Bab 2

(Bu Aisyah meninggal dunia. Kalian diminta segera datang ke rumah duka.)

Kubaca pesan dari pengurus rumah tangga. Seseorang yang selama ini dipercaya oleh keluarga besar ibu mertua, mengurusi tetek bengek seisi rumah mewahnya.

Aku menghela nafas, lalu merapikan koper dan hendak pergi. Tak kupedulikan seseorang yang masih memperhatikan dengan kening berlipat-lipat.

Menyesal di saat-saat terakhir kehidupannya aku tidak berada di sisi ibu mertua. Kalau saja beliau tidak menyuruhku untuk menelusuri dan menjemput putra tersayangnya, mungkin saat ini di sana tangisku sedang pecah melepas kepergiannya.

“Mau ke mana kamu, Ze? Kamu tidak berniat pulang malam ini juga, ‘kan? Perjalanan Surabaya—Bandung sangat melelahkan. Kita pulang besok sore.” Pria yang menyentuh wanita lain beberapa saat lalu itu menyentuh lenganku. Tapi, lekas aku menepisnya dengan kasar. Jijik rasanya bersentuhan dengannya sekarang.

“Jangan mendikte kapan aku boleh dan tidak boleh pulang. Bersiaplah untuk pemakaman ibumu, itupun kalau kamu masih menghormati dia sebagai wanita yang melahirkanmu.”

“Ap-apa kamu bilang?!” Mas Raga menganga tak percaya. Dia meremas rambutnya kasar. Teriakannya lalu menggema pada ruangan yang kutempati tak kurang dari tiga jam ini.

Aku berlalu, tak peduli. Tak punya waktu untuk melihatnya meratapi kepergian ibunya. Ibu yang selalu berpesan agar anak kebanggaannya ini bisa melindungiku dan dua cucunya. Tapi nyatanya, bahkan dalam hembusan nafasnya yang terakhir, anaknya tengah mereguk dosa zina dengan wanita yang selalu dibencinya.

Sheva.

Wanita itu tak memiliki tempat di hati keluarga besar suami. Saat dia dan Mas Raga kepergok untuk kesekian kalinya, keluarga besar Mas Raga menyumpah serapah dirinya.

Gundik, pelakor, jal*Ng, pezina, dll.

***

Perjalanan ini terasa sangat panjang. Hati kelojotan ingin segera sampai di tujuan, tapi kemacetan meraja menutup akses kendaraan, menahan di tengah jalan lalu berhimpitan dengan pengguna jalanan lainnya.

Di sampingku, Mas Raga tentu yang paling gelisah. Disaat-saat terakhir ibunya, kenapa dia memilih fly di udara dan jatuh di ranjang Sheva.

Miris, najis, kamu Mas.

Terlambat. Ketika kendaraan sampai di muka rumah, para pelayat sepi, sanak saudara sudah pergi, semua mengantar kepergian ibu mertua ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Di atas gundukan tanah merah, pria yang bergelar suami menangis tersedu melepas wanita yang sudah melahirkannya ke dunia namun berkali-kali dikecewakan.

Ribuan kali petuah dan nasehat agar Mas Raga menjadi pria sempurna; sebagai seorang ayah, suami dan pemimpin untuk dirinya sendiri, tapi nyatanya ribuan kali ibu berwasiat, pria itu mangkir dan hidup sesuka hatinya.

Maka beribu ucapan penyesalan yang dia lantunkan, semua sudah terlambat. Seiring jasad tertimbun tanah, seperti itulah kata maaf dari seorang ibu pupus untuknya.

“Kita pulang, Ma?” ajak Afni dan Dika, dua buah hatiku. Arvan—bodyguard kesayangan mereka setia menemani keduanya kapan saja.

“Iya, kita pulang sekarang.”

“Dadah nenek. Baik-baik di sini ya, kami akan sering berkunjung.” Celotehan Afni membuat hatiku nyeri. Ah, anak usia empat setengah tahun ini masih belum mengerti arti kematian.

Aku mengulas senyum dan menyentuh kepala mereka. Kugenggam tangan keduanya sambil meninggalkan jajaran pemakaman yang tertata rapi pada sebuah TPU ternama kota ini.

Sampai ke rumah, aku masuk ke kamar dan mencari-cari bukti perselingkuhan mereka. Karena semuanya sudah berakhir, maka sekarang saatnya kubalas semua sakit hatiku.

Maaf Bu Aisyah, aku tak mau memendam ini sendirian, dan terpaksa anakmu juga harus merasakannya.

Kubuka ponsel, lalu mencari mana saja yang mesti kusebar, untuk kemudian berlayar pada para pengguna jejaring sosial.

Aku tersenyum setelah kutemukan apa yang kucari dan simpan. Ternyata disaat seperti ini, banyak gunanya juga.

Berkali-kali berzina dengan suami orang. Dia tak pernah jera bahkan seakan menantang dan merasa bangga. Silahkan nilai sendiri pasangan seperti apa mereka.

Klik … kling .…

Belasan chat, bukti pertemuan, juga belasan foto vulgar kebersamaan Mas Raga dan Sheva langsung kusebar di media sosial. Tak sampai disana, kupesan buzzer untuk semakin menyebarkan ke berbagai aplikasi agar Mas Raga dan Sheva semakin terkenal.

Tak sampai satu jam, ribuan notifikasi masuk membuatku puas sekaligus bertepuk tangan dengan perasaan bebas.

Beribu makian, kata-kata hinaan, termasuk hujatan membanjiri kolom komentar yang di setting publik. Tak lupa tag yang membanjiri notifikasi di layar atas, sebagai wujud simpati dan kepedulian padaku yang dirugikan.

Selamat bekerja dan mencari tahu, wahai para netizen. Tugas kalian dimulai. Cari tahu sebanyak-banyaknya tentang aktris dan aktor yang mendadak viral lewat jalur perselingkuhan.

***

Dentuman suara pintu terdengar. Mas Raga masuk ke dalamnya dengan nafas memburu. Dia terengah-engah menghampiri dengan pandangan paling tajam. Secepat ini ternyata kabar berita masuk ke telinganya.

“Apa yang sudah kamu lakukan, hah? Apa?! Tega ya, kamu. Hanya gara-gara sakit hati lantas berani mempermalukan suami sendiri?!”

“Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kamu marah-marah, Mas?” tanyaku pura-pura polos.

Mas Raga mengeluarkan ponsel dan memperlihatkannya padaku. Deretan berita dan gosip makin memanas, saat akun keduanya berhasil ditemukan publik. Wah, hebat sekali mereka. Dan aku puas mendengarnya.

Aku menjawab dengan beroh ria.

“Semua ini perbuatanmu, ‘kan? Ayo, ngaku dan tak usah berkilah!” bentaknya.

Aku mengangguk pelan. Sedikitpun tidak merasa menyesal apalagi sedih. Sebaliknya, kunikmati wajah pias suamiku saat ini.

“Kenapa kau berani mempermalukan suamimu sendiri, Zea? Kenapa? Apa tak cukup aku meminta maaf dan menyesali semuanya?! Licik!!” geramnya dengan suara menggelegar. Pria itu hampir membanting ponsel ke dinding seandainya tak memikirkan harganya.

“Kenapa kau masih bertanya? Berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Itulah konsekuensi untuk pria yang tidak setia, mengumbar nafsu, melegalkan zina, tanpa pernah memikirkan dosa dan dampak akibatnya. Jadi, tak usah bertanya-tanya kenapa aku melakukannya, sama seperti halnya kamu yang tidak pernah memiliki jawaban atas kelakuanmu yang diluar batas itu,” balasku dingin.

Ingin tahu sejauh mana dia melampiaskan amarahnya padaku. Bodoh, jika aku terus-terusan diam sementara dia enak-enakkan ngamar. Dasar!!

“Dan kau tak takut kalau suamimu ini tak punya kerjaan, dipecat, atau bahkan jadi olok-olokkan semua orang?!”

“Takut? Hanya sedikit. Selebihnya hanya rasa puas melihatmu tak berdaya dan terlihat frustasi.”

“Zea!!”

“Diam, karena aku tak peduli lagi sekarang!!”

Arghh!!

Mas Raga melempar barang-barang di nakas untuk melampiaskan kekesalannya. Tapi bodo amat. Nasi sudah jadi bubur, silahkan dinikmati. Karena aku tak peduli.

“Setelah ini aku pasti mendapat konsekuensi dari berbagai pihak. Aku juga tidak yakin atasan akan diam saja melihat kelakuanku. Argghhh … kenapa kau tega melakukan hal ini padaku, Zea? Kenapa?!” Mas Raga mondar-mandir gelisah. Aku masih menatapnya puas.

Rasakan, itulah buah yang kalian semai atas perbuatan hina kalian. Aku mungkin tidak bisa membalas perbuatan kalian secara langsung, jadi biarkan mereka ikut bekerja dan memberi sanksi, Mas.

Aku kembali tersenyum. Memilih duduk dan menjauh, lalu melihat deretan panggilan masuk ke nomorku dari puluhan orang yang sedang panas kuping.

Wanita itu pasti kelabakan sekarang karena dia dan suamiku mendadak viral di sosial media.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Lihat saja nanti! Aku hanya perlu diam. Biar Tuhan yang bekerja dengan caranya sendiri. Menghukum dua orang yang sudah kelewatan batas. Sampai akhirnya mendapatkan konsekuensinya sendiri.

Bab 3

Gegas kutinggalkan kamar, meninggalkan Mas Raga sendirian dengan emosinya yang menggebu. Terdengar suara benda-benda yang dibanting setelahnya. Mungkin dia melampiaskannya pada barang-barang yang ada di dalam. Dan sekali lagi, aku tidak peduli. Bagiku yang terpenting sekarang adalah pergi jauh darinya. Aku juga akan segera mengakhiri biduk rumah tangga kami. Tak guna mempertahankan seorang pengkhianat seperti dia.

Afni sedang bermain di tengah rumah bersama dengan para sepupunya. Tak kulihat keberadaan Dika di sana. Mungkin dia sedang bersama baby sitter dan bodyguard-nya di tempat lain, entah.

Mbak Anisa—kakaknya Mas Raga sedang menutup mulut. Tatapannya melihat ponsel di depannya dengan wajah terkejut. Heh, dia pasti sudah melihat kabar terbaru tentang adiknya.

Wanita itu mengangkat wajah begitu mendengar langkah kakiku yang mendekat.

“Apa ini, Zea? Ini pasti ulahmu, ‘kan? Ayo, ngaku!” Mbak Anisa melotot, “Mbak nggak percaya kamu setega itu pada Raga? Atau jangan-jangan ponselmu di retas oleh orang lain dan ia yang menyebarkan aib suamimu sendiri ke khalayak?!” tanya Mbak Anisa yang sepertinya tak percaya. Aku terkekeh membuatnya keheranan.

“Kenapa heran begitu, Mbak? Lambat laun bukankah semua orang harus mengetahui tentang perbuatan Mas Raga dan wanita itu? Jadi, ketika saatnya datang, kenapa Mbak justru sangat terkejut?!”

“Iya, tapi nggak begitu juga caranya. Kamu bodoh atau apa sih, Ze. Kelakuan nggak pake otak!” tudingnya geram. Belum selesai ucapannya, Mas Beni—kakak pertama Mas Raga juga ikut geram dan menatapku kesal.

Kuraih kaos kaki milik Afni dan memakaikannya. Mbak Anisa meraih bahu membuatku berbalik menatap cepat ke arahnya.

“Iya, tapi tidak begini juga, Zea. Kalau seperti ini caranya kau hanya akan mempermalukan semua orang. Bukan hanya Raga dan Sheva yang kena imbasnya, tapi pekerjaan suamimu, keluarga besar kita, termasuk kamu dan anak-anakmu,” serang Mas Beni turut campur, tapi tak kupedulikan.

“Ze, kenapa diam?!” tanya wanita itu lagi. Aku berbalik cepat. Kupasang wajah garang menatap keduanya.

“Aku tidak akan bertindak sejauh ini kalau tidak pernah memikirkan konsekuensi yang akan kudapatkan setelahnya.”

“Sebenarnya kamu pasti tidak memikirkan hal itu terlebih dahulu, atau jangan-jangan karena emosi dan cemburu, makanya kamu gelap mata sampai menyebarkan semuanya, termasuk bukti chat dan foto-foto mesum mereka?!” Mas Beni bertanya lagi. Mungkin aneh dengan sikapku yang sekarang.

“Iya, Zea. Kenapa tega kamu melakukan hal itu pada suamimu sendiri. Setidaknya jika kamu sakit hati, pikirkan anak-anakmu juga. Orang akan menilai buruk kamu dan juga orang-orang di sekitarmu, termasuk kami juga,” timpal Mas Beni. Kakak pertama Mas Raga itu selalu membela adiknya yang salah.

Aku menghela nafas dan masih menatap tenang.

“Sudahlah Mbak, Mas, aku tahu konsekuensi yang harus kuhadapi dan aku sudah siap. Lagi pula aku tidak mau hancur sendirian. Mas Raga dan gundiknya harus merasakan konsekuensinya juga.”

“Zea, ini—” Ucapan Mas Beni terhenti saat Afni tiba-tiba bersuara.

“Ma, kita mau pergi ke mana, sih? Dan kenapa semua orang marah-marah?” tanya Afni begitu kuraih tangannya dan bersiap pergi.

“Kita pulang ke rumah, ya. Mereka nggak marah, cuma lagi becanda.”

“Tunggu, Zea. Obrolan kita belum selesai. Setidaknya kamu harus mendengarkan pendapat semua orang. Suruh Raga dan yang lainnya kumpul, kita bicarakan baik-baik.”

Mbak Anisa mencoba menahanku, tapi aku menggeleng.

“Bahkan setelah semuanya terjadi, Mbak Anisa masih menyuruh kami untuk kumpul. Buat apa, Mbak? Dan kenapa kalian masih ingin membela pria yang jelas-jelas salah itu?!”

“Zea, kok kamu ngomongnya gitu sih. Ya ‘kan semuanya harus diselesaikan dengan kepala dingin. Seenggaknya kamu harus minta maaf dan menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai.”

“Maaf Mbak, tidak ada lagi yang harus kujelaskan dan aku juga tak peduli dengan pendapat dari kalian. Bagiku semuanya sudah selesai. Aku akan kembali ke rumahku. Maaf, aku tidak ikut mendoakan ibu di sini.”

“Lalu kamu akan angkat tangan begitu saja, hah?! Bagaimana dengan Raga, dia pasti mendapatkan banyak masalah setelah ini,” ucap Mas Beni kembali bersuara cemas.

Mereka berdua hanya memikirkan tentang adiknya saja, dan tidak pernah memikirkan bagaimana hatiku yang terus-terusan dikhianati. Miris.

Aku menatapnya datar dan mengangkat bahu, “Aku tidak peduli, yang jelas tugasku sudah selesai. Setelah ini aku akan segera mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan. Semoga Mbak Anisa dan Mas Beni bisa membujuk Mas Raga untuk mempercepat semuanya dan tak perlu mengundur waktu.”

“Apa kau bilang?! Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Zea. Kau dengar, kita tidak akan pernah bercerai!! Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi istriku!!”

Aku dan dua orang yang tengah berdebat melempar tatap ke arah kiri. Entah sejak kapan Mas Raga mendengar pembicaraanku dengan dua kakaknya, tapi aku tidak peduli dan memilih membuang muka.

“Itu urusanmu sendiri! Berani berselingkuh tentu berani bertanggung jawab dengan perbuatanmu, dan pada akhirnya jalan yang kupilih adalah perpisahan! Permisi!!”

Gegas aku pergi ke arah pintu. Mencari Dika yang pasti sedang diajak main oleh Arvan. Keduanya sangat dekat setelah papanya tak peduli dengan anak itu.

“Zea, kau tidak mendengar ucapanku barusan? Kita tidak akan pernah bercerai, tidak sampai kapanpun! Jadi, pikirkan lagi kata-katamu itu!!”

Mas Raga memburu ke halaman. Berulang kali menarik tangan tapi berkali-kali juga kutepis kasar. Aku menatapnya jijik dan malas bersentuhan lagi dengannya. Bodohnya kenapa baru sekarang aku sadar kalau semuanya tak guna kupertahankan.

“Zea, kau dengar aku, hah?!” Mas Raga yang kesal menahan bahu dan meremasnya. Rasa perih seketika terasa. Tenaga besar pria itu bertambah dengan emosi mampu meremukkan tulangku.

“Papa! Jangan sakiti Mama!!” Afni yang melihat papanya marah sontak berteriak histeris.

Mas Raga buru-buru melepaskan tangannya dan menyuruh anak itu untuk bermain dengan sepupunya.

“Maaf Afni, Papa nggak sengaja. Sekarang main dulu sama Winda, ya.” Mas Raga melihat kepergian anaknya sekilas lalu tatapannya kembali jatuh padaku.

“Kau lihat bagaimana anak-anak akan terluka atas keputusan sepihakmu ini? Pikirkan lagi. Kalau perlu aku akan minta maaf. Jadi pikirkan itu baik-baik, Zea.” Mas Raga bicara setenang mungkin tapi aku menanggapinya dengan sinis.

“Itu urusanmu, yang jelas keputusanku sudah final. Aku tidak akan kembali apalagi memaafkanmu. Sudah cukup sakit hati yang kualami selama ini. Terima juga semua yang sudah kau lakukan. Tidak usah pikirkan pernikahan kita, karena saat aku berada di sisimu pun, kamu menganggapku tidak ada, dan lebih memilih berlabuh pada wanita lain,” ucapku dingin sambil terlalu.

Kucari dua anakku di belakang rumah. Rupanya Arvan dan Dika sedang berada di halaman. Ada Afni juga yang langsung mendekat dengan wajah bingung.

“Bu Zea, Anda mau kemana?” tanya Arvan.

“Kita pergi dari sini, Arvan. Tugasku sudah selesai dan tak ada lagi yang harus diurusi di sini. Kau pastikan saja Afni dan Dika berada di bawah perlindunganmu. Karena setelah ini aku yakin Mas Raga tidak akan diam saja,” ucapku menjelaskan.

Pria yang sudah menjadi bodyguard selama 2 tahun itu mengangguk dengan cepat, kemudian berjalan ke sisi mobil. Dia membuka pintu samping, aku dan dua anakku masuk ke dalam, dia dan baby sitter duduk berdampingan, sementara kulihat Mas Raga mengumpat di halaman.

“Mama, papa marahan sama Mama ya, atau apa kalian bertengkar lagi?” tanya Afni yang lebih peka daripada adiknya.

Aku menggeleng dengan hati meringis, berusaha tersenyum meskipun hatiku nyeri.

“Nggak kok, Afni. Cuma mulai sekarang mungkin kita akan sedikit jarang bertemu dengan papa. Afni tahu ‘kan kalau papa sangat sibuk?!” Gadis kecilku mengangguk dengan cepat.

“Iya, Ma. Aku juga nggak apa-apa, kok. Lagian ‘kan aku memang jarang sekali ketemu sama papa.”

“Makasih udah ngertiin keadaan Mama, ya?”

“Iya, Mama.”

Aku mengusap kepala gadis kecilku, sampai ketika tiba-tiba mobil mengerem mendadak dan kepalaku hampir membentur jok di depan.

Arghhh!!

Ada apa ini?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED