Bab 1

“Kenapa hanya segini?” teriak Farah kepada Vira yang baru saja pulang dari tempat kerjanya.

“Ma—maaf, Bu. Tapi, ini gaji terakhir aku karena aku dipecat. Aku difitnah oleh teman kerjaku yang padahal dia sendiri yang sudah melakukan itu,” ucap Vira dengan suara lirihnya dengan kepala menunduk karena takut.

“Apa?! Jadi, sekarang kamu menganggur? Cari kerja lagi, Vira! Kamu pikir hidup tidak butuh uang, huh? Awas, kalau masih menganggur! Aku tidak akan segan-segan kirim kamu ke ayah kamu di sana.”

Vira menggelengkan kepalanya dengan cepat memohon agar jangan dikirim ke ayahnya yang merupakan mucikari, menjual anak di bawah umur dan juga menjual wanita yang ingin mencari kerja dengan cara yang tidak halal tentunya.

“Aku akan mencari pekerjaan lagi, Bu. Aku sudah dapat info kalau di Mega Hospital ada lowongan kerja. Besok pagi aku segera ke sana. Ini sudah sore, sudah tutup pendaftarannya.”

Farah merampas uang itu dengan kasar kemudian masuk ke dalam kamarnya. Vira hanya bisa menghela napasnya lalu mengusap air matanya karena ketakutan.

Perut keroncongan membuat tangis itu semakin lirih. Ia kemudian pergi ke dapur. Melihat ada satu mie instan di dalam lemari langsung ia eksekusi dengan segera.

Esok harinya. Pukul 09.00 WIB.

Vira langsung pergi ke rumah sakit untuk melamar pekerjaan di sana. Mengenakan pakaian seadanya yang ia miliki, juga uang yang hanya cukup untuk ongkos ojek saja.

Vira memberanikan diri untuk datang ke rumah sakit itu berharap lowongannya masih ada.

Sesampainya di sana. Vira melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang interview, menaruh banyak harapan di dalamnya.

“Mohon maaf. Slot lamaran kerja untuk tahun ini sudah penuh.”

Pupus sudah harapan Vira kala mendengarnya. “Bu. Nggak bisa ya, selipkan saya? Satu orang saja kok, Mbak. Saya mohon, saya sangat butuh kerjaan ini, Mbak.”

Vira memohon agar bisa masuk. Sebab ia tak ingin jadi wanita bayaran jika tidak memiliki pekerjaan lagi oleh ibunya itu.

“Tidak bisa. Sudah penuh, Mbak. Memangnya Mbak mau, kerja tapi tidak digaji?”

Vira menghela napas lelah. Ia kemudian keluar dari ruangan itu dengan harapan yang sudah hilang.

“Ke mana aku harus cari pekerjaan lain?” keluhnya lalu menghela napas lelah. Ia menoleh ke samping lalu tersenyum tipis kala melihat anak kecil yang tengah berbincang dengan seorang lelaki di sana.

Ia pun duduk dan memandang anak kecil itu. “Anaknya ganteng banget, Pak.”

Lelaki itu menoleh kemudian menyunggingkan senyum kecil. “Terima kasih. Tapi, ini bukan anak saya, melainkan keponakan saya.”

“Oh, maaf, maaf, Pak. Saya nggak tahu, hehe.” Vira meringis pelan lalu mengusapi belakang lehernya.

“Mbak lagi ngapain di sini?” tanya Samuel ingin tahu.

“Saya sedang melamar pekerjaan tapi ternyata slotnya sudah penuh.”

Samuel manggut-manggut. “Boleh, saya lihat resume kamu? Kebetulan saya lagi butuh karyawan untuk menggantikan sekretaris saya yang akan resign nggak lama ini.”

“Bo—boleh, Pak. Saya lulusan S1 Ekonomi kok, Pak. Dan saya bisa mengerjakan apa pun. Meski itu sulit, akan saya pelajari sampai bisa.”

Dengan semangatnya Vira memberikan CV miliknya kepada Samuel. Lelaki itu kemudian melihat resume tersebut. Tanpa basa-basi, Samuel menerima Vira sebagai karyawan barunya di sana sebagai sekretaris pengganti Tata yang akan mengundurkan diri.

“Sekali lagi terima kasih banyak ya, Pak. Saya akan datang ke kantor Bapak sesuai yang Bapak minta. Kalau begitu saya permisi.”

Samuel mengangguk sambil mengulas senyum pada perempuan itu. “Lucu. Kelihatannya ulet juga.”

Samuel menggaruk alisnya kemudian menoleh pada Elvan yang tengah menatapnya balik. “Kenapa?”

Elvan menggelengkan kepalanya. “Nggak.”

Samuel mengacak rambut keponakannya itu lalu menghela napasnya dengan panjang.

Keesokan harinya. Ia terbangun kemudian melihat jam yang baru saja menunjuk angka enam pagi.

“Buset! Masih pagi banget gue bangunnya. Nggak biasanya juga bangun jam segini.” Samuel menggaruk rambutnya kemudian beranjak dari tempat tidur.

Pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor.

Pukul 06.30 WIB.

Samuel mengatup dagunya di meja makan sembari mengembungkan pipinya. “Ini gue lagi kena azab apa gimana sih. Gue minta jangan datang jam tujuh dan sekarang gue nggak tahu harus ngapain gara-gara bangun kepagian. Sialan emang.”

Samuel mengacak rambutnya kemudian beranjak dari duduknya. Yang pada akhirnya ia pun pergi ke kantor dan tak peduli meski baru jam tujuh sampai di kantor nanti.

Pukul 07.30 WIB.

Tata terkejut bukan main saat melihat Samuel tengah mengaduk kopi di dapur kantor seorang diri sembari menatap kosong ke arah jendela.

“Pak! Bapak lag ingapain di sini?” tanya Tata dengan wajah masih terkejutnya.

Samuel menghela napasnya. “Kopi saya habis di rumah. Kepala saya mumet lihat kerjaan akhirnya datang lebih awal buat ngopi bentar.”

Tata menaikan alisnya sebelah, tak percaya dengan ucapan bosnya itu. “Yakin, karena kopi di rumah Bapak habis? Bukan karena mau datang karyawan baru?” tebaknya kemudian.

“Hah? Ngapain saya nungguin karyawan baru? Biar aja dia datang dan langsung masuk ke ruangan saya. Aneh!”

Tata menyunggingkan bibirnya. “Bapak tuh, yang aneh. Bisa-bisanya datang pagi bener nggak biasanya. Saya nggak yakin, sama ucapan Bapak tadi. Pasti karena karyawan baru itu, kan?” Tata menunjuk wajah Samuel seraya menggoda lelaki itu.

“Ck! Sekretaris nggak jelas! Bisanya ganggu bosnya doang!” sengalnya kemudian melangkah pergi dari dapur itu.

Masuk lagi ke dalam ruangannya sembari membawa kopi yang dia buat tadi.

Sementara di rumah Vira. Perempuan itu bergegas keluar dari kamarnya sembari menguncir rambutnya.

“Vira!” panggil Farah kepada anaknya itu. “Kerja di mana kamu sekarang? Atau hanya pura-pura, agar aku tidak mengirim kamu ke ayah kamu? Iyaa?”

Vira menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Nggak kok, Bu. Aku beneran dapat panggilan dan hari ini interview. Aku akan bekerja di sana dan semoga ditempatkan di jabatan yang gajinya lumayan, Bu. Jangan hubungi Ayah, aku mohon. Aku akan bekerja lebih giat lagi dan tidak akan melakukan kesalahan.”

Farah menatap wajah anaknya itu dengan tatapan sengitnya. “Awas kalau berani berbohong! Aku tidak akan segan-segan membuat kamu kehilangan harga diri kamu!”

Bab 2

Pukul 22.00 WIB.

Jani dan Rayhan memilih untuk pulang lebih dulu karena sudah malam.

“Kak. Makasih ya, buat traktirannya. Kita pulang duluan, kasihan Elvan udah tidur pulas banget. Takut Mas Rayhan pegel juga dari tadi gendong dia.”

“Nggak apa-apa. Elvan masih kecil, nggak terlalu pegel.” Rayhan kemudian menerbitkan senyumnya.

Keduanya lantas pergi dari sana, sementara Samuel dan Vira masih duduk saling bersampingan. Vira masih terlihat canggung di dekat bosnya itu sebab baru hari pertama kerja, sudah dibawa dan dikenalkan pada keluarganya.

“Mau pulang sekarang?” tanya Samuel kepada perempuan itu.

“Boleh, Pak. Bapak sudah mau pulang sekarang?”

Samuel mengendikan bahunya. “Biasanya sering ke club dulu atau nongkrong sama temen-temen. Tapi, karena sudah malam dan saya juga harus antar kamu ke rumah kamu, kayaknya langsung pulang aja ke rumah.”

“Saya jadi nggak enak, Pak. Nanti saya naik taksi saj—”

“Nggak usah. Sekalian saya juga pengen tahu rumah kamu di mana.” Samuel kemudian mengulas senyumnya pada perempuan itu.

Vira meringis pelan dan menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Pak. Bapak baik banget. Pantesan, Mbak Tata betah banget jadi sekretaris Bapak.”

Samuel terkekeh pelan. “Tata emang lucu orangnya. Tapi, banyak ke nyebelinnya.”

Vira terkekeh pelan. “Kalau itu saya kurang tahu.”

Samuel menghela napasnya dengan panjang lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Mengambil minuman miliknya dan menyesapnya.

“Anak kecil yang tadi digendong oleh Rayhan, itu bukan anak kandungnya. Tapi, anak dari kakaknya. Orang yang sudah meninggal karena telah membunuh ibunya sendiri.”

Vira terkejut mendengar cerita dari bosnya itu. “Oh, iyaa. Saya dengar cerita ini Mbak Tata. Jadi, sebenarnya Mbak Jani ini istrinya kakaknya Pak Rayhan?”

Samuel menggeleng dengan pelan. “Nggak. Jani dan Rayhan sudah lebih dulu menikah. Satu tahun kemudian, Rayhan mengalami kecelakaan dan dinyatakan meninggal karena hanyut dibawa air sungai.

“Tapi, yang sebenarnya terjadi adalah Rayhan mengalami koma selama dua tahun lamanya. Dia bangun juga karena Jani baru diberi tahu. Meski sempat amnesia, Rayhan akhirnya ingat semuanya. Jani dan Arga bisa menikah karena dijebak.

“Arga sengaja melakukan itu agar perusahaan itu semakin kuat menjadi miliknya dengan cara memiliki Jani. Memang agak rumit perjalanan cinta Jani. Tapi, akhirnya dia bisa melewati ini semua dengan sabar dan ikhlas.”

Samuel kemudian menoleh pelan pada Vira yang tengah mendengarkan ceritanya dengan saksama.

“Kalau kamu, kenapa orang tua kamu hanya menunggu kamu pulang saat kamu gajian saja? Memangnya ayah kamu tidak kerja?”

Vira menggeleng dengan pelan. “Ayah saya kerja. Tapi, tidak halal. Bisnis anak kecil dan juga perempuan yang akan dia jual ke mucikari dan lainnya. Hanya saja, uang itu habis entah ke mana yang akhirnya saya juga yang suruh kerja untuk makan dan biaya sekolah kedua adik saya.”

Samuel manggut-manggut dengan pelan. “Ibu kamu juga pasti sibuk urus rumah, yaa. Jadi, kamu terus yang dipaksa untuk kerja keras.”

Vira meringis pelan. “Nggak juga sih, Pak. Mohon maaf, kalau saya lancang. Tapi, memang seperti itu kenyataannya. Sebelum saya berangkat, jam lima subuh itu saya harus menyiapkan semuanya dulu.

“Dari masak, cuci piring, cuci baju dan beres-beres rumah. Jadi, ibu saya hanya ongkang kaki dan mungkin hari ini tidak akan pulang setelah dapat uang dari saya kemarin. Gaji terakhir di tempat kerja saya dulu.”

Samuel mengedip-ngedipkan matanya. Betapa ia sangat mengasihani hidup Vira yang cukup nelangsa itu.

“Nggak mau pindah rumah aja? Sendirian itu lebih nyaman dibanding jadi pembantu bahkan nggak dianggap sebagai anak oleh orang tuanya sendiri.”

Vira menghela napasnya dengan panjang. “Tidak, Pak. Saya tidak mau nanti ibu dan ayah saya nyari saya kalau pergi dari rumah itu. Juga kasihan pada adik-adik saya nanti, Pak. Takutnya mereka dijual oleh ayah saya.”

Samuel menggaruk alisnya seraya menatap Vira yang tengah menunduk sembari menyesap minuman miliknya.

“Mau pulang sekarang?” tanya Samuel kemudian.

Vira mengangguk. “Boleh, Pak. Sudah malam juga.”

Samuel mengangguk lalu beranjak dari duduknya. “Ya sudah, kamu tunggu di luar saja. Saya mau bayar dulu.”

“Baik, Pak.” Vira lalu bangun dari duduknya dan pergi keluar menunggu di dekat mobil lelaki sementara Samuel-nya sendiri masih di meja kasir tengah membayar semua makanan yang ia pesan tadi.

“Semoga Pak Samuel selalu baik seperti ini. Aku tidak boleh mengecewakan dia. Jarang sekali mendapat bos sebaik dia,” gumam Vira berharap Samuel bisa jadi bos terakhirnya.

Ia sudah sangat nyaman kerja di sana karena sudah terlihat bila Samuel memang pria yang baik. Tidak pernah angkuh meski seorang pemilik perusahaan dia mana ia bekerja kini.

“Yuk!” ajak Samuel lalu masuk ke dalam mobilnya bersama dengan Vira.

“Rumah kamu di mana, alamatnya?” tanya Samuel kemudian.

Vira menoleh. “Jalan Kencana nomor tiga puluh, Pak. Gang Merpati.”

Samuel menganggukkan kepalanya. “Lumayan jauh juga, dari kantor. Kamu nggak punya kendaraan, yaa? Sorry, kalau pertanyaan saya sedikit menyinggung. Hanya ingin tahu saja.”

“Nggak apa-apa kok, Pak. Karena memang seperti itu. Saya pernah punya motor. Tapi, ditarik lagi karena tidak mampu membayar. Uang yang selalu saya sisipkan selalu saja ketahuan oleh ibu saya.”

Samuel menelan saliva dengan pelan. “Kalau nanti saya belikan kamu motor, yang ada diambil lagi oleh ibu kamu. Apalagi kalau beli mobil.”

“Tidak usah, Pak. Jangan. Karena percuma, nggak akan awet,” tolak Vira lalu meringis pelan.

“Baiklah kalau begitu. Kamu naik taksi saja biar nggak kena debu jalanan.”

Samuel mengambil dompet kemudian memberikan beberapa lembar uang kepada Vira. “Ini, buat uang saku kamu. Jangan sampai ketahuan oleh ibu kamu.”

“Ng—nggak usah, Pak. Saya masih ada kok untuk ongkos taksi.” Vira menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tangan menolek pemberian Samuel itu.

Samuel menghentikan mobilnya sebab traffic light berwarna merah. Ia kemudian mengambil tas Vira dan memasukan uang tersebut ke dalamnya.

“Jangan menolak rezeki, pamali. Buat makan siang kamu, ongkos naik taksi dan keperluan lainnya. Jangan sampai ketahuan oleh ibu kamu. Ingat itu! Kalau kamu menolaknya, saya akan mencari pengganti kamu.”

Vira lantas menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Te—terima kasih banyak, Pak. Saya akan bekerja dengan giat dan tidak akan mengecewakan Bapak.”

Samuel tersenyum tipis lalu menatap wajah Vira. ‘Mata kamu … seperti mata perempuan yang kini sudah pergi meninggalkanku, Vira. Siapa sebenarnya kamu ini? Kenapa aku merasa nyaman, berada di dekat kamu?’

Bab 3

Pukul 02.00 dini hari.

Samuel masih memandang foto Nindy di dalam kamarnya dengan otak terus terngiang pada bayangan wajah lugu Vira yang membuatnya bingung oleh kedua perempuan ini.

“Kamu pernah cerita, punya adik perempuan satu-satunya tapi diculik oleh seorang laki-laki dan membawanya pergi entah ke mana. Dan aku pernah berjanji sama kamu akan mencarinya untuk kamu.

“Sorry, aku belum bisa menepati janji itu hingga sekarang. Mungkin, karena ini juga aku tidak bisa melupakan kamu, Nindy. Sudah tujuh tahun kamu pergi ninggalin aku. Tapi, sedetik pun aku masih belum bisa melupakan kamu.”

Samuel menghela napasnya dengan panjang lalu mengambil buku diary milik Nindy yang dia bawa dari kamar perempuan itu. Selama tujuh tahun itu pula, ia tak pernah membukanya sekali pun.

Sebab tak sanggup melihatnya. Sudah pasti banyak bayang-bayang yang akan melintas kala ia dan Nindy masih bersama dulu.

Namun, kali ini ia memberanikan diri untuk membuka diary itu. Ingin melihat apa saja yang ditulis oleh perempuan itu di sana.

‘For my sister. Kakak janji, Sayang. Kakak akan menemukan kamu. Semoga kamu baik-baik saja di sana, ya. Kakak rindu kamu, Sayang. Semoga Tuhan masih bisa mempertemukan kita suatu saat nanti.’

Samuel menundukan kepalanya dengan air mata yang berlinang membasahi pipi kala melihat tulisan tangan yang ditulis oleh Nindy.

‘Samuel. Hidup akan terus tetap berjalan. Bukannya aku tidak ingin meninggalkan kamu, bukannya aku tidak mencintaimu. Aku sudah menemukan di mana adikku sekarang. Tapi, sulit aku ambil karena ini semua ada campur tangan Papa.

‘Aku harus menyelamatkan adikku. Aku tidak ingin dia terus merasakan siksaan seperti ini selama sepuluh tahun ini. Jika aku tidak bisa kembali, aku harap kamu dapat mengikhlaskan aku pergi.’

Samuel terisak lirih membaca pesan terakhir yang ditulis oleh Nindy. Rupanya, perempuan itu memang sudah tahu risiko yang akan dia hadapi nanti.

“Dan adik kamu belum juga kamu temukan. Tapi, kamu harus pergi sebelum bertemu dengannya,” lirih Samuel lalu membalikkan lembar kertas itu.

Ia mengusap air matanya kala melihat wajah bayi mungil yang tengah digendong oleh Nindy.

“My sister, Sherly. Kamu adalah alasan Kakak bertahan hingga saat ini. Andai nanti kamu bertemu dengan Samuel di kemudian hari, aku harap kalian bisa bersama jika Kakak tidak bisa ada di samping Samuel nanti.”

Samuel mengerutkan keningnya kemudian mencari tahu yang lainnya lagi. “Kenapa dia malah biarin gue sama adeknya?” ucapnya lalu mengambil kertas yang diselipkan di sana.

“Kanker hati stadium tiga,” ucapnya dengan mata membola. “Jadi ini, yang selama ini Nindy tutupi dari gue. Bukan hanya karena kematian dia yang misterius, orang tuanya nggak mau nyari pelakunya karena memang ada campur tangan mereka.

“Dan sekarang, gue baru tahu kalau Nindy menyembunyikan penyakitnya selama ini. Dia berani ambil risiko ini karena tahu, bakalan mati juga. Dan dia nggak mau berbagi kesedihan itu sama gue.”

Samuel tersenyum miris. “Tapi, nama adiknya Sherly, bukan Vira. Jauh banget bedanya.” Samuel menghela napas kasar.

Ia kembali menatap wajah bayi mungil itu dengan saksama. Mengerutkan keningnya kala merasakan persamaan antara mata Vira dan bayi mungil itu.

“Saat usianya satu tahun, Sherly diculik oleh orang itu. Bisa jadi namanya diganti. Tapi, gue harus cari tahu dulu apakah bener Vira itu adiknya Nindy atau bukan.

“Seenggaknya gue bisa tepati janji gue untuk nyari adiknya itu. Agar Nindy bisa tenang juga di sana. Selama ini, mungkin gue karena ini, gue nggak bisa lepas dia. Karena gue belum bisa menemukan adiknya Nindy.”

Samuel kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menutup matanya sebab waktu sudah hampir jam tiga pagi.

**

Pukul 05.00 WIB.

Vira bangun dari tidurnya seperti biasanya. Langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri sebelum mencuci baju atau piring.

Setelahnya ia masuk ke dalam dapur. Melihat banyaknya cucian kotor yang menumpuk membuatnya menarik napas dalam-dalam lalu menerbitkan senyumnya.

“Bukankah sudah biasa, melakukan pekerjaan ini setiap hari? Tidak perlu dipusingkan ya, Vira. Kamu sudah terbiasa dengan pekerjaan ini.” Vira menyemangati dirinya sendiri atas pekerjaan yang setiap hari harus ia kerjakan.

“Kak Vira?”

Vira menoleh kala adik bungsunya memanggil dirinya. “Johan. Kok sudah bangun? Joana sudah bangun juga?”

Johan menggeleng pelan. Anak kecil berusia lima belas tahun itu kemudian menghampiri sang kakak yang tengah mencuci piring.

“Kok Kakak kemarin pulang malam banget? Kakak kerja di mana emang sekarang?” tanyanya ingin tahu.

Vira menghela napasnya dengan panjang. “Kakak, Kakak habis makan malam sama bos Kakak yang baru, Han. Makanya pulang agak malam. Kamu nyariin Kakak, yaa? Maaf, yaa. Kakak janji, hari ini nggak akan pulang malam.”

Johan menatap Vira lagi. “Kenapa Kakak nggak kabur aja? Aku kasihan sama Kakak. Uang Kakak hanya dihambur-hambur oleh Ibu, Kak. Uang sekolahku belum dibayar selama dua bulan ini.”

Vira menghentikan acara cuci piringnya kala mendengar ucapan dari Johan tadi. “Du—dua bulan? Dua bulan kamu belum bayar sekolah?” tanyanya terkejut.

Johan mengangguk. “Hari ini aku nggak bisa sekolah karena ditagih terus sama bu guru untuk menyelesaikan pembayaran sekolah. Karena seminggu lagi mau ulangan. Kak. Kita kabur aja, yuk!

“Aku nggak mau tinggal sama Ibu lagi. Aku juga kasihan lihat Kakak kerja banting tulang tapi nggak pernah dihargai. Yang dipikirkan oleh Ibu hanya kepetingannya aja.”

Vira menghela napasnya dengan panjang. “Nanti kita cari jalan solusinya ya, Sayang. Jangan bicara seperti itu. Kakak takut kalau kita kabur dan ketahuan Ibu, kita akan dibawa ke Ayah dan dijual olehnya. Kamu yang sabar ya, Johan.”

“Kakak selesaikan kerjaan Kakak dulu. Ibu di mana? Belum pulang?”

Johan menggeleng pelan. “Nggak ada. Kakak habis gajian kan, kemarin? Nggak akan pulang sebelum uangnya habis.”

Vira menganggukkan kepalanya dan kembali mencuci piring tersebut. “Jangan dulu bangunkan Joana. Dia akan marah-marah kalau dibangunkan. Biarkan dia mau bangun jam berapa juga.”

Sifat yang dimiliki oleh Joana memang sangat mirip dengan Farah. Keduanya sama-sama keras dan egois. Joana yang baru berusia dua puluh dua tahun itu memilih bekerja sebagai wanita panggilan.

Hanya saja, uangnya selalu ia habiskan seorang diri. Juga, Johan tak ingin memakai uang itu untuk membayar sekolahnya. Lebih baik meminta kepada Vira daripada pada kakak keduanya itu.

Selesai mencuci piring, Vira masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Johan.

“Ini. Kamu bayarkan ke sekolah, yaa. Jangan bilang-bilang Ibu, kalau Kakak punya uang. Ini untuk ongkos Kakak naik bus. Sebenarnya diminta naik taksi oleh bos Kakak. Tapi, karena uangnya untuk bayar sekolah kamu, Kakak masih bisa naik bus.”

Vira memberikan uang sebanyak delapan ratus ribu kepada sang adik agar ia tetap bisa sekolah. Vira tak ingin adiknya putus sekolah hanya karena tidak membayar uang sekolahnya.

“Kak. Kakak nggak kerja kayak Joana, kan?” tanya Johan dengan suara pelannya. Ia takut kakaknya melakukan pekerjaan itu juga.

Vira tersenyum mendengarnya. “Nggak. Kakak kerja sebagai sekretaris di JMK group. Doain, semoga Kakak diberi kepercayaan dan bisa menjadi karyawan yang baik nilanya di mata bos Kakak.”

“Amin. Syukur deh, kalau Kakak nggak kerja itu juga. Aku nggak mau Kakak kerja itu. Karena yang halal masih banyak.”

Vira mengusapi lengan adiknya itu dengan lembut. “Jangan takut. Kakak nggak akan pernah mengambil pekerjaan seperti itu. Kakak ingin memberikan yang terbaik buat kamu, Johan. Agar suatu saat nanti kamu bisa kerja di tempat yang layak dan halal.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED