Bab 1

"Kamu gimana sih? Aku nyuruh kamu kerja tapi nggak di perusahaan tempat aku kerja juga. Kamu udah nggak waras ya? Nggak punya otak atau gimana?"

Laras mengerutkan kening usai mendengar ucapan suaminya. "Mas, nyari kerja zaman sekarang itu susah. Lagi pula kenapa emang kalau kita satu kantor? Bukannya malah bagus, kita bisa berangkat sama-sama? Itung-itung hemat biaya, Mas," ucap Laras, ikut protes.

"Apa kamu bilang?" Reza semakin dibuat jengkel. "Jadi maksud kamu, kamu mau ngenalin diri kamu ke teman-teman kantor aku? Kamu bakal datang ke sana dan bilang kalau kamu itu istri aku? Yang bener ajalah, Ras. Udah sinting kali kamu."

"Mas! Sebenarnya mau kamu apa sih? Kamu mau nyuruh aku kerja biar ekonomi kita semakin membaik atau biar kamu bisa bebas? Kata-kata kamu udah nggak masuk akal, Mas. Kamu sadar nggak sih?"

"Halah! Udah deh, Ras, jangan ngajakin ribut mulu." Reza mengibaskan tangan di depan wajah istrinya. "Lebih baik kamu cari kerja lain aja. Kalau kamu nggak mau juga cari yang lain, kalau gitu masuk ke sana tapi jangan kasih tahu sama siapa-siapa kalau kamu itu istri aku. Pokoknya anggap aja kita nggak kenal. Kamu ngerti?"

Laras tercengang tidak habis pikir dengan ucapan suaminya tadi. Perempuan berambut panjang itu menyugar rambutnya begitu kasar, untuk menepis segala kekesalan yang sudah membuncah bak lava dalam dada. Bagaimana bisa suami yang menikahinya enam bulan lalu tega berkata demikian? Apa sebenarnya Reza menyesal telah menikahi Larasati Abania si putri petani dari desa kecil pinggiran kota itu?

"Mas! Kamu malu sama aku?" tanya Laras kala Reza akan beranjak dari hadapannya.

"Menurut kamu? Jangan bodoh deh jadi orang. Mana ada laki-laki yang mau sama kamu, buluk gini! Mending nggak sama sekali," cela Reza menjawab. Tidak punya hati.

"Lalu apa gunanya pernikahan ini, Mas? Kenapa kamu masih bertahan di atas pernikahan kita yang mana kamu sendiri nggak suka sama aku?"

"Ya karena aku masih butuh kamu. Mahar yang aku kasih ke kamu ya harus balik dulu baru aku lepasin kamu. Kalau masih belum balik, mana bisa aku minta lagi kalau udah cerai. Capek yang ada harus ngejar kamu ke kampung. Duh... ribet!" ungkapnya tanpa beban. Wajah yang begitu kentara akan ketidaksukaan itu benar-benar tercetak jelas pada garis rahang Reza.

Usai pria itu melenggang pergi, Laras pun tak kuasa membendung air matanya. Dia sudah terlalu banyak memendam luka. Bahkan rasanya hatinya sudah tidak cukup untuk menyimpan semua kepedihan yang dia rasakan. Apa harus Laras yang menyerah agar semua ini berakhir? Tapi bagaimana dengan orangtuanya di kampung? Akan sangat sedih jika mengetahui keadaannya di kota besar ini. Apalagi harus mengatakan tentang perceraian, mungkin kedua orang tua itu akan jatuh sakit memikirkannya.

**

"Eh, Ras! Kok malah bengong sih? Lagi liatin apa?" Si empunya nama tersentak kala teman satu meja dengannya memukul pundaknya ringan. Laras buru-buru membuang pandangan saat Leli ikut menatap.

"Emang aku ngelamun? Kayaknya nggak?" kilah Laras berusaha menyembunyikan kesedihan.

"Oh ... kamu lagi liatin Pak Reza ya?" ujar Leli tidak menanggapi ucapan Laras.

"Ah? Ah ... nggak kok. Nggak lagi liatin siapa-siapa," jawabnya memaksakan tersenyum.

Leli ikut memutar balik badannya lalu bersandar di dinding kaca transparan sambil memangku tangan. "Bukan Cuma kamu aja kok Ras yang suka liatin pak Reza, kadang aku juga suka, Buk Nia juga. Pak Reza itu orangnya baik dan ramah, ganteng pula. Perempuan mana coba yang nggak tertarik sama dia? Pasti kamu juga suka, 'kan liat wajahnya yang adem?" ungkap Leli mengutarakan segala tentang pesona Reza.

Yang mana kata-kata itu semakin saja menusuk dalam relung hati Laras. Belum lagi dia harus melihat setiap hari suaminya itu di goda oleh perempuan-perempuan yang berbeda. Juga tadi, saat Leli memergoki Laras memandangi Reza yang sedang duduk berduaaan dengan Nia, selaku pengawas mereka. Hal mana lagi yang membuat Laras tetap mempertahankan pernikahannya ini?

"Emang Pak Reza sepopuler itu ya di sini?" pancing Laras, ingin tahu lebih banyak.

Leli mengangguk mantab. "Populer banget di kalangan anak desain kayak kita. Dia yang paling care ke semua orang sih. Uh ... kalau boleh minta nih ya sama Tuhan, aku mau calon suami yang kayak Pak Reza. Tapi ya aku sadar diri lagi, mana mungkin upik abu kayak aku berjodoh sama pangeran kayak Pak Reza. Mustahil!" cerocosnya dengan kecepatan maksimal.

Laras hanya bisa mengulas senyum kecut yang tidak akan ada yang paham tentang itu. Sebelum kembali ke meja kerjanya, Laras satu kali lagi menoleh ke arah Reza, yang mana saat yang bersamaan Reza menangkap pandangannya. Dalam tatapan dalam yang sempat di tangkap oleh Reza, Laras seakan memaki dengan tatapan itu. Mencaci begitu lugasnya dan mengutuk Reza yang benar-benar tidak punya cela buruk sedikitpun di tempatnya berpijak. Beruntung sekali nasib laki-laki sialan itu!

Sudah nyaris dua bulan lamanya Laras ikut bergabung dengan perusahaan Kosmetik yang di pimpin oleh Owner bernama Benara Atmaja ini. Cosmetic Chielie adalah yang terdepan di tahun ini. Sudah banyak BA terkenal yang mempromosikan brand-brand yang ada di bawah naungan Chielie. Namun, sebagaimana meroketnya perusahaan ini, Laras hanya bisa menduduki posisi sebagai desainer produk. Itu juga yang paling bawah. Hanya sebagai cadangan saja untuk dijadikan bahan inspirasi para pendesain senior untuk membuat inovasi lebih berkesan.

Lalu apa? Ya begitulah. Gajinya hanya sebatas UMR tanpa pemasukan lain. Mengingat suaminya sudah tidak mau menafkahi juga terjerat dengan mertua yang muluk-muluk, membuat uang tiga juta tiga ratus ribu itu hanya sebatas angin lalu.

Setelah berbincang sejenak menghabiskan waktu makan siang, tiba-tiba saja Nia, selaku pengawas para anak desain, mendatangi meja Laras sambil bertanya,

"Udah dapat apa aja satu hari ini, Ras?"

Laras sontak bangun dari duduknya begitu suara tidak asing itu menyapa rungunya dan langsung saja menjawab,

"Ada beberapa yang saya buat, Mbak. Kenapa ya, Mbak? Tumben datang ke meja saya. Harusnya panggil saja, Mbak, saya bisa datang ke ruangan Mbak."

Nia menggeleng kecil. "Nggak sopan rasanya, Ras. Saya ke sini mau bilang hal penting."

"Ada apa ya, Mbak?"

Nia sedikit resah. Terlihat dari raut wajahnya yang tidak biasa. Laras jadi ikut penasaran, ada apa ya?

"Ras, kamu bisa nggak yang persentasi ke bos hari ini? Jujur, saya nggak bisa mikir yang lain lagi Ras? Rekan senior kamu lagi izin hari ini. Dan saya juga belum paham penuh apa aja yang kamu buat. Jadi kamu aja ya yang presentasi tentang inovasi baru ini? Mau ya, Ras?"

Laras mendadak keringat dingin begitu mendengar pernyataan Nia. Dia juga ikut meragu akan hal yang hendak di ajukan terhadapnya. Bagaimana bisa Laras mempresentasikan hasil desainnya yang mana notabenenya dia hanya sebagai junior? Apa pantas? Sepertinya tidak.

"Mbak, mana bisa saya yang presentasi. Saya juga masih pemula, Mbak. Belum paham banget sama semua ini. Suruh orang lain aja deh, Mbak. Saya nggak bisa, Mbak." Jelas saja Laras menolak.

"Nggak ada siapa-siapa lagi selain kamu. Udah Ras, satu kali ini aja. Kalau pun harus di marahain sama bos, ya anggap aja ini semacam ujian. Kan selama kamu di sini nggak pernah ada yang protes. Itung-itung biar lebih jago buat desain kalau emang di komplain. Tapi kalau di puji itu beda lagi ceritanya. Bisa-bisa kamu di angkat jadi desainer di kelas senior kamu."

"Tapi, Mbak..."

"Udah, saya nggak mau tahu lagi." Nia melirik arlojinya. "Empat puluh menit lagi udah harus siap-siap ya, Ras. Kita ketemu sama bos di ruang rapat biasa. Susun aja dulu poin-poin yang akan kamu jabarkan. Habis itu datang ke ruangan. Ingat, sebelum bos datang, kamu udah di sana duluan. Bisa berabe kalau dia yang duluan duduk. Nggak sopan! Ingat, 'kan?"

Karena tidak punya wewenang untuk menolak, akhirnya Laras pun mengangguk meski masih ragu. Tidak terasa kalau telapak tangan juga kakinya sudah basah akan keringat efek gugup yang datang tiba-tiba. Apalagi jantungnya yang ikut-ikutan memompa cepat. Duh, bikin ketar-ketir aja nih kerjaan!

Mana Laras belum pernah bertemu dengan si bos yang sering di ceritakan oleh rekan-rekannya. Kata mereka, bos ini adalah tipe laki-laki yang hangat juga terkesan bersahabat. Akan tetapi memerhatikan setiap kesalahan kecil. Sering mendikte hal-hal yang diluar nalar. Bagaimana cara Laras mengatasi ini?

Bab 2

Seperti apa yang sudah di agendakan, Laras sudah duduk di ruang pertemuan yang biasa digunakan anak desain untuk presentasi hasil. Perempuan bermata bulat dengan garis rahang yang sedikit berisi itu, bergidik ngeri akan atmosfer ruangan ini. Entah kenapa, Laras merasa akan ada serangan dari seorang monster yang mirip melawan bos terakhir di game tebak kata.

Baru Laras yang mengisi posisi. Beberapa menit kemudian, muncul profil Nia, juga Leli dan ... Reza. Sebelum benar-benar masuk ke dalam ruangan, Laras bisa melihat keakraban yang tercipta antara Nia dan suaminya. Dari yang terlihat cara Nia bercengkerama sambil memukul dada sang suami, mungkin sudah bukan hal baru lagi. Apa Reza sudah lama mengenal Nia?

"Eh, Ras, udah di sini aja. Kirain masih di meja," ujar Leli seraya menarik kursi lalu duduk di dekatnya.

"Segan, Lel, kalau lama-lama masuk. Maklum, kan, masih anak baru. Takutnya di komplain lagi," sahut Laras, meringis.

"Kalau kita-kita aja sih itu masih bisa ditolerir, Ras. Tapi kalau untuk bos, ya itu kamu tanggung sendiri. Kita nggak bisa bantu kalau udah menyangkut atasan," celetuk Nia, ikut membahas hal yang mampu di terima telinganya.

Laras segera mendongak dengan senyum yang dipaksa terbit. Dari potret Nia mata Laras bergeser sedikit guna menatap pahatan wajah sang suami yang terlihat datar. Reza memang paling lihai untuk menyembunyikan ekspresi. Lihat saja saat ini, wajahnya benar-benar meyakinkan kalau dia tidak mengenali Laras, istrinya.

"Biarin aja, sih. Di kritik sama bos itu hal wajar. Kalau nggak ada kritik serta nasehat, mana bisa orang itu berkembang. Yang ada dia malah bertahan di posisinya karena merasa udah paling bener," timpa Reza, ikut memberikan tanggapan.

"Benar tuh, Pak. Kita memang nggak boleh melulu sakit hati sama kritikan. Karena dari sebuah kesalahan kita bisa belajar lebih baik. Ya, 'kan, Pak?" sahut Leli.

Reza hanya mengangguk singkat dengan senyum kecil yang memang acap kali melingkari wajahnya. Hal yang membuat seorang Reza menjadi sosok yang memesona. Di balik ketampanan yang berpijar, orang-orang juga kagum akan kata-kata Reza yang terkadang memotivasi juga membuat meleleh setiap saat.

Laras mendecih dalam hati. Memaki habis-habisan laki-laki yang di pandangan baik oleh semua orang itu. Ternyata benar apa kata pepatah 'jangan menilai buku dari sampulnya'.

Setelah beberapa menit menunggu, yang di tunggu-tunggu pun akhirnya muncul. Begitu pintu yang terbuat dari kaca tebal itu terbuka dan memaparkan sosok jangkung dengan wajah datar, buru-buru semua orang bangun dari duduk untuk menyambut kedatangan sang atasan.

"Selamat siang, Semuanya. Silakan duduk," kata pria itu sambil duduk.

Semua orang menurut. Berbanding terbalik mungkin dengan orang-orang lama yang ada di hadapan Benara, Laras justru dibuat semakin gugup hingga dadanya terasa bergemuruh.

"Apa ada yang baru?" tanya Benara, sambil melihat-lihat hasil desain yang Laras buat di layar tab miliknya.

"Iya, Pak. Hari ini kita kedatangan orang baru yang menggantikan Pak Wendi untuk presentasi. Sesuai jadwal untuk mengeluarkan produk terbaru kita, Laras sudah siap untuk membagikan beberapa hasil desainnya untuk ide kali ini," sahut Nia, cepat.

Benara lantas saja melirik anggota baru yang memang belum pernah dia lihat sebelumnya. Mata Benara itu sangat sulit untuk ditebak apa isinya. Itu kenapa Laras dibuat merasa terintimidasi akan tatapan dingin itu. Berulang kali dia menaik-turunkan matanya yang tidak kuat menangkap tatapan Benara.

"Kamu yang akan menggantikan Wendi hari ini?" tanya Benara.

"Benar, Pak," jawab Laras tanpa jeda.

"Baiklah. Kalau begitu langsung saja mulai." Benara melihat-lihat lagi gambar yang ada di depannya. "Mulai dari desain untuk lipstick ini. Sepertinya ini menarik," lanjutnya dan langsung menatap kembali ke arah Laras yang sudah berdiri.

**

"Mana si Laras, Bang? Kok nggak keliatan batang idungnya?"

"Biasalah Tuan Putri. Paling lagi tiduran sambil main hp. Kan udah biasa kita di jadiin babu sama dia," celetuk Rahma, ibu Reza.

Reza hanya diam saja saat adik juga ibunya mulai mencibir lagi tentang Laras. Sudah bosan telinganya harus mendengar ocehan-ocehan seperti saat ini. Apalagi kalau si Duta Besar penarik cibiran itu menampilkan wajah. Bisa-bisa habis sudah kesabaran Reza dan ingin sekali membuang cepat Laras dari kehidupannya.

"Bang, kok di biarin aja sih istri kamu itu? Sesekali ajarin napa. Biar nggak kebiasaan. Masa nyiapin makan malam aja dia nggak bisa. Nggak becus amat jadi perempuan," cibir Aya lagi, adik perempuan Reza satu-satunya.

Reza langsung kehilangan selera makannya. Dua alat makan di tangannya langsung mendarat di atas piring, sedikit dicampakkan.

"Aku sebenarnya udah muak sama dia. Gimana bagusnya, Bu? Kita antar dia pulang, balik sama orangtuanya?" tanya Reza, meminta solusi.

Rahma mulai menimbang-nimbang terlihat cara dia mengaduk-aduk makanan tanpa dilahap. Ada yang sedang direncanakan oleh Rahma dalam kepalanya.

"Nggak usah buru-buru dulu, Reza. Laras nggak sepenuhnya buruk kok. Masih ada satu hal yang bisa kita dapatkan darinya yang buat kita untung," jawab Rahma sambil menatap Reza.

"Apa?" Reza dan Aya sama-sama penasaran.

"Dia baru aja kerja, 'kan? Biarin aja dia kerja buat bayar semua uang yang udah kamu kasih ke dia. Dia juga masih berguna buat beres-beres di rumah. Itung-itung hemat buat bayar orang. Tunda aja sampe semuanya udah membaik," jelas Rahma tanpa rasa bersalah.

Aya manggut-manggut sambil mengunyah makanannya, sementara Reza mulai ikut berpikir demikian. Ya, benar apa kata ibunya, Laras bisa menguntungkan untuk bagian yang dikatakan sang ibu.

Tanpa ketiga orang itu sadari, sosok yang jadi bahan pembicaraan sudah berdiri sejak tadi tak jauh dari meja makan. Semua kata-kata yang terlontar dari suami, ibu mertua, juga adik iparnya, sungguh mampu menusuk hati Laras hingga hancur.

Laras mulai gemetar, hampir menangis. Dia menelan pahit kenyataan yang hadir. Sebenarnya Laras masih bingung, kenapa laki-laki yang dia anggap suami begitu tidak menyukainya. Bahkan setelah pernikahan berlangsung, Laras masih dibuat bertanya-tanya tentang ketidaksukaan itu. Apa kesalahan yang Laras perbuat sebenarnya?

Lama memerhatikan orang-orang di meja makan sana, ponsel Laras bergetar menandakan pesan masuk membuatnya tersentak. Segera perempuan itu membuang napas sambil memeriksa siapa yang mengiriminya pesan singkat.

[Maaf menggangu malam-malam. Tapi ini penting. Ada calon investor dari luar negeri yang kebetulan datang ke Indonesia dan mereka nggak sengaja melirik brand chielie yang baru di posting di media sosial perusahaan. Kamu yang paling paham tentang inovasi baru itu. Tolong datang ke tempat ini sekarang. Kalau nggak, biar saya jemput, kita berangkat sama-sama.]

Laras lantas saja membulatkan bola mata saat membaca pesan terakhir dari Benara, bosnya.

Buru-buru Laras membalas, mengatakan kalau dia akan datang sendiri ke tempat yang di tuju. Bisa menjadi masalah baru kalau bosnya itu tahu kalau dia dan Reza satu rumah. Juga semua orang tahunya Reza itu belum menikah pun sama dengannya. Lebih baik menghindari untuk saat ini. Meski Laras saat ini sudah mulai ambil ancang-ancang untuk meninggalkan Reza.

Setelah mengirimi pesan balasan pada Benara, Laras lantas berjalan menghampiri suaminya di meja makan.

"Duh, si tuan putri udah bangun? Mau apa? Mau disiapin makanan atau minum? Bilang aja," ujar Aya yang pertama melihat kedatangan Laras. Yang bersangkutan hanya diam menahan  kekesalan.

Reza melirik kedatang Laras pun dengan Rahma yang ikut membuat mimik wajah yang sinis.

"Mas, aku mau pergi keluar sebentar. Aku ma–”

"Pergi aja. Ngapain juga bilang-bilang. Nggak penting juga," potong Reza, ketus. Makin jengkel rasanya hati Laras saat Reza langsung melenggang pergi begitu saja.

"Sebelum pergi beresin dulu ini. Itu hukuman kamu yang nggak becus jadi menantu," timpa Rahma yang juga ikut melengos pergi.

Aya ikut-ikutan tak menghargainya. Gadis usia 18 tahun itu mengeluarkan sisa makanan di mulutnya dengan cara meludah di atas piring. Aksinya itu membuat kening Laras berkerut, merasa kalau perbuatan Aya tadi tidak pantas.

"Aya, kamu kenapa lepehin di atas piring? Nggak sopan, Aya!" tegur Laras.

"Nggak peduli!" singkat Aya, lalu bergegas pergi begitu saja tanpa rasa bersalah.

Tersisa Laras yang mengepal tangan, menahan amarah yang membuncah. Dada Laras benar-benar rasa dibakar mendapati semua perlakuan buruk orang-orang yang dia anggap keluarga.

Benar-benar miris!

Bab 3

Laras dan Reza sebenarnya dua orang yang saling mencintai. Namun, setelah sepakat untuk menikahi Laras, keraguan mulai muncul dalam hati Reza sebab provokasi dari sang ibu. Rahma mengaku, kalau Laras sama sekali tidak sepadan dengan Reza hanya karena Laras hanya anak dari petani kecil di desa. Rahma juga membandingkan lagi kalau anaknya termasuk laki-laki yang bisa mendapatkan perempuan yang lebih layak dari Laras yang hanya tamatan SMA.

Hingga pernikahan usai, keraguan dalam hati Reza berubah menjadi penyesalan. Harusnya kemarin dia mendengarkan apa kata ibunya, tentang Laras yang memang tidak pantas menjadi istrinya. Lihatlah sekarang ini, Reza hanya bisa melihat betapa lugu, polos, dan noraknya istrinya. Setelah di bawa ke kota saja, penampilan Laras masih belum berubah.

Laras masih saja sama seperti perempuan yang dia nikahi enam bulan lalu. Tidak menarik secara visual, juga tidak berbakat secara karakter. Reza semakin yakin, kalau Laras hanyalah bayang-bayang kehancuran untuknya.  Itu kenapa, hingga detik ini, Reza belum juga mengaku pada dunia, termasuk pada orang-orang disekitarnya, bahwa dia sudah menikah. Dan secara tidak sengaja pula, sang istri yang tak dianggap itu bekerja di satu kantor yang sama dengannya. Miris!

***

Bayang-bayang obrolan ketiga orang tadi masih saja membekas di kepala Laras. Masih belum bisa dia menerima begitu saja tentang apa yang mereka perbincangkan. Jika memang dia hanya diinginkan untuk dijadikan budak saja, apa sebaiknya Laras mengaku kalah saja? Apa sebaiknya dia putuskan untuk berpisah lalu pulang ke kampung halamannya? Tapi, bagaimana jika orangtuanya bertanya, dan para tetangga yang dulu amat sangat bangga terhadapnya yang bisa mendapatkan laki-laki mapan dari kota macam Reza? Apa yang harus Laras katakan pada mereka, bahkan saat usia pernikahannya yang  masih seumur jagung itu?

"Kami sangat tertarik dengan inovasi baru dari brand Anda ini Pak Ben. Bagaimana kau kita adakan pertemuan yang lebih formal lagi? Kita bahas lebih detail lagi di pertemuan selanjutnya? Bagaimana?" tanya laki-laki setengah baya itu pada Benara.

"Tentu saja, Pak David. Saya dengan senang hati akan mengatur pertemuan kita selanjutnya," jawab Benara, ikut merasa terhormat.

"Saya juga sangat menyukai cara karyawan Anda ini menjelaskan segalanya, Pak. Anda memang orang yang menampung seluruh manusia-manusia berbakat. Saya jadi sedikit iri pada Anda," lanjut David lagi, memuji keterampilan Laras hari ini.

Alih-alih merasa tersanjung, justru yang sedang dipuji tengah larut dalam pikiran yang membawanya jauh entah ke mana. Bahkan setelah David pamit pergi saja, Laras masih saja terlihat fokus pada imajinasinya. Hingga Benara tak tahan—yang mana sedari tadi dia mengamati diamnya Laras — lantas menjentikkan jari tepat di depan wajah perempuan itu.

Sontak saja Laras tersentak. Lamunannya menguap cepat.

"Kamu melamun ya? Kenapa nggak di balas ucapan Pak David tadi?" tanya Benara, dengan tatapan menyelidik.

Laras segera menyisir area di mana yang tadinya ada David di sana. Kini kosong. Orang itu sudah pergi. Laras lantas saja meringis, mengutuk kebodohannya. Astaga... Dia kacau. Laras benar-benar dibawa jauh oleh pikirannya sendiri.

"Maaf, Pak. Saya nggak akan ngulangin kesalahan yang sama, Pak. Maaf sekali lagi," ucap Laras sungguh-sungguh.

Benara hanya mengangguk-angguk kecil, lalu menjawab,

"Karena hasil pertemuan ini berbuah manis, saya maafin kamu. Tapi lain kali, tolong fokus sama pekerjaan kamu. Hilangkan masalah internal kecuali urusan kantor. Bisa di pahami?"

Laras segara mengangguk satu kali, benar-benar menyesal akan tindakannya. Dia hanya bisa menatap lantai, mencoba menghilangkan rasa penyesalan yang muncul.

"Baiklah, kalau gitu kita akhiri di sini saja dulu. Besok ada pertemuan dengan Pak David, pastikan kamu fokus! Dan tentang ide yang kamu jabarkan tadi, jangan berhenti di sana, kembangkan lagi selagi kamu masih punya saran lain. Itu bisa jadi salah satu bahan pertimbangan," ungkap Benara hendak mengakhiri pertemuan mereka.

"Baik, Pak. Saya akan berusaha lebih keras lagi." Laras menjawab begitu yakin.

Benara pun mulai beranjak dari tempatnya. Baru saja akan melewati Laras yang ikut berdiri, tiba-tiba saja kepala Benara rasanya seperti ditusuk sebilah pisau. Mendadak saja pandangannya kabur, dan dadanya berdetak begitu cepat. Entah kenapa, Benara merasa seperti akan tumbang. Jika saja tidak segera di tangkap oleh Laras, mungkin saat ini Benara sudah terjatuh dan membentur meja atau mungkin lantai yang dia pijak.

"Pak! Anda kenapa? Pak! Pak! Tolong!" pekik Laras, panik.

Melihat Benara yang sudah tidak sadarkan diri, ikut memberikan efek gemetar pada Laras. Dia takut terjadi hal buruk pada atasannya itu.

Tak lama kemudian, bantuan pun datang. Benara segera di bawa ke Rumah sakit terdekat untuk diberikan sebuah pertolongan. Laras sempat ragu untuk ikut mendampingi Benara, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Dia takut kalau suaminya khawatir jika dia tidak segera pulang.

Karena tidak punya pilihan lain lagi, akhirnya Laras ikut untuk menemani Benara. Meski keraguan begitu besar muncul dalam dadanya, Laras tetap saja mempedulikan tentang Benara yang dia sendiri tidak tahu ada apa dengan atasannya itu.

***

Sekitar setengah jam lebih Laras menunggu dokter yang bertugas menangani Benara. Hatinya semakin kalut tidak karuan. Laras sudah mengirimi pesan singkat pada Reza namun juga belum dapat balasan. Dia juga berulang kali menghubungi suaminya itu, tapi tidak juga mendapat jawaban.

Tak lama dalam suasana hati yang bimbang, seorang dokter pun keluar dan menghampiri Laras. Namun, belum juga sempat mengetahui penyebab Benara tiba-tiba pingsan, sosok jangkung mendadak muncul sambil berseru,

"Apa dengan Benara?"

Laras ikut menoleh sama dengan sang dokter. Laki-laki paruh baya berkacamata bening datang mendekat. Laras bertanya-tanya, apa ini ayah Benara? Wajah mereka sedikit mirip. Hal yang membuat Laras langsung meyakini tebakannya.

"Dia baik-baik saja, Pak Thomas. Itu masih efek yang kemarin. Tidak perlu khawatir," jawab sang dokter, menjelaskan.

Thomas segera menghela napas lega. Sebelum benar-benar melengos pergi, Thomas sempat menetapkan tatapnya pada Laras. Pada saat yang sama, Laras hanya bisa mengangguk kecil sambil menerbitkan senyum canggung sekilas.

Thomas segera masuk untuk menemui pria yang sedarah dengannya itu. Laki-laki bebal yang Thomas sendiri sudah lelah untuk sekadar menghadapinya. Benara masih berbaring di atas brankar dengan wajah yang sedikit pucat.

"Kamu pingsan lagi? Mau sampai kapan kayak gini terus, Ben? Ayo pulang ke rumah. Istirahatlah, Ben. Kamu itu nggak harus kerja keras kayak gini hanya untuk—”

"Pa," potong Benara. Thomas segera membisu. "Kalau Papa datang cuma mau bujuk Ben buat pulang, mending Papa pulang aja. Kita udah sepakat buat nggak ngurusin masalah pribadi lagi," lanjutnya, enggan menatap wajah sang ayah.

Thomas menghela napas, sebenarnya jengkel menghadapi sifat putranya ini. Dia hanya bisa menatap penuh harap, juga penuh amarah yang tak bisa dia luapkan.

Thomas hendak kembali berbicara, namun suara ketukan pintu menunda. Thomas segera menoleh dan mendapati Laras, perempuan yang dia lewati tadi, muncul dari balik pintu.

"Maaf mengganggu, Pak, saya hanya mau—”

"Masuk aja, Ras," potong Benara begitu menyadari Laras yang datang.

Thomas langsung menatap Benara, sementara Laras dibuat bingung dengan ucapan Benara barusan. Keadaan yang hening membuat atmosfer jadi canggung, mau tak mau, Laras segera mengikis jarak, menurut apa kata Benara.

"Pak—"

"Maaf kalau kamu khawatir. Aku nggak papa kok," ucap Benara, lagi-lagi memotong ucapan Laras. Dan satu kali lagi, Laras dibuat bingung. "Oh iya, kenalin, ini Papa. Maaf kalau ngenalinnya di saat lagi kayak gini. Tapi ini kebetulan, jadi sekalian aja," kata Benara sambil menatap lekat-lekat mata Laras. 

Dari sorot mata itu, Laras seolah sedang diberi satu perintah. Meski tak paham sepenuhnya, Laras pun mengikuti apa yang dikatakan Benar tadi.

"Selamat malam, Pak." Hanya itu yang bisa dikatakan Laras pada Thomas.

"Dia pacar Ben, Pa," sambung Benara yang membuat Laras dan Thomas sama-sama kaget.

"Apa?!"  Thomas mendelik tak percaya.

Sementara Laras ikut menatap Benara dengan mulut yang setengah menganga.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED