"Kak Sandra, Kakak lagi apa?"
Suara Dimas adik iparku sungguh mengagetkan ku. Aku segera keluar dari kamar mandi, supaya dia tidak tau apa yang sedang kulakukan di sini. Bisa sangat memalukan, kalau sampai ketahuan orang lain.
Bagaimana jika dimas sampai tahu, aku sedang memuaskan hasratku menggunakan jari? Karena Andre suamiku sudah lama tidak menggauli aku. Uh, membayangkannya saja sudah membuatku begidik.
"Ada apa, Dimas?" tanyaku, begitu bertatapan dengan adik Iparku yang masih SMA.
Sebenarnya Dimas lebih ganteng dari pada Andre. Sebenarnya... Ah apa yang kupikirkan, dia ini adik iparku! Ingat Sandra! Jangan gila!
"Aku sedang menyiapkan sarapan untuk kita berdua, Adik. Kamu belum makan, kan?" jawabku dengan nada lembut, mencoba menenangkan diriku sendiri.
"Aku baru bangun tidur, Kak. Masih kenyang dari makan malam tadi." jawab Dimas sambil menggaruk-garuk kepalanya yang masih pusing.
"Sudah beres. Aku akan segera menyiapkan sarapan untuk kita berdua." jawabku sambil berjalan menuju dapur.
"Terserah Kakak saja, tapi Dimas belum lapar Kak... Oh iya, Dimas mau mandi. Ini sudah siang, Dimas harus segera berangkat sekolah," kata Dimas.
"Oh ya, benar juga. Sebaiknya kamu cepat mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Aku akan menyiapkan sarapan secepat mungkin untukmu," jawabku dengan senyum yang ramah.
Aku mencoba menenangkan diri sendiri dan melupakan perasaan aneh yang baru saja muncul. Aku tahu itu tidak benar, dan aku harus menjaga diri sendiri agar tidak terjebak dalam godaan ini lagi.
Beberapa menit kemudian Dimas keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk untuk menutup bagian bawahnya. Aku menatap tubuh Dimas yang kekar tanpa berkedip.
Saat itu, hatiku berdegup kencang dan aku merasa gugup. Namun, aku mencoba untuk tidak menunjukkan perasaanku dan mencoba untuk tetap tenang di depan Dimas. Aku berbicara dengan memiliki sikap ramah dan menjaga jarak agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah itu, aku kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi kita berdua. Namun, pikiran-pikiran aneh itu terus mengganggu pikiranku. Aku merasa sangat bersalah terhadap suamiku dan merasa tidak pantas atas perasaan yang baru saja muncul dalam pikiranku.
Beberapa menit kemudian aku menyiapkan sarapan di meja makan. Saat itu Dimas sudah mengenakan seragam sekolahnya. Dia terlihat sangat tampan, kulitnya putih bersih seperti susu, dan rambut hitamnya yang halus dan lurus menambah pesona kecantikannya.
"Sarapan sudah siap, Adik," teriakku dari dapur, berharap ia segera datang ke meja makan. Segera saja, ia datang dan duduk di kursi di seberang meja makan.
Aku menjaga jarak dengan Dimas, memilih untuk tidak terlalu dekat dan mencoba untuk fokus pada makanan di meja.
Setelah selesai sarapan, Dimas berdiri dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Aku melihatnya mengulurkan tangan untuk berpamitan, dan aku meraih tangannya dengan senyum di bibirku. Aku merasa agak bersalah ketika pikiran-pikiran itu muncul lagi dan aku merasa tertarik padanya.
"Selamat tinggal, Dimas. Semoga harimu menyenangkan," ucapku dengan suara lembut.
Dimas tersenyum dan melambaikan tangannya, "Terima kasih, Kak Sandra. Sampai bertemu nanti."
