Alvina POV:
Pradipa merasakan tanganku gemetar saat aku menyerahkan dokumen kepadanya. Ia refleks meraih pergelangan tanganku, seolah ingin merebut kembali apa yang baru saja kuberikan. Namun, aku dengan cepat menarik tanganku, gerakan yang terasa lebih gesit dari biasanya.
"Sudah kutandatangani," kataku, suaraku datar. "Aku akan menyerahkannya ke pengadilan nanti. Kamu tidak perlu repot-repot."
Wajahnya menunjukkan kebingungan. "Kenapa kamu begitu terburu-buru?" Ia menatapku dengan tatapan curiga.
"Kamu punya banyak pekerjaan, kan?" Aku mengangkat bahu, mencoba terlihat santai. "Aku tidak ingin menghambatmu."
Pradipa terus menatapku, matanya menyipit. "Apa yang terjadi denganmu hari ini?" Tanyanya, nada suaranya berubah menjadi lebih tajam. "Kamu seperti... orang lain."
Aku hanya tersenyum tipis. Tidak ada gunanya menjelaskan. Baginya, aku mungkin memang sudah gila. Aku merasa seperti terlahir kembali, dan kebebasan ini terasa memabukkan.
Kami masuk ke dalam mobil, keheningan menyelimuti kami seperti selimut tebal. Aku menatap keluar jendela, membiarkan pemandangan melintas begitu saja. Pradipa, di sampingku, jelas merasa tidak nyaman dengan keheningan ini.
"Malam ini ada pertunjukan drama musikal," katanya tiba-tiba, memecah kesunyian. "Kamu suka drama, kan? Kita bisa pergi bersama."
Aku menoleh ke arahnya, terkejut. Aku ingat dengan jelas bagaimana dulu aku dengan antusias menceritakan tentang pertunjukan yang sama, berharap dia mau menemaniku. Dia hanya menatapku dingin, "Aku tidak punya waktu untuk hal-hal kekanak-kanakan seperti itu."
Kali ini, aku memilih untuk diam. Aku hanya menatapnya, tidak menunjukkan reaksi apa pun. Wajah Pradipa mulai menunjukkan ketidaksabaran.
"Kalau tidak mau, tidak apa-apa," katanya cepat, seolah ingin menarik kembali tawarannya. "Aku hanya asal bicara."
"Aku mau," kataku, memotong ucapannya. Sekilas, senyum tipis terukir di bibirku, entah mengapa.
Pradipa tampak terkejut, ekspresinya sulit ditebak. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menyalakan mobil. "Akan kujemput setelah makan malam," katanya, suaranya sedikit serak.
Tepat saat itu, ponselnya berdering. Seorang pria dari rombongan teater, yang kukenal sebagai asisten Riana, tampak panik. "Tuan Pradipa! Riana... dia pingsan di belakang panggung! Kami tidak tahu harus berbuat apa!"
Mobil Pradipa mengerem mendadak. Ia menatapku, lalu kembali menatap ponselnya. "Aku akan ke sana sekarang," katanya pada asisten itu. Lalu ia menoleh padaku. "Kamu pulang saja sendiri. Aku ada urusan mendadak."
"Pergilah," kataku datar. "Dia lebih membutuhkanmu."
Pradipa ragu sejenak. Sebelum keluar dari mobil, ia menatapku dengan tatapan aneh. "Kamu tidak cemburu?" Tanyanya, seolah mencari-cari reaksi dariku.
Aku merasakan sedikit kepahitan di hatiku. Sepuluh tahun yang lalu, aku akan menangis, memohon padanya untuk tetap tinggal. Kini, aku hanya ingin semua ini berakhir.
"Jangan coba-coba melakukan hal bodoh, Alvina," katanya, suaranya penuh peringatan, sebelum akhirnya bergegas pergi.
Ia pergi, meninggalkanku sendirian. Ia tidak melihat air mata yang menggenang di mataku, tidak melihat kehancuran yang kucoba tutupi.
Aku pulang ke rumah yang terasa kosong. Begitu aku masuk, Mama Pradipa langsung menyambutku dengan senyum hangat. "Alvina sayang, kamu sudah pulang!" Ia mencium pipiku, lalu bertanya, "Apakah Pradipa sudah menyerahkan dokumen itu? Surat izinnya?"
Aku mengangguk kecil. "Sudah, Ma."
"Lalu, kenapa dia tidak ikut pulang?" Mama Pradipa mengerutkan kening.
Aku mencoba tersenyum, menyembunyikan rasa sakitku. "Dia ada urusan mendadak, Ma. Riana pingsan di teater."
Wajah Mama Pradipa langsung berubah muram. "Anak itu! Kapan dia akan belajar dewasa? Kapan dia akan berhenti mengejar bayangan masa lalu yang tidak akan pernah kembali?" Ia menghela napas, lalu menatapku dengan mata penuh kasih. "Jangan ambil hati, sayang. Mama tahu Pradipa memang seperti itu. Tapi dia pasti akan segera menyadarinya."
Papa Pradipa, yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, hanya menggelengkan kepala. Ia menepuk pundakku. "Jangan dengarkan Mama. Pradipa akan sadar. Kamu adalah istri yang baik."
Mataku terasa panas. Kehangatan yang kutemukan di keluarga ini adalah satu-satunya hal yang membuatku bertahan selama sepuluh tahun terakhir. Aku ingat, di kehidupan sebelumnya, Pradipa pernah berdebat hebat dengan orang tuanya karena aku. Dia bersikeras bahwa aku adalah orang asing, penghalang antara dia dan kebahagiaannya. Aku tahu, jauh di lubuk hati mereka, Mama dan Papa Pradipa selalu menganggapku sebagai putri mereka sendiri.
Aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Aku ingin memberitahu mereka bahwa sebentar lagi, aku bukan lagi menantu mereka. Aku ingin menjelaskan bahwa kebahagiaan mereka adalah prioritas utamaku. Tapi kata-kataku tercekat di tenggorokan.
Aku menggenggam tangan Mama Pradipa, erat. "Terima kasih, Ma, Pa. Terima kasih atas segalanya."
Mama Pradipa tersenyum. "Kamu tidak perlu berterima kasih, sayang. Kamu sudah seperti putri kami sendiri. Melihatmu bahagia adalah kebahagiaan kami." Ia mengusap pipiku lembut. "Kamu tahu, bagiku, kamu adalah istri terbaik untuk Pradipa. Dia pria yang beruntung bisa memilikimu."
Aku hanya terdiam, menggenggam tangannya erat, menahan semua emosi yang bergejolak di dalam diriku.
Sore harinya, aku tiba di teater sendirian, memegang tiket yang kami beli bersama. Pertunjukan berakhir, tirai ditutup, penonton mulai bubar, namun Pradipa tidak muncul. Ia mengingkari janjinya lagi.
Alvina POV:
Anehnya, aku tidak merasa marah sedikit pun. Hanya ada ketenangan yang aneh, seolah hatiku sudah terlalu lelah untuk merasakan emosi yang membakar. Aku duduk di bangku taman, di bawah langit malam yang dipenuhi bintang.
Sudah lama sekali aku tidak melihat bintang sebanyak ini. Cahaya-cahaya kecil itu mengingatkanku pada banyak hal, banyak kenangan yang sudah lama terkubur. "Indah sekali," gumamku, entah kepada siapa.
Tiba-tiba, sebuah tangan kasar meraih pergelangan tanganku. Sebelum aku sempat bereaksi, sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Rasa panas membakar kulitku, membuatku terkejut dan terdiam.
Pradipa berdiri di hadapanku, wajahnya gelap karena amarah. Matanya menyala-nyala, seolah siap membakar apa pun yang ada di depannya. "Dasar wanita kejam!" raungnya, suaranya bergetar. "Apa yang sudah kamu lakukan pada Riana?!"
Aku menatapnya, bingung. "Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu!" Dia mencengkeram lenganku lebih erat. "Kamu menyuruh orang untuk mempermalukan Riana di depan umum, bukan? Kamu mengatakan hal-hal kotor tentang dia!"
Aku terdiam. Tidak ada yang kulakukan.
"Riana... dia mencoba bunuh diri karena kamu!" Suaranya bergetar, penuh keputusasaan. "Dia tidak tahan dengan semua penghinaan itu! Apakah kamu tidak puas dengan pernikahan yang kubiarkan terjadi ini? Apakah kamu tidak akan puas sampai dia mati?!" Tanpa menunggu jawabanku, dia menamparku lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Aku tidak memiliki kesempatan untuk membela diri. Aku hanya bisa merasakan sakit yang menjalar di pipiku, di hatiku. Tubuhku terasa lemas. Dia menyeretku dengan paksa, memasukkanku ke dalam mobil.
Kami tiba di sebuah klinik kecil. Di salah satu ruangan, Riana terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat pasi. Melihatnya, aku sadar bahwa tuduhan Pradipa memang benar. Riana memang mencoba bunuh diri.
Bahkan dalam keadaan tidak sadarkan diri, Riana terus menggumamkan namaku, "Maafkan aku... kumohon, jangan ganggu aku lagi..."
Aku baru akan bertanya, namun Pradipa mendorongku dengan sangat keras. Aku kehilangan keseimbangan dan punggungku membentur sudut meja. Rasa sakit yang tajam menyengatku, membuatku memejamkan mata dan wajahku memucat.
Pradipa menatapku dengan mata setajam pisau. "Lihatlah apa yang sudah kamu lakukan!" Dia berteriak. "Minta maaf pada Riana sekarang juga!"
Aku menatapnya dengan tatapan kosong. "Aku tidak melakukannya," gumamku, suaraku nyaris tak terdengar.
"Kamu berbohong!" Dia berteriak lagi, amarahnya meluap-luap.
Tepat saat itu, seorang perawat masuk ke dalam ruangan. "Maaf, Tuan. Tapi pasien membutuhkan transfusi darah segera. Dia kehilangan banyak darah."
Pradipa langsung mencengkeram lenganku. "Ambil darahnya!" Ia memerintah perawat itu, menunjuk ke arahku.
Aku menatapnya, sadar sepenuhnya. Aku tahu kondisiku. Aku sering kelelahan, dan aku menderita anemia. Donor darah dalam kondisi seperti ini bisa membahayakan nyawaku.
Tapi Pradipa tidak peduli. Ia menarik lengan bajuku dengan kasar. "Ini adalah bayaranmu untuk Riana!"
Jarum tebal menembus kulitku. Aku merasakan sakit yang menusuk, lalu cairan merah hangat mengalir dari nadiku ke dalam tabung. Aku mengangkat kepalaku, menatap Pradipa yang berdiri di sampingku seperti penjaga, seolah takut aku akan melarikan diri.
"Apakah kamu menyesal telah menyelamatkanku?" tanyaku, suaraku datar, tak menunjukkan emosi.
Pradipa terdiam. Ia menundukkan kepalanya, menghindari tatapanku. "Tidak," gumamnya, "Aku akan menyelamatkan siapa pun yang dalam bahaya saat itu."
Aku tersenyum pahit, memalingkan wajahku agar dia tidak melihat air mata yang mengalir di pipiku.
Perawat mencabut jarum dari lenganku. Aku mencoba berdiri, tapi kepalaku pusing. Aku merasa sangat lemah. Tubuhku limbung, hampir jatuh. Pradipa refleks meraihku, tapi aku mendorong tangannya menjauh.
"Mulai sekarang," kataku, suaraku bergetar, "Aku tidak akan mengganggumu lagi." Aku menatapnya, ada tekad yang kuat di mataku. "Aku membebaskanmu, Pradipa. Dan aku membebaskan diriku sendiri."
Butuh seluruh kekuatanku untuk menyadari bahwa kami berdua tidak seharusnya bertemu.
Pradipa menatapku, matanya dipenuhi kebingungan dan kegelisahan. "Apa yang kamu bicarakan?" Ia bertanya, suaranya sedikit panik. "Kita akan menikah sebentar lagi, kan?"
Perawat kembali masuk, memotong ucapannya. "Pasien sudah sadar, Tuan. Dia ingin bertemu dengan Anda."
Pradipa mengerutkan kening. Ia menatapku, ragu-ragu. "Aku akan segera kembali. Aku akan mengantarmu pulang."
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap punggungnya yang menjauh.