Bab 1

PLAK !!!

Kelopak mata bundar itu terbuka lebar ketika kaget mendengar benda jatuh kelantai. Tangannya langsung memegang dada, karena jantungnya berdetak hebat. Dia terlelap rupanya, hanya di atas lantai yang dingin dan berbantalkan tangan . Cukup nyenyak. Mungkin karena kelelahan. 

Indah kembali ke realita, matanya melilau mencari benda yang jatuh tadi. Dia menghela nafas lega saat melihat hanya tupperware kosong yang jatuh saat terkena gorden yang bergerak saat terkena tiupan angin dari luar jendela. Mata yang bundar itu sekali lagi melihat ke arah luar jendela, melihat awan yang mendung dan tiupan angin yang sedikit kencang. Sepertinya hujan akan segera turun hanya beberapa saat saja mungkin. Cuaca redup, pantas saja dia bisa tertidur saat membereskan gudang di sebelah dapur itu. Biarpun hanya gudang, Indah memastikan ianya tetap bersih dan rapih.

Ah ! Sudah jam berapa ini ?! Berapa lama kau tertidur Indah !

Wanita itu segera bangun mengambil tupperware kosong dan di taruh di tempat semula. Dia menarik daun jendela dan menutupnya rapat. Indah mencapai keranjang baju di belakang pintu gudang tersebut, dia bergegas keluar untuk mengangkat baju di jemuran.

Tangannya gesit seperti kecepatan kecoa. Kesemua baju seisi rumah itu diangkat dan di masukkan ke dalam keranjang yang sama. Ya, dia juga harus melipat baju baju itu dan mengasingkan kepada pemiliknya masing-masing. Setelah selesai mengangkat jemuran, dia bergegas juga kedapur mau menyiapkan makan malam untuk keluarga besar itu.

Sepertinya dia terlambat sore ini, jadi dia hanya memasak menu yang lebih mudah saja. Beberapa menit dia berdiri di depan kulkas yang terbuka. Semua barang tersusun dan tersimpan rapih. Matanya terkunci pada bungkusan pasta di rak sebelah dan langsung terfikir mau menyediakan spaghetti goreng saja. Udang dan cumi di keluarkan dari frizer.

Tangan yang kecil, tetapi cukup gesit saat menyediakan hidangan. Ketika selesai memasak dalam waktu 30 menit. Indah mengambil piring Porcelain berwarna putih dan menaruh spaghetti yang sudah di masak ke atasnya. Lengkap dengan hiasan untuk meningkatkan hasil yang lebih cantik di piringnya. Indah mencapai ponselnya yang bermerek Samsung dan sudah lama belum di ganti yang baru, layarnya juga sudah retak.

Klik!

Bibir yang kering dan pucat itu akhirnya mengukir senyuman. Foto hidangan itu cantik di pandangannya. Secarik kebahagiaan tumbuh mekar di dalam hatinya walaupun hanya sekeping foto.

Tepat jam 18.30 sore hidangan sudah siap sedia di meja makan. Bersamaan dengan itu terdengar bunyi derum mesin mobil memasuki halaman rumah. Pasti ahli keluarga rumah ini baru pulang kerja. Dan kemudian satu buah lagi mobil memasuki garasi. Indah menyangkutkan kain lap dan mencuci tangannya.

"Laparnya.... makanan sudah siap ..?" Aina langsung terus menuju kedapur.

Indah masih di wastafel, dia hanya terdiam dan kaku. Menarik nafas tetapi tersekat !

"Hanya Spaghetti saja ?! Eh... kita ini lapar tau. Seharian bekerja. Mana nasi ? Lauk dan sayur ?"

"Tidak ada nasi ? Dia ngapain seharian di rumah? Hanya tidur saja kerjaannya " Suami Aina, Arman ikut memasuki ruangan dapur dan mengangkat tutup saji.

"Ribut ribut apa nih?" Sandra turun dari lantai atas ketika mendengar anak dan menantunya pulang.

Anak sulung Halim bekerja sebagai juru teknis di sebuah perusahaan swasta. Istrinya Imelda bekerja sebagai sekertaris di departemen pemerintah. Mereka memiliki seorang anak laki-laki bernama Donny. Sedangkan anak keduanya Aina, bekerja sebagai dosen di universitas swasta sedangkan suaminya Arman bekerja sebagai surveyor bahan. Mereka berdua memiliki anak kembar iaitu Nana dan Nunu.

Dan anak bungsunya.... sepertinya masih belum pulang. Bekerja di sebuah perusahaan besar dan akan di naikkan pangkat menjadi Menejer. 

Sandra bangga dengan anak menantunya, masing-masing mempunyai pekerjaan yang menjamin masa depannya. Mereka semua tinggal di rumah warisan merupakan banglo lama peninggalan ayah mertuanya. Suaminya juga sudah meninggal dua tahun yang lalu. Tetapi, hubungan antara anak-anak masih erat dan mereka mau tinggal bersama biarpun mereka masing-masing sudah berkeluarga. 

Tetapi....

Ada sesuatu yang menyakitkan mata di rumah itu pada pandangan Sandra. 

"Lihatlah perempuan ini mak. Kita semua ini pulang kerja lapar, dia hanya masak spaghetti saja. Sudahma kita semua yang bayar tagihan di dalam rumah ini. Pajak lah semuanya. Dia tinggal senang lenang, satu pekerjaan pun enggak bisa di harapkan. " 

Ani mendengus marah, dan memamerkan wajah menyebalkan 

"Siang tadi guru telpon, kau terlambat ngambil si kembar kan ? Itu kan pekerjaan kau, kami ini tidak sempat untuk mengurus Nana dan Nunu." Kata Arman dengan lantang, agar Ibu mertuanya dengan mereka tau kalau Indah itu takut dengan Sandra.

"Minta maaf, siang tadi saya terlupa, karena saya sedang masak ." Jawab Indah pelan. Entah kenapa rasa di permalukan membuat keyakinan dirinya menurun hingga merasa berada di bawah telapak kaki. Bahunya juga menciut setiap kali berhadapan dengan mereka. 

"Kau pakai alasan memasak segala. Memanglah setiap hari kau harus masak, tapi sudah tugas kau untuk menjemput si kembar. Terus kau tinggal di rumah ini hanya mau tumpang kaki saja menjadi putri..?" Sepertinya marah Aina belum selesai. Matanya merenung tajam ke arah Indah yang membuatnya menciut.

