Bab 1

Hati wanita mana yang tak senang dijodohkan dengan seorang pria kaya raya. Pria yang selalu menjadi impian setiap wanita, karena selain tampan dan sukses. Pria ini terlihat pendiam dan tidak terdengar jika dirinya suka sekali main perempuan.

Talitha sangat antusias pada saat dirinya akan dijodohkan dengan Dikta yakni bosnya dimana dirinya bekerja menjadi seorang sekretaris pribadi.

"Alhamdulillah ya Allah, padahal selama ini aku cuma bisa berkhayal tentang Pak Dikta, eh Engkau telah mengabulkan hayalanku dengan aku akan menikah dengan Pak Dikta. Aku tidak menyangka jika ternyata orang tuaku mengenal orang tua Pak Dikta, "Batin Talitha begitu bahagia.

Kedua keluarga sepakat untuk tidak menunda pernikahan. Karena menurut mereka lebih cepat lebih baik. Hingga beberapa minggu kemudian, pernikahan pun terjadi.

Pernikahan begitu mewah karena kedua keluarga mengundang banyak orang dari para rekan kerja bahkan sampai sahabat, tetangga, dan semua orang yang dikenal.

Acara pernikahan juga secara langsung disiarkan di sebuah acara televisi.

Talitha sangat bahagia, dirinya seperti menjadi seorang ratu sejagad walaupun hanya dalam waktu satu hari saja.

"Talitha, terima kasih ya kamu sudah mau menikah denganku," ucapnya lembut pada saat malam pengantin.

"Justru aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih karena Pak Dikta bersedia menikah denganku, "Ucap Talitha malu-malu kucing.

"Hey, aku ini sudah menjadi suamimu loh. Bukan lagi atasanmu jadi janganlah memanggilku pak. Romantis dikit dong, panggil sayang atau beb atau apalah, "Canda Dikta.

Talitha sama sekali tidak menyangka jika seorang Dikta yang ia kenal dengan sifat dingin dan pendiam, ternyata bisa bercanda dan juga bisa cerewet di hadapan Talitha.

"Alhamdulillah ya Allah, aku sangat bersyukur bisa menikah dengan Pak Dikta. Semoga pernikahan kami langgeng selamanya dan hanya maut yang bisa memisahkan kami. Dan semoga kami juga bisa saling setia satu sama lain, "Batin Talitha tidak berhenti mengucapkan rasa syukur.

Mereka bagaikan pasangan suami istri yang tidak pernah memiliki sebuah masalah. Karena memang mereka selalu terlihat romantis. Apa lagi perhatian Dikta pada Talitha yang sangat besar.

Kedua keluarga juga turut bahagia karena merasa perjodohan yang mereka lakukan tidak sia-sia. Baik Talitha maupun Dikta, sama-sama terlihat saling mengasihi satu sama lain.

Bahkan kebersamaan mereka selalu berhasil membuat iri kaum hawa. Terutama para karyawati yang bekerja di kantor Dikta.

"Wah, kita benar-benar dibuat patah hati dengan menikahnya Pak Dikta, "Ucap karyawati A.

"Ya benar sekali, betapa beruntungnya Talitha bisa memiliki seorang suami yang sempurna. Sudah tampan, kaya raya, baik juga, tidak pernah terdengar isu jalan dengan wanita manapun. Tidak seperti lelaki kaya pada umumnya, "Ucap karyawati B.

Tetapi hal itu tidak menggoyahkan pernikahan keduanya. Bahkan mereka selalu romantis dimanapun berada.

Hingga suatu hari, datanglah seorang wanita yang mengaku sahabat baik Dikta. Ia baru saja kembali dari negara London karena urusan pekerjaannya.

Ninda, seorang wanita cantik bertubuh langsing bak gitar spanyol dan berkulit putih mulus. Pihak keluarga Dikta juga sudah paham dan kenal baik dengan Ninda.

"Ninda, bagaimana kabarmu? sayang sekali kamu nggak bisa datang pada acara pernikahan Dikta."

Salma memeluk Ninda dengan eratnya.

"Maaf Tante, karena kebetulan sedang banyak pemotretan jadi aku nggak bisa balik ke Indonesia. Tetapi acara lancar kan Tante?" Ninda melirik kearah Talitha dengan wajah tidak suka.

Bab 2

Didalam hatinya mengejek penampilan Talitha," jadi ini, wanita yang dipilih oleh Dikta untuk menjadi istrinya? padahal sudah aku katakan tunggu satu tahun lagi, masa kontrakku habis pasti aku bersedia menikah dengannya."

Salma meminta Talitha mendekat," Nak, ini Ninda. Dia sahabat baik Dikta, yang selalu ada disampingnya. Hanya saja dua tahun terakhir ia sibuk di London untuk pemotretan. Dia ini model kelas atas."

Talitha mengulurkan tangannya seraya tersenyum. "Talitha, istri Mas Dikta."

"Ninda. "Dengan sangat malas Ninda menerima jabatan tangan dari Talitha.

Terus saja didalam hati Ninda penuh rasa cemburu, iri, dan dengki. "Lihat saja, aku akan menyingkirkan dirimu secepatnya karena Dikta hanya milikku saja. Tidak ada wanita manapun yang boleh memilikinya!" Batinnya terus saja bergumam.

Tak berselang lama, pulanglah Dikta dan Johan secara bersamaan.

"Wah Ninda udah pulang, mana mamah dan papah?" sapa Johan menyalami Ninda.

Ninda dengan antusias menerima jabatan tangan Johan. "Kebetulan papah dan mamah saat ini sedang sibuk om. Mereka sibuk mengurus usahanya di negara Amsterdam bersama dengan Riko."

Ninda beralih menatap kearah Dikta dan ia langsung saja berhambur ke pelukan Dikta sambil berbisik, "Jahat kamu ya, padahal aku sudah bilang padamu supaya menunggu satu tahun lagi. Setelah itu kita akan jujur pada kedua orang tua kita jika selama ini kita berpacaran. Tetapi malah seperti ini, kamu menikah. Apa kamu sudah melupakan semua janjimu padaku, saat kamu merenggut kesucianku malam itu? bahkan kita juga sering melakukannya setelah kejadian malam itu dengan kamu berjanji akan menikahiku."

Dikta membalas bisikan Ninda, "Nanti kita bicarakan di tempat biasa kita bertemu. Aku akan atur waktunya supaya kita bisa bertemu, tolong jangan marah dulu."

"Hey-hey-hey, udah donk kangen-kangen nya. Nanti ada yang cemburu loh." Canda Salma terkekeh seraya melirik kearah Talitha.

Memang didalam hati Talitha juga merasa ada yang janggal dengan persahabatan antara Dikta dan Ninda. Hanya saja ia mencoba untuk tidak berburuk sangka. Ia menepis rasa curiganya tersebut.

"Ya Allah, semoga saja apa yang aku pikirkan tidaklah benar adanya. Semoga ini hanya pikiranku saja. Semoga Ninda itu memang benar hanya sekedar sahabat Mas Dikta saja." Gumam Talitha didalam hatinya.

Selagi dirinya terus saja bengong, Dikta menghampirinya, "Sayang, suami pulang kok malah bengong sih? nggak seperti biasanya disambut dengan senyuman manis."

Sontak saja lamunan Talitha buyar oleh teguran Dikta. "Maafkan aku mas, hehehe.."

Talitha menyambut suaminya dan membawanya melangkah masuk ke arah kamar. Dikta sempat melirik kearah Ninda yang terlihat sangat cemburu melihat kekasihnya dengan wanita lain. Pikirannya kembali terselubung dengan umpatan, tangannya tanpa sadar mengepalkan tinjunya.

"Ninda, kapan giliranmu menikah?" tegur Salma menepuk bahunya hingga membuat dirinya tersentak kaget dibuatnya.

"Aku belum kepikiran untuk menikah, Tante. Karena belum ada seorang lelaki yang sesuai dengan kriteriaku, Tante." Jawab Ninda menutupi rasa kegugupannya.

Salma merasa heran karena gadis secantik Ninda hingga sampai detik ini belum juga menikah.

"Memangnya lelaki seperti apa yang kamu inginkan, Ninda?"

Belum juga pertanyaan Salma di jawab oleh Ninda, datanglah Johan. "Heh Mamah kepo banget sih. Masa iya Ninda cuma diajak ngobrol saja, nggak diajak makan." Candanya terkekeh.

Salma melirik sinis ke arah Johan yang terus bercanda, ia tidak mengatakan apapun lagi.

Bab 3

Pada saat Salma menghampiri Johan, didalam hati Ninda berkata, "Lelaki yang aku cintai itu seperti Dikta, bahkan Dikta yang selama ini aku cinta, Tante."

Ninda turut serta makan malam di rumah Dikta. Dan pada saat makan malam, salah satu kaki Ninda dengan tidak sopan mengusap-usap kaki Dikta. Sontak saja ada yang berdesir di hati Dikta. Gelora cintanya pada Ninda yang sampai saat ini masih saja ia rasakan. Kehadiran Talitha hanya sebagai pengusir rasa sepi dan hampa saja. Apa lagi ia lelaki normal dimana dirinya sudah sering melakukan hubungan suami istri dengan Ninda. Hingga saat Ninda jauh, ia kerap kali tersiksa pada saat dirinya sedang ingin bercinta.

PYANG!

Dikta tak sengaja menjatuhkan gelas, dan pada saat Talitha iseng jongkok ingin memunguti pecahan gelas tersebut, ia tidak sengaja melihat kaki Ninda sedang mengusap-usap kaki Dikta. Tetapi ia tersentak kaget pada saat jarinya tertusuk pecahan beling," aaahhh.."

Ia pun mengalihkan pandangan ke jarinya sendiri, setelah itu ia penasaran dan beralih pandangnya lagi ke arah kolong meja," astagfirullahaladzim, ternyata aku hanya salah lihat saja. Tapi tadi baju seperti melihat kaki Ninda kok gitu ya? ah mungkin mataku saja yang sedang salah melihat."

Ocehnya didalam hati.

"Sayang, biarkan saja. Aduhhh... kamu terluka kan, ayok aku obati. Lain kali biarkan saja toh ini tugas bibi, tugasmu cuma melayaniku saja."

Dikta menghampiri istrinya dan ia sudah terlebih dulu mengambil kotak berisikan obat-obatan.

Dengan sangat perlahan, Dikta mengobati jari telunjuk Talitha. Talitha terus saja menatap kearah Dikta," sepertinya tidak mungkin jika Mas Dikta ada hati dengan Ninda. Aku yakin sekali, apalagi selama kami menikah, dia sangat perhatian padaku. Jika ia selingkuh dengan Ninda, mana mungkin ia seperti ini romantis di depan Ninda."

Terus saja Talitha bergumam didalam hatinya.

Berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Ninda. Ia sangat marah dan cemburu tetapi ia berusaha menahan rasa tersebut. Hanya saja ia tidak ingin melihat kemesraan Talitha dan Dikta terlalu lama. Ia pun berpamitan pulang," Tante-Om, sepertinya aku harus segera pulang karena kepalaku mendadak rasa pusing. Lain waktu aku pasti akan datang lagi kemari."

Ninda sengaja tidak menyelesaikan makanannya, karena ia sudah tidak berselera gara-gara melihat kemesraan Dikta dan Talitha.

"Loh, kok buru-buru? tapi sebaiknya habiskan dulu makananmu, Ninda," pinta Salma.

Tetapi Ninda menolak dengan senyuman," maaf Tante, perutku sedang tidak bersahabat. Sekali lagi aku minta maaf ya Tante-Om."

"Hem ya sudah, kalau begitu biar Dikta yang mengantarmu pulang. Nanti gampang, Dikta biar pulang kemari dengan taxi on line. Lagi pula sedang hujan kan? atau sebaiknya kamu tidur di sini saja, Ninda?" saran Johan.

Tetapi Ninda tetap tidak bersedia," nggak lah Om, lagi pula hujan kecil kok. Biarkan aku pulang sendiri saja nggak apa-apa."

"Eehhhh jangan Ninda! kamu sedang pusing, nanti kalau terjadi hal buruk padamu, pasti kami yang disalahkan oleh orang tuamu. Biarkan Dikta teng mengantarmu, nggak apa-apa ya Talitha. Toh cuma sebentar saja." Ucap Salma seraya menatap sendu ke arah Talitha.

Sontak saja Talitha tidak bisa menolak keinginan kedua mertuanya, ia pun menganggukkan kepalanya, "Iya mah nggak apa-apa." Jawab Talitha dengan senyum keterpaksaan.

Dalam hati tidak setuju dengan saran ibu mertuanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED