorang anak konglomerat yang bertemu dengan Evelyn sewaktu sedang menonton sebuah pertandingan Golf. Atau Vino, CEO dari Devano's Corporation, pewaris tunggal dari perusahaan raksasa yang bergerak dibidang kostruksi. Seandainya Evelyn tertarik, sudah dapat dipastikan, dia lebih beruntung dari Nia Ramadhani. Dia tidak perlu bekerja keras untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri.
Namun, kalau disuruh menyebutkan kualifikasi menjadi pasangan Evelyn, syaratnya yaitu: tidak mendominasi. Evelyn tidak mau jika dirinya diatur-atur, bahkan meskipun oleh pasangannya sendiri dan memiliki pasangan dengan sama-sama memiliki kuasa sepertinya bukan pilihan tepat. Evelyn bahkan pernah berikrar kalau dirinya tidak mau menikah—dia trauma dengan pernikahan. Dia sudah menyusun planning mengadopsi anak di usia 30 tahun, mungkin dengan mengambil di sebuah panti asuhan, lalu hidup bahagia ditemani kucing-kucing kesayangannya. Dia tidak akan pernah lagi merasa kesepian, kan?
“Heran gue ya sama lo, dideketin sama cowok cakep malah nggak mau. Udah mapan, mateng, dewasa. Kurang apa lagi, sih?” Seperti hari ini, tiap kali bertemu dengan Rara dan Sofie sepulang kerja, pasti Evelyn akan diceramahi habis-habisan.
“Gue ngeri nikah, yah kalian tahulah ya bokap gue.” Berteman dengan Evelyn sejak SMP, Sofie dan Rara sudah hapal di luar kepala permasalahan keluarga Evelyn. Tentang ibu Evelyn yang selalu jadi korban KDRT. Ayah Evelyn yang menikah lagi karena ingin memiliki anak laki-laki. Ibu Evelyn yang ditolak mentah-mentah dalam keluarga ayahnya karena tidak bisa melahirkan keturunan laki-laki. Meskipun ada berbagai alasan Evelyn membenci ayahnya, tetap saja Evelyn tidak bisa membencinya, karena ayahnya adalah sosok bapak yang baik bagi Evelyn meskipun telah gagal menjadi seorang suami.
Namun sebaik apa pun dia menjadi ayah, tidak bisa mengubah fakta bahwa dirinya menjadi sumber utama luka yang dialami dalam hati Evelyn. Menanamkan pemikiran dalam diri Evelyn sejak kecil bahwa dia tidak akan menikah.
“Tapi Ev, masalahnya sekarang udah beda. Lo tahu kan surat wasiat bokap lo apa isinya? Iya, bagian harta buat lo nggak akan dicairkan kalau lo nggak menikah.” Sofie geleng-geleng kepala. “Barangkali bokap lo tahu kali ya, lo ada keinginan nggak mau married. Makanya dia buat peraturan begitu.”
“Kayaknya balik ke plan A deh, gue bakal nyari di daerah Puncak, cowok yang mau gue ajak nikah. Semacam nikah kontrak gitu. Soalnya gue lagi butuh dana banget nih. Perusahaan gue nggak berhasil narik dana dari investor, lumayan kan kalau dana dari wasiat bisa cair. Bakal menolong gue banget.” Kalau bukan karena kepepet, sepertinya Evelyn akan melupakan uang itu. Masalahnya, Evelyn itu perempuan paling egois yang bakal menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau.
“Dih, ngaco lo! Nggak usah ngade-ngade lu ye, udah kayak kekurangan populasi cowok aja.” Rara segera membantah.
“Terus gimana? Bantuin gue mikir dong, ah! Lo berdua nggak guna ya gue panggil ke sini?”
“Makanya gue mau diajak ke sini karena kebetulan gue bisa menawarkan solusinya.” Biasanya, Rara paling ndablek kalau ditanya seputar solusi. Alhasil jawaban Rara membuat Sofia dan Evelyn saling berpandangan. “Kalian ingat nggak sih, gue pernah pedekate sama cowok namanya Langit?”
Sofie dan Evelyn berusaha mengingat-ingat, tapi nggak berhasil karena sebetulnya Rara sebelum menikah adalah definisi playgirl. Dalam seminggu, dia bisa pedekate sama 12 cowok sekaligus! Gimana Sofie dan Evelyn mau hapal?
“Ish, itu lho, gue pernah cerita kan ada cowok sekantor sama gue. Cakep, tinggi, baiiiiiik banget. Super-duper baik. Ngomongnya tuh lembut banget, tapi gagal pacaran sama gue karena katanya dia nggak punya keinginan nikah sama punya anak. Ya kali, mas ague mau serius, dia kagak. Jadi semenjak itu kita memutuskan buat temenan aja.” Ketika Rara menjabarkan itu, Sofie dan Evelyn samar-samar mengingat.
“Nah visi-misi kalian cocok, kan? Sama-sama nggak mau menikah. Terus dua hari lalu dia curhat sama gue, katanya dia dipaksa sama bibinya menikah atau dengan terpaksa bakal dijodohin sama seseorang. Habis itu tadi pagi, dia minta sama gue nyariin pacar. Minta dicomblangin, karena dia tahu gue punya banyak temen cewek.” Soal urusan pertemanan, Rara emang juaranya. Cewek itu primadona di segala tempat karena supel dan mudah akrab. “Lo mau nggak? Kalau mau, gue bisa temuin kalian berdua deh. Biar nyambung, enak ngobrol langsung, kan?”
“Cakep orangnya?” Tanya Evelyn to-the-point. “Kalau ada yang bilang cewek tuh nggak liat fisik, sori aja nih ya, gue tuh orang penting … seenggaknya nggak malu-maluin kalau diajak ke acara penting.”
“Honey, gue masih ingat jelas kriteria lo dalam memilih pacar, nggak mau menonjol atau lebih dari lo, nggak mendominasi, ganteng, tinggi. Pokoknya Alan masuk kategori itu. Lo percaya kan sama taste gue? Pilihan seorang Rara gitu lho nggak pernah salah.”
“Idih, heran ya, kok gue bisa berteman sama lo berdua? Sama-sama narsis, hwek.” Sofie berpura-pura mual.
“Sok ngomongin, giliran nangis dan butuh aja, nelponnya ke kita berdua. Muna lo!” celoteh Rara tidak terima.
“Ada fotonya nggak lo? Gue liat dulu deh.”
“Nggak ada, dia nggak pernah mau foto kalau ada pertemuan di kantor. Anaknya nggak narsis kamera. Sosmed aja nggak ada fotonya!"
“Ah masa nggak ada fotonya di sosmed?”
“Anaknya tuh old fashioned banger, anjir. Nggak up to date. Lo nanyain berita-berita yang lagi hits juga dia nggak tahu.”
“Boleh deh, bentar gue cek jadwal gue.”
“Tuan ratu dengan jadwalnya yang super sibuk,” sindir Sofie.
Evelyn membuka kalender di ponselnya. Mengecek jadwal. “Hari Minggu gimana? Pukul 10-an gitu di kafe Vresteck.”
“Dih enak banget lo asal buat jadwal, dimana-mana nih kalau ajak ketemuan harus menyamakan jadwal kedua belah pihak.”
“Halah, gue tahu jadwal rakyat jelata kayak lo semua jam segini mah nggak ada kegiatan apa-apa.”
“Kampret!” Kalau bukan Evelyn yang bilang, mungkin es jeruk di depan Sofie sudah melayang. Mereka kenal Evelyn itu gimana, kalau dibilang sombong, mereka nggak bisa memungkiri itu. Bahkan bisa dibilang, sombong seolah sudah mendarah daging. Namanya juga kaum privilege, kadang suka semena-mena.
“Okke, deal ya? Oh satu lagi—”
“Ya ya gue tahu, nggak boleh telat, kan?" Kali ini Rara yang menyambut dan membuat Evelyn terkekeh geli sambil mengacungkan jempolnya.
****
Bukan Evelyn namanya kalau dia tidak mencari tahu dengan siapa dia berurusan. Kalau sudah menyangkut mencari latar belakang seseorang, Evelyn tidak bisa dikalahkan. Dia bisa menjelma menjadi Sherlock Holmes dadakan. Alhasil setelah bertanya ke Rara tetang nama lengkap Langit, dia segera mencari di mesin pencarian internet.
Langit Faresta Ganendra
Muncul profil Linked-In.
Evelyn menge-klik profil LinkedIn-nya. Hanya terlihat foto seorang cowok duduk dengan posisi menyamping sambil menyesap segelas kopi. Satu kata yang melintas di benak Evelyn, misterius. Lalu dia melihat pekerjaannya: Audit Manager. April 2015 - saat ini. Lulusan S1 Universitas Indonesia.
Gadis itu bersiul dalam hati. Dia lantas beralih mencari Instagramnya, ketemu. Tidak ada akun-akun tidak jelas yang dia follow, misalnya akun seperti lambe_turah atau awreceh, bagi Evelyn, kepribadian seseorang bisa dilihat dari daftar following-nya. Kebanyakan yang dia follow adalah akun tentang sepak bola, band-band klasik seperti Queen, The Beatles, Oasis. Oke, selera musiknya juga menarik. Untungnya lagi tidak ada akun cewek-cewek bertubuh seksi di daftar following-nya, kalau memang ada, Evelyn sudah bersiap-siap mencoret nama Lngit untuk menjadi pilihannya.
Ponsel Evelyn kembali berdering, chat dari Rara.
Rara:
Oi, Langit minta WA lo. Gue kasih ya?
Biar besok ketemunya nggak bingung.
Evelyn:
Ok.
Sebetulnya perasaan Evelyn deg-degan juga menyambut pertemuannya dengan Langit. Masalahnya ini kali pertamanya berurusan dengan hal seperti ini. Kalau bukan karena masalah harta wasiat, ogah rasanya Evelyn berhadapan dengan kaum laki-laki.
****
Hari H akhirnya tiba. Evelyn akhirnya terbangun setelah semalaman tertidur nyenyak, sengaja dia tidak begadang atau bekerja lembur, dia ingin memberikan penampilan terbaiknya. Prinsip Evelyn sejak dulu adalah selalu terlihat menarik dihadapan seseorang yang pertama kali ingin bertemu denganmu. Memberi kesan terbaik di pandangan pertama adalah hal mutlak. Gadis itu mengambil kaus berlengan pendek yang dipadu jas berwarna krim dengan model setengah engan. Dia juga mengenakan celana jins dan higheels senada warna jas.
Tak lupa menyapukan foundation, blush-on, eye liner, dan ombre merah dan nude.
“Pagi, Kak.” Bi Uti yang sedang menyapu pun menyapanya yang baru keluar kamar.
“Pagi juga, Bi.” Kalau ada gelar orang paling setia, Evelyn tak segan menyematkannya ke Bi Uti. Beliau sudah ada mengurus Evelyn sejak dirinya masih bayi merah berusia tiga bulan, bahkan hingga Evelyn memiliki rumah, Bi Uti setia pindah untuk mengurusi segala keperluannya.
“Nggak sarapan dulu, Kak?”
“Nggak usah, Bi. Buru-buru.”
“Hati-hati, Kak.” Evelyn meraih kunci mobilnya, memanaskan mesin beberapa menit dan melaju pergi. Hari minggu pagi, jalanan lenggang karena orang-orang sedang beristirahat dari rutinitas mingguan yang menyita pikiran dan barangkali sedang menghabiskan waktu untuk bersantai bersama keluarga.
Ponselnya berdering, ada chat masuk dari nomor tidak dikenal.
081272723xxx:
Pagi, saya Langit, kebetulan dapat nomor kamu dari Rara. Btw saya sudah di tempat ya, di meja nomor 17.
Evelyn mengangguk, satu poin plus; cowok itu tahu caranya menghargai waktu. Karena sejujurnya, salah satu kelemahan tinggal di kota metropolitan adalah orang-orang semena-mena dengan waktu. Mereka datang terlambat semaunya dan berlindung di balik alasan, “sori, tadi jalanannya macet.”
Evelyn:
Ok, 30 menit sy sampai.
Evelyn memacu gas kendaraannya. Sesuai dugaan, 30 menit berlalu, kendaraannya sampai tepat waktu di pelataran kafe Vresteck. Evelyn turun dari mobil dan berjalan dengan dagu terangkat. Satpam yang berdiri di depan, sejenak seakan terkesima dengan penampilannya. Evelyn mengibaskan rambut, justru makin menjadi-jadi menunjukkan pesonanya. Dia mengitari pandangan, menatap sepenjuru restoran dan berhenti di meja nomor 17. Seorang pria bertubuh tegap duduk menunggunya.
Gadis itu segera melangkah mendekat, suara ketukan higheels-nya menggema, menciptakan suara dramatis di kafe yang masih sepi pengunjung. “Permisi, dengan Mas Langit?”
Seseorang itu berbalik hingga Evelyn bisa dengan leluasa melihat wajahnya. Kata Rara, Langit orang yang old fashioned, tapi yang terlihat justru seorang cowok berpakaian kasual tapi tetap terlihat trendi. Mengenakan kaus berwarna hitam, celana jins, dan sneakers putih. Dia berdiri begitu melihat Evelyn, menyambut kemunculannya. Kulitnya putih bersih, rambutnya disisir klimis dan tertata rapi. Satu poin penting lagi. Karena Evelyn tidak suka dengan orang yang terlihat lusuh.
“Ya saya sendiri, kamu … Mbak Evelyn?” Suaranya terdengar agak berat dan dalam. Jenis suara yang bisa membuat seseorang betah berlama-lama untuk mengobrol dengannya bahkan berjam-jam.
“Yes, Evelyn aja please, nggak usah pake Mbak.”
“Oke, Evelyn, mari duduk.” Langit menarik kursi di seberangnya. Satu poin plus karena dia menunjukkan gestur sopan.
“Jadi bagaimana perjalanan dari rumah ke sini?” Cowok itu ikut duduk sambil tersenyum sampai matanya sedikit menyipit dan menunjukkan dagunya yang terbelah. Dan satu poin plus tambahan karena rupanya dia memiliki senyum yang rupawan.
Kali ini pilihan Rara memang tidak perlu diragukan lagi.
Proses penilaian dimulai. Pengalaman empat tahun bekerja di HRD atau Human Resources Development membuat Evelyn mampu menyaring orang-orang pilihan untuk bekerja di sebuah perusahaan. Alhasil dia tidak kesulitan untuk menilai karakter dari seseorang, termask laki-laki yang kali ini duduk di seberangnya. Evelyn suka melihat Langit mengucapkan terima kasih pada pramusaji yang selesai mengantarkan menu makanan, atau Langit yang reflex mengambil tisu ketika ada percikan kopi di sebelah piringnya.
“Jadi, kamu kerja jadi Internal Audit Manager? Cita-cita dari kecil?”
“Bukan.”
“Emang dulu cita-citanya mau jadi apa?”
Langit sempat terdiam, sebelum akhirnya menjawab. “Nggak punya cita-cita, let it flow aja, pekerjaan apa pun yang saya dapet bakal saya ambil kok.”
“Termasuk jadi tukang sapu?”
“Apa yang salah sama tukang sapu? Kalau nggak ada tukang sapu, jalanan pada kotor, karena orang-orang pada gengsi mau bersihin sampah di jalanan padahal bekas mereka juga.”
“Hm, nggak ada yang salah, sih, tapi emang kamu hidup nggak mau punya ambisi?”
“Ambisi sama obsesi beda lho ya.” Evelyn mengangguk. “Btw, kamu keren di usia muda udah jadi founder. Pasti capek, ya?” Evelyn terkejut dengan pertanyaan itu, karena biasanya orang-orang yang bertanya justru akan bilang, “Duh beruntung deh jadi kamu!” atau “Gimana sih caranya se-sukses ini?”
“Excuse me? Capek gimana maksudnya?”
“Yah iya, kamu udah berhasil di usia muda … pasti kehilangan banyak waktu, kan? Waktu main sama teman-teman, waktu istirahat, waktu buat leha-leha, waktu buat refreshing.” Evelyn sama sekali tidak menyangka kalimat itu yang akan keluar dari bibir Langit. Namun di sisi lain, kalimat Langit terdengar seakan bisa membaca isi pikirannya. Perhatian Evelyn kembali berkelana.Langit punya tangan yang ganteng—oke bisa dibilang ini gila, tapi Evelyn suka salah fokus. Dia suka melihat urat kebiruan yang muncul di tangan seorang cowok, Evelyn menyebutnya dengan istilah tangan ganteng. Langit juga punya rahang tegas seta sepasang alis tebal di wajahnya. Pengalaman bekerja dalam HRD juga menjadi alasan mengapa penilaian Evelyn cenderung soal fisik.
“Kamu berapa bersaudara?” Evelyn mengalihkan perhatian.
“Anak tunggal, kamu?”
“Wow, kita sama. Nggak enak ya jadi anak tunggal? Nggak ada teman berbagi, nggak bisa curhat sama orangtua juga karena perbedaan usia dan canggung gitu deh.”
“Kalau dikasih kesempatan saya mau, sayangnya, orangtua saya meninggal waktu saya duduk di bangku SMP. Sampai sekarang saya tinggal sama Bibi, dan Bibi punya tiga anak perempuan dan satu anak laki-laki yang semuanya udah menikah. Sisa saya doang.”
“I am sorry to hear that.”
****