"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan," ucap seorang laki-laki yang tersenyum manis sembari mengembuskan napas lega.
Terdengar suara-suara bersahutan menyerukan kata 'sah'. Kini, Rini dan Andre sudah sah menjadi sepasang suami dan istri. Walaupun, Rini masih tak ada perasaan apa pun untuk laki-laki yang bersanding di sebelahnya ini. Ia hanya menuruti keinginan kedua orang tuanya untuk menikah dengan Andre.
Kemudian, Rini mencium punggung tangan Andre dengan sopan. Ia menatap wajah laki-laki itu sejenak. Ya, tak ada cela keburikan yang tampak pada Andre. Namun, entah kenapa ia masih tak memiliki perasaan untuk laki-laki yang menyandang gelar suaminya sekarang. Bahkan, Andre adalah laki-laki yang saleh. Ia bersyukur mendapatkan laki-laki seperti ini, tapi tetap saja hatinya belum terketuk sama sekali.
"Cie ...."
"Duh, pengantin baru."
Orang tuanya serta orang tua Andre tampak senyum-senyum ke arah mereka berdua. Pancaran wajah Andre tampak bersinar sekali, menandakan sang suami sangat bahagia sekarang. Sementara itu, dirinya hanya mampu menutupi perasaan sedih di hadapan banyak orang yang hadir.
'Mas Agam, maafin aku, Mas.'
Rini merintih dan tiba-tiba memanggil mantan kekasihnya dalam hati. Agam adalah laki-laki yang pernah berpacaran dengannya selama dua tahun. Namun, orang tua Rini tidak merestui hubungan mereka dari awal menjalin tali asmara. Dan, ia hanya bisa pasrah saja ketika perjodohannya dengan Andre terjadi, walaupun menyisakan luka di hati Agam.
"Ayo, rencana bulan madu kalian mau ke mana?" celetuk Bu Sari-ibunya Rini.
"Ibu ...." Rini langsung cemberut dan tidak ingin membahas bulan madu di depan banyak orang.
Andre tersenyum manis dan geleng-geleng kepala. Ia tidak kepikiran sama sekali untuk berbulan madu saat ini. Berusaha untuk menata hati dan menerima kenyataan ini, bahwa dirinya sudah menjadi seorang istri. Apakah ini akan sulit dijalaninya?
"Dek, sebut aja mau ke mana nanti bulan madunya. Nanti Mas yang atur," bisik Andre ke telinga Rini.
Lagi-lagi semua orang bersorak serta menyerukan kata 'cie' di hadapannya. Rini menggerutu dalam hati, kenapa Andre malah bersikap seperti ini padanya. Ia merasa risih dan tertunduk lesu.
'Dasar Andre!'
Tiba-tiba, dari arah luar terdengar suara teriakan. Dan, Rini tahu betul itu suara siapa. Orang itu pun melangkah masuk dengan gerak cepat dan menatap ke arahnya.
"Mas Agam?" Rini langsung berdiri dari posisi duduknya.
Kedua orang tua Rini juga berdiri dan tampak tidak menyukai keberadaan Agam di sini. Ia melihat wajah Agam yang berhiaskan kesedihan.
"Lancang kamu datang ke sini, ya!" bentak Pak Surya-ayahnya Rini sambil menunjuk-nunjuk ke arah Agam yang baru saja hadir.
"Ayah, jangan begitu sama Mas Agam."
"Kamu udah sah menikah sama laki-laki itu, Rin?" tanya Agam.
Rini mengangguk pelan dan mengiyakan saja. Toh, tidak ada gunanya juga untuk berbohong di hadapan Agam kalau pernikahan ini memang sudah terlaksana dan dirinya telah menjadi istrinya Andre.
"Alhamdulillah, Rini sudah sah menjadi istriku," sahut Andre sambil menggenggam erat jari jemari Rini.
Rini menatap ke arah Andre sejenak. Sial! Selalu saja Andre bertindak sesuka hatinya. Kemudian, pandangannya teralihkan menuju kepada Agam. Ia melihat tangan Agam telah terkepal kuat. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi saat ini.
"Rin, bukankah kita sama-sama saling cinta? Tapi, kenapa kamu malah menikah dengan yang lain?" ucap Agam di hadapan banyak orang yang hadir.
"Maafkan a–"
Ucapan Rini terpotong begitu saja ketika melihat ayahnya menarik paksa Agam untuk ke luar dari acara penuh khidmat ini. Ia tak bisa ke luar menyusul Agam karena dicegat oleh sang Ibu. Kedua orang tuanya tidak ingin menanggung rasa malu karena kedatangan Agam ke sini.
"Bu, biarkan aku ke luar buat ketemu sama Mas Agam! Sebentar aja, Bu," pintanya.
"Jangan bikin Ibu dan Ayah malu di depan banyak orang, Nak. Gak usah ke luar! Biar ayahmu yang mengurus semuanya," bisik Bu Sari di telinga Rini.
"Tapi, Bu ...."
Bu Sari tak mau mendengar apa pun sekarang. Ibunya hanya menyuruh untuk duduk kembali bersama dengan Andre. Ia merasa cemas kepada Agam. Apa yang akan dilakukan oleh ayahnya pada pria yang dicintainya itu? Di sisi lain, ada Andre yang selalu memperhatikan wajahnya sedari tadi. Rini merasa risih pada tatapan mata Andre, walaupun sekarang telah sah menjadi suaminya, tetap saja bumbu-bumbu cinta tidak ada di dalam hatinya.
"Kenapa?" tanya Rini sambil menampilkan wajah dinginnya.
"Dek, kamu cantik sekali," puji Andre padanya.
Dipuji Andre seperti itu tentu tidak akan membuatnya luluh dengan begitu mudah. Selagi ada Agam di dalam hatinya, ia jamin tak ada yang bisa menerobos pertahanannya. Ia tak akan baper dengan Andre. Ia tidak merespons ucapan sang suami barusan.
Pikiran dan hatinya terus tertuju pada Agam. Tiba-tiba saja, sang Ayah muncul dan masuk dengan langkah tegas. Mungkin saja, Pak Surya telah berhasil membuat Agam pergi dari sini. Rini berusaha untuk kembali fokus dan mengukir senyum yang dipaksakan dihadapan para tamu undangan.
'Apa yang dilakukan Ayah tadi sama Mas Agam, ya? Kok, aku jadi khawatir sama dia.'
"Dek, jangan ngelamun," ucap Andre.
"Nggak kok."
"Nah, gitu dong. Kan jadi tambah cantik." Andre mengedipkan sebelah mata ke arahnya. Tatapan tersebut seolah sangat memuakkan.
Mereka berdua duduk bersebelahan. Tak jarang, Andre memegang sebelah tangannya. Padahal ia tidak suka diperlakukan seperti ini, tapi mau tidak mau, ia pasrah saja daripada membuat keluarganya jadi malu.
'Rin, kamu udah jadi istri sahnya Andre! Kenapa susah ya buat menerimanya?'
Harusnya, pernikahan ini membuatnya merasa bahagia, tapi justru berbanding terbalik. Rini tidak merasakan kebahagiaan sama sekali ketika bersama dengan Andre. Padahal dari awal, ia sudah menolak pernikahan ini, tapi tetap saja kedua orang tuanya memaksakan kehendak. Orang tuanya ingin dirinya memiliki seorang suami yang taat agama dan berbakti, dan itu ada pada diri Andre. Akan tetapi, cintanya jauh lebih besar untuk Agam sampai detik ini.
"Dek, yang tadi mantan pacarmu, ya?" bisik Andre mendekat pada Rini.
"Iya," lirih Rini. "Memangnya kenapa sih?"
"Lebih gantengan aku sih, Alhamdulillah," sahut Andre lagi sambil senyum-senyum sendiri.
Sontak, Rini membulatkan kedua bola matanya. Ia tidak menduga kalau Andre akan senarsis ini. Akan tetapi, kalau dilihat-lihat memang benar adanya, kalau suaminya lebih tampan dari sang mantan kekasih. Ingin berdebat sekarang, tapi momennya tidak tepat. Ia akan sangat malu kalau harus beradu mulut dengan Andre di hadapan banyak orang.
'Awas aja kamu, Ndre! Bisa-bisanya membandingkan dirinya sendiri sama Mas Agam!'
Tanpa rasa bersalah sama sekali, Andre malah terkekeh pelan. Ia masih cemberut dan tidak ingin mendengar apa pun lagi. Baginya, hanya Agam yang selalu ada di dalam hati.
"Dek, bener kan, gantengan aku daripada mantanmu itu?" bisik Andre lagi di telinga Rini.
"Kamu bisa diam gak?" suruh Rini. "Dari tadi nyerocos aja."
Rini tidak bisa terlalu banyak protes karena di depannya sedang banyak tamu undangan. Kedua orang tuanya sedang mengobrol dengan orang tuanya Andre. Mereka tampak terlihat penuh bahagia hari ini, tapi tidak dengan dirinya. Menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai, ternyata sangat menyakitkan. Rasa bersalahnya masih memuncak di dalam hati. Ia masih saja teringat dengan sosok sang mantan kekasih yang telah ditinggalkannya. Ternyata, akhir cinta mereka berdua harus kandas di tengah jalan.
Tak disangka ia malah menikah dengan laki-laki pilihan kedua orang tuanya. Ia tidak bisa membantah keinginan mereka. Walaupun perasaan ini sangat tersiksa, tapi setidaknya, Rini melakukan hal ini demi berbakti pada orang tua.
"Dek," panggil Andre lagi.
"Apa sih?"
Rini sangat tidak suka dipanggil-panggil oleh Andre. Ia mendengkus kasar dan memalingkan wajah. Pokoknya, ia tidak mau bertatapan dengan mata sang suami. Suasana hatinya saat ini benar-benar buruk. Andai saja tamu undangan ini semuanya pulang, mungkin Rini akan mengamuk untuk mengeluarkan amarah yang sedari tadi dipendamnya.
"Jangan marah gitu dong, Dek."
Saat Andre menjulurkan tangan untuk membelai sebelah pipinya, tiba-tiba Rini menangkisnya. Ia tidak suka disentuh tanpa izin, walaupun oleh suaminya sendiri.
"Jangan macam-macam, ya!" Rini tengah melototkan kedua matanya di hadapan sang suami.
"Loh?" Andre pun jadi kaget seperti ini.
Untung saja, orang tuanya tidak melihat tindakannya barusan, kalau iya, maka mereka akan marah besar padanya. Para tamu undangan juga tengah asyik dengan kesibukan mereka sendiri, sehingga tidak melihat tindakannya tadi. Andre langsung terdiam di tempat dan tak bicara apa pun lagi. Mungkin, laki-laki di sebelahnya takut padanya.
***
Saat sudah masuk ke dalam kamar pengantin, Rini langsung mengalami tremor. Tangan serta kakinya bergetar hebat. Kini, ia dan Andre telah berada dalam satu kamar yang sama. Rasa gugup serta takut menjadi satu. Ia lalu duduk perlahan-lahan di atas ranjang pengantin yang berhiaskan dengan taburan bunga mawar merah yang wangi. Ia menatap sekeliling kamar dengan perasaan takut.
"Dek," panggil Andre padanya.
Ia mendongakkan wajah sejenak ke arah Andre, lalu berpaling ke lain arah. Apakah ia harus melakukannya malam ini? Ia harus menuruti permintaan Andre? Menyerahkan kesuciannya pada sang suami yang tidak ia cintai?
"Kenapa? Kamu takut, ya?" Kerlingan mata Andre begitu mengajak ke arah yang lebih 'sesuatu' di antara mereka.
Akan tetapi, ia malah memilih untuk berdiam diri dan tak menjawab ucapan sang suami. Kemudian, Andre duduk di sebelahnya serta menampilkan senyuman manis. Terdengar embusan napas yang ke luar dari mulut Andre sebelum mengeluarkan kata demi kata.
"Bismillah ...." Ada jeda beberapa detik sebelum Andre melanjutkan ucapannya. "Aku gak akan nyentuh kamu malam ini, Dek, tanpa izin dari kamu."
