"Mia! Apa yang kamu lakukan? Kamu barusan ngelawan Ibu lagi ya?"
Belum sepuluh menit duduk istirahat, suara Azmi, suaminya terdengar dari arah ruang tengah.
Sosok suaminya muncul diiringi ibu mertua dan kedua adik iparnya yang memandanginya dengan tatapan menyalahkan.
"Ngelawan? Siapa yang ngelawan, Mas?" Mia bangun lalu mendekati suaminya hendak mengambil tas kerja lelaki itu, tetapi dengan gerakan tak suka, Azmi mengibaskan tangannya.
"Nggak usah pura-pura patuh kalau kenyataannya kamu selalu ngelawan Ibu, Mia. Ibu barusan cerita, dari tadi kamu disuruh bantu beresin rumah nggak mau, malah duduk-duduk aja, sementara Ibu repot sendirian. Benar begitu?" Azmi mendelik menatapnya tajam.
Mendengar ucapan suaminya, Mia mendongak kaget. Ia tahu Bu Rina tak pernah menyukai kedatangannya sebagai menantu di rumah ini sejak awal, tetapi untuk tega memfitnahnya, sungguh ia tak pernah menyangka.
"Ng-nggak benar itu, Mas. Dari pagi aku bantuin Mbak Yem masak buat acara arisan Ibu, kok. Ini juga baru istirahat sebentar karena aku capek banget. Aku malah belum makan dari pagi, padahal janin di perutku ini butuh asupan gizi Mas, tapi aku belum makan karena ... Ibu melarang," jelas Mia menerangkan keadaan sebenarnya.
Namun, mendengar pembelaan diri darinya, bukannya percaya, Azmi justru berdecak sebal. Begitu pun Bu Rani yang serta merta melotot lebar.
"Apa? Dari pagi belum makan karena ibu larang? Mau bikin fitnah kamu ya? Dasar menantu gak punya sopan santun, mana mungkin Ibu tega berbuat seperti itu sama menantu sendiri!" sergah Bu Rina marah, membuat Azmi makin terlihat kesal.
"Terlalu kamu Mia, berani menuduh Ibu yang tidak-tidak! Cepat minta maaf dan kerjakan apa yang Ibu suruh! Jangan berhenti sampai semuanya beres!" hardik lelaki itu kembali dengan keras.
"Tapi, Mas ...?"
"Nggak ada tapi-tapi! Cepat kerjakan apa yang Ibu perintahkan baru boleh istirahat!" tukas suaminya dengan tajam lalu Azmi membalikkan punggung dan meninggalkannya diiringi tatapan sinis yang lain. Pun ibu mertua yang sempat menghadiahinya dengan tonyoran di kepala.
Ingin rasanya Mia menangis dan berteriak kencang untuk meluapkan rasa sakit di dalam hatinya tapi ia tahu itu percuma saja. Akhirnya setelah mengganjal perutnya dengan sisa kue di meja sofa, ia kembali mengerjakan apa yang diperintahkan ibu mertua padanya dengan terpaksa.
*****
Selesai membereskan semua pekerjaan rumah yang tadi diperintahkan sang mertua, Mia masuk ke dalam kamar. Tubuhnya terasa letih, pinggangnya sakit tak karuan.
Azmi, sang suami yang tadi sudah pulang kerja, sekarang entah ke mana. Biasanya sih sore-sore begini laki-laki itu jalan atau kongkow bersama teman-temannya di kedai kopi hingga larut malam. Tanpa pamit atau pun sekedar memberi tahu. Jangankan ingat salat, ingat istri yang sedang hamil muda pun tidak, keluh Mia pilu.
Perkawinan yang tak pernah ia bayangkan akan setragis ini dulu.
Berawal dari perkenalan tak sengaja saat ia kehujanan di jalan lalu lelaki itu memberinya tumpangan. Tak lama setelah itu Azmi pun melamarnya. Semua terjadi begitu cepat. Azmi yang ia kenal sebagai laki-laki lembut dan penyabar membuat ia percaya menyerahkan hidup dan cintanya pada lelaki itu hingga ia pun akhirnya menerima lamaran Azmi dengan penuh suka cita dan rasa bahagia.
Sayang, lambat laun sifat asli lelaki itu mulai terkuak, kedok siapa dirinya pun terbongkar. Pun sikap ibu mertua yang ternyata tak pernah menyetujui pernikahannya sejak awal. Tetapi karena kekerasan hati Azmi untuk meminangnya, maka Bu Rina pun terpaksa mengalah. Namun, itu membuat mertuanya dendam dan menjadikan dirinya pembantu di rumahnya ini.
Dengan alasan berasal dari keluarga miskin yang tak akan bisa memberikan andil bagi kesuksesan hidup sang anak, Bu Rina memperlakukan Mia bak babu yang bisa disuruh-suruh dan diperintah seenaknya untuk melakukan apa saja di rumah ini tanpa boleh menolak, meskipun sedang hamil. Beda dengan penghuni atau pun menantu yang lain.
Setelah tinggal satu rumah, barulah Mia tahu siapa Azmi dan ibunya sebenarnya. Azmi yang termyata tak pernah sungguh-sungguh mencintainya melainkan menikahinya hanya demi membalas sakit hati dan menjadikan dirinya pelarian setelah ditinggal menikah kekasihnya lebih dahulu, membuat lelaki itu lambat laun mulai berubah sikap, tak lagi sehangat dan seromantis awal menikah dahulu.
Sayang, tak mungkin baginya meminta cerai secepat ini dari lelaki itu. Saat ini dirinya sedang mengandung anak dari Azmi dengan usia kandungan yang masih sangat muda, baru tiga bulan.
Tak mungkin ia pulang ke rumah orang tuanya dalam keadaan hamil muda dan bercerai dari suaminya. Apa kata kedua orang tuanya nanti? Apalagi bapaknya memiliki riwayat penyakit jantung yang tidak main-main. Beban pikiran sedikit saja bisa membuat penyakit sang bapak kambuh.
Itu sebabnya, Mia terpaksa menahan semua derita dan sakit hatinya sementara ini sampai bayi yang dikandungnya lahir dan telah memiliki legalitas agar kelak ia tak perlu bingung jika sesuatu terjadi dengan pernikahannya.
Setelah itu ia akan berusaha bangkit perlahan-lahan dan mulai menunjukkan pada suami, mertua dan keluarganya bahwa ia sebenarnya tidaklah selemah, sebodoh dan semiskin yang mereka pikirkan dan mereka kira selama ini.
Kusembunyikan Kekayaanku Dari Suami dan Mertua Zalim (3)
Mia meraih ponselnya saat benda pipih segi empat itu berbunyi. Sebuah notifikasi pesan whatsapp tampak bergulir di atas papan layar. Pesan dari admin aplikasi kepenulisan yang sedang ia tekuni saat ini.
Berawal dari ketertarikan dirinya saat banyak teman-temannya di dunia maya menceritakan pengalaman mereka saat mereka menuangkan hobi tulis menulis yang dimiliki dengan bergabung di beberapa aplikasi kepenulisan online yang saat ini tengah marak berkembang, Mia pun merasa tertarik dan mulai mengikuti jejak teman-temannya meluapkan hobi di bidang literasi dengan mencoba menulis novel dan mempostingnya di aplikasi menulis online tersebut.
Tak disangka keisengan yang berangkat dari hobi tersebut ternyata menghasilkan royalti cukup lumayan. Namun, royalti tersebut memang belum diterima karena ia juga baru satu bulan belakangan ini. Dan hari ini, merupakan hari yang dijadwalkan oleh pihak aplikasi untuk mentransfer royalti penulisnya.
Sigap, Mia meraih ponsel dan membuka pesan itu.
[Selamat, pembayaran royalti bulan Desember 2021 sebesar lima puluh lima juta tiga ratus empat puluh ribu rupiah telah dibayarkan ke rekening anda. Silahkan cek dan terima kasih untuk kerja samanya. Semangat berkarya untuk menghasilkan tulisan yang lebih bagus lagi ya. Semangat!]
Wanita itu tersenyum saat mendapati pesan menggembirakan tersebut. Segera ia membalas dengan ucapan terima kasih lalu menutup aplikasi berwarna hijau di ponselnya dan beralih membuka aplikasi perbankan di layar yang sama.
Beberapa hari lalu ia memang sudah mendaftarkan nomor rekeningnya itu agar bisa menggunakan fasilitas mobile banking supaya sewaktu-waktu bisa mengecek saldo rekening tanpa perlu ke atm.
Alhamdulillah berhasil. Jadi sekarang ia bisa mengecek melalui ponselnya saat ini juga.
Mia membuka ikon mobile banking di layar benda pipih dalam genggamannya, memasukkan identitas dan password lalu meluncur melihat mutasi pada nomor rekeningnya. Dan wanita itu tersenyum kaget sekaligus bahagia saat akhirnya mendapati jumlah yang sama yang barusan diberitahukan pihak admin telah terisi pada nominal jumlah tabungannya.
Lima puluh lima juta tiga ratus empat puluh ribu rupiah.
Bukan jumlah yang sedikit bagi Mia. Sebaliknya, justru sangat besar. Untuk pendapatan selama satu bulan menulis, baginya jumlah itu di luar target dan ekspektasinya semula.
Allah memang tak membiarkannya kesulitan sendiri menghadapi roda kehidupan yang saat ini sepertinya sedang menguji ketabahan dan kesabarannya. Allah ternyata selalu bersamanya dan mendengar doa-doanya.
"Mia ...!"
Mia tersentak kaget saat mendengar panggilan keras dari luar kamar. Suara Bu Rina yang sedang memanggilnya terdengar memekakkan telinga dari arah sana.
Wanita itu buru-buru menutup ponsel lalu menyembunyikannya di bawah bantal dan berlari menuju pintu untuk menanggapi panggilan ibu mertuanya.
"Ya, Bu. Ada apa?" Mia membuka pintu lalu bertanya pada Bu Rina yang berdiri di depan pintu kamar tanpa sedikitpun senyum di bibir wanita itu.
"Kamu ngapain di kamar? Keluar ... belikan ibu dan adik-adikmu bakso di luar."
"Baik, Bu. Uangnya, Bu?" Mia mengangguk lalu menengadahkan tangannya meminta uang pada mertuanya tetapi Bu Rina justru melihatnya dengan pandangan kesal.
"Dasar menantu miskin! Dari tiga menantu cuma kamu yang nggak pernah bisa menyenangkan mertua. Beliiin bakso aja nggak sanggup. Dasar orang miskin, heran kok bisa-bisanya Azmi milih kamu jadi istri! Benar-benar salah pilih! Nih, belikan bakso tiga! Kamu nggak usah, makan yang ada di dapur aja nanti, kuah sisa soto tadi siang kan masih ada!" sergah Bu Rina sembari tak urung menyerahkan selembar uang berwarna biru pada Mia.
Mendengar ucapan sang mertua, batin Mia rasanya kembali tergores sakit. Betapa pedih penghinaan yang harus ia dengar terus menerus dari mulut wanita di depannya itu. Namun, ia berusaha sabar menekan emosi di hatinya yang sesaat bangkit.
Biarlah ia diam dan mengalah. Toh, kenyataannya, saat ini ia bukanlah menantu miskin. Dalam tabungannya sekarang telah terisi nominal uang yang tidak sedikit. Bisa digunakan untuk mentraktir makan bakso orang satu kampung kalau ia mau.
"Baik, Bu. Aku permisi dulu. Sebentar aku ambil jilbab dulu ya, Bu."
Mia berbalik lalu masuk ke kamar, sementara sang mertua hanya mendengkus kesal.
"Ingat, beli tiga aja! Kamu nggak usah minta! Balik duitnya dua puluh ribu! Jangan lupa!"
"Baik, Bu."
Mia masuk kamar, mengambil jilbab dan memasangnya di kepala. Lalu mengambil kartu ATM yang ia simpan di bawah tumpukan baju dalaman miliknya agar tidak diketahui siapa pun juga dan beranjak ke luar kamar.
Setelah itu dengan mengendarai roda dua miliknya yang ia beli sebelum menikah dengan Azmi, wanita itu pun menuju ke pasar dengan beberapa rencana yang sudah ada dalam benaknya.
Note : Maaf kalau babnya pendek ya. Insyaallah untuk bab yang dikunci akan dipanjangkan. Thanks.