Bab 1

Laki-laki dari Suku Dayak Bakumpai bernama Lawen berlari tunggang langgang, ia di kejar oleh pasukan dari manusia dan robot.

Ia tidak mengetahui apa kesalah yang di perbuatnya sehingga di kejar dan hendak mereka tangkap.

"Kamu berhenti, jangan lari." Teriak pemimpin pasukan itu.

Lawen tidak mau menuruti teriakan itu ia terus saja berlari, hutan di depan sama sekali tidak ia kenal.

Hutan ini sangat asing baginya karna sangat ketakutan akan di tangkap tanpa pikir panjang dengan langkah kencang masuk ke dalam hutan.

"Tuan kita tidak mungkin mengejarnya lagi, ini sangatlah berbahaya." Ucap salah satu prajurit yang mengejar Lawen.

"Manusia itu pasti akan mati kalau sudah memasuki hutan terlarang, ayo kita pulang kembali ke istana."

Rombongan prajurit itu putar balik meninggalkan Lawen yang terus berlari ke dalam hutan, cahaya matahari tidak bisa menembus dedaunan pohon yang semuanya berjejer menjadi satu. Batang pohon dan akar semuanya sangat besar saking besarnya bisa untuk membuat satu perahu hanya dengan satu akar pohon.

Semakin ke dalam semakin gelap, hingga mengganggu penglihatannya.

"Oh Tuhan dimana aku ini, kenapa tempat ini begitu asing bagiku. Dan apa mau orang orang itu hingga mengejarku sampai sejauh ini." Gerutu Lawen dalam hati.

Karena pandangan yang terbatas ia tersandung sebuah akar kayu yang besar, ia terjungkal di sela sela akar kayu.

Sendal yang tadi ia kenakan talinya terputus, lutut dan lengannya mengeluarkan darah segar.

"Ahhhh sakit."

Lawen mendesis ia terpuruk, rasa haus menyerang tenggorokannya namun tidak kunjung melihat ada mata air di sekitar posisinya.

Dengan sedikit pincang ia melanjutkan berjalan mungkin sa'at ini ia sedang terkena dehidrasi, sehingga nampak susah bernafas ia harus segera menemukan mata air agar tidak melukai tenggorokannya yang sudah mengering.

Lawen melihat ada daun Bajakah Tampala, ia memperhatikan warnanya putih kuning dan coklat. Lawen mendekat memastikan ciri khusus dari Bajakah Tampala, kalau Bajakah Tampal maka daunya berbentuk tajam dan bunganya berwarna merah muda, putih ungu dan berbentuk kecil. Tanaman Bajakah Tampala sering di manfa'atkan oleh orang Dayak sebagai obat-obatan trasisional untuk melawan penyakit kanker.

Tanaman Bajakah Tampala merambat di batang pohon kayu hingga sampai 50 meter ke atas.

Mandau yang menggantung di pinggangnya ia keluarkan untuk menebas akar Bajakah Tampala, ia memotong dari dua sisi membentuk seperti sedotan.

Akar Bajakah Tampala ia angkat lalu lidahnya ia julurkan mengaliri serat air dalam akar. Kandungan air dalam akar Bajakah Tampala sangat banyak dan memiliki rasa seperti air pegunungan segar dan dingin alami. Selain menghilangkan rasa haus di tenggorokan meminum serat air Bajakah Tampala, juga dapat mengurangi kram pada perut dan bagi wanita menghilangkan rasa nyeri saat haid.

Hari sudah mulai gelap Lawen khawatir kalau tidak keluar hutan secapatnya. Jika malam masih dalam hutan ia takut sewaktu-waktu hewan buas akan datang, apalagi sekarang kondisinya sedang terluka banyak darah segar keluar dari tubuh, memudahkan hewan predator mengendus keberada'annya.

"Anak muda sedang apa kamu? di wilayahku"

Seorang Kakek bertubuh bungkuk menggunakan tongkat tiba tiba muncul di belakang, sorot matanya menandakan ketidak suka'an nya dengan kehadiran Lawen.

"Saya tersesat Kek"

"Tersesat cuih.! Alasan kamu sudah sering aku dengar"

"Banyak manusia serakah yang sengaja masuk ke hutan ini, kalian para manusia hanya bisa merusak saja"

Kakek itu mengayukan tongkatnya ke sebuah akar kayu besar, dia bilang manusia lalu dia apa? apakah dia hantu? Lawen mencerna perkata'an Kakek tua itu. Ia tidak sadar bahwa kaki yang menupang tubuhnya gemetaran dan mulai meleh.

"Tunggu Kek sampean mau kemana?"

"Apa urusanmu menanyakan aku hendak kemana"

Kakek tua bertongkat berbalik badan meninggalkan Lawen seorang diri, keinginan Lawen yang hendak menanyakan jalan keluar di hutan ini tidak bisa ia utarakan mulutnya seakan terkunci untuk mengucapkan kata-kata. Kakinya pun tidak bisa di gerakan lagi hingga jatuh tak sadarkan diri.

"Oooo Lawen jangan tidur sa'at senja, pamali"

Enon membangunkan Lawen dari tidurnya, dalam rumah betang yang tidak ada sekat di dalam, untuk alas tidur hanya menggunakan tikar dari anyaman purun( Tanaman Rawa).

"Iya Uma Lawen sudah bangun"

Kata Uma dalam bahasa Dayak Bakumpai adalah panggilan untuk seorang Ibu.

Lawen sadar tadi hanya sebuah mimpi namun mimpi ini sudah yang ke 3 kalinya, ia tidak terlalu memikirkannya dengan cepat langsung turun tangga menuju sungai tidak jauh dari posisi rumah betang. Lawen mencuci muka lalu melompat ke dalam air membersihkan tubuhnya.

Dari ekor mata ia menangkap sosok Kakek bungkuk tadi, tapi setelah ia fokuskan pandangan tidak terlihat ada seseorang.

Ia bergegas keluar dari dalam air menyudahi mandinya.

Lawen mempercepat langkahnya masuk ke rumah betang karena hari sudah mulai gelap.

"Uma bau apa ini tercium seperti aroma sesuatu yang gosong terbakar"

Ia mengendus dengan hidungnya ke seluruh sudut dalam rumah betang.

"Uma tidak tau, mungkin saja aroma tungku perapian kita yang terbakar coba kamu periksa dulu"

Enon yang sedang asik menyusun daun sirih lalu mengoles kapur sedikit dan menggulungnya dengan buah pinang, tradisi manginang / menyirih sudah di lakukan masyarakat Dayak turun temurun.

"Sudah aku periksa Uma, tidak ada sesuatu yang terbakar dalam tungku"

"Hidungmu sudah bermasalah, itu akibat kamu sering tidur di waktu senja, pamali"

Lawen kesal dengan kata-kata Uma padahal ia sangat yakin aroma gosong tadi nyata, tapi setelah ia endus kembali tidak ada aroma gosong.

Lampu pelita berbahan bakar minyak tanah menjadi satu-satunya penerang di malam hari, ketika malam tiba perapin (obat nyamuk tradisonal) di hidupkan mengepul asapnya yang banyak, memenuhi ke seluruh sisi rumah betang. Membuat Uma Enom yang sedang menginang terganggu.

"Matikan perapin itu sebentar, nyamuk-nyamuknya juga sudah pergi"

Ucap Enon yang terbatuk-batuk.

Lawen mencipratkan air ke arah perapin, untuk mematikan nyala api dan mengurangi kepulan asapnya.

"Uma apa lauk buat kita makan malam ini"

"Ikan betok rebus ada di dalam tudung saji, kalau mau makan, makan lah dulu."

Lawen makan dengan lahapnya hingga ia lupa menyisakan ikan untuk Umanya, ikan gabus yang besar ia habiskan dari ekor sampai kepala tidak bersisa.

Setelah makan ia langsung menggelar tikar menggantung kelambu bersiap untuk tidur.

"Dasar anak itu, akhir-akhir ini sangat lahap makan. Sampai lupa menyisakan untuk ku"

Enon menggelengkan kepala mebuka tudung saji.

Enom kembali merebus ikan gabus, untuk lauknya makan, malam ini cuacanya sangat dingin.

Setelah setengah jam ia merebus ikan gabus namun tidak kunjung matang. Biasanya hanya perlu waktu 10 menit untuk memasak ikan gabus ini, pikir Enon.

Suara berdenyit terdengar seperti suara kuku yang mencakar dinding rumah, ia turun membawa lampu pelita melihat mahluk apa? yang membuat gaduh di rumahnya. Namun setelah ia melihat ke sekeliling rumah tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Kressss bakantan melompat dari bawah rumah berlari ke dalam semak semak.

Ia lega ternyata hanya binatang yang sedang mencari makan.

Setelah puas melihat lihat ia kembali masuk ke dalam rumah.

"Lawen cari kayu bakar di hutan, persedia'an kayu kita sudah menipis."

Masyarakat Dayak Bakumpai memasak hanya mengandalkan ranting kayu dari hutan sekitar, Lawen sehari-hari hanya bekerja mencari ikan, seminggu sekali ia akan masuk ke dalam hutan untuk mengumpukan ranting kayu untuk sekedar keperlua'an memasak.

"Sebentar Uma, Lawen masih memberi makan ayam."

"Ayam kamu itu sebaiknya di potong saja untuk lauk makan."

"Jangan Uma, ayam ini teman satu-satunya Lawen. Untuk lauk biar Lawen turun ke sungai mencari ikan Lagi."

Di sisi rumah ada seseorang yang melihat aktivitas Lawen ia mengendap endap layaknya seorang ninja, ia bersembunyi dari pohon ke pohon secepat kilat hingga tidak terlihat dengan mata normal.

Lanjung / tas di punggung Lawen sudah di pikul serta mandau sudah tergantung di sisi pinggangnya. Ia siap berangkat masuk ke dalam hutan mencari kayu bakar, dengan langkah santai berjalan menyusuri jalan setapak.

Di kampung ini hanya ada 30 rumah betang jarak rumah ke rumah lumayan jauh tidak seperti kampung yang kita lihat sekarang rumah-rumah berjejer saling berdempetan.

Alasan masyarakat Dayak Bakumpai membuat rumah jauh dari rumah lainnya, karena ingin dekat denan sungai dan juga ingin mencari tanah subur serta luas. Supaya bisa bercocok tanam, uang tidaklah penting bagi masyarakat Dayak Bakumpai karena segala kebutuhan sudah semuanya di sediakan oleh alam.

Jika ingin ikan hanya tinggal pergi ke sungai, jika perlu sayur dan daging pergi ke dalam hutan.

Setelah Lawen melewati pohon besar ia mendengar suara ranting patah akibat pijakan kaki di balik semak-semak. Terus ia perhatiakan dan menajamkan pendengaran, mandau ia keluarkan dari sarung sebagai bentuk ke waspada'an.

"Siapa disana.?"

Dengan langkah pelan mendekati ke arah semak semak, ia ingin melihat siapa? yang bersembunyi disana. Di dalam semak-semak ada pergerakan hingga membuat anak kayu bergoyang. Lawen mulai mengayunkan mandau menebas anak kayu buka jalan.

"Kreahhhh Weeuuukkk, Uweeekkek"

Di balik semak- semak ternyata dua pasang kera hutan yang sedang memadu kasih, Lawen tersenyum dan kembali menyarungkan mandaunya lalu melanjutkan jalan. Tidak lupa sebagai orang Dayak yang baik ia meminta ma'af kepada kera hutan yang telah tergangu dengan kehadirannya.

"Wal tunggu." Seorang laki-laki dari arah belakang memanggil Lawen.

Sebutan Wal dalam bahasa Dayak Bakumpai adalah kawan.

"Kenapa ada pa Cek, apa kamu juga ingin masuk ke hutan."

"Iya aku juga ingin ke hutan mencari kayu bakar."

Napas Ecek naik turun tersengal-sengal, setelah berlari kencang agar bisa menyusul Lawen.

"Ayo mari kita berangkat, nanti keburu gelap."

"Tunggu dulu biarkan aku sedikit mengambil napas."

Mereka berjalan bersama mesuk ke dalam hutan, hamparan hijau rumput ilalang yang di tiup oleh angin menambah keindahan pemandangan di dalam hutan. Ranting yang mereka temukan langsung di masukan ke dalam lanjung, mereka cukup jauh berjalan ke dalam hutan Lawen melihat tumpukan ranting kering yang cukup banyak, sehingga ia sangat antusias, tidak mudah untuk bisa mengambilnya ia harus melompati kayu besar yang tumbang agar bisa sampai di tumpukan ranting itu.

Tanpa di sadari hari mulai gelap dan merekapun terpisah, ia mencoba berteriak memanggil nama Ecek tapi tidak ada jawaban. Ia ingin kembali ke tempat dimana mereka tadi masih bersama namun tidak kunjung menemukan jalan. Padahal ia sering mondar-mandir di dalam hutan tidak biasanya kehilangan arah jalan.

"Ecek dimana kamu? apa kamu mendengarku."

Lawen terus berjalan mengayunkan mandaunya menebas apapun yang menghalangi jalan.

"Dimana Lawen, perasa'an tadi masih berada di belakang. Apa dia sudah pulang? cepat sekali menghilangnya."

Di tempat lain.

Ecek bergumam, ia kesal Lawen meninggalkannya. Mentang-mentang lanjungnya sudah terisi penuh tanpa pamit ia pergi.

Karena hari yang sudah mulai gelap Ecek bergegas menuju rumah betangnya padahal lanjung yang dia pikul belum terisi penuh, tidak biasanya butuh waktu lama mencari ranting kayu. Namun hari sedikit berbeda.

Bab 2

“Siapa di sana.?”

Sebuah pergerakan seseorang secepat kilat di balik pohon.

Lawen dengan pandangan remang-remang memasang kuda-kuda waspada, hari sudah makin gelap di tengah hutan tanpa pencahaya’an sedikitpun. Suara kaki kuda terdengar dari balik semak-semak, Lawen menajamkan pendengarannya ia berpikir suara kuda dari mana? padahal setaunya tidak ada satu ekorpun kuda di tempatnya tinggal.

Dengan langkah penuh waspada Lawen mendekati pohon besar, ia tidak menemukan jejak ataupun pertanda ada sesorang dan tanda binatang pernah berada di sana. Lawen kembali tenang ia berpikir ini hanya halusinasinya saja.

Hari sudah gelap pertanda malam ini ia akan tidur di dalam hutan, karena melanjutkan perjalanan akan lebih bahaya. Banyak hewan buas yang mengintai dan mata seorang manusia tidak mampu melihat di gelap malam yang sangat pekat. Lawen memutuskan tidur di dalam kayu yang telah berlobang, di dalam hutan memang sangat penting untuk mencari perlindungan di dalam lobang kayu atau menggali lobang besar dalam tanah. Pungsinya untuk mehindari hewan buas yang mencari makan di malam hari, dan untuk menghindari sewaktu- waktu pohon di sekitar tumbang.

Cuaca malam sangat dingin Lawen menghidupkan api kecil dengan ranting kayu yang ia dapatkan siang tadi, dua telapak tangannya ia hadapkan ke api guna menghangatkan tubuhnya, aroma masakan sangat lezat masuk ke rongga hidung entah dari mana datangnya aroma itu. Lawen menepis bau itu ia hanya berpikir aroma itu sebuah halusinasi akibat sa’at ini sangat lapar. Tidak lama ia kembali mendengar suara riuh seperti orang di pasar melakukan transaksi jual beli.

“ Berapa satu tusuk sate ini Buk?”

“Satu tusuk di hargai dengan 1 kunyit Buk.!”

Lawen berdiri dan melihat ke seluruh sisi dengan matanya namun semua tampak normal hanya ada pohon dan semak-semak yang sangat tebal, tidak ada cahaya sedikitpun di ujung sana menandakan adanya sebuah pasar. Seorang wanita yang menyerupai Enon uma lawen menghampirinya dengan langkah begitu cepat.

“Kenapa Uma tau Lawen berada disini? Lawen tadi tersesat jadi memutuskan untuk tidak pulang sampai esok hari.” Ucap Lawen yang sangat senang melihat Enon datang.

“ Berani sekali kamu berada di sini, kamu seharusnya sudah di penjara oleh Paduka.”

Bukk.... Sebuah tamparan keras langsung mengarah di wajah Lawen, membuatnya terpental jauh dan tidak sadarkan diri.

Ketika Lawen bangun sudah berada di dalam rumah seseorang yang sangat megah, lantainya terbuat dari keramik putih bersih perabotannya semua terbuat dari emas.

“ Kamu sudah bangun.?”

Lawen terkejut ia mengucek mata untuk lebih jelas melihat sosok yang bertanya.

Ternya sosok Kakek yang pernah ia temui beberapa kali di dalam mimpinya, ia pikir kali ini bermimpi lagi Lawen mencoba menampar wajah dan mencubit lengannya hingga terasa sakit.

“Kamu sekarang tidak bermimpi, jiwa dan ragamu aku bawa ke sini untuk menyelamatkan mu dari penunggu hutan larangan. Yang ingin membunuhmu”

“Membunuhku? apa kesalahanku?” Lawen bingung mendengar ia mau di bunuh oleh seseorang.

“Kamu tidak mengetahui bahwa dirimu sekarang menjadi seorang boronan dari keraja’an Saranjana.”

“Boronan.? Keraja’an Saranjana?” Lawen semakin tidak mengerti apa yang Kakek ini bicarakan.

“Kakek ini siapa.? Kenapa mau menolongku dan mengetahui aku adalah boronon keraja’an Saranjana, dimana itu Saranjana.? Apa kesalahan yang aku perbuat sehingga aku menjadi boronan.?”

Kakek itu menarik napas panjang dan duduk di samping Lawen, ia menatap penuh tanda tanya di matanya. Kelak kalian para manusia menyebut dunia kami ini adalah negri gaib Saranjana, satu tahun yang lalu seorang pemuda yang bernama Manaf mencuri kunyit 7 ton dari keraja’an Saranjana. Dalam aksinya mencuri di ketahui oleh pangeran Syarif Janna anak kedua raja Muhammad Janna, Mereka bertarung dengan sengit antara hidup dan mati. Di tengah pertarungan Manaf berhasil melumpuhkan sang pangeran hingga membuat luka besar di bagian dada, pangeran Syarif meninggal akibat pertempuran di malam itu.

Manaf membawa 7 ton kunyit bersama 10 anggotanya menggunakan 2 kereta terbang ( pesawat ).

“ Tunggu, kenapa hanya mencuri kunyit menjadi seorang boronan? dan apa hubungannya denganku.?” Lawen memotong cerita

“Kunyit adalah emas di dunia manusia, tentu sangat berhubungan denganmu karena wajah kalian sangat mirip.” Dengan senyum simpul di bibir kakek itupun lanjut bercerita.

Raja Muhammad Janna sangat murka atas pencurian yang di lakukan oleh Manaf apalagi mengetahui putra mahkota meninggal akibat insiden itu. Ia mengerahkan seluruh prajurit untuk menangkap Manaf sampai ke seluruh demensi, dan mengadakan sayembara untuk membawanya hidup atau mati ke hadapan sang raja dengan imbalan yang tidak main-main. Hadiah yang di janjikan adalah separuh keraja’an dan menikahi putrinya bernama Lisa.

Hingga kini Manaf tidak kunjung di temukan ia seperti di telan oleh alam semesta, sampai pada akhirnya seorang mata-mata keraja’an mengabari melihat Manaf di sebuah desa pedalaman kalimantan, perajurit itu ternyata keliru yang ia lihat adalah kamu bukannya Manaf yang menjadi boronan.

Lawen mulai mengerti dengan alur cerita kenapa? Ia sampai di kejar kejar oleh orang-orang yang tidak ia kenal, sa’at ini yang di pikirkan oleh Lawen bagaimana caranya? supaya orang-orang dari keraja’an mengetahui bahwa orang yang mereka anggap Manaf adalah dirinya.

“Lantas siapa Kakek ini? apa hubungannya dengan aku dan Manaf,? apa Kakek juga ingin menangkapku? lalu membawaku kepada raja. Agar Kakek mendapatkan imbalan yang di janjikan.” Lawen menjauh dari kekek mesterius itu, berlari ke sudut kamar dengan kewaspada’an.

“Aku adalah ayah dari Manaf namaku Jawo. Dan aku tidak akan pernah menyerahkanmu pada siapa pun, aku hanya ingin engkau membantuku mencari Manaf yang berada di duniamu.” Jawo tersenyum lalu membakar rokok kreteknya, hingga gumpalan asap menyambur keluar dari dalam mulutnya.

“Apa maksud Kakek. Manaf berada di duniaku,? bukankah ini juga masih di bumi bukan di alam barzah, aku masih hidupkan.?”

“Kamu sekarang berada di alam gaib, tepatnya di negri Saranjana.”

“Apa aku bisa pulang ke duniaku Kek.?”

“Kamu akan saya pulangkan dengan syarat, kamu harus membantuku mencari Manaf di dunia nyata. Karena aku tidak mampu masuk terlalu lama dalam demensi kalian.”

Dimata Jawo memancarkan sebuah kekecewa’an ketika menyebut nama anaknya Manaf.

Bab 3

Secara magic Lawen sudah berada di dalam rumah betang, ia makin bingung dengan tingkah Enon yang tidak marah sedikitpun padahal sudah 1 malam ia tidak pulang ke rumah.

“Ini benaran Uma kan.?” Lawen masih takut kalau yang ia lihat tidak nyata.

“Apa-apa’an kamu Lawen seperti orang g1l4 saja, emang Uma bisa berubah jadi hantu,? tentu tidak kann.”

Lawen masih terbayang sosok Enon yang menamparnya di dalam hutan, bulu kuduknya berdiri dan ia begidik ngeri. Lawen mengayunkan langkah cepat pergi ke sungai untuk mandi, badannya terasa lengket seperti keluar lendir dari dalam pori-pori kulitnya.

Air di Kalimantan ini sangat sejuk bisa untuk menjadi penyegar tubuh, dan bisa juga menjadi wisa (penyakit kuning), selain Kalimantan terkenal dengan alamnya yang menjadi jantung dunia. Borneo juga terkenal dengan kekaya’an pengobatan mistis seperti minyak bintang yang secara magic bisa menyembuhkan luka secepat kilat, romor ini memang nyata terjadi. Pembuatan minyak bintang juga tidaklah mudah maka dari itu tidak semua orang kalimantan memiliki minyak ini, perlu ritual khusus oleh orang dayak untuk membuat minyak bintang. Dan ritual itu konon berbeda-beda karna banyaknya etnis dayak di Kalimantan, walaupum cara ritualnya berbeda namun keguna’an semuanya sama yaitu untuk pengobatan dan kekebalan tubuh dari segala senjata tajam.

“Lawen kamu jangan lupa tugasmu mencari Manaf.”

Suara Kakek Jawo bergema di atas belantara rindang pepohonan.

Lawen terlonjak kaget hingga tersimpuh dalam sungai, kini ia sangat yakin kejadian demi kejadian memanglah sebuah kenyata’an bukanlah kembang mimpi. Dengan langkah cepat lawen berlari ke dalam rumah betang saking terburu-buru ia dua kali terjatuh di tangga pintu.

Di atas atap Lawen termenung bagaiman caranya ia menemukan Manaf, dimana ia bersembunyi? Aahhhhh semua pikiran itu membuat Lawen sangat pusing ia teringat dengan Kecek, bukankah kemaren sebelum tersesat ia juga ada di hutan bagaimana kabarnya sekarang.? Lawen bergegas turun dari atap rumah untuk pergi menemui kecek kerumahnya.

Rumah di Kalimantan tidaklah dekat perlu melewati hutan sekitar 1 jam berjalan kaki untuk bisa sampai di tempat Kecek, dalam perjalanan Lawen sungguh waspada matanya melihat kiri kanan jalan ia tidak mau kalau nanti ia akan bertemu lagi dengan orang dari Saranjana yang ingin menangkapnya . Suara ranting kayu yang jatuh sudah membuatnya sangat berdebar, hari ini tidak seperti kemaren yang di rasakan oleh Lawen. Setelah ia mengetahui bahwa orang jahat mirip dengannya menjadi boronan ia sungguh sangat ketakutan.

Setibanya di depan rumah betang Kecek, ia gedor dengan sangat keras sampai berteriak Lawen cukup kesal karena lama di bukakan pintu.

***********

Kecek yang berada di dalam rumah sangat jengkel karena seseorang telah mengedor pintu sangat keras, sebilah mandau Kecek bawa di tangannya untuk waspada siapa tau di balik pintu adalah orang jahat pikirnya. Ketika pintu terbuka Kecek langsung gemetar dan tidak berdaya untuk sekedar berbicara, mata kecek membola ia tidak percaya apa? yang di lihatnya sungguh sangat mengerikan hingga Kecek jatuh pingsan.

“Kecek kamu kenapa?”

Lawen langsung membopong tubuh temannya masuk ke ruang tengah rumah betang. Sial di dalam rumah betang yang cukup luas ini hanya ada mereka berdua tidak terlihat orang tua Kecek mungkin orang tuanya ke ladang untuk menanam ubi.

“Hei bangun Cek, kenapa kamu menjadi orang lemah seperti ini.”

Dalam pangkuan Lawen terus berusaha membangunkan Kecek dengan cara menepuk keras wajahnya.

Kecek tampak kebingungan ketika sudah mulai sadar dari pingsannya, ia langsung duduk menatap Lawen dari kaki sampai kepala. Belum puas menatapnya Kecek mengguncang-guncang bahu Lawen dan memukul-mukul dengan tangannya, hingga membuat Lawen sangat kebingungan dengan tingkah Kecek yang tidak biasa. Mulut Lawen kumat-kamit membaca mantra takutnya Kecek sedang kesurupan roh jahat.

“Apa-apa’an kamu Wen, kamu bacakan mantra segala.”

“Kamu sekarang kesurupan roh jahat Cek.”

“Sembarangan kamu mana ada.?”

“Lahhh... Buktikanya ini kamu sampai pingsan dan memukulku.”

Seperti biasa kedua sahabat ini tidak pernah akur dan selalu tidak ada yang mau mengalah apa lagi di salahkan, namun jika ada masalah mereka akan bahu-membahu saling tolong dan tingkat perduli di antara mereka berdua sangat kompak. Kecek mulai ingat ketika ia di tinggal oleh Lawen ketika mencari kayu bakar kemaren di hutan. Dengan serius Lawen membantah prasangka itu, Lawen ber asumsi Kecek lah yang sengaja meninggalkannya di hutan hingga ia tersesat.

“ Apa kamu tersesat.? Jangan membual kamu Wen, jelas-jelas ketika aku pulang melewati rumahmu, kamu sudah duduk santai di atas teras dan malah mengejekku.”

“Aku di rumah.? Tidak aku benar-benar tersesat waktu kita mencari kayu bakar kemaren.” Lawen semakin bingung dengan ucapan Kecek melihatnya di rumah kemaren , ia masih ingat betul semua kejadia’an bahkan meyakini itu semua bukan mimpi ataupun hayalannya semata.

Lawen teringat dengan sosok Manaf yang mirip dengannya, apa jangan-jangan ini adalah perbuatan Manaf sengaja membuatnya tersesat dan ingin Lawen tertangkap menggantikan dirinya di Saranjana.

“Cek coba kamu ceritakan lebih jelas waktu kita terpisah di hutan kemaren.”

“Aku males, pasti kamu hanya ingin mengejekku kan.”

Kecek menjauh dari Lawen ia sangat kesal dengan tingkahnya yang selalu bercanda dan menjek.

Di atas pohon besar tidak jauh dari rumah Kecek seorang anak buah Manaf mengintai, tanpa di ketahui oleh siapapun ia mengikuti kemanapun Lawen pergi. Yang membuat Lawen tersesat di hutan adalah olah anak buah Manaf, mereka berencana mengirim Lawen ke Saranjana untuk di tangkap oleh raja Muhammad Janna. Agar pemimpin mereka Manaf terbebas dari kesalahannya dan bisa hidup tenang di dunia nyata.

Kedua orang tua Kecek datang selesai menanam ubi di ladang, mereka sedikit kaget melihat Lawen yang mengobrol dengan Kecek. Kedua orang tua Kecek saling pandang di mata mereka menyimpan sebuah pertanya’an, kenapa Lawen berada di rumah ini? bukankah tadi ia sudah pamit pulang ketika berpapasan di depan pekaranagan rumah.

“Ada apa Uma, kenapa seperti takut melihat Lawen.l” Ucap Kecek menyadari gerak-gerik Umanya.

“Bukan begitu Cek, tadi Uma sama Abah bertemu di depan pekarangan dengan Lawen, tapi sekarang Lawennya di sini.”

Uma Kecek bingung harus seperti apa menjelaskan kejadian yang ia dan suaminya lihat tadi.

“Bue melihat Lawen di pekarangan.?”

Sebutan Bue adalah Tante.

“Tidak salah lagi itu pasti Manaf, bantu aku mengejarnya.”

Lawen berlari keluar menarik tangan Kecek yang masih tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.

Sesampainya di pekarangan yang di maksud oleh orang tua Kecek mereka memincingkan mata, melihat ke segala arah dari balik semak-semak sampai melihat di atas pohon. Seorang laki-laki langsung berlari mengetahui dirinya sudah mulai ketahuan, dengan tangkas laki-laki ini tidak menghiraukan Lawen dan Kecek yang mengejar di belakang.

“Heii.... Jangan lari kamu, berhenti.”

Teriak Lawen yang terbirit-birit mengejar.

Kecek yang sedikit kewalahan mengimbangi kecepan Lawen berlari dan bertanya.?

“Siapa orang yang kita kejar ini.?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED