"Aku harus bagaimana?!" keluh Arlando Meshach tanpa sadar.
Meski sudah umur 27 tahun, pria tampan itu tidak pernah tahu rasanya berpacaran.
Sayangnya, kedua orangtuanya sudah mengultimatum agar secepatnya menikah kalau tidak ingin semua fasilitas kemewahan yang selama ini dinikmatinya dicabut sang Papi yang tak lain adalah pemilik perusahaan yang selama ini dipimpinnya, Gold Star corp.
"Pokoknya, Papi dan Mami tidak mau tahu! Dalam waktu tiga bulan ke depan, kamu harus membawa calon istrimu ke rumah! Titik!" ucap sang Papi tegas menatap tajam wajah Arlando yang terduduk lemas.
"Tapi Papi, bagaimana mungkin, aku bisa membawa calon istri kalau pacar saja aku tidak punya!" jawab Arlando kesal. "Papi pikir, mencari istri itu gampang seperti memungut sampah di jalan?!"
Mami hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kalian ini seperti air dan minyak, tidak bisa bersatu. Heran deh, apa tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik dan kepala dingin?!"
"Anakmu ini dari tadi terus saja membantah ucapan Papi. Cuma diminta cari istri, susahnya minta ampun! Percuma punya wajah ganteng, cari satu biji wanita saja tidak bisa!" ledek Papi.
"Papi pikir, mencari satu biji wanita bisa dengan mudah didapatkan seperti menjentikkan jari?! " ucap Arlando mendelik. "Papi ini kekanakan banget!"
"Eh! Kamu yang kekanakan, masa mencari satu biji wanita saja, Papi harus turun tangan! Memimpin perusahaan besar saja bisa, tapi cari satu biji wanita tidak bisa!" Papi semakin meledek.
Arlando mendengus kesal melihat pria yang sangat dihormati dan disegani dirumahnya ini. "Bicara itu gampang, tapi prakteknya sulit!"
"Mau gampang, mau sulit, pokoknya Papi tidak mau tahu, kalau dalam waktu tiga bulan kamu tidak bisa membawa calon mantu buat Papi dan Mami," Papi menjeda kalimatnya, menatap tajam pada putranya. "Semua fasilitas kemewahan yang kamu dapatkan selama ini akan Papi cabut. Titik!"
"Papi tidak adil! Masa hanya gara-gara satu biji wanita, aku yang jadi korban?!" Protes Arlando tidak terima.
"Satu biji wanita, satu biji wanita!" celetuk Mami memotong perdebatan suami dan putranya. "Ganti dong jangan biji! Tidak enak didengar! Dari jaman dahulu kala yang punya biji itu hanya kaum adam, bukan kaum hawa!"
Papi dan Arlando langsung melihat wanita yang duduk di antara mereka berdua. "Kalau bukan biji lalu apa?!" tanya keduanya bersamaan.
"Pikir sendiri! Biji, biji! Pokoknya yang punya biji itu kalian, kaum adam bukan kaum hawa," jawab Mami bangun dari duduk kemudian langsung pergi. "Lama-lama kepalaku pusing mendengar perdebatan kalian berdua yang tidak ada ujungnya."
Tak lama Papi juga bangun dari duduk. "Pokoknya, ingat apa yang Papi katakan tadi! Kamu hanya punya waktu 3 bulan untuk membawa calon mantu ke rumah ini! Kalau tidak bisa, nanti Papi akan menjodohkan kamu dengan putri teman Papi!" Selesai bicara, Papi pergi menyusul Mami ke kamar.
"Hah! Apa?!" Arlando langsung berdiri. "Aku tidak mau dijodohkan! Tuan besar Theo, ini bukan jaman Siti Nurbaya!" teriak Arlando menatap punggung Papi semakin pergi menjauh.
Tok tok tok!
Kilasan kejadian kemarin malam yang ada dalam memori Arlando langsung buyar begitu pendengarannya menangkap daun pintu kamarnya diketuk dan namanya dipanggil.
"Masuk Bi!" jawab Arlando sudah sangat hapal dengan suara asisten rumah tangganya.
Bibi masuk dengan membawa nampan berisi segelas air putih dingin dan beberapa camilan kue basah. "Tuan muda, ini ada kue basah."
"Taruh saja di atas meja Bi," Arlando tidak bersemangat langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Kenapa? Apa tuan muda sakit?!" tanya bibi heran melihat putra semata wayang majikannya terlihat kusut dan tidak bersemangat.
Tatapan Arlando jauh menatap langit-langit kamarnya. "Bi, apa bibi bisa bantu aku?!"
"Bantu apa?" tanya Bibi langsung berdiri di depan Arlando.
"Apa Bibi mau menikah denganku?!" tanya Arlando tanpa mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar.
"Hah! Apa tuan muda?!" tanya Bibi kaget, mimpi apa semalam sampai tuan muda mengajaknya menikah.
Arlando melihat wajah asisten rumah tangganya yang nampak kebingungan. "Bibi tidak mau menikah denganku?!"
"Tuan muda sehat-sehat sajakan?" tanya Bibi langsung memegang kening Arlando.
"Aku sehat Bi, tubuhku sangat sehat," jawab Arlando. "Hanya hatiku yang tidak sehat," sambungnya dengan nada sendu.
Bibi tersenyum. "Apa sakitnya tuan muda ini, ada hubungannya dengan permintaan tuan besar yang semalam?!"
"Bi, di mana aku harus mencari satu biji wanita?!" ucap Arlando dengan suara dan wajah memelas.
Bibi terkikik melihat wajah anak asuhnya yang sedih. "Hi-hi-hi."
"Bukannya bantu malah tertawa!" gerutu Arlando. "Bibi tertawa di atas penderitaan ku! Ya Tuhan, malang sekali nasibku! Di mana aku harus mencari satu biji wanita?!" Arlando semakin mendramatisir keadaan.
"Biji wanita itu harus dicari Tuan muda!" ucap Bibi. "Pergilah ke luar! Jalan-jalan di mall seperti anak muda yang lain atau nongkrong di cafe-cafe yang banyak dikunjungi gadis-gadis muda dan cantik!" Bibi begitu bersemangat memberi saran.
Arlando menatap bibi begitu intens. "Apa yang dikatakan si Bibi ini ada betulnya juga," ucap Arlando dalam hati. "Yes! Tidak ada salahnya, aku mencoba. Cafe? Rasanya, aku sudah lama tidak pernah ke cafe."
Melihat putra majikannya hanya diam tidak bicara apa-apa, tapi menatap begitu intens membuat si Bibi jadi ketakutan. "Tuan, tuan muda," panggil bibi. "Eh, kenapa dia? Kesambetkah?! Hih,,," Bibi bergidik takut lalu bergegas pergi meninggalkan putra majikannya.
......
Di sisi lain, air mata berjatuhan di pipi Qeiza.
Suaranya tercekat di antara tangis dan emosi yang tertahan menatap kekasihnya. "Keterlaluan kamu, Damar!"
"Kumohon! Dengarkan aku sebentar saja, Qeiza!" ucap Damar dengan wajah memelas.
Namun, Qeiza menepiskan tangan besar yang menahannya pergi. "Jangan sentuh aku! Kamu tidak punya hati. Kenapa kamu mengkhianati aku?!"
"Aku tidak mengkhianati kamu," jawab Damar membela diri. "Apa yang kamu dengar dari temanmu itu, semuanya bohong!"
Qeiza menatap tajam iris mata hitam kelam milik Damar. "Bohong?! Lalu, bagaimana dengan bukti video itu?!" tanyanya dengan suara serak.
"Video?" Damar menatap bingung wajah Qeiza.
"Kamu cek saja videomu itu nanti. Yang jelas, aku ingin putus." Selesai bicara, Qeiza langsung berlari pergi membawa hati yang telah hancur.
Damar sontak berlari mengejarnya.
"Apa maksud kamu, Qei?! Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi, itu tidak baik!" Damar mencoba menenangkan dengan meraih tangan Qeiza.
Sayangnya, Qeiza lagi-lagi menepis tangan pria itu. "Minggir! Aku tidak mau melihatmu lagi!"
Damar mengangkat kedua tangan sebagai tanda tidak akan menyentuh lagi. "Ok! Ok! Tapi dengarkan dulu semua penjelasanku sebentar saja."
"Menjelaskan kamu telah tidur dengan wanita lain?! Iya, Damar Bramantio!" ucap Qeiza galak. "Bagiku, apa yang telah aku lihat sudah cukup untuk bisa menilai betapa rendahnya kamu dihadapanku."
Damar mengernyitkan alisnya, tidak mengerti dengan apa yang Qeiza katakan. "Apa maksudmu?!"
Qeiza tersenyum sinis. "Lihatlah, siapa yang ada di belakangmu itu?! Gadis yang telah membuatmu berpaling dariku."
Damar langsung membalikkan tubuh untuk melihat siapa orang yang Qeiza maksud. Seketika wajahnya langsung memucat. "Ririn?"
"Hai!" Ririn tersenyum melihat Damar, tapi detik kemudian wajahnya langsung berubah sinis begitu melihat Qeiza.
"Se-sedang apa kamu di sini?!" tanya Damar langsung diselimuti kegugupan.
Ririn langsung berdiri di depan Damar. "Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kamu ada di sini."
Damar dengan cepat membalikkan tubuh melihat Qeiza. "Ini ...." Kalimatnya tercekat karena gugup.
Qeiza tersenyum sinis menatap Damar. "Ya. Silakan berbicara dengan wanita di videomu itu"
"Aku dan Ririn hanya berteman." Damar kembali berbicara. Tapi, dia merasakan tenggorokannya mendadak kering.
"Memangnya, kamu lupa dengan apa yang kamu katakan padaku beberapa hari yang lalu?! Kamu bilang, kita sepasang kekasih. Kamu bilang secepatnya akan membuang Qeiza Noura karena ....," Ririn menatap Qeiza dari atas sampai bawah dengan tatapan meledek, "Sangat kampungan! Norak dan juga bodoh!"
Sementara itu, Damar tampak panik. "Apa yang kamu katakan?! Ngarang kamu! Aku tidak pernah bicara seperti itu!" ucapnya lalu menarik tangannya dari tautan jemari Ririn.
Qeiza tertegun. Namun, dia menahan diri untuk tidak menangis. "I don't care! Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi!"
Setelahnya, ia pergi dari sana.
Teriknya sinar matahari tak menghalangi Qeiza berjalan cepat. Tujuannya hanya satu menuju sebuah cafe, di mana tadi sudah janji bertemu dengan temannya.
"Akhirnya, sampai juga. Gila, panas banget di luar, rasanya kulitku mau melepuh!" gerutu Qeiza setelah duduk.
"Dasar tuan putri! Panas begitu saja sudah mengomel!" celetuk suara pria tidak jauh darinya.
Qeiza langsung menoleh, wajahnya tertegun begitu menatap wajah pria tersebut.
"Hai, Qeiza Noura!" orang tersebut datang mendekat.
Qeiza tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. "Arlando! Arlando Meshach! OMG! Apa ini kamu?!" Qeiza langsung bangun dari duduk, melihat pria tinggi wajah blasteran yang ada di depannya dari atas sampai bawah. "OMG!"
"Yes! It's me," jawab Arlando, ada perasaan haru menyelinap masuk ke dalam hatinya begitu menatap wajah Qeiza.
"Aku ....," mata Qeiza berkaca-kaca. "Apa aku bermimpi?"
Apa yang dirasakan Qeiza, sama dengan apa yang dirasakan Arlando. "Kamu tidak sedang bermimpi. Ini aku, nyata! Sahabat kecilmu!"
Tanpa diduga, Qeiza memeluk erat tubuh Arlando. "Aku seperti sedang bermimpi bisa melihatmu lagi." Bulir air mata jatuh dari kedua kelopak mata. "Aku sangat merindukanmu. Berapa tahun kita tidak pernah bertemu? Aku sangat rindu, kamu hilang bagai ditelan bumi."
Arlando mengelus lembut punggung Qeiza. "Aku juga merindukan kamu, sahabat kecilku yang cengeng! Tapi sampai kapan kita akan berpelukan seperti ini? Malu dilihat orang, nanti disangkanya aku ngapa-ngapain kamu."
Qeiza melepas pelukannya dengan malu-malu. "Maaf."
"He-he," Arlando terkekeh melihat wajah Qeiza yang basah oleh air mata. "Dasar cengeng!" jari telunjuknya mencolek hidung mancung Qeiza.
"Kamu selama ini ada di mana? Aku mencarimu dari Utara ke selatan, dari timur ke barat, tapi tidak ketemu juga."
Arlando tertawa terbahak. "Ha-ha-ha. Tidak bakalan ketemu karena aku tinggal di planet lain yang sangat jauh dari bumi."
Qeiza tersenyum menatap wajah Arlando. "Kamu sangat berbeda sekali sekarang."
"O ya? Pasti sekarang, aku jauh lebih tampan. Iyakan?!" tanya Arlando sambil duduk.
Qeiza mencibir ikut duduk. "Percaya diri banget! Sekarang kamu jauh lebih tinggi! Sampai pegal leherku melihatmu! Apa selama menghilang, kamu makannya pohon bambu?!"
"Ha-ha-ha. Sembarangan!" Arlando menyentil kening Qeiza pelan. "Kamu pikir aku ini keturunan panda!"
"He-he-he," Qeiza ikut terkekeh, rasanya seperti mimpi bisa bertemu dengan sahabat kecilnya lagi.
TING!
Suara notif pesan masuk. Qeiza langsung mengambil ponsel dan membaca pesan yang tertera di layar. "Yaelah!" ucap Qeiza kesal.
"Ada apa?!" tanya Arlando. "Apa ada masalah?!"
Qeiza menaruh ponsel di atas meja. "Temanku membatalkan janjinya. Aku sudah jauh-jauh datang, seenaknya saja dia tidak datang."
"By the way, apa kamu datang sendirian ke sini?!" tanya Arlando.
"Iya," jawab Qeiza. "Kemana-mana aku selalu sendirian."
Tak lama datang seorang pelayan cafe. Setelah memesan semua yang diinginkan Qeiza dan Arlando, pembicaraan dilanjutkan kembali.
"Kamu kuliah atau bekerja?!" tanya Arlando melihat beberapa buku menumpuk di atas meja, diambilnya salah satu. "Wow, kamu seorang desainer?!"
"Desainer recehan," jawab Qeiza merendah. "Hanya sekedar hobi saja."
"Aku baru ingat sekarang. Dulu, aku selalu kesal kalau kamu sudah menggambar baju karena ujung-ujungnya kamu tidak mau main denganku!" Arlando melihat lembar demi lembar kertas dengan gambar berbagai macam desain baju dari hasil tangan Qeiza.
"Lalu kamu sendiri, bekerja atau kuliah?!" tanya Qeiza, tapi detik berikutnya malah terkikik. "Hi-hi-hi. Aku lupa, ngapain aku mengajukan pertanyaan tolol seperti itu," ujarnya lagi. "Sudah tentu, kamu pasti meneruskan perusahaan Papimu itu."
Arlando menaruh kembali semua buku-buku Qeiza ke tempat semula. "Setelah menyelesaikan kuliah di luar negeri, aku bekerja di perusahaan Papi. Setiap hari bekerja sampai aku tidak tahu dunia luar."
Qeiza terkekeh. "He-he-he. Kamu jadi kuper dong," ledeknya. "Eh, by the way busway, kamu sudah menikah atau belum?! Jangan sampai pertemuan kita di sini menimbulkan fitnah. Aku tidak bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan hidupmu."
Arlando tertegun, langsung teringat dengan permintaan kedua orangtuanya.
"Tapi melihat jari manismu tidak ada cincinnya, berarti kamu belum menikah. Ternyata wajah gantengmu itu bukan jaminan untuk segera menikah," ucap Qeiza.
"Kamu meledek atau menyanjung?" Arlando mendengus kesal. "Kamu seperti Papi, senangnya meledekku!"
"Hah?!" Qeiza menatap bingung wajah Arlando yang berubah kesal.
Arlando lalu menceritakan keinginan orangtuanya pada Qeiza. "Jadi begitulah Qei, keinginan kedua orangtuaku yang membuat kepalaku pusing tujuh keliling sampai aku terdampar di cafe ini atas ide si Bibi."
"Menurutku wajar kalau Om Theo dan Tante Sarah menginginkan putranya menikah, apalagi kamu ini putra tunggal mereka," ujar Qeiza.
Arlando menghela napas. "Wajar sih, tapi aku yang pusing," ditatapnya wajah Qeiza dengan intens. "Pusing karena aku tidak punya kekasih! Jangankan kekasih, pacaran saja aku tidak pernah!"
Qeiza sedang meneguk orange juice sampai tersedak begitu mendengar sahabat masa kecilnya belum pernah pacaran. "Uhukh ... Uhukh."
Arlando langsung bangun dari duduknya begitu melihat Qeiza tersedak. "Pelan-pelan kalau minum." Tangan Arlando menepuk pelan punggung Qeiza. "Kamu tidak pernah berubah, selalu saja tersedak kalau sedang minum."
"Uhukh, uhukh," wajah Qeiza memerah, tangan mungilnya menepuk dadanya pelan. "Uhukh, sudah, sudah aku tidak apa-apa."
Arlando segera mengambil tisu yang ada di atas meja. "Ini, bersihkan bibirmu. Lain kali hati-hati kalau minum." Arlando kembali duduk.
Qeiza membersihkan bibirnya. "Terima kasih," ucapnya. "Kita lanjutkan lagi pembicaraan kita. Sudah sampai mana tadi?!" Qeiza mengatur posisi duduknya kembali agar lebih nyaman mengobrol.
"Sampai aku ...," ucap Arlando mau melanjutkan lagi omongannya, tapi seketika terhenti begitu melihat ekspresi wajah Qeiza.
"OMG! Arlando Meshach belum pernah pacaran?! Ck, ck, ck. Rasanya itu tidak mungkin!"
"Ssst!" Arlando melebarkan matanya. "Jangan keras-keras!"
Qeiza menurunkan volume suara dengan tubuh sedikit condong mendekati Arlando. "Kamu belum pernah pacaran?! Serius?!" tanya Qeiza dengan mimik wajah tak percaya.
Arlando mengangguk pelan. "Iya! Itu yang membuatku pusing." Arlando menghembuskan napas seakan ingin mengeluarkan beban yang ada di dalam dadanya.
"OMG! Berarti kamu tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta?!" tanya Qeiza.
Jari jemari tangan Arlando langsung menyentil kening Qeiza. "Itu nanya atau meledek?!"
"Aduh!" Qeiza mengusap keningnya yang sakit, tapi tak berapa lama kemudian tawanya berderai. "Ha-ha-ha. Percuma punya wajah ganteng, tapi tidak laku. Kasihan sekali dirimu! Ha-ha-ha. Kasihan, kasihan."
Arlando mencibir. "Ledek aku sesuka hatimu! Memangnya kamu sudah laku? Memangnya kamu sudah pernah pacaran?!"
Tawa berderai Qeiza langsung berhenti begitu mendengar pertanyaan Arlando, teringat dengan mantan kekasihnya yang telah selingkuh dengan si Ririn.
Melihat ekspresi Qeiza jadi berubah sendu dalam hitungan detik membuat Arlando sedikit heran dan juga penasaran. "Eh, kenapa kamu? Kok jadi sedih?!"
Orange juice yang tersisa tinggal setengah gelas langsung diteguk Qeiza, setelah itu melihat jam tangannya. "Ceritanya panjang. Ini sudah sore, aku harus segera pulang. Orang rumah pasti sudah menungguku."
"O iya, aku sampai lupa. Bagaimana kabar Tante Dewi dan Om Darmawan?!" tanya Arlando. "Aku kangen dengan bubur kacang ijo buatan Tante Dewi yang enak itu."
"Mereka baik-baik saja," jawab Qeiza. "Dan mereka juga tidak memintaku untuk segera menikah," sambungnya sambil menahan tawa.
Arlando melengos kesal. "Meledek lagi! Awas kamu!" Tatapan Arlando jatuh pada ponsel Qeiza yang ada di atas meja. "Berapa nomor ponselmu?!" segera diambilnya ponsel Qeiza.
"Eh, sembarangan ambil ponsel punya orang!" Qeiza dengan cepat mengambil ponsel dari tangan Arlando.
"Biasanya juga tidak marah kalau aku pegang ponselmu," ucap Arlando.
"Itu dulu! Sekarang, tidak!" jawab Qeiza tegas, sebenarnya bukan karena tidak boleh, tapi Qeiza lupa wallpaper ponselnya belum diganti masih berupa foto dirinya dan si Damar.
Arlando memberikan ponsel miliknya pada Qeiza. "Masukkan nomormu."
Jari jemari Qeiza dengan lincah mengetik satu per satu nomor ponsel miliknya. "Kamu boleh meneleponku sesuka hatimu. Sekarang aku harus cepat pulang, terlambat sedikit saja bisa diceramahi Ibu dari Sabang sampai Merauke."
Arlando sebenarnya ingin membicarakan masalah pribadinya agar cepat selesai, tapi melihat Qeiza begitu terburu-buru, Arlando merasa tidak enak juga harus menahannya lebih lama lagi. "Hati-hati di jalan!"
"Ok! Kalau begitu ...," Qeiza merapikan buku-buku miliknya dan segera mengambil tas selendangnya. "Aku pulang duluan."
"Rumahmu, masih rumah yang dulu itukan?!" tanya Arlando.
"Iya, rumahku cuma satu, tidak seperti rumahmu yang bertebaran dimana-mana," jawab Qeiza bangun dari duduk. "Sampai bertemu lagi."
"Hati-hati," ucap Arlando ikut berdiri. "Langsung pulang ke rumah, jangan mampir kemana-mana."
"Iya," jawab Qeiza tersenyum manis, kemudian kaki kecilnya pergi meninggalkan Arlando, tapi belum satu menit berlalu, tiba-tiba Qeiza sudah datang lagi dengan membawa wajah yang sulit diungkapkan.
"Qeiza, ada apa?!" tanya Arlando kaget, baru duduk beberapa detik langsung berdiri lagi melihat sahabat masa kecilnya datang lagi.
"Arlando, tolong aku," pinta Qeiza langsung berdiri di belakang pria blasteran berpostur tubuh tinggi tegap itu.
"Qei, Qeiza!" terdengar suara bariton memanggil. "Dengarkan penjelasanku, Qei!"
Arlando melihat seorang pemuda yang umurnya tidak jauh berbeda darinya baru saja datang dengan wajah penuh pengharapan pada Qeiza.
"Qei, please! Dengarkan penjelasanku," ucapnya lalu melihat Arlando yang menjadi tameng bagi mantan kekasihnya.
"Pergi kamu dari sini! Kita sudah tidak ada urusan apa-apa lagi!" teriak Qeiza dari balik tubuh Arlando. "Aku tak sudi melihatmu lagi! Pergi kamu, Damar!"
Tangan Damar meraih tangan Qeiza. "Beri aku satu kali kesempatan untuk menjelaskan semuanya, Qei!"
"Jangan sentuh aku!" Qeiza semakin menyembunyikan tubuh kecil mungilnya dibelakang tubuh Arlando.
"Qei," Damar kembali diraihnya tangan mantan kekasihnya itu.
Melihat Qeiza mati-matian menolak pria yang ada di depannya membuat Arlando turun tangan. "Hai, bung! Jangan kasar pada wanita!"
Damar langsung melihat Arlando dengan tatapan tidak suka. "Siapa kau?! Jangan ikut campur urusanku!"
"Dia tidak mau berurusan denganmu!" ucap Arlando.
Damar malah menekan dada bidang Arlando dengan jari telunjuk tangan kanannya sambil menatap galak. "Jangan ikut campur kalau kau masih sayang dengan wajahmu yang ganteng ini!"
"Jaga sopan santunmu, bung!" Arlando mulai tersulut emosi melihat Damar bersikap tak sopan.
Damar malah semakin tidak sopan. Kerah kemeja Arlando dicengkeramnya kuat-kuat sambil menatap tajam iris mata Arlando. "Aku peringatkan sekali lagi, jangan ikut campur urusanku!" Detik berikutnya dilepaskan kembali. "Minggir kau!"
Qeiza yang berada di belakang tubuh Arlando langsung ke luar. "Apa-apaan sih kamu ini?! Malah mencari ribut! Pergi kamu dari sini!" usir Qeiza menatap galak pada Damar kemudian melihat Arlando. "Kamu tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, tenang saja," jawab Arlando tersenyum menenangkan.
Qeiza kembali melihat Damar. "Sudah aku bilang, kita ini sudah putus! Kamu bodoh atau tulalit, begitu saja tidak mengerti!"
"Aku tidak mau kita putus!" Damar hendak meraih tangan Qeiza, tapi tanpa diduga tangan Arlando menepisnya.
"Jangan kasar dengan wanita bung!" ucap Arlando menggeser tubuhnya menghalangi Qeiza dari Damar. "Apalagi kasar dengan calon istriku.