Dering telepon yang tajam menusuk telinga Elysia, memaksanya kembali ke realitas yang lebih kejam daripada mimpi buruk mana pun. Jemarinya gemetar saat ia mengangkat panggilan itu.
"Kami butuh pembayaran segera, atau ibumu tidak akan bisa menerima perawatan lanjutan."
Kata-kata itu menghantamnya seperti palu godam.
Elysia berdiri di lorong rumah sakit, kedua tangannya mencengkeram ponsel dengan erat. Lututnya lemas, seakan tubuhnya tak mampu lagi menopang beban yang kian menghancurkannya. Matanya nanar menatap layar ponsel yang kini gelap, panggilan telah berakhir, tapi suara dingin sang administrator rumah sakit masih terngiang di kepalanya.
"Tuhan... apa yang harus kulakukan?"
Ibunya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Sejak ayahnya meninggal, hanya mereka berdua yang bertahan di dunia ini, saling menggantungkan hidup satu sama lain. Dan kini, ketika ibunya terbaring lemah dengan selang infus di tubuhnya, Elysia tak bisa melakukan apa-apa selain berjuang mendapatkan uang dalam waktu singkat.
Dia sudah mencoba segalanya. Meminjam dari teman, mencari bantuan dari saudara jauh yang bahkan enggan mengangkat teleponnya. Tak ada yang tersisa. Harapan terakhirnya adalah meminta pinjaman dari bosnya, seorang pengusaha kaya raya yang selama ini hanya melihatnya sebagai seorang karyawan rendahan di perusahaan raksasanya.
Dengan langkah tergesa, Elysia meninggalkan rumah sakit dan langsung menuju kantor Lancaster Group. Hatinya berdebar keras saat ia berdiri di depan pintu ruangan Edmund Gray-bosnya. Pria itu terkenal sebagai pengusaha kejam, tapi Elysia berharap ia masih memiliki sedikit belas kasihan.
Ia mengetuk pintu dengan ragu, dan suara berat dari dalam menyuruhnya masuk.
"Elysia? Ada apa?" suara Edmund terdengar santai, nyaris ramah.
Ia duduk di balik meja besar dari kayu mahoni, ruangan luasnya dipenuhi rak buku dan lukisan mahal. Elysia menelan ludah sebelum berbicara.
"Saya... saya ingin meminta bantuan, Tuan Gray. Saya butuh uang, dan saya ingin meminjam dari Anda."
Edmund mengangkat alisnya, lalu tersenyum kecil, seperti seorang pemangsa yang baru saja melihat mangsanya datang dengan sukarela.
"Berapa banyak?"
"Dua ratus juta."
Ruangan itu mendadak hening. Edmund menatapnya dengan mata penuh penilaian, lalu tertawa rendah.
"Dua ratus juta? Itu bukan jumlah kecil, Nona Elysia. Apa jaminan yang bisa kau berikan?"
Jantung Elysia mencelos. Ia sudah menduga pertanyaan itu.
"Saya... saya akan bekerja lebih keras. Saya bisa membayarnya dengan gaji saya sedikit demi sedikit."
Edmund bangkit dari kursinya dan berjalan mengitari meja. Ia berhenti tepat di depan Elysia, mengamatinya dengan tatapan yang membuatnya merasa terperangkap.
"Aku bisa memberimu uang itu. Bahkan lebih. Tapi aku punya syarat lain..."
Elysia mengangkat wajah, menahan napas.
"Habiskan satu malam denganku, dan kau akan mendapatkan seratus juta langsung di tanganmu."
Dunia Elysia runtuh seketika.
Ia membeku di tempat, otaknya menolak memproses kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Edmund. Tawaran itu menjijikkan, keji, dan lebih buruk daripada penghinaan.
Wajahnya memanas oleh amarah dan rasa muak yang membuncah di dadanya. Dengan tangan mengepal, ia menatap bosnya dengan mata berkilat tajam.
"Saya bukan wanita seperti itu, Tuan Gray."
Edmund hanya tersenyum, seolah sudah menduga jawabannya.
"Baiklah. Kalau begitu, anggap saja tawaranku tidak pernah ada."
Elysia menggigit bibirnya. Ia harus menahan dirinya agar tidak menangis di tempat itu.
Dengan langkah tegas, ia berbalik dan keluar dari ruangan tanpa menoleh lagi.
Saat berjalan keluar dari gedung kantor, air matanya jatuh satu per satu. Bukan hanya karena hinaan yang baru saja diterimanya, tetapi juga karena kenyataan bahwa ia telah kehilangan satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan uang dalam waktu cepat.
Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Namun, takdir sepertinya masih memiliki kejutan lain untuknya.
Saat melangkah di trotoar depan kantor Lancaster Group, sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat di sampingnya. Jendela mobil itu terbuka perlahan, memperlihatkan seorang pria dengan tatapan tajam dan ekspresi yang tak terbaca.
"Masuk," suaranya dalam dan dingin.
Elysia menatapnya dengan ragu. Pria itu tampan dengan rahang tegas, mata abu-abu yang tajam, dan aura dominasi yang begitu kuat. Ia mengenal pria ini. Damian Lancaster-pewaris tunggal kerajaan bisnis Lancaster Group.
Ia pria yang jarang muncul di media, dikenal sebagai sosok dingin dan tidak terjangkau. Apa yang diinginkannya darinya?
"Aku tidak punya waktu untuk basa-basi. Masuklah," ulangnya.
Elysia hampir melangkah mundur, tapi sesuatu dalam suara Damian membuatnya tetap di tempat.
Setelah beberapa detik penuh kebimbangan, ia akhirnya membuka pintu dan duduk di kursi penumpang.
Damian mengamati wajahnya sejenak sebelum berbicara.
"Aku mendengar percakapanmu dengan Edmund."
Jantung Elysia berhenti berdetak sejenak.
"Kau menguping?" tanyanya pelan.
"Aku hanya kebetulan berada di ruangan sebelah," jawab Damian santai.
Elysia menghela napas.
"Kalau kau hanya ingin menghinaku seperti bosmu, aku lebih baik pergi." Ia meraih pegangan pintu, tetapi Damian menangkap pergelangan tangannya.
"Tunggu. Aku punya penawaran yang lebih baik."
Matanya menatap langsung ke dalam mata Elysia, dalam dan penuh ketegasan.
"Aku akan memberimu lima miliar."
Elysia terkesiap.
"Apa?"
"Lima miliar. Tapi dengan satu syarat." Damian bersandar di kursinya, kedua tangannya bertaut di depan dada.
"Menikah denganku. Secara kontrak. Dan lahirkan pewarisku."
Darah Elysia berdesir. Pernyataan itu lebih mengejutkan daripada tawaran Edmund sebelumnya.
"Kau ingin aku... mengandung anakmu?"
"Ya."
Keheningan menyelimuti mobil itu.
Elysia hampir tertawa. Tawaran ini terlalu gila. Terlalu absurd. Namun, berbeda dengan Edmund yang hanya ingin memanfaatkannya untuk satu malam, Damian menawarkan sesuatu yang lebih besar-pernikahan, uang, dan kontrak resmi.
"Kenapa aku?" tanyanya curiga.
Damian menatapnya lama sebelum menjawab, "Karena aku tidak mempercayai wanita manapun. Tapi kau... kau berbeda."
Elysia tidak tahu apakah itu sebuah pujian atau peringatan.
Namun, yang lebih penting dari itu-haruskah ia menerima penawaran ini?
Lima miliar cukup untuk menyelamatkan ibunya. Lebih dari cukup untuk membangun kembali hidup mereka. Tapi, harga yang harus ia bayar... adalah menyerahkan tubuhnya, kehidupannya, dan anaknya kepada pria ini.
Bisakah ia melakukannya?
Saat Damian menunggu jawabannya, Elysia merasa seolah dunia di sekelilingnya mengecil.
Pilihan ini bukan hanya tentang uang.
Ini tentang hidupnya.
Dan sekali ia berkata 'ya'-tidak ada jalan kembali.
Elysia duduk diam di dalam mobil, napasnya tak beraturan. Tawaran Damian menggantung di udara, berat dan mustahil untuk diabaikan. Lima miliar. Jumlah yang bisa menyelamatkan ibunya. Tapi sebagai gantinya, ia harus menikahi pria yang nyaris asing baginya-dan melahirkan anaknya.
Di sebelahnya, Damian tetap tenang, seolah tahu bahwa ia sudah memenangkan permainan ini bahkan sebelum Elysia menyadarinya.
"Kau tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan. Aku bisa memberimu waktu," ucapnya akhirnya, suaranya datar namun tegas. "Tapi kau harus tahu satu hal-aku tidak membuat penawaran ini untuk siapa pun. Ini bukan transaksi biasa."
Elysia menelan ludah.
"Apa maksudmu?"
Damian menoleh, sorot matanya menelisik hingga ke dalam jiwanya. "Aku ingin anakku lahir dari seseorang yang tidak memiliki agenda tersembunyi. Aku sudah muak dengan wanita yang hanya menginginkan hartaku. Dan kau... Kau bukan salah satu dari mereka."
Elysia hampir tertawa sinis. "Jadi kau memilihku karena aku miskin?"
Alih-alih tersinggung, bibir Damian melengkung tipis. "Karena kau putus asa. Orang yang putus asa tidak punya pilihan selain jujur."
Kata-katanya menusuk. Elysia ingin menyangkal, ingin mengatakan bahwa ia lebih dari sekadar wanita yang putus asa. Tapi bagaimana bisa, jika kenyataannya ia memang tidak punya pilihan lain?
"Apa aku tidak punya kebebasan dalam pernikahan ini?" tanyanya pelan.
Damian mengamati ekspresinya sebelum menjawab, "Pernikahan ini akan bersifat kontrak. Kau akan memiliki semua yang kau butuhkan. Rumah mewah, fasilitas terbaik, perlindungan. Namun, ada satu syarat yang tidak bisa dinegosiasikan."
Elysia menunggu, hatinya berdebar tak menentu.
"Kau harus melahirkan anakku. Secepat mungkin."
Pernyataan itu begitu tajam, begitu lugas, hingga membuat dadanya sesak. Ia bukan hanya menikah demi uang, tetapi benar-benar harus mengandung anak pria ini.
Elysia menggeleng, menekan pelipisnya. "Ini gila. Ini lebih buruk daripada sekadar menjual diri."
Damian tetap tak terpengaruh. "Ini adalah bisnis. Kau mendapatkan sesuatu, aku mendapatkan sesuatu. Bedanya, aku tidak akan memperlakukanmu seperti barang. Kau akan menjadi istri sahku, ibu dari pewarisku. Dan setelah kontrak berakhir, kau bisa pergi dengan uangmu."
Seakan semua itu semudah mengucapkannya.
"Berapa lama pernikahan ini berlangsung?"
"Minimal lima tahun. Sampai anak kita cukup besar."
Lima tahun. Lima tahun terikat dengan pria ini. Lima tahun hidup dalam pernikahan yang sebenarnya tidak nyata.
Tapi lima miliar bisa menyelamatkan ibunya. Lima miliar bisa mengubah hidupnya.
Ia menggenggam tangannya erat, menatap Damian dengan penuh pertimbangan. "Dan jika aku menolak?"
Damian mengangkat bahu. "Aku tidak akan memaksamu. Tapi tawaran ini tidak akan datang dua kali."
Elysia menutup mata. Pilihan apa yang ia miliki? Jika ia menolak, ibunya bisa saja kehilangan nyawanya. Jika ia menerima, maka hidupnya tak lagi menjadi miliknya sendiri.
Tapi apa hidupnya benar-benar miliknya sekarang?
Dengan suara gemetar, ia akhirnya berkata, "Aku butuh jaminan."
Damian mengangkat alis, seakan tidak menyangka Elysia akan mencoba bernegosiasi.
"Jaminan seperti apa?"
"Aku ingin setengah dari uang itu diberikan di muka. Aku ingin ibuku mendapatkan perawatan terbaik tanpa menunggu lama."
Damian menatapnya lama, lalu mengangguk. "Sepakat. Lima ratus juta akan ditransfer ke rekeningmu malam ini. Sisanya setelah kita menikah."
Lima ratus juta. Jumlah yang lebih dari cukup untuk segera memindahkan ibunya ke rumah sakit terbaik.
"Dan satu lagi," lanjut Elysia, mencoba mempertahankan secuil kendali dalam situasi ini. "Aku ingin kebebasan. Aku tidak ingin hidup seperti tahanan."
Damian menatapnya tajam. "Aku tidak akan membatasi hidupmu, selama kau memegang komitmen kita. Kau hanya perlu menjaga nama baik keluarga Lancaster dan memastikan kehamilanmu berjalan dengan baik."
Elysia menelan ludah, merasa dadanya semakin sesak.
"Kalau begitu... aku setuju."
Kalimat itu keluar lebih pelan daripada yang ia kira. Namun, begitu terucap, ia tahu bahwa semuanya telah berubah.
Damian menatapnya sejenak, sebelum tersenyum tipis. "Kau membuat keputusan yang tepat."
Malam itu, sesuai janjinya, Damian mentransfer lima ratus juta ke rekening Elysia. Ia segera menghubungi rumah sakit dan memindahkan ibunya ke fasilitas terbaik.
Namun, meskipun uang itu telah mengamankan keselamatan ibunya, Elysia tidak bisa menghilangkan perasaan kosong yang mulai menjalar di dalam dirinya.
Dia baru saja menjual masa depannya kepada pria yang nyaris tidak ia kenal.
Dan tidak ada jalan untuk kembali.
Tiga hari kemudian, Elysia berdiri di depan sebuah gedung megah dengan arsitektur klasik yang menakjubkan. Rumah keluarga Lancaster.
Di sampingnya, Damian menatapnya sekilas sebelum berkata, "Mulai hari ini, ini rumahmu."
Rumah. Kata itu terdengar begitu asing di telinganya.
Seorang pelayan segera datang dan membukakan pintu untuk mereka. Begitu melangkah masuk, Elysia langsung merasa seperti memasuki dunia lain. Lantai marmer berkilauan, lampu kristal menggantung di langit-langit, dan keharuman mawar putih memenuhi udara.
Namun, belum sempat ia beradaptasi dengan kemegahan itu, suara dingin seorang wanita menyambut mereka.
"Jadi ini wanita yang kau pilih, Damian?"
Elysia menoleh dan menemukan seorang wanita paruh baya dengan gaun anggun berdiri di dekat tangga, matanya penuh penilaian.
"Ibu," Damian menyapa singkat.
Jadi ini ibu mertuanya. Tatapan dingin wanita itu membuat Elysia merinding.
"Kau benar-benar membuat keputusan tergesa-gesa," ujar wanita itu. "Menikahi wanita tanpa nama, tanpa latar belakang jelas. Apa kau tidak berpikir dua kali?"
Damian menegang. "Ini bukan urusanmu, Ibu. Elysia adalah istriku, dan kau harus menerimanya."
Wanita itu mendengus sebelum menatap Elysia dari ujung kepala hingga kaki. "Baiklah. Jika kau memang ingin mempertaruhkan nama keluarga kita dengan wanita ini, aku tidak akan ikut campur. Tapi ingat, Damian, keluarga Lancaster tidak menerima kegagalan. Aku harap kau membuat keputusan yang tepat."
Dengan angkuh, wanita itu melangkah pergi.
Elysia merasa tubuhnya melemas. Bahkan sebelum pernikahannya dimulai, ia sudah dihadapkan dengan tantangan besar.
Damian menatapnya sejenak sebelum berkata, "Jangan dengarkan ibuku. Dia memang seperti itu."
Elysia menghela napas. "Aku tahu ini tidak akan mudah. Tapi aku tidak mengira akan seberat ini sejak awal."
Damian menatapnya lama sebelum berkata pelan, "Kau masih bisa mundur."
Elysia mendongak, mata mereka bertemu.
Lalu ia menggeleng. "Tidak. Aku sudah memutuskan. Aku akan tetap di sini."
Damian mengamati ekspresinya sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah. Mulai sekarang, kau adalah Nyonya Lancaster."
Elysia menelan ludah.
Ia baru saja memasuki permainan yang jauh lebih besar dari yang ia kira.
Dan tidak ada jalan keluar.
Hari pertama Elysia di rumah keluarga Lancaster terasa lebih menyesakkan daripada yang ia bayangkan.
Ia berdiri di dalam kamarnya-atau lebih tepatnya, kamar yang kini menjadi miliknya. Ruangan itu lebih besar daripada apartemen kecil yang pernah ia tinggali. Dindingnya berwarna krem lembut, dihiasi ukiran mewah. Sebuah tempat tidur berkanopi berdiri megah di tengah ruangan, sementara jendela besar menghadap ke taman yang begitu luas, seakan membentang tanpa batas.
Semua ini seharusnya terasa seperti mimpi. Namun bagi Elysia, ini adalah penjara.
Damian telah memenuhi janjinya. Begitu mereka menikah di kantor catatan sipil tadi pagi, ia langsung diberikan akses ke rumah ini. Ibunya sudah mendapatkan perawatan terbaik, dan rekeningnya kini berisi uang yang cukup untuk hidup nyaman selama beberapa tahun ke depan.
Tapi semua itu datang dengan harga yang sangat mahal.
Perlahan, Elysia duduk di tepi tempat tidur, tangannya menggenggam kain gaun putih sederhana yang ia kenakan. Hari ini, ia secara sah menjadi Nyonya Lancaster-istri dari seorang pria yang tidak mencintainya, dan yang ia sendiri tidak tahu apakah bisa ia percaya.
"Nyonya Lancaster."
Elysia tersentak dan menoleh ke arah pintu. Seorang wanita paruh baya berdiri di sana dengan ekspresi datar.
"Saya Bianca, kepala pelayan di rumah ini. Tuan Damian meminta saya memastikan Anda merasa nyaman."
"Nyaman." Kata itu terasa ironis.
Elysia mencoba tersenyum. "Terima kasih, Bianca."
"Jika Anda membutuhkan sesuatu, Anda bisa meminta langsung kepada saya. Dan satu hal lagi..." Bianca menatapnya lurus, suaranya lebih tegas. "Tuan Damian memiliki aturan di rumah ini. Anda tidak diperbolehkan meninggalkan rumah tanpa izinnya."
Dada Elysia menegang. "Apa maksudmu? Aku tidak bisa keluar sesukaku?"
"Tuan Damian menginginkan keamanan Anda. Anda bisa pergi jika ditemani oleh pengawal, tapi Anda tidak bisa pergi sendirian. Itu adalah perintah langsung dari beliau."
Elysia menatap Bianca, ingin membantah. Namun ia tahu ini bukan kesalahan wanita itu. Ini adalah bagian dari perjanjian yang ia tandatangani. Ia sudah menyerahkan kebebasannya kepada Damian sejak ia menerima tawarannya.
"Baik," ucapnya singkat.
Bianca mengangguk sebelum melangkah pergi, meninggalkan Elysia sendirian dalam keheningan yang semakin menyesakkan.
Malam itu, saat Elysia tengah merenung di balkon kamarnya, suara ketukan di pintu membuatnya tersentak.
"Masuk," katanya, suaranya sedikit serak.
Pintu terbuka, dan Damian masuk dengan langkah tenang. Seperti biasa, ia tampak sempurna dalam kemeja hitam yang sedikit terbuka di bagian atas, memperlihatkan sekilas otot dadanya. Mata tajamnya menelisik ke arahnya sebelum ia berjalan mendekat.
"Bagaimana harimu?" tanyanya.
Elysia tertawa kecil, tanpa humor. "Sejujurnya? Aku merasa seperti burung dalam sangkar emas."
Damian menatapnya lama, sebelum akhirnya bersandar di tepi meja. "Aku sudah memberitahumu bahwa pernikahan ini akan memiliki batasan. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja tanpa perlindungan."
"Perlindungan atau pengawasan?"
Damian mengangkat alis. "Apa ada bedanya?"
Elysia mendesah, menoleh ke arah taman yang diterangi cahaya lampu. "Kenapa aku merasa seolah-olah aku telah menjual jiwaku?"
Damian tidak langsung menjawab. Ia hanya mengamati wajahnya dengan intens, seolah mencoba membaca pikirannya.
"Kau tahu," katanya akhirnya, suaranya rendah, "Jika kau benar-benar menyesalinya, kau masih bisa pergi."
Elysia menoleh, menatapnya dengan tidak percaya. "Apa maksudmu?"
"Jika kau benar-benar merasa tidak sanggup, aku bisa mengembalikan semua uangmu dan membiarkanmu pergi. Tapi begitu kau mengambil langkah ke luar dari rumah ini, kesepakatan kita berakhir. Kau tidak akan mendapatkan apa pun lagi dariku."
Elysia menegang.
Tawaran itu menggoda. Jika ia pergi sekarang, ia bisa mendapatkan kembali kebebasannya. Ia tidak perlu hidup dalam bayang-bayang Damian, tidak perlu mengikuti aturan yang ia tetapkan.
Tapi... ibunya.
Perawatan rumah sakit yang mahal, kehidupan yang lebih baik, masa depan yang lebih aman. Semua itu akan hilang jika ia memilih untuk pergi.
Dengan berat hati, ia menarik napas dalam. "Aku tidak akan pergi."
Ekspresi Damian tetap datar, tapi ada sesuatu dalam matanya yang berubah. "Baik."
Ia mendorong diri dari meja dan berjalan ke arahnya, membuat Elysia tanpa sadar menegang. Namun, alih-alih mengatakan sesuatu, ia hanya mengulurkan tangan dan menyentuh pipinya dengan ujung jarinya.
"Kau bukan burung dalam sangkar, Elysia. Kau hanya harus belajar bagaimana terbang dalam batasan yang ada."
Kata-kata itu anehnya lebih menusuk daripada yang ia kira.
Dan saat Damian melangkah pergi, meninggalkannya sendirian di balkon, Elysia tahu satu hal pasti-
Ia sudah masuk terlalu dalam, dan tidak ada jalan keluar.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang sama.
Elysia tidak diperbolehkan pergi tanpa Damian atau pengawal, tapi ia diperbolehkan menjelajahi rumah megah itu. Ia mulai mengenal beberapa pelayan, termasuk Bianca yang meskipun kaku, perlahan menunjukkan sedikit kepedulian padanya.
Namun, satu hal yang terus menghantui pikirannya adalah kenyataan bahwa meskipun mereka menikah, Damian nyaris tidak bersikap seperti suami padanya.
Ia jarang berada di rumah, selalu sibuk dengan bisnisnya. Bahkan saat mereka makan malam bersama, percakapan mereka singkat dan formal. Tidak ada kehangatan, tidak ada kedekatan.
Dan bagi Elysia, hal itu adalah pedang bermata dua.
Di satu sisi, ia bersyukur karena tidak dipaksa untuk melakukan sesuatu yang belum siap ia lakukan. Tapi di sisi lain... itu juga membuatnya merasa seolah-olah ia tidak lebih dari sekadar kontrak yang harus dipenuhi.
Sampai akhirnya, semuanya berubah pada suatu malam.
Hujan deras mengguyur kota saat Elysia terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap, merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Saat itulah ia mendengar suara pintu terbuka.
Ia menoleh, dan menemukan Damian berdiri di ambang pintu, basah kuyup dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Damian?" tanyanya bingung. "Apa yang terjadi?"
Alih-alih menjawab, pria itu melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Matanya gelap, penuh sesuatu yang tidak bisa Elysia baca.
Lalu, tanpa peringatan, ia berjalan mendekat dan menarik Elysia ke dalam pelukannya.
Elysia membeku. Tubuh Damian terasa dingin, basah, tapi hangat pada saat yang bersamaan.
"Aku lelah," gumamnya di dekat telinga Elysia, suaranya lebih rendah dari biasanya. "Bisakah aku tinggal di sini malam ini?"
Elysia tidak tahu harus menjawab apa. Namun saat ia merasakan lengan Damian semakin erat di sekeliling tubuhnya, ia tahu satu hal-
Malam ini, sesuatu telah berubah.
Dan ia tidak tahu apakah itu akan membawa kebahagiaan... atau kehancuran.