Hari ini Bagas di kejutkan oleh seorang anak perempuan berusia 17 tahun di rumahnya. Ia baru saja melakukan treatment di klinik temannya, Bagas melakukan pengobatan khusus agar ia bisa cepat memberikan keturunan untuk istrinya, Sinta.
"Loh, ini siapa, Sin?" tanya bagas kepada istrinya.
"Ini Helda, Mas. Anak panti yang ku anggap seperti adik kandungku. Dia dikeluarkan dari sekolah karena udah dua bulan nggak bayar SPP. Ibu panti juga nggak kuat ngurusin dia, dia agak bebal,"
"Loh? Terus? Dia di suruh tinggal di sini?"
"Iya, Mas. Biar bantu-bantu aku di tempat bordir selama kamu belum terlalu pulih."
"Loh emang ga mau lanjut sekolah lagi? Biar SPP nya aku bayarin," tanya Bagas heran."
Nggak, Om. Aku hamil,"
Sinta dan Bagas saling tatap dan kemudian menoleh ke arah gadis itu lagi. "Hamil???" serempak keduanya yang terbelalak.
"Iya, Om kenapa?" tanya Helda dengan wajahnya yang polos, ia memasang wajah datar seolah tidak bersalah sama sekali.
"Berapa bulan usia janin di dalam kandungan kamu sekarang ?" cerocos Bagas. Ia bertanya dengan begitu antusias.
"Lima bulan Om. Kelihatan besar ya perutku?" tanya Helda.
"Nggak belum terlalu kelihatan. Terus kalau lahir, kamu mau kemanain itu Bayi?" tanya Bagas lagi seolah mengintrogasi Helda dengan penuh semangat.usul Bagas. Sinta hanya berkernyit. "Dibeli gimana, Mas?" tanya Sinta.
"Ketimbang anak ini di gugurkan, mendingan aku adopsi jadi anakku aja," ungkap Bapgas. Sinta pun tersenyum. "Ide bagus tuh Mas, siapa tau nanti kita nyusul hamil juga."
Helda tersenyum. Akhirnya ada juga yang mau mengambil bayi yang dikandung. "Beneran Om mau dibeli? Soale pacar saya sudah kabur Om, dia nggak mau tanggung jawab. Dan saya masih punya cita-cita tinggi, nggak mungkin saya jadi ibu secepat ini,"
"Bener dong! Sin, antar Helda Untuk periksa kandungan, semuanya biar aku yang bayar, aku akan coba ngelamar kerja lagi Sin. Aku akan sambut anak kita," kali ini wajah Bagas benar-benar semangat empat lima.
Harapan hidupnya mulai bangkit, sosok pria yang ingin sekali menjadi seorang ayah kini mulai tertanam kuat di benaknya.
"Siap, Mas. Aku antar Helda sekarang ke bidan ya?"
"Iya, antar aja sana." Bagas mengeluarkan uang dari dompet yang bersarang di saku kirinya. Sinta tersenyum heran, Bagas benar-benar berbeda dari biasanya. Ia tampak lebih ceria dan sangat berantusias, biasanya ia agak perhitungan soal keuangannya, tapi kali ini tidak. Ia dengan santainya mengeluarkan uang untuk biaya periksa kandungan Helda.
"Mau aku antar, Sin?" tawar Bagas tiba-tiba.
"Jangan, Mas. Kakimu masih perlu istirahat, jangan sering kemana-mana dulu lah, Mas."
"Iya, ya. Hati-hati Sin, jaga Helda ya?"
"Iya, Mas. Pasti,"
Sinta lantas berpamitan mencium tangan suaminya. Helda juga. "Om, pamit," Bagas mengangguk. Entah mengapa melihat perut Helda saja Bagas sudah segembira ini.
Singkat cerita..
Empat bulan berlalu. Helda kini resmi melahirkan seorang bayi perempuan, sesuai ketentuan, Bagas membayar uang untuk membeli bayi itu untuk ia adopsi sebagai anak nya sendiri. Setelahnya, Helda pergi membawa uang lima puluh juta. Ia pergi jauh dari kota tersebut. Melupakan bayi yang ia dilahirkan,ia saat ini hanya punya Agus saja sebagai pacar kesayangannya.
Radit? Masih sibuk dengan sawahnya yang semakin hari semakin melimpah ruah. Reno juga tetap setia mendampingi Sofia Sedangkan Zahra ia baru mengandung dua bulan. Pernikahan nya selama lima tahun akhirnya dikaruniai seorang bayi juga.
Hari ini Bagas tampak santai menggendong bayinya dengan selimut tebal di sebuah minimarket. Zahra yang melihatnya dari kejauhan terkejut bukan main. Ia pun mencolek lengan suaminya.susu formula banyak gitu. Pastilah itu anaknya si Bagas." ujar Dani. Zahra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lantas, ia memotret Bagas dan mengirimkan fotonya ke Sofia
"Kamu ngapain, Dik?" tanya Dani heran.
"Aku kirim foto Bagas dan bayinya ke Sofia. Supaya dia tahu,"
"Untuk apa? Nggak penting banget," ujar Dani.
"Siapa tahu itu bukan anak Bagas, masa Bagas nikahnya aja baru dapat empat bulan udah punya anak gitu aja?""Barangkali perempuan nya hamil duluan, terus Bagas tanggung jawab di nikahin deh,"
"Itu artinya selain selingkuh dengan Mak Nini, Bagas juga selingkuh dengan yang lain dong?"
"Hush, ga tau soal itu. Kok kita malah gosipin orang, dosa loh ," gerutu Dani yang lantas beralih ke pusat bahan-bahan dapur di rak minimarket itu.
la membeli minyak goreng, penyedap rasa dan beberapa tepung serbaguna. Ia sengaja menunggu bagas keluar dari minimarket terlebih dahulu. Agar bagas tidak mengetahui jika tadi Zahra melihat dirinya.
Sementara Sofia yang melihat ponselnya hanya memperbesar gambar yang Zahra kirim.
[Zahra attached an image]
Photo.jpg
Bayu udah punya baby tuh,Sof..
Reno yang berada di sebelah Sofia lantas bertanya. "Lihat apa sih, sayang? Kok serius amat? tanyanya sambil mengupas kacang di atas meja depan TV LED besarnya.
"Ini, Mas Bagas akhirnya
~~~
Pov Bayu
Hari ini aku pulang dengan menggendong Diana. Aku sangat senang sekali bisa memiliki seorang bayi, meski ini bukan murni bibit ku sendiri.
Setidaknya aku akan membuat anak ini layaknya anak kandungku sendiri. Aku akan menunggunya sampai remaja dan dewasa. Aku akan bekerja keras untuknya. Mudah-mudahan aku juga bisa memiliki seorang anak dari perut istriku sendiri. Maka Itu jauh lebih baik.
Sesampainya di rumah, aku meletakkan Diana di atas ranjang istriku. Aku juga menemaninya hingga tanpa sadar aku tertidur.
Namun, ketika itu, aku merasa jika Diana sudah dewasa. Ia memiliki seorang suami yang tampan. Anehnya lagi, Putriku itu justru marah-marah kepadaku.
"Pa, aku mau cerai! Gegara papa, suamiku di arak di kampung. Masa dia tidur dengan ibu mertuanya, Pa. Kata Mama dulu papa pernah begitu apa benar? Aku menyesal kalau papa benar begitu, lihat kamarnya malah justru ke aku!"
"I--I--bu Mertuanya?
Maksudmu mamamu, mama Sinta?"
"Bukan! Ibu Helda! Ibu kandungku!"
Deg.
Aku menangis dan tiba-tiba aku terbangun. Aku melirik ke arah Diana. Ternyata bayi mungil itu sudah digendong oleh Sinta istriku.
Aku mengelus dadaku naik turun. Mimpi barusan benar-benar membuatku ketakutan yang amat sangat. Aku Takut jika semua yang pernah kulakukan akan terjadi kepada Diana.
Karena wajahku tegang. Sinta menghampiriku. "Kamu kenapa, Mas?" tanyanya.
Aku hanya diam, tidak mungkin aku menceritakannya kepada Sinta. Aku khawatir jika ia akan meledekku atau justru seenaknya mengatakan hal-hal yang justru membuatku semakin terpojok.
"Aku nggak papa kok, Sin." Jawabku yang lantas beranjak dari tempat tidur. Ku cium kening Diana, bayi mungilku.dari rumah karena aku ketahuan melakukan perselingkuhan dengan ibu mertuaku sendiri.
Kejadian itu memang sudah kulupakan. Aku berniat mengubah diriku sejak saat itu, apalagi sekarang semenjak kehadiran Diana. Aku terlalu takut berbuat hal-hal yang di luar nalar.
Benar apa kata orang, penyesalan pasti datangnya belakangan. Aku sekarang benar-benar merasakan situasi itu, situasi dimana aku takut Diana yang kena batunya. Tiba-tiba aku juga tremor tanganku seolah bergerak-gerak gemetar.Astaga, apa aku sudah mulai gila? Aku berharap jika Tuhan masih mau memaafkan diriku yang laknat dulu. Yang selalu menghalalkan segala cara demi sebuah tujuan, termasuk ingin mendapatkan buah hati.
Sinta menghampiriku. "Mas, kamu kenapa pucat begitu?" tanyanya.
"Diana mana?" tanyaku.
"Diana sudah tidur, Mas. Kenapa?"
"Nggak aku mau lihat Diana dulu," ujarku yang akan segera beranjak dari kursiku.
"Mas.." panggil Sinta lagi.
Aku menolehkan kepalaku. Menahan langkahku untuk ke kamar. "Kamu kenapa, Mas? Kaya panik gitu?" ujarnya yang mulai khawatir akan keadaanku.
"Aku mau cerita, tapi aku takut, Sin."
"Cerita aja, Mas." Pinta Sinta, seolah ia tidak akan pernah membully perlakuanku jika ia mungkin tahu.
"Aku mimpi Diana, Dik." ceritaku yang mulai menunduk dan duduk berhadapan dengan istriku."Mimpi apa?"
Aku-pun bercerita tentang semuanya. Sinta hanya terdiam dan menghela nafasnya penuh.
"Mas, kamu nggak usah takut. Mudah-mudahan mimpi itu nggak pernah terjadi. Itu cuma suatu peringatan untuk kamu, agar kamu tidak kembali mengulang kesalahan itu,"
"Aku tahu. Apa sebaiknya aku larang Diana untuk menikah, agar ia tidak mengalami sesuatu yang sama seperti apa yang pernah kulakukan?" tanyaku lagi.
"Jangan, Mas! Itu namanya kamu egois. Buanglah semua itu. Pasrahkan pada Tuhan. Kamu harus benar-benar berubah tidak akan pernah mengulangi kesalahanmu itu,"
Aku mengangguk. "Iya, Sin. Maafkan aku.." ujarku.
Sinta memelukku. "Siapapun kamu, aku akan terima kamu. Aku akan mencoba bersabar demi kamu,"
Hatiku benar-benar amat teramat sedih. Mengingat bagaimana perlakuanku dulu, Sinta adalah sesosok istri yang mampu membuatku menangis, menyesal dan merasa hina diwaktu yang bersamaan. Entah mengapa aku jadi selemah ini. Aku menangis di hadapannya. Aku menyesali semua dosa-dosaku yang pernah kulakukan.
"Makasih, ya.. Sin. Aku akan mencoba mejadi manusia yang lebih baik mulai saat ini, setelah banyak yang terjadi mulai dari aku diusir, kehilangan banyak pekerjaan, kehilangan banyak aset, hingga kecelakaan ringan itu menandakan Tuhan masih sayang padaku. Buktinya ia masih mau menegurku dan mencoba membimbingku ke jalan yang Jurus. Sekarang, aku sadar. Aku Akan berubah.."
Sinta tersenyum. "Nah, gitu dong.. harus. Kalau perlu kamu berubahnya jauh lebih baik. Ingat Mas, perubahan itu nggak harus kamu pamerin atau kamu ucapkan saja. Tapi, harus murni kamu lakukan karena tulus dari hati,"
Aku mengangguk. Tak perlu lah aku punya emas berlian atau tumpukan uang dollar saat ini. Kehidupanku benar-benar lengkap bersama Sinta dan Diana yang ada di hidupku.
Sesuai janjiku. Karena aku akan berubah. Aku akan datang menemui Sofia dan meminta maaf. Setidaknya, demi dihantuinya perasaan bersalah yang selalu menggelayuti hatiku.
Aku mengajak Sinta dan Diana untuk kerumah Sofia. Aku tahu di mana ia tinggal, karena aku sempat menyuruh seseorang untuk memata-matai Sofia.Hingga orang itu terpaksa dipukuli banyak massa karena ulah tololku. Aku baru sadar jika sedari dulu aku memang benar-benar tidak layak disebut sebagai manusia.
"Ayo, Mas."
Aku dan Sinta menaiki mobil begitu besar dan megah. Kehidupan sofia benar-benar berubah. Aku dan Sinta turun dari mobil. Diana masih tertidur dengan dot di mulutnya.
Ting Tong.
Ku pencet bel di rumah Sofia, Tak beberapa lama seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Bapak Radit. Seseorang yang mungkin paling tersakiti karena ulahku. Ia terkejut melihat kehadiranku.
Wajahnya memang menunjukkan wajah tidak suka. Tapi, ia tidak lantas mengumpatku dengan cacian. Ia Justru menyambutku.
"Bagas?"
Aku mengangguk dan tiba-tiba aku menangis bersujud di bawah kakinya. "Maafkanlah, kelakuan Bagas yang dulu ya, Pak. Bagas kesini cuma mau minta maaf," mohonku.
Sinta masih berdiri melihatku sembari menggendong Diana. Ia tidak berucap apapun. Pak Radit, mantan bapak mertuaku lantas berjongkok dan memegang bahuku.
"Sudahlah, gas.. yang berlalu biarlah berlalu. Ayo masuk,"Lega rasanya setelah meminta maaf. Aku benar-benar merasa enteng. Tinggal Sofia, aku harus meminta maaf kepadanya. Aku-pun dipersilakan duduk di atas sofa memanjang oleh Pak Radit. Sinta juga berada di sebelahku. Ia masih menggendong Diana yang tertidur pulas.
"Ini istrimu, gas?"
Aku mengangguk. "Iya, Pak. Boleh aku bertemu sofia?" tanyaku. Pak Radit tampaknya mengerti, dan saat itu Reno dan sofia justru muncul sepertinya mereka hendak keluar entah kemana."Sofia, Reno.. tunggu..."pintaku. Menghalangi langkah mereka. Pak Radit hanya membisu bersama Sinta.
"Ada apa, gas?" tanya Reno.
"Aku cuma mau minta maaf soal kelakuanku di masa lalu, kalian sudikah untuk memaafkan ku?"
Sofia dan Reno mengangguk." Udahlah, Mas. Aku udah maafin kamu dari dulu kok," ujar sofia.
"Beneran, sof," tanya Bagas.
Sofia mengangguk. Bagas pun berterima kasih untuk berkali-kali. Sinta pun sama, ia berterimakasih kepada keluarga sofia yang masih mau memaafkan kesalahan Bagas.
"Sof, Pak Radit, makasih banyak ya sudah mau memaafkan saya, saya benar-benar terharu. Sof, sekali lagi semoga kamu bahagia dengan Reno, dan bayi di dalam perutmu itu selamat," ujar Bagas.
"Iya, Mas. Makasih ya,"
"Kamu juga gas, semoga anak kamu sehat-sehat terus," Reno menyela. Pak Radit hanya menghela nafasnya dengan tersenyum. "Bagas, kamu mulai sekarang jangan mikirin yang aneh-aneh ya? Tetap seperti ini ya? Kasihan istri dan bayi kamu,"
Bayu mengangguk. "Iya, Pak. Pasti, terima kasih.
Setelah bertamu cukup lama di rumah Reno, Bagas dan Sinta pamit untuk pulang. Mereka memutuskan untuk pulang.
"Pak Radit, saya pulang dulu ya? Terima kasih karena sudah mau memaafkan kesalahan Bayu dulu,"
"Kok sudah mau pulang, gas?
"Iya Pak, saya takut Diana bangun,"
Reno dan sofia menghela nafas mereka dengan penuh. Terima kasih ya, gas, karena sudah menyempatkan ke sini, jaga kesehatan kalian bertiga," pesan Reno kepada Bagas dan Sinta.
Sinta tersenyum dan menjawab, "iya semoga Mbak Sofia dan Mas Reno juga sehat terus, mari ya Mbak, Mas,"
Sofia dan Reno mengantar keduanya ke pintu gerbang. Biasanya bagas akan gengsi jika sofia tau kalau ia membawa mobil sederhana bermerekan carry, tapi kali ini, ia tidak merasa malu, Bagas sudah sadar sepenuhnya.permintaan maafnya di masa lalu.
Pak Radti, Reno, sofia
tersenyum lega melihat kepergian Bagas dan Sinta dari rumah mereka.
Sesampainya di rumah Bagas, Sinta dan Diana turun terlebih dahulu dari mobilnya, sementara Bagas berpamitan untuk pergi ke rumah temannya untuk konsultasi masalah organ reproduksinya.
Sinta pun mengangguk setuju. "Hati-hati mas di jalan,"
"Iya, Dik, terima kasih."
Bagas pun kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah temannya. Lima belas menit kemudian ia sudah sampai di klinik kecil milik temannya.
Arjuna sudah menunggunya di sana, "Akhirnya gas kita ketemu lagi, sejak kuliah hingga sekarang, aku baru kali ini melihatmu," sambut Arjuna yang memeluk Bagad dengan erat.
"Iya nih Jun, aku mau konsultasi,"
"Konsultasi apa sih, Bagas?" tanya Arjuna dengan heran.
"Yang Kemarin aku kabarin kamu itu loh, Jun.." Bagas setengah berbisik.Arjuna pun mengangguk,
keduanya segera memasuki ruang klinik. Setelah mengisi beberapa pertanyaan di kertas yang diberikan oleh Arjuna. Lantas Arjuna meminta sampel urin dari Bagas.
"Kok pake sampel urin? Emangnya aku hamil apa?"
"Udah nurut aja."
Bagas pun menurut. Tak beberapa lama Arjuna juga meminta sampel darah dari Bagas.
"Itu gunanya untuk apa?" tanya Bagas lagi. Arjuna pun menjawab."Untuk mengecek, apakah kamu memiliki penyakit seksual atau kelainan sexual apa tidak, gas"
"Berapa lama hasilnya akan ketahuan?"
"Setelah seminggu kamu terus memberikan sampel urine itu kepadaku, baru hasilnya bisa di simpulkan, Gas"
Mendengar penjelasan Arjuna, Bagas hanya bisa menghela nafasnya penuh, jika seandainya ia benar-benar terbukti mandul, ia siap menerima segala kenyataan yang ada, setidaknya ia sudah memiliki Diana sebagai putri kecilnya.
Setelahnya Bagas memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia akan rutin untuk memeriksakan dirinya ke klinik mulai hari ini hingga enam hari ke depan.
Sementara Henny, Agus berniat untuk melamarnya dan menikah dengannya besok. Ia pun setuju, ia juga tidak enak untuk tinggal di area Restoran sofia terus menerus. Ia lantas menanyakan di mana Rumah sofia kepada beberapa karyawan yang mengetahui rumah Sofia.Rencananya ia juga akan pamit untuk tidak lagi tinggal di area Restoran kepada Sofia besok pagi saja.
Setelah Restoran hampir tutup di jam sembilan malam. Henny n memutuskan untuk meninggalkan Restoran, ia memutuskan untuk tinggal bersama Agus. Pria tua yang juga sudah lama menduda.
"Bagaimana, kamu jadi tinggal di rumah saya, Ni?" tanyanya.
Henny mengangguk. "Jadi, Mas. Besok aja"Benar ya? Kalau begitu ayo kita ke rumahku, sebaiknya kita diskusi masalah akad pernikahan kita bersama anak perempuanku," ajak Agus.
"Ayo, Mas."
Keduanya pun pergi meninggalkan Restoran. Mak Su yang melihatnya hanya mencibir dan menggelengkan kepalanya dari jendelanya.
"Dasar ganjen! Baru aja putus dari Broto, eh sekarang sama yang baru, tua-tua kok nggak Inget umur!" wanita tua itu lantas menutup jendela kamarnya yang memperlihatkan suasana di biar aku pamit ke Sofia,"halaman Restoran yang berada di bawah.
Sesampainya di rumah Agus, Henny terkejut karena lagi-lagi ia harus memiliki anak sambung perempuan, namanya Adelia. Wanita itu tidak sadis seperti Dina. Ia lebih lembut dan sabar. Bahkan, ia menyambut kedatangan Henny dengan ramah.
"Mari Mak masuk," sambutnya.
Henny tersenyum. Agus juga merasa bangga karena putrinya sepertinya akan menerima kehadiran Henny di antara keluarga besarnya.tulus. "Iya, Yah. Ibu Henny," ujarnya.
Seorang pria tampan yang keluar dari dalam ruangan juga mengejutkan Henny. Ia menyambut kedatangan Henny dan Agus. Pria itu duduk di sebelah Adelia dengan tersenyum. Ja jauh lebih tampan daripada Bayu. "Siapa, Yah?" tanya Pria itu kepada Agus.
"Oh, ini Gas, Ini Calon istri baru ayah, namanya Ibu Henny. Ini nanti seseorang yang bisa kamu panggil sebagai Ibu Mertuamu," ujarnya.
Bagas hanya mengangguk. Henny masih memandang pria muda itu dari atas hingga ke bawah.
"Kenapa, Ni?" tanya Agus yang heran melihat reaksi Henny kepada menantunya.
"Nggak, nggak papa," ujar Henny.
Agus tersenyum. "Jadi begini, Gas, Del.. besok Ayah mau meminta izin ke kalian besok Ayah akan menikah dengan Bu Henny. Kalian setuju 'kan?" tanya Agus kepada anak dan menantunya.
"Setuju setuju aja, Yah.Asalkan ayah bisa bahagia kenapa ngga?" Jawab Adelia. Agus pun tersenyum puas akan jawaban putri semata wayangnya. Henny apalagi, ia semakin bersemangat untuk tinggal di rumah besar Agus. Selain kaya raya, Agus juga memiliki menantu yang macho dan gagah, seperti Bagas.
Mudah-mudahan kali ini Henny tidak akan menggoda menantu tirinya, mengingat bagaimana Henny pernah mengganggu Bagas hingga menjalin hubungan gelap dulu ketika Radit tidak ada.
Sesampainya di kamar. Sofia menelepon Henny, tak biasanya malam-malam begini Sofia menelepon ibu kandungnya. Henny yang masih menata beberapa barangnya segera mengangkat panggilan dari putrinya.
"Halo, Sof?" tanyanya.
"Halo, Bu.. katanya Ibu pergi dari restoran sama pria seusia Ibu, ya? Ibu mau kemana, Bu?" tanya Sofia kepadaku.
"Eh, maafkan Ibu sofia. Ibu nggak enak harus tinggal di dekat Restoran dan ngerepotin kamu dan Reno. Ibu sudah menemukan gantinya Broto, lagipula kali ini Ibu aman-aman saja kok tinggal si ini," jawabku. Lagian siapa sih yang mengatakan jika aku keluar selarut ini dari Restoran? Apa Jangan-jangan Ike atau Mak Su?
"Oh, okay deh Bu. Besok Ibu tetap kerja di Restoran 'kan?" tanya sofia lagi.
"Besok, Ibu akan melangsungkan akad pernikahan ibu terlebih dahulu sofia. Kamu kalau mau datang, Ibu akan kirim lokasinya ya?"
"Boleh Bu. Jam berapa acaranya?"
Ketika seperti ini, aku benar-benar merasa bersalah kepada putriku, Sofia Vergara. Karena, ia benar-benar menyayangiku tanpa mengingat kembali bagaimana kesalahanku di masa lalu. Maafkan Ibu, Sof Begitu ujarku dalam hatiku, aku merasa terlalu berdosa jika aku terus mengusik kehidupan Sofia
"Bu?"
Lagi-lagi Sofia memanggilku, karena aku terdiam cukup lama. Jam 9 pagi, Sof.
Sof.. maafkan Ibu ya?" entah mengapa ingin sekali aku mengatakan hal ini kepada Sofia putriku. Aku benar-benar terharu ia masih perhatian seperti biasanya kepadaku.
"Sudahlah Bu, jangan bicara aneh-aneh. Sofia sudah maafkan Ibu, kok,"
"Terima kasih, ya, Mir,"
"Sama-sama, Bu."
Telepon terputus begitu saja. Ternyata sinyal di tempat Agus sedang melemah. Malam ini dingin sekali, aku hendak ke dapur untuk mencari mie instan untuk disantap.
Mas Agus juga berpamitan padaku akan ngopi dengan temannya sebentar. Aku hanya mengangguk. Mungkin, ia sedang berniat mengundang semua teman-temannya untuk acara akad pernikahan kami besok.
Bagas? Dia di sini. Untuk apa? Apa untuk menyapaku, Ibu tirinya yang bohay ini? Ahaha, jiwa mudaku selalu saja muncul setiap kali aku melihat daun muda yang macho dan berjambang seperti Bagas. Jujur saja, aku menyukai seseorang yang berjambang sejak aku masih muda dulu.
Ceritanya, aku gagal menikah dengan pria yang berjambang itu karena restu orang tua. Dan, sampai sekarang ketika aku melihat sesosok pria berjambang aku akan otomatis menyukainya karena itu mengingatkanku dengan mantan pacarku bernama Wiro.
"Bagas? Kamu mau Ibu buatkan mie instan juga?" sapaku. Mudah-mudahan Mas Agus belum pulang atau begadang di warung kopi yang katanya tempat ia bertemu dengan teman-temannya itu, aku masih ingin bicara banyak dengan sosok Bagas.
"Apa nggak ngerepotin, Bu?" tanyanya. Entah mengapa jantungku berdetak begitu kencang ketika mendengar suara pria yang bisa di sebut brondong manis itu.
"Nggak kok."Bagas pun menunggu di meja makan layaknya anak kecil. Ia sibuk dengan ponsel nya dan memainkan game sembari menungguku selesai. Setelah beberapa menit akhirnya aku selesai juga memasakkan semangkuk mie instan untuk Bagas.
"Ayo, Gas. Di makan dulu," ujarku. Bagas lantas meletakkan ponselnya di atas meja makan.
"Gimana enak?" tanyaku.
"Enak, Bu." Jawabnya singkat.
"Adelia mana, Gas?" tanyaku."Adelia sudah tidur Bu bersama Nanda,"
"Nanda?" Aku mengernyitkan dahiku. Karena aku bingung siapa Nanda yang dimaksud? Apa mereka sudah punya anak?
"Putriku."
Oh benar ternyata, Bagas sudah mempunya seorang putri. Sedari tadi aku belum melihatnya, mungkin bayi mungilnya masih tidur.
"Gas, kalau sudah makan, piringnya taruh saja biar Ibu yang bereskan," perintah ku kepada Bagas. Ia hanya mengangguk tak bisa kupercaya Bagas benar-benar cuek.
Selesai makan ia tidak mengucapkan terima kasih padaku. Benar-benar! Lihat saja nanti kamu akan kepincut dengan ibu tirimu yang seksi ini, hihi.
Pagi sekali aku terbangun, Mas Agus sudah tidur di sebelahku, memelukku begitu erat. Pagi ini kami akan melangsungkan akad pernikahan kami. Maka aku pun memaksakan diri untuk menggeser tangan kekar Mas Agus..yHehe. Namun, ketika aku ke dapur aku dikejutkan oleh Adelia. Ia menggendong putrinya sembari membuatkan secangkir kopi." Adelia?" sapaku.
"Iya, Bu. Ini Mas Bagas minta di bikinin kopi, jadi saya bikinkan sebentar."
Huff...
Kesal rasanya, kenapa Bagas nggak bilang kalau Adelia sudah membuatkan secangkir kopi untuknya? Aku jadi malas rasanya. Brondong muda itu menyebalkan. Aku pun hanya menganggukkan kepalaku. Lalu pergi ke kamar mandi.Apes, apes. Terus saja aku mengumpat dirimu dengan cercaan kasar. Aku benci kenapa aku tidak mikir, harusnya aku tidak perlu membuatkan secangkir kopi untuk brondong muda itu. Ia masih punya istri yang perhatian.
Selesai mandi, Mas Agus sudah bersiap. Kami akan melaksanakan akad nikah. Sejam lagi. Beberapa orang dari pihak catering sudah mengantarkan 200 nasi kotak. Untuk acara ini.
Mas Agus tersenyum dan menyapaku. "Gimana Ni, kamu suka 'kan dengan bajunya?"
"Baju apa, Mas?"merah, memang cantik sekali.
Aku yakin ini pasti mahal, kainnya juga bagus dan rapi. Aku pun memakainya. Bercermin layaknya anak-anak remaja. Haha bodyku gak kalah dengan si Adelia yang baru anak satu dan usia dua puluhan itu.
Setelahnya aku keluar dari kamar. Kini tubuhku mulai kembali asal setelah sebelumnya aku kurus kerontang ketika bersama Broto dan anaknya. Sesampainya di luar, aku terkejut karena Mas Agus sedang bercakap-cakap dengan Broto. Seseorang yang baru saja aku ucapkan.
Menghianatinya? Radit juga seperti orang-orang gedongan semenjak ia tinggal bersama Reno. Mungkin Reno dan Sofia menjaganya dengan sangat baik. Hingga Radit menjadi tampan dan gagah berisi.
"Ni, Nini.."
Deg.
Disaat aku tidak ingin bertemu Broto ataupun Dina, Agus justru memanggilku. Huh.
"Sebentar, Mas. Aku masih sarapan..." teriak Henny dari dalam ruangan. Agus pun tak menyahut lagi.
Ia kembali bercakap-cakap dengan Broto dan juga Radit yang baru datang. Selama akad pernikahan pun, Henny memilih untuk menggunakan masker agar Broto tak menyadari siapa dirinya. Bahkan ia berusaha untuk menghindari kerumunan orang-orang yang kenal padanya dengan alasannya sendiri. Iamasih bingung memikirkan cara agar ia tidak menyambut tamu, dari alasan sakit perut, berlama-lama di kamar mandi sampai beralasan tidak enak badan.
"Mas, kamu nggak datang ke pernikahan nya Pak Agus?" tanya Sinta kepada Bagas.
"Oh, Pak Agus yang pesen baju pesta kemarin itu ya, Dik?"
"Iya, yang pesen baju buat istrinya itu. Kamu datang gih, biar aku di rumah jaga Diana," pesan Sinta. Bagas pun mengangguk, ia bersiap-siap untuk menghadiri pesta pernikahan Pak Agus salah satu pelanggan setianya.
Setelah beberapa lama ia berpamitan kepada istrinya untuk pergi ke sana. Sinta pun tersenyum, semenjak punya anak, Bagas suaminya berubah drastis. Ia lebih perhatian, dan lebih sayang akan Sinta.
"Dik, Mas berangkat dulu ya?"
"Iya, Mas. Hati-hati," jawab Sinta. Bagas lantas mencium Diana dan kening istrinya. Ia juga tampak lesu karena harus berpisah dari Diana. Bagas sejauh ini amat sangatlah menyayangi Diana layaknya anaknya sendiri. Ia bahkan meminta Sinta untuk tidur bertiga dengan bayi mungil itu.
Dua puluh menit perjalanan, Bagas sudah tiba di rumah Agus. Acara akad tampaknya sudah selesai, sekarang adalah ramah-tamah. Semua orang tampak kumpul menyantap makanan. Bagas memarkir sepeda motornya.
Pergi ke dalam menemui Agus. "Permisi, Pak Agus.." panggilnya.
Seorang perempuan datang menghampiri dirinya. "Bagas?"
Bagad hanya tersenyum. Dina? Kamu di sini?" tanya Bagas" Iya, ini hadir di acara pernikahan pamanku,"
"Paman?"
"Iya, Pak Agus itu masih pamanku,"
"Oh."
Bagas tak menyahut lagi, Agus pun kini menemuinya. "Wah, Pak Bagas penjahit konveksi ya?" sapanya.
"Iya, Pak. Maaf saya telat, tadi saya kesiangan semalam anak saya sejenak untuk melihat putrinya. Karena Adelia istrinya masih berkutat di dapur.
Para tamu juga banyak yang pulang, kecuali Broto dan anaknya, Sofia Reno dan Radit juga masih setia menunggu Henny untuk keluar dari kamarnya. Wanita paruh baya itu sedari tadi tak menampakkan batang hidungnya sama sekali.
"Ibu kenapa nggak keluar, Dik?" tanya Reno.
"Malu ke bapak kali, apalagi itu ada mantan suaminya," ujar sofia. Radit hanya tersenyum." Kenapa harus sembunyi yamakmu itu?"
"Mungkin canggung Pak,"
"Masa canggung? Untuk apa? Sedari tadi dia cuma pakai masker, bolak-balik keluar ke dalam nggak nemuin kita," ketus Radit.
"Iya, biasa Pak. Lihat Bapak berbeda mungkin,"
"Itu Bagas, sof. Semua orang kumpul di sini, mungkin itu alasan Mak Nini nggak mau keluar," ujar Reno yang menunjuk ke arah Bagas di luar ruangan.
"Pengecut mah dari dulu," ujar Radit dengan kesal.Tak beberapa lama, Sofia dan Reno berpamitan untuk pulang, Agus pun memanggil Henny kembali. Wanita paruh baya itu akhirnya keluar juga.
"Bu, ibu sakit?" tanya Sofia.
"Iya, Ibu mules nggak enak badan," jawab Henny dengan memakai maskernya. Ia berbicara lirih. Radit hanya berjalan mendahului Mira. Malas rasanya dengan alasan Henny. Setelahnya, Agus juga meminta Henny untuk mengantar Sofia dan Reno.
Ketika di depan, Dina dengan sengaja mendatangi Henny. Henny mau menghindar tapi-mana mungkin. "Tante sakit apa?" sapa Dina.
"Loh, sofia?? Sofianya MS.Za Restoran 'kan?" sapa Dina.
"Kok baru sadar, iya aku sofia ," ujar sofia
"Nggak kamu berisi banget, beda sama kemarin-kemarin," ketus Dina.
"Eh aku kan emang lagi isi? Bentar lagi setelah empat bulanan udah mau lahir kok," jawab Sofia
"Tunggu, tunggu berarti " Dina dengan lancangnya menarik masker Henny dan menurunkan nya kebawah."MAK NINI??! KAMU YA?" teriaknya. Henny terkejut. "Ada apa? Kenapa kamu bentak ibu saya?"
"Heh! Diam kamu! Mak
harusnya kamu itu bela bapak, bukan malah nikah lagi sama pamanku!" Dina dengan beringasnya menarik rambut Henny, Henny berteriak dan menarik rambut Dina, keduanya sama-sama saling menjambak. Reno dan Bagas datang untuk melerai. Sofia hanya menghindari pertengkaran itu, khawatir jika ia akan dijadikan bahan salah sasaran.
Semua tamu undangan melihat ke arah mereka. Bagas pun sama. Ia baru menyadari jika Reno dan Sofia bersama mantan ayah mertuanya juga di sana.
"Cukup! Cukup!" bentak Agus.
Dina pun melepaskan cengkramannya di rambut Henny.
"Apa-apaan ini! Bikin malu aja! Kenapa kamu serang Henny Din?!" bentak Agus.
"Om, ini tuh mantan istrinya bapak, dia yang buat bapak dipecat!" bentak Dina. Agus menggaruk-garuk kepalanya. Reno juga ikut andil di sana. Bapak kamu dipecat karena bersama karyawan saya! Bukan karena Mak Nini," jelas Reno.
Sofia pun mengangguk setuju atas suaminya. Radit masih malas, ia memilih untuk duduk di mobilnya. Tak menggubris Henny sama sekali.
"Tetap saja! Harusnya Mak Nini perjuangkan bapak! Bukan seenaknya cari suami lagi, Mak ganjen!" bentak Dina yang lagi-lagi menarik rambut Henny.
"Awh sakit!" teriak Henny memelas.
"SUDAH DIN!" bentak Agus lagi. Dia melakukan asusila di kamar bersama karyawan saya! Bukan karena Mak Nini," jelas Reno.
Mira pun mengangguk setuju atas ucapan suaminya. Radit masih malas, ia memilih untuk duduk di mobilnya. Tak menggubris Henny sama sekali.
"Tetap saja! Harusnya Mak Nini perjuangkan bapak! Bukan seenaknya cari suami lagi, Mak ganjen!" bentak Dina yang lagi-lagi menarik rambut
"Awh sakit!" teriak Henny memelas.
"SUDAH DIN!" bentak Agus lagi.Adelia yang melihat ramai nya pertengkaran itu juga mendekat sembari menggendong Nanda putrinya. "Ada apa, Yah?" tanyanya.
Agus menghela nafasnya penuh. Broto tidak ada di sana, pria itu sedang berbicara dengan seorang tamu undangan di belakang.
"Sudah! Sudah! Kalau Mas Broto sudah selingkuh dan berbuat asusila apalagi yang mau dibahas, Din? Mak Nini ini istri Om. Kamu nggak berhak menghakimi dia!"
Dina hanya merengut. Ingin Setianya. Ia lantas memilih untuk berbicara dengan Bagas di sudut halaman.
"Kamu menantu tirinya Ibu Nini?" tanya Bagas kepada Bagus.
"Iya, Mas. Ada apa ya?"
"Titip ya? Jangan mau kalau sampai dia ajak kamu yang aneh-aneh kasihan istri dan anak kamu," pesan Bagas tiba-tiba. Bagus melongo. "Aneh-aneh apa ya, Mas?" tanyanya lagi. Bagas menghela nafasnya penuh.
"Pokoknya kamu harus bisa jaga diri, demi anak dan istrimu, apalagi ayah mertuamu." Bayu masih menggaruk kepalanya.
"Bu Nini itu perhatian ke aku, Mas," ceritanya.
"Iya, justru itu yang kutakutkan," ujar Bagas lagi.
Bayh seolah penasaran dan kembali bertanya. "Takut apanya Mas? Saya nggak kira suka dengan Bu Nini kok,"
"Kamunya nggak. Takutnya Bu Nini," lirih Bagas lagi. Bayy tampak berpikir keras. Ia pun mengangguk.
Beberapa lama kemudian.. Sofia dan Reno sudah pulang. Dina masih berseteru dan Agus Berusaha melerai Dina dan Henny di antara beberapa tamu undangan yang ada.
"Cukup! Dina! Berhenti
menyerang istri Om terus! Kamu kalau ga suka jangan main fisik!!!" bentak Agus dengan lantang.
"Aku nggak suka sama Mak Nini, Om! Dia sudah ngabisin uangku, tapi dia nggak pernah mau ganti uangku!" seru Dina dengan lantang.
Agus mengambil uangnya dan memberikan kepada Dina." Ini ambil! Jangan ganggu Tante kamu lagi!" perintahnya. Dina membuka amplop tersebut, ada uang cukup banyak di dalamnya. Ia pun tersenyum senang. "Oke, makasih. Om."
Semua tamu undangan hanya melongo melihat ke arah keduanya. Dina tampak senang dan seketika berpamitan untuk pulang kepada Agus, ia juga memanggil Broto bapaknya untuk pulang bersamanya.
Mata Dina seolah tidak pernah rela jika Agus, Omnya menikah dengan Henny. Ia masih memandang Henny dengan tatapan sengit. Meski, akhirnya Henny mengalah ia memilih untuk masuk ke dalam.
Sore harinya, Agus duduk di teras bersama Henny. Keduanya mengobrol banyak mengenai histori mereka masing-masing."Ni, kamu kenal Broto di mana?" tanya Agus.
"Ga sengaja kenalnya kok, Mas. Kenapa?" tanya Henny. " Kamu masih cinta nggak sama si Broto?" tanya Agus lagi. "Nggak, Mas."
"Apa benar dulu kamu sudah menghabiskan banyak uang Dina?"
"Nggak Mas, itu salah Broto. Aku menikah dengan Broto, tapi Broto malah minta uang ke Dina, Mas."
"Huff.. " Agus menghela nafasnya penuh. Kemudian ia mulai berbicara sesuatu yang membuat Henny salah tingkah sendiri.
"Ni, kamu tahu Bagas 'kan?"
"Iya, Mas. Kenapa?"
"Menurut kamu, Bayu menantu kita itu ganteng nggak?"
"Ganteng kok, Mas. Kenapa? Kok Mas tanya aneh-aneh?"
"Masa aneh sih? Bayu itu mau di ambil jadi tokoh terkenal di televisi nasional, katanya dia ikut casting online. Menurut kamu cocok ga?"
"Serius kamu, Mas?"
"Iya.. Oh ya Ni. Nanti kalau mantan istriku datang, kamu jangan sewot ya? Aku dulu nggak pernah cinta sama dia kok,"
"Mantan istri? Ngapain dia kesini, Mas?"
"Biasanya sih nengokin cucunya. Dia juga sudah punya suami kok, jadi kamu cukup tenang aja. Nggak usah marah-marah kalau dia ngomongnya agak ngelantur ya?"
Henny masih hanya menatap Agus dengan malas. Kenapa harus mantan istrinya bertamu ke rumahnya? Padahal Henny berharap malam ini ia bisa
"Iya..
"Mas, kamu kenapa? Pulang-pulang kok wajahnya masak gitu?" tanya Sinta dengan heran.
Bayu hanya menghapus air matanya. Ia melirik ke arah Diana yang tertidur pulas di atas box bayinya.
"Sin.. kalau aku cerita ke kamu? Kamu nggak akan benci * kan punya suami kek aku?" tanya Bagas dengan menghela nafasnya penuh.
"Nggak kok, Mas. Ada apa sih Mengingat mereka baru saja menikah, sepertinya ada hal lain yang harus mereka lakukan terlebih dahulu.
Hari ini Bagas dikejutkan oleh hasil pemeriksaan alat reproduksinya. Temannya dengan berat hati mengatakan jika ia memang memiliki kelainan dan ia positif mandul.
Bagas pun merasa tidak berharga menjadi seorang laki-laki, terjawab sudah ketakutannya jika ia benar-benar tidak bisa menghasilkan keturunan lagi. Ia pulang dengan berderai air mata,?" Sinta mengernyitkan dahinya dan penasaran.
"Soal hasil test organ reproduksi Sin.." ujar Bagas dengan lirih. "Kenapa hasilnya kamu mandul, Mas?" tanya Sinta. Bagas mengangguk lemah.
"Iya, aku mandul. Mungkin ini juga salahku kenapa aku dulu sering seenaknya menyalahkan Mira kenapa ia tidak kunjung hamil. Ternyata memang aku yang mandul, aku layak kok mendapatkan ini semua," tunduk Bagas.
Sinta mengusap pundak Bagas dengan tersenyum. "Mas, kamu yang sabar ya? Semuanya itu cuma prediksi, ga ada sesuatu yang mustahil kalau Tuhan mau," hibur Sinta.
"Tapi, aku gagal jadi laki-laki sejati, Sin," tangis Bagas memecah. Ia memeluk istrinya dengan sesenggukan.
"Mas, sudah.. walau kamu tidak bisa memberikan aku keturunan pun, aku nggak masalah kok,"
Bagas semakin terharu dan memeluk Sinta dengan sangat erat. "Makasih ya Sin, maafkan aku kalau aku awalnya menikahi kamu hanya sebagai penutup aib sendiri, aku tau aku salah, aku pantas kok mendapatkan hukuman ini," keluh Bagas dengan menangis sejadi-jadinya.
Sinta tersenyum. "Memang maksud kamu menutup aibmu sendiri itu apa sih, Mas?" tanya Sinta lagi.
"Maksudku aku dulu dibenci karena pernah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan seorang anak hingga aku harus berselingkuh dengan mertuaku, kamu tahu 'kan? Sejak saat itu aku ditolak bekerja dimanapun, hingga aku harus terpaksa mencari hidupku kembali dengan cara menikahi kamu, aku tahu itu adalah hal bodoh yang amat sangat memalukan, aku menyesal. Mulai sekarang kamu jaga Diana ya untuk kita? Aku akan bekerja keras untuk dia, aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk gadis ku, kamu mau 'kan maafkan aku?" cerita Bagas panjang lebar dengan memohon maaf kepada istrinya yang masih setia mendengarkan curhatan nya.
"Santai aja, Mas. Aku sudah tahu kok, aku justru berterima kasih, meski aku dinikahi kamu karena sebuah alasan tertentu untuk keuntunganmu sendiri, tapi akhirnya aku bebas Mas, aku bebas dari jerat bapak angkatku,"cerita Sinta.
"Bapak angkatmu di panti asuhan dimana kamu di besarkan itu? Emang ada apa?" Bagas menatap kedua netra istrinya dengan heran.
"Aku sering dirayu mas, di paksa untuk melakukan hubungan intim dengan dia, karena katanya biaya hidupku saat aku SMA di panti itu besar, apalagi katanya aku ini seksi Mas, meski secara wajah aku emang nggak secantik Mbak sofia," keluh Sinta.
Bagas mengelus dadanya dengan perlahan. "Kamu nggak marah 'kan, Sin? Aku sayang kamu, Sin. Apapun yang terjadi, aku mau rumah tangga kita awet untuk selamanya, aku mau berubah. Aku harus bisa menghargai sisa waktuku untuk berbuat kebaikan demi anak-anak ujar Bagas lagi. Hingga membuat Sinta terkejut.
"Mas, kamu mau pergi kemana? Kok bilang gitu?"
Bagas menggelengkan kepalanya. Ia lantas mengulas senyumnya. "Aku nggak mau pergi kemanapun Sin, aku hanya ingin berubah untuk anakku dan kamu, Diana Putri kecilku,"Aku juga bukan laki-laki yang lahir dengan nol kesalahan, aku pernah berbuat sesuatu yang melanggar aturan. Dan aku, harus bangkit setidaknya untuk diriku, kamu dan Diana,"
Sinta tersenyum lega. Tapi tiba-tiba bayi kecil mereka menangis. Hingga akhirnya Sinta memutuskan untuk memberinya sebotol susu Formula. Bayu tersenyum, setidaknya ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah menjadi sosok yang lebih baik.
Di lain sisi, Henny sedang menghitung uang di amplop yang diberikan Agus, suaminya. Pria Itu juga masih terlelap, dan kamar Henny juga di ketuk tiba-tiba.
Tok.
Tok.
Henny pun beranjak dan membukakan pintu kamarnya. Ia terkejut karena Bayu berdiri di depan kamarnya dengan setelan baju piyamanya.
"Bayu?" tanyanya.
"Iya, Bu. Bisa bantu Bayu nggak?" tanya Bayu kepada Henny.
Henny tampak canggung. "Eh, bantu apa ya?" tanyanya.
"Bayu mau di bikinin mie instan, Bu. Boleh 'kan?" tanyanya. Henny tersenyum, sebuah kesempatan emas untuk mendekati menantu tirinya. Ia pun beranjak dan pergi ke dapur untuk merebus mie instan sesuai permintaan Bayu,Menantunya duduk di atas kursi makan. Ia menunggu mie instan buatan Henny. Tak beberapa lama, Mie instan pun sudah jadi. Henny mengantarkan mie itu ke atas meja makan, tepat di depan Bayu.
"Ini, bay Ayo di makan," ujar Henny yang duduk di depan Bayu
"Ya, Bu. Makasih ya?" Bayu mengambil sumpit di atas meja makan. Ia membolak-balik mie instan di dalam mangkoknya.
Lantas ia mulai menyantapnya dengan lahap.. Henny hanya melihat menantu tirinya dengan tersenyum. "Kamu Suka mie ya, bay?"
Pria itu mengangguk. Lantas, ia kembali makan dengan lahap. " Bu, makasih ya sudah perhatian ke saya, saya beruntung bisa kenal Ibu,"
Henny tersenyum tipis. Ada sebuah harapan besar jika ia akan lebih dekat dengan menantu idamannya. "Kok bisa beruntun kenapa, bay?" tanyanya.
"Saya nggak punya sosok Ibu, saya rindu sosok Ibu, Bu." Jawab Bayu. Niken tersenyum.
"Saya akan jadi Ibu mertua yang bisa menjelma seperti ibu kandungmu, bay," Jawabnya.Namun, dari belakang Agus membuka suara. "Aku lapar juga Ni. Buatkan aku mie," pintanya.
Henny sedikit terkejut, ia menoleh dan Agus sudah beranjak untuk duduk di sebelahnya. "Kamu sudah bangun, Mas?"
"Iya, aku lapar. Aku terbangun karena kamu nggak lagi di kamar, mangkanya aku ke sini,"
"Iya, Mas. Bayu lapar," jawab Henny singkat.
"Iya, kamu harus perhatikan Bayu, Hitung-hitung bantuin Adelia, dia masih menyusui jadi agak susah untuk memperhatikan Bayu.
"Bagai menambang emas di gunung emas, kesempatan yang diberikan Agus kepada Henny akan dipergunakan oleh henny untuk mendekati menantu nya sebaik-baiknya. Meski, Bayu sama sekali tidak ada perasaan apapun kepada mertuanya.
"Iya, Mas. Pasti. Adelia dan Bayu sudah kuanggap anakku sendiri,"
"Makasih ya." Seru Agus dengan tersenyum kepada Henny
"Bu, aku minta secangkir teh. Boleh?" tanya Bayu lagi.
"Iya, sebentar ya."Henny pergi ke dapur. Ia segera membuat mie instan dan teh sesuai dengan permintaan suami dan menantunya.
'Kapan-kapan aku kayaknya harus sedia sesuatu deh, gimana ya kalau seandainya Mas Agus aku kasih obat tidur, terus Bayu aku kasih obat perangsang? Hahahaha ,' Henny bergumam sendiri di dalam hatinya.
"Mas, mau kemana?" tanya sofia kepada Reno. "Mau ke rumah Papa," jawabnya.
"Oh, iya Mas. Semenjak kita"Kok sepi, Mas?"
"Iya, jam segini papa masih di dapur,"
"Loh Mama?"
"Nggak ada. Mama udah meninggal, papa tinggal sendirian sof."
Sofia hanya mengangguk. Reno lantas mengetuk pintu rumah papanya untuk berkali-kali. Seorang wanita datang membukakan pintu untuk mereka.
"Iya, sebentar! Siapa sih?!" ketusnya.
"Loh, Dina?" tanya Sofia.Keduanya saling pandang dengan pikiran yang terbenam di kepala masing-masing.
"Iya, sof. Aku kerja di sini jadi rewang papa Jim." Sahut Dina. Reno tidak menggubris, ia menerobos masuk ke dalam. "Ayo, sof. Aku masuk duluan ya?" Sofia hanya mengangguk.
"Oh, iya, Mas. Aku masuk dulu, Din." Sahur sofia. Dina hanya mengangguk. Ia tersenyum. "Ah, aku bisa ketemu Reno di sini, Beruntungnya aku, mudah-mudahan dia bisa ku dekati." gerutunya.
Reno, Sofia dan Jim Mengobrol di ruang tengah. "Papa punya rewang?" tanya Reno.
"Iya, kemarin dia ke sini katanya butuh pekerjaan. Laundrynya sepi, yaudah aku terima, Ren." Jawab Jim. Dina datang menghampiri keduanya. " Mas Reno, Mbak sofia mau buat kopi atau teh?" tanyanya.
Jim hanya memerintah. Buatkan sofia susu Ibu hamil, Reno buatkan jahe madu hangat." Pintanya.
"Siap, Pa." Ujar Dina.
Wanita itu pergi ke dapur. Ia memberikan beberapa obat di dalam minuman tersebut. "Papa Jim kok nggak minta dibuatkan minuman juga sih? Aku buatin sekalian ah, biar kalian tepar." Gerutunya dengan lirih.
Tak beberapa lama. Dina datang membawa minuman tersebut. Papa Jim segera protes. Buat apa saya dibuatkan juga, Din?" tanyanya.
"Papa 'kan suka susu hangat, jadi sekalian," ujar Dina. Jim hanya mengangguk. "Sudah sana ke dapur kamu!" pintanya.
Dina segera pergi ke dapur dengan kesal. "Cih, dasar tua bangka!" ia bergumam pada dirinya sendiri. Sofia segera meneguk segelas susu bumil di depannya.
Selang lima menit, sofia mulai mengantuk. Ia sudah menguap untuk beberapa kali. " Kamu ngantuk, Sof?" tanya Reno. "Iya, Mas. Tiba-tiba aku ngantuk banget,"
Jim mulai curiga. Tapi, ia tidak berbicara sedikitpun. "Ren, sebaiknya kamu jangan minum minuman itu, papa curiga."
"Curiga kenapa, Pa?"
"Udah ga usah banyak tanya." Jawab Jim. Keduanya asyik berbincang-bincang berdua. Sofia masih tertidur menyandar di pundak Reno.
"Pa, aku pindahin sofia dulu ya?"
"Boleh." Ujar Jim.
Jim segera membuang minuman di gelasnya, ia juga membuang minuman Reno. Sebenarnya ia sedikit kesal kepada pembantu seharinya.
"Wah, punya pembantu ada aja idenya. Awas aja kamu ya? Masa dia berani ngerjain menantuku." gerutu Jim. Ia lantas kembali ke ruang bersantai dan meletakkan gelas-gelas minuman yang kosong diatas meja seperti sedia kala. Jim juga duduk santai di atas sofanya.
Reno yang baru saja memindahkan sofia ke kamarnya. Kembali duduk di ruang tengah. Dina tiba-tiba nongol dan bertanya kepadanya.
"Gimana Mas jahe madu nya enak nggak?" tanyanya.
"Enak kok," jawab Reno dengan berbohong.
"Kalau Papa sendiri gimana?" tanya Dina.
"Papa ngantuk. Huuuam,"Jim berpura-pura mengantuk. Ia lantas pura-pura tertidur di sofa. Reno masih bingung.
'Perasaan Papa kan nggak minum tuh susu, kenapa tiba-tiba maen tidur aja? Apa ini bagian dari drama?' gumamnya lirih.
Dina tersenyum. Ia berpikir jika reaksi obat yang ia memasukkan berjalan dengan baik. Tinggal Reno, kenapa pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda jika ia sedang terangsang. Sementara Dina sudah meminum obat itu lebih dulu, tujuannya agar ia bisa bermain lihai di atas ranjang dengan si Reno. Sayangnya, Reno tidak meneguk jahe hangatnya Reno terkejut.
"Bantuin apa ya?"
"Aku pusing Mas."
Sruug.
Dina ambruk di bahu Reno. Papa Jim hanya membuka matanya dengan perlahan. Ia memberikan kode agar Reno membawa Dina ke kamarnya. Kebetulan kamar Dina bersebelahan dengan Mang Ujang seorang pria yang bekerja membersihkan dan menyiram tanaman di rumah papa Jim.
Reno menggendong Dina keatas kamar pembantunya.Sementara Jim, meminta Ujang untuk menemani wanita itu. "Mas Reno, temani aku," gerutunya.
Reno hanya terbelalak.
Tiba-tiba seorang pria bernama Ujang memasuki kamar. "Den Reno, permisi saya di suruh jaga Mpok Dina kata Papa Jim,"
"Oh, nggeh monggo.."
Ujang duduk di kursi di dekat Dina. Sementara Reno pergi meninggalkan keduanya di kamar.
"Mas, Mas.. sini aku nggak kuat," racau Dina. Ujang hanya terbengong ria, apalagi ketika perempuan itu tiba-tiba membuka bajunya sendiri di depannya.
"Loh, ada apa toh, Mpok?" tanyanya dengan melongo. Tanpa basa-basi Dina lantas menarik Ujang untuk menindihnya. Ujang hanya terperanjat. Setelahnya, ia juga tidak menyia-nyiakan obat tidur gitu?"
"Mudah-mudahan nggak papa, sana jenguk istrimu. Papa mau tidur aja. Nanti Kalo ada apa-apa panggil aja papa di kamar
"Iyo, Pa. Makasih Yo, Pa." Balas Reno. Ia lantas pergi menjenguk Mira yang berada di dalam kamarnya.
"Bu, Ibu mau ke mana?"
tanya Bayu kepada Henny, wanita itu membawa tas mungilnya. Ia juga macak dengan cantik, pertanda jika ia memang aku kesempatan emas ini.
Sementara Reno di ruang tengah..
"Pa, itu Ujang sama Dina kenapa nggak keluar-keluar sih, Pa?" tanya Reno kepada Jim, Papanya.
"Lagi gulat, Ren. Masa yo kamu nggak tahu?"
"Pa, serius toh kalo tadi minumanku itu ada obatnya?"
"Iyo, obat perangsang." Ujar Papa Jim.
"Lha, terus sofia kan lagi hamil, Pa. Opo nggak papa kenapergi keluar rumah. Agus suaminya juga sudah berangkat bekerja.
"Ibu mau berangkat ke Restoran, mau kerja di Restoran sofia. Ibu sudah lama libur,"
"Emang, sofia anak Ibu itu sudah telepon Ibu untuk mulai bekerja apa?"
"Ya, belum sih. Oh, ya bay, Istri kamu mana?"
"Adel di dalam masih nyusuin Nanda Bu. Ada apa ya?"
"Nggak kok ya jarang kelihatan. Apa Adel sesibuk itu?"pergi keluar rumah. Agus suaminya juga sudah berangkat bekerja.
"Nggak kok ya jarang kelihatan. Apa Adel sesibuk itu?"
"Sibuk emang, Bu. Masalah kebutuhan biologis aja aku jarang di kasih," tiba-tiba Bayu berbicara sesuatu yang memang Henny harapkan.
"Masa sih, bay, Istri kamu begitu?" tanya henny dengan berbasa-basi ria. Bayu hanya mengangguk dengan berat hati." Ia, Bu katanya capek kalo terus lanjut begitu, soala Nanda sering rewel."
"Oh, kalau kamu mau, Ibu bisa kasih yang begitu," ujar Henny tanpa malu-malu. Bayu terdiam. Ia tampak berpikir untuk mencerna ucapan mertuanya."Ibu mau tidur dengan saya, maksudnya?" tanya Bayu lagi.
"Iya. Walau Ibu nggak semuda istri kamu, tapi Ibu bisa kok sama dengan istri kamu." Ujar Henny. Mulutnya tiba-tiba kelepasan untuk berbicara hal yang tabu dengan menantunya sendiri.
Bayu terdiam, pikirannya melayang ke ucapan Bagas, saat ia mengatakan jika Bayu harus hati-hati dengan Henny. Tapi-Bayu tidak mungkin menolak Henny karena di pikir-pikir Henny juga cantik baginya.ibu bisa?" tanya Bayu antusias dengan tiba-tiba. Walau sebenarnya Henny tahu nanti malam dia akan sangat capek pulang dari bekerja. Tapi-ini pengalaman yang akan sangat baik untuk di lewatkan. Bayu adalah sesuatu yang memang Henny inginkan sejak lama.
"Kamu serius, bay?" tanya Henny lagi. "Serius, Bu. Masa aku nggak serius,"
"Oke deh. Tapi-jangan bilang-bilang ya Bu ke Ayah mertua atau Adelia? Ini agak riskan tapi-jujur saja memang saya lagi butuh untuk hal itu."Henny n tersenyum. "Kalau begitu, ibu jalan dulu ya?"
"Biar aku antar, Bu." Ujar Bayu. Henny pun mengangguk. Wanita itu terkejut dengan ulah menantu nya yang tiba-tiba berbicara hal seperti ini kepadanya, benar-benar di luar dugaan. Tapi, dasarnya Henny, ia mau-mau saja meski hanya di buat pelarian oleh Bayu.
Menurut Henny daun muda memang lebih mempesona daripada yang tua se-usianya seperti Agus.
Di lain sisi, di rumah Papa Jim..