Bab 1

Suara petir yang bergemuruh dan angin kencang yang menderu-deru segera menghentikan Myan dari aktivitasnya.

Kanan dan kiri meja kerjanya sudah kosong. Tampaknya hanya dia yang masih tertinggal di kantor untuk menyelesaikan laporan terakhirnya.

Ponselnya berdering saat ia mulai membereskan mejanya.

"Halo" Myan segera menjawab panggilan itu.

"Apa kau belum selesai juga?!" suara di seberang sana terdengar tidak sabaran.

"Lima menit lagi oke, aku sedang merapikan mejaku sebentar"

Rick, kekasihnya yang memiliki sifat sedikit tidak sabaran sedang menunggunya di depan kantor untuk menjemputnya. Tak ingin membuat Rick menunggu terlalu lama, Myan bergegas keluar ruangan.

Baru beberapa langkah, tiba-tiba semua lampu padam. Mungkin ada pemadaman listrik mengingat cuaca yang sedang tidak bersahabat.

Myan terpekik kecil ketika tidak sengaja menabrak sebuah meja. Dia segera mengeluarkan ponselnya untuk penerangan.

Myan dengan gugup melewati lorong kantornya. Mungkin karena minimnya cahaya semua serasa begitu menakutkan. 

Lorong yang setiap pagi dia lewati, malam ini serasa sangat panjang.

Myan dapat mendengar detak jantungnya sendiri karena dia merasa sangat gugup dalam kegelapan. Dia merasa sedikit takut seolah-olah seperti ada yang mengikutinya.

Karena pemadaman listrik, Myan terpaksa harus turun ke lantai satu melewati tangga darurat. Disaat seperti ini lift pasti tidak akan berfungsi.

Baru beberapa langkah dia turun, tiba-tiba di depannya muncul sekelebatan hitam disertai hembusan angin yang langsung berhambur seolah-olah hendak menerjangnya.

Myan setengah terpekik karena terkejut oleh angin yang tiba-tiba seperti mendorongnya hingga terhuyung. Ia hampir terjerembab jika tak ada tangan seseorang yang menangkapnya dari belakang.

"Kau tak apa-apa?" suara berat terdengar di belakangnya dari seorang pria yang menahannya agar tidak jatuh tadi.

"Ti_tidak apa, terima kasih," ucapnya sedikit bergetar. Myan segera melepaskan diri dari orang tersebut.

Refleks, Myan kemudian mempercepat langkahnya untuk menuruni tangga. "Permisi!" ucapnya kemudian sambil terburu-buru turun dan berlari menuju pintu keluar.

Myan sengaja tidak menoleh ke belakang lagi. Dia memang tidak ingin, karena ia takut akan sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat di sana. Jadi Myan memilih untuk segera kabur.

Dengan napas yang terengah-engah Myan sampai di tempat parkir. Mengetuk halus kaca mobil Rick yang telah menunggunya. Tanpa menunggu lama lagi, Myan langsung masuk ke dalam mobil begitu pintu terbuka.

"Rick, ayo cepat kita pergi dari sini!" ucapnya sedikit panik.

"Ada apa? mengapa kau lama sekali?" protes Rick.

"Apa kau tidak lihat? sedang ada pemadaman listrik di kantorku. D_dan mungkin aku bertemu sosok yang seharusnya tidak ada di dalam sana."

"Apa maksudmu?"

"Rick, aku hampir terjatuh tadi di tangga karena ada angin yang tiba-tiba datang menerjangku. D_dan kemudian ada seseorang di belakangku yang menahanku agar tidak jatuh!"

"Oh, aku bahkan tidak tahu dia betul orang atau bukan. Aku tidak melihat wajahnya, aku hanya berlari karena terlalu takut untuk menengok ke belakang," aku Myan dengan takut-takut.

Rick mendesah, "Mungkin kau hanya terlalu lelah, jadi berhalusinasi yang tidak-tidak," ucapnya.

"Ayo cepat kita pulang Rick, aku takut jika hantu tadi mungkin mengejarku!"

Rick tertawa kecil, "Hantu? konyol. Tidak ada yang namanya hantu, Myan."

"Baiklah aku akan cepat memgantarmu pulang, karena aku ada janji malam ini dengan Alan." ucap Rick sambil menghidupkan mesin mobilnya.

"Kau langsung pergi? tidak ikut masuk sebentar?"

"Ya, aku sudah terlambat. Maaf mungkin lain kali," ucap Rick dengan nada penyesalan.

"Tapi kita sudah lama tidak punya waktu untuk bertemu. Apa hari ini tidak bisa kau batalkan saja janjimu dengan Alan?" tanya Myan lagi.

"Maaf, tidak bisa."

"Bahkan hanya untuk sekadar makan malam denganku? Aku sengaja memintamu menjemputku agar kita bisa makan malam bersama, sudah dua minggu kita tidak bertemu. Please, bisakah?" tanya Myan lagi penuh harap.

"Maaf Myan, aku tidak bisa. Mungkin lain waktu. Aku sudah ada janji dan sudah terlambat" jawab Rick

Myan menghela napasnya tanda menyerah. Mungkin memang mereka belum memiliki kesempatan untuk bisa menghabiskan waktu berdua.

Sudah hampir setahun mereka bersama, tapi Rick jarang meluangkan waktu untuknya. Jika diingat-ingat lagi, memang Rick terhitung sangat sedikit meluangkan waktu untuk bertemu. Hanya pada saat awal-awal Rick mendekatinya saja, dan setelah itu mereka hanya beberapa kali berkencan sebelum akhirnya jadian.

"Aku seperti wanita yang tidak punya kekasih," gerutu Myan perlahan.

"Maaf Myan, ada baiknya kau langsung beristirahat ya. Bukankah besok ada kegiatan kantor yang harus kau ikuti?"

"Hm, baiklah. Berhati-hatilah dalam menyetir," ucap Myan mengalah.

Besok memang ada acara kantor yang sebenarnya dia sendiri pun sangat tidak ingin mengikutinya. Acara kebersamaan karyawan kantor yang mengharuskan mereka mendaki gunung dan berkemah di tempat terbuka. Memikirkannya saja sudah sangat melelahkan.

Rick hanya mengantar Myan kembali ke apartemennya, setelah itu dia langsung pergi untuk memenuhi janjinya dengan Alan.

Myan pun tak banyak beraktivitas setelah kembali ke apartemen. Ia hanya makan malam lalu mandi. Karena dirinya sudah berkemas untuk keperluan besok pagi, jadi ia memutuskan untuk langsung beristirahat.

****

Esoknya...

Myan meraih tas ranselnya setelah selesai menyantap sarapan paginya. Karena tak ingin terlambat ia bergegas untuk segera berangkat ke kantornya. Titik awal tempat keberangkatan dan pertemuan para peserta acara kebersamaan.

Sudah banyak karyawan lain yang berkumpul di lobi kantor saat ia memarkir mobilnya di halaman parkir. Di sana sudah tampak tiga buah bis yang berjajar rapi untuk transportasi mereka nanti.

"Myan! Kemari, cepatlah!" teriak Stevie bersemangat sambil menghampirinya.

"Kenapa kau semangat sekali? Oh, aku saja sudah capek membayangkan kita akan mendaki gunung," sungut Myan sambil menggendong tas punggungnya.

"Tentu semangat, kau tahu tidak? kita akhirnya bisa berkumpul dan melihat langsung para pria dari divisi kreatif yang terkenal tampan!" pekik Stevie sumringah.

Myan memutar kedua bola matanya. Memang Stevie sahabatnya itu sangat menyukai pria-pria berwajah tampan.

"Apa kau sudah melihat July?" tanyanya kemudian.

"Aku baru datang, aku bahkan belum sempat menutup pintu mobilku"

"Ah, baiklah ayo cepat kita ikut berkumpul!" Stevie menarik Myan untuk masuk kedalam kerumunan.

Perusahaan tempat mereka bekerja adalah perusahaan periklanan bernama 'Shine Advertising' . Myan, Stevie dan July tergabung dalam divisi konsultan pemasaran. 

"July, cepatlah!" Stevie melambai kearah July yang baru saja bergabung bersama mereka di lobi.

Setelah semua karyawan lengkap dan berkumpul, perjalanan kebersamaan kantor pun dimulai.

Tiga buah bis yang membawa mereka berjalan saling beriringan, menuju gunung yang dituju.

Banyak jadwal dan agenda acara kebersamaan yang harus mereka ikuti selama berkemah dua hari satu malam itu.

Hal pertama yang harus mereka lakukan adalah mendaki gunung, setelah mereka meletakkan semua barang dan keperluan dalam tenda sesuai kelompok dan divisi masing-masing.

Cuaca yang begitu cerah, tampaknya sangat mendukung untuk aktivitas yang akan mereka lakukan. Walau masih tampak sisa-sisa hujan semalam yang membuat tanah basah dan berembun, tetapi banyak peserta yang sangat antusias menanti kegiatan yang akan berlangsung.

Seperti contohnya Stevie dan July. Tentu saja Myan adalah pengecualian. Ia merasa sangat malas mengikuti serangkaian acara kebersamaan kantor mereka.

"Oke, apakah kalian siap?" tanya July sambil membetulkan letak tas ransel yang digendongnya.

Myan, Stevie dan July sudah berada di dalam barisan. Setelah mendengar aba-aba dari ketua grup masing-masing, mereka memulai start untuk mendaki.

"Setelah kalian sampai di puncak, ingat untuk langsung menancapkan bendera divisi kalian!" Panitia acara memberikan arahan.

"Pemenang yang berhasil menancapkan bendera terlebih dahulu akan mendapatkan hadiah menarik. Selain itu, divisi yang berhasil menancapkan bendera kemenangan akan mendapat bonus tambahan untuk semua karyawan pada divisi tanpa terkecuali."

Sorak sorai terdengar begitu bergemuruh saat disebutkan tentang hadiah yang bisa didapatkan oleh pemenang. Banyak peserta yang hadir tampak begitu bersemangat.

Tidak peduli dengan riuhnya suasana, Myan sibuk sendiri memeriksa ponselnya. Belum ada balasan dari Rick untuk beberapa pesan singkat yang dia kirimkan tadi.

Myan tidak pernah menerima pesan singkat duluan dari kekasihnya itu. Selalu saja dia yang pertama menelepon atau mengirim pesan. Walau Rick memang selalu lambat saat merespon semua pesan-pesannya, tetap saja Myan sedikit merasa suram.

Myan menghembuskan napasnya, untuk sedikit mengusir rasa kecewanya.

Hujan yang turun semalam meninggalkan sedikit sisa-sisa tanah basah termasuk di jalur pendakian. Area sekitarnya pun masih terlihat lembab karena tanah basah yang tampak licin.

"Satu, dua, tiga, gooo ...!!" Aba-aba start sudah diteriakkan. Segera setelah peluit ditiup, para peserta kemah langsung berbondong-bondong menyerbu jalur masuk gunung untuk segera memulai pendakian.

Myan dan teman-temannya berada di tengah-tengah rombongan, mereka berjalan dengan kecepatan sedang agar tidak cepat kehabisan napas.

"Hei, kau sungguh membuat hari ini muram Myan." Senggol July mengagetkannya.

"Jangan ganggu dia July, dia sedang menunggu balasan dari Rick" timpal Stevie

July memutar kedua bola matanya tanda bosan. Sudah ratusan kali dia selalu melihat Myan murung karena Rick.

"Tidak usah terlalu memikirkannya Myan, kau itu terlalu baik buatnya. Jika kau akhirnya memutuskan untuk pergi darinya, aku yakin dia yang akan menyesal setelah kehilanganmu."

"Aku berani bertaruh, Myan tak akan pernah meninggalkan Rick!" timpal Stevie lagi.

"Aah, sudah, kita makan camilan saja yuk!" Stevie membagi cokelat kepada masing-masing kedua temannya itu.

"Ingat, bawa pulang kembali bungkus sampahmu ya, Stev!" timpal Nico teman satu divisi mereka yang tiba-tiba sudah berjalan menjajarinya.

"Iya, iya berusahalah untuk divisi kita ya!" balas Stevie.

"Kalau aku memenangkan ini, kau harus berjanji padaku untuk kencan denganku, oke?!" serunya sambil berlalu mendahului mereka. 

"Dalam mimpimu!" balas Stevie sambil tertawa.

Saat itu ponsel di saku jaket Myan bergetar. Segera Myan membuka dan melihatnya. Benar saja, ada sebuah pesan masuk dari Rick. Sebuah kiriman foto lebih tepatnya.

Hanya sedetik kegembiraannya berlangsung, saat melihat isi pesan tersebut jantungnya seolah berhenti berdetak. Myan sangat shock melihat foto yang dikirim ke ponselnya itu. 

Foto Rick yang bertelanjang dada dan sedang tidur di sebuah ranjang, di samping seorang perempuan yang tersenyum menghadap kamera! Dan perempuan itu hanya memakai selimut untuk menutupi bagian atas dadanya.

Stevie dan July yang merasa heran karena Myan berhenti, kemudian menghampirinya. Melihat ekspresinya, dengan sigap mereka mengambil ponsel di tangan Myan dan segera ikut melihatnya.

"Ya Tuhan ..." bisik Stevie ikut shock melihat foto tersebut. July membulatkan matanya dan menutup mulutnya, sama terkejutnya dengan Stevie.

Saat itu juga ponsel Myan kembali bergetar. Ada panggilan masuk!

Agar tidak mengganggu peserta yang lain, Myan keluar dari jalur rute pendakian untuk menerima telepon. Myan menerima panggilan itu, tapi tidak langsung menjawab. Myan berjalan semakin menjauhi rombongan.

"Halo Dear, tolong jangan kirim pesan singkat terus-menerus please, Rick butuh istirahat. Aku tidak mau dia terbangun. Kau tahu, dia sangaaat ... kelelahan sejak semalam." Suara manja seorang wanita terdengar dari seberang sana.

"Siapa kau!?" tanya Myan begitu terkejut.

"Menurutmu siapa? aku adalah orang yang selalu menemani dan memberi kehangatan untuk Rick di malam hari." Ucapnya dengan nada seperti menertawakan Myan.

"Apa kau tahu siapa aku?!" tanya Myan bergetar karena menahan marah.

Terdengar suara gelak tawa wanita itu.

"Ya, hanya seorang gadis malang yang tidak pernah bisa memberikan kepuasan pada pacarnya. Taukah kau kenapa Rick tidak pernah menyentuhmu?"

"Kauuu....!" Myan menggeram. Karena kekesalannya, dia tidak melihat pijakannya hingga kakinya terperosok.

"Myaann!! Awaas!!" 

Pekikan peringatan terdengar bersamaan dengan terperosoknya kaki Myan ke bawah jurang terjal yang dalam.

Masih bisa Myan lihat sekilas wajah orang-orang yang berlari mengejarnya. Seperti gerakan melambat, ada yang berusaha menangkap dan menarik tangannya.

Tapi terlambat! Myan dapat merasakan dirinya semakin ringan, seperti terbang. Dan sedetik kemudian ia langsung dihempaskan menghunjam permukaan yang keras, hingga membuatnya tak sadarkan diri.

"MYAANN....!!!" 

Dengan mata yang terpejam, sayup-sayup masih bisa ia dengar suara-suara yang memanggil namanya. Suara itu terasa sangat jauh dan jauh ... hingga akhirnya suara itu semakin menghilang, dan tak terdengar lagi. 

Semua hening dan gelap.

******

Bab 2

Myan mulai dapat merasakan kembali tubuhnya. Jari-jarinya mulai bergerak perlahan, meraba-raba permukaan yang dapat tersentuh olehnya.

Samar-sama ia mulai dapat mendengar suara serangga yang seolah bernyanyi. Mungkin itu suara serangga-serangga penghuni pohon. Wajar karena dirinya sedang berada di gunung sekarang.

Myan dapat merasakan semilir angin yang menerpa wajah dan rambutnya. Wangi bunga yang lembut pun samar-samar dapat tercium olehnya.

Sinar matahari yang menyilaukan pun dirasa sedikit mengganggunya. Perlahan, Myan mulai membuka matanya. Mengangkat tangannya untuk menghalangi terik matahari yang menyorot wajahnya.

Seolah tersadar, ia mengamati jemari tangannya yang terpantul sinar matahari. Myan lalu duduk dengan tiba-tiba. Ia teringat dirinya terperosok jatuh ke dalam jurang saat pendakiannya. Dengan ketinggian itu pasti tulang-tulangnya bisa remuk dan... Oh! apa yang terjadi?!

Myan meraba tubuhnya, memeriksa tangannya. Menekan bagian-bagian tubuhnya yang mungkin dirasa akan sakit.

Tapi apa ini?! Mengapa dirinya tak merasakan nyeri atau perih sedikit pun? Dia merasa baik-baik saja.

"Tunggu! Apa aku sudah mati?!" batinnya ngeri.

Myan perlahan meraba wajahnya, mencubit pipinya sendiri. Sakit. Dia masih dapat merasakan cubitannya sendiri. Lalu apa yang terjadi? bagaimana mungkin?

"Dan, Ohhh!!!! apa yang kukenakan? baju apa ini? Di mana celana jeansku? Kausku?" pikirnya heran. 

Ia sedikit termenung, berpikir mengapa dirinya bisa berganti baju? Dan baju yang dikenakannya bukanlah baju rumah sakit. Myan merasa sangat bingung.

Di tengah kebingungannya, Myan menatap ke sekelilingnya. Dirinya berada di bawah sebuah pohon besar yang rindang. Permukaan sekitarnya adalah padang rumput hijau dengan bunga-bunga kecil yang harum semerbak.

Dari kejauhan, ia samar-samar dapat melihat seseorang sedang menunggang kuda dan perlahan-lahan semakin mendekat ke arahnya.

Myan sangat terkejut. Mengapa ada kuda? Myan mengerjapkan matanya untuk memastikan lagi bahwa yang dilihatnya adalah kenyataan.

Sosok si penunggang kuda berwarna putih itu semakin mendekat. Rambutnya yang hitam panjang tampak berkilauan di bawah terik matahari. Dengan anggun dan pasti ia menyibakkan jubahnya sebelum turun dari kudanya. Dan dengan langkah perlahan yang mantap, ia berjalan mendekati Myan.

Ia ternyata seorang pria. Dengan wajah yang begitu tampan. Mata hitam dan alis tebalnya sangat kontras dengan kulitnya yang begitu bersih. Rambutnya yang diikat ekor kuda pun tampak semakin berkilau seiring ia mendekat.

Bajunya begitu licin dan sama berkilaunya. Pria itu mengenakan baju panjang semacam jubah, berwarna biru tua yang sangat mewah. Berhiaskan taburan emas di setiap sisinya.

Myan hanya memandanginya. Siapa dia? Malaikat mautnya? Myan bertanya-tanya di dalam hati. Jika memang ia adalah malaikat maut, mungkin ia malaikat maut yang paling tampan yang pernah ada.

"Si__siapa kau?" tanya Myan takut-takut. Hanya bisikan kecil yang keluar dari mulutnya.

Pria tersebut berlutut di depannya. Myan dapat melihat sarung pedang panjang yang diselipkan di samping ikat pinggangnya saat pria itu berlutut. 

Myan sedikit terkesiap. Apakah itu pedang? Pedang sungguhan? Mengapa ia membawa pedang? Apa ia pendekar? Apa ini? Apa sedang ada syuting film di sini? pikirnya bingung.

"Aku adalah pangeran Kouza, dari kerajaan Tarcha. Dan kau adalah pembebasku." Ucapnya dengan suara yang dalam.

Pria itu tiba-tiba berbicara dengannya. Tatapannya tak lepas dari wajah Myan. Ia kemudian meraih tangan Myan dan membimbingnya berdiri.

Myan yang tak dapat memahami situasi, mengerutkan alisnya. Ia menatap pria itu dengan bingung.

Tak lama setelahnya, dari balik pria yang mengaku bernama Kouza itu, Myan melihat dari kejauhan ada begitu banyak penunggang kuda yang lain yang tengah berderap menuju ke arah mereka. Myan sedikit terkejut, tanpa sadar meremas genggaman tangan Kouza.

"Ap__apa yang terjadi?" tanyanya tak mengerti.

"Tidak perlu takut, mereka para pengawalku," ucapnya menenangkan.

"Pengawal?" tanya Myan bingung.

"Maksudku, mengapa aku di sini? Apa yang terjadi? Apa sedang ada proyek pembuatan film di sini? A_aku, aku... tadi terjatuh dari atas tebing. Bukankah seharusnya tim penyelamat sudah memindahkanku kerumah sakit? Ta__tapi, Oh! Ada apa ini?" Myan mendadak diserang kepanikan.

Masih dalam kekalutannya, rombongan berkuda yang dikatakan Kouza tadi sudah mendekati mereka. Dengan sigap semua orang langsung turun dari kuda mereka dan berlutut.

Salah seorang dari mereka, yang tampaknya adalah pimpinan rombongan tersebut mendekati pria itu.

"Pangeran, perbatasan sudah kami periksa, tidak tampak ada tanda-tanda pergerakan dari Izaak." Ucapnya penuh hormat.

"Meski begitu kita tidak boleh berlama-lama di sini, terlalu berbahaya untuk Khisa" ucap Kouza sambil menatap Myan.

"Ikutlah denganku." Kouza kembali berbicara pada Myan. 

Myan tidak tahu harus berbuat apa. Ia berpikir mungkin pria itu akan membawanya ke tempat berlindung. Jadi ia hanya mengikuti Kouza yang membimbingnya mendekati kuda putih besar miliknya.

Salah satu kaki Myan naik pada pijakan yang baginya terbilang cukup tinggi itu, dan Kouza dapat dengan mudah mengangkat pinggang Myan untuk membantunya duduk di atas pelana. 

Myan terkejut dengan kesigapan Kouza. Ia terpekik kecil saat kuda itu pun bergerak tiba-tiba. Terlebih, karena ia sesungguhnya merasa sangat gugup duduk di atas seekor hewan yang belum pernah ia coba sebelumnya.

Kouza dengan gesit naik setelahnya, duduk di belakangnya. Myan dapat merasakan punggungnya menempel pada dada Kouza. Ia sedikit menegang. Ia juga dapat merasakan napas Kouza dari pucuk kepalanya.

"A_aku, tidak pernah naik kuda sebelumnya," Myan terdengar sedikit panik. Dia menelan ludahnya karena gugup.

"Tenanglah, berpeganganlah" Kouza mengarahkan kedua tangan Myan pada bagian depan pelana. Myan segera mencengkeram erat bagian itu dan berdoa semoga dia tidak jatuh.

"A_apakah aman? bagaimana jika aku jatuh?" tanyanya mulai diserang rasa panik lagi. Dia sedikit trauma dengan kejadian jatuh dari ketinggian.

"Tidak akan aku biarkan itu terjadi."

Sedetik kemudian Kouza menyentak perlahan kudanya. Myan menahan napasnya, sedikit terpekik lagi saat dirinya membentur dada Kouza karena hentakan kaki kuda.

Myan dapat merasakan otot-otot hewan tersebut bergerak-gerak seiring dengan hentakan-hentakan kakinya yang melaju. Terasa aneh dan tak biasa baginya. Ditambah dengan gesekan yang punggungnya rasakan yang menempel pada dada pria itu seiring dengan hentakan-hentakan kaki kuda yang berirama, semakin menambah ketegangannya.

"Bisakah tetap perlahan saja jalannya?" tanyanya pada Kouza.

Myan dapat mendengar derap-derap kaki kuda para pengawal Kouza yang mengikutinya dari belakang. Sejurus kemudian, pimpinan pengawal tadi tiba-tiba saja sudah menjajari kuda mereka.

"Pangeran!" serunya seperti memberi isyarat. Kouza menengok ke belakang sebentar.

"Maaf, sepertinya sudah tidak mungkin bagiku untuk berjalan pelan lagi." Kouza terdengar sedikit

 menggeram. Sedetik setelah mengatakannya, Kouza berteriak dan menyentak kudanya agar berpacu dengan cepat.

Myan ikut terpekik saat hentakan itu membuat tubuhnya sedikit oleng. Dengan sigap Kouza melingkarkan lengan kirinya dan mendekap Myan, menahannya agar tetap kokoh.

Dalam kecepatan lari kuda yang luar biasa kencang Myan dapat merasakan hembusan angin dari arah berlawanan yang tiba-tiba datang menerjangnya.

Entah apa, tapi ada sesuatu seperti badai kecil yang seolah melawan mereka datang dari arah berlawanan. Menghempaskan angin kencang, menghamburkan partikel debu halus yang dapat membuat perih mata. Myan refleks memejamkan matanya.

Kouza kembali berteriak dan menghentak tali kekang agar kuda mereka berlari lebih cepat lagi. Mereka seperti berlari dari kejaran sesuatu!

Myan tidak dapat melihat dengan jelas keadaan di sekitarnya. Ia terlalu takut untuk membuka matanya. Kecepatan kuda yang ditungganginya setara dengan kecepatan motor yang mengebut di jalanan jika dia bisa membandingkannya.

Disela-sela ketakutannya Myan masih sempat sedikit membuka matanya dan melihat seberkas cahaya biru muda dari arah berlawanan datang mendekat, dan seketika semakin membesar dan menyebar, mengurung dan melingkupi mereka seperti kubah besar.

Dengan ketakutan yang amat sangat Myan berteriak saat Kouza menerjang lapisan cahaya biru itu dengan kecepatan penuh. Dapat Myan rasakan kuda yang mereka tunggangi melompat tinggi seolah terbang seperti hendak menyeberangi parit besar dan keluar dari lingkaran cahaya tersebut.

Myan membelalakkan matanya, ketika cahaya biru itu menyebar, seolah mengejar mereka. Dan semakin dekat dengan cahaya itu, semakin Myan merasakan ada tekanan besar yang datang yang seolah menghimpit dadanya. Jantungnya terasa seperti ditusuk. Sesak sulit bernapas! Dan hingga akhirnya Myan tidak sadarkan diri.

**********

Kouza mengamati gadis bertubuh mungil yang tengah berbaring di sisi ranjangnya itu dalam diam. Ia menyibakkan helai rambut yang menempel pada pelipisnya yang sedikit basah karena berkeringat.

Kouza beberapa kali menyeka butiran-butiran keringat yang mengalir di dahi gadis itu. 'Sang Pembebas'-nya.

Kouza masih merasa takjub bagaimana dia bisa menemukan gadis itu tepat sesuai ramalan yang dikatakan Mera. Sang ahli peramal kerajaannya.

Gadis itu begitu mungil jika dibandingkan dengan dirinya. Apa bisa dia menggantungkan nasibnya padanya?

Gadis itu belum sadarkan diri sejak Kouza membawanya tadi. Mungkin serangan Izaak tadi membuatnya shock. Kouza tidak ragu lagi, bahwa gadis itu adalah Kisha, sebutan untuk sang pembebasnya.

Karena keberadaan gadis itu, dirinya dan para pengawalnya dapat lolos dari serangan tadi. Bagaimana mereka bisa menembus kubah yang hendak mengurung mereka dengan mudah adalah karena keberadaan gadis itu.

Kouza melihat Kisha mengerutkan dahinya seperti terganggu. Apakah Ia sedang bermimpi? Atau ia sedang merasa kesakitan? 

"Apa kau sudah sadar Kisha?" tanyanya perlahan.

Gadis itu kemudian perlahan-lahan membuka matanya, mengamati sekitarnya dengan seksama. Saat gadis itu menatap dirinya, ia segera bangun dan terduduk dengan tatapan bingung.

"Aku di mana?" tanyanya bingung.

"Kau ada di kamarku, tenanglah Kisha. Apa yang kau rasakan?" tanya Kouza.

Myan mengerjap bingung. "Kenapa kau memanggilku Kisha? Namaku Myan. Apa mungkin kau mengira aku orang lain?"

"Tidak. Kami memang menyebutmu Kisha. Jadi namamu Myan?" tanyanya lembut.

"Iya. Namaku Myana Felicia Jones. Ak_aku sedang berada dalam acara kebersamaan kantor, tiba-tiba aku terjatuh dari tebing di jalur pendakian. Dan...dan..." Myan tercekat, matanya berkaca-kaca mengingat lagi foto yang ia terima dari Rick.

"Tenanglah, minumlah dulu Myan" Kouza memberikan segelas minuman yang beraroma harum seperti bunga.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Myan kemudian.

"Apa maksud pertanyaanmu? Aku hanya tinggal di sini." jawab Kouza seperti sedikit keheranan.

"Ah, jadi kau bekerja disini." ucap Myan menyimpulkan. Myan tersenyum sendu dan mengusap air matanya. Dia berpikir mungkin semua ini memang lokasi syuting seperti yang diperkirakannya sebelumnya.

"Aku akan sangat berterima kasih jika kau mau mengantarkanku pulang, ah tidak! Cukup tunjukkan saja aku jalan keluar. Atau ke stasiun terdekat? Atau lokasi perkemahanku sebelumnya? Ah, bisakah aku meminjam mobilmu? M_mungkin aku harus ke rumah sakit dan memeriksakan keadaanku, karena... Oh! Semua begitu membingungkan!" Myan sedikit meracau karena panik.

"Apa itu pintu keluarnya?" tanyanya kemudian saat melihat pintu besar berukiran hiasan indah dan berwarna.

"Aku tidak tahu mengapa aku bisa berada di sini. Tapi aku berterima kasih kau mau menolongku saat aku sedang tidak sadarkan diri tadi."

Myan turun dari ranjang besar tempatnya tertidur tadi. Segera bergegas saat melihat pintu keluar di ruangan yang cukup besar itu tampak seperti jalan keluar yang menjanjikan.

Saat ia membuka pintu kamar, betapa terkejutnya Myan karena di depannya berdiri beberapa pengawal berpedang yang sedang berjaga dan berjajar rapi.

Walau terkejut, Myan tetap memberanikan diri keluar untuk menembus penjagaan mereka. Baru selangkah Myan maju, deretan pengawal tersebut menghadang langkahnya dan bersiap mengeluarkan pedangnya.

Saking terkejutnya, Myan sedikit terhuyung. Tubuhnya tidak sempat jatuh, karena entah kapan, Kouza sudah menahannya dari belakang

"Hentikan!" perintah Kouza. Dengan patuh mereka memasukkan kembali pedangnya.

Myan masih shock melihat pemandangan yang ada di depannya. Apa mereka baru saja akan menghunuskan pedang padanya? Pikirnya ngeri.

"Masuklah," ucap Kouza membimbing Myan.

Myan kembali masuk mengikutinya. Kouza menuntunnya untuk duduk pada sebuah kursi beralaskan kulit lembut.

"Ba_barusan, apakah mereka akan melukaiku dengan pedang itu?" tanya Myan dengan ngeri.

"Jangan takut" ucap Kouza menenangkan dirinya. 

"Bagi kami kau adalah Kisha. Kau adalah orang yang selama ini kucari dan kutunggu-tunggu. Kau adalah pembebasku." Jelas Kouza dengan perlahan dan tenang.

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!" jawab Myan bingung.

"Aku akan menjelaskan perlahan. Tapi sebelumnya berjanjilah padaku, kau akan tinggal, dan.... Ukh!" Kouza memejamkan matanya, mengerutkan keningnya dan menekan dahinya.

"Apa yang terjadi? apa kau baik-baik saja?" tanya Myan panik, dia bergegas mendekati Kouza.

"Ku__kumohon berjanjilah untuk tinggal, berjanjilah, demi aku... demi... Akh!" Kouza tampak sangat kesakitan sehingga tidak dapat meneruskan ucapannya. Di dahinya keluar banyak keringat dingin. Wajahnya tampak menahan sakit.

"Kau... bertahanlah!" Myan dengan sigap memapah Kouza mendekati tempat tidur dan membaringkannya.

"Jangan pergi!" ucapnya sambil menarik tangan Myan ketika gadis itu akan keluar.

"Tenanglah, aku akan panggil seseorang ya.."

"Tidak!" teriaknya.

"Berjanjilah.... berjanjilah kau akan tinggal Myan, ku.. mo.. hon." tiba-tiba Kouza melepaskan pegangan tangannya, dan tak sadarkan diri.

Myan membelalakkan matanya ketakutan, tanpa pikir panjang ia berhambur keluar.

"To__tolong! Dia...pingsan! Siapa saja tolonglah... Pangeran kalian!" teriaknya panik.

Pimpinan pengawal yang dilihatnya tadi sudah berlari dan berhambur masuk.

"Pengawal! Panggil tabib, cepat!" perintahnya.

"A_apa yang terjadi? Apa dia sakit?" tanya Myan panik.

Pimpinan pengawal tersebut menatap Myan, seperti sedikit bimbang. "Kisha, tolong ikutlah denganku," ucapnya kemudian.

Saat mereka keluar ruangan, Myan melihat beberapa orang tergopoh-gopoh masuk. Mungkin itu tabib yang di maksud tadi.

"Apa dia akan baik-baik saja?" tanyanya dengan cemas.

"Tidak usah cemas, pangeran akan baik-baik saja."

Pimpinan pengawal itu berjalan tergesa-gesa. Mau tidak mau Myan pun mengikuti langkahnya yang lebar-lebar.

"AROOKAAA!!!!!!!!!!!"

Tiba-tiba terdengar teriakan lantang seseorang yang menyebutkan sebuah nama.

Pemimpin pengawal yang berjalan di depan Myan sejenak berhenti. Ia mematung sesaat. Seperti tidak menghiraukan teriakan itu, ia kemudian tetap melanjutkan langkahnya lagi.

"Tuan Aroka... Tuan!" seorang pengawal berlari menghampiri mereka.

"P__pangeran, menyebut nama Kisha. D_dan beliau ingin bertemu dengannya."

Pria yang dipanggil Aroka itu menghela napasnya. "Baik, kembalilah," ucapnya kemudian.

Aroka menatap Myan ragu. "Mari, ikutlah denganku, Nona Kisha" Aroka berbalik badan sambil mempersilakan Myan untuk mengikutinya. Mereka berjalan beriringan.

"Kita akan kemana?" tanya Myan was-was.

"Menemui pangeran," jawabnya.

"Pangeran? Siapa? Ada pangeran yang lain?"

"Tidak. Pangeran Kouza," jawab Aroka lagi.

Myan tidak mengerti maksud Aroka.

"Bukankah, aku sudah bertemu dengannya?" tanya Myan heran.

"Tidak yang ini." Balas Aroka.

Mereka telah kembali lagi di depan ruangan besar itu. Berdiri di depan pintu.

"Pangeran yang ini...." 

"Praaanggg!!!!!!" 

Belum selesai Aroka menjelaskan, suara benda pecah yang dibanting terdengar keras dari dalam ruangan. Myan membelalakkan matanya menatap Aroka.

"AROKAAA!!!!!!!" suara Kouza terdengar lagi meneriakkan namanya.

Myan menelan ludahnya dengan panik. "Apa yang terjadi?" tanyanya.

"Jangan masuk dahulu, pangeran sedang murka. Tolong tunggu tanda dariku." Wajah Aroka berubah pucat, dengan terburu-buru dia masuk ke dalam kamar Kouza.

Kenapa Kouza berteriak-teriak seperti itu? apakah gara-gara ia hendak pergi tadi? Pikir Myan cemas. Myan tanpa sadar mondar-mandir di depan pintu kamar Kouza. Dirinya benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan.

Suara pintu yang dibanting dengan tiba-tiba membuatnya terlonjak. Myan memekik kaget. Tepat saat ia berbalik, dirinya membentur dan bertabrakan dengan seseorang yang keluar dari ruangan tersebut. Myan terpelanting dan ambruk di atas lantai. Kouza-lah yang ditabraknya!

"Aw!" Myan mengaduh karena nyeri di pantatnya.

"Ko__Kouza, apa kau baik-baik saja?"

Di belakang Kouza, Aroka dan beberapa orang yang sepertinya tabib tadi mengikutinya keluar.

Kouza menatap Myan lekat-lekat. Ia berlutut dan meraih tangannya untuk membantunya berdiri.

"Kalian semua pergi." Perintah Kouza dengan tegas.

Dengan patuh semua membungkuk dan pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.

Kouza membimbing Myan kembali memasuki kamarnya. Menutup pintu dengan perlahan. Tidak melepaskan pandangannya sedetik pun dari wajah Myan.

"Kau... Kisha?" tanyanya tiba-tiba sambil meraih wajah Myan.

"Kouza, kau baik-baik saja?" tanya Myan meneliti wajah Kouza. 

Kouza tampak sedikit berbeda, mungkin karena rambut panjangnya yang tergerai tanpa terikat rapi seperti siang tadi, membuatnya jadi tampak sedikit lain.

"Tidak, aku tidak baik-baik saja."

Setelah berkata, Kouza langsung melumat bibir Myan. Menciumnya secara tiba-tiba! Membuat Myan membelalakkan matanya dan membeku karena shock.

*******

Bab 3

Kouza mendesak maju menciumi Myan yang masih tercengang. Myan berusaha mendorong dada Kouza yang terus menekannya. Hingga akhirnya Kouza menyudutkannya merapat di pojok dinding. Menahan kepala Myan dan mendekap erat tubuhnya. Myan terkunci dan tak dapat bergerak.

Kouza yang seperti telah terlena, belum terpuaskan memagutnya. Ia memasukkan lidahnya lebih dalam lagi, mencari-cari, menghisap dan menuntut tanpa henti.

Myan sendiri mau tak mau mengikuti permainan Kouza hingga mendesah tak tertahankan, sangat kewalahan dengan serangan Kouza yang bertubi-tubi itu.

"Kou... hh... Kouza... tolong hentikan," bisiknya disela-sela cumbuan Kouza.

Myan mencoba beberapa kali lagi untuk berusaha berpaling menyudahi ciuman Kouza, tetapi masih tidak berhasil. Kouza menguncinya hingga sulit bergerak bebas. 

Baru beberapa saat kemudian, setelah Kouza memutuskan untuk menyudahinya, Myan dapat mengambil kesempatan untuk sedikit menjauhkan wajahnya darinya. Sembari mengatur napasnya yang tak beraturan, jantungnya berdetak sangat kencang.

Napas Kouza sama tak beraturannya seperti napasnya. Setelah melepaskan pagutannya, Kouza memandang Myan yang sedang kehabisan napas. Wajahnya memerah memburu.

"A__apa yang kau lakukan!" Myan mendorong Kouza agar menjauh darinya. Dia merasa sangat malu dan gugup.

"Hmm... tak kusangka kau begitu menarik Kisha, kau sangat menggoda." Gumam Kouza penuh kepuasan. 

"Aku seperti tak dapat menahan diriku. Rasanya, aku tidak bisa membiarkanmu begitu saja," ucapnya lagi sambil tersenyum penuh arti.

"Aku tidak keberatan untuk memilikimu seutuhnya, mari kita teruskan diranjangku. Aku akan memberikanmu kenikmatan lebih." Kouza yang tampak gelap mata, langsung membopong tubuh Myan dengan mudah.

"Ap__apa?! Kouza tunggu!" cegahnya panik.

Belum habis keterkejutan Myan tadi, kini Kouza tiba-tiba sudah membaringkannya di atas ranjang. Dia sendiri kemudian ikut bergabung di atasnya dan memerangkap Myan dengan kedua kakinya.

Kouza mulai membungkuk, dan dengan cepat melepas tali-tali simpul ikatan baju atasan Myan hingga terekspos di bagian dada.

"Tunggu... tungguu... Kouza hentikan!!" teriak Myan frustasi.

Kouza tersentak. Mungkin terkejut karena teriakan Myan, ia refleks berhenti. Kouza memegangi kepalanya dan terduduk. Tanpa sadar menindih sebatas pinggang Myan.

Seperti kembali tersadar akan sekeliling, Kouza mengerjapkan matanya. Ia membelalak kaget saat mendapati posisi dirinya tengah menindih Myan. Terlebih dengan pemandangan belahan dada Myan yang setengah timbul dan terbuka di hadapannya.

Kouza tampak shock. Ia refleks mundur dengan cepat hingga terjerembab ke atas lantai dengan suara yang keras.

Myan yang juga terkejut, segera menuju sisi ranjang dan melongokkan kepalanya untuk memeriksa keadaan Kouza.

"Kau tak apa-apa, Kouza?" tanyanya sambil membungkuk di salah satu sisi ranjang. Myan mengulurkan tangan padanya.

Kouza membeku. Ia sedikit tertegun karena mendapati posisi Myan yang membuatnya dapat lebih jelas lagi melihat belahan dadanya. Karena malu, ia memalingkan mukanya dan berdiri sendiri.

"Tidak apa-apa," jawabnya tanpa memandang Myan.

Myan memandangi Kouza dengan keheranan, meneliti perubahan sikapnya yang begitu mendadak. Ia akhirnya berjalan mendekatinya karena begitu penasaran.

"Kau, tadi hendak..."

"Apa yang sudah aku lakukan?" Kouza tersentak dan menatap Myan. Ia berbalik dan mencengkeram kedua bahu Myan setelah memotong ucapan gadis itu.

"Ti__tidak, maksudku kau tadi..... aku pikir kau hendak menyerangku lagi, jadi tanpa sadar aku berteriak padamu. Apa kau kesakitan lagi?" tanyanya.

"Apa aku menyakitimu?" tanya Kouza lagi.

Myan membulatkan matanya dan menelan ludahnya. Membayangkan kembali yang telah Kouza lakukan padanya tadi. Ciuman serangannya  tadi memang terasa begitu intens dan panas.

Kouza memang tidak menyakitinya. Tapi hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat Myan kembali tergelitik. Belum pernah ia merasakan ciuman yang sepanas itu sebelumnya. Muka Myan kembali merona hanya dengan mengingatnya saja.

"Maafkan aku," ucap Kouza lembut dengan wajah penuh penyesalan.

"Kau tidak menyakitiku," Myan sedikit terkejut dengan perubahan ekspresi Kouza. 

"Kau hanya... me_mengagetkanku saja dengan c_ciuman mendadakmu tadi, selain itu aku tak apa-apa"

"Apa?!" Kouza terkejut dengan ucapan Myan.

"Aku menciummu?" tanyanya. Tubuhnya seketika menegang.

Myan mengerjap dan mengangguk tanpa ia sadari. 

"Oh, maaf," Kouza mendesah. Kali ini raut wajahnya berubah menjadi kusut.

"Maafkan aku, itu bukan aku," ucapnya. Myan tak mengerti maksud perkataan Kouza.

"Itu aku, tapi bukan aku," lanjutnya. 

"Jika kau melihatku lagi, dan saat itu aku berkelakuan aneh, tolong pergilah. Menghindarlah dariku, sampai aku yang seperti sekarang kembali lagi." 

"Apa maksud perkataanmu sih?" Myan 

"Aku akan menjelaskan semua padamu nanti Myan, sekarang buatlah dirimu lebih nyaman dahulu. Jika kau ingin berganti pakaian, atau mungkin membersihkan dirimu, para pelayan akan mempersiapkannya untukmu."

Myan baru tersadar dengan keadaannya sendiri, setelah Kouza menyebutkannya. Baju atasannya yang sudah berantakan, dan dengan dadanya yang sudah separuh menyembul memperlihatkan kemulusannya kulitnya di depan Kouza, seketika membuatnya sangat malu! Refleks, ia menutupi dengan tangannya. Kouza ikut berpaling dengan canggung.

****

Beberapa pelayan wanita membawa Myan ke tempat pemandian di dalam istana. Mereka menyiapkan bak kayu besar berisi air hangat yang muat untuk dirinya. Di sisi lain ada sebuah kolam yang berisi air yang jernih mirip seperti kolam berenang kecil.

Myan memilih untuk berendam di dalam bak berisi air hangat dengan banyak kelopak mawar merah yang menghiasinya.

Seorang pelayan wanita hendak membantunya menggosok tubuhnya saat ia mulai berendam.

"Biar aku sendiri saja," ucap Myan. Pelayan tersebut mengangguk dan undur diri.

"Aku akan membersihkan diriku sendiri. Kalian bisa menungguku diluar, terima kasih," ucapnya canggung.

"Baik, Nona" jawab mereka kemudian keluar.

Myan menarik napas lega. Ia memejamkan matanya untuk menikmati air hangat yang menyelimuti tubuhnya.

Jelas ia tidak gila, atau sedang berhalusinasi. Entah apa, tapi tempat ini memang lah asli. Semua yang ia lihat, ia alami, dan ia sentuh terasa begitu nyata. 

Di mana ini? Jaman apa ini? Negara apa ini? apa ia sedang berada di dimensi lain dengan hal-hal ajaib dan sihir aneh yang tadi dilihatnya?

Siapa mereka semua dengan pakaian anehnya? Kerajaan apa ini? Semua terasa sangat asing, tapi mengapa bahasa mereka sama? Mengapa ia bisa berada di sini? Ini jelas bukan surga! Ah entahlah! Tak tahulah! Myan merasa sangat frustasi.

Pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya membuatnya sangat kesal. Walau begitu, Myan berusaha untuk tetap tenang. Ia mulai merunut kembali kejadian yang telah dialaminya sebelum ini.

Logikanya, jika ia memang telah terjatuh dari tebing, pasti dirinya sekarang sedang berakhir di rumah sakit. Atau yang lebih buruk adalah... Kematian. Ya, ia mungkin sudah mati.

Myan membuka kembali matanya. Membelalak. Sedikit tercekat dengan analisanya. Jika memang ia sudah mati, apa mungkin arwahnya lalu masuk ke dalam tubuh orang lain yang mirip dengan dirinya? Dari jaman, waktu, dan dimensi yang lain mungkin? Seperti yang ada di film-film yang pernah ia tonton?

Ah masa bodoh lah! Myan berpikir, jika memang masih ada kemungkinan ia bisa kembali ke dunianya sendiri, jelas itu yang akan ia upayakan. Ia tidak mau peduli dan tidak mau tahu di mana dan dunia apa yang sebenarnya sedang ia jelajahi sekarang. Ia hanya ingin pulang.

Walau tampak menyedihkan dan tidak ada lagi yang tersisa di kehidupan aslinya, ia tetap ingin kembali jika bisa. Kembali ke rutinitasnya sehari-hari, berangkat bekerja setiap pagi. Ia bahkan mulai sedikit merindukan Rick bodoh yang telah mengkhianatinya.

Tunggu saja Rick, begitu aku bisa kembali, aku akan memberimu pelajaran! Batin Myan geram.

Perasaan amarah dan frustasi bercampur menjadi satu, bagaimana pun ia harus segera mencari cara agar dapat kembali kebdunianya sendiri! Yang paling penting sekarang adalah dirinya. Benar, ia tak ingin tahu sedang di mana. Ia hanya ingin pulang!

"Oh, sungguh menyebalkan!"

Myan mendesah, menyeka air matanya yang sudah berkumpul di pelupuk matanya. Ia begitu sedih hingga tak dapat menahan air matanya.

Tapi ia memiliki misi sekarang. Ia tidak boleh lemah dan menjadi pengecut. Ia akan mencari tahu alasan mengapa dirinya bisa berada di sini, dan bagaimana caranya ia bisa pulang. Itu yang paling penting.

Myan sudah membulatkan tekadnya dan akan mencari cara apapun yang bisa membuatnya pulang lagi ke dunianya sendiri.

*******

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED