“Esshh...aduh om Simon...terus oomm...arghhh!” Maya sang mahasiswi cantik dan bertubuh sintal berisi, salah satu penghuni kost milik om Simon itu terus mendesah dan merintih saat tubuh perkasa lelaki yang dipanggil Om Simon itu tengah menggenjot tubuh telanjangnya di ranjang kamar Om Simon yang mewah dan lebar.
Sementara Simon sang lelaki berbadan besar dan tegap itu sedang memajumundurkan pinggulnya untuk menekan habis liang senggama milik Maya.
“Plokkk...plokkk...arghhh....!” gerakan Simon saat menyatukan tubuhnya dengan tubuh Maya memunculkan suara erotis di kamar itu. Tubuh telanjang keduanya telah berpeluh keringat karena percumbuan telah mereka lakukan sejak sejam yang lalu di kamar itu.
“Arghh...maya tubuhmu nikmat sekali sayanggg...ahhhh!” ujar Simon dengan suara gemetar menahan birahi yang sedang membuncah dan keduanya tangannya meremas dua bukit kembar milik Maya yang sedang terlentang di bawahnya.
“Anu om Simon gede bangettt..eshhh...ahhh...owhhh!” desahan Maya dan lenguhannya membuat om Simon semakin mempercepat gerakan maju mundurnya itu.
“Aduhhh..om Simonnn...aku gak kuat lagi ommm...eshhh!” Maya mulai berteriak pelan di kamar itu. Mendengar itu Om Simon pun menghentikan sejenak genjotannya dan ia turun dari kasur kemudian dengan cepat ia membopong tubuh telanjang Maya.
“Aku mau dibawa kemana om?” tanya Maya sambil kedua tangannya bergelayut di leher dan pundak Om Simon.
“Kita crot di kamar mandi yuk, biar kalo sudah selesai kita bisa langsung buru-buru mandi, heheh!” ucap Om Simon sambil terus mengecup bibir Maya.
Sesampainya di kamar mandi setelah menurunkan tubuh Maya lalu Om Simon pun duduk di pinggiran bathub.
“Sini kamu duduk di selangkanganku yuk sayang!’ pinta om Simon dan Maya pun menegrti apa yang diinginkan pria gagah itu. Perlahan Om Simon memegang kontol besarnya yang sudah tegak berdiri itu dan Maya langsung menaiki paha Om Simon dan tak lama kemudian....
“Sleppp...blesss...arghh...owhhh...gede benget om anunya...ahhhh!” Maya terpekik sesaat kontol besar Om Simon terasa sesak menerobos masuk ke lubangnya yang telah basah sejak tadi di kasur.
“Ayo goyang sayang!” pinta Om Simon dan Maya pun yang sudah terbawa nafsu birahi pun mulai goyang maju mundur ssambil mereka berpagutan di kamar mandi itu. Suara desahan dan lenguhan kini berpindah ruang dari kasur ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Maya pun mencapai klimaksnya.
“Serrr...serrr...arghhh...aku keluar ommm...arghhh!” gerakan pantat Maya di atas paha Simon pun melambat seiring dengan denyut kencang di liang senggama Maya.
Setelahnya giliran om Simon yang berpacu untuk meraih puncak kenikamatannya. Ia pun meminta Maya berdiri dan kedua tangannya bersandar ke dinding kamar mandi. Om Simon memeluk dari belakang sambil meraba dua bukit kembar milik Maya. Simon pun mengentot Maya dari belakang.
“Sleppp...blesss..arghhhh!” Maya terpekik lagi merasakan benda besar masuk lagi ke lubangnya.
Sekitar lima belas menit Simon genjot tubuh Maya dalam posisi berdiri akhirnya Simon pun klimaks.
“Crotttt...crottt..serrr...arghhh!” tubuh Om Simon sesaat menegang menyemburkan cairan pejunya di pantat Maya. Sementara kedua tangan Simon masih meremas kencang dua bukit kembar milik Maya.
Usai itu mereka secepatnya mandi dan dengan mengendap-endap Maya keluar dari kamar om Simon malam itu untuk menuju kembali ke kamar kostnya.
***
Di sebuah kota besar yang padat dengan mahasiswa dan mahasiswi, terdapat sebuah kost eksklusif yang menjadi pusat perhatian. Kost ini dimiliki oleh seorang pria duda yang dikenal sebagai Om Simonyang berusia 40 tahun. Namun, Om Simon bukanlah duda biasa. Ia memiliki ketentuan unik yang membuatnya terkenal di kalangan mahasiswi: mereka yang ingin ngekos di tempatnya harus berusia di bawah 30 tahun dan berbadan ideal.
Om Simon adalah seorang pria dengan postur tubuh yang tegap dan tinggi, seperti pemeran film Rambo. Setiap perempuan yang melihatnya akan terpana oleh keperkasaan dan pesonanya. Namun, di balik ketampanan dan keperkasaannya, Om Simon adalah seorang pria yang cerdas dan sukses dalam bisnis kos-kosannya yang tersebar di berbagai penjuru kota.
Dalam ruang tamu kostnya yang elegan, terdapat beberapa mahasiswi yang sedang duduk bersama, berbincang-bincang tentang ketentuan unik Om Simon. Salah satu dari mereka, Lisa, baru saja pindah ke kota ini untuk melanjutkan kuliahnya. Dia mendengar kabar tentang kost Om Simon dari teman-temannya dan merasa penasaran.
"Bukankah aturan-aturan di sini agak aneh?" tanya Lisa kepada teman-temannya.
Salah seorang teman, Maya, tersenyum. "Iya, mungkin agak aneh, tapi katanya Om Simon baik banget. Dia memastikan kita nyaman tinggal di sini."
Ketika Lisa bertemu dengan Om Simon untuk wawancara sebagai calon penghuni kost, dia merasa terpana oleh pesona dan keperkasaan pria itu. Om Simon pun menjelaskan alasannya memiliki ketentuan tersebut.
"Dulu, istri saya pergi karena kami menghadapi kesulitan ekonomi," kata Om Simon dengan sedikit keraguan dalam suaranya. "Tapi sekarang, saya ingin memberikan yang terbaik untuk penghuni kost saya. Saya ingin mereka merasa aman dan nyaman tinggal di sini."
Lisa merasa yakin bahwa Om Simon adalah pemilik kost yang baik, meskipun aturan-aturan di sini agak tidak biasa. Dia pun memutuskan untuk tinggal di kost Om Simon dan segera merasa seperti di rumah sendiri.
Selama beberapa bulan berikutnya, Lisa dan penghuni kost lainnya membentuk persahabatan yang erat. Mereka sering berkumpul di ruang tamu kost, berbagi cerita, dan mendukung satu sama lain dalam perjalanan perkuliahan mereka. Om Simon, meskipun terlihat keras dan kuat, juga terbukti menjadi figur yang penuh perhatian dan mendukung para penghuni kostnya.
Tidak hanya itu, Om Simon sering memberikan nasihat bijak kepada mereka tentang kehidupan, cinta, dan ambisi mereka. Penghuni kostnya merasa beruntung bisa tinggal di tempat yang tidak hanya nyaman fisiknya, tetapi juga memberikan dukungan emosional.
Dengan berjalannya waktu, Lisa dan penghuni kost lainnya merasa bahwa ketentuan-ketentuan unik Om Simon tidak lagi aneh. Mereka menyadari bahwa kebaikan hati dan perhatian Om Simon kepada mereka jauh lebih berharga daripada penampilannya yang menakjubkan.
Di sebuah kota besar, kehidupan di kost Om Simon terus berlanjut dengan dinamika yang tak terduga. Ternyata, pria gagah perkasa ini diam-diam sangat disukai oleh tiga mahasiswi cantik dan berbadan bagus yang ngekos di tempatnya: Lisa, Maya, dan Dita. Ketiganya, dengan kepribadian dan motivasi yang berbeda, berusaha untuk merebut hati Om Simon.
Lisa, sang penghuni baru, adalah yang pertama mencoba mendekati Om Simon. Dia merasa terpesona oleh pesona dan ketampanan sang pemilik kost. Setiap kali ada kesempatan, Lisa berusaha membuat Om Simon tersenyum, memasakkan makanan kesukaannya, atau sekadar mengajaknya berbincang. Lisa ingin Om Simon melihatnya sebagai wanita yang menyenangkan dan menarik.
Maya, yang telah tinggal di kost Om Simon lebih lama, memiliki pendekatan yang berbeda. Dia merasa bahwa Om Simon adalah pria yang pantas untuk diajak serius. Setiap malam, Maya mencoba membuat suasana romantis di kost dengan lilin-lilin wangi dan makan malam yang lezat. Dia ingin menjadi wanita yang bisa membuat Om Simon jatuh cinta dan ingin menikahinya suatu hari nanti.
Sementara itu, Dita memiliki motif yang lebih praktis. Dia ingin mendapatkan keringanan biaya bayar kost. Dia mencoba berbicara dengan Om Simon tentang kesulitan keuangan yang dia hadapi dan berharap dia bisa mendapatkan diskon atau kemudahan lainnya. Dita tahu bahwa Om Simon adalah orang yang baik hati, dan dia berusaha memanfaatkan kesempatan ini.
Om Simon, dengan bijak, merespons perasaan ketiga mahasiswi ini. Meskipun dia merasa terhormat karena disukai oleh mereka, dia juga merasa bertanggung jawab sebagai pemilik kost. Dia tahu bahwa mencampuri hubungan dengan penghuninya bisa menjadi masalah besar.
Ketika dia menemani Lisa, Maya, atau Dita di ruang kerjanya yang bersebelahan dengan puluhan kamar kost, dia selalu menjaga sikap profesional. Dia mendengarkan cerita mereka dengan penuh perhatian, memberikan nasihat bijak, dan mencoba memberikan semangat dalam menjalani hidup mereka. Dia tidak ingin membuat mereka merasa tidak nyaman atau terlalu berharap.
Suatu Malam, Dita merasa sangat gelisah. Dia telah merencanakan langkah besar yang akan dia ambil. Dengan perasaan yang bercampur aduk, dia berjalan menuju ruangan kerja Om Simon, di mana pria itu biasanya menghabiskan waktunya saat dia tidak sibuk mengelola kos-kosannya yang tersebar di seluruh kota.
Ketika Dita tiba di depan pintu ruangan, dia mengambil nafas dalam-dalam, mencoba untuk membangun keberanian. Dia mengetuk pintu dan mendengar suara Om Simon yang ramah mempersilakannya masuk.
Dita memasuki ruangan dengan senyum yang lebar. "Om Simon, ada yang ingin saya bicarakan dengan Om," katanya, mencoba tampil seantusias mungkin.
Om Simon, yang sedang sibuk mengisi dokumen di meja kerjanya, mengangkat kepala dan tersenyum. "Tentu, Dita. Silakan duduk. Ada yang bisa saya bantu?"
Dita duduk di kursi yang disediakan dan mulai membahas rencananya. "Om Simon, saya ingin berbicara tentang biaya kost saya. Akhir-akhir ini, saya sedang menghadapi beberapa masalah keuangan yang membuat saya kesulitan membayar kost."
Om Simon melihat Dita dengan penuh perhatian. "Saya mengerti, Dita. Masalah keuangan bisa sulit. Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu?"
Dita mulai menjelaskan situasinya dengan rinci, membagikan beban keuangannya, dan mencoba membuat Om Simon merasa simpati. Dia menambahkan dengan suara lembut, "Om Simon, apakah Anda bisa memberikan saya diskon untuk dua bulan ke depan? Itu akan sangat membantu saya melewati masa sulit ini."
Om Simon merenung sejenak, memikirkan permintaan Dita. Dia tahu bahwa memberikan diskon berarti dia harus mengorbankan sebagian pendapatan dari kostnya.
Sebelum Om Simon menjawab permintaan Dita, tiba-tiba Dita mendekati posisi duduk om Simon dan memeluk om Simon dari belakang. Wajah Dita yang cantik dan tubuhnya yang wangi itu kini telah begitu dekat dendan pemilik kost itu.
“Kamu mau apa Dita?” tanya Om Simon yang masih pura-pura belom paham keinginan sang mahasiswi cantik itu.
Sambil berbisik di telinga Om Simon, Dita pun berkata,”Aku pengen om!” ucap Dita dengan suara mendesah. Seketika Om Simon tersenyum lebar dan membiarkan Dita mengeksplorasi dada bidangnya itu.
“Aku buka ya Om!” ucap Dita lagi sambil membuka kancing baju atas om Simon. Setelah terbuka Dita pun meraba dan mulai mencium dada bidang om Simon yang penuh bulu lebat itu.
“Ceppp..cuppp..cuppp!” bibir dan lidah Dita mulai menjilat dan mencium area dada om Simon.
Dita yang kini sudah merunduk di depan badan om Simon sudah makin ke bawah dan menuju selangkangan om Simon. Sambil mendongak ke atas dengan pandangan mata nakalnya Dita pun menatap wajah om Simon yng tampan itu. Jemari Dita mulai menarik resleting celana Om Simon.
“Srettt...srettt..!” maka terbukalah bagian tengah celana itu. Seketika tangan Dita meraba ke bagian celana dalam dan meraih benda besar dan panjang milik om Simon yang ternyata telah membesar dan tegang maksimal.
“Wahhh...gede banget om?” ucap Dita terbengong melihat senjata andalan sang pemilik kost itu.
“Ayo Dita, jilat donk!” pinta om Simon sambil membelai keplaa dan rambu Dita yang terurai hingga bahunya yang putih mulus itu.
Di posisi itu om Simon bisa melihat belahan benda kenyal di dada Dita karena Dita nampak sengaja malam itu memakai kaos ketat dengan belahan dada yang rendah di bagian depannya.
“Slerppp...slurppp..arghhh!” bibir dan lidah Dita mulai mengulum dan melahap serta menjilat kontol besar milik om Simon.
Om Simon pun merasakan nikmat dan mendegus keras merasakan rangsangan hebat dari bibir dan jemari Dita yang tangannya sedang mengocok batang tegang yang sedang ngaceng berat itu.
“Eshhh...terusss..Ditt...ahhh!” ucap Om Simon yang makin menggeliat tubuhnya karena serangan erotis Dita di area selangkangannya itu.
Kini tangan om Simon mulai bergerak ke bawah mencoba meraih dua benda kenyal yang menyembul indah di dada di balik kaos ketat yang sedang dipake oleh Dita.
Jemari om Simon pun mulai bergerilya dan sesekali memilin puting susu dan meremas buah dada Dita.
“Eshhh...ahhh..owhhh..ommm..gelii...ahhh!” Dita pun mulai mendesah dan melenguh.
Tiba-tiba Om Simon bangun dari dudukya di kursi kerjanya itu dan membangunkan Dita dari posisi jongkoknya.
“Sini sayang!” Om Simon pun mmeeluk dan melahap bibir Dita sambil merema dua bukit kembar Dita.
“Ceppp..cuppp...arghhhh..eshhhh!” kedua telapak tangan om Simon mulai meraba dua bongkahan pantat Dita yang sedang memakai rok pendek itu sehingga memudahkan om Simon meraih pantat semok milik Dita itu. Maka diremaslah pantat Dita karena saking gemasnya melihat dan menyentuh salah satu bagian tubuh wanita yang paling menarik bagi setiap laki-laki itu.
Sambil berciuman tangan Om Simon pun kini memelorotkan celana dalam Dita hingga terjatuh di lantai ruangan kerjanya.
Kemudian Dita pun diajaknya ke Sofa besar di ruangan itu.
“Ayo Dita kamu rebahan aja!” ucap Om Simon sambil membuka semua pakaiannya. Saat Om Simon telah telanjang bulat. Mata Dita terbelalak meliha betapa terlihat perkasanya om Simon itu. Belum lagi benda besar dan panjang di selangkangan om Simon membuat Dita semakin takjub melihatnya.
Jantung Dita makin berdebar kencang saat om Simon bersiap memasukkan kontol besarnya itu ke lubangnya yang telah basah sejak tadi itu.
“Tahan ya Dit!”
“Slepppp...Blesss....arhhhh..ommm...arghhh!” Dita terpekik sesaat senjata besar itu melesak masuk ke liang intinya.
“Aku genjot yah?” tanya om Simon dan dijawab dengan anggukan Dita tanda setuju.
“Heughhh...sleppp...blasss...!” hentakan dan tarikan terus berlangsung di sofa besar itu. Om Simon dengan gagah mengagahi tubuh montok milik Dita. Dan akhirnya Dita dan Om Simon pun tak tahan juga.
“Slepppp....arghhh...!” Om Simon mencabut dengan cepat kontolnya dai lubang Dita dan....
“Crottt..crottt...serrrr...arghhhh!” dengan tubuh bergetar om Simon memuncratkan cairan pejunya ke sekitar selangkangan Dita.
Dita yang telah merasa berhasil menaklukkan laki-laki pemilik kst itu pun merasa puas dan senang karena ia yakin setelah om Simon mendapatkan kepuasan darinya maka ia akan mendapatkan keringanan dalam membayar biaya kostnya.
Sambil terengah-engah om Simon pun berkata,"Baiklah, Dita," kata Om Simon akhirnya dengan senyum. "Saya akan memberikan kamu diskon untuk dua bulan ke depan. Tapi saya ingin kamu besok-besok kalo aku lagi pengen ngentot sama kamu, kamu mau ya melayaniku, heheh!”
“Ok om aku mau koq, enak banget dientot sama om, perkasa banget!” balas Dita sambil memonyongkan mulutnya.
Dita pun sangat bersyukur dan bahagia mendengar kabar baik itu. Dia bersorak dalam hati, merasa bahwa upayanya telah berhasil. "Terima kasih, Om Simon. Om benar-benar baik hati. Saya berjanji akan melunasi semua biaya kost saya secepat mungkin."
Om Simon tersenyum dan mengangguk. "Saya tahu kamu akan melakukannya, Dita. Dan jika suatu saat kamu menghadapi kesulitan lagi, jangan ragu untuk datang kepada saya."
Momen itu membuat Dita merasa sangat lega. Dia telah berhasil merayu Om Simon untuk memberikannya diskon yang dia inginkan.
Malam itu, giliran Lisa yang mencoba mendekati kembali om Simon di ruang kerjanya, Dita merasa deg-degan juga saat dia berjalan menuju ruangan kerja Om Simon. Dia telah merencanakan momen ini dengan cermat, berharap dapat mendekati pria yang sangat disukainya, Om Simon. Sejak pertama kali dia tinggal di kos milik Om Simon, Lisa merasa terpesona oleh kebaikan hati pria itu.
Dalam genggamannya, Lisa membawa hidangan spesial yang selalu berhasil membuat Om Simon tersenyum. Saat dia menggenggam gagang pintu ruangan, hatinya berdebar kencang. Dia mencoba untuk tampil percaya diri saat masuk.
"Om Simon, saya membawa makan malam untuk om lagi nih," kata Lisa dengan senyum manis sambil meletakkan hidangan di atas meja.
Om Simon, yang tengah sibuk memeriksa beberapa dokumen, mengangkat pandangannya dan tersenyum. "Terima kasih, Lisa. Kamu selalu begitu baik padaku."
Lisa duduk di kursi di depan Om Simon dan mencoba untuk memulai percakapan dengan santai. "Bagaimana kerjaan hari ini, Om Simon? Sibuk seperti biasa?"
Om Simon mengangguk sambil menjawab, "Iya, cukup sibuk. Tapi sekarang saya merasa lebih baik setelah melihat hidangan lezat ini."
Lisa tersenyum malu-malu. "Saya senang kalo om suka."
Mereka mulai berbincang-bincang tentang berbagai hal, dari pekerjaan hingga hobi, dan Lisa berusaha menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Om Simon. Dia ingin tahu lebih banyak tentang pria ini yang telah mengubah banyak mahasiswi menjadi penggemar beratnya.
"Om Simon," ucap Lisa dengan lembut, "Saya tahu banyak penghuni kost yang terpesona oleh om. Bagaimana cara om bisa menjadi begitu populer di antara kami?"
Om Simon tersenyum sambil merenung sejenak. "Saya rasa itu karena saya selalu berusaha untuk menghormati dan peduli pada setiap penghuni kost saya. Saya ingin mereka merasa nyaman dan bahagia di sini."
Lisa tertarik dengan jawaban itu. Dia melanjutkan, "Apakah om pernah memiliki hubungan khusus dengan salah satu penghuni kost, Om Simon?"
Om Simon terlihat sedikit ragu. "Saya selalu berusaha menjaga profesionalitas dalam hubungan saya dengan penghuni kost. Tapi tentu saja, ada penghuni yang lebih dekat daripada yang lain." Padahal om Simon ini memiliki libido yang tinggi setiap melihat mahasiswi cantik dan seksi dan tak segan-segan untuk menidurinya.
Lisa mengangguk, mengerti bahwa Om Simon tidak ingin memperdalam percakapan itu. Namun, dia merasa semakin dekat dengan pria itu setiap saat.
Malam berlanjut, dan semakin lama Lisa dan Om Simon berbicara, semakin terlihat ketertarikan di antara mereka. Lisa melihat cara Om Simon tersenyum padanya dan merasa jantungnya berdebar kencang. Dia ingin tahu apakah pria itu merasakan hal yang sama.
Saat mereka berbicara tentang hobi mereka, Lisa menjalankan rencananya. "Om Simon, apa pendapat om tentang tarian?"
Om Simon melirik Lisa dengan penasaran. "Saya pikir tarian adalah bentuk seni yang indah. Apa kamu suka menari, Lisa?"
Lisa tersenyum dan menjawab, "Saya suka menari. Dan sebenarnya, saya mengikuti kelas tari di kampus."
Om Simon terlihat terkesan. "Itu luar biasa! Apakah kamu bisa menunjukkan beberapa gerakan tari kepada saya?"
Lisa merasa hatinya berdebar hebat. "Tentu, Om Simon. Saya bisa menunjukkan beberapa gerakan dasar jika om mau."
Om Simon setuju, dan Lisa mulai menari dengan gemulai di depannya. Gerakannya lembut dan anggun, dan Om Simon terpesona oleh keindahan gerakan Lisa. Dia tidak pernah menduga bahwa Lisa adalah penari yang begitu berbakat. Belum lagi lenggak lenggok pantat yang semok milik Lisa membuat jaku om Sion turun anek dan tak terasa kontolnya menegang karena ia mulai timbu hasrat kepada tubuh indah milik Lisa itu.
Lisa pun tampak menyadari respon Om Simon saat melihat gerak tubuhnya saat menari. Lisa tau persis kalo om Simon mulai terangsang karena sekilas Lisa melihat meraba selangkangannya tanda kalo rudalnya telah ereksi.
Saat tarian selesai, Om Simon memberikan tepuk tangan meriah. "Lisa, kamu sungguh luar biasa! Kamu adalah penari yang berbakat."
Lisa tersenyum malu-malu. "Terima kasih, Om Simon. Saya senang om suka."
Saat malam berakhir, Lisa merasa puas dengan langkah-langkah yang telah dia ambil. Dia telah berhasil mendekati Om Simon lebih dari sebelumnya. Meskipun dia masih belum yakin apakah pria itu memiliki perasaan yang sama dengannya, dia merasa optimis tentang masa depannya di kost-an itu.
Om Simon juga merasa tertarik pada Lisa. Setelah Lisa pergi, dia duduk di ruang kerjanya dengan senyum di wajahnya. Dia tahu bahwa dia merasakan sesuatu yang istimewa dari diri Lisa, dan dia berharap bisa segera bercinta dengan gadis cantik itu suatu saat.
Setelah malam pertemuan mereka yang penuh tanda tanya, Lisa dan Om Simon semakin dekat. Mereka sering berbicara di ruang kerja Om Simon, dan setiap pertemuan mereka menjadi semakin intim. Keduanya menikmati kebersamaan mereka tanpa sepengetahuan penghuni kost lainnya.
Malam itu, Lisa tiba di ruang kerja Om Simon dengan senyum di wajahnya. Dia membawa beberapa makanan ringan dan minuman favorit Om Simon, yang telah dia pelajari selama beberapa pertemuan sebelumnya.
"Om Simon," sapanya sambil tersenyum, "saya membawa camilan kesukaan om malam ini."
Om Simon mengangkat alisnya dengan senyum dan mengatakan, "Kamu benar-benar tahu cara membuat saya bahagia, Lisa."
Mereka duduk berhadapan di meja kerja, berbagi cerita dan tawa. Semua terasa sangat alami, seolah-olah mereka telah melalui banyak malam seperti ini bersama-sama.
Saat malam semakin larut, Lisa merasa keinginan yang lebih kuat untuk mendekati Om Simon. Dia menatap matanya dengan penuh kehangatan, dan Om Simon membalas tatapan itu dengan lembut.
"Om Simon," kata Lisa dengan suara lembut, "saya merasa kita semakin dekat setiap hari. Apakah Om merasa hal yang sama?"
Om Simon mengangguk perlahan. "Saya merasa hal yang sama, Lisa. Kamu terlihat cantik dan sangat menggairahkan!"
Mereka saling memandang dengan rasa hangat, dan tanpa kata-kata, mereka merasa ada sesuatu yang istimewa di antara mereka. Mereka ingin mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka harus berhati-hati. Kehidupan mereka yang selalu terpapar oleh penghuni kost lainnya memaksa mereka untuk merahasiakan hubungan mereka.
Lisa meraih tangan Om Simon dengan lembut di bawah meja, dan pria itu membalas dengan menggenggamnya erat. Mereka merasa begitu dekat satu sama lain, meskipun kenyataannya hubungan mereka harus tetap rahasia.
"Saya merasa sangat beruntung bisa mengenal Om Simon," ucap Lisa dengan suara lembut.
Om Simon tersenyum dan menjawab, "Sama-sama, Lisa. Kamu adalah salah satu hal yang paling perhatian sama om disini."
Mereka berbicara dengan suara yang pelan dan merahasiakan rasa yang semakin dalam satu sama lain. Mereka merasa bahwa hubungan mereka adalah sesuatu yang istimewa, sesuatu yang mereka ingin jaga dengan baik.
Malam itu, sebelum mereka berpisah, Lisa dan Om Simon membuat janji satu sama lain. Mereka akan menjaga hubungan mereka tetap rahasia dari orang lain. Mereka ingin melanjutkan kemesraan mereka dengan hati-hati, tanpa memberi tahu siapapun tentang perasaan mereka yang tumbuh.
"Malam ini sangat istimewa," kata Lisa dengan suara lembut. "Saya tidak akan pernah melupakan ini."
Om Simon mengangguk setuju. "Saya juga tidak akan melupakan ini, Lisa. Kita akan menjaga rahasia kita sendiri."
Mereka saling berpelukan dengan penuh rasa sayang sebelum berpisah.
Tiba-tiba om Simon bilang, “Lisa, kamu besok mau gak kalo om ajak jalan-jalan? Kan besok hari sabtu!”
“Emangnya mau kemana Om Simon?” Lisa mendengar ajakan itu dengan senum mengembang karena telah membayangkan ia akan berduaan dengan bebas dengan pria gagah dan tampan itu.
“Kita nginep semalam di hotel dekat pantai yuk!” ajakan om Simon itu membuat Lisa serasa mau terbang melayang.