Royal Ruby Luxury Hotel, Jakarta
Tiga bulan lalu...
“Ugh!” Kepala Giselle berdenyut begitu hebat. Mulutnya rasanya seperti habis mengunyah kapas puluhan kilo. Terasa tidak nyaman. Matanya mengerjap beberapa kali untuk mencapai fokus dan mencari waktu agar otaknya bisa berfungsi dengan normal.
Di mana ini?
Ruangan ini masih gelap karena tirai jendela masih tertutup. Namun secara intuitif Giselle tahu jika sekarang sudah pagi, atau mungkin siang hari. Suara derung pendingin ruangan yang stabil pun menjadikan satu-satunya sumber suara ruangan yang sunyi ini.
Ah, dan tentu saja suara nafas Giselle dan pria asing yang tidur memeluknya kini.
Pinggangnya terasa berat, dan ketika pandangannya jatuh menuju sumber yang memberatkan pinggangnya, dia melihat lengan kekar melingkari tubuhnya. Pun akhirnya Giselle menyadari punggungnya terasa hangat karena pelukan dari pria yang Giselle masih belum menyadari dan mengingat siapa gerangan orang ini.
Astaga! Apa yang terjadi?!
Dengan sedikit panik, Giselle mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi tadi malam. Perlahan dia mencoba mengangkat lengan yang memenjarakan dirinya.
Pria di belakangnya tidak bergerak ketika dirinya berhasil beranjak dari ranjang yang berantakan. Matanya membelalak melihat‘kerusakan’ yang terjadi akibat ulah mereka semalam.
Giselle mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari potongan bajunya yang berceceran di karpet lantai ruang hotel ini.
Astaga Giselle! Kau sungguh-sungguh bertindak gila semalam!
Gadis itu berhasil mengambil bra, celana dalam dengan warna dan motif senada, serta blus hitam dan rok span hitamnya ke dalam rengkuhannya. Tak lama setelahnya, dia segera bergegas ke toilet untuk mencuci muka dan segera kabur dari hotel ini.
Di kamar mandi pun Giselle memekik kaget melihat pantulan wajah dan tubuhnya yang polos telanjang. Bekas tanda cinta tersebar sepanjang leher dan dada Giselle. Bekas kemerahan yang timbul dari gesekan brewok tipis dan halus yang menghiasi dagu milik partnernya yang sukses membuat kulitnya berubah kemerahan pun terpampang di dada serta selangkangannya.
Seberapa liar mereka melakukan sesi percintaan semalam? Giselle benar-benar tidak mengenali dirinya yang sekarang ini. Dasar alkohol sialan! Bisa-bisanya Giselle melakukan salah satu kebodohan seperti ini?
Dengan tergesa-gesa Giselle memakai bajunya setelah dia mencuci mukanya dan menggosok giginya dengan kecepatan cahaya. Rambutnya lurus hitam dan panjangnya dia cepol asal untuk menutupi betapa berantakan dan kusutnya rambut tersebut.
“Kau benar-benar terlihat seperti pecundang, Giselle!” Dia merutuki dirinya sendiri. Setelah berhasil melakukan semuanya dalam kecepatan kilat, Giselle kemudian keluar dari kamar mandi dan mencari tote bag serta stiletto Monolo Blahnik miliknya. Tasnya berada di dipan, sedangkan sepatunya berada di dekat pintu masuk.
Mengendap seperti maling, Giselle berhasil meraih seluruh barang-barangnya dan kemudian bergegas membuka pintu agar jangan sampai membangunkan pria asing tersebut dan keluar dari hotel Royal Ruby ini.
Dahulu Giselle hanya tahu istilah walk of shame dari produk pop kultur seperti novel atau film-film Hollywood.
Pulang kembali ke rumah keesokan harinya dengan pakaian yang sama, disertai dengan penampilan yang meneriakkan kepada khalayak ramai, 'hey! Aku baru saja melakukan percintaan paling hebat sepanjang hidupku!'
Dan dia tak menyangka kalau hari ini, dia benar-benar melakukannya!
Benar-benar memalukan, Giselle!
***
Akira Hangga Aryanto membuka matanya dari sergapan sinar matahari yang menelusup masuk lewat celah gorden. Tak lama setelah sadar, dia langsung bangkit dan melihat sekeliling ruang hotel.
Kosong.
“Ah, sial!” Rutuk Akira.
Dia meraih celana pendek Hugo Boss yang tercecer di lantai dan mengecek kamar mandi, siapa tahu gadis cantik yang menemaninya melewati malam kemarin masih ada di sana. Benar dugaannya, kamar hotel ini kosong dan kini hanya dirinya sendiri berada di dalamnya.
“Aku bahkan belum menyimpan nomor teleponnya!” Akira mengusap wajahnya dan menghela nafas panjang.
“Ck … begini toh rasanya kena ghosting sama perempuan,” ucapnya sambil misuh-misuh.
Ternyata rasanya tak karuan. Dengan berat hati dia beranjak dan mulai menata hatinya yang sempat terhantam perasaan gengsi setelah ‘ditelantarkan seperti ini di pagi hari. Akira akhirnya membasuh wajahnya dan membersihkan diri sebelum pergi keluar dari kamar hotel ini.
Lain kali, dia akan menolak ajakan one night stand dari para perempuan yang menggodanya. Segiat apapun mereka menggodanya, dan secantik apapun wajah sang perempuan. Akira telah mendapatkan pelajaran yang cukup berharga hari ini.
Untuk pertama kalinya dia dicampakkan! Dia tersenyum kecut mendapati keadaannya pagi ini yang cukup mengenaskan.
Usai memakai kembali pakaiannya, dia berkeliling untuk memastikan tak ada yang tertinggal di dalam ruangan ini.
Tapi tak disangka, dia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia menemukan syal sutra bermotif bunga yang tersembunyi di bawah ranjang tempat tidur. Dia menarik syal sutra tersebut, mengamati motif dan menemukan emboss kecil di ujung syal.
Giselle.
“Giselle … itukah namamu, gadis cantik?” Akira tersenyum masam sambil meraba tekstur halus syal tersebut.
“Sampai berjumpa lagi Giselle, lihat saja apa yang akan kulakukan nanti jika kita kelak bertemu lagi.” Ujar Akira sambil menghirup sisa aroma parfum sang gadis yang melekat di helaian syal tersebut.
Giselle benci hari Jumat malam. Terutama Jumat malam seperti ini.
Di saat seluruh rekan kerjanya bersuka cita menyambut akhir pekan dan melepaskan diri dari kepenatan beban dan tumpukan kerja, Giselle kini malah memilih menyibukkan diri dengan membaca ulang kontrak yang baru saja dia amankan dan dapatkan dengan Sudibyo Corporation.
Sudibyo Corporation adalah salah satu perusahaan yang bisnis utamanya bergerak di bidang real estate. Meskipun tidak sebesar Danudihadjo Enterprise yang memang diakui sebagai perusahaan privat terbesar di Indonesia. Setidaknya Sudibyo Corporation memiliki rekam jejak yang baik dengan kekuatan finansial yang stabil, cenderung meningkat dan yang terpenting cukup sehat.
Meskipun kini terdengar desas desus bahwa akan ada proses merger dan akuisisi antara Sudibyo Corporation dengan raksasa bisnis di Indonesia, Danudihardjo Enterprise. Salah satu mega proyek dan beberapa konsultan besar sudah siap berdiri di belakang untuk mengambil kesempatan bersejarah dalam dunia korporasi di Indonesia.
Dia menguap, lalu secara refleks melirik jam digital kecil yang terpampang di sudut mejanya sudah menunjukkan pukul 19.30 malam. Ini tentu saja masih pagi dalam kamus pekerja gila macam Giselle.
Beberapa bulan sebelumnya dia bahkan sanggup bekerja hingga jam 3 dini hari, menunggu hasil kerja anak buahnya yang juga terpaksa lembur untuk mengejar deadline yang ditetapkan oleh salah satu klien mereka.
Giselle Putri Natapradja – seorang konsultan di sebuah kantor bonafit The Converge seringkali disapa dengan sebutan The Queen Bee. Sebuah panggilan nama yang layak Giselle sandang, menurut pribadinya sendiri.
Dia adalah salah satu senior konsultan di perusahaan ini dengan umur termuda dibanding rekan kerja lainnya. Sudah 26 tahun Giselle merayakan ulang tahunnya sejak dia pertama kali dilahirkan di tanggal 20 Januari dua puluh enam tahun lalu.
Kenapa disebut The Queen Bee? Ya karena Giselle adalah satu-satunya perempuan menonjol dan ambisius dalam The Converge. Banyak proyek yang gol di bawah kendali Giselle.
Secara sederhananya, Giselle adalah the IT GIRL dalam kantor ini. Semua orang terpesona kepadanya. Tidak hanya tertarik karena fisik, namun juga karena otaknya yang begitu cerdas dan penampilannya yang menawan.
Lulusan sekolah bisnis dengan full ride atau beasiswa penuh di salah satu Ivy League University, yaitu The Wharton School of The University of Pennsylvania. Secara pendidikan dia memang menjadi salah satu tumpuan bagi perusahaan tempatnya bernaung dan memulai karirnya di Indonesia.
Brain, Beauty, and Behaviour.
Kecerdasan, kecantikan, dan tata krama yang membuat banyak orang iri.
Semua ada dalam diri Giselle.
“Coba saja lo ikut ajang pemilihan ratu kecantikan model Putri Indonesia, pasti gue jamin lo bisa menang. Atau minimal, bisa dapat tiga besar,” ujar salah seorang teman Giselle ketika mereka hangout bersama di sebuah restoran yang sedang viral di ibukota.
Tentu saja Giselle menepis ucapan tersebut dan menanggapinya dengan tawa ringan.
“Aduh, nggak dulu deh. Usia gue sudah segini. Nggak mungkin masuk juga!"
"Lagipula udah sibuk banget ini sama kerjaan. Mana sempat ikut acara begituan,” tepis Giselle santai pada waktu itu.
"Bu Giselle, ini anak-anak mau cabut ke Senopati. Mau ikutan nggak? Kayaknya ada yang mau buka table deh. Ada acara ulang tahun di salah satu divisi, Bu." Suara salah satu staf-nya membuyarkan ingatannya.
Rindi, salah satu staff di bawahnya yang baru satu tahun bekerja di sini sepertinya mendapatkan tugas dari rekan-rekannya yang lain untuk datang ke ruangannya dan mengundang Giselle untuk datang.
Tentu saja mereka berharap Giselle bisa datang. Di mana ada Giselle, pasti banyak orang yang datang ke meja mereka untuk modus dan sksd ingin berkenalan dengannya.
Tapi sejak dia putus dengan mantan pacarnya tiga bulan lalu, dia sungguh tidak berminat untuk kumpul-kumpul dan mencari distraksi dari rasa sakit hatinya.
Sudah kapok!
Buktinya, ketika dia menuruti kegilaannya, dia berakhir dengan tidur bersama orang asing. Sungguh memalukan. Sebuah kenangan yang ingin segera Giselle enyahkan dari memorinya.
Giselle menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis menyiratkan penyesalan.
"Duh, maaf ya Rindi. Masih banyak kerjaan nih! Nggak bisa ditinggal pula!" Tolak Giselle dengan halus.
Dia mengibaskan lembaran kertas yang saat ini dipegangnya. Belum lagi jika Rindi jeli memperhatikan, ada beberapa tumpukan folder di meja luas milik Giselle yang berbentuk Letter L untuk mengakomodasi satu All in One PC dan satu Macbook keluaran terbaru untuk menunjang aktivitas kerjanya.
"Have fun ya di sana. Pasti gue juga bakal ngerasain vibes-nya kok kalau kalian update story atau feeds di instagram kalian." Tutur Giselle sekali lagi dengan sopan.
Tapi sungguh, semakin hari dia semakin malas dengan hiruk pikuk dunia malam dan juga cara teman-teman kantornya melepas penat setelah seharian atau semingguan bekerja keras.
Buka table, minum-minum, dansa gila-gilaan di tengah lantai dansa.
Giselle sejujurnya sudah muak, dan karena itu dia semakin sering menolak ajakan teman-teman atau rekan kerjanya kalau sudah menjurus pada kegiatan tersebut. Lebih baik dia mengerjakan pekerjaan atau jika sudah penat.
Seperti pergi pergi ke supermarket, window shopping melihat sayuran hijau atau buah-buahan beraneka warna. Rasanya lebih menenangkan dibanding menghabiskan uang untuk mabuk-mabukan.
"Sayang banget Bu Giselle." Rindi akhirnya harus berpuas diri karena tidak berhasil membujuk salah satu konsultan senior yang cukup terkenal di seantero gedung tempat kantornya bernaung di daerah Pusat Sentra Bisnis Sudirman ini, atau yang dikenal dengan nama SCBD.
"Ya udah deh, Bu. Saya kabari anak-anak yang lain." Rindi beranjak dari ruangan Giselle dan meninggalkannya yang kembali mencoba berfokus pada lembaran kertas dalam genggaman tangannya.
Sebenarnya ada hal lain juga yang membuat dia kini terlihat lebih seperti pekerja gila yang selalu bekerja ekstra keras tanpa putus.
Posisi partner.
Posisi yang vakum dan kosong dalam dua bulan terakhir ini karena ditinggal resign oleh Mas Dirga. Atasan langsungnya itu memilih untuk menetap di Kanada menemani sang istri yang mendapatkan beasiswa penelitian doktoral di sana.
Mas Dirga adalah mentor yang sejak pertama kali Giselle masuk ke The Converge 4 tahun silam selepas dia lulus kuliah S1.
Di bawah arahan dan bimbingan Mas Dirga, Giselle berhasil naik menjadi posisi konsultan senior dan hanya satu langkah lagi menjadi partner dalam waktu kurang dari lima tahun.
Pak Hasan, senior partner dan juga Co-Founder The Converge ini sebenarnya tidak mempermasalahkan jika Giselle ingin mengikuti bursa pemilihan untuk posisi partner tersebut.
Tapi Pak Hasan sudah mewanti-wanti bahwa posisi ini adalah prerogatif pilihan Pak Hasan. Yang artinya tentu saja posisi ini tidak seratus persen aman diberikan kepada Giselle yang terhitung masih 'bau kencur' dalam industri jasa ini.
Giselle harus bekerja keras untuk membuktikan kepada bosnya bahwa dia layak untuk mendapatkan posisi Partner.
Dan dia akan melakukannya mulai dengan menyelesaikan proyek Sudibyo yang baru saja berhasil dia dapatkan dan sukses untuk menutup kesepakatan kerja sama konsultasi sekitar dua minggu lalu setelah melalui proses negosiasi yang cukup alot dan juga melelahkan bagi Giselle.
Si perempuan karir ibu kota yang selalu dianggap sebelah mata oleh para pria yang mendominasi industri ini. Dia berhasil sekali lagi membuktikan bahwa dia mumpuni dan mampu bersaing dengan para pria yang hanya menganggapnya sebagai objek seksual.
Atau yang lebih parahnya, menyamakan dirinya dengan stereotype seksis seperti ikon Barbie.
Si cantik tapi tidak ada otak.
Setelah Rindi menginterupsi ke dalam ruangannya, Giselle menjadi sulit untuk mengumpulkan niat dan konsentrasi untuk kembali mempelajari dokumen tebal proyek terbaru.
Gadis itu akhirnya menghela nafas panjangnya.
Kenapa akhir-akhir ini hidupnya begitu membosankan dan hampa? Apa karena dia merasa kesepian?
Apakah dia perlu mencari pacar lagi? Karena semakin lama semakin sering bayang-bayang samar pria tampan yang dulu pernah menjalani malam bersamanya mengusik batin dan pikirannya.
Jika dia tidak mengalihkan pikiran tersebut lewat pekerjaan, terkadang sekelebat memori tentang satu malam panas di Hotel The Royal Ruby mampir ke dalam pikirannya tanpa diundang.
Tapi buru-buru dia tepis pikiran itu.
“Duh, fokus Giselle! Jangan pikirkan orang itu lagi! Apalagi scarf kesayanganku juga diambil orang itu!” Gumam Giselle kesal jika mengingat ada yang hilang dari dirinya setelah kejadian tiga bulan lalu.
Ya, yang hilang bukan hanya scarf hadiah kesayangan dari neneknya, tapi juga akal sehatnya!
Akira Hangga Aryanto memulai Senin pagi kali ini dengan semangat baru. Ini adalah hari pertamanya pindah ke perusahaan konsultasi baru.
The Converge.
Perusahaan jasa konsultasi dalam negeri yang bersaing secara skala besar dengan perusahaan top 4 konsultan dari luar negeri yang memiliki kantor di Indonesia.
Akira Hangga Aryanto, pria lajang berumur 29 tahun dengan darah campuran Jepang dari Ibunya – Miyaki Honda, dan setengah lagi dari ayahnya yang berasal dari desa kecil di Jawa Tengah.
Secara penampilan, dia adalah tipikal eksekutif muda yang banyak bertebaran di Jakarta. Mengais rezeki dan meniti karir di berbagai lini bisnis yang ditawarkan oleh Ibu Kota Indonesia, Jakarta.
Citra Akira sebagai eksekutif muda dengan gaji tinggi terukir jelas dari cara berpakaiannya yang biasanya selalu dilengkapi dengan kemeja, dasi sutra dan terkadang memakai jas hitam jika ada acara-acara formal, saat bertemu klien atau petinggi pemerintahan.
Jika dia pulang bekerja atau berada di waktu liburnya, pakaiannya berubah menjadi sesederhana kaos dengan warna monokromatik seperti hitam, putih dan abu-abu, celana kapri atau jeans serta dilengkapi dengan sneakers untuk membuatnya nyaman bergerak dan melakukan mobilitas.
Dua bulan lalu dia mendapatkan tawaran scouting dari beberapa headhunter yang sibuk mencari seorang kandidat untuk posisi Partner di sebuah perusahaan konsultasi bonafit di Jakarta.
“Ayolah, Pak Akira! Target akhir bulan saya, Pak. Tidak ada salahnya untuk mencoba melihat kesempatan ini dahulu kan, Pak?” Bujuk sang rekruter yang pantang menyerah.
“Ya sudah, coba atur waktunya saja, Mas. Saya coba deh!” Seru Akira akhirnya.
Dia cukup capek juga menolak pendekatan dari headhunters yang begitu gigih untuk menawarkan Akira proses interview dengan pendiri dan partner perusahaan konsultasi ini.
Akhirnya Akira mengiyakan jadwal interview, dan tak disangka mereka berhasil membujuk Akira untuk menerima tawaran menarik serta jenjang karir instan lebih cepat yang akan mereka berikan kepada Akira jika dia setuju untuk mengambil posisi ini.
[Mas Akira, minggu ini kita bisa latihan aikido lagi tidak?]
Sebuah pesan masuk, dan Akira mengecek ponselnya. Ternyata adik laki-lakinya, Akito. Tak lama satu pesan lain juga muncul. Kali ini dari adik perempuannya. Akina.
[Oniichan, bisa sisihkan waktumu untuk resital baletku dalam bulan ini?]
Melihat dia sudah ditagih kehadirannya oleh kedua adiknya, Akira berinisiatif untuk menelepon ibunya sekaligus mengecek keadaan rumah orangtuanya.
“Halo, Mama?” Sambungan pertama segera terangkat, dan Akira menyapa hangat ibunya.
“Moshi-moshi Akira-chan! kenapa pagi-pagi menelepon? Ada apa?” tanya ibunya di balik sambungan telepon.
“Tidak ada apa-apa, Ma. Aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi. Ah, dan juga … hari ini aku masuk kerja di tempat baru,” ujar Akira mengabarkan.
“Semoga sukses ya, Akira! Nanti kabari kami bagaimana kantor barumu, ne?” tanya sang ibu dengan logat jepang yang masih belum bisa sepenuhnya hilang.
“Iya, Ma. Mungkin minggu ini aku akan pulang mengunjungi rumah,” ucapnya sambil membawa tasnya dan bergegas masuk ke dalam mobilnya.
“Ah! Ide bagus. Nanti Mama siapkan kare daging kesukaanmu.” jawab Mama sambil tertawa riang.
Tak lama setelah itu, sambungan ditutup dan Akira siap untuk memulai harinya.
Memulai hari Senin seperti biasa, rutinitas pagi hari yang dijalani Akira pagi ini dia sudah rapi setelah sebelumnya dia berolahraga jogging di sekitar rumahnya, lalu mempersiapkan sarapan sendiri dan telah siap untuk berangkat kerja pukul tujuh pagi.
Kantor barunya yang berada di bilangan SCBD sebenarnya – jika tidak dalam waktu sibuk, jaraknya tidak terlalu jauh dengan kantornya yang lama di bilangan Thamrin.
Butuh waktu sekitar satu jam atau satu setengah jam saat macet begitu gila melanda jika dia berangkat naik mobil Pajero Sport berwarna putihnya yang berhasil dibeli lunas secara tunai setelah menabung tiga kali bonus tahunan dan juga hidup sedikit lebih berhemat.
Dia sering membawa kopi sendiri, tidak foya-foya makan malam atau makan siang dengan sekali close bill seharga dua juta rupiah, dan tidak pergi menghamburkan uang dengan menghabiskannya demi gengsi membuka table atau mentraktir temannya pergi ke Bali demi menjaga gengsi. Dia juga menahan diri dengan tidak pergi berlibur ke Jepang mengunjungi nenek dan kakeknya setahun yang lalu.
Hasilnya, dia bisa mengganti mobil sedan Mercedes bekas yang pertama kali dibeli semasa dia menjadi lulusan baru dengan mobil baru ini. Kini dia hanya perlu memikirkan cara dan menabung serta berinvestasi ekstra keras untuk melunasi KPR nya yang masih tersisa sekitar tiga tahun lagi.
Kantor The Converge terletak di Pristine Tower lantai 45.
Pristine Tower merupakan salah satu gedung tertinggi di kawasan sentra bisnis ini, dan menjadi landmark baru dari sentra bisnis Sudirman.
Menurut Pak Hasan, dia akan diberikan ruang khusus tempat Partner sebelumnya resign. Nanti dia akan memiliki tim yang terdiri dari satu senior consultant dan beberapa junior consultant yang bisa ditambah atau dikurangi tergantung volume dan tingkat kerumitan proyek, serta beberapa staf umum yang bisa diperbantukan secara ad-hoc.
Saat Akira masuk ke dalam lift untuk menuju lantai empat puluh lima, dia merasakan beberapa orang, atau perempuan lebih tepatnya berbisik-bisik dan berusaha sebisa mungkin berbicara satu sama lain tanpa terdengar orang lain.
“Astaga, ganteng banget!” Bisik satu orang perempuan di sudut kanan belakang lift.
“Lantai berapa itu turunnya? Coba cek deh!” ujar satu orang lainnya yang ternyata suaranya lebih kencang sehingga membuat beberapa orang yang berada di dalam lift cekikikan dan menoleh ke sumber suara.
Di dalam lift hanya ada tiga laki-laki termasuk Akira. Dua di antaranya adalah pria senior berumur di atas empat puluh tahun. Dan yang terakhir yang baru masuk adalah Akira.
Akira tentu saja mencoba untuk tetap tenang. Belum tentu yang menjadi objek pembicaraan ini adalah dirinya. Siapa tahu mereka memang menyukai tipe-tipe pria matang seperti dua pria penghuni lift ini.
“Mukanya mirip banget kaya idol K-Pop! Astaga!” desis satu orang perempuan yang ikut nimbrung bergosip di belakang.
That’s it!
Telinga Akira akhirnya memerah. Merasa sepertinya hampir lima puluh persen dia yakin kalau perempuan tersebut bergosip tentang dirinya.
Rasanya idol Kpop tidak mungkin mirip dengan wajah asli Indonesia seperti kedua pria yang berada satu lift dengannya, kan?
Hanya wajah keturunan Jepang-nya yang mungkin menyerupai idol dari Korea Selatan tersebut.
Wajahnya putih seputih susu, keturunan ibunya yang asli Jepang. kelemahannya adalah jika dia malu, mabuk, atau capek setelah workout, wajahnya pasti memerah seperti kepiting rebus.
Sulit menyembunyikan perasaannya jika dia dihadapkan oleh situasi yang membuatnya kikuk atau gelagapan dan sukses memompa adrenalin serta jantungnya.
Akira merasa sedikit tersanjung, bisa disamakan dengan Idol dari negeri Gingseng yang pastinya memiliki jutaan penggemar. Tapi tetap saja, dia merasa risih dibicarakan secara terbuka – atau lebih tepatnya secara bisik-bisik di dalam ruang tertutup seperti ini.
Dan sepertinya tidak hanya dia saja yang risih, salah satu pria yang berdiri di belakang Akira akhirnya berdehem keras dan memecah kehebohan yang terjadi di sudut belakang lift. Membuat mereka sadar tempat dan menutup mulutnya.
Lantai empat puluh lima, akhirnya Akira bisa keluar dari lift dan meninggalkan grup gosip tersebut!
Dia berjalan lurus sesuai dengan papan indeks perusahaan yang terpampang di dinding lantai empat puluh lima.
Akira melihat kantor The Converge yang mengambil tiga unit sekaligus sebagai tempat operasionalnya. Dari luar dia melihat kantor tempatnya bernaung mulai hari ini, yang bergaya modern minimalis dengan sentuhan earth tone yang didominasi warna kayu serta beberapa tanaman dan bunga potong hias yang menjadi ornamen di foyer dan ruang resepsi tamu.
“Kantor baru! Here we go!” ucapnya dengan penuh semangat sebelum membuka pintu kaca kantor dan melangkah masuk dengan percaya diri.