Ines hanya mampu diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Gadis itu menatap Arka yang tengah berbincang bersama seorang gadis yang memanggil mereka. Keduanya nampak akrab, seakan sudah berkenalan sejak lama. Saking asyiknya berbincang, mereka sampai melupakan ada seorang gadis yang tengah menatap keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Hingga Arka menyadari satu hal, lalu mengalihkan pandangannya dan menghentikan perbincangan itu.
"Nes, sini," pinta Arka, membuat Ines mendekati Kakaknya.
Setelah berdiri di samping Arka, gadis yang ada di hadapan mereka langsung menyapa Ines.
"Hai, Nes," sapa gadis yang berada di hadapan mereka.
Ines menatap gadis itu dengan ragu-ragu, lalu menyahut, "Ha-hai, Ka-k Nel," sahut Ines dengan terbata-bata.
Arka hanya tersenyum maklum melihat kegugupan Ines. Dia mengerti mengapa gadis itu menjadi gugup. Pasalnya, gadis yang berdiri di hadapan mereka adalah kenopakan bundanya. Ibu dari gadis itu merupakan kakak angkat dari bunda Arka dan Ines.
"Kamu bareng sama Bang Arka? Emang nggak apa, ya, Nes?" tanya gadis bernama Nela itu.
Arka mengerutkan dahinya. "Memangnya kenapa?" Bukannya menjawab, Arka malah balik bertanya.
Nela menggelengkan kepala sambil tersenyum paksa. "Nggak, Bang. Nggak apa-apa kok, nggak usah dipeduliin pertanyaan aku tuh," jawab Nela.
"Oh iya, kamu mau ikut masuk ke kantor abang?" tawar Arka yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Nela.
"Kalau begitu, abang dan Ines duluan, ya."
Arka menarik tangan Ines agar mengikutinya. Gadis itu mengalihkan pandangan ke arah belakang menatap Nela yang juga menatapnya dengan tajam. Nela kemudian menyunggingkan senyum penuh ejekan ke arah Ines yang seakan tahu arti dari senyuman itu.
Saat di depan pintu lift. Ines melepaskan genggaman Arka di tangannya, membuat pria itu menatap heran ke arah sang adik. "Abang, aku pulang aja, ya. Aku mau bantu Bunda di rumah," pinta Ines dengan tatapan memohonnya.
Arka menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"
Untuk beberapa saat Ines diam tak menjawab, lalu akhirnya membuka suara. "Ines pulang, ya, Bang. Nanti kalau Ines main, terus pulang telat, Bunda bakal marah. Nanti Abang kena getahnya. Maaf, ya, Bang," ujar Ines tanpa menjawab pertanyaan Arka.
Arka menghela napas berat. "Oke, kamu boleh pulang. Tapi diantar sama Pak Imat, ya. Jangan naik taksi, bahaya. Abang nggak mau kamu kenapa-napa, Nes."
Ines menggelengkan kepala tanda menolak permintaan Arka yang akan mengundang masalah. Terlebih lagi sang bunda yang tidak suka gadis itu selalu merepotkan kakaknya. Bundanya akan marah kalau Pak Imat, supir pribadi kakaknya, malah mengantar dia yang tidak memiliki kepentingan. Sedangkan sang kakak pasti mempunyai banyak kepentingan bahkan meeting di outdoor.
"Kamu pulang sama Pak Imat, atau abang yang antar?" tawar Arka, membuat Ines tidak mempunyai pilihan selain diantar oleh Pak Imat, supir pribadi Arka.
Pria itu memang sangat aneh. Dia padahal membawa mobil sendiri saat mengajak Ines ke kantornya pagi tadi, tetapi entah kenapa setiap akan meeting di luar ia akan meminta Pak Ujang untuk menyetir mobilnya. Maka dari itu Pak Imat selalu berada di kantor menunggu perintah Arka.
"Ya udah, Ines pulang bareng Pak Ujang aja, Bang." Ines memberikan senyum terbaiknya kepada Arka.
Pria dua puluh lima tahun itu menghubungi sang supir. Beberapa saat kemudian, Pak Imat datang menghampiri keduanya.
"Ada apa, Den Arka?" tanya Pak Ujang.
Arka melirik ke arah Pak Imat, lalu berkata, "Tolong antar Ines pulang, Pak. Hati-hati bawa mobilnya, saya bukan sayang penumpangnya, tapi sayang mobil. Mahal itu," jawab Arka yang disertai candaan di akhir kalimat, membuat Pak Imat dan Ines terkekeh pelan.
"Abang mah gitu," gumam Ines.
Pak Imat menganggukkan kepala tanda mengiyakan ucapan Arka, bos mudanya itu. "Baik, Den. Yuk, Non, mari!" ajak Pak Imat.
Ines meraih tangan Arka, lalu mencium punggung tangan pria itu. "Ines pulang, ya. Assalamu'alaikum," ucap Ines yang langsung dijawab oleh Arka.
"Wa'alaikumsalam."
Arka menatap penuh kasihan ke arah adik perempuannya itu. Sebenarnya dia tahu mengapa Ines meminta pulang ke rumah daripada menemani dan membantunya di kantor, dengan alibi membantu sang bunda.
Dengan menghela napas berat, Arka kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lift dan menekan angka sembilan, lantai di mana ruangannya berada.
***
Pak Imat merasa heran dengan sikap Ines yang tidak biasa. Gadis itu hanya diam dan menatap ke arah jendela mobil. Biasanya nona muda itu akan terus berceloteh sambil memakan permen lollipop kesukaannya.
"Non Ines kenapa diem aja atuh?" tanya Pak Imat.
Merasa ada yang bertanya, Ines mengalihkan pandangannya dari jendela mobil ke arah Pak Imat. Dia lalu menggelengkan kepala sebagai jawaban, bahwa ia tidak apa-apa.
Pak Imat mengembuskan napas pelan. Dia tahu ada yang sedang disembunyikan oleh gadis itu. Bagaimana dirinya tahu? Tentu saja dia akan tahu. Sejak Ines kecil, dia bersama istrinyalah yang merawat gadis cantik itu.
"Bapak tahu, kalau kamu sedang memikirkan sesuatu. Kamu nggak bisa bohong sama bapak, kamu lupa kalau bapak urus kamu sedari bayi," seloroh Pak Imat, membuat Ines kembali menatap pria paruh baya itu.
"Ayo, cerita sama bapak. InsyaAllah, bapak akan mendengarkan dengan baik." Ines terharu mendengar ucapan Pak Imat.
Gadis itu akhirnya membuka suara, lalu berkata, "Tadi pagi Ines kira hari ini sekolah, ternyata libur. Terus di halte aku ketemu Abang, dia ajak ke kantor. Di sana kita papasan sama Kak Nela, dan-" Ines tak mampu melanjutkan ceritanya, gadis itu malah menangis sesenggukan.
"Non jangan khawatir, bapak akan bicara sama ibu kalau Non Nela ngadu. Jangan nangis, nanti cantiknya ilang, Non," pungkas Pak Imat yang merasa kasihan pada gadis itu.
Ines menundukkan kepalanya dengan air mata yang tak kunjung berhenti. "Ines takut, Pak. Nanti kalau Bunda marah gimana? Kak Nela pasti ngomong yang macem-macem sama Bunda. Ines takut," sahut Ines disertai dengan tangisannya.
"Non, nggak boleh suudzon dulu, kita harus selalu husnuzon. Percaya sama bapak, Ibu pasti nggak bakal apa-apain Non. Kalaupun diapa-apain, bapak bakal belain Non."
"Tapi-"
"Udah, Non. Sekarang hapus air matanya, ya. Mukanya jelek kalau nangis," ucap Pak Imat.
Ines menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya, lalu menampilkan senyum manis pada Pak Imat yang juga ikut mengulas senyum.
"Nah, gitu dong, senyum. Non kan pernah bilang, kalau Non nggak boleh cengeng. Karena emang sedari kecil mereka begitu, termasuk Ibu, jadi jangan dibawa hati dan cengeng. Non masih punya bapak dan bibi 'kan? Jadi jangan nangis. Non nggak sendirian kok," ujar Pak Imat dengan lembut.
Ines menganggukkan kepala. "Iya, Pak. Maaf, tadi refleks. Air matanya yang nakal pengen keluar, padahal Ines udah larang." Pak Imat hanya menggeleng-gelengkan kepala saat mendengar jawaban dari Ines.
***
Setelah sampai di halaman rumah bundanya. Ines langsung turun dari mobil, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewah itu. Gadis itu mengembuskan napas lega, ketika mendapati rumah tersebut kosong dan sepi. Ke mana bundanya?
Ines berjalan menuju ke ruang makan untuk memastikan keberadaan sang bunda. Namun, nihil. Ruangan itu kosong tidak ada orang sama sekali, bahkan Bi Iis yang selalu berkutat dengan benda-benda dapur sekarang tidak ada di sana. Gadis itu mengembuskan napas berat, lalu membalikkan badannya.
Baru saja membalikkan badannya, tiba-tiba seseorang melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras. Ines langsung memegang pipinya yang memerah dan sangat perih, sehingga bibirnya pun sedikit robek dan mengeluarkan darah.
"Non!" panggil sebuah suara dengan lantang.
Tamparan yang begitu keras, membuat tubuhnya tersungkur ke lantai. Namun, sebelumnya dahi gadis itu juga membentur ujung kursi meja makan. Bi Iis dan Pak Imat yang melihat itu langsung berteriak, sedangkan Ines hanya bisa menangis tanpa suara sambil memegang pipinya yang memerah. Melihat hal itu, Bi Iis langsung menghampiri Ines dan memeluknya.
"Ampun, Bu. Jangan sakiti Non Ines, Bu," pinta Bi Iis yang sudah menangis tersedu-sedu melihat nona mudanya yang kesakitan akibat tamparan keras dari sang nyonya.
"Menyingkir, Bi Iis! Anak sialan ini harus diberi pelajaran!" teriak wanita yang dipanggil nyonya oleh Bi Iis.
Wanita itu bernama Mayang, bunda dari Ines. Tidak tahu kenapa tiba-tiba Mayang datang dari belakang, lalu menampar gadis yang berada di pelukan Bi Iis tanpa sebab.
Mayang menarik tubuh Bi Iis agar melepaskan pelukannya dari tubuh Ines. Setelah berhasil, wanita itu langsung menjambak rambut Ines yang masih menangis.
"Sakit, Bun hiks... ampun, Bun hiks... Ines salah apa, Bun, hiks...." Ines memegang tangan Mayang yang masih menjambak rambut gadis itu. Rasanya rambut Ines seakan terlepas dari kepala.
"Bun, sakit, Bun hiks...," rintih Ines.
Mayang melepaskan jambakannya, lalu menghempaskan kepala Ines sehingga membentur lantai.
"Kamu ke mana tadi, hah?!" tanya Mayang dengan berteriak marah.
Ines menghapus air matanya, lalu menjawab, "Ines kira sekarang hari kamis, ternyata minggu. Makanya Ines mau pergi ke kampus, tapi pas di jalan ketemu Abang. Dia ngasih tahu Ines, terus ajak Ines ke kantornya, Bun."
"Arka yang bertemu kamu, atau kamu sengaja datang ke kantor dia?! Saya tahu, kamu pasti yang datang ke sana buat ngadu kan?! Jawab!" teriak Mayang, membuat Ines terlonjak kaget.
Hal yang paling ditakuti oleh Ines sejak kecil adalah kemarahan Mayang. Wanita itu tidak akan segan-segan menampar, menjambak, bahkan memukul Ines. Padahal saat itu Ines baru berumur dua tahun, tetapi dia tidak merasa kasihan maupun iba pada anak sekecil itu. Ines tidak mengetahui mengapa bundanya sangat membenci gadis itu, bahkan akan sangat marah pada kesalahan kecil yang dilakukannya.
"Sumpah, Bun. Ines ke sana diajak Abang, bukan sengaja. Ines nggak pernah mengadu sama Abang, Bun," sahut Ines.
"Bohong! Kamu kira saya percaya sama kamu?! Saya lebih percaya pada keponakan saya, dibandingkan kamu yang hanya orang asing?!" Mayang menjentul-jentulkan kepala Ines yang kembali menangis saat mendengar bundanya mengatakan bahwa dia adalah orang asing.
"Ines nggak bohong, Bun. Abang yang ajak Ines, dan aku juga nggak ngomong apa-apa sama Abang," pungkas Ines dengan lirih.
"Alah, saya nggak percaya! Sebagai hukumannya, kerjakan semua pekerjaan rumah. Dan kamu nggak dapat makan hari ini!" sinis Mayang dengan penuh penekanan.
"Tapi, Bun-"
"Saya nggak menerima penolakan! Awas kamu ngadu sama Arka atau suami saya!" Mayang berjalan meninggalkan Ines.
Ines menatap punggung Mayang yang menjauh dan menghilang. Ines kembali menangis, lalu beberapa saat kemudian gadis itu menghapus air matanya dan mengulas senyum. Ines langsung beranjak mengerjakan hukuman yang diberikan oleh Mayang.
Ines yakin, suatu saat Bunda bakal baik sama Ines, batin Ines.
***
Ines mengembuskan napas kasar, lalu mulai mengerjakan apa yang diperintahkan oleh bundanya, Mayang. Pertama, gadis itu mulai menyapu seluruh lantai ruangan, lalu mengepelnya. Setelah selesai, dia mengelap barang-barang yang ada di ruang keluarga, kemudian mencuci piring, dan memasak makanan. Pekerjaannya baru selesai pada pukul 17.10 WIB.
Matanya membelalak ketika menatap jam yang terpajang di dinding dapur, membuat gadis itu tergesa-gesa menata makanan di meja makan. Setelah semuanya selesai, Ines langsung bergegas ke kamarnya untuk membersihkan badan yang terasa lengket.
"Lengket banget, nih, badan," gumam Ines, "mandi jangan ya. Mandi, ah," lanjutnya.
Sebelum beranjak ke kamar mandi. Ines melangkah ke depan cermin terlebih dulu, menatap pantulan dirinya. Tidak ada yang dilakukannya, hanya mengulas senyum tulus.
"Tetap senyum, Nes, siapa tahu mereka balas senyum kamu. Tapi, kalau suatu saat kamu lelah buat tersenyum, minta Allah untuk peluk kamu dan hilangin senyum ini," gumamnya.
Tanpa terasa air mata mengalir dari pipi gadis cantik itu. Dengan cepat, dia menghapus air matanya. Ines langsung beranjak ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian, Ines baru keluar dari kamar mandi menjalani ritual di sore hari. Sambil menunggu azan Magrib berkumandang, gadis itu membaringkan tubuhnya di ranjang sambil memainkan ponselnya.
Pintu kamarnya diketuk berkali-kali, membuat Ines menghampirinya dan membuka pintu itu. "Ayah, ada apa?" tanya Ines dengan lembut.
"Ayah mau susul kamu. Ayo, makan bersama," ajak pria paruh baya yang dipanggil ayah oleh Ines.
Gadis itu menggelengkan kepala, lalu menyahut, "Nggak usah, Yah. Ines di kamar aja, deh. Makasih, Ayah."
Pria itu mengangkat tangannya, lalu mengelus kepala Ines. Dia tersenyum lembut menatap putri bungsunya.
"Takut sama Bunda, hm? Kalau itu alasan kamu, tenang aja. Kan ada ayah, Sayang." Pria itu merangkul bahu Ines dan mengajaknya ke ruang makan.
Ayah Ines bernama Argiantara Zidni Erick. Dia merupakan adik kandung Dirgantara Erick, ayah dari Crystal.
"Tapi-"
"Nggak ada tapi-tapian, Nak. Jangan takut, ada ayah juga abang. Bunda nggak bakal ngapa-ngapain kamu. Percaya sama ayah, oke," ujar ayah Ines, membuat gadis itu mengulas senyum dan menganggukkan kepala.
Sesampainya di ruang makan, ayah Ines langsung meminta putri bungsunya itu duduk di kursi samping kanannya. Sedangkan Mayang berada di kursi samping kiri ayah Ines, membuat keduanya saling berhadapan.
"Mas, kenapa kamu ajak dia makan," ujar Mayang pada suamianya, ayah Ines.
"Dia anak aku, Mayang, kalau kamu lupa. Dia lahir dari rahim istriku, yaitu kamu," sahut Argi.
Mayang menatap suaminya. "Nggak, dia bukan anak kita! Dia anak pria brengsek itu! Dia bukan anak aku! Aku nggak sudi mengakui anak bajingan itu!" teriak Mayang.
Wanita itu tersulut emosi saat suaminya mengatakan bahwa Ines adalah anak mereka, tetapi Mayang tidak terima. Karena ucapan sang suami, membuat dia kembali terbayang masa kelam itu. Argi menghampiri Mayang yang berteriak sambil menangis. Ines terkejut melihat reaksi sang bunda, hanya karena ayahnya mengatakan kalau Ines adalah putri mereka. Dan apa maksud bunda yang mengatakan bahwa dirinya putri pria bajingan itu?
"Dia bukan anak aku! Aku nggak pernah menginginkan dia jadi anak aku! Pergi kamu anak sialan, pergi dari sini! Pergi dari rumah ini!" jerit Mayang sambil menyiramkan air yang ada di gelas ke wajah Ines.
"Ines, masuk kamar, Nak!" tegas Argi.
Ines yang sadar diri, langsung beranjak dari duduknya. Padahal sedari pagi dia belum makan apa pun, maka dari itu dia menurut pada sang ayah yang mengajaknya untuk makan malam. Namun, kejadian tadi membuat Ines ketakutan.
"Ines lapar, tapi nggak ada makanan di tas. Biasanya ada roti. Aduh, mana nggak punya uang buat belinya. Apa Ines ke rumah Fernan aja, ya, pinjem uang," gumam Ines.
"Ya udah, deh, Ines ke rumah Fernan aja."
Baru saja Ines akan melangkahkan kaki keluar rumah, tiba-tiba suara seseorang menghentikannya.
"Mau ke mana kamu?" tanya seseorang.