"Jadi, itu artinya kamu harus cari cewek yang mau tanda tangan kontrak sama kamu gitu? Kalo misalkan kamu gak dapat tanda tangan dari seorang cewek, gimana?" tanya Aluna begitu sebelumnya Denias menceritakan bahwa keputusan dirinya untuk bunuh diri itu akibat tekanan pada pekerjaannya.
Denias pun lalu menghembuskan nafasnya dengan berat. Bola mata yang berwarna merah terang itu pun, perlahan mulai ia alihkan ke arah langit yang saat itu tampak terang karena banyaknya taburan bintang-bintang.
"Maka bos akan kasih hukuman ke aku. Bahkan mungkin, bisa jadi aja. Bos akan bunuh aku," balas Denias yang berhasil membuat bola mata Aluna membulat seketika.
"Hah?! Kamu serius?! Gak! Ini gak bisa dibiarin! Itu artinya kamu sekarang harus buat laporan di kantor polisi! Biar bos kamu itu ditangkap dan kamu akan terbebas dari pekerjaan ini," tutur Aluna dengan penuh keyakinannya.
Bahkan, Aluna pun kini sampai-sampai telah berdiri. Seolah-olah telah siap untuk mengantarkan Denias ke kantor polisi.
Mendapati jawaban seperti itu, buru-buru Denias memutar otaknya kembali. Sial! Bukannya berhasil mengelabui Aluna, kini Denias justru terjebak pada permainannya sendiri.
Denias pun lalu menarik perlahan lengan Aluna dan meminta agar gadis itu untuk duduk kembali.
"Aku gak mungkin lakuin itu. Bos sudah berjasa besar sama keluarga aku. Bahkan sampai kedua orang tua aku meninggal, seluruh biaya pemakaman ditanggung sama Bos. Jadi, gak mungkin buat aku menjebloskan Bos ke penjara," ucap Denias dengan tutur kata lembut-nya, agar terlihat meyakinkan di hadapan Aluna.
Mendengar hal itu, Aluna pun tampak menganggukkan kepalanya. Menandakan jika gadis itu sekarang membenarkan perkataan dari pria itu.
"Iya sih. Terus, kalo boleh tau. Pekerjaan kamu itu gimana sih? Gimana caranya orang bisa jalin kontrak sama kamu?" tanya Aluna setelah beberapa saat bungkam.
Sebuah seringai pun, tampak terbit di wajah Denias. Ini adalah pertanyaan yang sedari tadi, Denias tunggu-tunggu.
"Jadi, pekerjaan aku itu tuh real lebih ke syuting sih. Dan aku yang jadi pemeran utamanya bareng cewek yang tanda tangan di kontrak aku. Terus caranya bisa jalin kontrak sama aku, sebenarnya simpel banget sih. Cewek itu cuman perlu tanda tangan di surat kontrak ini tanpa si cewek itu sadar kalo tanda tangannya ini adalah tanda tangan buat kontrak. Nah, kalo cewek itu udah kontrak sama aku. Dia cuman perlu tinggal bareng di rumah aku, selama 5 bulan. Dan selama 5 bulan itu juga, si cewek harus gak boleh sadar bahwa di setiap sudut di rumah aku itu, ada kamera perekamnya. Semua ini diperlukan biar alur film yang kita buat serta pemeran utama satu-nya itu yakni si cewek. Lebih kelihatan real banget tanpa ada setting-an. Karena projek film ini juga, bakalan diikutkan dalam kompetisi The Real Film," jelas Denias yang membuat Aluna mulai mengangguk-anggukkan kepalanya kembali.
"Oh. Jadi, si cewek yang bakalan kontrak sama kamu itu gak boleh sadar kalo dia lagi jalin kontrak sama kamu, gitu? Dan dia juga harus gak boleh sadar sama kamera yang ada di rumah kamu. Gitu kan maksudnya?" tutur Aluna yang berusaha mereview ulang hasil dari ucapan Denias.
Denias pun lalu mengangguk-anggukkan kepalanya, menandakan jika pria itu membenarkan apa yang gadis itu katakan.
"Hmm, tapi. Kalo misalkan si cewek udah tau syarat-syarat pekerjaan kamu itu, gimana?" tanya Aluna yang membuat seringai kembali terbit di wajah Denias.
"Cewek itu bisa aja berpura-pura seolah-olah gak tau apa-apa. Emang sih kalo itu terjadi berarti keluar dari bagian tujuan syuting. Tapi, aku rasa selagi cewek itu dan aku bisa jaga rahasia itu. Kayaknya gak ada yang gak mungkin. Cukup nikmatin alur dan proses-nya aja. Dan yang pasti selama cewek itu bareng sama aku. Maka pihak produser yang akan membiayai hidup aku sama cewek itu. Tapi, masalahnya. Siapa yang bakalan mau jalin kontrak sama aku? Aku aja hampir bunuh diri tadi saking stress-nya sama pencarian cewek ini," balas Denias yang pada akhirnya berpura-pura seolah-olah tampak tengah prustasi di hadapan Aluna.
Melihat bagaimana penderitaan yang akan dihadapi oleh Denias. Hati Aluna pun seketika tersentuh dan merasa iba dengan pria itu. Sepertinya, Aluna harus membantu Denias sekarang. Lagipula, saat ini ia juga harus menghindari Mama-nya. Sebab, mungkin dengan cara ia memiliki kesempatan untuk tinggal bersama Denias selama 5 bulan.
Maka Aluna pun jadi bisa membuat alasan dan mengancam Mama-nya dengan iming-iming tidak akan pulang ke rumah, jika Mama-nya tidak memberitahukannya perihal siapa Ayah-nya sebenarnya.
"Aku mau bantuin kamu. Aku mau tanda tangan di surat kontrak kamu itu," putus Aluna yang langsung membuat Denias rasa-rasanya ingin terbang ke ruang penyiksaan saat ini juga.
Rasa kebahagiaan atas keberhasilan dirinya yang telah menipu manusia itu pun, membuat Denias begitu ingin turut memukul dan menyiksa para iblis yang di hukum oleh Raja dengan memukul mereka menggunakan alat gegada yang besar itu.
"Kamu? Serius mau bantuin aku? Tapi, bagaimana dengan keluarga kamu nantinya? Bukankah nanti setelah perjanjian kontrak ini, kamu harus tinggal bersama aku selama 5 bulan penuh? Bagaimana caranya untuk kamu menjelaskan semuanya kepada orang tua kamu?" tanya Denias yang tentunya sekedar basa-basi belaka.
Raut wajah Aluna pun seketika berubah menjadi murung begitu mendapati pertanyaan dari Denias yang menyinggung soal keluarganya.
Denias yang menyadari adanya bulir-bulir bening yang mengalir dari pelupuk matanya pun, langsung menyadari jika sesuatu telah terjadi dengan keluarga gadis itu.
"Maaf. Pertanyaanku pasti telah melukai hatimu," tutur Denias yang langsung membuat Aluna menggeleng cepat.
"Enggak. Kamu gak salah kok. Lagipula tadi kan aku juga sudah banyak bertanya dengan kamu. Dan kamu menjawab semuanya dengan jujur tanpa menyembunyikan sesuatu hal. Jadi, sudah seharusnya untuk aku juga berkata jujur sama kamu," balas Aluna yang langsung mengusap air matanya dengan cepat.
"Tidak apa-apa. Jangan ceritakan jika kamu tidak mampu untuk mengatakan semuanya," tutur Denias yang lagi-lagi mendapatkan gelengan kuat oleh gadis itu.
"Bukan begitu. Aku memang sedang memiliki masalah. Dan sudah seharusnya untuk aku juga membaginya dengan orang lain. Akan lebih lega jika aku bisa menceritakan segalanya kepada orang lain," tutur Aluna dengan seuntai senyuman manis-nya.
"Mama selalu sembunyi in perihal ayah dari aku. Mama gak pernah sekalipun mau jawab pertanyaan aku tentang di mana dan siapa ayah aku sebenarnya. Mama juga, selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali aku tanya tentang Ayah. Maka dari itu, mungkin dengan aku tinggal bersama kamu. Di mana itu artinya aku akan memiliki tempat tinggal lain selain rumah Mama. Aku bisa ancam Mama atau membuat alasan, tidak akan kembali ke rumah sebelum Mama memberitahukan aku di mana ayah berada. Aku benar-benar rindu sama ayah. Dari kecil sampai umur aku 18 tahun ini. Aku belum pernah lihat ayah. Aku pengen kayak anak-anak lain yang bisa bercanda bareng sama ayah-nya. Aku pengen rasain hal itu juga."
Entah mengapa, tiba-tiba saja hati Denias pun merasa ikut sedih begitu melihat bagaimana Aluna yang begitu menginginkan bertemu dengan sosok ayahnya.
Rasa sakit itu muncul, mungkin karena Denias yang juga seringkali merasa kesepian akibat tak ada lagi canda tawa yang diberikan oleh orang tuanya.
Denias pun lalu tergerak untuk membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Membiarkan Aluna menumpahkan segala rasa sakit yang sudah gadis itu alami selama ini.
Beberapa menit setelahnya, Aluna yang sudah merasa tenang pun akhirnya melepaskan dirinya dari rengkuhan lelaki itu.
"Makasih. Sudah dengar. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa rasain hati aku yang sedikit lega. Terima kasih juga buat pelukannya. Baru kali ini, aku merasakan pelukan yang berbeda. Mungkin karena kamu laki-laki, jadi aku kayak bisa ngerasa pelukan dari seorang ayah," tutur Aluna sembari mengusap air mata yang mengalir di kedua belah pipi-nya.
Denias pun lalu hanya tersenyum sebagai balasan dari penuturan gadis itu.
Hingga beberapa saat setelahnya..
"Oh iya! Sampai lupa. Nama kamu siapa? Dan boleh aku tanya? Kenapa bola mata kamu, warnanya merah terang?" sambung Aluna kembali dengan pertanyaan yang akhirnya memberatkan Denias.
Oh, tuhan! Bagaimana caranya ia menjelaskan perihal bola matanya ini?!
****
"Jadi, kamu akan membawaku kemana, Denias?"
Aluna pun lantas bertanya kepada lelaki yang ada di sampingnya itu dengan kedua tangan yang sibuk untuk menarik seatbelt-nya itu.
Denias yang mendengar pertanyaan dari Aluna pun seketika mulai mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Semula, Denias tampak ingin membalas pertanyaan dari gadis itu.
Namun, saat pandangannya jatuh ke arah Aluna yang tampak kesulitan saat menarik seatbelt itu pun. Tiba-tiba saja, tangannya pun tergerak untuk membantu gadis itu.
Dengan perlahan, Denias pun lalu memajukan tubuhnya untuk menarik seatbelt yang berada di sisi Aluna itu. Tubuh Denias yang condong dan begitu dekat dengan Aluna pun, seketika berhasil membuat tubuh Aluna menjadi membeku saat itu juga.
Nafas Aluna pun tiba-tiba terasa sulit untuk ia hembuskan. Bahkan keringat dingin pun tiba-tiba saja turut memenuhi seluruh wajahnya.
Cklek! Setelah waktu berlalu sekitar 2 menit 35 detik. Barulah, seatbelt sialan itu berhasil dipasang oleh Denias pada tubuh Aluna.
Dalam hati, Aluna terus saja merutuki seatbelt itu. Sebab, kalian pikir saja. Bagaimana mungkin Aluna bisa tenang dan merasa baik-baik saja saat lelaki dengan wajah yang tidak bisa dikatakan biasa itu, berada didekatnya dan membantu dirinya.
Oke, Aluna akui mungkin ini adalah suatu hal yang konyol. Tapi, ayolah! Gadis mana sih?! Gadis mana yang akan bersikap biasa saja saat ada sosok lelaki tampan tiba-tiba berada didekatnya, apalagi jarak antara dirinya dan lelaki itu hanya terpaut sekitar 2 cm.
Kalian bayangkan saja?! Bahkan ketika lelaki itu bernafas pun, dengan jelas. Nafas hangat itu terasa begitu berhembus dan menusuk ke dalam pori-pori wajah Aluna.
Denias yang sekarang telah kembali ke tempat duduknya pun. Langsung saja turut memasangkan seatbelt untuk dirinya. Dan sebelum, ia menyalakan mesin mobil itu.
Tatapannya pun ia alihkan terlebih dahulu ke arah sampingnya yakni Aluna. Tidak seperti biasanya, Aluna justru sekarang terlihat tegang dan membeku.
Melihat hal itu, sebuah kerutan pertanda bingung pun seketika terukir sempurna di kening Denias.
"Aluna? Kamu baik-baik saja, kan? Kenapa sekarang tampaknya kamu seperti lagi ada masalah? Apakah ada sesuatu yang sudah membuatmu terganggu? Atau, apa ada seseorang yang sudah menyakitimu?" tanya Denias beruntun yang benar-benar merasa khawatir akan perubahan drastis dari gadis itu.
Mendengar pertanyaan terakhir yang terucap dari mulut Denias pun, Aluna seketika mulai mengubah ekspresi wajahnya.
"Apa ada seseorang yang sudah menyakitimu?! Oh, tuhan! Jelas-jelas semua ini terjadi akibat dirinya! Dan betapa bodohnya pria ini yang justru menanyakan sesuatu yang sudah tentu ia tau akan jawabannya! Kau! Kau adalah pelakunya, Denias! Hatiku tiba-tiba terluka karena dirimu yang secara tiba-tiba juga mendekatkan dirimu dengan diriku! Aku tersakiti Denias! Jantungku tiba-tiba berdegup tak beraturan dan aku rasa sekarang mungkin aku harus memeriksa hal ini kepada dokter. Sebab, aku tak ingin jika aku sampai merasakan mati muda!" batin Aluna yang mulai mendramatisirkan keadaannya.
Denias yang notabe-nya adalah seorang iblis. Tentulah, saat ini Denias mendengar dengan begitu jelas apa yang terucap di dalam hati gadis itu. Namun, entah ada apa dengan dirinya.
Yang pasti, Denias malah tiba-tiba merasa tidak konek dan tidak paham dengan apa yang dibatinkan oleh Aluna saat ini.
"Aluna?! Apakah kamu benar-benar sedang tersakiti? Apa perlu sekarang kita pergi ke rumah sakit saja? Aku rasa sesuatu pasti sudah terjadi denganmu. Kita perlu memeriksanya. Jangan sampai hal buruk terjadi padamu. Apalagi jika hal buruk itu sampai terjadi akibat kelalaian diriku. Jadi, keputusan akhirnya. Kita akan pergi ke rumah sakit, kan?" tutur Denias dengan nada suara yang menandakan jika pria itu tengah benar-benar khawatir dengan kondisi gadis itu, saat ini.
Aluna yang masih terus mendalami dan menghayati dramatisasi-nya pun, lalu langsung saja mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda akan dirinya setuju dengan keputusan pria itu.
"Benar. Aku rasa sekarang aku kayaknya memang gak lagi baik-baik aja! Aku perlu pergi ke tempat yang bisa mengobati segala sesuatu yang sudah membuat hatiku tersakiti seperti ini. Dan feeling diriku, sepertinya aku lagi merasakan penyakit jantung turunan. Kata dokter, penyakit jantung bisa menyebabkan kematian. Jadi, sepertinya aku memang harus di bawa ke rumah sakit! Aku perlu mendapatkan perawatan, Denias! Aku perlu diobati!" dramatis Aluna dengan ekspresi wajah yang memeragakan jika gadis itu tengah merasa kesakitan, saat ini.
Tanpa banyak pikir lagi, Denias pun lalu langsung saja menginjak pedal gas mobil-nya, membelah jalanan ibukota yang saat itu masih ramai-ramainya.
Menyadari bagaimana gaya stir Denias saat mengendarai mobilnya itu pun, seketika membuat mata Aluna menjadi membelalak saat itu juga.
Tunggu! Apa maksud pria ini?! Mengapa tiba-tiba Denias justru membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti ini?! Sudah gila kah pria itu?
Jelas-jelas saat ini jalanan ibukota sedang ramai dan dipadati oleh berbagai macam kendaraan. Lalu, mengapa dengan bodohnya, pria ini malah mengebut di jalanan?!
Apakah secara tidak langsung, pria ini ingin membunuh dirinya?! Tidak! Ini tidak bisa ia biarkan!
Aluna harus segera menghentikan pria itu sebelum nantinya, Denias justru malah mengajaknya untuk mati bersamaan.
"KYAAA!! DENIAS! BERHENTI! STOP, DENIAS!!! KAMU MAU BUNUH AKU?!" teriak Aluna yang langsung berpegangan pada pegangan di mobil itu.
Denias yang terus fokus pada jalanan ibukota itu pun, samar-samar mendengar teriakkan dari gadis yang ada di sampingnya itu.
"SUDAHLAH, ALUNA! LEBIH BAIK KAMU DIAM SAJA DI SITU. AKU AKAN MEMBAWAMU, SECEPAT MUNGKIN UNTUK TIBA DI RUMAH SAKIT. AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN SESUATU BURUK TERJADI PADAMU!" balas Denias dengan berteriak tidak kalah kuat dari gadis yang ada di sampingnya itu.
Mendengar fakta bahwa ternyata pria di sampingnya ini, justru malah termakan dengan dramatisasi-nya yang palsu itu. Dengan cepat, Aluna kembali mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk menyadarkan pria itu.
"BERHENTI, DENIAS! SEMUA YANG AKU KATAKAN TADI! ITU CUMAN DRAMA! ITU BUKAN KENYATAAN! AKU GAK KENAPA-NAPA! AKU BAIK-BAIK AJA! SEMUA ITU CUMAN CANDAAN AKU DOANG, DENIAS! JADI, BURUAN HENTI IN MOBILNYA SEBELUM KITA BAKALAN JADI MAY...SHIT! SETAN! IBLIS! SIALAN!"
Tanpa bisa Aluna cegah lagi. Ternyata hal yang ada dalam bayang-bayang benaknya saja pun, nyatanya sekarang malah jadi kenyataan.
Sebuah bus pariwisata dari arah yang berlawanan dari arah mobil mereka pun, sekarang melaju dengan kecepatan tak kalah tinggi dari mereka, menuju tepat ke arah mobil yang Aluna tumpangi saat ini.
"Selamat tinggal dunia..." gumam Aluna pasrah. Dan...
Bruk! Buru-buru Aluna menutup matanya dengan segera. Aluna merasa begitu takut, jika nanti justru dirinya harus merasa, rasa sakit atas lindasan bus besar itu terhadap tubuhnya yang kurus ini.
Pasti, Aluna jamin. Tubuhnya pasti akan terasa remuk saat ini juga. Namun, beberapa saat Aluna menunggu lindasan bus itu.
Nyatanya, tak ada satu rasa sakit pun yang Aluna rasakan. Menyadari hal itu, pikiran Aluna pun seketika melayang kemana-mana. Mungkinkah sekarang ia sudah berada di alam lain? Mungkinkah ia sudah jadi arwah sekarang?
"Maaf Aluna. Aku sudah membuatmu ketakutan," tutur Denias lembut lagi tulus. Mendengar suara itu, perlahan Aluna pun mulai membuka kedua matanya.
Dan betapa terkejutnya Aluna saat melihat penampakan, tepat di hadapannya saat ini.
"I..i..ini beneran, Denias? Kita sekarang sudah..."
******