"Gue pengen 10 unit mobil Lamborghini dengan kualitas brended dan bergengsi, 20 motor sport keluaran baru, 15 rumah mewah yang dibangun dengan emas yang mengkilat. Gimana?"
Mata Denias pun seketika dibuat membelalak sempurna oleh penuturan seorang pria yang sebelumnya sempat ingin mengakhiri hidup-nya gara-gara dibully miskin itu. Pria dengan pakaian yang sudah hampir mendekati kata gembel itu pun, tampak tersenyum dengan memperlihatkan gigi-gigi hitam-nya.
Beginikah cara manusia berpikir? Sungguh, hal ini benar-benar diluar dugaan Denias. Sebab, sebenarnya Denias juga memilih untuk menargetkan pria gembel itu tentunya bukan tanpa alasan. Melainkan akibat pria itu yang tampak akan bunuh diri dan benar-benar telah kehilangan harapan akan dunia dan kehidupannya lagi. Jadi, Denias pikir jika pria itu memang telah putus asa, pastinya akan dengan mudah bukan? Bagi Denias untuk memerintahkan pria itu agar menandatangi kontrak dengan dirinya.
Terlebih lagi, biasanya orang-orang yang sudah putus asa dengan hidupnya. Jika diberikan satu kesempatan lagi, tentunya mereka pasti hanya akan meminta kebahagiaan terus terjadi di sisa hidup mereka. Lalu, kehidupan mereka hingga akhir hayat itu bisa berkecukupan.
Akan tetapi, bagaimana dengan pria putus asa yang ada di hadapannya saat ini? Sepertinya sekarang Denias telah salah dalam menentukan target sasaran untuk kesekian kalinya.
Yang benar saja! Mungkinkah Denias harus mengeluarkan banyak uang demi mempertahankan pria gembel itu? Tidak! Sungguh, keputusan ini bukanlah suatu opini yang merujuk pada kebenaran, tentunya.
"Tunggu, Bapak Boni! Bukankah tadi anda sudah akan menyerah pada hidup ini? Tapi, kenapa sekarang anda justru meminta barang-barang yang begitu mahal itu kepada saya?" tanya Denias yang ingin mendengarkan alasan mendasar sang pria gembel itu.
Kembali, pria gembel yang bernama Boni itu, menunjukkan sederet gigi tak rapi-nya kepada Denias.
"Benar sekali. Awalnya gue emang udah bertekad buat bunuh diri aja. Karena ngerasa gak sanggup kalo harus tetap bertahan hidup saat orang-orang nge-hina gue yang miskin ini. Mereka selalu ngebanding-bandingin gue sama gaya hidup mereka. Gue dikucilkan. Hati gue bener-bener sakit saat orang-orang bilang gue gembel," jelas Boni yang sepertinya lebih tepat dikatakan sebagai curcol. "Lu kan emang gembel!" sahut Denias dalam hatinya.
Denias pun sekarang tampak memokuskan dirinya untuk memperhatikan dan mendengarkan secara baik-baik setiap gerakan serta penuturan yang dikatakan oleh Boni.
"Gue emang udah mau nyerah sama keadaan dan hidup gue yang sial ini. Tapi, pas lo nemuin gue. Terlebih lagi, lo bilang lo iblis yang pengen buat perjanjian kontrak sama gue. Yah, gue gak bisa nolak ini dong. Iblis kan bisa lakuin apa aja, jadi kesempatan banget dong buat gue, minta apa aja yang gue pengen. Lagipula apa berat-nya sih permintaan gue. Cuman beberapa barang doang. Lo kan iblis, bisa dong tinggal petik jari langsung nongol in benda-benda yang gue minta," sambung Boni yang sekarang semakin memperpanjang lebar senyumnya.
Apa?! Modal petik jari bisa keluar in mobil-mobil?! Sungguh! Mendengar penuturan itu, ingin sekali rasanya Denias melempar tubuh pria gembel itu ke dalam laut merah, sekarang juga!
Adegan-adegan tak masuk akal itu tentunya hanya ada dalam kartun dan dongeng-dongeng yang tentunya hanyalah sebuah fantasi belaka.
'Dasar manusia idiot! Mata duitan!' batin Denias yang mulai mengeluarkan kata-kata makian-nya.
Tidak tau lah manusia itu! Bahwa sebenarnya jika iblis memberikan sesuatu kepada manusia, maka semua itu akan dipotong dari gaji yang biasanya diberikan setahun sekali pada seluruh iblis-iblis oleh raja mereka.
Lalu, semua gaji itu juga tergantung dari seberapa banyak mereka bisa melakukan perjanjian kontrak dengan manusia. Semakin banyak kontrak akan semakin besar gaji yang di dapat tapi jika tidak mendapatkan kontrak seperti Denias yang tidak pernah mengerjakan pekerjaan dari Raja itu, maka tidak akan ada sepersen pun iblis itu mendapatkan gaji.
Untunglah, Denias terlahir dari keluarga yang harta-nya tidak akan habis meski tujuh turunan, mengkorupsi-nya. Terlebih lagi, Denias adalah anak tunggal. Kedua orang tuanya telah meninggal semenjak beratus-ratus tahun yang lalu. Maka dari itu, Denias akhirnya merasa tidak perlu dengan uang gaji dari Raja. Sebab, harta di rumahnya saja sudah banyak. Lalu, untuk apa lagi ia bekerja?
Denias pun lalu mengalihkan tatapannya sejenak kepada pria gembel yang ada di hadapannya itu.
"Baik. Silahkan anda cari saja iblis yang lain. Yang bisa memenuhi seluruh nafsu iblis anda itu!" tekan Denias.
Setelah itu, Denias pun lalu melangkah pergi, meninggalkan pria gembel yang sudah kehilangan akal sehatnya itu. Daripada semua uang dan pikirannya akan terkuras sia-sia oleh pria gembel itu. Keputusan untuk meninggalkan pria itu pergi, menurut Denias adalah keputusan yang sudah paling tepat.
"Eh! Iblis! Lo mau kemana?! Kan lo mau tanda tangan gue! Sini! Gue tanda tanganin tapi lo harus janji kasih gue barang-barang yang gue minta dulu. Baru gue tanda tangan," tutur Boni dengan sedikit menaikkan nada suara-nya.
Namun, Denias. Pria itu justru tampak tak perduli lagi dengan ocehan pria gembel itu. Yang pasti, sekarang Denias harus mencari tempat yang bisa membuat dirinya menjadi tenang.
Hingga jika bisa, Denias melupakan segala kegagalan yang ia dapatkan 2 hari belakangan ini.
****
Di lain sisi, seorang gadis kini tampak berdiri secara tiba-tiba dari sofa ruang tamu-nya. Tatapan mata-nya yang semula tampak tenang kini telah berubah menjadi penuh berapi-api.
"Sudahlah, Aluna. Sekarang, kamu duduklah di samping Mama. Sebentar lagi, serial drama yang kita gemari akan tayang perdana malam ini. Mungkinkah kau akan melewati drama ini dengan wajah dan hati yang kesal?" Cika berucap tanpa memandang ke arah anak gadisnya itu. Mata coklat teduh itu, kini tampaknya begitu fokus pada tayangan televisi berisikan cara-cara memasak Lobster.
"Mah! Mamah gak bisa diam dan tutup mulut terus kayak gini! Aku perlu tau, siapa Papah aku dan di mana dia sekarang! Kalau emang Mamah punya masalah sama Papah! Itu bukan berarti aku juga harus terserat sampai-sampai gak bisa tau wajah dan rupa Papah aku sendiri, kan?! Aku udah dewasa, Mah! Umur aku udah 18 tahun! Bukan lagi anak kecil yang bisa Mamah bohongin terus-menerus!" balas Aluna dengan sedikit menaikkan nada suara-nya.
Saat ini, Aluna lagi-lagi membahas soal di mana keberadaan Papah-nya kepada Cika. Sungguh, sudah terhitung 20 kali Aluna terus menanyakan perihal Papah-nya dalam 3 hari belakangan ini.
Bukan tanpa alasan, Aluna menanyakan hal itu. Melainkan, Aluna merasa iri dan sedih saat seringkali matanya menyaksikan bagaimana kekompakkan ayah dan anak perempuannya.
Hening. Cika seketika memilih untuk bungkam dan menolak agar merespon pertanyaan dari sang anak. Hal itu tentu saja, memancing amarah bagi Aluna yang masih belum bisa mengontrol emosi-nya.
Hingga tak beberapa saat setelahnya, Cika pun mulai membuka suara dengan mata yang berbinar-binar saat memandang ke arah televisi itu.
"Aluna! Lihat, sayang! Film-nya sudah akan mulai! Cepatlah duduk di samping, Mamah! Intinya, kita harus benar-benar menikmati film ini! Biar kita bisa kasih review terbaik di ig-nya. Siapa tau kita bisa dapatin giveaway-nya, kan?" tutur Cika yang setelahnya berusaha menarik pelan lengan Aluna, agar duduk di samping dirinya.
Namun, dengan cepat. Aluna justru menghempaskan tangan Cika yang sebelumnya menggenggam pergelangan tangannya itu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Aluna pun lalu bergegas mengambil kunci motor matic-nya dan langsung melangkah keluar tanpa pamit kepada sang Mama.
Brak! Dengan sengaja, Aluna membanting pintu depan rumahnya itu. Sedangkan Cika, wanita itu hanya mampu menggelengkan kepalanya, berusaha memaklumi tingkah kekanakan dari anak gadis-nya itu.
"Belum saat-nya kamu tau, Aluna." gumam Cika dengan tersenyum tipis.
****
"Apa sih yang sebenarnya berusaha untuk Mamah sembunyikan dari aku?! Kenapa aku gak boleh tau tentang ayah aku sendiri?! Kenapa Mamah selalu mengelak kalau aku bahas soal Ayah! Siapa ayah aku sebenarnya?! Dan kenapa Mamah seperti enggan buat cerita tentang Ayah ke aku?!"
Kini, Aluna pun tampak mengeluarkan seluruh unek-unek yang sudah ia pendam selama ini.
Sebuah gedung berlantaikan 14 itu pun, menjadi tempat biasa bagi Aluna untuk menenangkan dirinya.
Berdiri dengan menangkupkan kedua tangannya di pagar pembatas rooftop itu, serta mendengarkan suara semilir angin yang menerpa wajah dan kulitnya. Tentu saja hal itu yang berhasil membuat Aluna selalu merasa tenang saat berada di sana.
Namun, ternyata kali ini. Sepertinya ia tidak akan sendiri. Sebab, dari kejauhan. Aluna dapat melihat bahwa ada seseorang yang berdiri di tempat Aluna biasanya berdiri.
Awalnya, Aluna berniat mendekati pria itu dengan melangkah perlahan saja. Akan tetapi, saat melihat pria itu mulai memanjat pagar pembatas rooftop itu. Lalu, membentangkan kedua tangannya seperti siap untuk melompat pun. Membuat Aluna seketika berlari cepat ke arah pria itu.
Tidak! Aluna tidak akan pernah membiarkan ada orang yang mudah sekali menyerah pada hidupnya! Terlebih lagi, putus asa itu justru membuat otak seseorang hilang kendali seperti sekarang ini.
Sungguh, Aluna tidak akan sampai membiarkan percobaan bunuh diri ini berhasil. Dengan sigap, Aluna lalu mencengkram erat lengan pria itu saat Aluna rasa sang pria akan melompat ke bawah.
Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ia miliki, Aluna akhirnya berhasil menarik pria itu untuk turun ke bawah.
Meski akhirnya justru pria itu harus jatuh tersungkur ke bawah lantai rooftop.
"Kamu! Kamu udah kehilangan akal sehat kamu?! Kamu gak lihat gimana lantai ini yang punya 14 tingkat! Kamu gak mikirin gimana kalo orang-orang bakalan trauma sama jalan dan gedung ini pas tau ada kejadian bunuh diri! Putus asa boleh! Tapi untuk nyerah, jangan! Putus asa itu sikap iblis! Emang kamu mau berteman sama iblis?!" bentak Aluna dengan memberikan petuah demi petuah-nya yang sepertinya lebih tepat dikatakan sebagai ocehan penuh amarah itu.
Namun, sang pria yang mendengar kalimat terakhir yang dikatakan oleh Aluna pun seketika menjadi ambigu.
"Berteman sama iblis? Lah, gue kan emang iblis, tolol!" gumam Pria itu yang sialnya di dengar oleh Aluna.
"Hah? Iblis? Maksudnya?" tanya Aluna heran yang langsung membuat pria itu menjadi salah tingkah.
*****
"Jadi, itu artinya kamu harus cari cewek yang mau tanda tangan kontrak sama kamu gitu? Kalo misalkan kamu gak dapat tanda tangan dari seorang cewek, gimana?" tanya Aluna begitu sebelumnya Denias menceritakan bahwa keputusan dirinya untuk bunuh diri itu akibat tekanan pada pekerjaannya.
Denias pun lalu menghembuskan nafasnya dengan berat. Bola mata yang berwarna merah terang itu pun, perlahan mulai ia alihkan ke arah langit yang saat itu tampak terang karena banyaknya taburan bintang-bintang.
"Maka bos akan kasih hukuman ke aku. Bahkan mungkin, bisa jadi aja. Bos akan bunuh aku," balas Denias yang berhasil membuat bola mata Aluna membulat seketika.
"Hah?! Kamu serius?! Gak! Ini gak bisa dibiarin! Itu artinya kamu sekarang harus buat laporan di kantor polisi! Biar bos kamu itu ditangkap dan kamu akan terbebas dari pekerjaan ini," tutur Aluna dengan penuh keyakinannya.
Bahkan, Aluna pun kini sampai-sampai telah berdiri. Seolah-olah telah siap untuk mengantarkan Denias ke kantor polisi.
Mendapati jawaban seperti itu, buru-buru Denias memutar otaknya kembali. Sial! Bukannya berhasil mengelabui Aluna, kini Denias justru terjebak pada permainannya sendiri.
Denias pun lalu menarik perlahan lengan Aluna dan meminta agar gadis itu untuk duduk kembali.
"Aku gak mungkin lakuin itu. Bos sudah berjasa besar sama keluarga aku. Bahkan sampai kedua orang tua aku meninggal, seluruh biaya pemakaman ditanggung sama Bos. Jadi, gak mungkin buat aku menjebloskan Bos ke penjara," ucap Denias dengan tutur kata lembut-nya, agar terlihat meyakinkan di hadapan Aluna.
Mendengar hal itu, Aluna pun tampak menganggukkan kepalanya. Menandakan jika gadis itu sekarang membenarkan perkataan dari pria itu.
"Iya sih. Terus, kalo boleh tau. Pekerjaan kamu itu gimana sih? Gimana caranya orang bisa jalin kontrak sama kamu?" tanya Aluna setelah beberapa saat bungkam.
Sebuah seringai pun, tampak terbit di wajah Denias. Ini adalah pertanyaan yang sedari tadi, Denias tunggu-tunggu.
"Jadi, pekerjaan aku itu tuh real lebih ke syuting sih. Dan aku yang jadi pemeran utamanya bareng cewek yang tanda tangan di kontrak aku. Terus caranya bisa jalin kontrak sama aku, sebenarnya simpel banget sih. Cewek itu cuman perlu tanda tangan di surat kontrak ini tanpa si cewek itu sadar kalo tanda tangannya ini adalah tanda tangan buat kontrak. Nah, kalo cewek itu udah kontrak sama aku. Dia cuman perlu tinggal bareng di rumah aku, selama 5 bulan. Dan selama 5 bulan itu juga, si cewek harus gak boleh sadar bahwa di setiap sudut di rumah aku itu, ada kamera perekamnya. Semua ini diperlukan biar alur film yang kita buat serta pemeran utama satu-nya itu yakni si cewek. Lebih kelihatan real banget tanpa ada setting-an. Karena projek film ini juga, bakalan diikutkan dalam kompetisi The Real Film," jelas Denias yang membuat Aluna mulai mengangguk-anggukkan kepalanya kembali.
"Oh. Jadi, si cewek yang bakalan kontrak sama kamu itu gak boleh sadar kalo dia lagi jalin kontrak sama kamu, gitu? Dan dia juga harus gak boleh sadar sama kamera yang ada di rumah kamu. Gitu kan maksudnya?" tutur Aluna yang berusaha mereview ulang hasil dari ucapan Denias.
Denias pun lalu mengangguk-anggukkan kepalanya, menandakan jika pria itu membenarkan apa yang gadis itu katakan.
"Hmm, tapi. Kalo misalkan si cewek udah tau syarat-syarat pekerjaan kamu itu, gimana?" tanya Aluna yang membuat seringai kembali terbit di wajah Denias.
"Cewek itu bisa aja berpura-pura seolah-olah gak tau apa-apa. Emang sih kalo itu terjadi berarti keluar dari bagian tujuan syuting. Tapi, aku rasa selagi cewek itu dan aku bisa jaga rahasia itu. Kayaknya gak ada yang gak mungkin. Cukup nikmatin alur dan proses-nya aja. Dan yang pasti selama cewek itu bareng sama aku. Maka pihak produser yang akan membiayai hidup aku sama cewek itu. Tapi, masalahnya. Siapa yang bakalan mau jalin kontrak sama aku? Aku aja hampir bunuh diri tadi saking stress-nya sama pencarian cewek ini," balas Denias yang pada akhirnya berpura-pura seolah-olah tampak tengah prustasi di hadapan Aluna.
Melihat bagaimana penderitaan yang akan dihadapi oleh Denias. Hati Aluna pun seketika tersentuh dan merasa iba dengan pria itu. Sepertinya, Aluna harus membantu Denias sekarang. Lagipula, saat ini ia juga harus menghindari Mama-nya. Sebab, mungkin dengan cara ia memiliki kesempatan untuk tinggal bersama Denias selama 5 bulan.
Maka Aluna pun jadi bisa membuat alasan dan mengancam Mama-nya dengan iming-iming tidak akan pulang ke rumah, jika Mama-nya tidak memberitahukannya perihal siapa Ayah-nya sebenarnya.
"Aku mau bantuin kamu. Aku mau tanda tangan di surat kontrak kamu itu," putus Aluna yang langsung membuat Denias rasa-rasanya ingin terbang ke ruang penyiksaan saat ini juga.
Rasa kebahagiaan atas keberhasilan dirinya yang telah menipu manusia itu pun, membuat Denias begitu ingin turut memukul dan menyiksa para iblis yang di hukum oleh Raja dengan memukul mereka menggunakan alat gegada yang besar itu.
"Kamu? Serius mau bantuin aku? Tapi, bagaimana dengan keluarga kamu nantinya? Bukankah nanti setelah perjanjian kontrak ini, kamu harus tinggal bersama aku selama 5 bulan penuh? Bagaimana caranya untuk kamu menjelaskan semuanya kepada orang tua kamu?" tanya Denias yang tentunya sekedar basa-basi belaka.
Raut wajah Aluna pun seketika berubah menjadi murung begitu mendapati pertanyaan dari Denias yang menyinggung soal keluarganya.
Denias yang menyadari adanya bulir-bulir bening yang mengalir dari pelupuk matanya pun, langsung menyadari jika sesuatu telah terjadi dengan keluarga gadis itu.
"Maaf. Pertanyaanku pasti telah melukai hatimu," tutur Denias yang langsung membuat Aluna menggeleng cepat.
"Enggak. Kamu gak salah kok. Lagipula tadi kan aku juga sudah banyak bertanya dengan kamu. Dan kamu menjawab semuanya dengan jujur tanpa menyembunyikan sesuatu hal. Jadi, sudah seharusnya untuk aku juga berkata jujur sama kamu," balas Aluna yang langsung mengusap air matanya dengan cepat.
"Tidak apa-apa. Jangan ceritakan jika kamu tidak mampu untuk mengatakan semuanya," tutur Denias yang lagi-lagi mendapatkan gelengan kuat oleh gadis itu.
"Bukan begitu. Aku memang sedang memiliki masalah. Dan sudah seharusnya untuk aku juga membaginya dengan orang lain. Akan lebih lega jika aku bisa menceritakan segalanya kepada orang lain," tutur Aluna dengan seuntai senyuman manis-nya.
"Mama selalu sembunyi in perihal ayah dari aku. Mama gak pernah sekalipun mau jawab pertanyaan aku tentang di mana dan siapa ayah aku sebenarnya. Mama juga, selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali aku tanya tentang Ayah. Maka dari itu, mungkin dengan aku tinggal bersama kamu. Di mana itu artinya aku akan memiliki tempat tinggal lain selain rumah Mama. Aku bisa ancam Mama atau membuat alasan, tidak akan kembali ke rumah sebelum Mama memberitahukan aku di mana ayah berada. Aku benar-benar rindu sama ayah. Dari kecil sampai umur aku 18 tahun ini. Aku belum pernah lihat ayah. Aku pengen kayak anak-anak lain yang bisa bercanda bareng sama ayah-nya. Aku pengen rasain hal itu juga."
Entah mengapa, tiba-tiba saja hati Denias pun merasa ikut sedih begitu melihat bagaimana Aluna yang begitu menginginkan bertemu dengan sosok ayahnya.
Rasa sakit itu muncul, mungkin karena Denias yang juga seringkali merasa kesepian akibat tak ada lagi canda tawa yang diberikan oleh orang tuanya.
Denias pun lalu tergerak untuk membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Membiarkan Aluna menumpahkan segala rasa sakit yang sudah gadis itu alami selama ini.
Beberapa menit setelahnya, Aluna yang sudah merasa tenang pun akhirnya melepaskan dirinya dari rengkuhan lelaki itu.
"Makasih. Sudah dengar. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa rasain hati aku yang sedikit lega. Terima kasih juga buat pelukannya. Baru kali ini, aku merasakan pelukan yang berbeda. Mungkin karena kamu laki-laki, jadi aku kayak bisa ngerasa pelukan dari seorang ayah," tutur Aluna sembari mengusap air mata yang mengalir di kedua belah pipi-nya.
Denias pun lalu hanya tersenyum sebagai balasan dari penuturan gadis itu.
Hingga beberapa saat setelahnya..
"Oh iya! Sampai lupa. Nama kamu siapa? Dan boleh aku tanya? Kenapa bola mata kamu, warnanya merah terang?" sambung Aluna kembali dengan pertanyaan yang akhirnya memberatkan Denias.
Oh, tuhan! Bagaimana caranya ia menjelaskan perihal bola matanya ini?!
****
"Jadi, kamu akan membawaku kemana, Denias?"
Aluna pun lantas bertanya kepada lelaki yang ada di sampingnya itu dengan kedua tangan yang sibuk untuk menarik seatbelt-nya itu.
Denias yang mendengar pertanyaan dari Aluna pun seketika mulai mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Semula, Denias tampak ingin membalas pertanyaan dari gadis itu.
Namun, saat pandangannya jatuh ke arah Aluna yang tampak kesulitan saat menarik seatbelt itu pun. Tiba-tiba saja, tangannya pun tergerak untuk membantu gadis itu.
Dengan perlahan, Denias pun lalu memajukan tubuhnya untuk menarik seatbelt yang berada di sisi Aluna itu. Tubuh Denias yang condong dan begitu dekat dengan Aluna pun, seketika berhasil membuat tubuh Aluna menjadi membeku saat itu juga.
Nafas Aluna pun tiba-tiba terasa sulit untuk ia hembuskan. Bahkan keringat dingin pun tiba-tiba saja turut memenuhi seluruh wajahnya.
Cklek! Setelah waktu berlalu sekitar 2 menit 35 detik. Barulah, seatbelt sialan itu berhasil dipasang oleh Denias pada tubuh Aluna.
Dalam hati, Aluna terus saja merutuki seatbelt itu. Sebab, kalian pikir saja. Bagaimana mungkin Aluna bisa tenang dan merasa baik-baik saja saat lelaki dengan wajah yang tidak bisa dikatakan biasa itu, berada didekatnya dan membantu dirinya.
Oke, Aluna akui mungkin ini adalah suatu hal yang konyol. Tapi, ayolah! Gadis mana sih?! Gadis mana yang akan bersikap biasa saja saat ada sosok lelaki tampan tiba-tiba berada didekatnya, apalagi jarak antara dirinya dan lelaki itu hanya terpaut sekitar 2 cm.
Kalian bayangkan saja?! Bahkan ketika lelaki itu bernafas pun, dengan jelas. Nafas hangat itu terasa begitu berhembus dan menusuk ke dalam pori-pori wajah Aluna.
Denias yang sekarang telah kembali ke tempat duduknya pun. Langsung saja turut memasangkan seatbelt untuk dirinya. Dan sebelum, ia menyalakan mesin mobil itu.
Tatapannya pun ia alihkan terlebih dahulu ke arah sampingnya yakni Aluna. Tidak seperti biasanya, Aluna justru sekarang terlihat tegang dan membeku.
Melihat hal itu, sebuah kerutan pertanda bingung pun seketika terukir sempurna di kening Denias.
"Aluna? Kamu baik-baik saja, kan? Kenapa sekarang tampaknya kamu seperti lagi ada masalah? Apakah ada sesuatu yang sudah membuatmu terganggu? Atau, apa ada seseorang yang sudah menyakitimu?" tanya Denias beruntun yang benar-benar merasa khawatir akan perubahan drastis dari gadis itu.
Mendengar pertanyaan terakhir yang terucap dari mulut Denias pun, Aluna seketika mulai mengubah ekspresi wajahnya.
"Apa ada seseorang yang sudah menyakitimu?! Oh, tuhan! Jelas-jelas semua ini terjadi akibat dirinya! Dan betapa bodohnya pria ini yang justru menanyakan sesuatu yang sudah tentu ia tau akan jawabannya! Kau! Kau adalah pelakunya, Denias! Hatiku tiba-tiba terluka karena dirimu yang secara tiba-tiba juga mendekatkan dirimu dengan diriku! Aku tersakiti Denias! Jantungku tiba-tiba berdegup tak beraturan dan aku rasa sekarang mungkin aku harus memeriksa hal ini kepada dokter. Sebab, aku tak ingin jika aku sampai merasakan mati muda!" batin Aluna yang mulai mendramatisirkan keadaannya.
Denias yang notabe-nya adalah seorang iblis. Tentulah, saat ini Denias mendengar dengan begitu jelas apa yang terucap di dalam hati gadis itu. Namun, entah ada apa dengan dirinya.
Yang pasti, Denias malah tiba-tiba merasa tidak konek dan tidak paham dengan apa yang dibatinkan oleh Aluna saat ini.
"Aluna?! Apakah kamu benar-benar sedang tersakiti? Apa perlu sekarang kita pergi ke rumah sakit saja? Aku rasa sesuatu pasti sudah terjadi denganmu. Kita perlu memeriksanya. Jangan sampai hal buruk terjadi padamu. Apalagi jika hal buruk itu sampai terjadi akibat kelalaian diriku. Jadi, keputusan akhirnya. Kita akan pergi ke rumah sakit, kan?" tutur Denias dengan nada suara yang menandakan jika pria itu tengah benar-benar khawatir dengan kondisi gadis itu, saat ini.
Aluna yang masih terus mendalami dan menghayati dramatisasi-nya pun, lalu langsung saja mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda akan dirinya setuju dengan keputusan pria itu.
"Benar. Aku rasa sekarang aku kayaknya memang gak lagi baik-baik aja! Aku perlu pergi ke tempat yang bisa mengobati segala sesuatu yang sudah membuat hatiku tersakiti seperti ini. Dan feeling diriku, sepertinya aku lagi merasakan penyakit jantung turunan. Kata dokter, penyakit jantung bisa menyebabkan kematian. Jadi, sepertinya aku memang harus di bawa ke rumah sakit! Aku perlu mendapatkan perawatan, Denias! Aku perlu diobati!" dramatis Aluna dengan ekspresi wajah yang memeragakan jika gadis itu tengah merasa kesakitan, saat ini.
Tanpa banyak pikir lagi, Denias pun lalu langsung saja menginjak pedal gas mobil-nya, membelah jalanan ibukota yang saat itu masih ramai-ramainya.
Menyadari bagaimana gaya stir Denias saat mengendarai mobilnya itu pun, seketika membuat mata Aluna menjadi membelalak saat itu juga.
Tunggu! Apa maksud pria ini?! Mengapa tiba-tiba Denias justru membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti ini?! Sudah gila kah pria itu?
Jelas-jelas saat ini jalanan ibukota sedang ramai dan dipadati oleh berbagai macam kendaraan. Lalu, mengapa dengan bodohnya, pria ini malah mengebut di jalanan?!
Apakah secara tidak langsung, pria ini ingin membunuh dirinya?! Tidak! Ini tidak bisa ia biarkan!
Aluna harus segera menghentikan pria itu sebelum nantinya, Denias justru malah mengajaknya untuk mati bersamaan.
"KYAAA!! DENIAS! BERHENTI! STOP, DENIAS!!! KAMU MAU BUNUH AKU?!" teriak Aluna yang langsung berpegangan pada pegangan di mobil itu.
Denias yang terus fokus pada jalanan ibukota itu pun, samar-samar mendengar teriakkan dari gadis yang ada di sampingnya itu.
"SUDAHLAH, ALUNA! LEBIH BAIK KAMU DIAM SAJA DI SITU. AKU AKAN MEMBAWAMU, SECEPAT MUNGKIN UNTUK TIBA DI RUMAH SAKIT. AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN SESUATU BURUK TERJADI PADAMU!" balas Denias dengan berteriak tidak kalah kuat dari gadis yang ada di sampingnya itu.
Mendengar fakta bahwa ternyata pria di sampingnya ini, justru malah termakan dengan dramatisasi-nya yang palsu itu. Dengan cepat, Aluna kembali mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk menyadarkan pria itu.
"BERHENTI, DENIAS! SEMUA YANG AKU KATAKAN TADI! ITU CUMAN DRAMA! ITU BUKAN KENYATAAN! AKU GAK KENAPA-NAPA! AKU BAIK-BAIK AJA! SEMUA ITU CUMAN CANDAAN AKU DOANG, DENIAS! JADI, BURUAN HENTI IN MOBILNYA SEBELUM KITA BAKALAN JADI MAY...SHIT! SETAN! IBLIS! SIALAN!"
Tanpa bisa Aluna cegah lagi. Ternyata hal yang ada dalam bayang-bayang benaknya saja pun, nyatanya sekarang malah jadi kenyataan.
Sebuah bus pariwisata dari arah yang berlawanan dari arah mobil mereka pun, sekarang melaju dengan kecepatan tak kalah tinggi dari mereka, menuju tepat ke arah mobil yang Aluna tumpangi saat ini.
"Selamat tinggal dunia..." gumam Aluna pasrah. Dan...
Bruk! Buru-buru Aluna menutup matanya dengan segera. Aluna merasa begitu takut, jika nanti justru dirinya harus merasa, rasa sakit atas lindasan bus besar itu terhadap tubuhnya yang kurus ini.
Pasti, Aluna jamin. Tubuhnya pasti akan terasa remuk saat ini juga. Namun, beberapa saat Aluna menunggu lindasan bus itu.
Nyatanya, tak ada satu rasa sakit pun yang Aluna rasakan. Menyadari hal itu, pikiran Aluna pun seketika melayang kemana-mana. Mungkinkah sekarang ia sudah berada di alam lain? Mungkinkah ia sudah jadi arwah sekarang?
"Maaf Aluna. Aku sudah membuatmu ketakutan," tutur Denias lembut lagi tulus. Mendengar suara itu, perlahan Aluna pun mulai membuka kedua matanya.
Dan betapa terkejutnya Aluna saat melihat penampakan, tepat di hadapannya saat ini.
"I..i..ini beneran, Denias? Kita sekarang sudah..."
******