Bab 2

Sementara itu, aku membantu Dimas menyelesaikan pekerjaannya dan mulai menyelesaikan masalah-masalah yang selalu membuatnya bingung di sekolah.

Aku merasa terobsesi dengan pikiran'a aneh yang tidak semestinya hingga suatu ketika aku pulang ke rumah dan menemukan Dimas sedang menunggu di kamarku. Dia merasa sedih dan mengatakan bahwa dia merasa ada sesuatu yang salah dengan dia dan karena itu dia memerlukan bantuanku.

"Apa yang terjadi, Dimas? Apa yang membuatmu merasa sedih?" tanyaku sambil mengelus lengan Dimas dengan lembut.

"Ibu dan ayah akan bercerai, Kak Sandra. Aku merasa sangat kesepian dan tidak tahu harus bagaimana," jawab Dimas dengan suara parau.

Aku merasa terkejut mendengarnya. Dimas adalah Adik iparku, dan adik kandung Andre. Dalam hal ini, berarti mertuaku akan bercerai?

Aku merasa sedih mendengar berita itu. Aku bisa merasakan betapa sulitnya itu bagi Dimas dan keluarganya. Aku memeluknya erat dan memberikan dukungan yang dia butuhkan.

"Jangan khawatir, adikku. Aku selalu di sini untukmu. Kami akan membantumu melewati masa-masa sulit ini," kataku dengan suara yang lembut.

Dimas mengangguk dan tersenyum melemaskan. Saat itulah, aku memutuskan untuk membantunya sebisa mungkin. Aku mendengar kabar bahwa orang tua Dimas sudah mengajukan permintaan cerai di pengadilan. Ini menjadi kabar besar yang menyebar ke seluruh keluarga kami.

Aku terus menenangkan Dimas, dan aku juga meyakinkannya. Jika ayah dan ibunya benar-benar berpisah, aku dan Andre akan merawat Dimas. Dan membiarkannya untuk terus hidup bersama kami.

Beberapa minggu kemudian, kabar buruk itu terjadi dan perceraian orang tua Dimas benar-benar terjadi. Dimas sangat sedih dan aku bergabung untuk menemani dia sepanjang waktu agar tidak merasa kesepian.

Aku dan Andre merasa bertanggung jawab untuk merawat Dimas sambil memberikan dukungan yang dibutuhkannya. Kami ingin membantunya bertahan selama masa-masa sulit ini ketika semuanya terasa buruk di dalam hidupnya.

Dimas terus mengucapkan terimakasih padaku dan Andre. Karena kami mau mengambil tanggung jawab untuk merawatnya.

Aku tidak tahu pasti yang dipikirkan Dimas, tapi kali ini dia sering membantuku menyelesaikan pekerjaan rumah. Apalagi saat Andre tidak ada di rumah, Dimas yang selalu membantuku menyelesaikan segala pekerjaan rumah.

Beberapa bulan berlalu sejak kedua orang tua Dimas berpisah, dan suasana di rumah mereka masih terasa sedih. Kedua orang tua Dimas saling berbicara dengan pandangan sinis dan mereka bahkan tidak pernah berbicara satu sama lain kecuali melalui pengacara mereka. Dimas sendiri terus merasa kesepian dan terombang-ambing antara rumah ayah atau rumah ibu.

Aku merasa iba pada Dimas, dan aku ingin membuatnya merasa lebih baik dan merasa seperti keluarga nyata. Sementara itu, aku masih merasa terobsesi pada pikiranku yang aneh-aneh.

***

Malam itu, aku sedang duduk di sofa dan membaca novel di platform online. Tiba-tiba Dimas datang dan langsung duduk di sebelahku.

"Malam Kak Sandra!" ucap Dimas semangat.

Aku bukannya menjawab, malah menarik nafas dalam dan menutup kedua mataku. Untuk menghirup bau harum dari tubuh adik Iparku ini.

Saat aku membukakan mataku kembali, aku melihat Dimas menatapku dengan tatapan yang intens. Aku merasa sedikit terkejut dan tersentak, tapi aku kemudian melepaskan diri dari tatapannya dan menyapa kembali.

"Malam, Dimas. Kamu baik-baik saja?" tanyaku.

"Ya, Kak Sandra. Aku hanya merasa sedih karena aku belum merasa seperti punya keluarga nyata yang bisa membantuku," jawab Dimas.

Aku merasa iba pada Dimas dan mencoba memberikan dukungan yang dia butuhkan. "Kamu tahu kan bahwa kami semua di sini untukmu, adikku. Kami selalu mendukungmu dan merawatmu sebaik mungkin," kataku dengan suara yang lembut.

Dimas mengangguk dan tersenyum, tapi aku masih merasakan ketegangan di antara kami. Aku merasa seperti ada yang salah dalam pikiranku dan aku tidak tahu harus bagaimana.

Berikutnya, kami hanya duduk di sofa dan melihat TV bersama. Saat kami menonton film, aku terus menatap layar TV, tapi tidak bisa sepenuhnya memfokuskan diri pada film yang sedang diputar. Pikiranku malah melayang ke masa lalu, saat aku melihat tubuh Dimas dikamar mandi.

Aku segera menepis pikiran aneh itu dari kepalaku. Itu hanya pikiran yang tidak semestinya dan tidak boleh dijadikan acuan. Aku harus fokus pada tugasku untuk membantu Dimas melalui masa-masa sulit ini.

Tapi sejak itu, pikiran aneh tentang Dimas terus menghantuiku. Aku mencoba mengabaikannya, tetapi semakin lama semakin sulit untuk melupakan pikiran itu. Aku merasa bersalah karena berpikiran seperti itu pada adik iparku sendiri.

***

Beberapa hari kemudian, Dimas memintaku untuk membantunya mengambil beberapa barang dari rumah bekasnya bersama ibunya. Aku setuju dan kami menuju ke rumah bekas Dimas.

Kami sampai di depan rumah, dan aku melihat bahwa rumah itu sudah sangat berbeda dari ingatan terakhirku. Semua benda dan dekorasi sudah diambil oleh ibu Dimas, dan rumah itu terlihat kosong dan suram.

Kami masuk ke dalam rumah, dan aku bisa merasakan atmosfer yang tegang di dalamnya. Ada beberapa kotak yang harus diambil, dan Dimas dan aku pergi ke ruang tamu untuk mengambil kotak-kotak itu.

Setelah membawa semua kotak-kotak itu ke dalam mobil. Kami segera berangkat dengan mobil. Namun, perjalanan pulang tidak berjalan mulus. Mobil kami tiba-tiba berhenti di tengah jalan yang sepi dan tidak ada tanda-tanda ada orang yang bisa membantu kami.

Dimas dan aku melihat ke bawah kap mesin, mencoba mencari tahu apa yang salah. Namun, kami sama-sama tidak tahu harus bagaimana untuk memperbaikinya.

"Apa yang harus kita lakukan, Kak Sandra?" tanya Dimas, terlihat sedikit panik.

Aku berusaha menenangkan Dimas, "Jangan khawatir, adikku. Aku akan mengambil handphoneku dan mencoba menghubungi Andre atau seseorang yang bisa membantu kita."

Namun, ketika aku mencoba mengambil handphoneku, aku menyadari bahwa aku lupa membawanya. Aku merasa gugup dan panik, tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tanpa pikir panjang, aku mulai mencari bantuan. Ketika saya membuka pintu mobil, saya melihat beberapa orang datang dari arah yang berbeda.

Mereka datang untuk membantu kami dengan mobil yang rusak dan membawanya ke bengkel terdekat. Ketika kami berjalan di sepanjang jalan menuju bengkel, saya merasa bersyukur bahwa ada orang baik di dunia ini yang siap membantu orang yang tidak dikenal.

Di bengkel, kami menunggu mobil diperbaiki sambil minum kopi di warung dekat sana. Saat menunggu, saya melihat Dimas terus menatap ke arahku, dan itu membuat saya merasa tidak nyaman. Saya berusaha mengabaikan perasaan itu dan fokus pada situasi saat ini.

Tapi bau parfum dari tubuh Dimas benar-benar mengganggu pikiranku. Aku tidak ingin menghadapi fakta bahwa aku jatuh cinta padanya. Aku selalu menganggapnya sebagai adikku yang lucu dan imut, tetapi sejak kami mulai bersama beberapa hari yang lalu, dia mulai terlihat berbeda di mataku.

Ketika mobil kami telah diperbaiki dan kami harus melanjutkan perjalanan, Dimas menyadari keteganganku dan bertanya, "Kak Sandra, apakah kamu baik-baik saja? Kelihatannya kamu cemas."

Aku mencoba tersenyum, "Iya, adikku. Aku baik-baik saja. Cuma sedikit terkejut dengan mobil yang mogok di tengah jalan."

Bab 3

Dimas tidak kelihatan percaya dengan pernyataanku. Dia yakin bahwa ada yang salah dan mencoba mengajakku bicara, "Apakah ada yang mengganggu pikiranmu? Kamu bisa bercerita padaku, Kak Sandra."

Aku merasa sangat terpojok. Saya tidak ingin memberitahunya bahwa saya jatuh cinta padanya, tetapi tidak ingin menyembunyikan apa yang saya rasakan darinya.

"Sudahlah, enggak ada yang salah," jawabku cepat sambil tersenyum lebar.

Dimas tetap tidak yakin bahwa semuanya baik-baik saja. Dia mendekati ku dan berkata, "Kak Sandra, aku tahu ada yang mengganggu pikiranmu. Tolong katakan padaku apa yang terjadi."

Aku terdiam sejenak, merenungkan apa yang harus aku katakan. Aku tahu bahwa menyembunyikan perasaanku tidak akan membantu dan malah akan menyulitkan situasi.

"Aku jatuh cinta padamu, Dimas," kataku dengan tegas.

Dia terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. Dia terlihat seperti sedang berusaha mencari kata-kata yang tepat. Setelah beberapa saat, dia akhirnya berkata, "Aku juga merasakan hal yang sama, Kak Sandra. Aku bahkan sudah menyimpan perasaan ini sejak lama."

Tunggu! Apa? Aku menatap Dimas dengan tak percaya.

Dimas melihat ekspresi wajahku yang terkejut dan cepat menjelaskan, "Maafkan aku, Kak Sandra. Aku tidak bermaksud membuatmu terkejut seperti itu. Tapi aku benar-benar merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan."

Aku masih merasa tidak percaya dan berkata, "Tapi kenapa kamu tidak pernah mengatakannya sebelumnya?"

Dimas merenung sejenak sebelum menjawab, "Aku pikir kamu tidak akan tertarik padaku. Aku selalu menganggap kamu hanya sebagai kakak yang baik hati dan lembut."

Aku memandangnya dengan lembut dan berkata, "Tapi kamu salah, Dimas. Aku tertarik padamu sejak lama dan selalu merasa nyaman denganmu."

Dimas tersenyum, "Apa artinya ini, Kak Sandra?"

Aku tersenyum balik, "Ini artinya kita bisa menjalin hubungan yang lebih serius dan saling menjaga perasaan satu sama lain."

Dimas merespon dengan senang, "Aku setuju. Kita akan menjalani segalanya bersama."

Tapi tiba-tiba aku teringat dengan Andre, dan aku langsung menundukan kepalaku. Aku ingat, Dimas adalah adik iparku dan dia masih SMA. Pantaskah aku menjalin hubungan dengannya?

Aku merenungi pikiranku sejenak, mencoba mencari solusi terbaik. Dimas, yang melihat aku sedang terdiam, bertanya, "Ada apa, Kak? Apa kamu tidak setuju dengan ide kita menjalin hubungan?"

Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak, bukan itu. Aku hanya sedang memikirkan hal lain."

Dimas melihat aku masih terlihat khawatir dan bertanya lagi, "Apa yang membuatmu khawatir?"

Aku mengambil napas dalam-dalam dan menjawab dengan jujur, "Aku sedang berpikir tentang Andre. Kamu tahu, dia adalah kakakmu dan aku tidak ingin hubungan kita merusak hubungan kalian."

Dimas melihat aku dengan tatapan yang penuh pengertian dan menjawab, "Aku mengerti perasaanmu, Kak Sandra. Tapi aku yakin bahwa hubungan kita tidak akan merusak hubungan keluarga kita. Selama kita bisa menjaga perasaan satu sama lain dan tetap menghormati hubungan keluarga kita, aku yakin tidak akan ada masalah."

Aku mengeluarkan nafas kasar dan berkata, "Tapi Dimas, semua ini salah. Bagaimana kita bisa menghormati keluarga kita, kalau yang kita perbuat salah?"

Dimas memegang kedua bahuku dan berkata, "Kalau gitu, kenapa kita tidak menjalin hubungan rahasia? Kita bisa menjalin hubungan secara rahasia. Yang terpenting adalah kita saling mencintai dan saling mendukung satu sama lain. Kita bisa menjaga rahasia dan memastikan bahwa tidak akan ada yang tahu tentang hubungan kita. Yang penting adalah kita bahagia bersama."

Aku merenung sejenak untuk berpikir. Aku menatap Dimas, dan menganggukan kepala.

"Ingat ya Dimas, ini hanya menjadi rahasia kita!" kataku mengingatkan.

Dimas tersenyum dan menjawab, "Tentu saja, Kak Sandra. Aku akan selalu memastikan bahwa hubungan kita tetap menjadi rahasia dan tidak akan memberikan dampak buruk pada keluarga kita."

Aku menghela nafas, tersenyum pada Dimas sebelum mencium pipinya. Dimas cukup terkejut dengan tindakanku yang tiba-tiba. Namun demikian dirinya segera membalas dengan mencium pipiku.

***

Sampai di depan rumah, aku dan Dimas langsung menurunkan semua barang dari mobil. Kami saling membantu dan kelelahan bersama. Aku membuatkan minuman untuk Dimas, sebelum kami duduk bersama di sofa.

Andre mengatakan dia akan kembali dalam 3 minggu ke depan. Untung sekarang ada Dimas di sisiku, jadi aku tidak akan kesepian.

Aku menatap Dimas, rasanya ingin mengajaknya berhubungan ranjang. Tapi aku segera menepis pikiran itu. Apa yang akan dipikirkan Dimas tentangku, jika aku mengajaknya berbuat hal gila seperti itu? Dia pasti akan menganggapku wanita murahan, karena tidak bisa menahan birahi ku sendiri! Uh, sungguh menyebalkan.

Aku merasa sangat tergoda untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas dengan Dimas, tetapi aku harus menahan diri. Aku tidak ingin kehilangan rasa hormat dan harga diriku hanya karena tidak bisa mengendalikan nafsu.

"Kamu berpikir apa, Kak Sandra?" tanya Dimas, melihat ekspresi wajahku yang sedikit aneh.

"Apa-apaan?" balasku, mencoba tersenyum ke arahnya.

"Tidak ada yang salah, kan? Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja," kata Dimas sambil menepuk-nepuk pundakku.

Aku tersenyum, "Tentu saja, aku baik-baik saja. Aku hanya merasa sedikit kelelahan."

"Hem... Mau dipijit?" tawar Dimas.

Sambil tersenyum, aku mengangguk setuju dengan tawaran Dimas. Dia segera bangkit dari sofa dan mengajakku ke kamarku. Setelah mempersiapkan minyak pijat dan handuk, Dimas mulai memijat bahu dan punggungku dengan lembut.

"Kamu begitu kaku, Kak Sandra. Apa yang terjadi?" tanya Dimas.

Aku tidak bisa berkata-kata. Rasanya aneh dan tidak sopan jika kuceritakan pikiran dan rasa yang menggelitik diriku. Aku hanya memohon agar semua pikiran nakalku pergi dan tak kembali lagi.

"Tidak apa-apa, Dimas. Aku hanya merasa sedikit tegang." Jawabku, mencoba memberi jawaban yang ringan.

Dimas meneruskan pijatannya dengan sangat lembut, dan aku merasa terusik dengan tatapan mata tajamnya. Dia mengawasi setiap gerak dan ekspresiku, seperti mengetahui apa yang ada dalam pikiranku.

"Kamu bisa percaya padaku, Kak Sandra. Aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu," ujarnya tiba-tiba.

Aku menatapnya, merasa takjub dengan tatapan matanya yang penuh kehangatan dan cinta. Dia mengulurkan tangannya dan merengkuhku, mengecup bibirku dengan lembut. Perlahan-lahan, ciumannya semakin dalam dan intens.

Aku merasa seperti kehilangan kendali atas diriku sendiri. Akhirnya, keinginan dan hasratku berhasil memenangkan kuasa atas logika dan akal sehatku. Aku membalas ciuman Dimas dengan penuh gairah dan keinginan yang kuat.

Namun saat Dimas memegang dadaku, aku tersadar dan langsung mendorong tubuh Dimas menjauh dari nyubuhku.

"Dimas ini salah! Ini tidak boleh terjadi, aku mencintaimu. Tapi kamu tetaplah adik suamiku, aku tidak mau bertindak kelewatan Dimas. Maafkan aku," kataku dengan penuh penyesalan.

Dimas menatapku dengan heran, tapi tidak mengatakan apa-apa. Dirinya langsung keluar dari kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku merasa bersalah padanya, aku telah memberikan harapan palsu padanya. Pasti dia sudah sangat berharap untuk meniduriku. Tapi aku tidak bisa melakukan itu, maafin aku Dimas. Maafin Kakakmu yang tidak bisa memberikan tubuhnya padamu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED