Bab 2

Mata Celine melebar, raut wajahnya berubah merah sambil mengepalkan tangannya. Celine langsung saja mematikan sambungan video callnya.

“Argh!” jerit Celine sambil melemparkan benda ponselnya ke ranjang dan menjambak rambutnya secara kasar.

“Kurang ajar kamu, Alister! Ku pikir setelah aku mau menikah lagi kamu akan beruba!” sambung Celine dengan nafas yang memburu.

Celine berkacak pinggang dengan sebelah tangan sambil berjalan kekanan dan kiri, dia berusaha tenang. Namun, tiba-tiba saja Celine terkejut saat membalikkan tubuhnya dan Jonathan sudah berdiri sambil bersedekap.

Celine mengangkat sudut bibirnya.” Apa yang kamu lihat, hah? Pasti kamu sudah dengar bukan?Oh, atau memang sengaja ingin menertawakanku?” cecar Celine menertawakan dirinya sendiri yang begitu menyedihkan.

Jonathan hanya diam menatap lekat wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya itu. Ada rasa iba di dalam hatinya. Namun, Jonathan tidak bisa mengatakannya.

“Dasar aneh,” bisik Jonathan ditelinga Celine, dan berjalan duduk di atas ranjang.

Amarah Celine semakin memuncak, dia menyusul Jonathan dan berdiri sambil berkacak pinggang.

“Huft! Sebenarnya apa motif mu menikahiku, Jo? Apa yang ditawarkan oleh Alister kepadamu? Rumah, mobil, uang, jabatan atau apa?” Celine semakin penasaran kepada suami keduanya itu.

“Kenapa kamu begitu ingin tahu, Celine? Sekarang kita jalani saja semuanya, biarkan aku dengan privasiku dan aku akan begitu juga kepadamu. Bukankah yang terpenting kamu hamil dan melahirkan, setelah itu kita sudah tidak ada hubungan lagi,”Jonathan berusaha menegaskan kepada Celine.

Celine semakin frustasi, ide gila ini sungguh membuat Celine muak. Apalagi saat dia melihat Alister–suami yang sangat dia cintai sedang bersama dengan Morgan–kekasih sesama jenis Alister dan itu membuat sudut hati Celine semakin nyeri.

Celine menghempaskan bokongnya tepat di sebelah Joantahan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Apa sebenarnya salahku? Kenapa kalian semua tega melakukan ini kepadaku?” Celine terisak, dia sudah tidak bisa lagi menahannya.

Jonathan menoleh, dia merasa iba kepada wanita yang baru saja menjadi istrinya itu. Jonathan tidak bisa melihat wanita menangis. Dengan ragu-ragu, Jonathan merangkul tubuh Celine dan meletakkan kepalanya ke dada bidang Jonathan.

“Menangislah, luapkan semuanya agar hatimu lega,” ujar Jonathan sambil mengusap kepala Celine dengan begitu lembut.

Celine merasakan kehangatan di hatinya. Baru pertama kali ada lelaki yang bersikap lembut kepadanya.

“Apakah aku ini sangat buruk, Jo? Sampai-sampai suamiku sendiri tidak tertarik dan lebih memilih berhubungan dengan sesama jenis?” tangis Celine semakin pecah, suaranya juga terdengar begitu serak.

Jonathan tidak menjawab, dia membiarkan Celine mengungkapkan semua isi hati dan kesedihan yang selama ini di pendamnya.

"Sungguh sangat menyedihkan hidupku. Suamiku sendiri dengan tega meminta aku menikah lagi dan melakukan hubungan badan dengan lelaki lain ..." ucapan Celine terhenti ketika tiba-tiba Jo mengecup lembut bibirnya.

Mata Celine membulat sempurna, tubuhnya terdiam bak patung manekin.

Sepersekian detik kemudian, Celine sadar dan mendorong tubuh Jonathan sambil memukul dada bidangnya. "Jangan kurang ajar kamu, Jo!" hardik Celine dengan wajah memerah salah tingkah.

Jo menaikkan sudut bibirnya. "Kurang ajar dari mananya, Celin? Bukankah lebih kurang ajar kamu yang tadi memaksaku?” ledek Jonathan berusaha menutupi rasa malunya.

"Bukankah kamu juga menikmatinya? Jangan munafik kamu, Jo?" Celine terbakar amarah, dia tidak suka dengan ucapan Jonathan yang menurutnya merendahkan.

Mendapatkan pukulan telak membuat Jonathan malu, dia kemudian mengambil pakaian dan mengenakannya lalu keluar dari kamar tersebut.

“Mau kemana kamu, Jo? Jangan pergi, dasar pengecut! Akh … !” jerit Celine dengan nafas yang memburu.

Celine memutuskan untuk tidur agar bisa meredam amarahnya. Namun, sudah satu jam lebih Celine belum bisa memejamkan matanya, dia pun memutuskan untuk bangun dan keluar untuk mencari udara segar.

Celine meninggalkan penginapan presiden suite tempat dia menginap yang berada di pinggir kota. Dia berjalan-jalan di sekitar area itu, mencari tempat yang tenang. Saat dia berjalan melewati sebuah taman, Celine secara tidak sengaja melihat Alister – suaminya sedang bermesraan dengan Morgan–pasangan sesama jenis Alister.

“Itu bukannya Alister, ya? Kenapa dia ada disini? Dan itu Morgan … shit!”

Pemandangan itu membuat Celine terkejut dan hatinya terasa hancur. Rasanya seperti dunia di sekitarnya runtuh. Dia merasa terkhianati dan tidak bisa memahami mengapa Alister melakukan hal ini. Perasaan cemburu dan kecewa bercampur aduk di dalam dirinya.

Dengan langkah cepat, Celine menghampiri kedua pasangan yang sedang di mabuk asmara itu. Celine menubruk tubuh Morgan, hingga membuat lelaki itu sedikit terhuyung. “Brengsek! Minggir, jangan dekat-dekat dengan suamiku!”

Alister menatap tajam kearah Celine, dia tidak suka jika istrinya itu bersikap kasar apalagi kepada Morgan– kekasih yang sangat dicintainya itu.

Celine berkacak pinggang dengan nafas yang memburu dan wajah. Celine susah payah menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia tidak mau terlihat lemah dihadapan Alister.

"Alister, apa maksudnya semua ini? Bukankah kau berjanji jika aku mau menikah kamu akan berubah? Lalu, kenapa sekarang kamu justru bersama dengan laki-laki jadi-jadian ini?" Bentak Celine dengan amarah yang membuncah.

Plak …

Satu tamparan mendarat di pipi mulus Celine sehingga membuat wanita beriris coklat itu terkejut. Sedangkan Morgan tersenyum mengejek ke arah Celine sambil memegang lengan Alister.

“Maaf,” lirih Alister penuh sesal, dia menyesal sudah menampar Celine. Namun, Alister juga tidak suka jika istrinya itu berkata kasar seperti itu kepada Morgan.

“Kamu menamparku, Alister? Inikah balasanmu kepadaku? Hanya demi laki-laki letoy ini kamu tega berbuat kasar?” lirih Celine dengan air mata yang sudah tidak dapat dibendung lagi.

Alister hanya menghela nafas panjang, dia merutuki dirinya sendiri yang sudah bodoh memukul wanita yang saat ini masih sah menjadi istrinya itu.

“Kau, laki-laki tidak tahu malu! Apakah tidak ada orang lain lagi? Kenapa harus suamiku yang kamu mau?” Celine menunjukkan jarinya ke arah Morgan.

“Celine, sudah. Jangan seperti ini, malu dilihat orang,” Alister berusaha berkata lembut.

“Apa, malu kamu bilang, Alister? Kenapa baru sadar sekarang jika kelakuanmu ini sangat memalukan!” Celine sudah lepas kendali, hari ini dia menuangkan semua rasa marah dan kecewanya.

“Cukup, Celine!” Alister melayangkan tangannya di udara hendak menampar Celine lagi. Namun, itu semua terhenti ketika ada yang memegangnya. “Jangan kasar sama wanita, tuan. Dia itu istrimu!” Jonathan berkata dengan nada penuh penekanan.

Celine yang awalnya memejamkan mata langsung membukanya lagi. Ada rasa senang melihat Jonathan datang membelanya. Akan tetapi, Celine dibuat kecewa oleh Jonathan yang menurutnya bersekongkol dengan Alister dan Morgan. “Ayo, malu dilihat orang! Kamu ini wanita jangan bar-bar!” ajak Jonathan.

Jonathan menarik tangan Celine membawa istrinya itu menjauh. Celine yang masih sangat emosi langsung saja menarik tangannya secara kasar.

“Lepas! Apa maksudmu mengatakan aku bar-bar, ha!” Hidung Celine kembang kempis dengan mata melebar sempurna.

Jonathan menggelengkan kepalanya, dia juga tidak tahu apa yang sebenarnya dia lakukan. Mengapa dia datang membela tapi setelah itu justru menjatuhkan Celine.

“Oh, kamu sekongkol dengan suamiku dan Morgan, ya? Atau kamu sama saja seperti mereka?” tuduh Celine menelisik.

Bab 3

“Jangan bicara sembarangan kamu, Celine. Aku berbeda dengan suami aneh mu itu,” sangkal Jonathan yang masih berusaha sabar menghadapi istrinya itu.

“Oh iya, jadi aku harus percaya kepadamu? Alister saja yang sudah dua tahun menikah dengan ku tidak dapat aku percaya. Lalu kenapa aku harus percaya kepadamu,” cebik Celine sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

Jonathan tidak habis pikir kepada Celine. Mengapa istrinya itu bisa berpikir demikian, padahal baru saja mereka melakukan pergumulan panas. Atau karena bukan dirinya yang meminta duluan sehingga membuat Celine tidak yakin.

Celine menaikkan sudut bibirnya dengan memutar bola matanya. “Kenapa kamu diam,hah? Ma … ” ucapan Celine terhenti ketika Jonathan memagut bibirnya begitu keras dan cukup lama sehingga membuat Celine susah untuk bernafas.

Celine berusaha memberontak dan mendorong tubuh Jonathan. Namun, lelaki itu tidak bergeming dan terus saja memainkan bibir Celine. Dengan sekuat tenaga Celine memukul dada bidang suami keduanya itu.

Sepersekian menit kemudian, Jonathan juga merasa kehabisan nafas dia melepaskan pagutan bibirnya dan menatap lekat wajah Celine sambil memegang kedua pipi sang istri.

“Apakah kamu masih meragukan aku, Celine?” Jonathan menaik turunkan alisnya.

Wajah Celine memerah, dia menjadi salah tingkah. Namun, Celine tidak mau menampakkannya kepada Jonathan.

“Mungkin … hanya ciuman biasa. Semua orang bisa melakukan itu, tapi bukannya tadi kamu menolak ku dan aku sendiri yang berinisiatif melakukan malam pertama kita,” Celine tidak mau kalah dihadapan suami keduanya itu.

Jika selama ini Celine selalu mengalah dan berusaha untuk baik di hadapan Alister. Akan tetapi, kali ini Celine tidak mau seperti itu kepada Jonathan– lelaki yang dibayar oleh Alister untuk menikahinya dan membuat dirinya hamil.

“Kamu dibayar oleh Alister, mungkin saja kamu melakukan itu semua hanya demi kewajiban saja,” Celine semakin menyudutkan Jonathan–suami keduanya itu.

Jonathan menghela nafas secara kasar sambil tersenyum penuh dengan kecewa. Tanpa basa-basi Jonathan menggendong Celine seperti membawa karung beras.

“Aku akan buktikan, Celine. Lihat saja, agar kamu tidak menyamakan aku dengan suami letoy mu itu,” Jonathan terus berjalan menuju kamar penginapan mereka.

Celine memberontak dan memukul punggung Jonathan sambil berteriak minta turun. Namun, Jonathan tidak mendengarkan, dia dengan santai berjalan dan tersenyum kepada orang yang menatap heran.

“Dia ini istri saya, dia lagi ngambek,” Jonathan menjelaskan kepada semua orang yang melihatnya.

Dari kejauhan Alister bisa melihat Celine dan juga Jonathan, dia menatap sambil menautkan alisnya. Sedangkan Morgan masih bergelayut manja di tangannya seakan tidak takut dilihat oleh orang banyak.

"Mereka mesra ya, sayang. Istrimu itu munafik, pura-pura tidak mau tapi nyatanya malah bermesraan di depan umum,” Morgan berusaha mengompori Alister yang saat ini tengah memandang dengan tatapan tidak suka ke arah Celine dan Jonathan.

Entah mengapa ada rasa tidak nyaman saat melihat sang istri begitu bahagia dengan laki-laki lain. Sudut hati Alister terasa nyeri menyaksikannya.

“Apakah kamu cemburu, sayang?” tanya Morgan saat melihat tatapan Alister yang tidak biasa kepada istrinya.

Alister mendengus kesal, dia tidak menjawab ucapan Morgan dan Alister memilih untuk berlalu pergi dengan perasaannya yang tidak menentu itu.

Bagaimana tidak, selama ini Celine selalu nempel dan tidak pernah jauh darinya. Celine selalu memanjakan dirinya dengan penuh kasih sayang. Akan tetapi, justru Alister tidak pernah menghargainya.

“Kenapa kamu pergi, Alister! Jangan bilang kalau kamu cemburu dan ingin mengejar mereka!” teriak Morgan dengan menghentak-hentakan kakinya kesal.

“Berhenti! Turunkan dia, Jo!” seru Alister dengan nada tinggi sehingga membuat Jonathan menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah Alister dengan tajam.

Celine tersenyum melihat Alister datang diwaktu yang tepat. Namun, Celine kembali kesal kala Jonathan tidak menurunkannya.

“Turunkan aku, Jo! Apakah kamu tidak dengar apa kata Alister!” Bentak Celine bersungut-sungut penuh amarah.

Jonathan akhirnya menurunkan tubuh mungil wanita beriris coklat itu. Celine menjulurkan lidahnya, mengejek Jo dan merasa senang.

Raut wajah Celine seketika berubah, dia mengerutkan keningnya. Bagaimana tidak baru saja dia merasa bahagia dengan kehadiran sang suami. Namun, kini datang pengganggu yang tidak lain adalah kekasih suaminya.

“Ngapain kamu bawa dia kesini?” ketus Celine dengan nafas yang memburu menahan rasa cemburu dan amarahnya.

Seandainya saja kekasih Alister itu perempuan mungkin Celine tidak akan merasa direndahkan seperti ini. Alister tidak menjawab, dia hanya diam mematung melihat ekspresi sang istri yang tiba-tiba berubah.

“Kamu, kenapa datang kesini laki-laki jadi-jadian?” Celine balik bertanya ke arah lelaki yang menggandeng lengan Alister dengan begitu mesra itu.

Morgan tidak menjawab, dia hanya memutar bola matanya malas sambil mencebikkan bibirnya.

Jonathan menahan tawanya saat Celine mengatakan hal itu kepada Morgan. Namun, dia tidak mau menambah suasana menjadi semakin panas.

“Aku hanya ingin mengingat kepada kalian. Jangan sembrono dan bermesraan di luar, aku tidak mau ada orang lain tahu dengan pernikahan kalian ini!” peringat Alister dengan tatapan dingin dan suara baritone nya.

“Jadi kamu datang kesini hanya ingin mengatakan itu, Alister?Ayo, Jo. Kita masuk, nggak penting ngeladenin orang seperti mereka!” Celine menarik tangan Jonathan melewati lorong penginapan yang tampak sepi itu.

Alister masih penasaran, dia kembali mengikuti Celine dan juga Jonathan. Sehingga Celine dan Jonathan pun sampai, kedua insan tersebut langsung saja masuk dan menutup pintu penginapan dengan sangat keras sehingga mengakibatkan suara dentuman yang begitu kencang.

Celine menghempaskan bokongnya diatas ranjang big size dengan amarah yang membara seakan ingin menerkam siapapun yang berani mengganggunya.

Jonathan masih berusaha menahan tawanya dengan ekspresi menjijikkan dari Morgan, apalagi saat Celine mengatakan bahwa morgan itu laki-laki jadi-jadian membuat Jonathan semakin tidak bisa tahan lagi.

Emosi Celine semakin memuncak kala dia melihat Jonathan yang seakan senang. “Apa yang kamu tertawakan, Jo? Apakah kamu senang melihat aku direndahkan oleh suamiku sendiri?” suara Celine menggelegar memenuhi kamar mewah tersebut.

Jonathan terperanjat kaget, dia sontak menoleh ke arah sang istri dengan perasaan salah. Lidah Jonathan seakan keluh tidak bisa menjawab pertanyaan dari Celine.

“Oh, atau mungkin ini hanya akal-akal kalian untuk memanipulasi keadaan agar aku benar-benar meninggalkan Alister! Apa benar begitu, Jo!” bentak Celine lagi, air matanya tidak bisa dibendung lagi. Hati Celine semakin sakit, ingin rasanya dia menghilang dan mengakhiri hidupnya yang menyedihkan.

Jonathan semakin merasa serba salah, apalagi saat dia melihat istrinya itu meneteskan air matanya. Karena, selama ini Jonathan paling tidak bisa melihat perempuan menangis.

Jonathan menghampiri Celine dan memeluk wanita tersebut berusaha untuk meredam amarah sang istri. Jonathan tahu apa yang dirasakan oleh Celine, dia ingin membantu wanita yang selalu tersakiti itu.

“Aku terima tawaranmu, Cel. Asalkan dengan satu syarat,” celetuk Jonathan yang membuat Celine berhenti dari tangisannya dan sedikit mendorong tubuh Jonathan agar terlepas dari pelukannya.

“Apakah kamu yakin, Jo? Aku tidak salah dengarkan?” Celine ingin memastikan ucapan Jonathan barusan.

Jonathan duduk tepat di sebelah Celine dan memegang kedua pundak wanita berparas cantik itu sambil menganggukkan kepalanya.

“Iya aku yakin. Akan tetapi, ada syaratnya,” jawab Jonathan meyakinkan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED