Aku teringat janji makan siang dengan ayah. Hampir saja aku melupakan itu. Aku buru-buru pergi ke tempat yang sudah kami sepakati. Aku bahkan tidak sempat mengganti bajuku. Aku hanya menguncir rambutku dan memoles bibirku dengan lipstik warna pink.
Restoran pangsit yang ada di ujung jalan ini adalah tempat yang sering kami kunjungi. Dulu, ayah, ibu dan aku sering makan pangsit disitu. Aku melihat ayah dari kaca. Ia sedang menungguku di dalam. Ayah melihat keluar dan melambaikan tangannya saat melihatku. Aku tersenyum. Aku menghampiri ayah.
"Ayah sudah lama menungguku?"
"Tidak. Duduklah. Ayah senang melihatmu, Nao." Ayah tersenyum.
"Iya ayah. Maafkan aku ayah. Aku tidak pernah mengabari ayah sebulan ini. Pasti itu membuat ayah khawatir."
Kupandangi ayah yang terlihat lebih kurus. Pasti berat ayah hidup sendiri sekarang. Tidak ada aku yang selalu menemaninya. Aku merasa bersalah kepada ayah.
"Apa ayah sakit? Mengapa ayah terlihat kurus sekali. Apa ayah tidak makan teratur?"
Aku meraih tangan ayah. Tangannya terasa dingin dan kasar penuh dengan kapalan. Itu adalah tanda perjuangan dan kerja kerasnya selama ini.
"Ayah baik-baik saja. Kamu tidak usah terlalu khawatir. Ayah makan teratur kok. Ayah senang kamu masih memperhatikan ayah."
Ayah meletakan tangannya di atas kepalaku dan mengusap kepalaku. Seakan menyampaikan rasa rindunya padaku. Aku membalasnya dengan senyuman. Pelayan restoran pun datang menghampiri kami sambil membawa buku menu. Aku melihat-lihat menu yang tertera. Dan aku memilih bakmi kuah. Ayah memesan Pangsit. Kukembalikan menunya kepada si pelayan itu.
Pandanganku menelisik ke seluruh ruangan. Seketika terlintas kenangan saat bersama ibu disini. Masih terekam dalam memori, ibu akan duduk di sebelahku sambil menyuapiku. Tanpa sadar bibirku tersenyum. Tempat ini tidak berubah masih sama seperti dulu. Bangunannya sudah tua tapi masih kokoh.
"Ayah masih ingat dulu ibu paling menyukai bakmi disini. Dan kamu pun juga menyukainya." Terukir senyuman di wajah ayah saat mengenangnya.
"Tentu saja. Kami memiliki selera yang sama. Seandainya ibu masih disini. Aku ingin kembali ke masa itu," kataku lirih.
Akhirnya makanan yang kami pesan pun diantar si pelayan tadi. Aku langsung melahap bakmi milikku. Setelah sekian lama aku memakan lagi bakmi ini. Ada kenangan manis yang terpatri di semangkuk bakmi.
"Ayah, nanti selesai makan kita ke makam ibu ya. Aku rindu pada ibu sudah lama kita tidak mengunjungi ibu."
"Iya, ayah juga merindukan ibu. Kalau begitu cepat habisin makananmu. Biar kita tidak kesorean ke sana." Perintah ayah padaku.
Aku pun melanjutkan memakan bakmiku. Ayah terlihat bersemangat untuk mengunjungi ibu. Aku bahagia saat melihat ayah seperti itu.
****************
Kami pun pergi mengunjungi ibu ketempat peristirahatannya. Aku membawa seikat mawar merah kesukaan ibu. Ibu pernah mengatakan mawar melambangkan cinta dan ketulusan. Meski terlihat mencolok di pemakaman tapi aku menyukainya.
"Ibu, kami datang mengunjungimu. Apakah kau merindukan kami? Maaf, jika belakangan ini aku jarang mengunjungimu, Bu." Tak terasa air mataku jatuh. Aku masih belum bisa menerima kepergian ibu. Ayah menepuk-nepuk pundakku. Menenangkan tangisku yang pecah.
"Nao..jika kamu menangis seperti ini ibumu akan sedih diatas sana. Kamu harus bisa melepaskan ibu, Nak. Hapus air matamu." Ayah menghapus air mataku dengan tangannya. Aku mengangguk kepada ayah. Kuseka air mataku. Lalu aku meletakkan bunga mawar merah yang kubawa ke Nissan ibu.
Tiba- tiba ponselku berdering. Tanganku sibuk mengambil ponselku dari dalam tasku. Kulihat dilayar Adrian yang menghubungi aku. Aku teringat janji makan malam bersama Adrian.
"Halo." Jawabku dengan suara yang masih berat akibat menangis.
"Kau dimana? Mengapa tidak ada dirumah?" Suara Adrian terdengar meninggi. Aku lupa memberitahunya akan menemui ayah.
"Ah, maaf aku lupa memberitahumu tadi. Aku sedang diluar bersama ayah. Aku belum mengunjungi ayah sejak kita menikah. Aku merindukannya, jadi aku berinisiatif untuk menemuinya.” Jawabku, tanganku yang lain sibuk mencabuti rumput liar yang tumbuh di pusara ibu.
"Segeralah pulang. Kau tidak melupakan janji malam ini, kan?"
"Ya, aku akan kembali. Jadi tunggu saja dirumah." Aku mengakhiri panggilan itu dan melirik ayah, kulihat dia mengawasi aku dengan cemas.
"Apa Adrian memperlakukanmu dengan baik, nak?" Tanya ayah padaku, mata yang hitam itu menelisik ke dalam mataku, seolah takut mengatakan kebohongan.
Aku bingung harus mengatakannya. Aku tidak ingin ayah tahu bahwa Adrian bersikap kasar dan acuh padaku.
"Adrian baik padaku ayah. Ia begitu perhatian dan juga sangat menyayangiku.” Aku berbohong. Tapi tidak masalah ini hanya bohong demi kebaikan. "Ah, ayah sepertinya kita harus segera pulang. Karena malam ini Adrian akan mengajakku makan malam. Dia sudah menungguku dirumah. Tidak apa-apa kan, ayah? jika kita hanya sebentar saja disini ?"
Ayah tersenyum. Kemudian ayah meletakkan kedua tangannya dipipiku sambil mencubit pipiku dengan lembut.
”Ternyata putri ayah sedang ada kencan ya. Kalau begitu kita pulang saja. Nanti nak Adrian kelamaan menunggu kamu.”
Kami pun pulang setelah berpamitan pada ibu. Aku mengantar ayah terlebih dulu ke rumah ayah. Ku lihat rumah masih berantakan. Pasti ayah tidak sempat untuk membersihkannya. Ku lihat arlojiku masih jam 5 sore masih ada waktu untuk membersihkan rumah ayah sebentar.
Setelah selesai beberes aku pamit pada ayah. Aku buru-buru pergi. Khawatir Adrian menunggu lama dan marah padaku. Sesampainya dirumah aku melihat Adrian duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya di dada. Mimik wajahnya terlihat bosan. Ia menoleh ke arahku dan berdiri dari duduknya.
”Mengapa baru datang sekarang? Sekarang sudah jam 7. Dan kau baru tiba. Aku benci harus menunggu.” Adrian membentak ku lalu kemudian ia menghela napas. ”Cepat ganti pakaianmu. Aku sudah menyiapkan gaun yang akan kau pakai di kamarmu.” Suaranya mulai lembut dan aku hanya menganggukkan kepalaku lalu pergi ke kamarku.
Di atas ranjang ada sebuah gaun berwarna merah. Gaun itu tanpa lengan dengan leher berbentuk v yang terlalu rendah. Sebenarnya gaun itu cantik hanya saja terlalu sexy bagiku. Aku memakai gaun itu di depan cermin. Aku malu. Gaunnya terlalu terbuka. Punggungku terekspos semua. Belahan dadaku pun terlihat. Apa Adrian tidak salah membeli gaun. Ini sama saja dengan tidak memakai baju.
Aku kaget ketika Adrian tiba- tiba masuk kekamar. Ia terdiam melihatku. Ia memandangiku dari atas hingga kebawah. Secara reflek aku menutupi dadaku dengan tanganku.
”Kenapa kau masuk ke kamarku? Bukankah tanganmu bisa mengetuk pintu terlebih dulu," ketusku pada Adrian.
”Kau lama sekali jadi aku datang untuk mengecek saja. Kalau sudah selesai segera lah turun." Adrian membalikkan badannya lalu melangkah keluar kamar.
”Tunggu. Bisakah aku memakai baju yang lain saja. Ini tidak cocok denganku. Terlalu terbuka aku malu memakainya,” pintaku pada Adrian.
”Tidak bisa. Kau harus memakai gaun itu.” Ia terus berjalan tanpa menoleh.
”Tapi..." Belum selesai aku mengatakannya Adrian sudah memotong ucapanku, ”jangan menolak. Menurut saja pada perkataan ku.” Ucap Adrian.
Aku tidak punya pilihan lain. Aku menurut saja. Kuikuti ia dari belakang. Kami menuju ke garasi. Lalu aku masuk ke dalam mobil Adrian. Ini pertama kalinya aku duduk di dalam mobil Adrian. Selama ini ia tidak pernah mengajakku kemana pun. Disepanjang perjalanan Adrian tidak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya fokus kedepan. Aku diam saja melihat keluar jendela. Aku tidak ingin menggangunya menyetir.
Kami pun tiba di hotel bintang tujuh. Adrian menurunkanku di lobby hotel. Ia pun memberikan kunci mobilnya kepada petugas parkir. Lalu ia berjalan ke arahku. ”ayo masuk,” ajak Adrian. Aku hanya mengangguk saja.
Kemudian kami masuk ke dalam lift. Adrian menekan tombol 5. Saat keluar dari dalam lift, sejauh mata memandang tidak ada restoran disini. Hanya lorong panjang yang disebelah kanan dan kirinya adalah kamar.
”Hei..bukankah kau bilang kita akan dinner? Lalu kenapa kita ada di depan kamar ini?” Tanyaku penasaran.
”Ya, kita dinner disini. Aku juga memesan kamar untuk kita. Ayo, mari masuk." Ajak Adrian.
Perasaanku tidak enak. Aku memiliki firasat buruk tentang ini. Sebelum kami masuk kedalam kamar Adrian mengambil ponselnya dari saku celananya. Ia menjauh untuk menghubungi seseorang. aku menunggunya di depan pintu kamar. Aku tidak tahu siapa yang dihubunginya tapi yang pasti kalimat terakhir yang kudengar adalah 'kami sudah di sini'.
Setelah selesai berbicara dari ponsel itu, Adrian kembali. Ia menyuruhku untuk menunggu di dalam kamar. ”Tunggulah sebentar disini. Aku meninggalkan dompetku di dalam mobil. Aku pergi mengambilnya dulu.”
”Mengapa dompetmu bisa tertinggal? Ya sudah, pergilah tapi jangan lama-lama ya.”
Adrian pun pergi meninggalkanku sendiri di kamar. Aku duduk diatas ranjang. Kamar ini sangat luas. Ada jendela kaca yang besar langsung menghadap ke luar. Pemandangan kota dari sini terlihat indah. Sudah 30 menit berlalu namun Adrian belum kembali juga. Aku mulai jenuh.
Aku berjalan ke luar balkon. Lampu- lampu yang berkilauan di malam hari begitu indah di lihat dari atas sini. Lama aku berdiri disini tapi adrian belum juga kembali. Apa dompetnya belum ketemu? Kemudian aku kembali masuk ke dalam untuk mengambil ponselku. Aku mencoba menghubungi Adrian tapi ia tidak menjawab panggilan dariku. Berulang kali aku menghubunginya namun nihil.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seseorang masuk. Aku mengira itu adalah Adrian sontak saja aku langsung mengeluh kepadanya.
”Mengapa kau lama sekali? Apa dompetmu sudah ketemu.”
”Halo sayangku.”
Aku kaget bukan kepalang. Dia bukan Adrian melainkan tuan jackson . Mengapa ia disini. Aku panik. Adrian pun belum kembali juga.
”Maaf, sepertinya anda salah kamar tuan. Jadi segeralah keluar.” Perintahku padanya.
Tuan Jackson tersenyum. Namun senyumannya sungguh menakutkan. Seperti singa yang hendak memangsa makanannya. Dia melangkah mendekatiku. Kakiku sontak mundur.
”Mau apa kau? Jangan mendekat. Adrian sebentar lagi akan datang. Menyingkirlah.” Aku mendorong tuan Jackson ke belakang. Lantas aku mengambil ponsel menghubungi Adrian. Dia tidak menjawab panggilanku. Tuan Jackson tertawa melihat aku.
”Lalu dimana sekarang suamimu itu? Apa kau tidak merasa aneh. Dia meninggalkanmu sendiri disini. Dan aku juga disini. Kau mengerti maksudku kan?”
”Apa maksudmu? Aku tidak mengerti dengan semua ini. Adrian tidak mungkin meninggalkanku denganmu. Aku istrinya. Tidak mungkin dia melakukan itu.” Aku panik. Pikiranku mulai kalut. Mengapa Adrian belum kembali juga?
Tuan Jackson mendekatiku lagi. Aku menghindar. Lalu aku berlari menuju pintu hendak keluar, namun tuan Jackson berhasil menarik tubuhku. Ia mendekap tubuhku dari belakang . Aku meronta berusaha melepaskan dekapan tuan Jackson. Usahaku sia-sia. Kekuatanku tidak bisa mengimbangi tenaganya. Aku menangis. Hanya itu yang bisa kulakukan.
”Kumohon lepaskan aku. Biarkan aku pergi,” aku memohon padanya.
”Tidak sayangku,” Ia membelai kepalaku. Kemudian ia melanjutkan ucapannya, ”Adrian sudah menyerahkanmu padaku. Suamimu itu perusahaannya hampir bangkrut . Ia memohon padaku untuk kembali berinvestasi di perusahaannya. Dan kau sebagai jaminannya.”
Hatiku sakit mendengarnya. Aku tidak percaya Adrian melakukan semua ini kepadaku. Pantas saja ia tiba-tiba mengajakku makan malam ternyata semua itu sudah di rencanakannya.
Aku meronta melawan tuan Jackson. Dengan sigap aku menginjak kaki tuan Jackson dengan ujung tumit sepatuku. Kemudian aku bergegas lari keluar kamar. Namun sial diluar kamar ternyata ada pengawal tuan jackson. Ada 4 orang yang berdiri di lorong. Aku berusaha menerobos mereka. Kemudian aku mendengar tuan Jackson berteriak, ”tahan wanita itu. Jangan biarkan dia pergi.”
Mereka menghalangi jalanku. Aku melakukan perlawanan. Tapi berujung sia-sia. Mereka berhasil menahan aku. Aku memohon pada mereka untuk melepaskan diriku. Mereka bahkan tidak memiliki empati.
Tuan Jackson kemudian mendekat. Ia menarik rambutku. Lalu plakk!!! Ia menampar wajahku. Pipiku terasa sakit dan perih. Aku menangis.
”Dasar wanita murahan. Aku tidak mungkin melepaskanmu begitu saja. ” kemudian ia menyeretku masuk kedalam kamar. Ia mengunci pintu kamar.
Aku berteriak berharap akan ada orang yang mendengarku. Namun tuan Jackson semakin menjadi . Ia memukuli aku dengan tali pinggangnya. Sekujur tubuhku terasa sakit. Aku bersujud dan menangkupkan tangan memohon kepada-nya.
”Kumohon lepaskan aku. Aku akan melakukan apa saja tapi biarkan aku pergi.” Aku memohon tapi dia malah tertawa. Kemudian ia menundukkan badannya mendekat ke wajahku.
”Kau yakin akan memberikan yang kuinginkan? Aku mau tubuhmu.” Tuan Jackson menyeringai memandangi aku.
Mendengar itu aku bergerak mundur sambil menggelengkan kepalaku. ”Tidak.. aku tidak mau melakukannya. Kumohon jangan lakukan itu padaku." Tangisku semakin menjadi. Aku kembali berteriak minta tolong.
”Tolong....kumohon siapa pun tolonglah.” Suaraku semakin serak.
”Tidak ada gunanya kau berteriak tak seorang pun akan menolongmu.” Ia menyeretku ke atas ranjang.
Aku melakukan perlawanan . Tangannya begitu kekar. Ia mencengkram kedua tanganku. Aku meronta-ronta. Ia semakin beringas. Aku tidak menyangka akan mengalami hal buruk seperti ini.
****************
Airmataku tiada hentinya mengalir. Mengapa ini harus terjadi padaku. Aku terkulai lemah. Seluruh tubuhku penuh luka dan memar. Bajuku sudah tersingkap. Aku malu. Aku hanya menangisi diriku. Tuan Jackson hanya tersenyum puas melihatku seperti ini. Ia membelai rambutku. Namun aku bergeming. Aku sudah tak memiliki tenaga lagi untuk melawan. Ia sudah menodai aku. Aku benci melihatnya. Kualihkan pandanganku ke sudut kamar.
"Kau membuatku sangat senang. Tubuhmu sangat indah.” Tuan Jackson mengecup leherku kemudian ia berdiri. Setelah itu ia pergi meninggalkan aku begitu saja tanpa merasa bersalah.
Aku pergi kekamar mandi menyiram tubuhku yang kotor. Lama aku duduk dibawah shower dengan air yang mengalir. Aku terus-terusan menangis. Hatiku sakit sekali. Adrian aku sangat membencimu. Setega itu kau padaku. Mengapa kau memberikan aku pada si bangsat Jackson.
Setelah selesai membersihkan tubuhku, aku pergi keluar hotel. Semua mata memandangku. Ada yang berbisik ketika melihatku. Mungkin mereka kasihan padaku atau menghinaku yang seperti ini. Wajar saja jika mereka melihatku dengan tatapan aneh. Gaun yang kukenakan sudah koyak. Sekujur tubuhku penuh luka memar akibat kibasan ikat pinggang tuan Jackson. Bibirku pun juga luka. Tak bisa kugambarkan kondisiku saat ini. Aku sendiri pun begitu kasihan melihat tubuhku. Aku hanya terus berjalan dengan tatapan kosong. Pikiranku melayang entah kemana. Bahkan aku pun tak merasakan kakiku kesakitan saat menginjak kerikil di sepanjang jalan.
Tanpa kusadari aku berjalan terlalu jauh. Aku melihat kesekeliling ternyata aku sudah berada di atas jembatan. Aku melihat kebawah. Kemudian terlintas di benakku untuk melompat. Aku tak ingin hidup. Aku malu. Mengapa aku harus mengalami ini? Lalu aku naik ke atas pagar jembatan. Sekali lagi aku melihat kebawah. Aku merasakan adrenalin ku di pompa. Jantungku berdegup kencang. Sebenarnya aku takut ketinggian.
”Tidak. Aku takut ketinggian. Aku harus turun.” Seketika aku membatalkan niatku untuk terjun kebawah.
Namun saat aku hendak turun kakiku tergelincir dan aku pun jatuh bebas ke bawah masuk kedalam air. Byurrr!!! Airnya terasa dingin menembus kulitku. Aku panik. Aku tidak pandai berenang. Sial kenapa dari dulu aku tidak belajar berenang saja.
Aku meronta-ronta berusaha menggapai ke permukaan. Namun air yang masuk ke paru-paruku membuat aku semakin lemas. Aku terus jatuh dan mulai hilang kesadaran. Mungkin ini akhir hidupku. Terlintas bayangan ayah disaat terakhir. Maafkan aku ayah.
Samar-samar kudengar banyak suara yang memanggil dan mengguncang tubuhku. Aku pun tersedak. Semua air yang telah tertelan kumuntahkan kembali. Kepalaku pusing dan dadaku terasa sesak. Pandanganku pun kabur. Mereka kembali menepuk-nepuk punggungku.
Setelah beberapa saat aku pun mulai sadar. Ada beberapa pria yang mengerumuni aku. Mereka mengenakan jaket kulit. Tubuh mereka semua kekar. Mereka lebih terlihat seperti preman.
"Aku ada dimana? Kenapa aku disini?" Kualihkan pandanganku ke sekitar. Ternyata aku ada diatas kapal. Di sudut sana aku melihat ada beberapa wanita. Apa mereka yang menolongku? Tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Perutku mual. Aku mabuk laut.
"Terima kasih kalian sudah menolongku. Tapi bisakah kalian menurunkan aku? Aku ingin pulang."
"Nona pelabuhan masih jauh dari sini. Apa kau ingin turun ke dalam air ini lagi?" kata salah satu dari mereka.
Aku ingin pulang. Tapi aku tidak mau turun ke dalam air lagi. "Lalu kapal ini akan pergi kemana?" Tanyaku.
"Hongkong." Jawabnya lagi.
"Apa?" Aku hampir berteriak ketika mengucapkan itu. "Aku tidak ingin pergi bersama kalian ke Hongkong. Bisakah kalian menurunkan aku di dermaga terdekat? Aku mohon." Kataku lagi sambil memohon pada mereka.
Mereka saling pandang dan kemudian mengangguk. "Baiklah. Kau tunggu saja di sana." Ia menunjuk ke sudut kapal.
"Terima kasih," balasku.
Kemudian dengan tertatih aku berjalan ke sudut kapal bergabung bersama penumpang yang lainnya. Aku merasa aneh karena mereka semua adalah perempuan yang masih muda. Kuberanikan diriku untuk bertanya kepada mereka.
"Apa kalian ingin pergi ke Hongkong?" Tanyaku.
"Ya, kami ingin bekerja disana. Mereka menawarkan pekerjaan kepada kami." Kata wanita berbaju pink. Kemudian ia mengulurkan tangannya. "Aku Gladis." Ia tersenyum.
Aku meraih tangannya, "Naomi. Mmm..pekerjaan apa yang mereka tawarkan? Apakah harus wanita semua ya?" Tanyaku curiga.
"Kami tidak tahu detailnya seperti apa. Tapi yang jelas mereka hanya buka lowongan buat wanita saja."
Aku merasa aneh dengan jawaban Gladis. Jenis pekerjaan apa yang hanya membutuhkan wanita saja. Aku teringat sesuatu. Sontak aku membelalakkan mataku. Apa jangan-jangan mereka akan dijadikan sebagai wanita penghibur. Karena belakangan ini marak sindikat perdagangan wanita.
"Apa kalian tidak curiga kepada mereka? Mengapa kalian percaya pada mereka? Harusnya kalian memastikan dulu kebenarannya. Bagaimana jika mereka hanya menipu kalian saja?" Kataku kesal. Aku memegang kepalaku yang sakit. Mengapa aku harus diselamatkan para bandit ini.
Aku melihat dari kejauhan banyak cahaya-cahaya lampu . Pasti itu dermaga terdekat pikirku. Lalu aku berjalan menghampiri para preman itu yang sedang minum-minum.
"Maaf aku mengganggu kalian. Bisakah aku turun di dermaga itu? Aku ingin pulang, ayahku sedang menungguku di rumah." Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada mereka.
Mereka hanya saling pandang dan kemudian tertawa melihatku.
"Kapal ini tidak bisa menepi nona. Kami sedang dikejar waktu. Jika tidak, bos kami akan marah."
"Tapi..bukankah kalian sudah berjanji akan menurunkan aku di dermaga terdekat?"
"Kami berbohong." Mereka menyeringai. "Kau begitu cantik. Tubuhmu sangat indah. Bagaimana mungkin kami menurunkanmu. Banyak pria jahat di luar sana.” Pria bertubuh kekar itu memandangiku dari atas hingga ke bawah. Sontak aku menutupi dadaku dengan kedua tanganku.
Aku baru menyadari aku masih memakai gaun sialan ini. Gaunku masih belum kering. Angin malam berhembus kencang. Seketika aku menggigil kedinginan. Kemudian aku memohon pada mereka agar menurunkan aku.
"Aku mohon. Aku ingin pulang. Aku tidak ingin ikut bersama kalian. Ayahku sendirian dirumah." Aku memasang mimik yang menyedihkan berharap mereka akan iba. Namun mereka malah menertawakanku.
Aku merasa sial sekali. Habis keluar dari lubang buaya masuk ke sarang serigala. Mengapa semesta begitu kejam padaku. Air mataku mengalir. Aku mundur. Aku meringkuk di sudut kapal. Kubenamkan wajahku dia kedua lututku. Aku tidak ingin orang melihatku menangis. Ayah aku merindukanmu.
Adrian aku membencimu. Aku menyalahkan Adrian. Jika bukan karenanya aku tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini. Aku tidak akan memaafkanmu Adrian. Sampai kapanpun tidak akan.
"Kau menangis? Hmm.. aku mengerti perasaanmu. Menangis lah jika itu membuatmu lebih baik." Gladis duduk di sebelahku dan ia menepuk-nepuk punggungku. "Punggungmu?" Ia terdiam sejenak. Aku yakin dia pasti melihat punggungku yang penuh memar. "Emm...sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Tanya gladis penasaran.
Aku menoleh kepada Gladis. Aku butuh seseorang untuk meluapkan semua hal yang sudah aku alami.
"Mungkin ini hari terburuk dalam hidupku. Suamiku menjualku kepada rekan bisnisnya. Dan sekarang aku berakhir disini . Aku benar-benar sial." Aku hanya menunduk dengan tatapan kosong.
"Jadi karena itukah kau melompat ke air?" Tanya Gladis lagi. Aku hanya mengangguk saja.
Gladis merangkulku tangannya menepuk-nepuk punggungku yang memberikan sedikit ketenangan.
Entah sudah berapa lama kami berada di lautan. Aku sungguh rindu daratan. Sejauh mata memandang hanya ada air. Tubuhku semakin kurus. Kami hanya di beri makan pagi dan malam hari saja.
Kulitku pun terasa kering dan warnanya sudah kecoklatan akibat sengatan matahari. Wajar saja sebab aku hanya memakai gaun yang diberikan adrian waktu itu. Terlalu terbuka. Bila malam angin akan menembus masuk ke kulitku. Sungguh sangat menyiksa tubuhku.
Suara-suara bising dari kapal memecah lamunanku. Aku terperanjat melihat di depan sana ada daratan. Kapal-kapal besar juga berjejeran disana. Aku senang dan juga sedih. Senang karena melihat daratan lagi dan sedih karena aku tidak bisa pulang.
Kapal kami akhirnya bersandar di pelabuhan. Aku menghela napas lega. Mungkin kami sudah tiba di Hongkong . Aku bisa melihat gedung- gedung tinggi dari sini terlihat indah dengan cahaya lampu yang warna-warni. Aku yakin ini sudah tengah malam tapi aku melihat masih banyak orang yang beraktifitas di sekitaran pelabuhan.
"Hei kau! Cepat kesini." Pria botak itu memanggilku dengan garang. Lalu aku menghampirinya. Kulihat Gladis dan yang lainnya sudah turun. Aku mengikutinya turun kebawah.
"Bos ingin bertemu denganmu bersikap lah yang baik." Katanya lagi.
"Laoban (bos) , ini wanita yang kukatakan tadi." Si botak itu menunjuk ke arahku. Aku hanya memandangi mereka dengan tatapan waspada.
Wanita yang dipanggil bos itu tersenyum puas melihatku. Ia berwajah oriental. Ia memakai bedak tebal dengan lipstik merah menyala. Ia terlihat seperti seorang mucikari. Ia juga memegang kipas lipat di tangan kanannya. Kemudian ia memegang daguku menggoyangkannya kekanan dan kekiri. Sontak aku menepis tangannya dari wajahku.
Ia tersenyum dan kemudian berbicara dalam bahasa Mandarin. Aku hanya mengerti sedikit bahasanya. Dulu aku pernah mengikuti kelas bahasa Mandarin, tapi aku sering bolos.
"Aiya, kau sungguh cantik tapi lihat keadaanmu sungguh memprihatinkan. Tapi tak apa aku akan membuatmu semakin cantik lagi." Ia tersenyum senang dan kemudian ia meyuruh pria botak itu membawaku.
Aku berusaha melepaskan tangannya. Aku tidak mau ikut dengan mereka. Tapi apalah dayaku tubuhku saja masih lemah. Kekuatan yang kumiliki tidak sebanding dengannya. Ia menarikku dengan paksa. Tanganku terasa sakit. Aku hanya bisa menurut saja.
Mereka membawa kami ke dalam sebuah bangunan yang tampak sudah tua. Namun begitu masuk kedalam interiornya sangat bagus. Nuansa warna merah maroon dengan lampu yang tidak terlalu terang. Di sudut ruangan ada juga meja bar ada beberapa wanita dan pria yang sedang duduk disitu.
Aku baru menyadari ternyata ini adalah rumah bordil. Kakiku gemetaran. Aku tidak mau menjadi wanita penghibur. Aku harus pergi dari sini.
"Bawa dia masuk ke dalam kamar suruh Xiao Mei membersihkannya. Nanti Tuan Lei datang aku akan mengenalkannya pada tuan Lei." Kata wanita itu.
Lalu pria botak itu membawaku masuk ke dalam kamar. Di dalam sana ada seorang wanita. Ia tersenyum. Dia sangat cantik dengan rambutnya yang panjang terurai. Tapi pakaiannya minim sekali. Ia lebih terlihat seperti Tante girang.
"Laoban (bos) bilang kau harus membersihkan wanita ini. Ia akan dikenalkan pada Tuan Lei ." setelah mengatakan itu ia pergi keluar kamar.
"Jadi kau pekerja baru disini? Aku Xiao Mei dan kau siapa namamu?" Ia menghampiriku dan mulai membuka pakaian yang kukenakan.
"Aku Naomi. Apa yang akan kau lakukan padaku."
"Tentu saja membersihkanmu. Lihat semua luka ini. Cek..cek..cek...berapa usiamu? Kau terlihat masih muda sekali."
"29 tahun. Kalau bisa memilih,..." Aku terdiam sejenak. "Lebih baik mereka membiarkanku saja tenggelam di dalam air. Daripada harus menjadi wanita penghibur. Aku hanya ingin pulang. Aku merindukan Ayahku." Aku menangis meratapi nasibku.
Xiao Mei hanya diam mendengarku. Ia terus mengelap badanku. Kemudian ia memberikan baju baru padaku. Aku memakainya. Aku terlihat seperti wanita penggoda di balik cermin itu. Aku memakai gaun mini yang terlalu ketat. Seketika aku benci melihatnya.
Kemudian xiao Mei membawa aku keluar. Dia membisikkan sesuatu padaku. "Jika ingin bertahan disini menurutlah dengan apa yang mereka katakan. Maka kau akan aman."
Aku hanya diam saja. Pikiranku sedang memikirkan cara untuk keluar dari sini. Aku tidak ingin berada di sini lebih lama lagi. Xiao Mei membawa aku menemui wanita yang mereka panggil laoban (bos). Wanita itu sedang berbincang dengan seorang pria yang berpakaian rapi. Dilihat dari wajahnya sepertinya ia berusia 30 tahunan. Ia menoleh ke arahku dan membuat senyuman yang dipaksa.
"Tuan Lei, ini wanita yang kukatakan tadi. Bagaimana menurutmu, bukankah dia cantik?"
Pria itu menatapku dari atas hingga kebawah. Kemudian ia tersenyum dan membelai pipiku. "Cantik sekali.” Dengan sigap aku langsung menepis tangan pria itu menjauh dari wajahku. Aku tidak Sudi disentuhnya.
Pria itu hanya tersenyum kaget melihat reaksiku. "Wah, ternyata kau sangat agresif. Aku semakin menyukaimu. Aku akan membawa dia bersamaku." Dia kemudian menoleh wanita itu.
Kemudian mereka bertransaksi. Aku tidak menyangka mereka menjualku kepada Tuan Lei. Nasibku sungguh sial. Mungkin dikehidupan sebelumnya aku seorang penghianat sehingga semesta menghukum aku seperti ini.
Tuan Lei merangkulku dan membawaku keluar. Aku risih disentuhnya. Kulihat di luar ada 2 orang pria bertubuh kekar berdiri di sebelah mobil. Mereka adalah pengawal Tuan Lei. Kemudian mereka membukakan pintu mobil untuk kami.
Di dalam mobil aku hanya diam saja melihat keluar jendela. Tuan Lei mengambil kesempatan meraba pahaku. Aku terperanjat. Sontak kutepis tangannya. Dia semakin menjadi. Ia mendekati wajahku hendak menciumku. Tanganku reflek mendorongnya ke belakang.
"Kumohon jangan lakukan itu padaku."
"Kau terlalu munafik nona. Tapi aku menyukainya. Semuanya yang ada pada dirimu aku menyukainya." Dia menyeringai.
Tiba-tiba kepalaku terasa pusing sekali. Perutku mual dan terasa kembung. Aku baru ingat aku belum makan sejak tadi pagi. Asam lambungku naik. Aku meringis kesakitan memegang perutku. Tuan Lei menyadari aku kesakitan ia segera menyuruh pengawalnya untuk menghentikan mobilnya di apotik terdekat.
Tuan Lei memberikan obat untukku. Tapi perutku mual sekali. Aku mau muntah. Sontak aku menutup mulutku dengan telapak tamganku agar isi lambungku tidak keluar. Tuan Lei membuka pintu memberikan isyarat untuk aku memuntahkannya di luar. Aku pun segera turun.
Aku merasa lega setelah aku memuntahkannya. Kupegangi kepalaku yang masih terasa pusing. Mataku memandangi kesekitar. Ada banyak orang disini. Sepertinya kota ini tidak pernah tidur. Meskipun sudah tengah malam namun masih tetap sibuk. Terlintas di benakku untuk melarikan diri dari mereka. Ini kesempatanku.
Aku melirik pengawal Tuan Lei, mereka masih mengawasiku. Aku mengambil napas dalam-dalam mengumpulkan keberanianku dan kekuatanku. Menunggu mereka lengah. Beruntung saja ponsel Tuan Lei berdering. Ia sedang sibuk menerima panggilan. Aku hanya perlu mengalihkan perhatian pengawalnya.
Aku memegangi perutku dan berakting hendak muntah lagi. Lalu aku meminta air minum kepada mereka. Saat pengawal yang satu lagi hendak mengambil air mineral dari dalam mobil, dengan segera aku berdiri dan berlari secepat mungkin.
Mereka menyadari niatku dan mengejarku. Aku terus berlari mengikuti kemana tujuan kakiku. Tak kurasakan lagi sakitnya telapak kakiku saat menginjak aspal yang kasar. Napasku terengah. Jantungku berdegup kencang. Aku sudah lelah berlari namun aku tidak ingin berhenti.