"Ani, sudah lah. Baru pulang kerja kan, capek . Naik dulu mandi. Setelah itu makan malam ini kita keluar makan. Mak juga tidak ada selera mau makan pasta. Fikirnya kita Nana dan Nunu keh...?" Sandra biarpun hanya bersuara tenang cukup untuk mengirim sindiri halus.

"Oke. Kita tunggu kak Halim dan Ka Imel pulang. Kau makan semua ini sendiri." Kata Aina sambil melangkah keluar dari dapur sepertinya marah dia masih tersisa.

Sandra hanya merenung Indah, Arman seperti ingin berkata sesuatu tetapi melihat ibu mertuanya berada di situ akhirnya dia ikut beredar.

"Minta maaf mak, Indah enggak tau kalau semua orang mau makan nasi malam ini." Luah Indah pelan. Kedua belah tangannya yang kasar di genggam erat.

"Kau sengaja kan ? Mau bikin anak anak aku marah saat pulang kerja. Kau tau mereka itu capek ? Setelah itu kau mau tanya dulu ke semua orang mau makan apa. Baru 10 jenis kau mau bikin. Tinggal di rumah bukannya kerja capek pun." Sandra menjawab. Hati yang panasnya terpaksa di tahan. Bimbang jika Indah kabur lagi seperti beberapa tahun yang lalu. 

Kali ini Indah tidak bisa bersuara. Hatinya terasa sangat perih. Biarpun sudah terbiasa dengan sindiran seperti itu 5 tahun lamanya. Tinggal di rumah tidak buat pekerjaan yang capek ? Indah mau tertawa takut nanti di bilang gila pulak!!

Bab 2

Laporan di atas meja di buka satu persatu bersama dengan kernyitan di dahi. Lalu laki-laki itu membuka kacamatanya dan di taruh di sebelahnya. Dr. Anton bersandar dan memandang pasien di depannya. Salah seorang pria dewasa yang terlihat sehat tetapi memiliki masalah yang sangat berat. Masalah apa penyakit ? Kedua duanya.

"Tuan, kelihatannya kesehatan tuan semakin menurun. Tuan turun 10 kg dalam satu tahun. Jika terus di biarkan ... Bisa mendatangkan bahaya yang lainnya nanti." Kata Dr. Anton. Dokter spesialis yang telah merawat pria tersebut selama lebih dari 10 tahun. 

"Saya bisa berkomentar dari sudut pandang psikiatris, tetapi ini menyangkut kesehatan fisik Tuan Raqeef. Saya telah memantau kasus Tuan sudah lama, sepertinya semakin membaik tapi semenjak setahun terakhir ini, kenapa bisa semakin menurun ...?" Pertanyaan Dr.Anton lagi, kali ini lebih serius. Mereka hanya bertemu setiap 6 bulan sekali, tidak terlalu sering karena bukan kasus yang serius. Namun, dia harus memberikan perhatian karena pria yang berada di depannya itu adalah pasien VIPnya hanya sekarang merek sudah semakin dekat dan saling terbuka.

"Apa sangat buruk, dok..?" Pria itu tersenyum. Dia terlihat tenang, duduk dengan bertumpang kaki dan bersandar santai. Lengan bajunya di turunkan perlahan setelah memeriksa tekanan darah. Sangat jelas otot di tangannya yang sangat ketara. Dia masih aktif melakukan GYM dan olahraga. Berat badan juga masih ideal. Entah kenapa yang dia di bilang sangat buruk? 10 kg bukan masalah yang sangat besar.

"Lambung dan tekanan darah rendah, bukan masalah kecil lagi Tuan Raqeef." Balas Dr.Anton seakan tau apa yang ada di dalam fikiran Raqeef. 

Raqeef tersenyum. "Saya masih bisa bertahan..."

Dr.Anton melangkah membawa badannya ke depan dan memandang pria itu. "You need somebody to take care of you. I'm not joking here, Qeef. "

Raqeef mengeratkan rahang. Tidak menyangka itu nasihat dari pisikiater !

"I'II take care of my self. Saya hanya turun sedikit saja BMI masih normal. "

"Jadi, kenapa kebiasaan makan Tuan sudah berubah..?" 

"Saya sudah pindah keluar dari rumah keluarga saya sudah satu tahun yang lalu. Saya kasih alasan yang masalah gizi saya sudah oke, jika tidak orang tua saya mana mungkin mengizinkan saya pindah keluar. Tapi masalahnya.... Saya harus masak sendiri dan saya sangat sibuk. Saya hanya sempat bikin sarapan dan makan malam saja setelah pulang kerja." Raqeef menjelaskan kepada dokternya itu.

"Jadi, Tuan melewatkan makan siang..?" 

Raqeef mengangguk.

Dr.Anton satu kali lagi mengeluh. "Saya yakin Tuan hanya makan sederhana untuk makan malam. Pulang kerja juga sudah lambat. Akhirnya tidak cukup zat dan nutrisi. Seperti yang saya sarankan sebelumnya, dapatkan koki pribadi, atau ....Tuan menikah saja." Kali ini Dr.Anton membuat candaan.

Dan kali ini terangkat sedikit kening Raqeef. "Saya perfek saran yang pertama. Karena saya sudah mencoba mencari beberapa orang, semua tidak memenuhi syarat. "

"Tuan mau mencari calon istri atau koki nih..?" Dr.Anton tertawa ringan sehingga memperlihatkan barisan giginya yang putih.

"Both..." Raqeef ikut bercanda. "Jangan berbelit belit. Kita sedang berbincang masalah gizi sekarang."

"Oke... Oke... Saya juga serius nih." Dr.Anton anton menyembunyikan senyumnya. Raqeef adalah pria yang memiliki segalanya tetapi... 

"Seperti ini saja. Nanti 3 bulan yang akan datang,datang kembali ketemu dengan saya lagi. Saya mau melihat perkembangan Tuan saat itu. Jika semakin menurun, saya terpaksa harus on obat kembali."

"Eh, sudah lima tahun saya enggak makan obat, kenapa tiba-tiba..?" Raqeef mengernyitkan kening. Sudah lama dia berjuang agar tidak bergantung lagi sama obat pisikiater. 

"Karena air putih yang saya sediakan ini juga Tuan enggak minum lagi. Karena Tuan membayangkan gelas itu di pakai oleh ratusan orang di dalam rumah sakit ini kan...?"

Kali ini Raqeef terpaksa akur. Dia sangat haus. Tetapi dia tidak mampu meneguk air di dalam gelas itu.

Raqeef sebenarnya mengalami masalah fobia makanan yang buruk semenjak di bangku sekolah Dasar. Dia hanya bisa makan makanan yang di sediakan di rumah dan di jamin bersih 100%. Sudah 20 tahun dia tidak makan di luar atau restoran. Bahkan ... dia sanggup menahan lapar...dan kadang kadang kelaparan. Ketika dia berusia 20 tahun barulah dia menemui dokter spesialis dan di rujuk ke pisikiater. Setelah melakukan beberapa tes dia di diagnosa menderita sindrom yang di kenali sebagi Obstructive Eating Disorder (ARFID),menyebabkan penderitanya sangat rewel di dalam memilih makanan. 

"Jadi, Tuan harus segera menyelesaikan masalah ini. Sindrom Tuan tidak terlalu serius sebenarnya, kalau ada orang yang bisa menyediakan makanan untuk Tuan secara teratur dan tepat waktu. Tuan hanya tidak bisa makan makanan di luar. Sebelumnya Bu Ajeng yang menyediakan makanan untuk Tuan dari dulu. Sekarang jika Tuan ingin mandiri, Tuan harus membuktikan bahwa Tuan bisa bertahan. Tuan juga tau kan saya harus melaporkan kesehatan Tuan kepada Ibu Ajeng...?" Penjelasan Dr.Anton tanpa berahasia

"Saya akan traktir Dokter dan staf dokter untuk makan siang hari ini. Kita anggap selesai oke..?"

"Ini menyogok.?" Tanya Dr.Anton yang sudah kenal dengan sikap anak laki-laki kedua dari Ibu Ajeng Linda Aryani ini.

"I got to go. Ada meeting. " Raqeef langsung bergegas bangun dan mengambil tas kantor di sebelahnya. 

"Jangan lupa 3 bulan nanti temu lagi kita!!" Dr.Anton sempat berpesan lalu Raqeef keluar sambil mengangkat tangan kanan.

Dr.Anton akhirnya mengeluh sambil menggelengkan kepala.

*****

"Bos, ini proposal dari perusahaan BB Holding mereka mengirimkan perwakilan untuk Lunch Meeting di Grand Hotel." Daus, Asisten Pribadi pria itu, mengulurkan amplop coklat yang berukuran A4 dari kursi supir kepada bos nya yang berada di kursi belakang. 

Raqeef menerima amplop tersebut. "Seperti biasa, beri alasan kalau kita sudah makan. Saya tidak akan lama lama. "

"Baik, Bos." Laki-laki berusia 40-an itu akur dengan perintah bosnya. Saat itu juga terdengar perutnya berkeroncongan. Aduh.... saat begini dia mau bikin masalah.

"Pak Daus lapar ..?" Tanya Raqeef sambil membalik balikan kertas di tangannya. 

Kendaraan itu berhenti di lampu merah

"Sa... Saya oke saja Bos. Nanti saya bisa makan roti." Daus mengetapkan bibirnya tanpa di lihat oleh Raqeef. 

"Kalau Pak Daus lapar, boleh makan dengan orang perwakilan dari BB holding nanti. "

"Eh ! Enggak apa-apa, bos. Jangan seperti itu, Bos enggak makan bagaimana saya mau makan." 

"Oke, setelah selesai meeting Pak Daus bisa hantar saya ke kantor dan Bapak boleh pergi makan." 

"Baik, Bos !"

Lega. Sepertinya mood Bosnya itu sedang baik. Kalau tidak dia lebih banyak diam. Hanya ngomong masalah yang penting penting saja dan sangat berhati hati dengan orang yang ada di sekitarnya.

Raqeef melihat jam Casio Edifice di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir 16 jam dia tidak menyentuh makanan. Terakhir kali dia makan saat makan malam pada pukul 8.00 malam. Dia tidak sempat membuat sarapan pagi karena harus menghadiri meeting di luar kota. Sekarang seharusnya jam makan siang tetapi dia harus menghadiri pertemuan dengan klien. 

Raqeef menarik nafas karena tubuhnya terasa sudah bereaksi.

*****

"Enggak sabar nunggu ! Bulan depan kita pergi ke Bangkok. Teman Imel baru saja pulang dari Thailand, dia bilang sekarang memang banyak orang berlibur pergi kesana. Penuh dengan orang Indonesia, makanan halal juga banyak."

"Kamu kalau soal makanan memang nomer 1 iya." Canda suaminya Halim, anak sulung Sandra. 

"Iyalah.... bosan juga kan setiap hari makan masakan rumah ini. Bolak balik hanya menu yang disukainya saja. Enggak mengikuti selera kita. Bersemangat mencoba masakan ini itu, seperti mau jadi koki saja." Sindir Aina saat melihat Indah datang keruang tamu untuk menghidangkan teh setelah makan malam.

"Jangan ganggu moodku untuk menyusun rencana perjalanan kita nanti." Kata Imelda sambil melirik Indah. Tangannya yang sedang menulis di kertas putih tentang rencana perjalanan untuk keluarga nanti tiba-tiba saja terhenti.

"Lanjutkan saja, Imel. Mak mau dengar rencana perjalanan kita nanti. Kita bukan selalu bisa pergi berlibur bersama keluarga. Semua orang sibuk." Sandra menyelah saat menantunya tiba-tiba merasa terganggu dengan kedatangan Indah. 

Indah hanya diam saat menghidangkan teh di atas meja, lalu dia bergerak keluar dari ruang tamu ketika dirinya terasa seperti orang asing. Ya, dia seperti pembantu saja dirumah itu. Tetapi, Indah sudah tidak merasakan apa apa. Hinaan, makian dan omelan apa saja. Jiwanya sudah mati. Betul. Seumur hidup itu terlalu lama.

Jam sudah menunjukkan 10.00 malam. Indah sudah merasa ngantuk tetapi dia juga harus menyelesaikan melipat baju yang beberapa keranjang. Pekerjaannya tidak pernah selesai dari pagi hingga kemalam. Mungkin ini nasib perempuan yang tidak bekerja sepertinya? Di pandang rendah dan seperti tidak berguna di mata ahli keluarga ini ? Biarpun dia bekerja dari pagi hingga kemalam merawat rumah ini, dia tetap di bilang tidak menyumbang apa apa.

Akhirnya dia selesai menyusun semua pakaian itu. Nanti pintar pintar sendiri lah tuannya mengambil sendiri. Indah bangun dan terasa kakinya pegel karena duduk terlalu lama. Dia masih mendengar gelak tawa ahli keluarga itu di ruang tamu lantai bawah. Tanpa memperdulikan rasa yang mengusik di jiwa. Indah meninggalkan ruang tamu lantai atas itu untuk ke kamarnya. 

"Oke, good night.."

Indah tersentak saat melihat Hairi berada di dalam kamarnya dan baru selesai ngobrol di telepon. 

"Kapan kamu pulang..? Aku enggak tau..?" Tanya Indah

Hairi hanya menatap Indah sesaat lalu kembali menatap layar ponselnya. Dia sedang bersiap untuk mandi. Hanya memakai handuk dan berdiri di sisi tempat tidur. 

"Apa yang kamu tau di dalam rumah ini ? Hanya Kuali sama piring saja ."

Indah mengetapkan bibir. "Aku suka memasak, apa salahnya..?" 

"Enggak salah. Itu memang pekerjaan kamu. Sudahlah. Aku mau pergi mandi." Hairi berjalan menuju ke kamar mandi. 

"Kamu ikut kan perjalanan ke Bangkok..?"

Kaki Hairi terhenti melangkah, saat mendengar pertanyaan dari Indah. Dia menoleh.

"Apa masalahnya? Apa aku harus minta izin sama kamu dulu ..?" 

"Aku enggak di ajak kan, tidak ada tiket untuk aku ? Dan aku juga tidak ada paspor."

"Kalau semuanya pergi, terus siapa yang mau menjaga rumah ini ? Kalau pencuri masuk bagaimana..?" Hairi mulai meninggikan suara. Sungguh bosan dia melihat wajah istri yang tidak ceria itu, Kusut !

"Pencuri ? Kamu hanya mengkhawatirkan rumah ini daripada aku ? Saya di tinggal sendirian... " Indah mencoba menepis rasa kesal tetapi bertandang jua. 

"Eh. Ini bukan pertama kali kan ? Selama ini kau kan yang selalu menjaga rumah ..?" 

"Tapi... kali ini satu minggu. Lama tau ... enggak mungkin, apa kamu enggak khawatir ? Aku ini istri kamu. Menantu keluarga ini juga. Tapi kenapa saya di anggap seperti orang asing. Seperti pembantu..?!" Indah menahan suaranya agar pertengkarannya tidak di dengar ahli keluarga yang lain. Kalau tidak parah dia di caci maki nanti.

"Kamu itu tidak tau bersyukur! Tinggal di rumah ini hanya gratis saja. Makan minum semua orang yang ngasih. Apa lagi yang kamu mau ? Mau di perlakuan seperti permaisuri ? Hakikatnya, apa apa pun kamu enggak bisa ngasih kepada aku. Anak juga kamu enggak bisa kasih. Aku bertahan sama kamu ini juga, karena aku kasian sama kamu. Jadi, duduk diam diam dan sadar diri." Hairi sangat puas hati bisa meluahkan kepada Indah di depan muka seperti itu.

Melihat Indah termenung dan tidak bersuara lagi, Hairi langsung masuk ke kamar mandi lalu menutup pintu dengan di banting keras.

Indah terduduk di sudut tempat tidur. Kali ini dia tidak dapat menahannya lagi. Air matanya jatuh juga walaupun ditahannya. Genggaman tangannya semakin mengerat, dia rasanya teringin menjerit dan menggila!! 

Indah sering di tuding mandul karena sepanjang 5 tahun pernikahannya dia belum juga hamil. Sandra. Ibu mertuanya juga sering berkata seperti itu tanpa melakukan pemeriksaan. Dia sudah mengajak Hairi pergi untuk menjalani tes kesuburan tetapi laki-laki itu menolak. Sampai saat ini, Indah tidak tau apa masalah pada dirinya sehingga dia sukar untuk hamil.

Tetapi.... kegusaran itu hanya pada awal pernikahan, sekarang dia sangat amat bersyukur karena belum di karuniai anak. Apa lagi dengan suami yang tidak pernah menghargainya ! Sama sekali tidak !

Jadi, untuk apa air matanya pada malam ini? Indah bersedih karena dia tidak mempunyai tempat untuk mengadu dan berlindung. Dia anak yatim yang di besarkan oleh kake dan neneknya. Ketika kakek dan Nenek meninggal beberapa tahun yang lalu, dia benar-benar menjadi sebatang kara.

Rumah warisannya juga telah di ambil oleh pamannya, dan pamannya juga sudah tidak perduli dengan hidupnya lagi. Indah sadar, hanya rumah Sandra tempatnya berlindung sedangkan dirinya tidak memiliki apa-apa. 

*****

Ajeng bergegas menuju ke wad VIP di rumah sakit itu dengan langkah lebar. Wajahnya penuh dengan ke khawatiran dan nafasnya naik turun ketika berjalan dengan cepat. Dia melihat seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu wad dan menghampirinya.

"Kasih tau saya ada apa, Daus..?!" Tanya Ajeng dengan tegas. Nafasnya juga terengah engah. 

Daus menundukkan kepala karena matanya takut bertentangan dengan mata wanita itu.

"Maafkan saya, Bu Ajeng. Saya sudah hantar Den Raqeef pulang ke rumah. Setelah satu jam, Aden telpon saya karena dia merasa tidak sehat. Mungkin lambungnya kambuh. Saat saya sampai ke kondominimum, saya lihat Den Raqeef sudah pingsan. " Penjelasan Daus dengan berhati hati 

"Kan saya sudah ngomong, tolong jaga dia! Kenapa sampai masuk rumah sakit? Haissshhh anak keras kepala ini !!" Marah Ajeng , sebenarnya dia marah sama anak lelakinya itu, tetapi di lepaskannya pulak sama Asisten Pribadi anaknya itu.

"Saya mau masuk sekarang. "

"Baik, Bu Ajeng." Daus lantas memberi jalan kepada Ajeng. Di dalam hatinya juga khawatir karena Raqeef sudah berpesan supaya jangan memberi tahukan kepada Ajeng. Tetapi dia juga lebih takut jika Ajeng dapat tau sendiri. Bisa bisa dia bakal di pecat !

Pintu wad di buka, Ajeng terus berjalan menuju ranjang pasien. Dia melihat anak laki-lakinya sedang tidur dengan tenang.

"Apa yang sudah terjadi ini, Qeef? Kenapa harus pindah keluar kalau enggak bisa jaga diri..." Ajeng terduduk dan menangis.

"Mamah.." Raqeef membuka mata perlahan. 

Ajeng menyeka air matanya dan lantas mencapai tangan Raqeef. 

"Anak mamah oke..?" 

"I'm oke, mamah. Tapi ... bagaimana mamah ..." Raqeef bangun untuk duduk. Ajeng lekas membantu anak kesayangannya itu. 

"Jangan salahkan Daus. Kalau mamah bisa tau sendiri, mamah akan pecat dia. Ini masalah serius, Qeef. Sampai bisa pingsan sendirian di rumah. Kamu mau mamah meninggal cepat karena mengkhawatirkan kamu ?!" 

"I'm oke, mamah. " Raqeef mengeluh sedikit sakit kepalanya bertambah. 

"Qeef, kalau seperti ini, mamah mau Raqeef pindah balik ke rumah keluarga kita. Mamah sudah tidak mau mendengarkan apapun alasannya lagi !" Kata Ajeng dengan tegas.

"No, mamah. Saya enggak akan pulang." Raqeef lebih nekat. Tidak mungkin dia kembali lagi kerumah itu. Cukup hanya sekali sekala untuk menengok Ayah ibunya.

"Kenapa keras kepala banget ? Apa yang membuat Qeef nekat banget mau keluar ..? Mamah benar-benar enggak mengerti.."

"Raqeef, hanya mau mandiri mah. That's all mamah." Raqeef menyimpan rasa pahit di sebalik wajah seriusnya.

"Baiklah. Kalau enggak mau pindah lagi kerumah, cepat cari istri untuk menjaga kamu !!" 

"No, mamah..!" Raqeef bertambah stres, keningnya mengernyit 

"Eh, semua enggak mau. Mau nunggu apa lagi, Qeef bukannya masih muda. Umur juga sudah 32 tahun." Ajeng sadar inilah peluang untuk berbincang tentang jodoh Raqeef. 

Raqeef memijit kening. Apakah darahnya sudah naik ? Bukan mudah untuk menghentikan seorang Ajeng Linda Aryani. 

"Mamah, please..." Raqeef menekan suaranya yang dalam.

Ajeng  tiba-tiba membesarkan matanya.

"No... No... Please say no, Qeef. Enggak mungkin Qeef jugq geli sama perempuan ..?!" 

"Ada memberi tahukan kepada Dr.Anton tentang ini..?" Ibu Linda semakin khawatir saat melihat reaksi Raqeef yang hanya terdiam. 

Raqeef meraup muka yang merah padam. Apa lagi yang Ajeng bebelkan ini.

"Mamah, baiklah. Sudah lewat ini. Pasti mamah tidak mau yang papah tau kan..?" Raqeef mencoba mengalihkan topik.

Ajeng mengeluh berat." Mamah, belum gila lagi. Papah pasti lebih kecewa kepada Qeef."

"Kalau seperti itu, mamah pulang dulu. Qeef akan menyelesaikan masalah Qeef sendiri mamah jangan khawatir. " 

"Ini peringatan terakhir. Kalau Qeef sakit lagi, mamah akan paksa Qeef pindah balik ke rumah. Dan mamah akan mencarikan calon istri untuk Qeef. No matter what!" 

Raqeef hanya mengangguk saja supaya Ajeng berpuasa hati.

"Take care, Mamah." Raqeef kembali berbaring dan memejamkan mata. 

"Keras kepala sangat..." Keluh Ajeng, lalu melangkah keluar.

BERSAMBUNG...

Bab 3

Rully mendengarkan dengan seksama saat Asistennya Roby menyampaikan satu kabar. Dia menyipitkan mata dan memandang jauh kedepan. Wajahnya serius tetapi bibirnya seolah senyum sinis.

"Jadi, dia masuk rumah sakit...?"

"Betul, Bos." Jawab Roby.

"Ibu Ajeng ada datang menjenguk..?"

"Ada Bos. tapi seperti Tuan Teddy tidak tau." Tambah Roby.

Rully mengangguk pelan sambil memikirkan sesuatu. Roby masih berdiri di sebelah bosnya itu. CEO AG Group dan merupakan anak laki-laki sulung Tuan Teddy.

"Raqeef sudah lama tidak pulang ke rumah, dia kononnya mau hidup mandiri. Apa dia sendiri lupa kalau dia itu anak manja...?"

Roby menahan senyumnya, tetapi Rully tersenyum sinis.

"Baiklah... Kau tau apa yang seharusnya kau lakukan kan..?" Kata  Rully penuh dengan maksud tersirat.

Roby langsung berdiri tegak." Saya faham Bos, saya pergi sekarang. "

Roby melangkah menghampiri pintu office  Rully tetapi pintu itu telah di buka dari luar. Roby terpaku di muka pintu kemudian memberikan jalan kepada wanita cantik di depannya.

Lovena melangkah penuh gaya menghampiri meja kantor suaminya, Rully. Laki-laki itu tersenyum lebar saat melihat perempuan yang sudah lama di idamkannya itu, akhirnya menjadi istrinya. Lovena membalas senyuman suaminya dengan lebih manja dan elegan.

"You look happy today, darling. Please let me know if I've missed out anything. " Nyonya Lovena berdiri di belakang suaminya dan mulai memijat bahu laki-laki itu.

Rully memejamkan mata menikmati urutan lembut dari Lovena.

"Hmmm... tidak ada apa yang special. Malam ini kita ada family dinner. Jadi kita harus pulang cepet. "

Lovena terdiam. Urutannya juga semakin pelan karena fikirannya tiba-tiba melayang.

"Raqeef tidak akan datang ... "  Rully membuka matanya perlahan saat tidak merasakan lagi urutan istrinya yang tidak sefokus tadi.

"Kali ini apa lagi alasan dia ...?" Tanya Lovena pelan.

"Tidak tau.... Mungkin dia sudah sadar yang .... Dia tidak perlu bekerja keras. Perusahaan ini yang akhirnya akan menjadi milik Aku."

Lovena tersenyum hambar,  dia melangkah kedepan laki-laki itu dan duduk di sudut meja.

"Saya tau kamu lebih bercita cita tinggi dan menjadi harapan papah. I'm so proud of you."

"Karena itu kamu lebih memilih aku daripada Raqeef kan...?"

Lovena tertawa lepas. "You jangan mau bercanda..."

"Raqeef keluar dari rumah itu setelah kita menikah, satu tahun yang lalu. Dia memilih untuk menjadi Menejer di perusahaan CV dan memilih keluar dari perusahaan induk. Semua itu dia lakukan karena dia kecewa sama kamu... tetapi mamah dan papah tidak tau."

"Kenapa kamu tiba-tiba membahas masalah ini..?"

"Karena Aku mau mengingatkan kamu. Jika mamah papah tau yang sebenarnya, kamu mungkin enggak menjadi menantu kesayangan mereka lagi."

"Aku enggak gila lah mau menceritakan masalah itu kepada siapapun,  Raqeef sendiri juga tidak mau membahasnya. Hubungan kita dulu ... enggak resmi. Dia hanya menyukai Aku, tapi Aku suka sama kamu." Lovena mencoba memungkiri hal tersebut. Dia khawatir jika Rully bisa tau hal yang sebenarnya yang terjadi.

Lovena menarik nafas panjang terbayangkan Raqeef, laki-laki tampan yang pernah hadir di dalam hidupnya. Mereka menjadi dekat ketika belajar di universitas of Cambridge UK selama 3 tahun.

"Kamu tidak bisa membohongi Aku ... Aku tau kamu memilih aku karena aku lebih sukses dari dia. Tapi, aku tidak perduli apapun alasan kamu. Hanya jangan sekali sekali kamu menoleh kebelakang..." Kata  Rully, bersama peringatan halus.

"Apa yang kamu mebebel ini, kamu sudah enggak percaya sama aku...?"

Rully tersenyum. Lovena perempuan yang sangat pintar berpura-pura.  Namun, dengan memiliki wanita itu dia dapat merasakan kemenangan pertama untuk melihat kesakitan Raqeef. Pesaingnya dari kecil !!

"Tiba-tiba kamu ngomongin tentang Raqeef kenapa ? Belum cukup untuk dia menderita di luar sana ? Kamu mau buat apa lagi..?"

"Aku enggak buat apa apa. Aku hanya sedang menikmati keberhasilan aku sekarang dan memastikan lawan aku jatuh tertinggal di belakang.."  Rully membuka kedua tangannya. Merasa bangga dengan kemenangannya saat ini.

Lovena terdiam biarpun dia sangat bangga menjadi istri pewaris AG Group. Banyak sedikitnya jika nama Raqeef di sebut emosinya akan terganggu

"Jika kamu menyayangi aku...  Kamu bisa melakukan sesuatu untuk aku..?" Pinta  Rully

"Buat apaan..?" Lovena mengernyitkan kening, karena suaminya itu selalu di luar dugaan.

*****

Cuaca di sore itu sangat cerah, angin juga bertiup lembut sehingga Indah bisa menghirup udara yang nyaman biarpun sedikit tercemar dengan pembangunan yang sangat pesat. Banglo besar itu berada di tengah tengah kota.

Indah membereskan gudang di belakang rumah karena sudah lama tidak di tengoknya. Khawatir akan bertambah usang karena masih terdapat barang barang yang berguna. Tak tau kenapa dia tidak bisa duduk diam dan akan selalu mencari pekerjaan yang harus di kerjakan. Biarpun dia hanya seorang ibu rumah tangga, Indah tidak mau hanya menumpang gratis di rumah itu.

Sebuah kardus yang berukuran besarnya sederhana di tempatkan di atas sebuah rak direnung sedikit lama oleh Indah. Dia melangkah menghampiri rak itu dan menggapai kardus tersebut. Semua itu adalah barang barang pribadinya yang di ambil di rumah warisan peninggalan kakek dan neneknya.

Indah membuka kardus itu dan melihat isi di dalamnya. Terdapat album lama yang sudah usang dan beberapa barang yang lain. Indah membuka album itu dan melihat foto ahli keluarganya. Wajah wajah itu di pandang satu persatu sehingga mengamit rindu dan rasa sayu di hati.

"Ibu, Ayah..." Indah mengusap wajah ibu dan Bapaknya. Kemudian wajah seseorang yang berdiri di sebelahnya.

"Kakak... Dimana Kakak sekarang..?"

Indah menyeka air matanya yang tiba-tiba jatuh. Setelah ibu bapaknya meninggal karena kecelakaan, ada beberapa keluarga yang mau mengambil mereka menjadi anak angkat. Namun.... Indah tidak tega meninggalkan kakek sama neneknya. Manakala kakanya, terus pergi dengan keluarga angkatnya dan tidak bisa di hubungi hingga ke saat ini.

"Kakak mau pergi sama keluarga kaya itu. Kakak enggak mau hidup susah seperti ini!"

Indah memejamkan mata saat teringat kembali kata-kata yang keluar dari saudara kandungnya yang 20 tahun lebih lalu.

"Kakak, enggak kasihan sama kakek dan nenek ? Kakak sanggup meninggalkan Indah kak?"

"Kakak enggak perduli. Kakak ada cita cita tinggi, enggak seperti kamu !"

Indah membuka matanya perlahan. Wajah kakaknya yang saat itu baru berusia 12 tahun terus hilang dari memori. Kini, dia tidak bisa membayangkan wajah kakanya, nafasnya di tarik dalam dalam. Dia tidak mau terus tenggelam di dalam emosi, hidupnya sekarang juga cukup melemaskan. Bukannya dia tidak bersyukur, jauh sekali mengeluh dengan takdir Tuhan. Tetapi, tak pantaskah dia merasakan bahagia, setelah segala pengorbanan ini?

*****

Raqeef duduk termenung di kursi panjang sambil melihat suasana sore di taman rumah sakit tersebut. Pasien yang lain juga turut mencari angin karena cuaca sore itu sangat baik. Raqeef memejamkan mata sambil memikirkan masalah yang sedang menimpanya. Dia harus segera mencari seseorang untuk mengurus pola makannya. Kalau tidak dia pasti akan di paksa pulang ke rumah besar Teddy.

Raqeef tiba-tiba membuka matanya saat teringat sesuatu. Dia segera mengambil handphonnya di dalam saku baju pasien lalu membuka Facebook. Dia mencari satu akun bernama 'Menur Kitchen' akun itu aktif selalu membuat konten tentang bermacam macam masakan. Selama ini Raqeef belajar memasak dari akun tersebut karena video dan resep resepnya sangat menarik. Apa yang paling penting , kebersihan yang content creator itu utamakan.

Dapur yang bersih, segala perabotannya juga sangat bersih. Bahkan cara menyediakannya juga sangat rapih dan bersih. Pengikut akun tersebut juga sangat banyak dan semua orang memuji wanita itu walaupun tidak pernah melihat wajahnya.

Raqeef membuka unggahan  terbaru Menur Kitchen dan melihat satu foto masakan beserta resep dan caption di bawah fotonya.

'Nasi Ayam penyet. Video akan di upload kemudian iya. Bagaimana? Apakah anda berselera melihatnya?'

Raqeef menelan liyur. Lalu perutnya berkriuk. Di setiap kali dia melihat masakan dari si pemilik akun itu, pasti akan membangkitkan seleranya. Sukar untuk Raqeef mendapatkan selera makan jika melihat makanan di mana mana warung atau restoran. Di dalam kepalanya akan berfikir macam macam. Namun, berbeda dengan Menur Kitchen, Raqeef sangat berpuas hati dengan cara mempersiapkan wanita itu.

"Bunda Menur kalau masak pasti enggak pernah enggak best. Bersih dan rapih juga. Love you bunda menur ! Semoga lebih banyak resep masakan setelah ini!"

"Kamu sangat jujur dan ikhlas kalau berbagi resep masakan dan cara penyajiannya. Terimakasih sudah berbagi ilmunya iya!"

Kali ini Raqeef membaca komen komentar juga. Rata-rata pengikutnya banyak yang memujinya Raqeef menarik nafas panjang lalu mengklik icon messenger untuk mengirim pesan kepada akun itu.

'Hallo, Bunda Menur.'

'Jika, Bunda baca pesan saya. Tolong balas iya karena saya ada satu tawaran buat anda.'

Raqeef menutup ponselnya setelah mengirim pesan tersebut. Dia berharap wanita itu akan membalas secepatnya.

Dalam beberapa menit ponselnya bergetar memberitahu satu notifikasi masuk ke ponselnya. Raqeef penasaran dan segera membuka ponsel tersebut.

'Hallo. Maafkan saya, tawaran apa iya..?'

Raqeef segera mengetik untuk membalas

'Kita harus bertemu untuk berbincang. Saya ada tawaran pekerjaan. Sebagai chef atau tukang masak. Saya sudah lama menjadi follower anda. Saya berminat untuk memberikan anda pekerjaan.'

Raqeef mengirim pesan tersebut dan menunggu balasan. Dia yakin wanita itu tidak bekerja, karena dia pernah membaca komennya, kalau wanita itu mengatakan dia hanya seorang ibu rumah tangga saja yang suka memasak, bukannya seorang profesional. Jadi, masaknnya adalah dari hati yang ikhlas untuk keluarga.

Tersentuh dengan ayat itu, sampai hari ini terus menempel di ingata Raqeef.

Ting !!

Pesan terbaru masuk. Raqeef segera membukanya.

'Maafkan saya... Saya sebenarnya seorang ibu rumah tangga. Saya tidak ada pengalaman untuk menjadi tukang masak. Saya juga kayanya mustahil untuk bekerja.'

'Saya tau. Tidak bisa kah kamu mempertimbangkannya kembali ? Jika kamu berubah fikiran, bisa hubungi saya. Saya seseorang yang bisa di percaya.'

'Terimakasih atas tawaranya.'

Raqeef mengeluh apabila pesan itu untuk mengakhiri perbualannya. Dia berharap wanita itu akan berubah fikiran.

"Come on, Raqeef. Kamu harus makan untuk meneruskan hidup..."

*****

Teddy duduk di dalam ruang kerja pada malam itu sambil membaca sebuah buku yang sangat tebal. Sebuah buka yang mengisahkan tentang perjalanan seorang  Nabi Allah, Muhammad SAW.

Ketika di usia muda  Teddy banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku tentang Dunia Usaha, ketika di usianya yang sudah senja dia mulai mengubah bacaannya lebih mengurus tentang ke agamaan.

Tok tok !

Pintu kamar itu di ketuk dari luar lalu muncul seorang wanita muda di depan pintu.

"Papah.." Sapa Lovena dengan senyuman manis. Dia berjalan menuju kemeja bapak mertuanya itu.

"Ya, ada apa Love..?" Teddy membuka kacamatanya.

Lovena mengambil duduk di kursi yang berhadapan dengan  Teddy.

"Makan malam sudah siap. Mamah nyuruh memanggil papah."

"Baiklah..."

Lovena tidak tau bagaimana untuk memulai obrolan karena Bapak mertuanya itu sangat serius orangnya. Garang dan tegas.

"Ada sesuatu yang mau di bicarakan sama papah, kah..?" Tanya Teddy

Lovena berubah menjadi gemetar tetapi dia harus juga mengatakannya.

"Papah, tau kenapa Qeef enggak datang malam ini..?"

"Sejak kapan kamu perduli sama Qeef..?"

Lovena malu sendiri. Bukan mudah mau mengambil hati Teddy, bisa bisa meneriaki diri sendiri karena kesalahan. "Bukan seperti itu, papah. Saya rasa papah harus tau tentang ini."

"Enggak ada sesiapa yang ngasih tau papah kan? Sebenarnya,  saya khawatir jika papah enggak tau. Barangkali hanya papah saja yang bisa menasehatin Qeef. Mamah merahasiakan soal ini karena  enggak mau papah merasa  khawatir. "

"Tentang apa...?"

"Qeef di rawat di rumah sakit,  karena masalah gizi dia semakin buruk."

Berubah wajah Teddy saat itu juga.

"Bukannya dia bilang dia sudah oke..?"

Lovena menggeleng pelan.

"Enggak, Papah."

Teddy mengeratkan rahang. Apa yang akan terjadi dengan anak bungsunya itu? Seorang pewaris seharusnya tidak lemah.

"Sayangnya.... banyak klien mengeluh karena dia kurang sopan santun. Saat makan siang atau makan malam meeting. Dia enggak akan makan. Semua even dia hadir, dia tidak akan makan. Klien besar kita menganggap dia tidak menghargai undangan. Karena itu lebih banyak yang suka bertemu sama Rully." Lovena mengambil kesempatan itu untuk mengangkat suaminya.

"Tapi Qeef... Dia lebih cekatan..."

Lovena tercengang mendengar jawaban  Teddy dengan ayat demikian. Satu kali lagi dia malu sendiri.

"Mungkin kita bisa bantu Qeef... mendapatkan perawatan di luar negri contohnya. " Lovena berpura-pura memberikan saran.

"Kamu bisa keluar dulu. Nanti papah turun."

"Papah, enggak memberi tahu mamah kalau Love kasih tau soal ini kan ? Mamah nantinya akan salah faham sama saya...."

"Kamu jangan khawatir. "

Lovena tersenyum. "Baiklah, saya turun dulu."

Teddy bersandar bersama satu keluhan berat lolos dari bibirnya setelah bersendirian.

"Papah kecewa sama kamu Qeef...sedangkan kamu lebih berpotensi dari kakak kamu yang lali itu. Dia mendapatkan pangkat juga karena pintar menyuap orang politik. Tapi, kamu bekerja dengan akal dan fikiran sendiri. Bagaimana papah mau menyerahkan perusahaan kepada kakak kamu..?"

*****

"Apa?! Mereka satu keluarga pergi ke Thailand..?" Keysa melongo dengan wajah yang merah padam. Tahap panas hatinya sudah meledak sepagi itu. Setelah sekian lama dia tidak bertemu dengan sahabat baiknya Indah, hari itu, barulah mereka berkesempatan 

"Mereka pergi kemarin. Kalau enggak, coba kamu fikir bagaimana aku sempat keluar ngopi seperti ini ? Hmmm... wangi kopi ini membuat aku hidup kembali." Indah memejamkan matanya sambil menghirup wangi kopi di cangkirnya.

"Memang tidak punya hati iya? Setiap kali pergi liburan pasti kamu enggak di ajak. Kalau enggak karena harus menjaga anak anak saudara kamu, beralasan harus menjaga rumah. Terus kenapa enggak ngambil ART saja !" Keysa marah dia menyilangkan kedua tangannya.

Nasib baik hanya mereka berdua saja di warung kopi itu karena masih awal pagi. Indah hanya tenang, dia benar-benar mau menikmati hari harinya tanpa ahli keluarga mertuanya.

"Aku oke... seenggak enggaknya aku bisa me taime seperti ini." Indah mengukir senyuman pehit. Lalu dia menyruput kopi latte di dalam cangkirnya. Pahit.... sepahit hidupnya.

Keysa menyibak rambutnya ke belakang. Dia merenung wajah sahabatnya itu yang kelihatan seperti tidak bermaya. Bukan seperti yang dia kenal dulu.

"Indah ... sampai kapan kamu mau hidup seperti ini? Kamu harus mengubah hidup kamu. Aku serius nih. Kamu ada ijazah, kau aslinya cantik. Paket lengkap untuk orang mengambil kamu bekerja."

"Hairi enggak mengizinkan..." Kata Indah menghentikan argumen Keysa.

Keysa terus mengeluh berat. "Hairi juga satu hal. Waktu masih kuliah dulu bersemangat banget ngejar kamu. Bersemangat  ngajak kamu nikah setelah berbincang karena takut kamu bertemu dengan orang lain. Iyalah .... kan pacar dia paling cantik di kampus. Setelah dia mendapatkannya.... membuat kamu enggak cantik lagi seperti ini. Eh... aku enggak mengerti lah."

"Itulah realitanya jika sudah menikah, Keysa.  Aku juga enggak bilang kalau aku menyesal,tapi... aku enggak menyangka hidup aku akan sadis seperti ini. Semua teman teman aku sudah sukses, ada kehidupan yang bagus biarpun mereka sudah menikah. Mungkin nasib yang baik enggak menyebelahi aku..."

"Belum terlambat Indah. Kamu masih muda. Baru berusia 27 tahun. Masih ada harapan Indah. Kamu harus melakukan apa yang kamu suka. Persetan dengan keluarga mertuamu yang dari neraka itu. Ini hidup kamu!!" Tegas Keysa.

"Mereka enggak membolehkan aku bekerja, karena tidak ada sesiapa yang bisa membereskan rumah. Mereka enggak percaya sama ART. Aku pernah mendapatkan penawaran kerja tapi gajinya hanya kecil saja. Mereka hanya Mentertawakan aku."

"Kurang ajar banget iya, eh.... aku. Eee.... seperti teringin ngomong. Tapi aku nanti dosa juga." Keysa mengetapkan bibir.

Indah tersenyum. "Kamu mau ngomong apa ? Nyuruh aku cerai..?"

Keysa hanya terdiam. Mukanya masih tertekan sedangkan Indah yang menanggung semuanya beban itu.

"Apa kamu sudah lupa, aku sudah melakukan 2 tahun yang lalu. Aku kabur dari rumah dan pergi kerumah almarhum kakek nenek aku. Habis pokonya aku di marahin sama paman dan dia mengusir aku. Kamu tau aku tidur dimana waktu itu? Aku tidur di gubug gubug. Aku tidak ada uang sepeserpu. Aku kelaparan. Dan akhirnya aku kembali pulang kerumah itu... kamu enggak faham Keysa. Perempuan yang tidak punya apa-apa seperti aku, tidak bisa membuat keputusan terburu  buru."

Keysa terdiam ketika mendengar kata-kata Indah sungguh menusuk jiwa, biarpun dia sudah tau kisah itu, mungkin Indah hanya ingin mengingatkannya kembali.

"Jadi... Aku butuh persiapan."

Keysa membawa badannya kedepan. Dia memandang wajah serius Indah.

"Apa maksud kamu..?"

"Kalau aku mau bercerai, aku harus ada tempat yang harus aku tuju. Aku harus ada uang, aku harus ada pekerjaan yang bisa menjamin masa depan aku. Tapi bukan mau bekerja kantoran seperti kamu. Aku sudah biasa kerja rumahan mengeluarkan banyak tenaga. Aku harus melakukan sesuatu yang aku suka. Sesuatu yang bisa mendapatkan keuntungan. " Jelas Indah sambil memandang jauh kedepan.

"Wow... Ho My God. Sudah lama aku enggak melihat kamu semangat seperti ini, Indah ! Jadi apa rencana kamu..?"

"Aku masih mencari cari peluang. Aku juga sudah lelah Key. Selama ini aku hidup hanya untuk kepentingan orang lain. Aku lupa dengan cita-cita aku. Aku lupa siapa diri aku."

Keysa lekas menggenggam kedua tangan Indah. Air matanya mengalir.

"Aku akan menysuport kamu 100 persen. Kamu harus bangkit Indah. Benar kata kamu, kamu harus ada persiapan. Apapun yang akan terjadi dengan masa depan kamu nanti. Seenggak enggaknya kamu tidak goyah. Aku enggak menyangka kamu cerdas, Indah !!"

"Waktu zaman belajar dulu, siapa yang selalu nyontek assignment, siapa..?" Indah bergurau.

"Iyaaa lah... Kamu memang dari dulu sudah cerdas. Hanya si Hairi saja lah yang menyebabkan kamu menjadi seperti ini. Aku yakin kalau waktu itu kamu enggak nikah sama dia, sekarang kamu pasti sudah jauh lebih sukses daripada aku."

"Kan semuanya bermula terlambat..?"

"Ya... masih ada harapan,Indah. Aku mendukung kamu."

BERSAMBUNG..

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED