Seharusnya pernikahan ini adalah pernikahan pertama dan terakhir untukku agar tiada lagi pernikahan kedua, ketiga, dan seterusnya. Tapi ternyata, di luar sana aku menemukan samudera yang luas dan tenang, meski orang bilang samudra itu dalam dan ganas. Apakah aku salah jika menantang diriku dengan melakukan dosa terindah dalam hidupku setelah sekian lama merasakan kebohongan demi kebohongan dalam bentuk ikatan cinta suci?
(-Zivanna Yahya-)
“Sayang, di mana pakaianku?”
“Sayang, di mana sepatuku?”
“Sayang, di mana kopiku?”
“Sayang, di mana kunci mobilku?”
“Sayang … Sayang … Sayang … Sayang.”
Hidup Zivanna Yahya serasa di taman kanak-kanak! Memiliki suami yang selalu bertanya tentang barang-barang miliknya hampir tiap hari membuat Zivanna hampir gila!
Rio Wibisono, laki-laki berusia 35 tahun yang bekerja sebagai dosen sejarah pada universitas ternama di Jakarta dan beberapa kali menjadi dosen tamu di luar Jakarta, tampan, hidung mancung, kulit kuning, potongan rambut selalu mengikuti tren masa kini, tak heran jika Rio menjadi buah bibir dan primadona tempatnya mengajar. Tak hanya itu, berulang kali mahasiswinya bahkan terang-terangan menyatakan perasaan mereka padanya, meski tahu ia telah beristri yang tentunya jauh lebih cantik dan pintar.
“Sudah kusiapkan di tempatnya masing-masing, Mas. Heran deh, masih aja tanya di mana … di mana … kaya lagunya Ayu Ting-Ting aja!” Zivanna Yahya, putri pertama keluarga Hernandi Joshua Yahya, arsitek muda yang menjanjikan sekaligus penikmat benda-benda seni lukis. Dia amat terobsesi dengan sesuatu yang berbau kewanitaan, hingga mendapat julukan Miss Feminis saat masih kuliah.
“Ya, kan itu tugasmu, Sayang. Apa iya kamu seharian mau duduk gambar aja, yang ada nanti ambeien plus sembelit, lho.” Canda Rio sambil menjulurkan lidahnya pada Zivanna yang sedang menggambar untuk proyek barunya.
“Namanya kang gambar, Mas ya harus duduk. Kalo kang parkir, kerjanya berdiri dan teriak-teriak,” balasnya santai.
“Hmmm, mulai. Iya … iya, deh. Emang susah kalau udah bicara sama ras terkuat di bumi,” celetuknya.
Zivanna yang sepintas mendengar ucapan Rio menghentikan laju pensilnya dan mengarahkan tatapan selidik. “Ngomong apa barusan?”
“Eh, e-enggak-enggak. Nggak ada kok, Sayang. Aku siap-siap dulu, ya.” Rio lari tunggang langgang karena tahu jika Ziva, begitu sang suami menyapa istri cantik dan manjanya sudah marah, apapun akan melayang.
***
Mousedeer : Kamu di mana? Kok jam segini belum datang? Aku udah di tempat biasa. Cepetan donk! Lama, ih! Kaya pejabat aja!
Mousedeer : Jangan-jangan kamu masih tidur, ya? Atau kelonan sama istri kamu yang manjanya setengah mati itu!
Mousedeer : Rioooooo!!!! Di mana kamu!?
Berulang kali bunyi pesan masuk di ponsel Rio mengusik gendang telinganya. Buru-buru dia melihat siapa yang mengiriminya pesan bak debt collector.
“Diani?” ujarnya pelan celingak-celinguk kalau-kalau Ziva dengar.
Me : Iya, bentar lagi, sabar sedikit lagi, ya.
“Aku harus buru-buru nih, kalau nggak bisa kena jatah omelan preman cantik.”
Rio segera menghampiri ruang kerja Zivanna yang tak jauh dari kamar inti mereka. Memberi kecupan kejutan dari belakang, Rio dengan senyum lebar berpamitan pada sang istri untuk mengajar.
“Jemput aku ya, Mas,” pinta Ziva.
“Kuusahakan ya, Sayang kalau nggak ada rapat atau ngisi kelas dadakan, soalnya ada dosen yang lagi cuti hamil.”
Ziva mengangguk. Rio dengan segera melangkah menjauh dari ruang kerja sang istri dan saat masuk ke mobilnya, sang suami menghubungi seseorang dengan nada bicara yang mesra.
“Aku akan sampai 20 menit lagi, tunggu ya.”
***
Sepasang sepatu dengan heels sekitar 7 cm berdiri di depan ruang dosen sambil mondar-mandir. Berkali-kali wanita rambut sepinggang itu melihat jam tangan di tangan kirinya.
“Lama banget, sih! Nggak tahu orang capek nunggu apa!”
Tak lama terdengar suara nyaring sepatu pantofel menggema di gendang telinganya. Keadaan kampus pagi ini memang masih sepi, hanya di beberapa fakultas yang telah ramai oleh mahasiswa.
“Hai, Sayang. Maaf, ya. Jalanan macet banget. Ini aja aku udah ngebut,” suara pria tak lain dan tak bukan adalah Rio bersenandung mesra menyapa perempuan jelita yang sedari tadi menunggunya. Dialah Diani, perempuan berusia 29 tahun, dosen di mana Rio mengajar sekaligus wanita idaman lain suami Zivanna Yahya.
“Maaf, ya, Sayang.” kecup mesra Rio di kening Diani.
“Eh, hati-hati donk, Sayang. Gimana kalau ada yang lihat nanti? Kamu kan tahu kalau kampus kita ini banyak CCTV-nya!” Diani buru-buru mendorong kasar tubuh Rio yang memeluknya.
“Pagi!!!”
Suara nyaring tak kalah menggema mengejutkan keduanya.
“Arnold!” ucap Rio dan Diani berbarengan.
“Dih, kenapa kalian liatin aku kaya gitu? Heran ya belum pernah lihat dosen ganteng paripurna kaya aku,” narsisnya.
Rio dan Diani saling lempar pandangan, mereka berharap Arnold tak melihat saat keduanya tengah berpelukan tadi.
“Tumben kamu dateng pagi-pagi buta? Mimpi didatengin siapa semalam?” ledek Rio tertawa renyah.
“Mimpi didatengin bidadari.” Ucapnya sambil melirik Diani. Rio yang melihat gerakan mata Arnold terbakar cemburu dan menggaet lengan dosen narsis itu menjauh dari Diani.
“E…e, apa-apaan ini! Kok aku main ditarik aja kaya ayam yang mau dipotong!” protes Arnold.
“Kerjaanmu banyak! Ada laporan dari beberapa mahasiswamu yang bilang kalau kamu nggak adil kasih mereka nilai dan laporan tugas yang kamu kasih ke mereka juga belum diberi nilai!” Rio menunjukkan ekspresi sedikit nyolot ke Arnold.
“Oh, hehe…iya, aku lupa. Nanti eh maksudku hari ini kukerjakan,” ucap Arnold.
“Bagus deh! Jadi dosen tuh yang profesional, kita kan udah disumpah, sama kaya dokter. Jadi, kerahkan ilmu kita untuk mereka,” sambung Rio duduk di kursi tempat kerjanya.
“Hmmm, mulai lagi khotbahnya. Iya…iya, Pak Rio Wibisono menantu Pak Hernadi Joshua Yahya yang terhormat,” ledek balik Arnold.
Seketika, ruang dosen yang tadinya sepi menjadi ramai walau hanya diisi dua orang. Namun, di saat Rio dan Arnold tengah bercanda mengenai keluarga istrinya, Diani melipat kedua tangannya berdiri di ambang pintu menyandarkan tubuhnya sambil melihat dengan ekspresi tak mernyenangkan.
Mousedeer :Teruskan! Teruskan percakapan kalian dan pamerkan kebahagiaanmu menikahi perempuan itu!
Rio yang mendengar ponselnya berdering, segera membuka pesan yang baru saja masuk dan melihat ke arah pintu utama ruangan dosen. Diani masuk dan duduk kasar di tempat kerjanya.
“Eh, Diani kenapa? Kok mukanya jutek banget?” tanya Arnold penasaran.
“Entahlah, bentar ya.” Rio hendak berdiri namun ditahan oleh Arnold. “Eh, mau ke mana?” tanya Arnold menghentikan Rio.
“Katanya kamu mau tahu Diani kenapa, ya kutanya ini,” jelas Rio.
“Nggak…nggak! Nggak usah. Biar aku yang nanya sendiri!” Arnold bangun dari kursinya dan menghampiri meja Diani. Sementara Rio melihat dengan penuh cemburu. Dan di saat bersamaan, Ziva menghubungi sang suami dan Rio sengaja mengencangkan volumenya.
“Halo, Sayang. Kenapa? Kamu kangen ya sama aku?”
Diani dan Rio langsung menoleh ke meja Rio.
[Jangan lupa nanti Mas jemput aku, ya di tempat kerja. Soalnya mobilku masuk bengkel]
“Iya, Sayang. Jangan khawatir. Apa sih yang nggak buat istriku tercinta…”
“Cieeeee…” ucap Arnold terdengar oleh Ziva.
[Siapa itu?]
“Siapa lagi, ya si Arnold, dosen narsis.”
Diani makin tersulut emosi dan mendorong tubuh Arnold. “Minggir!” ucapnya ketus.
“Eh, Diani! Mau ke mana?” Arnold segera mengikuti Diani, Rio merasa ada kepuasan karena ternyata Diani sangat terbakar api cemburu tapi di sisi lain ia khawatir jika Arnold akan menjadi duri dalam hubungan mereka.
[Halo…halo, Mas. Masih di sana kan kamu?]
“Oh, iya..iya, Mas dengerin kok. Nanti mau dijemput jam berapa?”
[Nanti aku kabari, ya]
Rio terus memperhatikan Arnold dan Diani meski siluet mereka mulai menghilang.
[Mas!] teriak Ziva.
“Oh, iya..iya, Sayang. Yaudah ya, Mas mau ngajar dulu. Nggak enak sama yang lain, udah pada dateng.” Rio langsung menyudahi percakapan mereka sebelum Ziva mengucapkan kalimat penyemangat seperti biasanya.
“Arnoldddd!!” geramnya namun Rio hanya bisa menahan kekesalannya.
***
Ziva yang saat ini masih ada di rumah merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya. Tiba-tiba mematikan sebelum ia menyemangati hari-harinya, membuat Ziva sedikit bersedih. “Apa aku terllu keras ya sama Mas Rio selama ini?” pikir Ziva.
Tak lama, saat Ziva hendak beranjak dri ruang kerjanya, deringan ponselnya membuat langkahnya terjeda. Dilihat, nama Papa terbaca jelas di layar gawainya.
“Iya, Pa. Ada apa?”
[Ziva, kamu di mana? Bisa datang ke rumah?]
“Kenapa memangnya Pa? Ziva mau siap-siap ke kantor.”
[Sebentar saja, ada yang mau Papa bicarakan]
Jangan bilang soal mas Rio lagi.
“Iya, Pah. Ziva segera ke sana.”
Zivanna hanya bisa menarik napas panjang sesekali mendesah kasar. Bagaimana tidak? Pernikahan mereka sebenarnya banyak mendapat tentangan, terutama dari sang papa dan adiknya, Zevanya yang saat ini menempuh pendidikan Master Art-nya di Rusia.
“Hah, apalagi yang mau dibicarakan? Heran aku sama papa!” gumamnya agak kesal.
Sementara itu, Rio yang mulai masuk mengajar merasa tak tenang karena Diani dan Arnold belum juga kembali. Matanya terus terfokus pada pintu ruangan dosen dan membuatnya gelisah. berkali-kali ia mengirimkan pesan singkat namun tak jua ada balasan.
“Ke mana sih mereka! Apa jangan-jangan … ah, nggak…nggak! Jangan mikir yang aneh-aneh Rio!” ucapnya pelan.
“Pak Rio kenapa?” tanya salah satu temannya yang ternyata memperhatikan sikapnya.
“Eh, ke-kenapa apanya, Pak?”
“Dari tadi saya perhatikan Pak Rio komat-kamit gitu. Lagi ada masalah sama istri Bapak, ya?” tanyanya sambil menepuk pundak kanan Rio dengan tertawa.
“Udah, istri mah emang gitu, Pak Rio. Tapi Pak Rio kan belum lama nikah, ya? Masih anget-angetnya, nanti kalau udah 5 atau 10 tahun, baru deh ngrasain pernikahan kaya sayur tanpa garam,” celetuk teman mengajarnya yang lain.
Rio hanya membalasnya dengan senyuman meski hatinya dongkol dan kesal karena teman-temannya main ikut campur urusan pribadinya.
“Enggak, Pak. Saya dan istri saya baik-baik saja, kok. Cuma lagi kangen saja,” ucapnya tanpa diduga Diani dan Arnold masuk berbarengan.
“Lho, dari mana nih pasangan jomblo kita, Bu Diani dan Pak Arnold?” tanya temannya melihat ke arah keduanya. Spontan, Rio juga melihat ke arah mereka.
Diani! Jangan-jangan dia mendengar semua? batin Rio.
“Cari angin, Pak,” ucap Diani tak memedulikan Rio yang masih terus melihatnya.
“Pak Arnold juga sama?” tanya temannya yang lain.
“Ya, kalau saya sih cari angin surga,” kekehnya.
Meja Diani tepat berada di sebelah kiri mejanya, sedang meja Arnold berada di depan meja Rio. Tiadanya sekat antara meja Rio dan Diani membuat keduanya terkadang curi-curi kesempatan untuk bisa dekat atau hanya pegangan tangan saat di ruangan dosen.
Me : Dari mana kamu? Kenapa lama banget?
Mousedeer : Apa urusannya sama kamu! Toh kamu juga lagi sibuk mikirin istrimu!
Me : Kamu marah atau cemburu?
Mousedeer : Jadi aku nggak boleh marah, cemburu? Yaudah kalau itu maumu! Tapi kuharap kamu juga jangan cemburu atau marah kalau Arnold sering deketin dan ikutin aku!
Diani melirik tajam ke arah Rio, begitu pula sebaliknya, dua tatapan yang sama-sama menyimpan pertanyaan dan kecemburuan hingga mereka lupa jika Arnold masih ada di ruangan itu dan diam-diam memperhatikan mereka.
Kenapa aku merasa Diani dan Rio ada sesuatu, ya? batin Arnold.
***
“Mana papa?” tanya Ziva saat tiba di rumahnya pada salah satu ART-nya.
“Tuan besar ada di ruang kerjanya, Nona.”
Tanpa membuang waktu, Zivanna segera menuju ruang kerja sang papa tanpa
mengetuk pintu.
“Pagi, Pa. Ziva udah datang.” Masuk putrinya langsung duduk.
“Kamu…nggak bisa apa ketuk pintu dulu?”
“Maaf, Pa. Kebiasaan,” sahutnya santai. “Ada apa Papa suruh Ziva ke sini?”
“Di mana Rio?”
“Udah berangkat Pa.”
“Tumben pagi-pagi benar? Ada angin apa?” sindir sang papa.
“Pa, kalau Papa nyuruh Ziva ke sini cuma untuk mendengarkan kata-kata buruk tentang mas Rio, Ziva pergi, Pa!” tegas Ziva menilik tajam sang papa.
“Hmm, jadi kami sudah tahu Papa manggil kamu untuk apa?”
“Mas Rio?” sahut Ziva menebak.
“Berapa lama kalian menikah?” tanya sang papa kemudian.
“Tiga tahun,” jawabnya singkat.
“Dan dalam waktu tiga tahun apa yang kamu dapatkan? Katakan!”
Zivanna terdiam. Memang selama mereka menikah selama tiga tahun terakhir, Rio belum memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya. Rumah yang mereka tempati pun sebenarnya milik sang adik, Zevannya yang memilih menetap di Rusia.
“Kenapa Papa harus membahas ini lagi, sih? Tiga tahun itu masih waktu sebentar, Pa. Jangan Papa samakan dengan orang lain!” balas Zivanna tak senang dengan pernyataan sang papa.
“Ziva, Papa mengizinkan kamu menikahi Rio karena status dia sebagai dosen yang setidaknya akan dihargai oleh kolega-kolega Papa. Tapi apa kenyataannya? Dia malah membuatmu sengsara! Untung kamu seorang arsitek dan memegang posisi penting, kalau tidak-”
“Kalau tidak apa Pa? Ziva akan sengsara? Miskin? Ziva tahu rumah yang kami tempati milik Zeva. Jika dia menginginkan uang sewa, kami akan bayar!” Ziva beranjak dari kursi yang ia duduki dan beralih ke pintu ruang kerja sang papa.
“Mau ke mana kamu? Papa belum selesai bicara!”
“Ke mana lagi? Bukannya Papa ingin Ziva makmur dan KAYA seperti papa dan Zeva?!” Tanpa memandang sang papa, Ziva meninggalkan tempat itu.
“Anak itu…menyesal kenapa dulu aku memperbolehkannya menikah dengan laki-laki macam Rio!” kesal Hernandi mendudukkan dirinya kasar.
***
Rio yang telah selesai mengajar tak langsung kembali ke ruang dosen. Bersama dengan para mahasiswa dan mahasiswinya, ia pergi ke kantin yang letaknya di belakang kampus. Meski Rio terkenal di kalangan para mahasiswi, namun ada beberapa yang belum mengenal bahkan melihat suami Ziva ini secara langsung. Suasana kantin yang ramai membuat Rio kesulitan mendapatkan bangku kosong, salah satu mahasiswi yang kebetulan melihat Rio mendatanginya dan mengajaknya bergabung dengan teman-temannya.
“Pak Rio?”
“Oh, ya…” Rio tersenyum sambil berpikir mencoba mengenali gadis manis yang menyapanya.
“Pak Rio tumben ke sini?” tanya gadis itu lagi.
“Iya, saya lagi ingin suasana baru,” sahut Rio.
“Tapi jam segini kantin pasti penuh, Pak dan akan sulit dapat tempat kosong. Gimana kalau Bapak gabung sama teman-teman saya aja?” tawar dan ajak gadis itu.
“Ah, nggak usah. Nggak enak. Biar saya tunggu di tempat lain.” Rio hendak berpaling dari tempat itu, namun secara tak sengaja seorang mahasiswi menumpahkan gelas berisi jus alpukat ke kemejanya. Alhasil, Rio pun spontan marah dan memelototi mahasiswi tersebut.
“Haduh, kemeja mahal saya jadi rusak, kan? Mata kamu ke mana, sih! Jalan kok nggak lihat-lihat!” Ucapnya sembari membersihkan tumpahan jus alpukat di kemejanya.
“M-maaf, Pak. Saya nggak sengaja…betul-betul nggak sengaja,” ucap gadis itu ketakutan.
“Ini Pak, tisu buat bersihin.” Salah satu mahasiswi yang menawarinya duduk tadi memberikan tisu basah padanya.
“B-biar saya bantu, Pak,” ucap gadis itu menawarkan diri.
“Ga usah! Bukannya makin bersih malah makin kotor nanti!” Rio pun beranjak dari kantin sambil membersihkan tumpahan jus alpukat.
Mahasiswi yang menumpahkan jus alpukat tadi mengikuti langkah Rio. Dia terus memanggil Rio untuk meminta maaf.
“Siapa nama kamu?” Rio tiba-tiba balik badan.
“A-Anastasia, Pak,” jawab gadis berparas blasteran itu panik, takut, sekaligus terkejut.
“Kamu tahu siapa saya?” Rio mendelikkan matanya.
“M-maaf, Pak. Saya betul-betul nggak sengaja nabrak Bapak tadi,” gadis yang bernama Anastasia itu masih ketakutan.
“Yasudah, lain kali hati-hati. Lihat siapa yang ada di depan kamu, jangan fokus sama ponsel terus!”
“B-baik, Pak. Itu…anu, kalau boleh saya mau bersihkan tumpahan jus tadi-”
“Nggak perlu! Saya bisa sendiri!” ketus Rio masih mengelap kemejanya.
“Tapi, Pak di bagian belakang kemeja Bapak juga sedikit ada noda jus alpukat,” ucap Anastasia bersikeras membantu membersihkan kemeja Rio. Akhirnya, mau tak mau Rio terpaksa menerima bantuan Anastasia tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat aksi keduanya.
“Bagus benar kelakuanmu, Rio!”
Sepasang manik hitam melihat dengan jelas interaksi yang tak biasa antara dosen dan mahasiswinya itu. “Kamu ngapain di sini, Arnold?” kemunculan Diani yang tiba-tiba membuat Arnold terkejut dan spontan menunjuk ke arah Rio serta mahasiswi yang sedang bersamanya.
“Itu…” Diani tampak berpikir sejenak.
“Rio!” sahut Arnold mengembuskan kasar napasnya.
Jadi benar itu Rio! Brengsek! batin Diani menahan kesal.
“Aku samperin aja, ah-”
“Eh…eh, mau ke mana?” Diani spontan menarik tangan Arnold dan menahannya. Dosen narsis itu memang telah lama menyimpan rasa pada dosen primadona tempatnya mengajar, sehingga tak heran jika wajah Arnold seketika sumringah.
“Diani, kamu…”
“Jangan salah paham! Aku cuma nggak mau kamu bertindak konyol dan gegabah!” ujarnya dingin dan ketus.
“Duh, iya…iya. Lagian aku cuma bercyandaaa…” kekehnya.
“Nggak lucu!” Diani mendelikkan matanya ke arah Arnold, membuat laki-laki itu agak bergidik ngeri. “Jangan pelototi aku kaya gitu, ah! Serem tau! Kebanyakan nonton horor nih!” protesnya.
“Tau aja kemaren habis nonton SIKSA NERAKA!” ucap Diani mempertegas kata-kanya dan putar balik badan. “Mau ke mana?” tanya Arnold.
“Kamar mandi, mau ikut?” senyum Diani namun senyuman itu membuat Arnold takut. “Enggak, aku di sini aja sambil liat Rio dan…” matanya kembali melihat ke arah Rio dan mahasiswinya yang masih asik bersih-bersih.
Tak ada kata-kata yang terlontar dari mulut Diani. Manik wanita paras cantik itu melirik tajam, dingin, dan angkuh. “Kabari aku jika terjadi sesuatu pada mereka!” ucapnya kemudian meninggalkan Arnold.
“Terjadi sesuatu apa? Maksudnya apa? Diani…Diani!” panggil Arnold memelankan suaranya agar tak ketahuan Rio. “Hadehhhhh, udah ilang aja. Cepet amat, sih jalannya kalo cewek udah kebelet,” ucapnya.
Rio dan mahasiswinya tak lagi ada di tempat. Arnold terus mengedarkan pandangannya, namun yang sedang dilihatnya sudah tak ada lagi. Penasaran, ia menghubungi Rio.
“Di mana?”
[Ruangan]
“Lho, kok cepet?”
Rio mengernyit sembari memasang ekspresi bingung ucapan Arnold.
[Cepet apanya?]
“Oh, eng-enggak-enggak.”
Arnold segera menutup ponselnya, sementara Rio masih membersihkan kemeja putih kesayangannya yang terkena insiden jus alpukat di kantin tadi.
“Enak ya kayaknya jus alpukatnya?” ucap Diani sambil berjalan di depan Rio.
“Enak dari mana, ini gara-gara ada mahasiswi yang nggak liat jalan, ketumpahan jadinya.” Ucap Rio masih sibuk membersihkan.
“Oh, ketumpahan…” ucap Diani melirik sembari menyeringai.
“Sebentar, kenapa nada bicaramu seolah menyiratkan sesuatu, ya?” Rio menghentikan kegiatannya dan melihat Diani yang telah duduk di tempat kerjanya.
“Emang ada yang aneh sama nada bicaraku? Kayaknya nggak deh,” kilahnya.
“Entahlah, mungkin hanya perasaanku.” Rio mengedikkan bahunya dan kembali membersihkan kemejanya.
Benar-benar pria nggak peka!
BRAK!
“Astaghfirullah….!” ucap beberapa dosen yang ada di ruangan.
“Maaf, nggak sengaja.” Ucap Diani mengambil tiga buah buku tebal miliknya yang sengaja dijatuhkan.
“Kamu kenapa, sih?” Rio mulai jengah dengan sikap Diani.
“Nggak apa-apa!” sahutnya.
“Hmm, ternyata udah di sini, ya.” Arnold datang dan langsung menghampiri meja Rio.
Mau apa lagi dosen toge ini! batin Rio memasang senyum terpaksa.
“Aku cariin juga dia di sini,” ujar Arnold.
“Nyari aku? Emang ada apa?”
Arnold sekilas melirik Diani, namun ia sibuk memeriksa ponselnya. Rio dengan jelas melihat ekor mata Arnold mengarah ke wanita yang dekat dengannya itu.
Ada apa sih di antara mereka berdua? Bikin penasaran aja! batin Rio mulai berpikir aneh-aneh.
“Pak Arnold, anterin saya ke kantin yuk
“ ucap Diani berdiri dan membawa dompet kesayangannya.
“Ke mana?” tanya Arnold agak terkejut.
“Kantin, saya mau beli JUS ALPUKAT, kayaknya enak deh siang-siang gini minum yang seger-seger, apalagi ditemani sama yang seger-seger juga.”
Rio semakin tak mengerti ucapan Diani, sedang Arnold tertawa bahagia dalam hatinya mengira dialah yang dimaksud “yang seger” oleh Diani.
“Cieeee, udah jadian aja kalian, Pak Arnold…Bu Diani, orang belum ada pasangan ini, kan?” celetuk salah satu rekan mengajar mereka.
“Doakan aja, Pak,” balas Arnold yang terlihat sumringah. Tapi tak begitu dengan Rio. Ia melihat tajam Diani namun wanita ini malah sengaja membuang muka dan pergi dengan Arnold.
Sebenarnya Diani kenapa, ya? Kok aku merasa dia agak aneh hari ini.
***
Zivanna baru saja tiba di kantor Hannah Construction and Art, salah satu perusahaan konstruksi yang kini diserahkan padanya. Perusahaan ini boleh dikatakan sebagai perusahaan startup yang baru saja memulai, tapi Ziva telah berani ambil resiko dengan memenangkan tender pembangunan sebuah museum yang bekerjasama dengan perusahaan konstruksi asal Rusia. Namun, meski ia telah menunjukkan potensinya sebagai arsitek, sang papa tetap tak memandangnya sebagai anak yang bisa dibanggakan, begitu pula suaminya yang selalu menganggap pekerjaannya hanya menggambar dan duduk santai.
“Hah, kepalaku benar-benar butuh peredam! Rasanya seakan memikul dunia!” keluhnya memijat pelipisnya.
“Bos, ini kopinya.” Angel, salah satu pegawai sekaligus asisten Ziva membawakan Black Arabica ke ruangannya.
“Letakkan saja di sana, Angel. Kepalaku rasanya mau pecah!” tukas Ziva terus memijat.
“Tuan Hugo baru saja mengirim email dan menanyakan rancangan yang telah kita janjikan, Bos.”
“Hmm, sedang kukerjakan. Nanti akan ku email beliau. Makasih, ya.” Senyum Angel menyeruput kopi pahit Arabica-nya.
“Sama-sama, Bos. Dan satu lagi, Bos.”
“Apa?”
“Kapan kita akan ke Rusia?”
“Kenapa memangnya?”
“Soalnya, saya udah nggak sabar mau ketemu pria-pria tampan di sana, Bos,” kekeh Angel.
“Kerja dulu yang benar! Baru kuajak kamu ke sana!” tegas Ziva disertai senyum.
Tak lama setelah asistennya keluar, Ziva mulai berkutat kembali dengan dunianya. Dunia yang telah membantunya selama ini, meski tak pernah dihargai oleh keluarga dan suaminya. “Oke! Ziva, yakin kamu bisa!” ujarnya menyemangati dirinya sendiri.
Saat hendak menggambar, entah mengapa pikirannya tiba-tiba tertuju pada sikap Rio pagi ini. Tak seperti biasanya ia cepat-cepat menutup telponnya, mungkinkah ia sedang ada rapat atau sedang ada kelas?
“Ah, sudahlah! Aku percaya mas Rio tak akan melakukan hal-hal gila di belakangku!”
***
Rio sama sekali tak dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaannya hari ini. Pikirannya selalu teringat pada sikap Diani yang sangat dingin dan cuek. Berkali-kali melakukan kesalahan dalam memberikan penjelasan membuatnya harus menyelesaikan jam mata kuliahnya dengan cepat. Saat akan keluar kelas, ia tak sengaja bertemu dengan Anastasia, mahasiswi yang menumpahkan jus alpukat di kemejanya. Ia melihat gadis manis itu saat berjalan menuju ruangan dosen. Tawa riang serta lesung pipi sebelah kiri juga gingsul sebelah kanan menambah manis wajahnya.
“Astaga, Rio!!!! Kamu lagi mikir apa, sih! Ingat, dia itu mahasiswi kamu! Jangan mikir yang aneh-aneh!” ucapnya pada dirinya sendiri sambil geleng-geleng.
Tak berapa lama, Diani keluar ruangan dosen hendak mengajar, keduanya berpapasan tak jauh dari ambang pintu. Diani yang masih memasang muka jutek berlalu tanpa senyum atau melambaikan tangan pada Rio. Merasa semakin aneh, Rio langsung menarik tangan Diani, menyeretnya ke tempat yang agak jauh dari ruangan dosen.
“Apa, sih Rio! Lepasin!” rengek Diani tapi tak diindahkan Rio. “Kubilang lepas-”
“Ngomong!” potong Rio tiba-tiba memojokkan tubuh Diani ke dinding sebuah ruangan yang tak terpakai.
“Ngomong apa maksud kamu?” balas Diani tak kalah ketus.
“Kamu tuh aneh banget hari ini! Kenapa…ada apa? Ngomong!”
Diani terdiam dan memalingkan muka.
“Diani-”
“Bagaimana rasanya jus alpukat yang tumpah di bajumu? Enak? Manis? Seger? Apalagi seorang mahasiswi cantik, manis, muda mau susah payah membersihkannya!” Diani mendelikkan matanya
“Apa? Maksudnya?” Rio mengernyitkan keningnya.
“Halah, nggak usah pura-pura bodoh! Aku tahu semuanya Rio! Kamu emang brengsek! Bisa-bisanya kamu nglakuin itu di kampus dan di depan mataku!”
“N-nglakuin? Nglakuin apa sih maksud kamu?” tambah bingung Rio.
“Untuk apa mahasiswi itu nempel-nempel ke kamu, hah! Bersihin tumpahan jus?”
“Iya! Udah kubilang kan kemejaku kena tumpahan jus, kalau nggak percaya lihat aja dan cium!” Rio menunjukkan bagian kemejanya yang terkena tumpahan jus alpukat. Diani hanya melihat dan tak bereaksi apapun.
“Ngapain kamu tunjukkan ke aku! Tuh Arnold seharusnya kamu kasih tahu juga!” tegas Diani.
“Arnold? Apa hubungannya sama Arnold?”
“Karena dia yang lihat kamu pertama kali dengan mahasiswi itu, paham! Sekarang minggir! Aku mau ngajar!” Diani mendorong keras tubuh Rio hingga mundur beberapa langkah.
“Di-”
“Aku kecewa sama kamu, Rio!” ucap Diani berlalu dari hadapan suami Ziva ini.
“Ah, sial…sial…sial!” Rio menghantam dinding di depannya dengan bogeman kencang, membuat tulang-tulang jemarinya memerah dan lebam. “Arnold! Laki-laki toge itu benar-benar minta diberi pelajaran!” Rio segera kembali ke ruang dosen dan tak disangka bertemu dengan Anastasia di depan gedung fakultasnya.
“Kamu, ngapain kamu ke sini?”
“S-selamat siang, Pak,” Anastasia takut-takut menyapa Rio.
“Siang, ada perlu apalagi?” tanya Rio dingin dan angkuh.
“I-ini, Pak.”
“Apa ini?”
Anastasia memberikan sebuah bingkisan yang dibungkus menyerupai kado. “Ini….” Rio melihat Anastasia penuh kebingungan.
“J-jangan salah paham dulu, Pak. Ini kemeja sebagai ganti dari insiden tadi, Pak,” jelas Anastasia.
Hah? Gadis ini sampai membelikan aku baju ganti? Edan!!!
“Buat apa? Nggak perlu, makasih. Nanti kalau istri saya tahu bisa berabe urusannya.”
“Bapak kan tinggal jelasin aja kalau tadi kemeja Bapak ketumpahan jus alpukat dan memang benar kan, Pak?” polos Anastasia.
Rio terdiam. Dia melihat bingkisan yang masih dipegang Anastasia. “Kamu tahu kan peraturan di kampus ini DILARANG MENERIMA SUMBANGAN DALAM BENTUK APAPUN, sekarang kamu malah terang-terangan kasih saya barang.”
“Tapi, Pak…”
“Udah…udah, saya nggak mau terima pemberian kamu. Yang sudah lewat dan terjadi, yaudah. Toh waktu nggak akan berputar kembali. Lain kali hati-hati, ok. Masih ada yang lain?” panjang lebar Rio menjelaskan.
“Enggak, Pak,” lirih Anastasia.
“Kalau nggak ada keperluan lain lagi, saya mau balik ke ruangan dosen. Masih ada jam kuliah kamu?” tanya Rio memperhatikan sekeliling mereka, takut-takut ada yang melihat seperti tadi.
“Enggak, Pak. Sudah selesai.”
“Kalau begitu, cepat pulang.” Rio berlalu dari hadapan Anastasia. Gadis ini terus melihat punggung Rio yang lebar dan gagah. “Kayaknya enak kali ya bersandar di punggung kaya Pak Rio,” gumamnya.
“Hufftt!!! Ada-ada aja sih hari ini kejadiannya! Lelah banget aku.” Rio membuka dua kancing di bawah kerahnya. Waktu menunjukkan pukul 16.00 sore, matahari pun masih menyibakkan teriknya. “Ziva pulang jam berapa ya?” Gumamnya memeriksa ponsel hitam keluaran terbaru. Kedua mata hitam kecoklatan dan jemari panjang miliknya saling kerjasama men-scroll daftar panggilan masuk yang jumlahnya banyak.
“Ckckck, banyak amat itu panggilan masuk.”
Ah, sial! Dosen toge ini lagi! batinnya mengumpat Arnold yang datang dari belakang.
“Hai,” sapanya singkat.
“Kayaknya lagi sibuk banget, sih. Mo telepon Ziva?” tanya Arnold sambil melirik.
“Iya, mau tanya dia dijemput jam berapa nanti.” Jelas Rio kembali terfokus pada gawainya.
“Uhhh, so sweeeettttt…” ucap Arnold dengan gaya alay-nya.
“Yah, begitulah. Kami tetap menjaga keharmonisan rumah tangga dengan cara seperti ini,” jelasnya.
“Ohhh, begitu.” Sahut Arnold diikuti siulan seolah menyiratkan sesuatu.
“Kamu kenapa Nold? Kok, kayaknya lagi nyindir gitu?”
“Nyindir? Nyindir gimana? Orang siul masa dibilang nyindir, aneh kamu Rio.”
Rio menghentikan langkahnya sebentar dan melihat rekan mengajarnya itu dengan penuh curiga. “Arnold, tunggu sebentar,” panggilnya.
“Hmm, ada apa?”
“Boleh tanya sesuatu?” telisik Rio.
“Ya boleh dong. Mau tanya apa?”
“Kamu dan Diani…kalian…hubungan kalian…” Rio tampak bingung dengan kalimat pertanyaanya sendiri.
“Nanya apa sih kamu? Nggak jelas!” protes Arnold.
“Kamu dan Diani makin dekat ya?”
“Memang kami dekat, kan?” balas Arnold.
“Bukan kedekatan biasa yang kumaksud. Tapi…”
Arnold tersenyum kecil. “Kenapa? Kamu cemburu atau jangan-jangan kalian…”
“EH, eng-enggak-enggaklah! Mana mungkin aku suka apalagi jatuh cinta sama Diani! Istriku lebih cantik, lebih pintar, dan lebih baik dari siapapun!” elak spontan Rio mengibaskan tangan kanannya.
Arnold hanya memasang senyum di wajahnya. Sebuah senyuman yang bahkan membuat Rio semakin was-was dengan rekan mengajarnya ini.
Jangan sampai Arnold mengendus hubunganku dengan Diani!
“Yaudah, kalau gitu aku duluan ya.” Arnold melambaikan tangannya.
“Udah mau pulang? Tumben cepet, biasanya ngopi dulu.”
“Enggak ah, lagi ada urusan,” sahutnya.
“Hm, oke.” Setelah Arnold hilang dari pandangan Rio, ia bisa bernapas lega karena tak akan ada yang menginterogasinya seperti penjahat. Maniknya berlanjut melihat ponselnya, dan kali ini langkahnya terhenti saat suara wanita memanggil namanya dengan kencang.
“RIO!”
Suami Ziva ini menengok ke belakang dan ternyata Diani telah berdiri di sana.
“Diani?”
Dengan langkah tegap, cepat, serta ekspresi kemarahan di wajahnya, Diani memukul dada Rio kencang.
“Ouch! K-kenapa kamu mukul aku tiba-tiba, sih!” protes Rio mengelus dadanya.
“Ternyata mulutmu jahat! Itukah yang kau pikirkan selama ini tentang aku?”
“Maksudmu apa, sih? Heran aku, hari ini kamu sangat aneh!” Rio sedikit marah dan hendak berlalu dari hadapan Diani.
“Betulkah yang kau katakan pada Arnold barusan?” pancing Diani.
Gawat! Jadi Diani dengar semuanya?
“Emang aku bilang apa ke Arnold?” elak Rio.
“Kau tahu apa maksudku, Rio. Jangan pura-pura bodoh dan naif! Kau membandingkan aku dengan istrimu, Zivanna Yahya, si anak manja itu!” Diani mulai menaikkan volume suaranya.
“Ssstt! Pelan-pelan bisa nggak, sih!” Rio menarik tangan Diani dan membawanya ke tempat yang agak sepi. “Mana mungkin aku mengatakan yang sebenarnya! Kamu mau semua orang di kampus ini tahu tentang hubungan kita dan akhirnya berimbas pada karier yang telah kita bangun susah payah,” jelas Rio.
“Itu kan menurutmu!” sahut Diani santai
“Apa maksudmu?”
“Jangan bandingkan aku denganmu, Rio! Kau perlu susah payah masuk ke sini, sedang aku…kau lupa siapa aku dan latar belakang keluargaku?” seringai angkuh dan dingin terpancar jelas di wajah dan bibir Diani.
Sial! Diani benar-benar keterlaluan!
“Dengar ya, Tuan Rio Wibisono. Jangan lupa atas jasa siapa kamu bisa masuk dan mengajar di kampus elite ini, menikmati semua fasilitas yang ada, bahkan sampai mobil pun…”Diani menjeda kalimatnya. “Jika kau berani mempermainkanku, menusukku dari belakang, dan MEMBANDINGKAN aku dengan istri manjamu…kupastikan surat pemecatanmu secara TIDAK TERHORMAT akan berada di mejamu.”
Pertengkaran kecil Rio dan Diani sempat membuat beberapa mahasiswa serta beberapa dosen yang sedang lalu-lalang di tempat itu melihat ke arah keduanya.
“Jangan mengancamku, Diani. Aku orang yang pantang untuk melupakan jasa orang lain, begitu pula dengan jasamu! Pasti akan kulunasi!” tegas Rio.
Diani terdiam. Seumur-umur baru kali ini ia mendapat bentakan dari orang lain karena ia tak pernah mendapat suara-suara keras di keluarganya.
“Kenapa? Ada apa lagi?” sahut Rio dingin.
“Maafin aku, Rio. Aku cuma cemburu dan nggak mau kamu jadi jatuh cinta sama mahasiswi itu,” lirih Diani.
“Astagaaaaaaa, Diani…kamu mikir apa, sih! Hei, Sayang…Sayang, lihat aku.” Rio memegang dagu lancip milik wanita idaman lain itu. “Kenapa kamu bisa mikir sampai sejauh itu, sih? Kita udah berhubungan selama 4 tahun bukan? Tapi kamu masih nggak percaya sama aku?” tanya Arnold agak kecewa pada Diani.
“Bukan itu maksudku, Rio. Apa aku salah menjaga yang harusnya milikku. Dijaga aja diambil orang, apalagi nggak dijaga,” ucapan Diani seolah sedang menyindir dirinya dengan Ziva.
“Itu…aku nggak bisa mengatur sesuai keinginanku, Diani. Jika bukan karena ayahku yang memiliki hutang banyak dengan keluarga Yahya, mungkin kita sudah menikah dan hidup bahagia,” ujar Rio.
Diani merasa bersalah karena telah membuka aib Rio yang bahkan dia sendiri tak mau mengungkit, mengingat, atau mengatakannya.
“Rio….” Diani memegang tangan Rio. “Aku akn tetap di sisimu, sampai kapan pun karena aku yang lebih tahu dan mengenalmu daripada Ziva!” tegas Diani.
“Aku tahu, Sayang. Karena itu kuminta tolong padamkan dan hilangkan segala pikiran jelek, ya.” Rio membelai lembut rambut Diani dan keduanya lupa jika mereka masih ada di lingkungan formal.
“Sore, Pak…Bu….” ucap beberapa mahasiswa yang tiba-tiba lewat di depan mereka.
Sontak, Rio dan Diani segera merenggangkan tubuh mereka dan pura-pura membuka ponsel masing-masing.
“Ya, selamat sore,” balas keduanya.
Setelah para mahasiswa itu pergi, Rio dan Diani melempar pandangan kemudian tertawa kecil melihat kekonyolan dan kebodohan yang mereka buat.
“Apa kau ingat kita juga pernah dalam situasi seperti ini, Diani?” Rio mengayunkan tangannya ke arah Diani.
“Bagaimana mungkin aku bisa lupa. Saat itulah kau menyatakan perasaanmu padaku, setelah sekian purnama kau bilang memendam rasa padaku,” balas Diani puas menertawakan kekonyolannya.
“Yahhh, sayangnya kita tak bisa bersatu. Andai saja waktu itu ayahku tak memiliki hutang menumpuk pada keluarga Yahya, kita sekarang bahagia, Sayang.” Lirih Rio tertunduk mengatakannya.
“Sudahlah, Rio. Apa yang terjadi biarlah terjadi, meski aku sangat kesal dengan sikapmu waktu itu, tapi setelah kupikir-pikir ada baiknya kau menikah dengan perempuan manja itu,” jelas Diani.
“Bersyukur? Kau bersyukur aku menikah dengan Zivanna? Kenapa? Apa kau tak mencintaiku lagi?” Rio terkejut dengan ucapan Diani.
“Setidaknya kita akan membuat sejarah baru dalam rumah tanggamu, Rio.” Senyum Diani mengembang.
“Aku tak mengerti maksudmu, Diani. Beri aku penjelasan,” lanjut Rio.
“Biar waktu yang menjawab, Rio. Kali ini aku tak akan menyerahkanmu pada wanita manapun! Karena aku tak ingin menjaga jodoh orang!” Diani berlalu dari hadapan Rio.
“Diani, tunggu aku…” saat Rio hendak mengikuti Diani kembali ke ruang dosen, ponsel miliknya berdering dan terlihat nama Ziva sweety terpampang jelas di layar gawainya.
Duh, Ziva lagi. Ngapain ya dia telpon. Batin Rio melihat Diani tak ada di depan matanya.
Diani…..
Rio tak memedulikan telepon Ziva dan mempercepat langkahnya menghampiri Diani.
***
“Duh, ke mana sih mas Rio? Kok teleponku nggak diangkat, padahal aktif.” Ziva terus mencoba menghubungi Rio, namun tak jua diangkat malah ponselnya kini tak aktif. “Kenapa sekarang malah nggak aktif?” pikiran istri Rio ini mulai ke mana-mana, desain bangunan untuk proyek pertamanya menjadi tak karuan dan sudah banyak kertas yang Ziva buang.
“Apa kuhampiri aja ya mas Rio?” pikir Ziva mengambil tasnya dan gegas menuju kampus suami.
“Angel, jika tuan Hugo mengirim email, minta dia telepon ke nomorku, ya.” Ucap Ziva menuruni anak tangga yang jumlahnya tak banyak.
“Siap, Bos. Udah mau pulang?” tanya Angel melihat ke arah Ziva.
“Iya, tapi aku mau ke kampus suami dulu,” jelas Ziva.
“Loh, kenapa nggak minta jemput ke sini aja Bos?” tanya Angel.
“Ponselnya mati. Ga apa-apa, takutnya keselip di jalan. Jangan lupa ya pesan saya tadi Angel.”
“Siap, Bos!” Angel memberi hormat pada Ziva sambil tersenyum.
Tak lama, taksi online yang dipesan Ziva tiba di depan kantornya. Waktu telah menunjukkan hampir senja, matahari jingga mulai menebar ufuk dan melebarkan sayap gelap berganti bulan. Jalanan ibukota mulai menampakkan wajah-wajah kelelahan dan kemacetan luar biasa. Ziva terus memperhatikan arloji di tangan kirinya.
Ayolah, kenapa macet sih!
Rasa tak tenang menggelayuti pikiran Ziva.
“Pak, nggak bisa lewat jalan tikus?” tanya Ziva pada supir taksi online.
“Mbak liat aja, merah Mbak.” Supir taksi online tersebut memperlihatkan ponsel yang melekat di dashboard mobilnya.
“Tolonglah, Pak. Keadaan saya emergency, suami saya nggak bisa dihubungi. Tadi bisa sekarang nggak bisa,” jelas Ziva begitu khawatirnya pada Rio.
“Baik, Mbak. Saya coba cari jalan lain, ya. Universitas Satu Unggul, kan?” tanya sang supir online.
“Iya, Pak.”
Akhirnya, mobil yang ditumpangi Ziva mencari jalan yang tidak terlalu macet meski harus memutar cukup jauh dan menambah rasa cemas Ziva.
Duh, Mas… kamu ke mana, sih…
***
Sementara Ziva sedang panik, cemas, khawatir karena ponsel Rio mati, sang suami malah asyik makan dan minum dengan Diani dan beberapa dosen di kampusnya mengajar. Mereka saling bagi tawa, canda, penuh kebahagiaan. Sesekali tatapan Diani dan Rio bertemu dan menunjukkan perhatian satu sama lain.
“Ngomong-ngomong pak Arnold ke mana? Kok tumben nggak keliatan?” tanya salah satu dosen yang ikut bersama mereka.
“Pak Arnold udah pulang, Pak tadi jam 5,” jawab Rio.
“Oalah, kalau ada pak Arnold enak nih, rame,” celetuk dosen lainnya. Tentu saja Rio dan Diani tak memedulikan kehadiran atau tidak Arnold, karena bagi keduanya Arnold cukup mengganggu dan duri dalam onak.
“Jam berapa ya, Pak Rio?” tanya Diani basa-basi.
“Oh, sebentar Bu Diani.” Rio merogoh kantong celana dan mengambil ponselnya. Saat itulah ia baru menyadari jika ponselnya mati. Rio melihat Diani yang duduk berseberangan dengan kernyitan dahi.
Kenapa ponselku pakai mati segala, sih! batin Rio menghidupkannya lagi tapi tak lama mati lagi.
“Ponsel saya lowbat Bu Diani.” Rio menunjukkan ponselnya yang memang mati.
Wajah Diani langsung tak enak dipandang, ia meminta izin ke kamar mandi pada dosen-dosen lain. Rio yang juga ingin pergi tak mungkin segera melakukannya karena pasti akan menimbulkan kecurigaan. Lima menit … sepuluh menit Diani tak kunjung kembali. Rio mulai resah dan cemas, sementara dosen-dosen yang lain tampak biasa saja.
“Permisi, saya juga mau ke belakang.” Ucap Rio tanpa pikir panjang meninggalkan mereka.
Langkah buru-buru Rio memecah keheningan lorong kampus tempatnya mengajar. Karena ponselnya mati, ia hanya bisa memanggil Diani pelan-pelan. Sampai di kamar mandi, ia melihat tempat itu sepi. Sekali lagi Rio memanggil Diani tapi tak ada jawaban. Akhirnya dia memutuskan untuk mencarinya ke parkiran atau taman kampus. Dan ternyata tebakan Rio benar! Diani sedang duduk di taman kampus seorang diri.
“Butuh teman, Bu Diani?”
Diani yang mengenal suara Rio dengan sangat baik hanya diam dan memberikan sebagian tempat kosong padanya.
“Kamu ngapain sendirian di sini, Diani?” tanya Rio penasaran.
“Nggak ngapa-ngapain. Cuma menikmati kesendirian,” balas Diani.
“Kenapa gitu lagi ngomongnya? Aku bikin salah apalagi kali ini?” tanya Rio penuh kebingungan.
“Enggak, Rio. Kamu nggak bikin salah apa-apa. Akunya aja mungkin yang lagi sensi,” jelas Diani melihat lembut.
“Terus kenapa kamu kaya gitu lagi?” Rio agak jengah dengan sifat Diani yang manja dan egois.
“Sampai kapan kita akan terus seperti ini, Rio? Apa kamu nggak bosan atau jenuh dengan hubungan kaya sekarang?” Diani mengembuskan napas kasar, seakan menanggung beban yang sangat banyak.
“Mauku, sih secepatnya kita bisa bersatu, Sayang. Tapi kamu tau kan untuk sekarang ini nggak mungkin karena -”
“Aku tahu!” sahut Diani tiba-tiba memotong dan menjawab ucapan Rio.
“Sayang…” Rio menggenggam tangan Diani tepat saat sebuah mobil masuk dan menyorot keduanya dengan lampu yang sangat terang.
“Ouh, siapa sih itu! Nggak sopan banget! Pakai segala arahkan lampu ke kita!” kesal Diani menutupi matanya karena silau.
“Entahlah, biar kuhampiri.” Rio bangun dari tempat duduknya dan menghampiri mobil yang sedang berhenti itu.
“Tolong dibuka.” Ucap Rio mengetuk kaca mobil tersebut.
“Iya, Pak. Ada apa?” Seorang pria cukup berumur menurunkan kaca jendela mobilnya. Namun, belum sempat Rio bertanya lebih lanjut, seorang perempuan keluar dari mobil tersebut dan menghadapkan wajahnya ke Rio.
“Kupikir kamu kenapa-kenapa, Mas. Ternyata baik-baik saja.”
“Z-Zivanna!!” kejut Rio.