Rini langsung planga-plongo, seakan tidak percaya dengan ucapan Andre barusan. Laki-laki itu bisa menahan nafsunya? Ataukah ini hanya kamuflase belaka?
"Ka–kamu serius?" tanya Rini.
"Iya, aku serius, Dek. Kalau kamu gak mengizinkan, gak apa-apa. Kalau perlu, aku tidur di sofa luar aja, kamu yang di sini. Biar kita gak sekamar dulu," balas Andre sambil tersenyum manis di sampingnya.
'Kenapa Andre bisa seperti ini?'
Apakah ia terlalu jahat pada Andre, sampai-sampai harus begini? Akan tetapi, ia masih belum siap untuk melakukan malam pertama. Ia tidak bisa menyerahkan kesuciannya pada laki-laki yang tidak dicintai, meskipun sudah menjadi pasangan yang sah di mata hukum dan agama. Hatinya masih tertambat pada Agam. Apakah dirinya jahat? Rini rasa tidak.
"Ya sudah, mending kamu ganti pakaian dulu, abis itu istirahat. Kita berdua udah capek kan hari ini karena banyak banget yang datang?"
Rini mengangguk pelan ke arah Andre. Sang suami pun berdiri dari atas kasur dan menuju ke lemari pakaian. Setelah itu, Andre terlihat mengeluarkan selimut tebal dari lemari. Kemudian, mengambil satu bantal dari tempat tidur dan akan menaruhnya di sofa ruang tamu. Rini yang melihat hal itu tampak kasihan.
'Hmm ... ngapain juga aku harus kasihan. Dia juga kan yang mau nikah sama aku, padahal udah jelas-jelas aku gak cinta sama dia!'
"Kamu atau aku duluan yang ganti pakaian?" tanya Andre.
"Kamu!" sahut Rini dengan ketus.
"Oke, Dek, sekalian aku mau mandi." Andre melangkahkan sepasang kakinya menuju ke dalam kamar mandi sambil membawa handuk yang sudah ada di tangan.
Ia memperhatikan sang suami sampai pintu kamar mandi benar-benar tertutup. Ia pun menunggu beberapa saat. Lagi-lagi, dirinya memikirkan keadaan Agam di sana. Rini ingin sekali menghubungi mantan kekasihnya itu melalui telepon. Sampai detik ini, dirinya masih menyimpan nomor telepon sang mantan.
"Aku mau menghubungi Mas Agam ah ...." Ia mengambil ponselnya yang tersimpan di dalam laci sejak tadi.
Mumpung Andre masih berada di dalam kamar mandi, ia bisa menghubungi Agam. Rona di wajahnya tampak cerah ketika mendengar suara Agam dari sambungan telepon. Ia sangat rindu mendengar suara laki-laki yang dicintainya.
"Mas Agam," panggilnya dengan nada lembut.
"Rini? Ada apa, Rin?" tanya Agam.
"Aku kangen sama kamu, Mas."
"Hmm ... suami kamu di mana? Malam ini kan ma-"
Rini langsung menghentikan ucapan Agam. Ia tidak mau mendengar ada kata malam pertama saat ini. Ia tidak bisa menyerahkan kesuciannya pada laki-laki yang tidak dicintainya, walaupun itu suaminya sendiri.
"Aku gak bisa, Mas. Aku cintanya cuman sama kamu aja," ujar Rini.
"Tapi, kamu udah menikah dengan laki-laki lain. Apa yang harus aku lakukan? Gak ada."
Saking asyiknya berteleponan dengan Agam, sampai Rini tidak melihat dengan kehadiran Andre yang sudah ke luar dari dalam kamar mandi. Sang suami hanya melihat hal tersebut tanpa ingin menegur. Kemudian, Rini terlonjak kaget karena melihat suaminya sudah berada di depan kedua matanya.
"Se-sejak kapan kamu ada di situ?" Rini bertanya pada Andre.
"Baru aja kok," sahut Andre yang berlemah lembut.
Rini hanya mengucapkan kata 'oh' saja sebagai jawaban. Ia tidak peduli sudah seberapa lama Andre ada di dekatnya. Lama-lama ia tertegun sendiri saat melihat 'roti sobek' sang suami terpampang nyata di hadapannya. Laki-laki itu mengenakan handuk saja dan rambutnya yang basah, semakin menambah keseksian Andre saat ini. Tiba-tiba, Andre menarik sebelah tangannya.
"Aaaa ...!"
"Aaaa ...!"
Rini refleks berteriak ketika sebelah tangannya dipegang oleh Andre. Sementara ponselnya terjatuh begitu saja di atas ranjang. Padahal ia sedang asyik berteleponan dengan Agam.
"Kenapa? Enak kan?" tanya Andre sambil menaruh sebelah tangan Rini di atas perut sixpack-nya.
Ia sangat gugup dan buru-buru menarik tangannya. Ia terlihat salah tingkah lalu menggerutu pada Andre. Kedua matanya dengan cepat melotot tajam.
"Ce-cepat sana pakai baju!" suruh Rini sambil memalingkan wajah.
Sementara itu, panggilan yang sempat terhubung dengan Agam kini sudah terputus. Rini jadi kesal sendiri karena sambungannya diputuskan secara sepihak. Kemudian, sang suami berlalu menuju ke lemari pakaian.
Rini yang masih memakai gaun pengantin, berniat hendak ke kamar mandi untuk berganti. Namun, saat berdiri, Andre tiba-tiba mendekat padanya. Melihat wajah suaminya saja, ia sudah kehilangan mood.
"Dek, nih pakai," ucap Andre sambil menyodorkan handuk bersih ke arah Rini.
"Makasih!"
Buru-buru ia menuju ke kamar mandi dan menutup pintunya. Dari balik pintu, ia sangat gugup dan malah terbayang-bayang dengan kejadian tadi. Tangannya dipegang, lalu diletakkan oleh Andre di atas perut sixpack-nya. Kerlingan mata sang suami juga terlihat manja padanya. Harusnya, malam ini menjadi malam yang paling membahagiakan bagi sepasang suami istri. Namun, malam pertama malah tidak terlintas di dalam pikiran Rini karena merasa takut.
***
Benar saja, ternyata Andre tidak ada di dalam kamar ini setelah ia ke luar dari kamar mandi. Mungkin saja, laki-laki itu sedang ada di sofa ruang tamu untuk beristirahat. Di rumah ini hanya mereka berdua saja yang tinggal. Andre memang sudah membeli rumah sebesar ini untuk ditempati.
Ia duduk di atas ranjang sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Tiba-tiba, tatapan matanya teralihkan pada ponselnya yang berada di atas nakas. Rini agak ragu, apakah menghubungi Agam lagi atau besok saja.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Ia tidak enak mengganggu waktu istirahatnya Agam saat ini. Ia urungkan niatnya untuk menghubungi sang mantan.
"Besok aja deh."
***
Rini telah selesai mengerjakan Salat Subuh hanya sendirian saja di dalam kamar. Sementara itu, Andre sedang melaksanakan Salat Subuh di ruang tamu. Ia tidak mau melakukan salat berbarengan. Walaupun mereka berdua adalah suami istri, tapi tetap saja Rini ingin memberi penghalang jarak antara dirinya dan juga sang suami.
Tok! Tok!
"Assalamualaikum," ucap Andre dari luar kamar.
"Waalaikum salam," sahut Rini.
Setelah memberi salam, laki-laki itu masuk ke dalam kamar. Rini melepaskan mukena yang dipakainya, lalu merapikannya kembali.
"Dek, gimana tidurnya semalam? Nyenyak kan?" tanya Andre.
Rini mengangguk dengan cepat. Memang benar, semalam ia tidur nyenyak karena saking lelahnya menyambut para tamu yang hadir di acara pernikahannya itu.
"Alhamdulillah kalau gitu."
Mendadak suasana jadi hening di antara mereka. Andre tampak ingin berbicara sesuatu padanya. Namun, laki-laki itu sepertinya tak berani buka suara.
"Ada apa?" Rini inisiatif bertanya pada Andre lebih dulu. "Kalau gak ada yang mau diomongin lagi, mending ke luar aja."
"Aku mau minta tolong."
"Tolong apa?" Rini menaikkan sebelah alisnya dan menunggu kelanjutan Andre berbicara.
"Hmm ... tolong setrika bajuku, ya. Soalnya, aku mau mandi lagi dan siap-siap ke kantornya ayah. Bisa kan?"
Kewajibannya sebagai seorang istri tetaplah harus dijalani. Ia mengangguk ke arah sang suami dan bersedia melakukannya. Ia melihat Andre tersenyum manis padanya.
"Terima kasih," ucap Andre lagi sambil menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai menyetrika pakaian milik Andre, ia segera melangkahkan sepasang kakinya menuju ke arah dapur. Ia berencana akan memasakkan makanan untuk sang suami dengan bahan-bahan seadanya di dalam kulkas. Ternyata, isi di dalam kulkas banyak sekali. Ada buah-buahan, sayuran, minuman, dan cemilan lainnya di sana.
"Aku masak nasi goreng aja deh buat sarapan pagi ini. Nanti siang, aku akan masak yang lainnya."
Tanpa sadar, Rini malah tersenyum ketika memasak. Rupanya, aroma wangi dari masakannya tercium sampai ke dalam kamar. Alhasil, Andre tiba-tiba datang mengejutkannya yang sedang memasak.
"Wow, wangi banget masakan kamu. Pasti enak nih," ucap Andre.
Andre yang sudah siap berpakaian mengenakan setelan jas kini duduk di kursi. Sembari menunggu sebentar makanan dihidangkan di atas meja, tampak sang suami mengutak-atik ponsel. Andre tersenyum semringah ketika makanan sudah ada di depan kedua matanya. Rini mulai mengambil piring kosong dan menaruh secentong nasi serta telur dadar di atasnya untuk diserahkan pada sang suami.
Laki-laki itu bahkan menatapnya sampai tidak berkedip. Rini tampak biasa saja. Berkali-kali, Andre mencuri pandang ke arahnya dan ia sadar akan hal itu. Kemudian, ia juga duduk di sebelah sang suami untuk sarapan bersama. Mereka tak lupa membaca doa sebelum menyuap makanan.
"Dek, nasi goreng buatan kamu enak banget." Andre memuji masakan Rini.
"Makasih."
Hanya satu kata yang terucap dari bibir Rini. Ia bahkan sama sekali tidak menatap wajah Andre dan malah menatap nasi goreng saja yang ada di atas piring. Begitulah dirinya tidak bisa memaksakan perasaannya ini untuk memberi perhatian lebih pada laki-laki di sampingnya. Ia hanya melakukan tugasnya saja, sebagaimana seorang istri.
Selama makan, mereka berdua tidak saling bicara sampai makanan telah habis tak bersisa. Kemudian, Andre membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Dek, aku mau berangkat kerja dulu, ya. Kamu di rumah aja, jangan ke mana-mana," ucap Andre.
"Iya," sahut Rini singkat.
Mereka berdua sama-sama berdiri. Rini mencium punggung tangan sang suami dengan hormat dan mengantarkannya sampai pintu depan. Keduanya berjalan bersisian, walaupun tidak saling bicara. Ia melihat sang suami tersenyum lebih dulu padanya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Assalamualaikum ...."
"Waalaikum salam," jawab Rini.
Ia melihat mobil sang suami sampai jauh dari pandangan mata. Kemudian, ia segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Terlintas dalam pikirannya untuk menghubungi sang mantan lagi.
"Nelpon Mas Agam ah ...."
Sambil berjalan dengan penuh semangat, Rini telah sampai di dalam kamar. Ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas lalu mencari nama Agam di layar. Tanpa menunggu lama, sambungan di antara mereka pun terhubung.
"Mas Agam, aku kangen sama kamu, Mas."
Rini langsung mengatakan kalau dirinya merasa rindu pada sang mantan. Ia bahkan tidak canggung apa pun pada Agam, walaupun sudah menikah dengan laki-laki lain, tetap saja sang pemilik hatinya adalah Agam.
"Aku juga kangen sama kamu, Rin. Gimana kalau kita ketemu aja?" ajak Agam melalui sambungan telepon.
"Ketemu, Mas? Sekarang kah nih?"
"Iya, sekarang. Apa kamu bisa, Rin?"