"Kami sudah sepakat. Hantaran yang harus dibawa itu dua ratus juta juga perlengkapan buat Belinda. Sebenarnya itu pun masih kurang. Segala jenis makanan juga perlengkapan rumah tangga itu sangat perlu. Tapi kalau memang gak bisa, ya kami akan coba maklumi," ucap Bu Yuni, ibu pacarku yang bernama Belinda.
"Kalau perlengkapan rumah tangga, itu sudah menjadi kewajiban saya, Bu. Tentang aneka makanan, saya akan usahakan dengan maksimal," jawabku sekenanya.
"Perlengkapan rumah tangga buat kalian dengan yang dibawa ke sini beda, dong. Kami sudah membesarkan Belinda sampai jadi sarjana dan bekerja di perusahaan besar itu butuh waktu dan tenaga yang gak sedikit. Dia sudah kami kasih perlengkapan hidup yang mewah. Soal begitu saja perhitungan," tanggap calon ibu mertuaku itu kecut.
Aku menelan salivaku. Bagaimana ada seorang ibu yang tega menghitung-hitung jasanya sebagai orang tua?
"Soal uang hantaran, saya hanya sanggup lima puluh juta tunai, Bu."
"Loh, kok bisa sedikit sekali? Kami bisa malu sebagai keluarga terhormat di komplek ini."
Dua orang pasangan paruh baya yang menemaniku terlihat saling pandang. Mungkin mereka ingin bicara tapi mereka sudah kuperingati agar tetap diam selama acara pra lamaran ini. Aku ingin lihat, bagaimana watak keluarga besar calon istriku?
"Tetangga sebelah aja, anaknya cuma lulusan D3, seabrek-abrek hantarannya. Belum lagi emasnya, penuh sebadan. Ini gimana sih, Bel? Calon suami kamu pelit gini," ketus wanita tua itu membuang wajah.
Belinda yang sedari tadi agak gelisah hanya menggigit bibirnya. Aku yakin, dia tak bisa membohongi perasaannya padaku.
"Maaf ya, Bu. Saya hanya mampu segitu. Lagi pula, saya sudah menyanggupi mahar emas dua puluh gram sesuai permintaan Belinda. Untuk resepsinya, saya sudah siapkan dananya," ujarku menambahkan dan berharap wanita itu jadi yakin.
Biar bagaimana pun, aku sungguh-sungguh mencintai Belinda. Aku akan mencoba terus menawar pada calon mertuaku ini, tapi bukan berarti menuruti semua permintaannya.
"Bel! Kamu kok minta sedikit sekali?!" berang calon ibu mertuaku. Kedua bola matanya melotot pada anak gadisnya.
"Memangnya itu sedikit ya, Ma?" tanya Belinda polos.
"Iiih ... kamu ya. Zaman sekarang, itu cuma harga sapi doang."
"Ma ... kontrol mulutmu itu," bisik Pak Imron, ayah Belinda. Suaranya masih jelas terdengar olehku.
Pria yang sudah dipenuhi uban di kepalanya itu mencubit paha istrinya karena gemas. Benar kata orang suruhanku, mulut istrinya itu memang terkenal pedas dan asal bicara, sesuai isi hati dan pikirannya tanpa menimbang perasaan orang lain.
"Maaf ya, Pak, Bu, istri saya memang orangnya nyablak," kekeh Pak Imron membuang rasa malunya.
"Tak apa-apa, Pak Imron. Kami maklum, Belinda anak gadis satu-satunya," jawab Parjo yang dianggukan oleh Romlah. Mereka berdua adalah kedua pelayan setiaku, yang sudah kuanggap seperti orang tuaku.
"Jadi bagaimana ya? Apa bisa Minggu depan, saya kembali membawa keluarga besar ke sini?" tanyaku meminta kejelasan.
Semakin lama aku mulai muak dengan gerak-gerik dan ucapan calon ibu mertuaku itu.
"Kami serahkan semuanya pada Belinda," ujar Pak Imron mencoba mengambil keputusan sebagai kepala keluarga.
Namun tiba-tiba, Bu Yuni memukul bahu suaminya yang tua itu.
"Jangan gegabah kamu, Pak! Aku gak mau ya, anak gadisku menikah dengan laki-laki yang gak jelas bobotnya."
Hatiku rasanya seperti disengat, namun melihat sosok wanita yang kucintai seperti berusaha menenangkan ibunya, aku mencoba sabar.
"Gak apa-apa, ya, Ma. Please, terima aja Mas Aditya, ya."
"Kalau cuman bawa lima puluh juta, buat apa Bel? Kemarin pas arisan, Mama ketemu Si Roy, anaknya tante Sindi, yang lulusan luar negeri itu. Kamu inget gak? Itu temen satu kelasmu pas SMP."
Belinda mengangguk samar.
"Mereka mau datang lamar kamu, lo! Iseng Mama bilang hantaran lima ratus juta. Roy sama Mamanya langsung oke tuh tanpa babibu. Apalagi kalau cuman dua ratus juta. Gak ada tuh tawar menawar kek gini. Mama berasa lagi jual kacang aja. Kamu ikuti ngomong Mama, zaman sekarang, duit itu sumber kebahagiaan."
"Tapi gimana dong, Ma? Aku cinta sama Mas Adit," timpal Belinda nampak ragu.
"Terserah kalau kamu mau hidup miskin."
Belinda langsung menggeleng-geleng keras. Gadis berambut blonde yang terawat itu melipat bibirnya seperti berpikir. Otaknya mungkin sedang berputar menimbang-nimbang semua ucapan ibunya itu. Yang gadis itu tahu, aku hanya karyawan biasa, sebagai admin pemasaran di perusahaan tempat kami bekerja. Sedangkan dia adalah sekretaris yang memiliki gaji yang jauh berbeda denganku. Apalagi ibunya baru saja mengingatkannya tentang sosok Roy yang anak orang kaya. Hatinya pasti mulai goyah. Aku akan tunggu, apa keputusanmu, Bel?!
Kliiink!
Suara cangkir yang sedikit beradu dengan meja kaca di depannya membuyarkan pikiran Belinda. Pacarku itu menatapku lalu menunduk.
"Silahkan diminum," ucap sosok yang bersuara lembut yang sedari tadi nenyebarkan cangkir-cangkir teh. Sepintas ekor mataku melirik. Wanita berhijab yang manis.
"Bel, kamu mau kan terima lamaranku?" tanyaku menatap sendu wanita yang kucintai itu. Aku suka Belinda, gadis cantik yang energik dan cerdas.
"Gimana ya? Aku berat Mas. Apa kamu beneran gak bisa memenuhi permintaan ibuku?" tanya Belinda seperti berbisik.
"Aku cuma mampu segitu, Bel. Kamu tahu kan posisiku di kantor, baru sebagai admin pemasaran."
Aku menggenggam kedua tangganku. Nafasku sedikit tersedat. Akan sulit jika benar sesuai firasatku, Belinda akan menolakku hanya karena kurang harta.
"Kamu jangan pelit-pelit dong, Mas. Jual apa kek. Katanya kamu cinta sama aku. Kok gak ada usahamu sedikit pun. "
"Ini aku sedang usaha, Bel. Aku cinta sama kamu. Tapi kamu juga harus percaya sama aku. Aku janji, akan rajin kerja dan bahagiain kamu. Kamu percaya deh, aku pasti naik pangkat," ujarku mencoba meyakinkan calon istriku ini. Belinda hanya belum tahu siapa aku yang sebenarnya dan belum saatnya dia tahu.
"Kamu baru kerja enam bulan, mau naik pangkat dari Hongkong, Mas. Kamu minjem online ajalah Mas," usul Belinda.
Aku menghela nafasku kuat-kuat. Aku tak suka nada bicara Belinda juga usul gilanya itu. Hidup tenang itu sederhana. Salah satunya, jangan banyak gaya lalu membebani diri dengan hutang hanya untuk sebuah pengakuan.
"Jadilah intinya gimana?" tanyaku dengan nada tegas.
"Kok masih bisa nanya intinya sagala," ketus Yuni dengan mata memincing sinis.
"Anak gadisku gak ditakdirkan buat hidup miskin apalagi sama laki-laki kere. Dengar-dengar, kamu hanya admin di sana. Gimana ceritanya, bisa suka sama anakku yang sudah jadi sekretaris? Lucu."
Setiap ucapan Bu Yuni bagai sembilu bagiku. Namun aku masih menahan diri. Jawaban Belinda adalah kunci setiap tindakanku ke depan.
"Maaf, Bu. Saya ingin dengar ucapan Belinda secara langsung. Gimana Bel? Apa ucapanmu mau menemaniku berjuang itu masih berlaku?"
Belinda mengigit bibirnya. Gadis itu menatapku. Sepertinya dia sudah memiliki keputusan.
"Kamu memang tampan tapi tak modal, Mas. Mulai hari ini kita putus. Kamu cari perempuan lain ajalah."
Sejenak hanya hening di ruang itu. Kecuali suara tangan gadis pembawa teh tadi yang sedang meletakkan tisu makan di atas meja. Gadis itu seolah abai dengan segala pembicaraan di ruangan itu. Kini dia bersiap kembali lagi ke dapur.
"Baiklah. Aku akan menikahi wanita itu," ucapku menoleh padanya yang sedang melangkah menjauh.
Melotot kedua bola mata Belinda seperti akan keluar dari tempatnya. Manik matanya terus mengikuti tanganku yang sedang menunjuk gadis berhijab coklat muda yang sedang berjalan menjauh.
"Dahlia?!!!" Suara Belinda seperti memekik.
Oh rupanya, namanya Dahlia. Hemmm ... tak buruk.
Gadis itu berhenti. Ia membalik tubuhnya lalu celingak-cekinguk. Semua mata di ruangan itu sedang menatapnya serius.
"Non?" tanyanya seperti kebingungan.
Sedangkan Belinda masih tampak kehilangan akal.
"Kamu jangan gila, ya!" seru Bu Yuni berang.
Aku tak peduli.
"Kamu, sudah menikah?" tanyaku bangkit menghampiri gadis yang bernama Dahlia itu.
Ia makin kebingungan. Pandangannya menatap majikannya, namun aku segera menutupi mereka dengan punggungku. Kini, hanya wajah tampanku ini yang di depannya.
"Aku tak punya banyak waktu, Mbak. Kamu sudah menikah?"
Kuulangi pertanyaanku lebih tegas, lebih jelas dan juga lebih dekat lagi dengan wajah Dahlia. Sorot mata kami beradu. Cukup banyak detik yang terlewatkan. Dia lalu menggeleng pelan. Aku tersenyum.
"Baiklah. Besok aku akan datang ke rumahmu. Bersiaplah menjadi pengantinku."
Tak perlu menunggu responnya, segera kubelakangi gadis berhidung bangir itu.
Namun beberapa saat ....
"Eeeee... Eeeh, Mas!" serunya.
Sepertinya dia mulai sadar. Aku berbalik menolehnya santai.
"Sinting ya? Jangan ngadi-ngadi deh! Gimana ceritanya kamu mau nikahin aku sedangkan kamu calonnya majikanku! Ketemu juga baru sekarang."
"Dia menolakku. Jadi aku pilih kamu. Jangan berisik," ketusku.
Dasar gadis tak peka, apa dia tak merasakan aura kepemimpinan dan kedikjayaan dalam diriku?
"Memang miring ya otaknya orang ini! Lagian siapa juga yang mau nikah sama orang modelan gini. Belagu. Ogah. Aku sudah punya lelaki idaman ya!"
"Terserah."
"Eeeh! Gak bisa!" teriaknya.
Aku mendekatinya sangat dekat sekali. Aroma keringatnya tercium di hidungku. Aku tahu, pastilah dia memakai sabun murahan. Tapi tak masalah. Aku butuh gadis ini untuk membungkam ego dua wanita sombong di belakangku itu. Kupegang bahu Dahlia dengan sangat kencang.
"Dengarkan aku. Diamlah. Aku akan menbayarmu hanya dengan kau menutup mulutmu itu. Anggukan kepalamu sekarang, kuhargai 10 juta. Hanya satu anggukan kepala saja. Kau tak mungkin kan melewati kesempatan ini?" bisikku yang kupastikan hanya dia dan aku yang tahu.
Aku bisa melihat pergerakan rahang gadis itu. Ia sedang menelan salivanya yang mungkin terasa pahit karena kekagetannya yang luar biasa. Namun aku terus menatapnya tajam dan akhirnya dia mengangguk.
"Oke!" seruku menghentak bahu Dahlia lalu melepaskan tubuh gadis itu. Ia sedikit terdorong ke belakang. Dahlia nampaknya terlihat penuh tanda tanya dan aku tak peduli.
"Terimakasih semuanya. Bu, Pak dan kamu Bel, aku pamit ya," ujarku datar.
"Oh ya, tolong pecat dia karena mulai hari ini, dia calon istriku. Dia tak pantas menjadi pembantu. Dia adalah nyonya Central Glory tbk," lanjutku.
Belinda melempariku dengan kotak tisu di depannya. Untung saja benda itu ringan, terbuat dari sejenis kain flanel. Sungguh Belinda ternyata bukan wanita yang kukira beretika yang baik.
"Kamu jangan banyak gaya, banyak bicara! Kamu bisa aku laporkan sama atasan karena secara tidak langsung, kamu sudah menghina perusahaan!"
"Detik dimana aku bicara begitu, detik itu juga aku sudah bukan admin lagi di sana, Bel! Mulai besok, kamu harus minta tanda tanganku untuk segala urusan proyek perusahaan."
Bu Yuni menarik tangan putrinya agar duduk kembali ke sofa. Nampak nafas Belinda memburu. Aku tahu, dia sedang cemburu. Aaah... Aku suka permainan ini. Awas saja, kubuat kau menyesal karena memperlakukanku begitu hina di depan orang lain, Bel!
"Mama gak bisa bayangin kalau seandainya, kamu beneran menikah dengan dia, Bel! Baru ditolak sama kamu, dia sudah langsung gila. Hahahahaha! Lucu!"
Mulut Bu Yuni begitu lebar saat menertawakanku. Suaminya juga terlihat menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan tawanya. Lihat saja, tawa kalian akan berubah menjadi air mata penyesalan.
"Eeh Dahlia! Jadi kamu menikah sama dia? Ya sudah. Lanjut aja terus sekalian kamu ikutan gilanya!" ucap Belinda sangat sombong menoleh pada Dahlia yang masih mematung.
"Awas saja kalau kamu kemakan rayuannya. Besok kamu harus tetap kerja. Mau makan apa kamu sama orang tuamu yang miskin kalau gak kerja di saya?!" lanjut Bu Yuni.
Wanita itu menatap sinis pada calon istriku. Ya. Aku tegaskan, gadis berkulit kusam itu calon istriku. Akan kusulap dia menjadi lebih cantik dari Belinda. Lihat saja.
Dahlia mencoba membuka mulut tapi tak ada suara darinya. Aku tahu, dia pasti merasa terikat dengan ucapanku tadi. Baguslah.
"Mari, Tuan Muda, kita pulang!" seru Parjo.
Bu Yuni langsung tersedak, batuk-batuk mendengar laki-laki yang kulitnya agak hitam karena sering terkena sinar matahari secara langsung.
"Bel! Bahkan orang tuanya aja langsung gak waras. Tuan muda? Ampun deh," ejek wanita tua itu.
"Dia memang Tuan Muda kami, Bu. Anak ...
Aku mengangkat tanganku sedikit pada Romlah. Tak perlu mengatakan siapa aku, biar mereka melihat langsung nanti. Mudahan tak langsung kena serangan jantung.
Kedua pasangan itu kuperkenalkan sebagai bapak dan ibuku. Tidak ada yang tahu, termasuk Belinda sendiri. Mereka sebenarnya adalah kepala pelayan di kediaman keluarga besar Hadi Pratama, pengusaha batu bara, pemilik banyak real estate di kota ini. Dialah ayahku.
Terlihat Belinda hanya menggeleng, menutup mulutnya yang sedang tertawa.
"Please deh, Aditya! Kamu kalau mau sirkus ngelawak janganlah di sini. Dah kamu cepet aja nikah tu sama Dahlia. Pastilah lima puluh juta bisa langsung yess sama dia dan keluarganya! Lima juta pasti oke. Mereka itu cocok sama kamu. Sama-sama miskin."
"Kamu kenapa sejahat ini menghina aku, Bel? Selama enam bulan ini, sikapmu tak seperti ini. "
"Ya sejujurnya aku hanya suka wajah tampanmu. Tapi makin ke sini, tampan tapi miskin, itu buatku sadar kalau selama ini aku sudah menghabiskan banyak waktuku."
"Masih banyak yang nikah hanya dengan mahar seperangkat alat solat, Bel! Semua uang itu murni hasil keringatku sendiri!" seruku menimpali.
"Tidak untukku, Adit. Kita beda level, beda kasta. Kamu silahkan keluar dari rumah ini."
Ucapan Belinda menambah rasa sakit hatiku. Rupanya kata-kata cintanya kemarin padaku itu hanya permainan belaka. Baiklah, akan kutunjukkan cara bermain yang sesungguhnya.
Aku merogoh sebuah kotak dari kantung celanaku. Benda itu berlapiskan beludru lembut. Kuhampiri Dahlia yang masih mematung menyaksikan perdebatanku. Gadis itu mundur. Aku melototkan mataku padanya. Dia semakin mundur namun langkah kakinya terhenti karena terhalang dinding ruang tamu itu.
"Berikan tanganmu!" perintahku dingin.
Dahlia menggeleng. Mataku semakin melotot padanya. Setelah mendapatkan tekanan dariku, gadis itu mengulurkan tangannya perlahan dan nampak gemetar. Aku menyeringai puas.
Kleeek!
Kubuka kotak kecil di tanganku. Aku pastikan, kilau cincin berlian ini adalah permulaan pembalasan atas hinaan keluarga ini padaku.
Aku langsung melingkarkan cicin berlian itu di jari manis Dahlia. Mulutku sedikit mengerucut heran, mengapa bisa pas seolah-olah cincin itu memang diciptakan untuknya?
"Apa perlu kami abadikan, Tuan?" tanya Parjo.
"Boleh," jawabku singkat.
Parjo mengeluarkan ponselnya yang ada gambar apel yang digigit dengan tampilan edisi terbaru. Dua bulan yang lalu, benda bergengsi itu menjadi hadiah dari ayahku karena pengabdiannya yang setia di keluarga kami. Parjo dan Romlah adalah pelayan kesayangan mereka. Karena kesibukan kedua orang tuaku yang melalang buana ke hampir semua negara adidaya, membuatku menyayangi kedua pasangan suami istri itu seperti orang tuaku sendiri.
Belinda menghampiri kami dengan wajah pucat. Mungkin jantungnya sebentar lagi akan jatuh karena silau dengan kilauan cincin ini. Dengan kasar, ia meraih tangan Dahlia.
"Ini apa Mas?!"
Aku tersenyum kecut. Kenapa sekarang dia memanggilku Mas lagi? Tadi dengan sombongnya memanggil namaku. Wanita ini seperti bunglon bisa berubah-rubah. Baru melihat yang berkilau langsung mencoba mesra. Aku tak akan luluh. Harga diriku sudah kau injak bersama ibumu itu, Bel! Jangan harap aku akan berubah pikiran.
"Memangnya matamu rabun? Itu cincin," ketusku.
"Iya! Aku juga tahu, ini cincin! Ini cicin kw apa asli?!"
Belinda memekik sembari menggoyang-goyangkan tangan Dahlia. Wanita itu menyentak lengan Dahlia dengan kasar. Anehnya, calon istriku itu diam saja seperti meringis menahan sakit tangannya. Aku jadi geregetan dibuatnya.
"Mau asli mau kw pun tak ada urusannya sama kamu, Bel!"
"Kamu tinggal jawab, ini cincin asli apa cincin palsu?!"
Belinda kembali mengguncang tangan Dahlia. Gadis berhijab itu menunduk, menggigit bibirnya. Mungkin ia sedang menahan rasa sakit dan serba salah. Aku tak bisa membiarkan ini. Belinda keterlaluan.
Wuush!!
Aku menarik tangan Dahlia hingga terhuyung di depan dadaku. Kedua bola mata gadis itu melebar karena kaget. Seperti detik begitu lambat meninggalkan waktu. Gadis itu sekarang sudah berada dalam pelukanku. Sejenak Dahlia mendongak menatapku. Aku suka warna manik mata gadis itu. Warna abu bercampur hitam jelaga. Ciamik. Tiba-tiba Dahlia langsung melepaskan diri, salah tingkah. Hatiku tersenyum tapi ekspresi wajahku datar.
"Kamu jangan kurang ajar ya Mas! Ini rumahku!" teriak Belinda.
"Kamu tuh, jangan jahat sama calon istriku! Kamu kira lengannya itu layangan bisa kamu kebas-kebasin begitu. Kalau kami tak bisa pergi bulan madu ke Paris karena lengannya sakit, aku tuntut ya!"
Merah padam wajah Belinda karena merasa dipermainkan.
"Aku sudah muak ya sama omonganmu yang sok bossi itu! Jangan terlalu menghayal. Bisa mati menggenaskan kamu nanti karena depresi," ketus Belinda.
Aku hanya diam, mencebik. Kamu hanya belum tahu saja, siapa aku, Bel. Kamu akan segera menarik ucapanmu itu.
Tiba-tiba Bu Yuni yang sekarang memegang telapak tangan Dahlia. Kubiarkan saja dia memutar-mutar cincin itu di jari manis calon istriku itu. Semoga nenek peot ini bodoh, tak bisa membedakan mana berlian palsu dan asli. Jadi, dia tak langsung terkena struk ringan karena kaget. Aku tersenyum dalam hati tak mampu membayangkannya jika itu terjadi.
"Aah ini pasti kw ini, Bel. Gak mungkin asli," ujar Bu Yuni menghempaskan tangan Dahlia. Tampak gadis itu hanya mengusap tangannya di kain hijabnya.
"Masak sih, Ma? Kilaunya kok beda ya," gumam Belinda kembali akan meraih tangan Dahlia.
Aku langsung menepis lengan Belinda.
"Sudah ya. Mau kw atau asli, gak ada hubungannya sama kalian. Kan kamu juga gak mau sama aku, Bel. Udah, ngapain juga kamu kepo."
Seolah-olah abai omonganku, gadis yang masih ada di hatiku itu menatap tajam pada Dahlia.
"Lepas!" perintahnya.
"Ammm ... Tapi Non," lirih Dahlia menggengam tangan kanannya seolah-olah menyembunyikan jarinya yang bercincin.
"Lama! Lepas cepat! Aku mau lihat langsung!" seru Belinda menarik paksa tangan Dahlia dan mencoba melepaskan cincin itu.
Aku kembali menepis tangan Belinda yang sedang berusaha menjajah jari calon istriku. Kamu pasti mulai ngilerkan, Bel?! Kasihan.
"Apaan sih kamu, Bel! Jangan coba-coba dilepas. Itu cincin pernikahanku!"
"Aku mau lihat! Kasih aku lihat, Mas!" teriak Belinda memaksa.
"Gak! Aku gak izinin!" tepisku.
Belinda tak mau kalah. Ia terus mencoba meraih telapak tangan Dahlia sedangkan aku berusaha menjauhkannya.
"Aku pecat kamu kalau kamu gak lepasin cincin itu!" pekik Belinda pada Dahlia.
"Anu Mbak..." lirih Dahlia kebingungan.
"Awas ya! Kamu gak boleh lepas cincin itu tanpa seizinku!" ancamku terus mengangkat lengan gadis itu.
Aku tak ingin cincin mahal itu jatuh ke tangan Belinda yang matre.
"Dahlia! Lepasin!" teriak Belinda menghentakkan kakinya.
Pastilah gadis itu sedang menahan rasa kesal yang sudah sampai ubun-ubunnya.
"Kamu gak ada hak ya!" lanjutku terus menarik tangan Dahlia yang sedari tadi jadi rebutan.
"Dia pembantuku di sini, Aditya! Aku cuma mau lihat lebih detail cincin itu!"
"Tak ada urusannya sama kamu! Ayo kita pergi!" ujarku pada Dahlia yang memucat.
Mungkin gadis itu takut dipecat. Aku menatapnya serius.
"Ikut aku. Kamu sudah bukan pembantu lagi di sini. Tempatmu seharusnya berada di istanaku," lirihku serius pada Dahlia.
"Puihhh! Sejak kapan laki-laki kere kayak kamu punya istana. Jangan mau diperdaya laki-laki tak kamu kenal, Dahlia! Lepaskan cincin itu dan kembalilah bekerja," ujar Bu Yuni melipat tangannya di depan dada. Begitu angkuh dan sombong.
Aku semakin muak diremehkan begini oleh nenek peot itu. Lihat saja. Kubuat biji matanya sekarang jatuh. Segera kurogoh ponselku yang sederhana. Ponsel mewahku ada di rumah.
"Hallo, Pak Man. Aku share lock sekarang. Jemput secepatnya. Baik. Secepatnya!"
Belinda mendelik padaku, heran.
"Kalian pulang saja duluan. Aku akan pulang dengan Pak Suparman," ujarku pada Parjo dan Romlah.
Keduanya mengangguk lalu keluar dan pulang menggunakan motor kesayangan mereka dari tahun ke tahun. Beberapa kali aku menawarkan motor baru, tapi mereka lebih suka motor butut itu. Katanya, motor itu adalah ikatan bukti cinta dan perjuangan mereka selama 20 tahun menikah. Bahkan uang 50 juta yang diberikan ayahku secara cuma-cuma, mereka malah membeli seat umroh. Itulah mengapa, Parjo dan Romlah begitu sangat menjadi kesayangan ayahku.
"Ayo. Ikut aku!"
Dahlia masih bergeming seperti ketakutan.
"Kamu jangan termakan rayuan laki-laki ini! Satu langkah kamu keluar dari rumah ini, kamu kupecat!" ancam Belinda garang.
"Dan jangan harap kamu bisa dapat pesangon dan bisa kami terima lagi kerja di sini! Buat tamatan SMA kayak kamu, mau kerja apa ha?!!" lanjut Si Nenek Peot menambahkan.
Aku menarik pergelangan tangan Dahlia. Gadis itu menggeleng, mencoba melepaskan tangannya dariku.
"Jangan pedulikan ucapan mereka!" seruku.
Dahlia masih bergeming, makin kebingungan.
Tiiiit!
Itu klason mobilku. Aku mencekal pergelangan tangan gadis Itu dengan keras. Dahlia tak bisa mengelak lagi. Kuseret dia dengan langkah cepat. Tampak mobil mewahku sudah terparkir tepat di halaman rumah ini. Supir pribadiku sudah turun dan membukakan kami pintu. Aku tak perlu menoleh ke belakang. Sudah bisa kubayangkan bagaimana ekspresi nenek peyot dan putrinya yang mantre itu. Lihat saja, ini baru permulaan. Kalian akan membayar mahal untuk hari ini.