Setelah ia pergi, aku merasa lega dan berusaha sebisanya untuk melupakan perasaan-perasaan yang tidak semestinya. Sementara itu, aku mulai sibuk dengan rutinitas harianku, membersihkan rumah dan menyiapkan makan malam untuk suamiku Andre.
Namun, perasaan yang tidak semestinya itu terus menghantui pikiranku sepanjang hari. Aku merasa terikat pada pengalaman-pengalaman seksual yang baru-baru ini aku jalani bersama dengan Andre, yang lebih tua dan kurang bergairah.
Saat Andre pulang dari kantor, aku menyambutnya dengan senyum dan menawarkan makan malam yang sudah selesai aku buat. Seakan tidak ada yang terjadi, kita berbicara tentang hal-hal biasa, dan Andre tidak mencurigai apa-apa.
Setelah makan malam, Andre mengajakku untuk menonton film bersama. Kami duduk di sofa, dan aku merasa agak gugup karena pikiran-pikiran tidak sepantasnya itu semakin muncul lagi.
Namun, suasana di dalam ruangan tiba-tiba berubah ketika adegan film memperlihatkan adegan intim di antara pasangan di layar. Andre tiba-tiba mengambil tangan ku dan membimbingnya ke kamar tidur. Ketika kami sampai di kamar, Andre memelukku dan menciumku dengan lembut.
"Sandra, aku merindukanmu," gumam Andre di telingaku.
Aku merasa bersalah karena perasaan yang muncul pada Dimas, tapi aku berusaha fokus pada suamiku dan menenangkan diri.
Kami mulai berciuman dengan lebih ganas dan Andre merayap di atas tubuhku. Aku merasakan sentuhan lembutnya yang membuatku makin tergoda dan mengikuti alurnya.
Setelah beberapa saat, Andre hentikan dirinya dan merangkak ke sampingku. Aku merasa kecewa dan bertanya-tanya mengapa dia berhenti begitu cepat.
"Andre, kenapa kamu berhenti?" tanyaku dengan sedikit kecewa.
Andre memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang, lalu menciumku lagi dengan penuh gairah. Aku merasakan ketertarikan yang kembali muncul dari dalam diriku dan mulai meresponsnya dengan semangat.
Namun, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Dimas masuk ke dalam dengan wajah penuh keheranan. Aku merasakan diriku terperangkap dalam keadaan yang memalukan, sedangkan Andre mencoba untuk cepat-cepat mengambil selimut untuk menutupi kami berdua.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya ingin mengambil buku catatanku yang tertinggal di sini," kata Dimas sambil membalikkan tubuhnya dan menuju ke meja belajar.
Aku merasa sangat malu, dan Andre meminta maaf atas apa yang terjadi tadi. Sementara itu, pikiran-pikiran aneh itu kembali muncul dalam diriku dan membuatku merasa sangat bingung.
Hari-hari berikutnya, aku terus merasa gelisah dan terobsesi dengan pikiran tentang Dimas. Aku mencoba untuk mengatasi perasaan-perasaan itu dengan cara menghindari pertemuan dengan adik iparku itu, tapi hal itu tidak berguna.
Satu malam, aku dan Andre sedang santai di sofa ketika Dimas masuk ke dalam rumah dengan wajah murung. Aku tahu segera bahwa ada sesuatu yang salah, dan mencoba untuk menenangkannya dengan kata-kata yang penuh kasih sayang.
"Ada apa, Dimas? Apa yang terjadi?" tanyaku dengan suara lembut.
"Kak Sandra, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku sedang mengalami masalah besar di sekolah dan tidak tahu harus bagaimana," jawab Dimas dengan suara terbata-bata.
"Oh tidak, apa yang terjadi? Ceritakanlah kepada kami," kata Andre sambil membelainya di bahunya.
Dimas menatapku dengan wajah muram dan menceritakan bahwa ia sedang diintimidasi oleh sekelompok teman sekelasnya. Mereka terus menggodanya, mengolok-oloknya dan mempermalukannya di depan banyak orang.
Aku merasa sedih dan marah pada saat yang sama. Aku tidak bisa membayangkan betapa sulit dan menyakitkan rasanya menjadi korban bullying di usia muda seperti itu. Aku dan Andre mencoba menasehati Dimas dan memberinya dukungan. Kami juga mengatakan padanya, jika kami akan membantunya menyelesaikan masalah ini.
Dimas mengangguk, sebelum pergi ke kamarnya.
***
Beberapa hari kemudian, aku bertemu dengan Dimas di dapur. Dia terlihat sudah lebih ceria dari sebelumnya dan aku tahu bahwa semua masalah yang dialaminya di sekolah sudah teratasi.
"Apa kabar, adikku?" tanyaku sambil tersenyum ramah pada Dimas.
"Kak Sandra, terima kasih banyak untuk semuanya," jawab Dimas dengan rasa terima kasih yang jelas terlihat di wajahnya.
"Apa yang bisa kakak lakukan untukmu?" tanyaku kembali.
Dimas berpikir sejenak, sebelum melanjutkan, "Sebenarnya kak Sandra bisa membantuku untuk mengerjakan tugas sekolah yang sulit ini. Aku kesulitan memahami topik yang dijelaskan oleh guru."
Aku merasa kasihan melihat wajah bersedih Dimas. "Jangan khawatir, adikku. Kakak akan membantumu," kataku sambil meletakkan tanganku di pundaknya.
"Benarkah kak?" Tanya Dimas dengan senyum di wajahnya.
"Tentu saja," jawabku. "Mari kita duduk dan bicarakan tugasmu, ada apa saja yang kamu kesulitan?"
Dimas menggelengkan kepalanya. "Semua topik terdengar sulit untuk dipahami, kak," katanya lalu meraih buku teksnya.
"Sudah kau coba membaca bukunya dari awal dan memeriksa konteksnya?" tanyaku sambil membantu mengambil buku-buku dan membukanya di atas meja.
Dimas menganggukkan kepalanya dan bersama-sama kami membaca buku teksnya untuk mencari konsep yang membuatnya bingung. Aku mengajarkan prinsip-prinsip dasar dan contoh-contoh praktis tentang topik yang sulit. Kami meluangkan waktu untuk membahas setiap konsep sampai ia benar-benar memahami mengenai apa yang dia sedang pelajari.
Setelah beberapa kali belajar bersama, Dimas makin memahami konsep-konsep yang sulit dalam pelajaran matematika. Ia semakin percaya diri dan mampu mengatasi masalah yang sebelumnya dianggap sulit. Kami terus belajar bersama, memperdalam konsep yang telah dipelajari dan membahas topik lain seperti fisika dan kimia.
Pada suatu hari, ketika kami belajar bersama di teras rumah, saya merasa terkejut ketika Dimas bertanya tentang matematika tingkat lanjutan, seperti kalkulus dan geometri differensial. Meskipun aku tidak sepenuhnya memahami topik-topik tersebut, aku membantunya dengan segenap kemampuan saya untuk memahami prinsip-prinsip dasar dan mencari referensi online untuk membantu menjelaskan lebih detail.
Dalam waktu singkat, Dimas mampu memahami konsep-konsep yang sulit tersebut dan mulai mampu menguasai topik-topik yang lebih canggih. Selama itu kami sering belajar bersama, dan aku mulai menyadari bahwa aku tertarik pada Dimas. Aku merasa tergoda oleh kecantikan dan kegantengannya, dan aku merasa bersalah karena merasa seperti itu. Aku mencoba untuk menyingkirkan perasaan aneh itu, tapi sulit bagi saya untuk melakukannya.
Ketika Andre pergi dalam suatu perjalanan bisnis selama beberapa minggu, aku menjadi semakin tertarik pada Dimas. Kami semakin sering belajar bersama, dan aku merasa bahwa ia juga menunjukkan minat yang lebih pada diriku.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, karena aku tahu bahwa ini tidak benar. Aku ingin mengubah perasaan itu dan menjaga hubungan aku dengan Andre sebagaimana mestinya, tapi sulit untuk menghentikan pikiran-pikiran aneh ini.
Suatu hari ketika aku sedang belajar dengan Dimas, aku merasa mendadak kesepian dan merindukan kehangatan tubuh yang memelukku. Aku merindukan kasih sayang dan nafsu yang dimiliki Andre terhadap diriku. Dan aku merasakan bahwa Dimas juga dapat memberikan itu padaku.
Aku merasa kesulitan untuk menahannya ketika kami sedang belajar bersama, keinginan untuk memilikinya terus melintas dipikiranku. Bagaimana caranya aku menjaga perasaan ini, menghentikan pikirannya dan memikirkan dengan baik pada masa depanku, bukan hanya pada keinginan yang tidak benar ini?
Sementara itu, waktu terus bergulir. Semua berjalan seperti biasa sampai suatu saat aku naik ke lantai dua dan melihat Dimas sedang mandi. Dalam sekejap, aku melihat tubuhnya yang telanjang dan kecantikan tubuhnya yang membuatku tidak bisa menahannya lagi. Aku merasa sangat tertarik padanya dan ingin mencoba merasakan tubuhnya dalam cara yang tidak semestinya.
Tapi aku tahu bahwa itu salah. Aku harus menghentikan pikiran aneh ini dan fokus pada suamiku dan pernikahan kami.
Sementara itu, aku membantu Dimas menyelesaikan pekerjaannya dan mulai menyelesaikan masalah-masalah yang selalu membuatnya bingung di sekolah.
Aku merasa terobsesi dengan pikiran'a aneh yang tidak semestinya hingga suatu ketika aku pulang ke rumah dan menemukan Dimas sedang menunggu di kamarku. Dia merasa sedih dan mengatakan bahwa dia merasa ada sesuatu yang salah dengan dia dan karena itu dia memerlukan bantuanku.
"Apa yang terjadi, Dimas? Apa yang membuatmu merasa sedih?" tanyaku sambil mengelus lengan Dimas dengan lembut.
"Ibu dan ayah akan bercerai, Kak Sandra. Aku merasa sangat kesepian dan tidak tahu harus bagaimana," jawab Dimas dengan suara parau.
Aku merasa terkejut mendengarnya. Dimas adalah Adik iparku, dan adik kandung Andre. Dalam hal ini, berarti mertuaku akan bercerai?
Aku merasa sedih mendengar berita itu. Aku bisa merasakan betapa sulitnya itu bagi Dimas dan keluarganya. Aku memeluknya erat dan memberikan dukungan yang dia butuhkan.
"Jangan khawatir, adikku. Aku selalu di sini untukmu. Kami akan membantumu melewati masa-masa sulit ini," kataku dengan suara yang lembut.
Dimas mengangguk dan tersenyum melemaskan. Saat itulah, aku memutuskan untuk membantunya sebisa mungkin. Aku mendengar kabar bahwa orang tua Dimas sudah mengajukan permintaan cerai di pengadilan. Ini menjadi kabar besar yang menyebar ke seluruh keluarga kami.
Aku terus menenangkan Dimas, dan aku juga meyakinkannya. Jika ayah dan ibunya benar-benar berpisah, aku dan Andre akan merawat Dimas. Dan membiarkannya untuk terus hidup bersama kami.
Beberapa minggu kemudian, kabar buruk itu terjadi dan perceraian orang tua Dimas benar-benar terjadi. Dimas sangat sedih dan aku bergabung untuk menemani dia sepanjang waktu agar tidak merasa kesepian.
Aku dan Andre merasa bertanggung jawab untuk merawat Dimas sambil memberikan dukungan yang dibutuhkannya. Kami ingin membantunya bertahan selama masa-masa sulit ini ketika semuanya terasa buruk di dalam hidupnya.
Dimas terus mengucapkan terimakasih padaku dan Andre. Karena kami mau mengambil tanggung jawab untuk merawatnya.
Aku tidak tahu pasti yang dipikirkan Dimas, tapi kali ini dia sering membantuku menyelesaikan pekerjaan rumah. Apalagi saat Andre tidak ada di rumah, Dimas yang selalu membantuku menyelesaikan segala pekerjaan rumah.
Beberapa bulan berlalu sejak kedua orang tua Dimas berpisah, dan suasana di rumah mereka masih terasa sedih. Kedua orang tua Dimas saling berbicara dengan pandangan sinis dan mereka bahkan tidak pernah berbicara satu sama lain kecuali melalui pengacara mereka. Dimas sendiri terus merasa kesepian dan terombang-ambing antara rumah ayah atau rumah ibu.
Aku merasa iba pada Dimas, dan aku ingin membuatnya merasa lebih baik dan merasa seperti keluarga nyata. Sementara itu, aku masih merasa terobsesi pada pikiranku yang aneh-aneh.
***
Malam itu, aku sedang duduk di sofa dan membaca novel di platform online. Tiba-tiba Dimas datang dan langsung duduk di sebelahku.
"Malam Kak Sandra!" ucap Dimas semangat.
Aku bukannya menjawab, malah menarik nafas dalam dan menutup kedua mataku. Untuk menghirup bau harum dari tubuh adik Iparku ini.
Saat aku membukakan mataku kembali, aku melihat Dimas menatapku dengan tatapan yang intens. Aku merasa sedikit terkejut dan tersentak, tapi aku kemudian melepaskan diri dari tatapannya dan menyapa kembali.
"Malam, Dimas. Kamu baik-baik saja?" tanyaku.
"Ya, Kak Sandra. Aku hanya merasa sedih karena aku belum merasa seperti punya keluarga nyata yang bisa membantuku," jawab Dimas.
Aku merasa iba pada Dimas dan mencoba memberikan dukungan yang dia butuhkan. "Kamu tahu kan bahwa kami semua di sini untukmu, adikku. Kami selalu mendukungmu dan merawatmu sebaik mungkin," kataku dengan suara yang lembut.
Dimas mengangguk dan tersenyum, tapi aku masih merasakan ketegangan di antara kami. Aku merasa seperti ada yang salah dalam pikiranku dan aku tidak tahu harus bagaimana.
Berikutnya, kami hanya duduk di sofa dan melihat TV bersama. Saat kami menonton film, aku terus menatap layar TV, tapi tidak bisa sepenuhnya memfokuskan diri pada film yang sedang diputar. Pikiranku malah melayang ke masa lalu, saat aku melihat tubuh Dimas dikamar mandi.
Aku segera menepis pikiran aneh itu dari kepalaku. Itu hanya pikiran yang tidak semestinya dan tidak boleh dijadikan acuan. Aku harus fokus pada tugasku untuk membantu Dimas melalui masa-masa sulit ini.
Tapi sejak itu, pikiran aneh tentang Dimas terus menghantuiku. Aku mencoba mengabaikannya, tetapi semakin lama semakin sulit untuk melupakan pikiran itu. Aku merasa bersalah karena berpikiran seperti itu pada adik iparku sendiri.
***
Beberapa hari kemudian, Dimas memintaku untuk membantunya mengambil beberapa barang dari rumah bekasnya bersama ibunya. Aku setuju dan kami menuju ke rumah bekas Dimas.
Kami sampai di depan rumah, dan aku melihat bahwa rumah itu sudah sangat berbeda dari ingatan terakhirku. Semua benda dan dekorasi sudah diambil oleh ibu Dimas, dan rumah itu terlihat kosong dan suram.
Kami masuk ke dalam rumah, dan aku bisa merasakan atmosfer yang tegang di dalamnya. Ada beberapa kotak yang harus diambil, dan Dimas dan aku pergi ke ruang tamu untuk mengambil kotak-kotak itu.
Setelah membawa semua kotak-kotak itu ke dalam mobil. Kami segera berangkat dengan mobil. Namun, perjalanan pulang tidak berjalan mulus. Mobil kami tiba-tiba berhenti di tengah jalan yang sepi dan tidak ada tanda-tanda ada orang yang bisa membantu kami.
Dimas dan aku melihat ke bawah kap mesin, mencoba mencari tahu apa yang salah. Namun, kami sama-sama tidak tahu harus bagaimana untuk memperbaikinya.
"Apa yang harus kita lakukan, Kak Sandra?" tanya Dimas, terlihat sedikit panik.
Aku berusaha menenangkan Dimas, "Jangan khawatir, adikku. Aku akan mengambil handphoneku dan mencoba menghubungi Andre atau seseorang yang bisa membantu kita."
Namun, ketika aku mencoba mengambil handphoneku, aku menyadari bahwa aku lupa membawanya. Aku merasa gugup dan panik, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Tanpa pikir panjang, aku mulai mencari bantuan. Ketika saya membuka pintu mobil, saya melihat beberapa orang datang dari arah yang berbeda.
Mereka datang untuk membantu kami dengan mobil yang rusak dan membawanya ke bengkel terdekat. Ketika kami berjalan di sepanjang jalan menuju bengkel, saya merasa bersyukur bahwa ada orang baik di dunia ini yang siap membantu orang yang tidak dikenal.
Di bengkel, kami menunggu mobil diperbaiki sambil minum kopi di warung dekat sana. Saat menunggu, saya melihat Dimas terus menatap ke arahku, dan itu membuat saya merasa tidak nyaman. Saya berusaha mengabaikan perasaan itu dan fokus pada situasi saat ini.
Tapi bau parfum dari tubuh Dimas benar-benar mengganggu pikiranku. Aku tidak ingin menghadapi fakta bahwa aku jatuh cinta padanya. Aku selalu menganggapnya sebagai adikku yang lucu dan imut, tetapi sejak kami mulai bersama beberapa hari yang lalu, dia mulai terlihat berbeda di mataku.
Ketika mobil kami telah diperbaiki dan kami harus melanjutkan perjalanan, Dimas menyadari keteganganku dan bertanya, "Kak Sandra, apakah kamu baik-baik saja? Kelihatannya kamu cemas."
Aku mencoba tersenyum, "Iya, adikku. Aku baik-baik saja. Cuma sedikit terkejut dengan mobil yang mogok di tengah jalan."
Dimas tidak kelihatan percaya dengan pernyataanku. Dia yakin bahwa ada yang salah dan mencoba mengajakku bicara, "Apakah ada yang mengganggu pikiranmu? Kamu bisa bercerita padaku, Kak Sandra."
Aku merasa sangat terpojok. Saya tidak ingin memberitahunya bahwa saya jatuh cinta padanya, tetapi tidak ingin menyembunyikan apa yang saya rasakan darinya.
"Sudahlah, enggak ada yang salah," jawabku cepat sambil tersenyum lebar.
Dimas tetap tidak yakin bahwa semuanya baik-baik saja. Dia mendekati ku dan berkata, "Kak Sandra, aku tahu ada yang mengganggu pikiranmu. Tolong katakan padaku apa yang terjadi."
Aku terdiam sejenak, merenungkan apa yang harus aku katakan. Aku tahu bahwa menyembunyikan perasaanku tidak akan membantu dan malah akan menyulitkan situasi.
"Aku jatuh cinta padamu, Dimas," kataku dengan tegas.
Dia terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. Dia terlihat seperti sedang berusaha mencari kata-kata yang tepat. Setelah beberapa saat, dia akhirnya berkata, "Aku juga merasakan hal yang sama, Kak Sandra. Aku bahkan sudah menyimpan perasaan ini sejak lama."
Tunggu! Apa? Aku menatap Dimas dengan tak percaya.
Dimas melihat ekspresi wajahku yang terkejut dan cepat menjelaskan, "Maafkan aku, Kak Sandra. Aku tidak bermaksud membuatmu terkejut seperti itu. Tapi aku benar-benar merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan."
Aku masih merasa tidak percaya dan berkata, "Tapi kenapa kamu tidak pernah mengatakannya sebelumnya?"
Dimas merenung sejenak sebelum menjawab, "Aku pikir kamu tidak akan tertarik padaku. Aku selalu menganggap kamu hanya sebagai kakak yang baik hati dan lembut."
Aku memandangnya dengan lembut dan berkata, "Tapi kamu salah, Dimas. Aku tertarik padamu sejak lama dan selalu merasa nyaman denganmu."
Dimas tersenyum, "Apa artinya ini, Kak Sandra?"
Aku tersenyum balik, "Ini artinya kita bisa menjalin hubungan yang lebih serius dan saling menjaga perasaan satu sama lain."
Dimas merespon dengan senang, "Aku setuju. Kita akan menjalani segalanya bersama."
Tapi tiba-tiba aku teringat dengan Andre, dan aku langsung menundukan kepalaku. Aku ingat, Dimas adalah adik iparku dan dia masih SMA. Pantaskah aku menjalin hubungan dengannya?
Aku merenungi pikiranku sejenak, mencoba mencari solusi terbaik. Dimas, yang melihat aku sedang terdiam, bertanya, "Ada apa, Kak? Apa kamu tidak setuju dengan ide kita menjalin hubungan?"
Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak, bukan itu. Aku hanya sedang memikirkan hal lain."
Dimas melihat aku masih terlihat khawatir dan bertanya lagi, "Apa yang membuatmu khawatir?"
Aku mengambil napas dalam-dalam dan menjawab dengan jujur, "Aku sedang berpikir tentang Andre. Kamu tahu, dia adalah kakakmu dan aku tidak ingin hubungan kita merusak hubungan kalian."
Dimas melihat aku dengan tatapan yang penuh pengertian dan menjawab, "Aku mengerti perasaanmu, Kak Sandra. Tapi aku yakin bahwa hubungan kita tidak akan merusak hubungan keluarga kita. Selama kita bisa menjaga perasaan satu sama lain dan tetap menghormati hubungan keluarga kita, aku yakin tidak akan ada masalah."
Aku mengeluarkan nafas kasar dan berkata, "Tapi Dimas, semua ini salah. Bagaimana kita bisa menghormati keluarga kita, kalau yang kita perbuat salah?"
Dimas memegang kedua bahuku dan berkata, "Kalau gitu, kenapa kita tidak menjalin hubungan rahasia? Kita bisa menjalin hubungan secara rahasia. Yang terpenting adalah kita saling mencintai dan saling mendukung satu sama lain. Kita bisa menjaga rahasia dan memastikan bahwa tidak akan ada yang tahu tentang hubungan kita. Yang penting adalah kita bahagia bersama."
Aku merenung sejenak untuk berpikir. Aku menatap Dimas, dan menganggukan kepala.
"Ingat ya Dimas, ini hanya menjadi rahasia kita!" kataku mengingatkan.
Dimas tersenyum dan menjawab, "Tentu saja, Kak Sandra. Aku akan selalu memastikan bahwa hubungan kita tetap menjadi rahasia dan tidak akan memberikan dampak buruk pada keluarga kita."
Aku menghela nafas, tersenyum pada Dimas sebelum mencium pipinya. Dimas cukup terkejut dengan tindakanku yang tiba-tiba. Namun demikian dirinya segera membalas dengan mencium pipiku.
***
Sampai di depan rumah, aku dan Dimas langsung menurunkan semua barang dari mobil. Kami saling membantu dan kelelahan bersama. Aku membuatkan minuman untuk Dimas, sebelum kami duduk bersama di sofa.
Andre mengatakan dia akan kembali dalam 3 minggu ke depan. Untung sekarang ada Dimas di sisiku, jadi aku tidak akan kesepian.
Aku menatap Dimas, rasanya ingin mengajaknya berhubungan ranjang. Tapi aku segera menepis pikiran itu. Apa yang akan dipikirkan Dimas tentangku, jika aku mengajaknya berbuat hal gila seperti itu? Dia pasti akan menganggapku wanita murahan, karena tidak bisa menahan birahi ku sendiri! Uh, sungguh menyebalkan.
Aku merasa sangat tergoda untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas dengan Dimas, tetapi aku harus menahan diri. Aku tidak ingin kehilangan rasa hormat dan harga diriku hanya karena tidak bisa mengendalikan nafsu.
"Kamu berpikir apa, Kak Sandra?" tanya Dimas, melihat ekspresi wajahku yang sedikit aneh.
"Apa-apaan?" balasku, mencoba tersenyum ke arahnya.
"Tidak ada yang salah, kan? Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja," kata Dimas sambil menepuk-nepuk pundakku.
Aku tersenyum, "Tentu saja, aku baik-baik saja. Aku hanya merasa sedikit kelelahan."
"Hem... Mau dipijit?" tawar Dimas.
Sambil tersenyum, aku mengangguk setuju dengan tawaran Dimas. Dia segera bangkit dari sofa dan mengajakku ke kamarku. Setelah mempersiapkan minyak pijat dan handuk, Dimas mulai memijat bahu dan punggungku dengan lembut.
"Kamu begitu kaku, Kak Sandra. Apa yang terjadi?" tanya Dimas.
Aku tidak bisa berkata-kata. Rasanya aneh dan tidak sopan jika kuceritakan pikiran dan rasa yang menggelitik diriku. Aku hanya memohon agar semua pikiran nakalku pergi dan tak kembali lagi.
"Tidak apa-apa, Dimas. Aku hanya merasa sedikit tegang." Jawabku, mencoba memberi jawaban yang ringan.
Dimas meneruskan pijatannya dengan sangat lembut, dan aku merasa terusik dengan tatapan mata tajamnya. Dia mengawasi setiap gerak dan ekspresiku, seperti mengetahui apa yang ada dalam pikiranku.
"Kamu bisa percaya padaku, Kak Sandra. Aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu," ujarnya tiba-tiba.
Aku menatapnya, merasa takjub dengan tatapan matanya yang penuh kehangatan dan cinta. Dia mengulurkan tangannya dan merengkuhku, mengecup bibirku dengan lembut. Perlahan-lahan, ciumannya semakin dalam dan intens.
Aku merasa seperti kehilangan kendali atas diriku sendiri. Akhirnya, keinginan dan hasratku berhasil memenangkan kuasa atas logika dan akal sehatku. Aku membalas ciuman Dimas dengan penuh gairah dan keinginan yang kuat.
Namun saat Dimas memegang dadaku, aku tersadar dan langsung mendorong tubuh Dimas menjauh dari nyubuhku.
"Dimas ini salah! Ini tidak boleh terjadi, aku mencintaimu. Tapi kamu tetaplah adik suamiku, aku tidak mau bertindak kelewatan Dimas. Maafkan aku," kataku dengan penuh penyesalan.
Dimas menatapku dengan heran, tapi tidak mengatakan apa-apa. Dirinya langsung keluar dari kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku merasa bersalah padanya, aku telah memberikan harapan palsu padanya. Pasti dia sudah sangat berharap untuk meniduriku. Tapi aku tidak bisa melakukan itu, maafin aku Dimas. Maafin Kakakmu yang tidak bisa memberikan tubuhnya padamu.