Bab 1

Suara roda koper yang beradu dengan lantai marmer bandara itu rasanya seperti musik paling sumbang malam itu. Dara berjalan cepat, sepatunya yang mengilap memantul di lantai, dan dia berusaha keras agar langkahnya tidak berubah jadi lari histeris. Rambutnya yang disanggul rapi-ciri khas seorang pramugari-sedikit longgar, seolah ikut merasakan betapa hancurnya kepala Dara sekarang.

Dia baru saja menyelesaikan penerbangan jarak jauh, penerbangan yang seharusnya membuatnya lelah dan ingin segera tidur, tapi semua rasa lelah itu hilang. Yang ada cuma rasa panas, seperti ada api yang membakar habis isi dadanya.

Enam bulan. Baru enam bulan Dara bergabung dengan Skyward Airlines. Enam bulan dia merasa hidupnya sempurna. Seragam baru, pekerjaan impian, dan yang paling penting, Arga. Kapten Arga Wira Bhakti, pilot tertampan di maskapai itu, pacarnya.

Arga janji malam ini dia akan menjemput Dara di apartemennya setelah Dara selesai tugas. Tapi, janji itu cuma jadi debu.

Pukul 23.45. Dara sudah sampai di lobi apartemen Arga, bukan apartemennya sendiri. Tangan Dara gemetar saat menekan bel intercom. Tidak ada jawaban. Sejak tadi siang, pesan-pesan Dara di WhatsApp hanya centang biru tanpa balasan. Sibuk di kokpit, pikir Dara. Ia selalu mencoba jadi pacar yang pengertian.

Tapi malam ini, dia tidak bisa lagi jadi 'pengertian.'

Dara mengeluarkan kartu akses yang diberikan Arga dulu-kartu yang Arga bilang "simpan saja, Sayang, anggap saja ini rumahmu juga." Hatinya mencelos. Seharusnya dia senang melihat kartu itu masih berfungsi. Seharusnya.

Pintu apartemen itu terbuka dengan bunyi klik yang pelan. Dara melangkah masuk. Gelap. Hanya ada sedikit cahaya remang-remang dari lampu nakas di ruang tamu. Udara di dalam apartemen terasa pengap dan berbau parfum yang asing. Bukan parfum Arga yang maskulin. Ini bau manis, bau murahan.

"Arga?" panggil Dara pelan. Suaranya serak. Dia tidak tahu apakah dia berharap Arga menjawab atau tidak.

Tidak ada jawaban. Dara meletakkan koper kecilnya di dekat pintu, melepas high heels hitamnya. Kakinya yang pegal sekarang tidak terasa apa-apa. Ia berjalan pelan ke arah kamar tidur utama.

Jantung Dara mulai berdebar kencang, menabuh genderang kematian. Firasat buruk ini sudah muncul sejak dia melihat unggahan story Instagram dari salah satu pramugari senior, yang menunjukkan Arga sedang dinner di sebuah restoran mewah, padahal Arga bilang dia standby di rumah.

Dara berdiri di depan pintu kamar tidur yang sedikit terbuka. Di sana, dari celah tipis itu, Dara bisa melihatnya.

Arga. Kekasihnya, yang baru dua hari lalu menciumnya seolah tidak ada hari esok, sedang tertawa. Tawa yang Dara kenal betul. Tawa yang dulu ditujukan hanya untuknya.

Dara menempelkan tangannya ke pintu. Dingin. Dan dari celah itu, ia melihat sosok lain.

Seorang wanita. Bukan pramugari senior yang kemarin dinner sama Arga, tapi wanita lain. Rambutnya pirang, gaun tidurnya sutra merah yang sangat minim. Wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu Arga, dan Arga? Arga mengusap rambut wanita itu dengan penuh kasih sayang.

"Jadi, kamu serius mau putusin dia, Bro?" tanya wanita itu, suaranya manja, terdengar jelas oleh Dara.

Arga tersenyum miring. "Dia cuma cewek innocent yang terlalu clingy, Sasha. Aku bosan. Lagipula, dia cuma pramugari baru. Enggak selevel sama Kapten sepertiku."

Tidak selevel.

Dua kata itu menghantam Dara lebih keras dari tamparan. Bukan kata-kata 'selingkuh' atau 'putus', tapi 'tidak selevel.'

Dara mundur perlahan, seolah ada dinding tak terlihat yang mendorongnya. Matanya memanas, tapi anehnya, air matanya tidak mau keluar. Dia merasa kosong, mati rasa. Ia menunduk, melihat seragamnya. Seragam yang ia banggakan. Seragam yang Arga bilang membuatnya terlihat 'elegan.' Sekarang, seragam itu terasa seperti kain hinaan.

Dara mengambil napas panjang, sangat panjang, dan memutuskan. Dia tidak akan membuat keributan. Bukan sekarang. Dia tidak akan memberinya kepuasan melihatnya hancur.

Dia berbalik. Mengambil koper dan sepatunya, dan keluar dari apartemen itu secepat mungkin, menutup pintu tanpa suara.

Di dalam lift, Dara akhirnya menangis. Bukan air mata sedih, tapi air mata marah. Marah pada dirinya sendiri karena sebodoh itu percaya. Marah pada Arga karena berani-beraninya dia menginjak-injak harga dirinya.

"Aku akan buat kamu menyesal, Arga," bisik Dara, menggenggam erat kartu akses Arga di tangannya, yang sekarang terasa seperti senjata. "Aku akan tunjukkan padamu bahwa aku, si pramugari baru yang innocent ini, bisa melakukan hal yang lebih kotor dari kamu."

Satu jam kemudian, Dara ada di sebuah bar mewah yang sama sekali tidak sesuai dengan gajinya. Bar di puncak gedung pencakar langit Jakarta, tempat para eksekutif dan orang-orang kaya membuang uang. Dara, masih dengan riasan mata sisa penerbangan dan gaun kasualnya yang kusut, terlihat mencolok.

Ia duduk di sudut, memesan cocktail termahal, meminumnya cepat-cepat. Tujuannya cuma satu: mabuk. Hilang kendali. Melakukan sesuatu yang gila.

Dia ingin melakukan sesuatu yang akan membuat Arga-dan harga dirinya-sama-sama tercemar. Balas dendamnya bukan soal membalas dengan selingkuh, tapi soal menghancurkan kemurnian yang Arga cibir. Arga bilang dia innocent? Baik, dia akan membuktikan Arga salah.

Dara melirik sekeliling. Matanya menangkap sosok pria.

Dia duduk sendiri di meja bar, menikmati scotch dengan tenang. Jasnya mahal, potongannya sempurna. Jam tangannya berkilauan di bawah lampu. Matanya tajam, melihat ke arah keramaian, tapi seolah tidak melihat apa-apa. Pria itu memancarkan aura berbahaya, aura kesepian, aura pria yang dibayar untuk menemani.

"Sempurna," desis Dara. Pria itu tampak seperti gigolo kelas atas, yang hanya mau melayani wanita-wanita sosialita yang sudah mapan. Dara, dengan penampilannya yang masih terlihat seperti mahasiswi kaya yang kabur dari rumah, seharusnya tidak akan bisa menarik perhatiannya. Tapi, justru tantangan itu yang Dara cari.

Dara berdiri. Kepalanya sedikit pusing karena alkohol, tapi kakinya mantap. Dia berjalan lurus ke arah pria itu.

Pria itu menoleh saat Dara berdiri tepat di sampingnya. Matanya yang gelap meneliti Dara dari ujung kepala sampai ujung kaki, tanpa emosi, tanpa penilaian. Hanya rasa ingin tahu yang dingin.

"Maaf mengganggu," kata Dara, suaranya sedikit bergetar. Dia berusaha mati-matian agar terdengar seperti wanita dewasa yang sedang dalam misi. "Aku butuh teman malam ini."

Pria itu tidak menjawab. Dia hanya mengangkat satu alisnya. Di dekatnya, Dara bisa mencium bau cologne mahal, bau kayu yang lembut. Bau yang mematikan.

"Maksudku," lanjut Dara, menelan ludah, "aku tahu kamu... kamu bekerja di sini. Aku tidak peduli berapa. Aku bayar dua kali lipat dari harga biasanya. Aku hanya... tidak mau sendirian malam ini."

Pria itu akhirnya meletakkan gelasnya. Gerakannya lambat, elegan. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Dara, dan Dara merasakan lututnya lemas.

"Kamu yakin?" Suaranya dalam, berat, dan sedikit serak. "Aku tidak bekerja untuk bar ini, Nona."

Dara tertawa sumbang. Tawa yang dibuat-buat. "Ayolah. Aku tidak bodoh. Kamu memancarkan aura pria yang tahu cara menyenangkan wanita. Aku tidak butuh drama, aku hanya butuh... pelarian. Malam ini saja."

Dara membuka tas kecilnya, mengeluarkan dompet, dan tanpa ragu, ia meletakkan tiga lembar uang seratus ribuan di atas meja, di samping gelas pria itu. Sebagian besar dari uang gajinya bulan ini.

"Ini untuk awal," kata Dara, menatap lurus ke mata pria itu. "Aku ingin kamu ikut aku. Sekarang."

Pria itu memandangi uang itu sejenak, lalu beralih menatap mata Dara, yang sekarang sudah berkaca-kaca karena campuran alkohol dan emosi.

Dia tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya, hanya berupa lengkungan di sudut bibirnya. Senyum yang membuat Dara merasa seolah dia adalah mangsa yang baru saja terperangkap.

"Menarik," katanya pelan. Dia mendorong uang itu sedikit ke samping, kembali menatap Dara. "Aku tidak menerima bayaran. Tapi, aku penasaran. Kenapa kamu begitu ingin menghancurkan diri sendiri malam ini?"

Dara terkejut. Pria ini tidak menerima uangnya? Jadi, dia bukan gigolo? Dara merasa bodoh, dan sekaligus lega. Namun, keputusannya sudah bulat. Dia tidak akan mundur.

"Itu urusanku," jawab Dara keras kepala. "Kamu mau ikut atau tidak?"

Pria itu menghela napas, seolah Dara adalah masalah kecil yang harus dia bereskan sebelum tidur.

"Baiklah. Mari kita lihat sejauh mana kehancuran yang kamu cari, Nona."

Pria itu berdiri. Tingginya menjulang di atas Dara. Dia meraih tangan Dara, bukan untuk menggandeng, tapi untuk menarik Dara agar segera berjalan. Sentuhannya dingin, tapi ada sengatan listrik yang membuat Dara refleks menarik napas.

"Panggil aku Arjuna," katanya, tanpa menunggu Dara membalas.

Dara tidak sempat berpikir banyak. Dia hanya tahu satu hal: ia baru saja membeli satu malam yang penuh dosa, dan ia sudah tidak peduli lagi siapa pria yang ia beli itu. Yang penting, keesokan harinya, Dara yang innocent itu akan hilang, dan Arga akan tahu bahwa dia tidak pernah punya hak untuk meremehkannya.

Saat mereka berjalan keluar dari bar mewah itu, melewati kerumunan orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka sendiri, Dara hanya bisa memikirkan Arga.

Lihat, Kapten Arga. Kamu bilang aku membosankan. Aku akan tunjukkan betapa berbahayanya aku saat bosan.

Dendam itu adalah alkohol yang paling memabukkan malam ini. Dan Arjuna, pria asing dengan tatapan gelap itu, adalah alat yang sempurna untuk memuaskan haus dendamnya. Dara tahu dia sedang melakukan kesalahan fatal, tapi entah kenapa, rasa salah itu terasa jauh lebih manis daripada kesedihan yang ia rasakan beberapa jam yang lalu.

Dia menyerahkan dirinya sepenuhnya pada malam yang akan mengubah segalanya. Malam yang dia yakin akan membuatnya dipecat atau paling tidak, membuat seluruh maskapai heboh. Tapi, saat ini, dia hanya ingin lari dari kenyataan pahit bahwa cinta yang ia jaga selama ini, hancur hanya karena dia dianggap 'tidak selevel'.

Dia dan Arjuna masuk ke dalam mobil mewah hitam yang sudah menunggu. Dara tidak bertanya ke mana mereka akan pergi. Dia hanya bersandar di kursi, memejamkan mata, dan membiarkan suara mesin mobil membawanya pergi, jauh dari dirinya yang lama.

Bab 2

Perjalanan di dalam mobil mewah itu sunyi, mencekam, dan sedikit memabukkan. Dara duduk di samping Arjuna, menatap jalanan Jakarta yang basah oleh hujan sore tadi, yang kini hanya menyisakan kilauan lampu kota. Tapi pandangannya kabur, bukan karena jalanan, tapi karena alkohol yang mulai mendominasi pikiran.

Arjuna tidak berbicara. Dia hanya duduk tegak, membiarkan supirnya mengemudi. Sikapnya yang tenang dan jauh itu justru membuat Dara semakin gelisah. Biasanya, pria yang Dara ajak kencan selalu heboh, mencoba merayunya. Tapi Arjuna? Dia dingin, seolah Dara ini hanyalah barang yang ia terima dari meja bar.

Dara menoleh ke samping. "Kenapa kamu diam saja?" tanyanya, suaranya terdengar lebih berani dari yang ia rasakan.

Arjuna menoleh pelan, pandangan matanya yang tajam itu seperti laser yang menembus Dara. "Aku sedang berpikir," jawabnya singkat.

"Tentang apa? Tentang berapa fee yang harus aku bayar, meskipun kamu bilang tidak dibayar?" Dara mendengus.

"Aku berpikir, kenapa seorang wanita yang jelas-jelas baru saja menangis, datang ke bar dan berusaha mati-matian terlihat desperate?" Arjuna balik bertanya, suaranya tenang tapi menusuk. "Matamu bengkak, Nona. Mascara-mu sedikit luntur. Kamu tidak terlihat seperti wanita yang mencari kesenangan. Kamu terlihat seperti wanita yang mencari hukuman."

Kata-kata itu menghantam Dara tepat di ulu hati. Arjuna ini terlalu jeli. Ia bukan pria murahan. Dia seperti psikiater yang dibungkus jas mahal.

"Aku bilang itu bukan urusanmu," balas Dara, sedikit membentak. Dia menarik napas. "Kamu sudah setuju. Sekarang tutup mulutmu. Kamu tidak perlu jadi penasehat spiritualku. Kamu cuma perlu..." Dara tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia terlalu malu untuk menyebutkan tujuan aslinya.

"Aku cuma perlu apa?" Arjuna mendesak, nadanya datar. "Mengambil 'kesucian' yang kamu agung-agungkan itu, agar mantan kekasihmu tahu bahwa kamu sudah kotor? Begitu?"

Dara terdiam, membeku. Bagaimana bisa pria ini tahu? Apa dia cenayang?

"Jangan berasumsi!" Dara menaikkan volume suaranya. "Aku tidak pernah bilang soal mantan atau kesucian atau apa pun itu! Aku hanya butuh pelarian."

Arjuna tersenyum lagi. Senyum mengejek yang membuat Dara ingin menamparnya.

"Semua orang yang datang ke tempat seperti itu selalu bilang 'pelarian'. Tapi matamu, Nona, matamu bilang 'pembalasan'. Kamu ingin menyakiti orang lain, tapi yang kamu lakukan justru menyakiti dirimu sendiri. Kamu yakin mau melanjutkan ini?"

Konflik batin Dara memuncak. Seluruh tubuhnya berteriak: PULANG! INI SALAH! Tapi ada suara lain, suara Arga yang mengejeknya, yang bilang dia 'tidak selevel', yang bilang dia 'terlalu innocent'. Suara itu lebih keras.

"Aku yakin," kata Dara, suaranya pelan dan tegas. "Jangan banyak tanya. Aku tidak butuh ceramahmu. Aku hanya butuh kamu menutup mata dan melakukan apa yang harus kamu lakukan."

Arjuna tidak menjawab lagi. Dia hanya menatap Dara lama, tatapan yang membuat Dara merasa telanjang tanpa harus melepas pakaiannya. Tatapan itu seolah-olah sedang menghitung harga dari jiwanya.

"Baiklah," kata Arjuna akhirnya, menyandarkan kepalanya ke belakang. "Aku hanya memastikan. Karena setelah ini, tidak ada kata kembali."

Mobil itu berhenti di depan sebuah penthouse mewah yang menjulang tinggi, dengan kaca-kaca gelap yang memancarkan kemegahan yang menakutkan. Ini jelas bukan kamar hotel sewaan yang biasa dipakai gigolo. Ini adalah tempat tinggal pribadi.

Supir membukakan pintu untuk mereka. Dara melangkah keluar. Udara malam yang dingin terasa menusuk kulitnya. Arjuna menyusul, postur tubuhnya yang tinggi membuat Dara merasa kecil.

Mereka naik lift pribadi. Dara mencoba membaca ekspresi Arjuna, tapi pria itu seperti patung. Ekspresinya netral, tidak antusias, tidak pula menyesal.

Saat pintu lift terbuka, Dara disambut pemandangan kota Jakarta yang berkilauan. Apartemen itu sangat luas, didominasi warna monokrom, dan sangat sepi. Tidak ada foto, tidak ada barang pribadi yang mencolok. Tempat ini terlihat seperti showcase majalah, bukan rumah.

Arjuna berjalan lurus ke arah jendela kaca besar, menghadap pemandangan. Dara mengikutinya.

"Minum?" tawar Arjuna, menunjuk ke arah bar mini.

Dara menggeleng. Alkohol di tubuhnya sudah cukup. Dia butuh kesadaran, sekarang. Kesadaran untuk melalui kesalahan ini.

"Aku capek main tebak-tebakan," kata Dara, memberanikan diri. Dia melangkah maju, berdiri di belakang Arjuna. "Kamu bukan gigolo. Kamu jelas orang kaya. Jadi kenapa kamu setuju untuk ikut denganku?"

Arjuna berbalik, menyilangkan tangan di dada. "Aku setuju karena kamu datang dengan api di matamu. Aku tertarik melihat sampai mana kamu bisa membakar diri sendiri."

"Jadi kamu cuma ingin melihat dramaku?" Dara kesal. Ini lebih buruk daripada dibayar. Ini berarti dia adalah tontonan.

"Semua orang punya drama, Nona," Arjuna mengoreksi. "Tapi kamu, kamu membawa dendam. Dan dendam yang tidak pada tempatnya itu, berbahaya."

Dara terdiam. Arjuna bicara seolah dia adalah hakim, bukan partisipan.

"Aku tidak peduli," kata Dara, mendekat. Dia harus melakukan ini, sekarang, sebelum dia berubah pikiran. Dia harus menghancurkan ide Arga tentang dirinya. "Aku mau ini selesai. Malam ini juga. Sekarang."

Dara meraih kerah kemeja Arjuna, menariknya agar wajah mereka berdekatan. Hidung mereka hampir bersentuhan. Bau cologne yang memabukkan itu kini terasa sangat dekat.

"Kalau kamu tidak dibayar, anggap saja aku yang memaksamu," bisik Dara, matanya menantang, penuh air mata yang tertahan. "Anggap saja aku gila. Tapi jangan sentuh aku dengan kelembutan. Aku tidak mau itu. Aku mau ini kotor. Aku mau ini one night stand paling berantakan yang pernah kamu alami."

Dara tahu dia sedang melempar dirinya ke jurang, tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin terbang.

Arjuna menatapnya lurus. Ada pergolakan di matanya. Sedetik, Dara melihat rasa kasihan. Sedetik kemudian, rasa kasihan itu hilang, digantikan oleh sesuatu yang gelap dan lapar.

Arjuna tidak menjawab dengan kata-kata. Dia membalas tarikan Dara. Tangannya yang besar memegang pinggang Dara, mencengkeramnya sedikit keras. Punggung Dara terbentur dinding kaca yang dingin.

Ciuman itu datang dengan tiba-tiba. Bukan ciuman lembut, tapi ciuman yang mendominasi, menuntut. Semua kesunyian di antara mereka meledak dalam satu detik panas yang tak terhindarkan.

Dara memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam. Dia tidak memikirkan Arjuna. Dia memikirkan Arga. Dia memikirkan rasa sakit yang ingin dia hilangkan. Dia mencium Arjuna, tapi yang dia cium adalah rasa sakitnya sendiri.

Pakaian Dara mulai dilucuti, satu per satu. Seragam pramugari yang ia banggakan tadi siang, kini hanya kain hinaan yang harus ia buang. Ia merasakan sentuhan dingin, dan kemudian sentuhan panas yang membakar.

Di tengah gairah yang mulai membakar penthouse itu, pikiran Dara tiba-tiba kembali jernih. Dia membuka matanya, dan melihat wajah Arjuna yang kini terlihat sangat dekat, penuh fokus.

Dia bukan pria yang melakukan ini setiap hari. Dia bukan gigolo. Dia adalah... seseorang yang terlatih. Terlatih dalam banyak hal.

Dara memejamkan mata lagi, membiarkan dirinya benar-benar hanyut dalam malam yang sudah ia pilih ini. Tidak ada lagi pikiran tentang Arga. Tidak ada lagi dendam. Hanya ada rasa sakit yang kini berubah menjadi pelepasan emosi yang liar.

Malam itu berlangsung panjang. Jendela penthouse itu menjadi saksi bisu dari keputusan nekat seorang pramugari yang patah hati. Dara memeluk Arjuna, tapi yang dia peluk adalah kehancurannya.

Saat akhirnya semua mereda, dan keheningan kembali memenuhi ruangan, Dara merasa tubuhnya kelelahan, tapi jiwanya terasa kosong dan dingin. Ia berbaring di samping Arjuna, yang membiarkan tangannya melingkari Dara dengan posesif.

Dara membalikkan tubuhnya, menatap punggung Arjuna. Punggung itu lebar, kokoh, dan penuh misteri. Siapa pria ini? Dia tidak pernah meminta namanya lagi. Dia hanya memanggilnya 'Arjuna'.

Tiba-tiba, Dara melihat sesuatu yang mengilap di atas meja nakas, tepat di bawah lampu tidur yang meredup.

Itu bukan jam tangan. Itu adalah ponsel Arjuna, dan di samping ponsel itu, ada dompet kulit berwarna hitam. Dan dari dompet itu, ada sedikit bagian yang menyembul keluar.

Kartu Identitas.

Rasa penasaran Dara lebih besar dari rasa malu dan penyesalan yang mulai merayapi hatinya. Pelan-pelan, Dara melepaskan pelukan Arjuna, berhati-hati agar pria itu tidak terbangun. Dia meraih dompet itu.

Tangannya gemetar saat ia menarik keluar kartu identitas tersebut.

Di bawah cahaya remang-remang, Dara melihat fotonya. Wajah yang sama, tatapan yang sama, tapi kini terlihat lebih formal.

Dara membaca namanya. ARJUNA DHARMA KUSUMA.

Lalu, Dara membaca pekerjaannya. CAPTAIN PILOT.

Pilot. Sama seperti Arga.

Lalu, Dara melihat nama maskapainya.

SKYWARD AIRLINES.

Dara tercekat. Nafasnya tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak. Kartu identitas itu terlepas dari tangannya, jatuh di atas karpet tebal tanpa suara.

Pilot. Pilot senior. Kapten di maskapai yang sama dengannya.

Kepalanya berputar. Bukan gigolo. Bukan pria bayaran. Dia adalah salah satu pria paling dihormati di maskapai itu.

Dara teringat desas-desus di kantin kru, gosip para senior, bahwa Kapten Arjuna adalah anak tunggal dari salah satu pendiri Skyward Airlines, dan dia adalah calon pewaris tunggal maskapai tersebut.

Kepala Dara terasa seperti ditusuk-tusuk jarum es. Dia tidak hanya menghabiskan malam dengan seorang Kapten Pilot. Dia menghabiskan malam panasnya dengan bos besarnya.

"Oh, Tuhan," bisik Dara, menutupi mulutnya dengan tangan. Air mata yang seharusnya keluar karena Arga, kini keluar karena ketakutan.

Bukan dendam. Ini bukan pembalasan. Ini bunuh diri karier. Dia baru enam bulan. Dia telah melakukan kesalahan yang tidak termaafkan dengan pewaris maskapai.

Dara menoleh ke samping, menatap Arjuna yang tidur pulas, tidak menyadari bahwa identitasnya telah terungkap. Pria yang tadi malam berlagak seperti gigolo, yang mengejek innocence-nya, sekarang adalah pria yang memegang kunci masa depan Dara.

Semua rasa penyesalan, semua rasa malu, dan semua ketakutan kini bercampur jadi satu. Dara harus pergi. Sekarang. Sebelum Arjuna bangun, sebelum dia harus menghadapi kenyataan yang sangat pahit ini.

Dara bangkit dengan gemetar, mengumpulkan sisa-sisa pakaiannya yang berserakan. Dia tahu, mulai hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dan pengkhianatan Arga, kini terasa sangat kecil dibandingkan dengan bencana yang baru saja ia ciptakan.

Bab 3

Dara bergerak secepat mungkin, tangannya gemetar hebat saat mencoba memasukkan lengan ke dalam blus seragamnya yang kusut. Paranoia melilitnya, membuatnya merasa seolah suara napasnya saja bisa membangunkan Arjuna.

Di kamarnya yang luas, dengan jendela kaca raksasa yang sudah diterangi cahaya pagi Jakarta, Dara terlihat seperti pencuri yang ketahuan. Pikirannya berputar liar. Bukan cuma sekadar pilot. Bukan cuma Kapten. Tapi Pewaris Skyward Airlines. Pria yang bisa membuat Dara dipecat hanya dengan satu desahan.

Dia harus pergi. Sekarang.

Dara merangkak di lantai, mengumpulkan bra, celana dalam, rok seragam yang terlipat di balik sofa. Rok seragamnya! Astaga, ini adalah seragam kerja. Dia tidak boleh meninggalkan jejak apa pun.

Saat Dara memungut dasi lehernya yang terjatuh di samping tempat tidur, matanya bertemu dengan sosok Arjuna yang masih tidur pulas.

Arjuna berbaring telentang, dadanya yang bidang naik turun teratur. Wajahnya yang tanpa ekspresi semalam, kini terlihat lebih rileks, damai. Justru pemandangan damai itu membuat Dara semakin panik. Pria yang terlihat setenang itu adalah bencana besar baginya.

Dara menyelinap ke kamar mandi. Dia mencuci muka dengan air dingin, memaksa dirinya sadar. Wajahnya di cermin terlihat pucat, matanya merah dan sembap. Dara yang semalam dipenuhi dendam, kini hilang, digantikan oleh Dara si pramugari yang takut kehilangan pekerjaan.

Dia berusaha menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari, mencoba mengikatnya menjadi cepol sederhana. Dia harus terlihat profesional. Setidaknya, terlihat seperti orang waras, meskipun dia baru saja melakukan hal paling gila dalam hidupnya.

Selesai di kamar mandi, Dara kembali ke kamar tidur, mencoba mencari sepatunya. Sepatu hitamnya yang mengilap, simbol profesionalismenya, ada di dekat pintu masuk penthouse.

Dia berjalan pelan, langkahnya sangat hati-hati, seperti menginjak ranjau. Ketika dia melewati tempat tidur, tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menyambar pergelangan tangannya.

"Mau ke mana, Sweetheart?"

Suara Arjuna. Serak, berat, khas orang baru bangun tidur. Namun, intonasinya tidak lagi dingin. Ada nada posesif yang membuat Dara langsung merinding.

Dara tersentak. Dia berbalik cepat, mencoba melepaskan tangannya. "Aku... aku harus pergi! Aku terlambat kerja!"

Arjuna tidak melepaskan. Dia hanya menarik sedikit pergelangan Dara, memaksa Dara untuk mendekat. Dara bisa mencium bau kulit dan cologne mahal yang bercampur.

"Terlambat kerja?" Arjuna tersenyum sinis, tapi matanya masih tertutup. "Setelah apa yang terjadi semalam, kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja dengan alasan terlambat shift?"

"Aku tidak... aku tidak mau apa-apa!" Dara gugup, suaranya tercekat. "Semalam... lupakan saja. Anggap saja itu... kecelakaan. Aku bayar kamu berapapun yang kamu mau. Tambah lagi tiga kali lipat dari yang semalam! Cuma lupakan aku!"

Arjuna akhirnya membuka matanya. Matanya yang tajam itu menatap Dara, yang kini hanya berdiri kaku di samping tempat tidurnya, dengan seragam kusut dan wajah penuh ketakutan.

"Bayar?" Arjuna tertawa, tawa yang dalam, tapi tidak ada kegembiraan di dalamnya. "Kamu pikir aku butuh uangmu, Nona?"

Dara langsung teringat kartu identitas yang dia lihat. Sial. Dia tidak boleh menunjukkan bahwa dia tahu.

"Aku tidak tahu kamu siapa!" Dara berbohong. "Aku pikir kamu... aku salah orang. Aku minta maaf. Aku hanya... sedang putus asa."

Arjuna bangkit. Gerakannya lambat, tapi setiap gerakan memancarkan otoritas. Dia hanya mengenakan selimut yang melilit pinggangnya, memperlihatkan tubuh atletisnya. Dara buru-buru memalingkan wajah.

"Lihat aku, Dara."

Dara terkejut. "Bagaimana... bagaimana kamu tahu namaku?"

"Aku tahu segalanya," kata Arjuna, nadanya datar. "Kamu pikir aku akan tidur dengan wanita asing yang tiba-tiba datang ke bar dan menawari uang, tanpa tahu dia siapa? Kamu pikir ini film? Aku sudah menyelidiki kamu, bahkan sebelum kamu selesai meminum cocktail pertamamu."

Arjuna berjalan ke sisi lain tempat tidur, mengambil ponselnya. Dia melakukan beberapa sentuhan cepat, lalu melemparkan ponsel itu ke pangkuan Dara.

Dara dengan ragu melihat layar ponsel Arjuna. Di sana, ada profil Dara di sistem kepegawaian Skyward Airlines. Fotonya, nama lengkapnya: Dara Kirana Putri, jabatannya: Flight Attendant Junior, dan yang paling mengerikan, detail kontak dan alamat rumahnya.

Dara membeku. "Kamu... kamu mengancamku?"

"Mengancam?" Arjuna tersenyum kecil. "Aku tidak perlu mengancam, Dara. Aku hanya ingin kamu tahu, kamu tidak bisa lari. Aku tahu kamu pramugari baru, enam bulan, dan mantan kekasihmu adalah Kapten Arga yang baru saja membuangmu demi Sasha si sosialita."

Arjuna tahu semuanya. Semua plot dendamnya, semua rasa sakitnya, semua detail hinaan Arga. Dara merasa semua rahasianya telah dicuri.

"Kamu tahu, tapi kamu tetap setuju?" tanya Dara, suaranya nyaris menangis.

"Tentu saja aku setuju," jawab Arjuna, kini berdiri tegak di depannya. "Malam itu, di matamu, aku melihat diriku beberapa tahun lalu. Bodoh, putus asa, dan ingin menghukum dunia. Kamu ingin menghancurkan 'kesucian' yang kamu anggap kelemahanmu, dan aku..."

Arjuna berhenti sejenak, tatapannya menyelimuti Dara dari kepala hingga kaki.

"...Dan aku memberikannya padamu. Itu adalah transaksi yang adil. Kamu mendapatkan pelepasanmu, dan aku mendapatkan..."

"Mendapatkan apa?" desak Dara.

Arjuna tidak menjawab. Dia berjalan menuju lemari besar, mengambil jubah mandinya. "Aku mendapatkan sebuah misteri yang harus dipecahkan. Sebuah pramugari baru yang berani mempertaruhkan kariernya di meja bar. Itu menarik."

Dara menjatuhkan ponsel Arjuna, berlari menjauh darinya, menuju koper kecilnya di dekat pintu. Dia harus pergi, tidak peduli dia sudah ketahuan atau belum.

Saat dia mencoba menarik pegangan koper, dia teringat: dia meninggalkan dompetnya di dalam tas kecil yang ia bawa semalam, dan tas itu tergeletak di sofa ruang tamu.

Sial.

Dara berbalik. Arjuna kini sudah mengenakan jubah mandi, tampak jauh lebih santai. Dia bersandar di kusen pintu kamar, mengamati Dara dengan tenang.

"Mencari ini?" Arjuna mengangkat tas kecil Dara, yang berisi dompet dan kartu identitas Dara.

Dara mengangguk, tanpa kata.

Arjuna berjalan perlahan, melangkah melintasi karpet. Setiap langkahnya terasa seperti derap kaki tentara bagi Dara.

"Aku rasa, kamu tahu siapa aku, Dara," kata Arjuna, kini berdiri tepat di depan Dara, memaksanya mendongak. "Aku lihat kamu melihat dompetku semalam. Kamu sudah tahu namaku, jabatanku, dan mungkin... latar belakang keluargaku."

Dara menelan ludah, air matanya sudah siap tumpah. "Tolong, Kapten," bisik Dara, tanpa sengaja memanggilnya dengan gelar. "Tolong jangan beritahu siapa pun. Aku mohon. Aku janji akan diam. Aku janji kita tidak pernah bertemu."

Arjuna tersenyum dingin. "Tidak pernah bertemu? Itu lucu, Dara. Aku adalah calon pewaris maskapai tempat kamu bekerja. Dan setelah semalam, kamu pikir kita bisa berpura-pura asing?"

Dia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Dara dengan punggung jemarinya. Sentuhan itu lembut, tapi terasa seperti hukuman.

"Aku tidak akan memberitahu siapa pun," kata Arjuna. "Tapi, kamu juga tidak bisa pergi begitu saja, setelah kamu berani menawariku uang. Itu adalah penghinaan, Dara."

"Aku minta maaf! Aku tidak tahu! Aku benar-benar putus asa!" Dara menangis.

"Baiklah," Arjuna menarik tangannya. "Aku akan memaafkan penghinaanmu. Dengan satu syarat."

Dara menatapnya dengan putus asa. "Apa pun. Aku akan melakukan apa pun."

Arjuna melipat tangan di dadanya, tatapannya kini berubah menjadi perhitungan bisnis yang tajam.

"Kita akan berpura-pura bahwa ini tidak pernah terjadi di tempat kerja. Kamu akan bersikap profesional. Tapi, di luar jam kerja... kamu akan menjawab panggilanku."

Dara terkejut. "Maksudmu... kita akan terus..."

"Apa yang kamu pikirkan?" Arjuna memotong dengan nada mengejek. "Kamu pikir aku mau pacaran dengan pramugari baru yang desperate? Tidak, Dara. Aku butuh kamu. Aku butuh informasi dari dalam kru. Dan kamu, yang baru dan tidak punya faksi, adalah pion yang sempurna."

Konflik Dara kini semakin dalam. Dia bukan hanya menghadapi konsekuensi one night stand, tapi juga dijerat dalam intrik perusahaan.

"Aku... aku tidak mengerti," Dara menggeleng.

"Kamu tidak perlu mengerti," Arjuna menyerahkan tas kecil Dara. "Kamu hanya perlu tahu bahwa aku sedang bertarung dengan rivalku di Dewan Direksi-termasuk pamanku-yang berusaha menjatuhkanku agar dia bisa mengambil alih kendali maskapai. Arga, mantanmu, adalah salah satu pilot yang berusaha mereka beli."

Dara teringat perselingkuhan Arga. Jadi itu bukan hanya tentang wanita, tapi tentang kekuasaan?

"Aku butuh mata dan telinga di antara para kru," lanjut Arjuna, matanya menajam. "Kamu akan memberiku laporan informal tentang siapa yang bicara dengan siapa, tentang rencana penerbangan, tentang segala keanehan. Anggap saja ini pekerjaan sampinganmu. Sebagai gantinya, Aku akan menjamin kariermu."

Arjuna berjalan ke arah meja, mengambil kunci mobilnya. "Aku akan mengantar kamu. Kamu punya waktu sampai penerbangan berikutnya untuk memutuskan. Tapi ingat, Dara, kalau kamu bilang tidak, maka aku anggap kamu memilih untuk mengakhiri kontrakmu dengan Skyward Airlines secara permanen."

Dara berdiri terpaku, memegang tas kecilnya. Ia datang ke sini untuk membalas dendam pada seorang pilot rendahan, dan berakhir dalam cengkeraman pewaris maskapai yang menjadikannya mata-mata.

Dia tidak punya pilihan. Dia telah terperangkap.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED