Sahira melangkahkan kakinya secara perlahan, bahkan terkesan berjingkrak memasuki area kamarnya, ia menempelkan telinganya di depan pintu agar suara yang ada di dalam sana jelas terdengar, hingga pendengarnya itu menangkap suara-suara aneh yang berasal dari dalam di mana kamarnya berada, tempatnya selama ini ia melabuhkan kasih sayang bersama dengan sang suami, Indra Permana.
Sahira yang sudah membangun rumah tangga selama dua tahun itu sangat tahu apa yang terjadi dalam sana dengan hanya mendengar suara rintihan serta erangan dari dua orang yang berbeda jenis kelamin yang terdengar bersahutan.
"Ah sayang lebih cepat lagi! Aku sudah tidak tahan, cepat sayang!!.
"Iya ini sudah sangat cepat aku juga sudah mau sampai!."
Suara-suara itu jelas terdengar di telinga Sahira antara seorang wanita dan laki-laki, hingga tangannya kini terkepal erat dengan emosi dan amarah yang mengguncang, karena suara pria yang ada dalam sana sangat ia ketahui hingga hanya dalam hitungan detik Ia pun memutar knock pintu yang ternyata tidak terkunci itu dan berjalan masuk ke dalam.
Dunianya terasa runtuh seketika saat melihat di atas ranjangnya dua orang bertubuh polos Tengah melakukan hubungan tak senonoh layaknya suami istri, membuat amarah dan emosi Sahira pun memuncak seketika dan tanpa aba-aba meraih kursi meja riasnya, kemudian melemparnya ke atas ranjang hingga hampir mengenai dua orang yang terkejut bukan main, apalagi pria yang saat ini tengah memacu tubuhnya di atas seorang wanita dengan rintihan-rintihan yang erotis.
"Sahira!!."
Pekik Indra saat melihat istri sahnya kini sudah menatapnya dengan nyalang dan penuh amarah, Ia pun segera menarik tubuhnya dari atas tubuh wanita yang juga sangat terkejut kalah melihat penampakan Sahira.
"Kalian berdua benar-benar biadab! B****** tidak tahu diri, kalian berdua adalah penghianat, anj-ing!."
Teriak Sahira dengan amarah yang memuncak, dia segera beranjak menuju tempat tidur dan dengan cepat meraih kepala wanita itu dan menarik rambutnya dan menyeretnya turun dari atas tempat tidur.
"Aahh!! Lepas Sahira! lepaskan! Ini sakit."
"Sakit kamu bilang? Lebih sakit mana hatiku saat kau bercinta dengan suamiku, padahal kamu adalah sahabatku sendiri!!! dasar kamu yang wanita gatal, ini balasanmu atas semua yang telah aku lakukan, plak plak!!!."
Teriak Sahira dengan emosi yang bercampur dengan tangisan, ia menampar kedua pipi wanita yang merupakan sahabatnya itu dan kini telah berkhianat dengan bermain serong di belakangnya bersama dengan suaminya.
"Sahira sayang ini tidak seperti yang kau duga! Aku bisa jelaskan semua ini."
Teriak Indra berusaha untuk menenangkan istrinya yang masih kalap memukuli wanita yang merupakan selingkuhannya tersebut sekaligus sahabat istrinya sendiri.
Plak plak plak plak!!
Suara tamparan itu masih saja terdengar di ruangan tersebut! Sementara wanita yang tak memakai pakaian itu sudah terlihat kepayahan akibat pukulan bertubi-tubi yang didapatnya dari Sahira.
"Sahira! sudah, kamu bisa membunuh Amelia, tenanglah mari kita berbicara dan berpikir dengan jernih."
Seru Indra kembali sembari meraih lengan Sahira dan menyentaknya, kalau ia tidak melakukan itu maka istrinya tersebut pasti tidak akan pernah mengampuni Amelia yang merupakan sahabatnya.
"Kenapa Indra? Kenapa kamu tega? Apa kurang ku selama ini? Kalian tega menghianati aku."
Ucap Sahira seraya memundurkan tubuhnya ke belakang, ia menatap kosong ke arah depan sementara Indra kini membantu Amelia untuk bangkit dan menutupi tubuh polos wanita itu dengan selimut.
"Kamu tidak apa-apa kan?."
Wanita yang bernama Amelia itu hanya mengangguk seraya meraba pipinya yang terasa kebas akibat tamparan bertubi-tubi dari sahabatnya, namun ekor matanya masih melirik sinis ke arah Sahira yang tampak linglung dengan semua yang terjadi di hadapannya.
"Aku akan mengumpulkan semua anggota keluarga malam ini! Terlebih kedua orang tuamu Indra, mereka harus tahu semua ini, aku sudah memutuskan untuk mengakhiri rumah tangga kita sekarang juga di hadapan semua orang."
Ucapan Sahira tersebut membuat Indra terbelalak seraya menggeleng dengan cepat lalu menghampiri istrinya.
"Tidak akan ada perpisahan di antara kita Sahira, Aku sangat mencintaimu Aku tidak ingin mengakhiri rumah tangga kita ini, semua yang terjadi antara aku dan Amelia bisa aku jelaskan nanti setelah semua anggota keluarga datang."
Seru Indra dengan cepat seraya hendak memegang lengan Sahira, namun dengan cepat wanita itu menepisnya.
"Baiklah aku tahu kamu pasti membutuhkan waktu untuk menerima semua ini, Aku akan segera menelpon ayah dan ibu."
Sahira tak lagi menyahuti perkataan suaminya, Ia lalu berjalan keluar dengan terseok menuju kamar lainnya, air matanya jatuh berderai bak air sungai yang mengalir, apa yang baru saja dilihatnya di depan mata seakan mimpi buruk dan ia ingin bangun segera untuk mengakhirinya.
*
Sahira duduk dengan tenang disofa seraya melipat kedua tangannya di depan dada, ketika kedua mertuanya sudah berada di hadapannya, begitu juga dengan kakak laki-laki Indra, Sahira sempat melirik pria berwajah dingin itu yang selama ini berprofesi sebagai seorang pengacara dengan ekor matanya, pasalnya baru kali ini pria itu datang. Mungkin dia ingin membela adiknya, pikir Sahira.
"Sebenarnya ada apa kamu memanggil kami semua Sahira?."
Tanya Ratih segera kepada menantunya yang selama ini memang tak disukainya itu, ia menatap wajah dingin Sahira dengan lekat.
"Aku memanggil kalian karena satu hal, ini mengenai rumah tanggaku dengan mas Indra, Aku akan segera menggugat cerai dirinya."
Sahut Sahira to the point, ya memang tidak ingin berbelit-belit dalam mengambil tindakan atas prahara rumah tangganya.
"Kalian ingin bercerai? Mana mungkin kamu mau menggugat cerai anakku? Bukankah dulu kamu yang ngotot mengejarnya dan ingin menjadi istrinya? Lalu kenapa sekarang kamu ingin menceraikannya?."
Teriak Ratih dengan nada tak percaya ke arah menantunya, sementara suaminya hanya menatap lekat ke arah Sahira.
"Indra dan Amelia telah berkhianat mereka melakukan perselingkuhan di belakangku! Aku tidak menerima itu dan aku akan menggugat cerai segera di pengadilan.
"Tidak bisa Sahira! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu."
Teriak Indra dengan lantang, ia sedang menuntun Amelia dari arah dalam Karena wanita itu masih kesakitan akibat pemukulan yang dilakukan oleh Sahira tadi.
" ciih!! Dasar munafik!."
Gerutu Sahira dalam hati ketika melihat sahabatnya itu yang terlihat sangat memelas yang dibuat-buat, wanita itu kini duduk di sebuah kursi single dengan dibantu oleh Indra membuat Sahira merutuki kedua orang itu dalam hati.
"Oh jadi maksudmu adalah hubungan Amelia dengan Indra? Itu yang telah membuat kamu ingin segera menuntut cerai putraku?."
Ucapan Ratih itu membuat Sahira segera mendongak menatap Ibu mertuanya, perkataan wanita paruh baya itu seakan menyiratkan kalau mereka sebenarnya sudah tahu hubungan keduanya.
"Jadi ibu sudah tahu hubungan mereka? Jawab Bu!."
Teriak Sahira sambil menggelengkan kepalanya dengan tatapan lekat yang mengarah kepada ibu mertua serta suaminya.
"Tentu saja sudah! Bahkan kami lah yang menikahkan mereka berdua saat kamu sedang keluar kota kemarin."
Duarrr!!!
...
"tidak mungkin kalian pasti bohong! Bagaimanakah bisa kalian mendukung pernikahan putra kalian ini, Padahal dia sudah memiliki istri, kalian benar-benar keluarga munafik dan penghianat!."
"Sahira! Bukankah dari dulu kamu sudah tahu kalau aku memang tidak menyukaimu, tidak ada yang mendukung kamu menikah dengan Indra putraku, tapi kamu sendiri yang begitu mengejarnya dan ingin menjadi istrinya, bahkan rela mengemis padaku untuk menjadi menantuku, jadi terimalah kenyataan ini."
Seru Ratih kembali seraya melotot tajam ke arah menantunya, wanita tua itu memang dari dulu sangat kentara tidak menyukai Sahira, namun Ia juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika Indra memutuskan untuk menikahi wanita itu.
"Walaupun anda tidak menyukaiku! Tapi tidak seharusnya anda melakukan ini padaku, bahkan Anda mendukung perselingkuhan Dan perzinahan, di mana otak anda sebagai seorang wanita? Bukankah kita sama? Kita sama-sama perempuan yang memiliki suami dan pastinya akan sakit hati jika pasangannya berkhianat, entah bagaimana reaksi Andi ketika bapak berkhianat? Apa ada sanggup menerima dengan lapang dada?!."
"Sahira!! Jaga cara bicara kamu ketika berbicara dengan orang tuaku, Kamu memang anak yatim piatu, seharusnya kamu memiliki empati dan sopan santun kepada orang tua."
Teriakan menggelegar Indra terdengar di dalam ruang tamu itu, sehingga Sahira hanya mampu tertunduk seraya menangis terisak-isak karena merasa telah mendapat ketidak adilan, keluarga itu telah berkomplot atas pengkhianatan yang dilakukan oleh Indra beserta sahabatnya yang selama ini sangat dipercayainya bahkan sering kali menjadi tempat curhatnya jika ia memiliki masalah.
"Aku memang seorang anak yatim piatu! Sehingga tidak adapun yang akan mampu membela aku jika mendapatkan ketidakadilan, tapi itu bukan berarti kalian bisa seenak hati memperlakukan aku seperti ini, karena aku juga manusia biasa yang memiliki hati dan perasaan, Aku ingin saat ini juga kita bercerai, aku tidak Sudi memiliki suami yang telah berkhianat dengan sahabatku sendiri, apalagi tinggal di Satu atap yang sama dengannya."
Ucap Sahira memberi keputusan atas nasib rumah tangganya dan Indra pun segera bangkit berdiri menghampirinya.
"Saya sudah bilang tadi, itu tidak akan terjadi Sahira! Di antara kita tidak akan ada kata cerai, aku masih mencintaimu dan apa salahnya kita hidup rukun di rumah ini bersama dengan Amelia, bukankah dia sahabatmu juga? kalian akan sangat akrab di rumah ini, kamu akan memiliki teman."
"Enak saja kamu bicara Indra! Aku sudah membuang Dia dari ingatanku sebagai teman, dia bukan lagi sahabatku seperti dulu! Ciih!
Aku tidak sudi memiliki teman seperti dirinya lagi. Aku tidak sudi!!."
Pekik Sahira dengan lantang, ia memang menyuarakan suara hatinya yang tidak ingin berpoligami, menurutnya sebuah kesetiaan adalah harga mati dan jika salah satu pasangan mengingkarinya maka tidak akan ada maaf untuknya.
Ratih terlihat memutar matanya dengan malas kala melihat keras kepala Sahira, sementara suaminya hanya terdiam tanpa suara begitu pula dengan putra pertamanya, pria berbeda usia itu terlihat menatap ke arah lantai tanpa berani mendongak menatap wajah Sahira dan Indra yang berdiri di depan mereka.
Hanya Amelia yang menatap kedua pasangan suami istri itu dengan tatapan jengah, sejujurnya ia juga tidak sudi berbagi dengan Sahira lagi,
Terlebih kini ia sudah berhasil menjadi istri sah Indra juga, dan ia berjanji dalam hati akan menguasai pria itu tanpa membaginya dengan Sahira.
"Kamu memang benar-benar keras kepala Sahira! Dan hal itulah yang membuatku bosan selama ini, kamu sama sekali tidak mau diatur dan selalu membantah apa yang aku katakan, kamu hanya mementingkan pekerjaan daripada diriku hingga lupa tugasmu sebagai seorang istri, aku rasa tidak salah jika aku mencari pelampiasan di luar sana, dan Amelia mau menjadi tempatku berbagi bahkan rela menjadi istri kedua untukku asal kau tidak dicerai olehku, kamu lihat kan? betapa baiknya sahabatmu itu yang tidak kamu hargai."
"Itu karena dia sedang cari muka di depan keluargamu agar dinilai baik dan wanita yang berhati lembut, jika dia memang baik, dia tidak mungkin mau menghianati sahabatnya yang selama ini sudah seperti saudara, bahkan aku telah banyak membantunya, apa yang diminta aku berikan dan sekarang dia telah mengambil suamiku, inilah yang dikatakan air susu dibalas dengan air tuba dan dia tidak pantas menyandang predikat wanita baik."
Sahira menunjuk wajah Amelia dengan tatapan lekat yang terlihat menghunus, ia benar-benar telah memupuk dendam kepada sahabatnya itu yang telah menghancurkan rumah tangganya kini.
"Karena rumah ini adalah milikmu, dibeli dari hasil jerih payahmu, Aku yang akan pergi, Aku yang akan mengalah, terlebih orang tuamu memang selama ini tidak menyukaiku."
Akhirnya ucapan itu keluar dari mulut Sahira walau dengan keterpaksaan dan mengandung kegetiran di dalam hatinya, usia pernikahannya yang baru dua tahun itu harus kandas, namun hidup di tengah tekanan batin juga ia tidak ingin, hingga merasa dia lah yang harus mengalah untuk menjaga kewarasannya sebagai wanita.
"Apa maksud kamu Sahira? Aku tidak menginginkan kamu pergi dari sini, kita akan hidup bersama dan rukun, ingat! Satu langkah saja kamu pergi dari rumah ini maka Aku pastikan kamu tidak akan bisa kembali lagi."
Ucap Indra bernada mengancam kepada Sahira yang kini telah melangkah menuju kamarnya untuk membenahi semua barang-barangnya ia akan pergi malam ini juga, dan ia tidak perduli dengan ancaman indra.
"Mas Indra hentikan dia! Bukan ini yang aku inginkan mas, Aku ingin hidup berdampingan dengan Sahira di rumah ini sebagai istri kamu, aku tidak apa-apa berbagi dengannya, posisinya akan tetap menjadi istri pertamamu tak akan bisa tergantikan."
Ucap Amelia dengan nada lembutnya seraya meraih bahu Indra untuk mencegah Sahira keluar dari rumah itu, sementara Ratih yang melihat menantu keduanya tersebut segera bangkit berdiri dan menghampirinya.
"Kamu memang begitu baik nak! Tapi Sahira memang tidak tahu diri dan keras kepala, Padahal selama ini dia sangat tidak becus menjadi seorang istri bagi Indra, harusnya dia bersyukur karena kamu mau menjadi madunya dan membantunya mengurus suami di saat dia sedang bekerja."
Seruan Ratih tersebut membuat Amelia merasa di atas angin kemudian tersenyum tipis kepada mertuanya, sementara sebuah tatapan tajam yang menyorot ke arahnya tanpa disadarinya, tatapan lekat seorang pria yang berprofesi sebagai pengacara entah kenapa ia merasa tidak suka dengan istri kedua adiknya itu.
"Selamat tinggal Aku akan pergi saat ini juga! Aku harap kalian bahagia dan tunggu saja surat cerai dariku."
Ucap Sahira sambil mendorong sebuah koper besar, dia juga sudah mengganti bajunya dengan sweater dan celana panjang.
"Aku sudah memberimu peringatan Sahira! jika sekali saja kamu melangkah keluar dari rumah ini, kamu tidak akan bisa kembali."
"Kamu tidak perlu khawatir mas! Aku juga tidak berniat untuk kembali ke rumah ini, aku hanya akan berdoa untuk kebahagiaan kalian, selamat bersenang-senang di atas penderitaanku."
setelah perkataannya selesai, akhirnya Sahira pun segera menarik kopernya keluar dari pintu, Indra tampak begitu geram atas sikap keras kepala istri pertamanya tersebut.
"Dia benar-benar keras kepala! Baguslah kalau dia pergi dari rumah ini, kamu tidak perlu mengejarnya lagi, kan sekarang kamu sudah memiliki Amelia dia bahkan sangat sempurna sebagai istri, biarkan saja si Sahira itu menderita di luar sana."
Ucap Ratih dengan nada sinis, sejujurnya dalam hati ia begitu gembira karena Sahira akan berakhir menjadi menantunya dan tergantikan oleh Amelia, wanita penurut yang selama ini selalu datang untuk membantunya memasak di rumah, bahkan wanita itu mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa dimintanya, hal itu menjadi nilai plus di mata Ratih sebagai seorang menantu.
*
Sahira menghela nafas panjang seraya menyeret kopernya menyusuri pinggiran trotoar, sejujurnya ia tidak tahu hendak ke mana karena sama sekali tidak memiliki keluarga lagi, ia memang sudah yatim piatu sejak kecil, dan ia tinggal di panti asuhan dan dibesarkan di sana hingga akhirnya menempuh pendidikan dan ia bisa bekerja di sebuah kantor swasta, di sanalah ia bertemu dengan Indra dan keduanya jatuh cinta walaupun tanpa restu dari kedua orang tua pria itu.
Namun Sahira begitu kekeuh mendekati calon mertuanya, terlebih Indra begitu baik dan memberikan seluruh perhatian padanya hingga ia merasa Kalau pria itu memang layak untuk menjadi suami dan panutannya.
Namun apa yang terjadi kini bertolak belakang dengan pikirannya, ternyata Indra mampu menghianati cinta mereka yang diraih dengan susah payah.
PIP pip pip pip!!!
...
,
Sahira segera hentikan langkahnya dan menoleh ke arah mobil yang berhenti tepat di sampingnya, dan seorang pria lantas segera turun dari sana menghampirinya.
"Mas Andri! Ada apa mas?."
Tanya Sahira segera ketika mengetahui siapa pria yang berada di dalam mobil itu yang kini berdiri tepat di depannya.
"Kamu mau ke mana sekarang? Malam-malam begini sambil menyeret koper, aku rasa itu tidak baik untuk seorang wanita."
Tanya pria itu segera sambil menatap wajah adik iparnya yang terlihat segera menoleh ke arah lain.
"Bukan urusan mas Andri."
Sahut Sahira sambil kembali berjalan namun Andri ternyata mengikutinya.
"Aku hanya mencoba untuk berbuat baik kepadamu, karena malam sudah larut dan kamu masih menyeret koper tanpa tujuan, apa kamu tidak takut bertemu preman? Mereka akan menangkap dan melecehkan mu, apa itu yang kamu mau?."
Seruan Andri tersebut kembali menghentikan langkah Sahira, yang menarik nafas dalam-dalam karena sama sekali tidak mengerti dengan keluarga suaminya, di satu sisi ada orang tua yang sama sekali tidak menyukainya, namun di sisi lain anggota keluarga mencoba untuk menjadi pahlawan kemalaman baginya.
"Emangnya kenapa mas Andri harus peduli?
Ini semua karena ulah adik mas Andri, dia telah mengkhianatiku, membawa madu ke rumahku dan meminta aku untuk hidup Satu atap dengannya, mungkin dia berpikir kalau aku ini adalah robot yang tak memiliki hati sehingga dia bisa seenaknya padaku."
Ujar Sahira mengeluarkan unek-uneg yang ada di dalam hatinya, air matanya kembali meleleh deras sehingga Andri pun mendekat padanya.
"Aku sangat mengerti perasaanmu, tapi untuk malam ini cobalah untuk menerima bantuanku, mari ikut aku ke apartemen yang selama ini tidak aku tinggali, Kamu bisa tinggal di sana selama yang kau mau sampai kau menemukan tempat tinggal yang cocok untukmu, daripada kamu harus luntang-lantung di jalan dan akhirnya ditangkap preman kemudian diper*kosa."
Ucapan Anda tersebut membuat Sahira termenung, ia membenarkan perkataan pria itu dan akhirnya mengangguk mengiyakan karena tak punya pilihan lain.
Andri pun segera meraih koper yang ada di tangan Sahira lalu menyeretnya menuju mobil, sejujurnya tidak ada seorangpun anggota keluarganya yang tahu kalau ia telah menolong wanita itu, selama ini hubungannya dengan Indra adiknya memang terhitung tidak dekat, bahkan keduanya jarang bertegur sapa, apalagi Andri memang memiliki rumah sendiri dan kesibukan sebagai seorang lawyer yang cukup dikenal di negara ini.
Akhirnya Sahira pun duduk manis di mobil Andri menuju arah apartemen milik pria itu, ia akan mencoba untuk tinggal di sana sampai akhirnya menemukan rumah yang cocok untuknya dan dekat dari tempat kerjanya.
"Silakan masuk anggap saja rumah sendiri!."
Ucap Andri ketika telah sampai di unit apartemennya, sementara Sahira segera memindai apartemen tersebut dengan matanya, apartemen mewah itu memang milik Andri dan jarang ditempati oleh pria itu dikarenakan memiliki rumah pribadi yang jauh lebih mewah dan besar.
"Ini adalah kamarmu, baju-baju aku masih ada dalam lemari itu tapi kamu boleh memindahkannya, Dan aku harap kamu bisa betah tinggal di sini sampai kapanpun yang kamu mau."
Ucapan Andri tersebut hanya diangguki sekilas oleh Sahira yang masih terdiam tak memperdengarkan suaranya seraya memindai kamar yang akan ditempatinya tersebut.
"Kenapa mas Andri melakukan ini? Apa mas tidak takut jika nanti Ayah dan Ibu marah? Atau mungkin pacar mas Andri yang akan marah karena mas Andri menolong seorang wanita seperti itu."
Tanya Sahira dengan pandangan menyelidiki ke arah pria yang berdiri depannya itu, Andri memang belum menikah di usianya yang matang dan sampai saat ini masih menjalin hubungan dengan seorang model terkenal
Karena wanita itu belum mau menikah lantaran masih merintis karir. Walaupun sudah beberapa kali Andri mengajaknya untuk naik ke pelaminan.
"Kamu tidak perlu merisaukan apapun! Mereka adalah urusanku, yang perlu kamu lakukan hanyalah tinggal di sini dengan nyaman."
Sahira menatap lekat wajah Andri yang beraura dewasa dan memikat, wajahnya sangat glowing bak wanita akibat perawatan mumpuni dari pria itu yang kesehariannya harus melayani klien yang berhubungan dengan banyak masalah.
"Aku akan pergi dari sini setelah menemukan tempat yang baik dan cocok untuk ditempati, terima kasih atas bantuan mas."
Ucap Sahira akhirnya dengan suara rendah dan Andri terlihat manggut-manggut.
"Apa kamu butuh seorang pengacara untuk mengurus surat perceraian kamu? Jika kamu butuh maka kamu boleh menghubungi aku."
Pertanyaan Andri tersebut lagi-lagi membuat Sahira menatap tak percaya kepada pria itu.
"Apakah tidak apa-apa kalau mas Andri mengurus perceraian aku? Padahal Indra kan adik mas Andri sendiri."
Tanya Sahira lagi membuat Andri terlihat menggeleng.
"Memangnya kenapa kalau Indra adalah adikku? Aku sama sekali tidak menyetujui perbuatannya padamu, dia telah menghianati pernikahan yang kau perjuangkan dengan susah payah, aku merasa kamu memang pantas menuntut cerai darinya dan mendapatkan kehidupan baru serta masa depan yang lebih baik."
Sahira hanya mampu menghela nafas mendengar penuturan Andri, sejujurnya ia mengagumi pria di depannya itu karena sama sekali tidak berpihak kepada siapapun bahkan kepada adiknya yang notabenya memang salah.
"Ya sudah Sahira beristirahatlah! Malam sudah larut dan aku harus segera pulang tidak baik kalau seorang pria dan wanita berduaan di kamar apalagi malam-malam begini, sering ada setan yang lewat."
Candaan Andri tersebut membuat Sahira mengulas senyum tipis di bibirnya dan segera mengangguk ke arahnya.
"Sekali lagi terima kasih mas! Atas bantuannya."
Andri segera mengangkat dua jempol ke arah Sahira kemudian bergerak keluar dari kamar meninggalkan adik iparnya tersebut.
*
Keesokan harinya Sahira segera berangkat menuju arah tempat kerjanya, sejujurnya dia sangat malas berangkat bekerja, dikarenakan ia akan kembali bertemu dengan Indra dan Amelia, mereka memang satu kantor di sana dengan dia yang duduk di kursi manajer bagian personalia, sementara Amelia hanyalah karyawan biasa yang bekerja menjadi sekretaris Andri yang merupakan manajernya.
"Selamat pagi!."
Terus apa Sahira kepada karyawan yang sudah datang ketika sudah tiba di kantornya, yang berjalan masuk menuju arah ruangannya ikuti tatapan dekat daripada karyawan yang menatap ke arahnya.
"Aku benar-benar tidak menyangka Ibu Sahira masih mampu datang ke kantor setelah apa yang terjadi padanya."
Bisik seorang karyawan kepada rekannya, pasalnya Amelia sudah terang-terangan mengakui hubungannya dengan Indra, bahkan memposting foto pernikahannya di media sosial hingga menjadi viral di kalangan karyawan kantor, dan kini sudah menjadi rahasia umum kalau dia adalah istri kedua Indra, managernya sendiri, dan hal itu menjadi bahan gosip di kantor kini.
"Aku sih kasihan dengan ibu Sahira! Padahal Amelia itu kan sahabatnya sendiri yang tega merebut suaminya, kalau aku jadi ibu Sahira, aku pasti sudah menjambak rambut Amelia itu kemudian aku lempar dari atas gedung ini."
Karyawan lain ikut menimpali perbincangan dua orang itu sehingga kini Mereka pun berkumpul sambil bergosip hingga akhirnya Indra memasuki tempat tersebut bersama dengan Amelia yang bergelayut manja di lengannya.
"Selamat pagi!! Sedang apa kalian ngumpul-ngumpul di sini?."
Tanya indra segera saat melihat karyawan yang berkumpul di sana.
"Tidak apa-apa pak, hanya sedang bertukar pikiran saja."
Seru mereka serempak dan Indra pun segera mengedikkan bahunya, sementara Amelia masih bergelayut manja di lengannya, ia sama sekali tidak mengindahkan tatapan yang menyorot padanya bahkan ia terkesan sombong dan angkuh berjalan mengikuti Indra.
"Aku tahu apa yang sedang kalian gosipkan! Tapi yang harus kalian tahu kalau kami sudah menikah, dan itu adalah satu kewajaran! Toh Sahira juga tidak keberatan!."
Seruan Amelia itu membuat para karyawan melototkan mata seraya kembali saling berbisik satu sama lain, namun wanita itu terkesan tak peduli bahkan kembali melangkah dengan anggun mengikuti Indra.
...