Bab 2

🏵️🏵️🏵️

Setelah tiba, Ratu segera turun dari mobil lalu memasuki kantor Revan dengan menenteng rantang di tangan kanannya.

Banyak mata tertuju ke arah wanita yang sekarang berstatus sebagai nyonya Revan tersebut. Mereka bahkan memberikan ucapan selamat pagi.

Ratu memberikan senyuman kepada karyawan yang berpapasan dengannya saat menuju ruangan Revan. Ia ingin tetap menunjukkan sikap keramahan di depan orang-orang yang mengenal suaminya.

Setelah tiba di depan ruangan Revan, Ratu segera mengetuk pintu lalu memasuki tempat kerja suaminya itu. Revan sangat terkejut melihat sang istri yang tiba-tiba muncul di depannya.

“Kamu ngapain ke sini?” Revan langsung melontarkan pertanyaan kepada Ratu.

“Aku mau ngantar ini, Mas. Tadi kamu nggak sempat sarapan. Aku nggak mau kalau kamu nggak konsentrasi kerja karena belum sarapan.” Ratu menunjukkan rasa peduli terhadap suaminya.

“Aku nggak butuh perhatianmu, jangan coba-coba merayuku.” Ratu justru mendapat balasan yang tidak terduga dari Revan.

“Untuk apa aku merayu kamu, Mas? Ini kulakukan karena kamu suamiku. Aku hanya ingin berusaha menjadi istri terbaik untukmu.”

“Tapi aku nggak pernah memintamu untuk bersikap layaknya seorang istri. Kamu harus ingat bahwa pernikahan kita hanya sebuah perjodohan dan aku tidak pernah menginginkannya.”

“Maaf jika aku membuatmu kecewa. Aku akan segera pergi.” Ratu segera beranjak meninggalkan ruangan Revan. Ia tidak lupa meletakkan rantang yang ia bawa di meja kerja laki-laki itu.

Walaupun Revan tidak menerima kehadiran Ratu, tetapi wanita itu merasa bangga karena telah berusaha menjadi istri yang ingin memberikan perhatian kepada suaminya. Ia merasakan kebahagiaan tersendiri karena hari ini dapat berkunjung ke kantor laki-laki yang ia cintai itu. Namun, sampai kapan ia akan tetap bertahan dan bersabar?

🏵️🏵️🏵️

Ratu membelah jalanan menuju kampus. Pagi ini, matahari sangat cerah, secerah hatinya. Ia merasakan kebahagiaan karena telah berusaha melakukan yang terbaik untuk suaminya.

Tidak henti-hentinya ia melebarkan senyuman mengingat reaksi Revan. Ia sadar kalau laki-laki itu menunjukkan sikap tidak ingin menerima kenyataan bahwa dirinya telah memiliki istri.

Ia kembali mengingat kejadian saat mereka melangsungkan acara perjodohan dan pertunangan lima tahun yang lalu. Ia sangat bahagia karena memiliki ikatan yang nyata bersama laki-laki yang ia cintai.

Akan tetapi, tidak dengan Revan. Pria itu sangat kesal setelah menyematkan cincin di jari manis Ratu. Wajahnya tidak dapat berbohong kalau ia sangat tidak mengharapkan pertunangan dan perjodohan dengan wanita yang kini telah resmi mendampingi hidupnya.

“Kamu kenapa, Mas?” tanya Ratu setelah acara pertunangan selesai.

“Kamu pasti udah tahu jawabannya!” jawab Revan dengan nada ketus.

“Maksudnya apa, sih, Mas?”

“Aku benci menghadapi sikap kepura-puraanmu!”

“Kenapa kamu begitu membenciku? Apa salahku?”

“Salahmu karena harus bertunangan denganku!”

“Ini keputusan orang tua kita. Lagi pun, aku juga mencintaimu.”

“Aku muak mendengar penjelasanmu!”

Revan tidak pernah bersikap baik di depan Ratu. Namun, jika sedang bersama orang tua mereka, ia tetap menunjukkan sikap seolah-olah dirinya tidak menolak perjodohan.

Ratu saat ini berpikir keras agar dapat meluluhkan hati Revan. Ia tidak rela jika pernikahan yang dijalani sekarang, akan berakhir dengan perceraian. Ia tidak ingin mempermainkan janji suci yang telah mereka ucapkan.

Baginya yang terpenting saat ini adalah terus berusaha melakukan kewajibannya sebagai seorang istri walaupun ia tidak dianggap. Ia berjanji pada diri sendiri agar menjadi seseorang yang berguna untuk suaminya.

Lima belas menit menempuh perjalanan, akhirnya Ratu tiba di kampus tempat ia menuntut ilmu. Dari kejauhan, berdiri dua sosok yang selalu memberikan dukungan kepadanya. Mereka adalah Bimo dan Cinta, sahabat terbaiknya semenjak duduk di bangku SMA.

Ratu segera memarkirkan Toyota Yaris putih miliknya lalu turun, kemudian menghampiri kedua sahabatnya. Bimo sudah lama memendam rasa terhadap Ratu. Namun, perasaan itu ia simpan rapat-rapat karena dirinya bukan pilihan sang pujaan hati.

“Pagi.” Ratu langsung menyapa sahabat-sahabat terbaiknya itu.

“Pagi, Neng,” balas Bimo dengan panggilan khusus yang telah lama ia berikan kepada Ratu.

“Tumben datangnya agak siangan.” Cinta sangat hafal kebiasaan sahabatnya yang selalu lebih awal tiba di kampus.

“Tadi mampir sebentar ke kantor Mas Revan,” ucap Ratu.

“Cie, yang udah jadi istri, perhatian banget sama suami.” Cinta menggodanya.

Wajah Bimo langsung mengalami perubahan saat Ratu menyebut nama Revan di depannya. Ia belum mampu sepenuhnya menerima kenyataan kalau wanita yang ia dambakan itu, kini telah resmi menjadi istri orang lain.

==============

Bab 3

🏵️🏵️🏵️

“Kopinya diminum dulu, Mas.” Ratu menyodorkan segelas kopi di meja ruangan TV kepada Revan.

Malam ini, Revan sedang menikmati waktu istirahat setelah lepas dari banyak kegiatan di kantor. Ia lebih memilih duduk di sofa ruang TV sambil menyaksikan acara kesukaan yang selalu ia tunggu-tunggu.

“Nggak usah sok perhatian. Kenapa harus kamu yang buatin? Kan, ada Bi Inah.” Revan tetap menunjukkan sikap tidak suka di depan Ratu.

“Aku pengen buatin kopi khusus untuk suamiku.”

“Tapi aku nggak butuh. Kalau aku mau, tinggal minta Bi Inah aja yang buatin.”

“Kamu aneh, Mas. Kamu nggak suka denganku, bukan berarti kamu juga harus membenci kopi buatanku.”

“Apa pun yang berhubungan denganmu pasti aku benci!”

“Iya, deh, aku menjauh. Yang penting kamu minum kopinya.”

Ratu akhirnya beranjak dari ruang TV. Ia tetap ingin bersikap sabar di depan Revan karena telah berjanji akan menjadi istri yang bisa membuat sang suami bahagia.

Keberadaannya di dekat Revan akan membuat hati laki-laki itu makin membencinya. Ia menjauh bukan berarti menyerah. Semua itu ia lakukan agar tidak terjadi perselisihan yang hampir tiap hari Revan ciptakan.

Ia menghempaskan tubuh ke tempat tidur miliknya dan Revan, walaupun kenyataan kalau mereka belum pernah merasakan tidur seranjang. Revan selalu menghindar dan memilih tidur di sofa setiap malam.

Pernikahan tanpa adanya cinta di hati Revan telah membuat Ratu menjadi wanita yang belum mampu menjadi istri seutuhnya. Ia hanya berharap dan berusaha agar suaminya membuka diri dan dapat menerima pernikahan mereka.

Ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan Revan walaupun ia sangat sedih dan terpukul menghadapi sikapnya yang tidak pernah mengharapkan pernikahan mereka.

Tanpa ia sadari, bening kristal telah jatuh dari pelupuk mata indahnya. Ia berusaha kuat di luar, tetapi sangat rapuh di dalam. Saat seperti ini, ia merindukan sosok orang tua yang selalu memanjakannya.

Satu jam kemudian, akhirnya Revan memasuki kamar. Ia segera meraih bantal, guling, dan selimut dari tempat tidur. Itu rutinitas yang ia lakukan setiap malam.

“Mas ….” Ratu meraih tangan Revan sebelum melangkah ke sofa.

“Lepasin! Ngapain pegang-pegang.” Laki-laki itu menepiskan tangan Ratu.

“Maaf ….” Ratu melepaskan genggamannya.

“Aku mau tidur.”

“Tunggu, Mas. Kamu tidur di sini aja.”

“Ngarep banget, ya, kamu tidur denganku.”

“Maksudnya bukan seperti itu.”

“Terus, maksud kamu apa minta aku tidur di sini?”

“Kamu tidur di sini, aku tidur di kamar tamu. Aku nggak tega lihat kamu tidur tiap malam di sofa, pasti nggak nyaman banget.”

“Bagus, deh, kalau kamu bisa mikir seperti itu. Sana! Keluar dari kamar ini, aku ngantuk.”

“Iya, Mas.” Ratu akhirnya meninggalkan kamar yang seharusnya mereka gunakan untuk memadu kasih layaknya sepasang suami istri.

Ia tidak peduli jika harus tidur terpisah dengan Revan. Saat ini yang terpenting baginya, melihat suaminya itu menikmati mimpi indah tanpa harus memikirkan dirinya yang dianggap sebagai pembawa penderitaan.

Ia bahagia karena telah mampu berbuat sesuatu yang dapat memberikan kesenangan kepada laki-laki yang telah menikahinya. Ia ingin tetap menunjukkan kebaikan dan perhatian kepada suami yang ia cintai.

Sekarang, ia dapat menikmati tidur dengan pulas tanpa harus memikirkan Revan yang harus berbaring tidak nyaman di sofa. Ia seketika melupakan sikap kasarnya. Ia justru mengingat wajah bahagia suaminya saat menaiki ranjang.

Rasa bahagia itu tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata. Besarnya cinta yang ia miliki kepada Revan, mampu mengubah kesedihan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu memberikan kebahagiaan kepada suaminya itu.

Revan telah berhasil membuat Ratu menjadi wanita yang lebih sabar dan kuat. Ratu tidak pernah menyesal karena mencintai laki-laki yang tidak pernah menganggap bahkan tidak mengharapkan dirinya. Namun, ia tidak tahu sampai kapan suaminya itu membuka diri untuknya.

==============

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED