Tepat dua tahun sudah, Kanaya meninggalkan kota kelahirannya. Kota yang meninggalkan banyak kenangan indah dan pahit bagi dirinya. Berparas cantik dan manis itulah yang melekat di diri seorang designer berbakat itu. Demi melunasi hutang ayahnya, ia harus bekerja keras untuk melunasinya seorang diri.
Pagi yang cerah secerah senyum manis Kanaya. Kedua matanya yang berwarna coklat, lentik bulu matanya yang tebal tak berhenti mengerjap menatap pemandangan yang berlari mengikuti laju kendaraan yang ia tumpangi saat ini
"Akhirnya, aku bisa pulang!" kata Naya yang seakan tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Karena pekerjaannya yang menumpuk, kanaya tidak bisa mendapatkan cuti seperti teman-temannya yang lain. Sebuah tanggung jawab yang harus ia pikul seorang diri menjadi seorang designer di tempat kerjanya.
Perlahan, kedua bola mata indah itu mulai terpejam. Sebuah rumah yang merupakan peninggalan terakhir dari ayahnya, mulai melintas dalam pikirannya. Banyak kenangan indah dan manis yang ada di rumahnya tersebut.
"Naya, mama dan Laura akan ke Bogor. Mama juga sudah merenovasi rumah sesuai dengan keinginan kamu!" Perkataan mama Dina yang terucap dua hari sebelum Kanaya mengambil cuti. Kanaya membuka kedua matanya kembali. Ia tersenyum lebar saat dirinya telah tiba tepat di depan rumahnya.
Kedua kakinya yang mulus mulai turun dari taksi yang telah mengantarkannya sampai rumah. Jaket tebal merah yang melekat di dirinya membuat Naya terjaga dari dinginnya udara di kota kembang tersebut.
Naya membuka kacamata hitamnya, manik bola matanya berbinar menatap rumah yang mempunyai banyak kenangan indah bagi dirinya. Tak ada yang berubah. Halaman rumah, tanaman bunga peninggalan mamanya bermekaran begitu indah. Banyak kupu-kupu yang hinggap dan seakan tak mau jauh dari bunga tersebut.
"Kalian begitu indah! Aku tak menyangka, mama Dina dan Laura mau merawat kalian selama aku pergi!" ucap Naya memegang kelopak bunga mawar dan mencium aroma wanginya.
Naya tersenyum. Kedua matanya berputar mencari keberadaan pak Udin yang merupakan satpam di rumahnya tersebut. Ia mulai berjalan ke arah pos jaga yang biasanya menjadi tempat bagi pak udin untuk melakukan pekerjaannya.
Naya mengernyit. Ia sama sekali tak menemukan pak Udin di tempat pos jaga.
"Ke mana pak Udin? Apa beliau ada di dalam?" tebak Naya menoleh ke arah rumahnya."Yach, mungkin pak Udin ada di dalam. Pasti lagi mengecek keadaan rumah!" gegas Naya menuju ke dalam rumah seraya menggeret koper miliknya.
Ceklek
Sepi dan hening.
Sesaat, Naya terkejut ketika ada yang berbeda dengan rumahnya. Kondisi rumahnya yang masih sama seperti dua tahun yang lalu dan tak ada renovasi seperti apa yang ia inginkan.
"Ke mana foto keluargaku? Kenapa nggak ada?" Kedua matanya berputar mencari keberadaan foto keluarganya yang biasa tidak terpajang di dinding.
"Apa mama Dina membuangnya?" tanyanya memicing. Ia mulai melangkah dan melihat isi rumahnya yang benar-benar tak ada yang berubah. Hanya foto keluarga besarnya yang hilang dari rumahnya.
"Kenapa jadi seperti ini? Bukankah mama Dina bilang sudah merenovasinya?" Naya bingung sembari melipat bibirnya. Rasa kecewa mulai menghampiri wanita cantik dan putih itu. Ia tak menyangka jika mama tirinya tega berbohong kepadanya akan hal ini.
"Apa maksud mama Dina membohongiku seperti ini?" gumam Naya seraya memegang kedua tangan di pinggangnya. Tatapan matanya memicing menatap ke arah kaca yang memantulkan barang yang ada di belakangnya. Sosok beberapa orang yang bertubuh besar, mengenakan jas hitam tersenyum ke arahnya.
"Selamat Siang, Nona Inzen!" sapa seseorang yang membuat Naya kaget dengan panggilan itu. Nama yang tak pernah lagi ia dengar sejak ayahnya menikah dengan mama Dina.
Naya menoleh dan terkejut melihatnya. Kedua mata indahnya tak berhenti mengerjap, kedua tangannya seketika gemetar melihat mereka yang terlihat begitu menyeramkan.
"Si-a-pa kalian? Kenapa kalian masuk ke rumah saya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu!" tanya Naya menghentikan langkah mereka.
Mereka hanya tersenyum dan menyodorkan seberkas surat yang ada di dalam map berwarna hitam.
"Apa ini?" tanya Naya mengernyit dan mulai membuka surat tersebut dan membacanya secara perlahan.
Sejenak, Naya terbelalak kaget dengan isi surat yang mencantumkan atas nama Lukman Argantara sebagai pemilik rumahnya yang sah.
"Apa maksud semua ini? Kenapa rumahku menjadi milik pak Lukman Argantara?" tanya Naya dengan mata berkaca-kaca.
"Pak Lukman sudah menunggu Anda, Nona Inzen. Beliau akan menjelaskannya tentang masalah ini," tutur Roy, salah satu kepercayaan pak Lukman Argantara.
Naya menghela nafas panjang. Ia bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Spontan, ia mengusap air mata yang menetes begitu saja. Tenggorokannya kering dan terasa sakit saat salivanya tertegak dengan paksa.
"Mari Nona!"
"Kenapa pak Lukman ingin bertemu dengan saya? Dan kenapa beliau juga tidak datang ke sini untuk menjelaskannya?" tanya Naya penasaran.
"Saya tidak tau, Nona!" jawab Roy.
Alih-alih tidak mau berdebat dengan mereka. Naya memilih untuk diam dan mengikuti perintah mereka yang akan membawanya untuk bertemu dengan rentenir yang sudah meminjamkan uang pada ayahnya dulu.
*****
Semua bertepuk tangan menyambut pimpinan terbaru Hotel De Lena. Tampan, cool dan begitu perfect itulah yang di miliki pewaris tunggal dari keluarga Towsar. Alen Towsar, putra tunggal dari Elena Towsar yang sebelumnya berprofesi sebagai pembalap motor.
Demi keinginan sang ibunda tercinta, Alen terpaksa meninggalkan pekerjaan sekaligus hobinya itu. Memimpin beberapa hotel yang telah di bangun oleh sang bunda.
"Ya ampun, aku tak menyangka kalo Alen Towsar adalah anak dari ibu presdir. Sungguh seperti mimpi!" kata Agnes, salah satu karyawan hotel yang juga mengidolakan Alen Towsar.
"Iya, tapi dengar-dengar ia berhenti menjadi seorang pembalap demi menggantikan ibu presdir!" sahut Nita.
"Benarkah? Oh No! Jadi, sekarang aku tak bisa melihatnya memakai baju balap lagi, dong!" kata Agnes mengernyit menatap ketampanan Alen yang terlihat begitu jauh dari dirinya."Tapi nggak apa, deh! Setiap hari aku 'kan bisa melihatnya secara langsung, tidak di layar televisi lagi," ucap Agnes sumringah sembari memegang kedua pipinya.
Sepanjang perjalanan, Naya menyandarkan kepalanya seraya memejamkan mata.
"Yang saya tau, Ibu dina telah menjual rumah ini untuk membayar hutang ayah nona yang bertumpuk di pak Lukman. Rumah ini juga belum bisa melunasi hutang ayah nona sendiri. Dan, sebagai kurangannya, pak lukman menginginkan nona untuk menjadi istrinya." Perkataan orang suruhan pak Lukman mulai melintas kembali diingatannya.
Naya spontan membuka kedua matanya. Ia melirik ke arah mereka yang duduk di depan dan di samping dirinya. Ia merasa seperti seorang tawanan yang ada di film yang biasa ia tonton. Sangat sulit baginya untuk melarikan diri dari semua ini.
Ya Tuhan, apa maksud mama dina? Bagaimana bisa aku dijadikan jaminan untuk menjadi istrinya pak lukman? Seharusnya, uang yang aku kirim setiap bulan itu sudah bisa membayar sebagian hutang ayah. Tapi, kenapa hutang dan bunga ayah semakin banyak? batin Naya bertanya.
Naya melirik ke arah Roy, orang yang selalu menjawab pertanyaannya sedari tadi.
"Apa saya boleh bertanya?" tanya Naya memberanikan diri. Semua mata tertuju padanya. Raut mereka yang sangar memang tak seperti tampangnya. Mereka masih memiliki kesopanan dalam berbicara.
"Silahkan, Nona!" jawab Roy.
"Anda bilang, rumah saya tak bisa melunasi hutang ayah saya. Selama dua tahun ini, saya selalu membayar hutang ayah saya sesuai dengan jumlah yang di janjikan oleh pak lukman. Seharusnya, dengan penjualan rumah saya, itu sudah lebih dari cukup untuk melunasi hutang ayah saya 'kan?" Naya yang begitu memprotes.
Senyum bodyguard itu mulai tertoreh.
"Nona Inzen, mama anda juga meminjam uang sama pak Lukman dan dijadikan satu dengan hutang ayah nona sendiri," jawab Roy yang membuat Naya terkejut setengah mati. Ia tak menyangka jika mama tirinya secara tak langsung menjaminkan dirinya pada pak Lukman.
"Mama Dina sungguh keterlaluan! Bisa-bisanya dia membohongiku selama ini. Trus, kemana uangku selama ini? Kalo tau begini, aku tak mungkin mau ikut dengan mereka," kata batin Naya seraya mengusap air matanya yang terjatuh."Tenang Kanaya tenang! Semua akan baik-baik saja. Kamu pintar dan cerdas, kamu pasti bisa menggagalkan rencana busuk mama Dina yang akan menghancurkan masa depan kamu!" kata batin Naya menyemangati dirinya sendiri.
Jari jemari tangan Naya tak berhenti bergerak tepat di atas pahanya. Ia berpikir, bagaimana caranya ia untuk keluar dari orang-orang akan membawanya pergi.
"Agnes! Aku harus menghubungi Agnes!" gegas Naya mengambil ponsel yang ada di tas punggungnya. Jari jemari tangannya dengan cepat mencari kontak sahabatnya itu.
Tapi, tangan Naya terhenti saat orang yang di sampingnya mengambil ponsel dan membuangnya begitu saja.
"Kenapa Anda membuang handphone saya?" tanya Naya kesal melihat handphonenya di lempar begitu saja.
"Maaf, Nona. Kami tak mau nona mempersulit kerja kami. Kami hanya melaksanakan tugas. Semakin nona menurut pada kami, kami pastikan nona akan baik-baik saja!"
Naya mendesah sebal. Ia benar-benar tak menyangka ia akan terjebak di lingkaran hitam yang akan menghancurkan masa depannya.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa aku benar-benar tidak bisa lari dari masalah ini?" gumam batin Naya seraya memegang kepalanya yang sedikit pusing.
"Nona baik-baik saja?" tanya Roy yang begitu perhatian di balik tampang sangarnya itu.
Naya mendongak dan menyandarkan kepalanya kembali.
"Tidak! Saya tidak apa!" jawab Naya tersenyum tipis.
"Syukurlah!"
Drt ... Drt ...
Getaran ponsel mengagetkan Naya. Kedua matanya melirik ke arah Roy yang sibuk menjawab telepon.
"Baik, Pak. Kami akan melakukan sesuai perintah bapak!" ucap Roy mematikan ponselnya.
"Kita perumahan Cempaka Asri!" perintah Roy pada teman-temannya.
Naya seakan tak mampu menegak salivanya sendiri. Bibirnya melipat dan perasaan takut mulai menghampiri dirinya."Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Tak ada ide yang keluar dari otkku ini. Come on Kanaya come on!" kata batin Naya berpikir.
Perlahan, ia mulai membuka mata indahnya kembali. Ia mulai menegakkan tubuhnya seraya menghela nafas panjang.
"Sebelum saya menemui pak Lukman. Tolong antarkan saya ke hotel De lena. Ada barang yang harus saya ambil di sana!" pinta Naya yang membuat semuanya terkejut.
"Hotel de Lena?" tanya mereka serempak.
"Iya. Sebentar saja! Kalian tenang saja, saya tak akan kabur dan menyulitkan kalian!" ucap Naya yang begitu meyakinkan.
Naya mengernyit menatap mereka yang seakan berdiskusi dengan kedua mata mereka masing-masing.
"Maaf, Nona. Kami tak bisa mengabulkan permintaan nona. Jika barang itu sangat penting, saya akan mengantar nona sesudah bertemu dengan pak Lukman."
Naya mengepal. Ia tak menyangka jika idenya gagal untuk melarikan diri.
*****
"Sayang, sebelum bunda meninggalkan dunia ini, tolonglah turuti dua keinginan Bunda!" pinta Bunda yang terbaring lemas di rumah sakit.
"Bunda jangan berkata seperti itu. Percayalah! Bunda pasti sembuh. Alen yakin itu!" ucap Alen memegang erat tangan bunda yang berselangkan dengan infus.
Bunda tersenyum. Dengan lembut, ia membelai rambut putranya yang lembut berwarna pirang kemerahan.
"Sayang, berhentilah menjadi seorang pembalap!" kata Bunda yang membuat Alen terkejut."Bunda mohon! Teruskan bisnis Bunda dan carilah wanita yang akan menjadi istri kamu, menantu untuk Bunda."
Deg
Alen terbangun dari tidurnya. Ia mendesah dan tak habis pikir bisa bermimpi yang sama berulang kali.
"Istri? Haruskah aku menurutinya juga?" tanya Alen memicing menatap foto keluarga yang terpajang di meja kerjanya.
Kebencian yang mendalam kembali muncul di diri Alen. Foto seseorang yang telah menghancurkan hati bundanya terpampang jelas di figura kecil itu.
"Gara-gara kamu, bunda ingin mengakhiri hidupnya!" ketus Alen membuang foto tersebut tepat ke dalam tempat sampah.
Drt ... Drt ...
Alen melirik ke arah ponsel yang berdering di depannya. Dengan gayanya yang khas, ia meraih dan mengangkat telepon tersebut.
"Bagaimana?" tanya Alen memicing dengan tajam. Jari tangan kanannya mengepal mengisyaratkan kekecewaan yang mendalam di dalam dirinya.
"Kirim alamatnya sekarang!" ketus Alen mematikan ponselnya. Ia menghela nafas seraya menopangkan kedua tangan di dada.
"Aku tak akan membiarkan kamu menikmati apa yang seharusnya bukan milik kamu!" gumam Alen dengan tatapan yang sinis.
****
Naya seakan tak berdaya. Pikirannya buntu. ia seakan terjebak dan tak bisa lari dari orang yang telah membawanya ke dalam lubang singa.
"Apa yang harus aku lakukan! Tak seharusnya aku ikut dengan mereka," gumam batinnya mendesah seraya menggigit bibir mungilnya. Penyesalan kini menaungi dirinya.
Kedua matanya berputar melihat lokasi rumah pak Lukman yang terbilang sangat elite.
"Mari, Nona!" ucap mereka mempersilahkan.
Naya menghela nafas panjang. Lentik bulu matanya yang indah tak berhenti mengerjap mengimbangi dirinya untuk tegar menghadapi kenyataan ini.
"Tenang Kanaya tenang! Kamu bisa kabur di saat mereka lengah mengawasimu. Dulu kamu bisa lolos dari kejaran anjing buas yang akan menerkammu. Dan sekarang, kamu harus yakin kamu bisa lari dari mereka," kata Naya dalam hati seraya menegakkan tubuhnya.
Naya mulai memasuki rumah yang seperti istana tersebut. Kedua matanya berputar melihat beberapa kaki bersepatu yang terus saja mengikuti dirinya.
Ceklek
"Silahkan masuk, Nona Inzen!" ucap Roy yang begitu ramah.
Naya mengernyit melihat ruang kamar yang begitu luas terbuka untuk dirinya.
"Kenapa saya harus masuk ke sini? Bukankah kamu bilang, pak Lukman ingin bicara dengan saya?" tanya Naya dengan ketus.
"Maaf, Nona. Saya hanya menjalankan perintah dari pak Lukman!"
Naya mendesah sebal. Tanpa banyak buang waktu, ia membalikkan badan dan berniat untuk pergi meninggalkan mereka.
"Nona mau ke mana?" tanya mereka menghadang.
"Saya mau pulang! Minggir!" ketus Naya terkejut saat salah satu dari mereka menggendong dirinya dan memasukkan ke dalam kamar.
"Hei, apa yang kalian lakukan!" teriak Naya memukul punggung orang yang menggendongnya.
Buk
Naya terjatuh tepat di atas tempat tidur.
"Maafkan kami, Nona!" gegas mereka pergi buru-buru.
"Hei ...," teriak Naya melihat mereka yang mengunci pintu kamar tersebut. Kedua bola mata indahnya berbinar. Tatapannya memicing menahan amarah yang tertahan. Dadanya terasa begitu sesak.
"Ayah, apa yang harus Naya lakukan?" tanya Naya menangis seraya memukul guling yang ada di sampingnya.
Sepanjang perjalanan, Alen mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tatapan amarah melekat di dirinya saat ini.
"Sayang, kamu jangan salahkan dia! Maafkan dia! Bagaimanapun juga, dia pernah menjadi ayah kamu." Perkataan bunda yang menghampiri pikirannya.
Alen tersenyum sinis. Ia tak menyangka jika sang bunda begitu mencintai orang yang sudah memanfaatkan keluarganya.
"Sampai matipun, aku tak akan pernah memaafkan dia!" kata Alen sinis dan menambah laju kendaraannya.
Sesampai di tempat, Alen membuka kacamata hitamnya. Sudut matanya mengerut menatap rumah yang seharusnya adalah miliknya.
Dengan langkah yang perfect, Alen berjalan memasuki rumah tersebut.
Ceklek
Semua mata tertuju ke arah Alen yang bisa membuka pintu rumah yang terkunci itu.
"Mas Alen," kata mereka serempak. Spontan, mereka berdiri dan memberi hormat pada mantan tuan mudanya itu.
Alen tersenyum sinis dan berjalan menghampiri mereka yang masih tunduk kepadanya.
"Mana boss kalian?" tanya Alen duduk seraya menyilangkan kedua kakinya. Tatapan matanya yang tajam membuat mereka tak mampu mendongakkan kepala. Ia tersenyum sinis melihat mereka yang memainkan bahasa tubuhnya untuk berdiskusi menjawab pertanyaannya.
"Aku tak menyangka, kalian juga terlibat dalam aksinya!" ujar Alen tersenyum sinis melihat mereka mendongak secara serempak.
"Mas Alen ...," kata mereka serempak dan terhenti saat tangan Alen mengkodenya untuk diam.
Alen beranjak dari duduknya. Ia menghela nafas dan mengitari para mantan bodyguardnya itu.
"Mas Alen, kami terpaksa melakukannya, Mas!" kata Roy menjelaskan alasannya untuk ikut pak Lukman.
Di kamar, Naya tak berhenti mencari cara untuk kabur dari tempat yang telah mengurung dirinya. Jari jemari tangannya terus mencari celah jendela kamar yang terkunci rapat.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Haruskah aku menikah dengan tua bangka itu?" gumamnya menangis tertunduk di lantai dekat jendela.
Prank
Suara pecahan kaca mengejutkan Naya. Ia mendongak dan mencari suara pecahan kaca tersebut.
Naya berdiri dan menempelkan telinganya tepat di balik pintu.
Alen kalap. Ia tak berhenti menghajar kelima mantan bodyguardnya itu hingga babak belur.
"Ampun, Mas!" ucap Roy seraya memegang bibirnya yang penuh luka lebam.
"Bangun!" Alen menarik kerah Roy dengan satu tangannya. Matanya yang tajam membuat mereka tak berdaya.
"Bilang sama boss kamu untuk datang menemuiku!" ketus Alen melepas Roy dan pergi begitu saja.
Naya mengernyitkan dahi seraya menoleh ke arah jendela kaca yang ada di kamar tersebut.
"Bagaimana bisa aku tak berpikir untuk memecahkannya," gegas Naya menarik kursi rias yang berada di sampingnya.
Sejenak, Naya meletakkan kursi itu kembali. Tangannya gemetar seraya memegang kepalanya yang mulai pusing.
"Kanaya, come on! Please, Jangan pingsan sekarang!" Naya menarik nafasnya dalam-dalam dan kembali mengangkat kursi itu dengan sekuat tenaganya.
Prank
Semua mata tertuju ke arah kamar yang di tempati Kanaya. Mereka saling tatap satu sama lain dan bergegas menuju kamar tersebut.
Ceklek
Semua mata terperangah melihat Naya yang berhasil keluar lewat jendela kamar.
"Nona!" teriak Roy berlari mengejar Naya.
Tepat di depan mobil, Alen menopangkan kedua tangan di dada. Kedua matanya tak berhenti menatap ke arah rumah yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri.
"Bisa-bisanya dia mengambil rumah kesayanganku," kata Alen menghela nafas panjang.
Alen menoleh saat mendengar hentakan kaki yang menuju ke arahnya. Ia mengerling melihat seorang wanita yang berlari menghindari kejaran Roy dan kawan-kawan.
"Nona ... tunggu!" Teriakan Roy yang begitu memekik telinga.
"Ya Tuhan, kepalaku," kata Naya terhenti seraya memegang kepalanya. Pandangannya mulai buram. Ia menatap ke atas yang terlihat mulai gelap.
Dan
Buk
Naya terjatuh tepat di pelukan seseorang. Sosok lelaki yang mengenakan jas hitam terlihat begitu samar dalam penglihatannya.
"Tolong aku!" lirih Naya terkulai lemas tak sadarkan diri.
Buk
Naya terjatuh tepat di pelukan seseorang. Sosok lelaki yang mengenakan jas hitam terlihat begitu samar dalam penglihatannya.
"Tolong aku!" lirih Naya terkulai lemas tak sadarkan diri.
Alen mengernyit. Kedua matanya tak berhenti mengerjap melihat paras cantik dan polos yang di miliki oleh Kanaya. Wajahnya yang putih bersih, hidungnya yang mancung, bibir merah mungilnya membuat Alen teringat sosok wanita yang ia kenal.
"Wanita ini?" tanya batin Alen menyapu rambut Naya yang sedikit menutupi wajahnya.
Sesaat, pandangan Alen beralih ke arah Roy dan kawan-kawan. Alen menghela nafas panjang melihat mereka berulah lagi di hadapannya.
***
Di rumah, Alen menyandarkan kepala tepat di bahu kursi putarnya. Kedua matanya terpejam seraya mengingat kembali perkataan yang keluar dari mulut Roy.
"Maaf, Mas Alen. Tolong serahkan wanita itu pada kami!" kata Roy dengan hati-hati.
Alen tersenyum sinis. Untuk pertama kalinya, ia mendengar Roy minta tolong kepadanya."Berapa banyak hutangnya?" tanya Alen dengan tegas.
"Maaf, Mas. Kata pak Lukman wanita ini ...!"
"Aku akan melunasi hutangnya. Berapapun itu!" ketus Alen yang membuat mereka saling menatap satu sama lain.
Kedua mata Alen mulai terbuka saat Surti, sang asisten rumah tangganya memanggil dirinya.
"Maaf, Mas. Ini tas milik nona cantik," ujar Surti menyerahkan tas yang ia ambil dari mobil.
"Taruh saja di sana!" perintah Alen menunjuk ke arah meja yang berada di samping televisi.
"Baik, Mas!" Surti meletakkan tas milik Kanaya sesuai dengan perintah majikannya tersebut.
Alen beranjak dari tempatnya dan pergi menuju ke arah tempat di mana Naya berada.
Surti mengernyit. Untuk pertama kalinya, Surti melihat sang majikan membawa seorang wanita ke rumah megah bak istana itu.
"Apa nona cantik itu pacarnya mas Alen?" tanya Surti berpikir seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal."Tapi, menurut berita di tv bukankah mas Alen tak tertarik dengan wanita?" tanya Surti seorang diri.
Ceklek
Alen membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Kedua kakinya melangkah menghampiri Naya yang masih terbaring lemas tak sadarkan diri. Ia tak menyangka, wanita yang ia tolong adalah korban dari tindakan mantan ayah tirinya.
"Bisa-bisanya dia berbuat sejauh itu! Apa dia belum puas dengan apa yang ia perbuat pada bunda?" tanya batin Alen menggerutu tiada henti. Ia sangat kesal mengingat masa lalu pahit saat ia masih satu rumah dengan pak Lukman.
"Siapapun kamu, aku sudah memilih dirimu untuk menjadi pasanganku!" kata Alen.
****
Keesokan harinya, Naya mulai membuka kedua matanya secara perlahan. Ia mengernyip saat sinar matahari menyilaukan kedua matanya. Perlahan, ia mulai terbangun dan terkejut saat dirinya berada di kamar yang sangat asing baginya.
"Di mana aku? Apa mereka berhasil menangkapku?" tanya Naya memegang kepalanya yang masih pusing. Sejenak, ia mulai mengingat kejadian sebelum ia jatuh pingsan tak sadarkan diri.
"Tolong aku!" Kata-katanya yang teringat jelas di benaknya.
"Ya Tuhan, siapa orang yang menolongku? Wajahnya sama sekali tak jelas. Apa orang itu pak Lukman?" tanya Naya menebak. Bibirnya melipat dan terkejut saat gagang pintu kamar tersebut bergerak.
Ceklek
Pintu kamar mulai terbuka. Naya tak berhenti mengerjap saat melihat kedatangan orang yang sangat di gemari oleh adik tirinya berjalan menghampiri dirinya.
"Bukankah? Dia?" tanya batin Naya seakan tak mampu menegak salivanya sendiri. Ketampanannya, gayanya yang berkelas membuat Naya tak mampu berpaling. Seperti apa yang di bilang Laura, Alen memang sangat tampan, cool san begitu perfect.
"Apa dia orang yang menolongku?" tebak Naya tersenyum tipis. Ia tak menyangka, jika orang yang menolong dirinya dari pak Lukman adalah seorang pembalap terkenal itu.
"Siapa nama kamu?" tanya Alen melempar berkas tepat di depan Kanaya.
Senyum Kanaya memudar begitu saja. Ia tak habis pikir jika orang yang sempat menjadi pahlawan untuknya mempunyai sifat yang begitu kasar dan begitu angkuh. Tak seperti apa yang ia dengar dari mulut adik tirinya.
"Apa kamu tak punya nama?" ulang Alen memicing menatap wajah polos Naya.
"Sa-ya Grizela Kanaya Inzen. Tapi, semua orang memanggil sa ...," kata Naya terhenti saat Alen mengkodenya untuk diam.
"Bacalah kontrak perjanjian itu dan segera tanda tangani!" perintah Alen yang membuat Naya terkejut setengah mati. Ia tak menyangka, semua kata-kata yang terlontar dari mulut Alen tak ada kelembutan sama sekali.
Naya melirik Alen yang terus menatap dirinya dengan penuh kebencian. Bibirnya melipat dan mulai mengambil beberapa berkas yang bercecer di atas tempat tidurnya. Kedua matanya mengerling menatap kontrak perjanjian yang tertuju padanya.
"Kontrak perjanjian?" tanya Naya bingung mendongak melihat Alen yang tersenyum sinis ke arahnya.
"Di dunia ini tak ada yang gratis. Kemarin, Kamu sudah membuat saya mengeluarkan uang yang sangat fantastis. Dan sekarang, saya ingin minta pertanggungjawaban dari kamu!" tutur Alen membuat Naya semakin bingung.
"Pertanggungjawaban? Pertanggungjawaban apa?" tanya Naya mengernyit seraya berpikir.
"Apa kamu tidak merasa ada masalah sebelum bertemu dengan saya?" Pertanyaan Alen yang membuat Naya teringat akan masalah hutang ayahnya.
Tanpa banyak buang waktu, Naya membuka isi dari surat perjanjian yang kini berada di atas tangannya.
Naya terbelalak kaget dengan isi surat perjanjian tersebut. Ia tercengang dan tak percaya jika ia harus mempertanggungjawabkan itu semua di dalam surat perjanjian yang akan membuat masa depannya benar-benar hancur.
"Menikah kontrak?" tanya Naya memastikan.
"Iya! Hanya itu yang saya inginkan dari kamu. Menikah sampai lima tahun!" tutur Alen memperjelas ucapannya.
"Lima tahun?" Naya menegak salivanya dengan paksa. Kedua matanya mengerling menatap Alen yang mulai berjalan menghampiri dirinya.
"Heh, kamu pikir selama lima tahun kamu bisa melunasi hutang kamu padaku?" tanya Alen yang membuat Naya tak mampu membantahnya."Itu tidak akan mungkin. Meskipun seumur hidupmu bekerja untuk melunasinya, kamu tidak akan mungkin sanggup melunasinya," tutur Alen seraya membungkukkan tubuhnya.
Senyum sinis yang tertoreh membuat Naya terdiam seribu bahasa. Ia tak habis pikir akan terperangkap di lubang yang sama. Pilihan yang sudah pasti akan menghancurkan masa depannya.
"Persiapkan dirimu! Nanti malam saya akan memperkenalkan kamu dengan keluarga saya!" kata Alen pergi begitu saja.
Naya menghela nafas panjang. Senyum manisnya tertoreh mengimbangi air mata yang menetes membasahi pipinya.
"Haruskah hidupku selalu terbayang-bayang dari hutangnya ayah?" tanya Naya seraya melempar surat perjanjian yang ada di tangannya.
Naya merebahkan tubuhnya kembali dan membenamkan wajahnya di dalam selimut. Isakan tangisnya pecah dengan apa yang telah terjadi padanya.
"Mama Dina, aku tak akan pernah memaafkanmu!" gumamnya sesegukan.
*****
Buk
Pukulan keras mengenai wajah para bodyguard pak Lukman. Untuk pertama kalinya, pak Lukman gagal menjalankan aksinya.
"Bagaimana bisa kalian menyerahkan wanita itu pada orang lain. Kalian tau! Saya sudah mengincarnya semenjak dia masih duduk di bangku SMA!" ketus Pak Lukman yang tak terima dengan apa yang terjadi.
"Maafkan kami, Pak!" jawab mereka serempak.
Sesaat, pak Lukman mengernyit heran. Ia sangat penasaran dengan orang yang membayar semua hutang Kanaya secara cash.
"Siapa orang yang membayar semua hutang Kanaya?" tanya pak Lukman menatap mereka yang saling menatap satu sama lain.
"Kenapa diam!" bentak pak Lukman dengan amarah yang memuncak."Siapa dia?"