Cherry menatap pantulan dirinya di cermin, menghela napas sebelum menunjukkan seulas senyum di sana.
Hari pertama masuk di lingkungan sekolah baru tak serta merta membuatnya langsung bergembira. Tentu banyak hal yang dia takutkan nantinya.
Dari takut kalau ada yang tidak suka dengannya, takut jika gurunya galak-galak, takut kalau ada siswa cowok yang semena-mena, dan masih banyak lagi.
Tak semudah itu beradaptasi dengan lingkungan baru, tak semudah itu juga melupakan lingkungan lama. Oleh sebab itu dia harus menyiapkan mental dari sekarang.
"Kamu pasti suka bolos kalau sekolah." Cherry menatap Raka dari pantulan cermin.
"Sok tahu." Cowok itu menyisir rambut gadisnya pelan.
"Tahu, lah. Orang nakal kayak kamu mana mungkin jadi siswa teladan."
Raka tertawa tanpa menjawab, membuat Cherry yakin kalau tebakannya benar.
"Yang katanya cinta sama aku aja masih suka nyebelin, apalagi sama orang lain." Gadis itu mengambil body lation, berniat memakainya sendiri agar cepat selesai.
"Siapa yang suruh pakek ini sendiri?" Raka menyerobot botol body lation dari tangan kekasihnya.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya namun tak khayal mengalah juga. Raka kalau ditentang suka ngamuk, tak main-main hanya melihat wajahnya saja Cherry bisa sampai mewek.
Kena mental.
"Nanti kalau aku udah sekolah di sana aku jamin kamu bakal rajin berangkat sekolah," kata Cherry, mengangkat dagunya sedikit ke atas.
"Yakin amat." Raka mengoleskan lotion di tangan putih Cherry.
Gadis itu memainkan rambut Raka sebentar, "Pasti dong. Kalau nekat bolos, aku bakal selingkuh." Ancamnya.
"Silakan. Tapi ingat, dua jam setelah lo selingkuh, gue jamin selingkuhan lo bakal koma di rumah sakit," ucap Raka penuh penekanan.
Cherry bergidik ngeri, "Sadis amat ancamannya."
"Kurang sadis sih. Gue tambah lo bakal gue perkosa."
"Ih... jangan!" Cherry menyingkirkan tangan Raka yang tengah mengoleskan lotion di kakinya.
Cowok itu terkekeh, "Kenapa? Gue cuma mau pakein lotion."
"Aku pakek sendiri." Gara-gara perkataan Raka, Cherry jadi parno sendiri.
Cowok itu mengangguk sambil mengulum senyum. Dia beranjak berdiri mengamati meja Cherry yang penuh dengan make up.
Jelas saja Cherry suka telat saat janjian kencan dengannya, ternyata dia butuh ritual cukup lama dengan benda-benda tersebut.
"Udah selesai." Cherry berdiri dan langsung berhadapan dengan Raka.
Tubuhnya maju kala Raka merengkuh pinggangnya mendekat. Kini diantara keduanya sudah tidak ada jarak. Hanya tinggal tangan Cherry yang sebagai penghalang agar dia bisa melihat Raka dengan jelas.
"Apa?" tanya Cherry mengerutkan kening.
Raka menyingkirkan rambut gadis itu ke belakang telinga, "Lo lupa sesuatu."
Mata Cherry menatap ke atas, mengingat hal yang telah dirinya lupakan, "Lupa apa?"
Raka tersenyum miring. Dia mengangkat tangan menunjukkan sebuah lipstik yang tutupnya sudah hilang entah kemana.
"Oh iya, lupa." Gadis itu menepuk jidatnya.
Raka menyingkirkan lipstik itu kala Cherry akan mengambilnya, "Gue pakek'in."
Cherry menghela napas. Mengangguk menyetujui keinginan Raka.
Cowok itu tersenyum puas. Dia memegang dagu Cherry lalu mengoleskan lipstik berwarna soft pink di bibirnya penuh hati-hati.
Cherry sampai hampir tertawa melihat ekspresi Raka. Cowok itu tampak sangat serius memakaikannya lipstik. Seperti sedang berada di kamar bedah saja.
"Udah." Raka menghela napas lega.
Cherry tersenyum lebar. Dia menoleh ke samping ingin melihat hasil karya Raka. Namun sebelum hal itu terjadi tangan Raka menahannya, membuat Cherry kembali menatap cowok itu.
Cup!
"Raka!" Cherry menutup bibirnya dengan tangan. Antisipasi kalau Raka ketagihan dan ingin mengulangi lagi.
"Mau lagi," kata Raka mencoba menyingkirkan tangan Cherry.
Gadis itu menggeleng keras. Dia berteriak sambil membekap mulut kala Raka terus mencoba menyingkirkan tangannya. Cowok itu tertawa, dia sangat suka menjahili Cherry.
Dengan usaha keras akhirnya Raka bisa menyingkirkan tangan itu juga.
"Raka mmmph...!"
*****
Semua orang di ruang makan sibuk menyantap makanan masing-masing, kecuali satu orang. Nenek.
Wanita berusia lebih dari setengah abad itu sibuk sendiri membersihkan kacamatanya lalu memakainya, kembali melepasnya, lalu memakainya lagi.
"Ibu, kenapa? Kacamatanya sudah tidak enak dipakai?" tanya Mama Cherry.
Nenek menggeleng, "Sepertinya mataku sudah mulai rusak. Kenapa bibir cucu ku jadi mencong seperti itu?"
Raka menahan diri agar tidak menyembur makanannya keluar. Matanya terpejam saat merasakan kakinya diinjak oleh Cherry.
Gadis itu menekuk wajahnya kesal. Semua gara-gara Raka. Dia main asal nyosor saja tanpa peduli nasib bibirnya yang baru di kasih lipstik. Alhasil lipstiknya jadi belepotan.
Dia sudah membersihkannya tadi, tapi karena terburu-buru Cherry jadi tidak konsentrasi saat melakukannya.
"Cherry. Kenapa kamu pakai lipstik belepotan seperti itu?" tanya Mama.
"Ulah Raka, nih, Ma. Usil banget." Cherry menunjuk sang tersangka.
Wanita paruh baya itu beralih menatap Raka, "Raka. Jangan jahil pakek acara nyenggol-nyenggol tangan Cherry waktu pakai lipstik. Hati-hati, ngambeknya lama loh."
Raka berdeham, "Iya, Tante."
Cherry melengos tidak suka. Di senggol katanya. Padahal yang terjadi lebih dari kata disenggol.
Sang mata elang memandang dua sejoli yang duduk berdampingan. Dadanya sudah bergemuruh ingin memuntahkan emosi, namun dirinya masih bisa menahan.
Papa Cherry meminum jus jeruk yang ada di depannya sampai tandas. Tentu saja untuk meredakan emosinya, dia perlu yang dingin-dingin.
"Raka, kenapa kamu bisa keluar dari kamar putri Om?" tanya pria paruh baya itu.
"Karena saya ada di dalam, Om."
Cherry menyenggol bahu Raka, membuat cowok itu langsung menoleh menatapnya.
"Sejak kapan kamu ada di dalam sana?" tanya Papa lagi.
"Dari jam lima pagi, Om."
Pria paruh baya itu mengerutkan kening. Jam lima pagi? Apakah Satpam rumahnya sudah mulai malas bekerja? "Lewat mana?"
"Lewat depan." Raka menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulut.
Cherry gemas sendiri. Di saat suasana sedang tegang-tegangnya, Raka justru memakan makanannya dengan santai. Dia sangat tenang, malah Cherry yang tegang.
"Tidak sopan masuk rumah orang tanpa izin," kata pria paruh baya itu menatap tajam Raka.
Raka mengunyah makanannya sambil menatap Papa Cherry, "Dapat izin kok, Om, dari satpam di depan."
Papa Cherry meletakkan sendoknya. Dia menatap sang istri yang tengah tersenyum tanpa dosa. Sepertinya ada yang disembunyikan.
"Pa, Mama kemarin terlanjur bilang sama bundanya Raka. Mama minta agar Raka jagain Cherry," bisik wanita paruh baya itu.
Papa Cherry menghela napas, "Kalau soal satpam?"
"Mama juga yang bilang sama satpam, kalau Raka datang suruh masuk saja. Tapi sumpah Mama tidak menyuruh dia datang pagi buta."
Pria paruh baya itu menggelengkan kepala. Sekarang dia tidak memiliki alasan untuk memarahi Raka. Karena asal muasal semua ini adalah ulah dari istrinya sendiri.
Ting...!
Suara notifikasi terdengar. Papa Cherry mengamati benda pipih tersebut yang menyala sebelum mengambilnya dan membaca pesan yang baru saja muncul.
Kepalanya mengangguk, beliau membenarkan posisi duduknya. Matanya mengamati orang-orang di sekelilingnya, menghela napas sebelum membuka suara.
"Raka," ucapnya membuat yang punya nama langsung mendongak.
"Iya, Om," jawab Raka.
"Tolong jaga Cherry selama di sekolahan. Putri Om belum kenal siapa-siapa di sana. Pastikan dia tidak salah pergaulan," kata pria paruh baya itu.
Semua orang di sana tertegun dengan pernyataan papa Cherry. Bukankah tadi beliau sudah hampir meledak gara-gara Raka? Lalu kenapa beliau kini berkata lembut pada cowok itu?
"Siap, Om," ucap Raka santai.
Papa Cherry terdiam sebentar, "Dan ... tolong antar Cherry ke kantor kepala sekolah. Kita belum tahu Cherry akan di tempatkan di kelas mana."
Belum selesai keterkejutannya pada sang Papa yang berbicara lembut pada Raka, kini Cherry kembali dibuat terkejut dengan penuturan selanjutnya pria paruh baya itu.
"Enggak dianterin Papa?" tanyanya.
Mama Cherry ikut menatap suaminya. Ingin tahu jawaban apa yang dilontarkan pria paruh baya itu pada akhirnya.
"Papa ada rapat hari ini. Kamu ke sekolah bareng Raka saja. Nanti biar Raka yang antar kamu ke kantor kepala sekolah."
"Tapi, kan, Papa yang selaku wali murid seharusnya datang. Cherry baru mau masuk sekolah, pasti pihak sekolah juga butuh tanda tangan Papa," kata Cherry masih tak terima.
"Papa sudah melengkapi data jauh-jauh hari, urusan tanda tangan juga sudah dilakukan. Kamu tinggal ke kantor untuk menanyakan di kelas mana kamu ditempatkan," jelas pria paruh baya itu tegas.
Cherry tersenyum. Dia mengangguk menyetujui keputusan papanya. Walaupun hatinya berkata lain.
"Mama, Papa. Cherry berangkat sekarang ya." Gadis itu menyudahi acara makannya dan langsung berdiri mengendong tas punggungnya.
Mama Cherry menyenggol lengan suaminya, memberi isyarat padanya kalau perkataannya diterima salah oleh putri mereka.
Papa Cherry mengusap wajahnya kasar, "Cherry—"
"Papa semangat, ya, kerjanya. Kalau capek istirahat dulu, jangan dipaksa. Nanti kalau sakit Cherry jadi khawatir," sela gadis itu tak membiarkan papanya berucap.
Pria paruh baya itu mengalah. Beliau mengangguk saja menuruti permintaan putrinya, "Hati-hati di jalan, Sayang."
Cherry menjawab dengan anggukan. Setelahnya dia mencium punggung tangan kedua orang tuanya, lalu melenggang pergi meninggalkan ruang makan.
Raka yang melihat hal itu lantas menyudahi acara makannya. Dia ikut berdiri dan berpamitan pada orang tua Cherry, "Saya berangkat dulu, Om, Tante."
Mama Cherry mengangguk lemah, "Ya sudah. Hati-hati di jalan ya, Raka. Tante titip Cherry."
"Baik, Tante."
*****
Cherry berdiam diri di samping motor milik Raka, menunggu sang pemilik motor datang agar dirinya bisa segera pergi dari rumah.
"Ck!" Gadis itu berdecak, dia sangat kesal karena Raka tak kunjung menyusulnya. Awas saja kalau dia masih menikmati sarapan paginya.
Cherry tersentak saat secara tiba-tiba seseorang membalikkan tubuhnya paksa lalu mendekapnya erat. Wangi yang familier, yang membuat titik terlemah Cherry hampir keluar.
"Dasar cengeng," ucap Raka mengusap punggungnya.
"Ih... Nyebelin!" Cherry memukul punggung Raka gemas.
"Ssstt...!" Raka beralih mengelus rambut Cherry saat dirinya mendengar isakkan.
Cherry melengkungkan bibirnya ke bawah. Tak tahu kenapa jika di dekat Raka dia jadi sangat lemah. Biasanya dia mahir dalam menyembunyikan ketidakberdayaannya. Tapi ketika bersama Raka jiwanya seolah memaksa untuk mengeluarkan apa pun yang dia sembunyikan.
"Tenang, di masa mendatang lo gak akan butuh tanda tangan Papa lo lagi," kata Raka.
Cherry melepas pelukan Raka kasar, dia menatap Raka nyalang, "Ngomongnya kok gitu sih?! Kamu doain Papa kenapa-kenapa, ya?"
Raka menatap Cherry tenang. Tangannya kembali terangkat menguap wajah gadis itu, tapi kali ini Cherry menepisnya.
Dia tersenyum tipis. Beralih mengambil helm, Raka memasangnya di kepala gadisnya.
"Di masa mendatang yang lo butuhin bukan lagi tanda tangan Papa lo, tapi tanda tangan gue."
"Karena suatu saat nanti gue adalah kepala keluarga di kehidupan lo," lanjutnya mengusap pipi lembut Cherry.
"Pak, titip sepeda ya."
Seorang bapak paruh baya mendongak. Beliau menghela napas panjang, menutup koran paginya lalu membenarkan posisi duduk, "Taruh garasi, Nak."
Gadis berkacamata tebal itu menggeleng, "Di sini saja, Pak," katanya menyenderkan sepedanya di pagar rumah.
Menggelengkan kepala, bapak berpeci dan bersarung yang dipakai asal itu beranjak berdiri, berjalan lebih dekat menghampiri siswi SMA berkacamata tebal tersebut.
"Garasi Bapak masih luas. Kalau di sini sepedanya kepanasan. Nanti kalau terjadi apa-apa sama ban kamu, kamu kan jadi repot."
"Enggak kok, Pak. Saya seminggu titip di sini sepeda tetap aman," ucapnya meyakinkan.
Beliau memutar bola matanya malas, "Ya jelas aman. Orang Bapak masukin ke garasi."
Nadia tersenyum. Itu memang faktanya. Pagi hari dia menaruh sepeda di pinggir pagar, waktu pulang sekolah sepeda itu sudah ada di dalam garasi.
Bukannya apa-apa. Dia hanya merasa tidak enak dengan sang pemilik rumah. Parkir gratis tapi mendapatkan fasilitas baik? Tentu dia merasa malu.
"Saya pamit ke sekolah dulu, Pak," kata Nadia pada akhirnya.
Pak Burhan melambai pada Nadia, "Nak! Nak! sebentar."
Nadia menoleh ke belakang, dengan tangan memegang tali tas punggung lusuhnya. Dia mengurungkan niat untuk melenggang pergi demi menghormati Pak Burhan.
"Sesekali coba kamu lapor sama guru. Anak-anak yang suka usil bukan cuman harus dihindari, tapi juga dikasih efek jera." Pria paruh baya itu melepas pecinya, "Bapak suka kasihan kalau kamu pulang sekolah selalu mampir ke bengkel sebelah mulu. Ban copot lah, keranjang penyok lah, dudukan sadel ilang lah."
Nadia menyunggingkan senyum tipis, "Iya, Pak. Kapan-kapan saya lapor sama guru."
"Kapannya itu kapan?"
Gadis itu menyembunyikan bibirnya ke dalam, "Saya berangkat dulu ya, Pak," ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Pak Burhan menghela napas, "Ya sudah. Belajar yang bener, dan jangan lupa sama yang Bapak bilang tadi, lapor sama guru."
"Baik, Pak. Terima kasih sudah mau menampung sepeda saya," katanya yang dibalas anggukan oleh bapak tersebut.
Nadia mengeratkan pegangannya pada tali tas miliknya. Dia berjalan sedikit menunduk menghindari tatapan orang-orang berseragam sama seperti dirinya.
Selama seminggu terakhir gadis cupu itu memang suka memarkirkan sepedanya di rumah warga yang dekat dengan sekolahan. Sebenarnya di sekolahan juga ada parkiran, komplit malah. Ada parkiran khusus mobil, parkiran motor, dan parkiran sepeda. Kondisi sangat aman, tapi tidak untuk sepedanya.
Kendaraan murahannya itu sering sekali dibuat rusak. Hanya punya nya, sedangkan yang lain tidak. Sangat repot saat pulang sekolah harus mencari dan mengumpulkan kerangka-kerangka sepeda. Dia juga harus merogoh kantong lebih untuk memperbaikinya di bengkel.
Nadia berhenti di depan gerbang sekolah yang terbuka. Kepalanya mendongak menatap gapura yang berdiri kokoh.
Dia menelan ludah, pagi yang seharusnya cerah berubah menjadi seperti mendung dengan petir yang menyambar-nyambar kala dirinya menginjakkan kaki di sana.
Tiiiiin....!
Suara klakson berbunyi tepat di belakang Nadia, membuat gadis itu terperanjat kaget karenanya.
"Minggir, goblok!"
Nadia meminggirkan tubuhnya tanpa banyak bicara. Cowok dengan motor matic itu menatapnya tajam, lalu menendang kaki Nadia dengan sepatunya.
"Aw..." Nadia meringis menahan sakit di kakinya. Bahkan kaos kaki putihnya sampai kotor karena sepatu tersebut.
"Dikira sekolahan milik nenek moyang lo!"
Si gadis cupu diam tak menjawab. Dia menunduk sambil menautkan jemarinya satu sama lain tak mau menatap cowok di depannya yang mungkin bisa tambah emosi setelah melihat wajahnya nanti.
"Ck! Dasar cewek cupu aneh!" Merasa tak ada faedahnya berbicara dengan Nadia, cowok itu memilih melenggang pergi menuju parkiran khusus motor.
Lagian berlama-lama dengan gadis itu bisa membuat namanya tercemar jelek nanti.
Nadia kembali mendongak saat deru motor terdengar. Matanya menatap punggung cowok itu yang berangsur menjauh. Dia menghela napas. Ini masih di depan gerbang, belum memasuki kawasan sekolah.
Kakinya melangkah lagi, memasuki area sekolahan sebelum kondisi semakin ramai dan banyak orang yang membully nya nanti.
"Rara! Kembaran lo lewat tuh."
"Anjir! Kembaran lo kali."
"Adeknya Rahel."
"Jijik banget gue kalau punya adek modelan gitu. Udah gue buang sejak baru lahir kali."
"Pacarnya Rio."
"Gue tampol lo ya!"
Suara-suara macam itu sudah sering Nadia dengar. Karena saking seringnya, hatinya jadi kebal. Air mata pun sampai kering, sangat lelah memilah-milah untuk menganggap perkataan mereka hanya guyonan atau serius.
"Hai." Seorang cewek berdiri menghalangi jalannya.
Nadia tersenyum tipis, "I-iya."
Cewek berseragam ketat itu mengulum senyum, "Bareng yuk!"
Nadia mengangguk kecil. Ada perasaan ragu di hatinya, namun langsung dirinya tepis. Siapa tahu cewek di sebelahnya itu memang berniat menjadi temannya.
Bukankah itu hal yang sedari dulu dia idamkan? Nadia belum pernah merasakan memiliki teman. Bahkan teman-teman sekelasnya saja tak sudi menganggapnya sebagai teman.
"Helen! Lo jalan sama siapa tuh?!" teriak seseorang yang berjarak tak jauh dari Helen.
"Gue? Gue lagi jalan sama my bestie!" seru Helen seolah sengaja agar semua orang dengar.
"Anjir lah! My bestie dong." Nadia mendengar suara tawa yang dilontarkan bukan dari satu orang, tapi lebih.
Helen tampak berbisik pada teman-temannya. Suaranya begitu kecil sampai Nadia yang ada di sebelahnya tak begitu mendengar.
"Gak usah didengar. Mereka memang suka gitu," kata Helen pada Nadia.
"Iya," jawab Nadia yang justru membuat Helen mati-matian menahan tawa.
"Eh ngomong-ngomong seragam kita serupa, tapi gak sama ya."
Nadia menoleh, "Maksudnya?"
"Iya, gak sama. Coba deh bandingin." Helen mendekatkan baju atasannya dengan baju milik Nadia, "Tuh, beda. Punya gue putih, punya lo kusam. Kayaknya punya gue keseringan dicuci kali ya, jadi gak bisa sama kayak punya lo."
Nadia tersenyum, "Punya ku juga sering dicuci kok."
"Masa sih? Air di rumah gue sama di rumah lo beda mungkin ya. Lebih bersih di rumah gue."
Nadia terdiam. Dia sudah mulai sadar sedang dipermainkan. Cewek di sebelahnya itu pura-pura baik padanya, ada niat terselubung untuk menjatuhkannya.
"Kamu duluan aja. Aku ada urusan di perpustakaan," kata Nadia. Itu hanya alasan agar Helen tak lagi mengikutinya.
Helen tampak murung, "Yah... Ya udah deh. Kapan-kapan ngobrol bareng lagi ya."
"Iya," kata Nadia sebelum benar-benar memasuki perpustakaan.
Gadis cupu itu bersandar pada tembok perpustakaan. Dia dapat mendengar suara gelak tawa yang membahana dari balik tembok.
Senyum getir itu tercetak. Sepertinya Nadia terlalu beharap bisa mendapatkan teman. Dia menghela napas lalu membuangnya, mencoba menyadarkan diri agar tidak berharap lebih pada siapa pun.
"Raka bawa cewek, anjir!"
"Raka?" Refleks Nadia mengucapkan satu nama itu.