Bab 1

Impian setiap wanita adalah menikah dengan seseorang yang dicintai. Aku juga menginginkan pernikahan yang seperti itu. Dulu aku sering berharap akan ada pangeran berkuda putih yang melamarku. Mimpi klasik setiap wanita. Tapi, sekarang aku malah menikah dengan pria yang tidak kucintai. Andai saja waktu itu aku menolak permintaan ayah, aku tidak akan berdiri disini bersama pria itu. Beberapa hari yang lalu aku masih ingat jelas ayah yang memohon padaku.

"Nao..ayah mohon padamu tolong bantu ayah. Mau ya kamu menikah dengan tuan Adrian,” Ayah membujukku.

"Aku masih muda, ayah. Aku masih ingin melakukan hal-hal yang kusukai. Aku ingin bebas tidak ingin terikat ayah." Aku menolak dengan tegas. Tidak mungkin aku menikahinya. Kenal saja tidak.

"Ayah memiliki hutang, Naomi. Ayah tidak mampu membayarnya. Tuan Adrian pun setuju dengan pernikahan ini."

Hutang. Jadi semua ini demi hutang. Mengapa ia rela menukar putrinya demi hutang.

"Ayah tega sama Nao, demi hutang ayah lunas sampai merelakan Nao kepada orang lain. Apa aku sungguh merepotkan ayah selama ini?" Air mataku mengalir. Aku merasa kecewa dengan ayah.

"Maafkan ayah, Nao. Ayah sungguh putus asa. Ayah tidak memiliki cara lain. Hutang ayah begitu banyak. Jika ayah tidak melunasinya maka ayah akan dipenjara. Baiklah, bila kamu tidak mau. Ayah akan bicara dengan tuan Adrian. Ayah bersedia di penjara demi kebahagian putri ayah."

Ayah menatapku dengan tatapan yang tulus dan bibirnya melengkung lebar. Manis sekali senyumannya. Aku merasa iba dan sedih terhadap ayah. Dasar anak durhaka. Selama ini ayah yang selalu membantu saat aku kesulitan. Sekarang giliranku yang membantu ayah.

"Baiklah, ayah aku bersedia menikah dengannya."

Pada akhirnya aku menerima permintaan ayah. Cukup lama aku bergelut dengan pikiranku sendiri hanya untuk menerima tawaran itu.

Sekarang aku hampir menyesali keputusanku waktu itu. Inginku kabur dari pernikahan ini. Aku melirik ke arah ayahku. Ia tersenyum bahagia melihatku. Ayah terlihat tampan mengenakan jas hitam kebanggaannya. Aku masih ingat ia selalu menyimpan rapi jasnya itu. Ayah selalu mengatakan akan memakai jas itu di hari pernikahanku. Aku pun membalas senyum ayah tak ingin mengecewakannya. Para undangan pun sudah berdatangan. Semua kursi penuh. Memang pria yang akan kunikahi ini adalah seorang pengusaha kaya. Wajar jika semua orang datang ke pernikahannya. Mereka semua sepertinya kolega bisnisnya. Aku tidak melihat satupun keluarga Adrian. Apakah hubungannya dengan keluarganya tidak baik? Ah, sudahlah aku tidak peduli itu.

"Adrian Sebastian, apakah kau menerima Naomi Clara sebagai istrimu? Dan setia sampai maut memisahkan?" Pendeta bertanya kepada Adrian.

Aku menoleh kearah Adrian. Aku tidak menyadari kalau ia begitu memesona. Matanya yang tegas seolah menyihirku. Aku segera memalingkan wajahku. Menatapnya sedikit lebih lama lagi mungkin akan membuatku jatuh cinta padanya.

"Ya, saya bersedia menerima Naomi Clara sebagai istriku." Adrian menoleh ke arahku dan tersenyum.

Deg...jatungku berdegup. Apa ia sedang menggodaku? Jangan harap aku akan jatuh kepadanya. Kemudian pendeta menoleh kepadaku dan melontarkan pertanyaan yang sama.

"Naomi Clara apa kau bersedia menerima Adrian Sebastian sebagai suamimu?"

Sejenak aku terdiam. Aku masih ragu. Apakah dia pria baik? Apakah dia hanya memanfaatkan aku? Semua pertanyaan itu berkecamuk di benakku. Aku menoleh kearah para undangan dan ayahku. Mereka terlihat tegang. Seolah sedang menunggu kepastian hidup dan matinya. Akhirnya dengan terbata aku pun mengiyakan pertanyaan itu.

"Ya. Saya bersedia menerima Adrian Sebastian sebagai suamiku."

Kemudian pendeta meletakkan kedua tangannya diatas kepalaku dan Adrian. Ia memanjatkan doa untuk kami.

"Sekarang kalian sah sebagai suami dan istri," ujar pak pendeta.

Adrian sibuk menyambut para kolega nya. Aku tidak mengerti bisnis. Aku menjauh dari mereka. Aku melihat ayahku berjalan ke arahku. Ia memelukku dan menitikkan air mata.

"Ayah bahagia melihatmu menikah Nao. Dan maafkan ayah telah membuatmu melalui semua ini."

"Ayah, aku bahagia kok. Ayah jangan merasa bersalah. Aku akan mencoba menerima Adrian. Ayah tetap ayah terbaik bagiku."

Ayah satu-satunya keluarga yang kumiliki. Ibuku sudah lama meninggalkan kami. Saat aku masih di bangku SMA. Itu adalah hari yang paling kelam dalam hidupku. kehilangan sosok ibu disaat usiaku masih labil. Sekarang aku merindukannya. Apakah ibu melihatku dari atas sana? Apakah ibu juga bahagia melihatku menikah hari ini? Tak terasa air mataku mengalir. Kelopak mataku tak sanggup lagi menahannya. Ayah melepaskan pelukan nya. Ia memegang pipiku dengan kedua tangannya dan menatapku dalam. Seakan tahu isi pikiranku.

"Kau pasti merindukan ibumu, kan? Ayah yakin ibu juga pasti bahagia melihatmu menikah."

"Iya, ayah aku merindukan ibu."

Tiba-tiba seseorang menarik tanganku dari belakang. Aku menoleh. Ternyata itu Adrian. Raut wajahnya datar. Ia terlihat tidak senang akan sesuatu.

"Sedang apa kau disini? Para undangan sedang menunggumu. Mereka semua partner Bisnisku jangan mengecewakan mereka. Ayo ikut aku." Nada suara Adrian meninggi namun tidak terlalu kentara.

Aku mengikutinya dari belakang. Para undangan menunggu kami datang. Mereka tersenyum padaku. Ada satu pria yang menatapku seperti kucing yang sedang melihat ikan. Ia melihatku dari atas hingga kebawah. Aku merasa risih dengan tatapannya genit sekali. Aku yakin dia pasti pria hidung belang.

"Wah, istrimu cantik sekali. Aku bahkan tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.” Pria itu memujiku sambil mengayunkan tangannya hendak menjabat tanganku.

Aku hanya membalas dengan senyuman dan membungkukkan sedikit badanku sebagai penghormatan. Adrian terlihat menegang. Ia tidak senang dengan sikapku barusan.

"Ini adalah tuan Jackson. Dia investor terbesar di perusahaanku. Kelak kau harus bersikap lebih ramah lagi kepadanya."

Dia bahkan tidak keberatan pria lain menggoda istrinya. Suami macam apa itu.

"Maaf, jika sikapku barusan telah menyinggung anda tuan Jackson. Aku hanya merasa itu kurang sopan saat anda memuji seorang istri di depan suaminya. Aku harap anda tidak marah." Aku meminta maaf kepada tuan Jackson. Lalu aku pamit untuk pergi ke toilet.

*********

Ini malam pertamaku sebagai seorang istri. Aku begitu gugup. Aku duduk ditepi kasur sambil memainkan ponsel. Aku membuka akun sosmedku banyak ucapan selamat dari teman- temanku. Pandanganku teralihkan ketika melihat Adrian baru saja selesai mandi. Dia hanya membalut badannya dengan handuk. Wajahku memerah. Aku begitu malu untuk melihatnya. Lalu aku lebih memilih keluar kamar. Daripada harus merasa sesak melihat Adrian memakai pakaiannya. Ya, kuakui ia memiliki badan yang kekar. Mungkin itu tubuh yang diidamkan setiap wanita. Lebih baik aku berkeliling rumah saja.

Aku masih asing dirumah ini. Rumah Adrian ternyata begitu besar. Ia memilih warna monocrome perpaduan putih dan hitam yang elegan untuk interior rumahnya. Berbanding jauh dengan rumah kami yang hanya berukuran 8X10 m. Hanya saja ia tidak memiliki satupun foto keluarganya. Hal itu mengusik pikiranku. Itu membuatku semakin penasaran tentang keluarganya.

"Sedang apa kau?" Seketika aku kaget saat mendengar suara adrian. Aku tidak menyadari kehadirannya. Dari sorot matanya terpancar ketidaksukaan.

"Oh..aku hanya berkeliling saja. Rumahmu indah sekali. Hanya saja aku tidak melihat ada foto keluargamu,” jawabku.

"Hmmm..sudah merasa ini rumahmu? Biar ku perjelas aku menikahimu bukan karena aku mencintaimu. Semua ini hanya untuk melunasi hutang ayahmu. Kau tahu berapa jumlahnya? 500 juta itu belum bunganya. Dan satu hal lagi jangan pernah menayakan tentang keluargaku."

Aku begitu kesal dan marah mendengar perkataan Adrian barusan. Hatiku sakit.

"Jika kau tidak menyukainya mengapa harus menikahi aku. Aku akan membayar hutang ayahku."

"Membayarnya, hah? Dengan apa kau akan membayarnya? Dengan tubuhmu?"

Plakk!!! Tanganku reflek menampar wajah Adrian. Aku begitu marah mendengar kata- katanya. Tak terasa air mataku mengalir.

"Jika kutahu kau pria yang brengsek, aku tidak akan mau menikah denganmu. Aku tidak serendah yang kau pikirkan."

Adrian menarik daguku hingga dekat ke wajahnya. Aku melawan, tapi tenagaku tidak sebanding dengannya.

"Berani sekali kau menampar wajahku. Aku akan membuatmu membayarnya."

Kemudian ia mencium bibirku dengan paksa. Aku memberontak berusaha keras mendorongnya ke belakang. Namun ia begitu kuat. Malah Adrian semakin memperdalam ciumannya. Ia mengulum bibirku dengan kuat. Aku kesakitan. Bukan ciuman yang seperti ini yang kuinginkan. Aku bahkan tidak bisa menikmatinya karena amarahku masih menyala.

Adrian mendorongku ke sofa yang ada di belakangku. Ia menjatuhkan aku kea sofa itu. Kemudian ia membuka bajunya dan melemparnya kelantai. Aku reflek langsung berdiri untuk menghindarinya. Tangannya begitu tangkas dengan segera Adrian menarikku dan menjatuhkan aku kembali ke atas sofa. Ia tepat di  atasku. Hatiku berdegup kencang. Apa ini malam pertamaku?

"Lepaskan aku. Apa yang akan kau lakukan padaku? Menyingkirlah. Aku bahkan tidak Sudi disentuh olehmu."

"Tentu saja menikmati malam pertama kita. Aku tidak mungkin menyiakan kesempatan ini. Kau sudah menjadi istriku. Jadi aku bebas melakukan apa yang kumau," Adrian menyeringai. Ia menciumi aku kembali lebih berhasrat. Tubuhku mulai terasa panas. Tanpa kusadari aku menikmati itu. Kuletakkan kedua tanganku di leher Adrian menariknya untuk lebih dekat lagi. Malam itu terasa begitu panas.

*******

Sudah sebulan aku menjadi istri Adrian namun ia tidak pernah bersikap manis kepadaku. Ia selalu saja bersikap kasar. Bahkan kami tidak tidur sekamar. Ia menyentuhku hanya sekali saja saat di malam pertama kami. Meski begitu aku tetap melakukan tugasku sebagai seorang istri. Memasak makanan dan menyajikan kopi untuknya.

Tapi Adrian tidak pernah menyentuh makanan yang kumasak. Ia selalu berdalih buru-buru ke kantor. Terkadang aku juga menunggunya pulang hingga larut malam. Semua yang kumasak terbuang percuma. Belakangan kusadari semua tindakannya untuk menghindariku.

Ring..ring...!

Suara ponselku membuyarkan lamunanku. Kulihat di layar ayah yang menghubungi aku. Aku segera menjawabnya.

"Halo ayah,” Jawabku.

"Nao putri ayah, apakah kau melupakan ayahmu ini? Sejak kau menikah tidak pernah lagi menelfon ayah. Ayah merindukanmu nak."  Suara  ayah terdengar berat. Apa ayah sedang sakit, batinku.

"Ayah maafkan Nao. Aku tidak melupakan ayah. Hanya saja aku sangat sibuk belakangan ini. Bagaimana kalau kita makan siang bersama ayah?"

"Baiklah, kita bertemu di tempat biasa. Ayah sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putri ayah."

"Iya, ayah aku juga tidak sabar untuk bertemu ayah. Sampai nanti ayah.”

Aku menutup pembicaraan kami. Aku merasa bersalah pada ayah. Aku tidak berani mengatakan bahwa pernikahan yang kujalani tidak seindah pasangan pengantin lainnya. Aku tidak ingin ayah menjadi merasa bersalah karena menikahkan aku dengan Adrian. Aku mengangkat tangan kiriku untuk melihat arlojiku. Baru pukul 10.00 masih ada waktu untuk membersihkan meja makan.

Ketika aku hendak menyimpan kembali makanan yang ada dimeja, Adrian datang menghampiriku sambil memasang raut wajah tegang. Aku tidak pernah melihat wajahnya setegang itu. Mungkin ia  sedang memiliki banyak kerjaan yang harus diselesaikan. Atau sedang menghadapi masalah besar. Hmm...Untuk apa juga aku harus memikirkan itu. Toh, selama ini ia tidak peduli padaku.

"Aku ingin minum kopi," katanya datar.  Aku melihat dia menarik kursi dan ia pun duduk disitu.

"Baiklah. Tunggu sebentar akan kubuatkan untukmu." Jawabku sambil menuju ke dapur.

Ini pemandangan yang langka. Aku tidak pernah melihat Adrian duduk di ruang makan. Ada apa dengannya? Aku menebak-nebak apa yang terjadi. Lalu aku mengambil mug kecil untuk menyeduh kopinya. Aku tidak tahu ia suka kopi jenis apa. Kebetulan di dapur cuma ada kopi instan. Aku membuat kopinya dengan itu saja.

Kemudian aku kembali ke ruang makan sambil membawa baki yang berisi kopi. Namun ia sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Raut wajahnya semakin mengeras. Aku tidak berani untuk mengganggunya. Kopinya hanya kuletakkan saja diatas meja.

Samar-samar aku mendengar percakapan Adrian. Ia menyebut nama Jackson. Aku ingat nama itu. Dia adalah pria yang menggodaku di hari pernikahanku. Aku tidak menyukai pria itu. Hanya dengan sekali lihat saja aku sudah tahu dia adalah pria yang suka menggoda wanita.

Adrian mengakhiri percakapannya dengan tuan Jackson. Kemudian ia menoleh ke arahku. Aku memalingkan pandanganku. Aku tidak ingin beradu pandangan dengannya.

"Malam ini apa kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu makan malam."

Aku kaget mendengar perkataan Adrian. Aku balik menoleh kearahnya. Aku tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

"Apa kau salah makan?" Kusipitkan mataku hingga membuat alisku berkerut.

"Tidak. Mengapa kau menanyakan itu?"

"Hanya saja kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulutmu. Kau bahkan selalu mengabaikan aku seakan aku tidak ada."

"Benarkah? Baiklah, maaf, jika aku telah mengabaikanmu selama ini. Jadi kau bersedia makan malam denganku?"

"Karena kau telah meminta maaf aku akan memikirkannya," Jawabku datar.

"Aku akan menjemputmu jam 7. Sekarang aku akan berangkat ke kantor. Berdandanlah yang cantik."

Adrian segera berdiri dan meraih tas kerjanya yang ia letakkan di kursi sebelahnya. Ia bergegas pergi ke kantor. Bahkan ia tidak meminum kopinya. Hmm.. sia-sia aku membuatkan kopinya. Lalu aku menyeruput kopi itu sampai habis. Mubazir membuang makanan pikirku.

Bab 2

Aku teringat janji makan siang dengan ayah. Hampir saja aku melupakan itu. Aku buru-buru pergi ke tempat yang sudah kami sepakati. Aku bahkan tidak sempat mengganti bajuku. Aku hanya menguncir rambutku dan memoles bibirku dengan lipstik warna pink.

Restoran pangsit yang ada di ujung jalan ini adalah tempat yang sering kami kunjungi. Dulu, ayah, ibu dan aku sering makan pangsit disitu. Aku melihat ayah dari kaca. Ia sedang menungguku di dalam. Ayah melihat keluar dan melambaikan tangannya saat melihatku. Aku tersenyum. Aku menghampiri ayah.

"Ayah sudah lama menungguku?"

"Tidak. Duduklah. Ayah senang melihatmu, Nao." Ayah tersenyum.

"Iya ayah. Maafkan aku ayah. Aku tidak pernah mengabari ayah sebulan ini. Pasti itu membuat ayah khawatir."

Kupandangi ayah yang terlihat lebih kurus. Pasti berat ayah hidup sendiri sekarang. Tidak ada aku yang selalu menemaninya. Aku merasa bersalah kepada ayah.

"Apa ayah sakit? Mengapa ayah terlihat kurus sekali. Apa ayah tidak makan teratur?"

Aku meraih tangan ayah. Tangannya terasa dingin dan kasar penuh dengan kapalan. Itu adalah tanda perjuangan dan kerja kerasnya selama ini.

"Ayah baik-baik saja. Kamu tidak usah terlalu khawatir. Ayah makan teratur kok. Ayah senang kamu masih memperhatikan ayah." 

Ayah meletakan tangannya di atas kepalaku dan mengusap kepalaku. Seakan menyampaikan rasa rindunya padaku. Aku membalasnya dengan senyuman. Pelayan restoran pun datang menghampiri kami sambil membawa buku menu. Aku melihat-lihat menu yang tertera. Dan aku memilih bakmi kuah. Ayah memesan Pangsit. Kukembalikan menunya kepada si pelayan itu.

Pandanganku menelisik ke seluruh ruangan. Seketika terlintas kenangan saat bersama ibu disini. Masih terekam dalam memori, ibu akan duduk di sebelahku sambil menyuapiku. Tanpa sadar bibirku tersenyum. Tempat ini tidak berubah masih sama seperti dulu. Bangunannya sudah tua tapi masih kokoh.

"Ayah masih ingat dulu ibu paling menyukai bakmi disini. Dan kamu pun juga menyukainya." Terukir senyuman di wajah ayah saat mengenangnya.

"Tentu saja. Kami memiliki selera yang sama. Seandainya ibu masih disini. Aku ingin kembali ke masa itu," kataku lirih.

Akhirnya makanan yang kami pesan pun diantar si pelayan tadi. Aku langsung melahap bakmi milikku. Setelah sekian lama aku memakan lagi bakmi ini. Ada kenangan manis yang terpatri di semangkuk bakmi.

"Ayah, nanti selesai makan kita ke makam ibu ya. Aku rindu pada ibu sudah lama kita tidak mengunjungi ibu." 

"Iya, ayah juga merindukan ibu. Kalau begitu cepat habisin makananmu. Biar kita tidak  kesorean ke sana." Perintah ayah padaku.

Aku pun melanjutkan memakan bakmiku. Ayah terlihat bersemangat untuk mengunjungi ibu. Aku bahagia saat melihat ayah seperti itu.

****************

Kami pun pergi mengunjungi ibu ketempat peristirahatannya. Aku membawa seikat mawar merah kesukaan ibu. Ibu pernah mengatakan mawar melambangkan cinta dan ketulusan. Meski terlihat mencolok di pemakaman tapi aku menyukainya.

"Ibu, kami datang mengunjungimu. Apakah kau merindukan kami? Maaf, jika belakangan ini aku jarang mengunjungimu, Bu." Tak terasa air mataku jatuh. Aku masih belum bisa menerima kepergian ibu. Ayah menepuk-nepuk pundakku. Menenangkan tangisku yang pecah.

"Nao..jika kamu menangis seperti ini ibumu akan sedih diatas sana. Kamu harus bisa melepaskan ibu, Nak. Hapus air matamu." Ayah menghapus air mataku dengan tangannya. Aku mengangguk kepada ayah. Kuseka air mataku. Lalu aku meletakkan bunga mawar merah yang kubawa ke Nissan ibu.

Tiba- tiba ponselku berdering. Tanganku sibuk mengambil ponselku dari dalam tasku. Kulihat dilayar Adrian yang menghubungi aku. Aku teringat janji  makan malam bersama Adrian.

"Halo." Jawabku dengan suara yang masih berat akibat menangis.

"Kau dimana? Mengapa tidak ada dirumah?" Suara Adrian terdengar meninggi. Aku lupa memberitahunya akan menemui ayah.

"Ah, maaf aku lupa memberitahumu tadi. Aku sedang diluar bersama ayah. Aku belum mengunjungi ayah sejak kita menikah. Aku merindukannya, jadi aku berinisiatif untuk menemuinya.” Jawabku, tanganku yang lain sibuk mencabuti rumput liar yang tumbuh di pusara ibu.

"Segeralah pulang. Kau tidak melupakan janji malam ini, kan?"

"Ya, aku akan kembali. Jadi tunggu saja dirumah." Aku mengakhiri panggilan itu dan melirik ayah, kulihat dia mengawasi aku dengan cemas.

"Apa Adrian memperlakukanmu dengan baik, nak?" Tanya ayah padaku, mata yang hitam itu menelisik ke dalam mataku, seolah takut mengatakan kebohongan.

Aku bingung harus mengatakannya. Aku tidak ingin ayah tahu bahwa Adrian bersikap kasar dan acuh padaku.

"Adrian baik padaku ayah. Ia begitu perhatian dan juga sangat menyayangiku.” Aku berbohong. Tapi tidak masalah ini hanya bohong demi kebaikan. "Ah, ayah sepertinya kita harus segera pulang. Karena malam ini Adrian akan mengajakku makan malam. Dia sudah menungguku dirumah. Tidak apa-apa kan, ayah? jika kita hanya sebentar saja disini ?"

Ayah tersenyum. Kemudian ayah meletakkan kedua tangannya dipipiku sambil mencubit pipiku dengan lembut.

”Ternyata putri ayah sedang ada kencan ya. Kalau begitu kita pulang saja. Nanti nak Adrian kelamaan menunggu kamu.”

Kami pun pulang setelah berpamitan pada ibu. Aku mengantar ayah terlebih dulu ke rumah ayah. Ku lihat rumah masih berantakan. Pasti ayah tidak sempat untuk membersihkannya. Ku lihat arlojiku masih jam 5 sore masih ada waktu untuk membersihkan rumah ayah sebentar.

Setelah selesai beberes aku pamit pada ayah. Aku buru-buru pergi. Khawatir Adrian menunggu lama dan marah padaku. Sesampainya dirumah aku melihat Adrian duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya di dada. Mimik wajahnya terlihat bosan. Ia menoleh ke arahku dan berdiri dari duduknya.

”Mengapa baru datang sekarang? Sekarang sudah jam 7. Dan kau baru tiba. Aku benci harus menunggu.” Adrian membentak ku lalu kemudian ia menghela napas. ”Cepat ganti pakaianmu. Aku sudah menyiapkan gaun yang akan kau pakai di kamarmu.” Suaranya mulai lembut dan aku hanya menganggukkan kepalaku lalu pergi ke kamarku.

Di atas ranjang ada sebuah gaun berwarna merah. Gaun itu tanpa lengan dengan leher berbentuk v yang terlalu rendah. Sebenarnya gaun itu cantik hanya saja terlalu sexy bagiku. Aku memakai gaun itu di depan cermin. Aku malu. Gaunnya terlalu terbuka. Punggungku terekspos semua. Belahan dadaku pun terlihat. Apa Adrian tidak salah membeli gaun. Ini sama saja dengan tidak memakai baju.

Aku kaget ketika Adrian tiba- tiba masuk kekamar. Ia terdiam melihatku. Ia memandangiku dari atas hingga kebawah. Secara reflek aku menutupi dadaku dengan tanganku.

”Kenapa kau masuk ke kamarku? Bukankah tanganmu bisa mengetuk pintu terlebih dulu," ketusku pada Adrian.

”Kau lama sekali jadi aku datang untuk mengecek saja. Kalau sudah selesai segera lah turun." Adrian membalikkan badannya lalu melangkah keluar kamar.

”Tunggu. Bisakah aku memakai baju yang lain saja. Ini tidak cocok denganku. Terlalu terbuka aku malu memakainya,” pintaku pada Adrian.

”Tidak bisa. Kau harus memakai gaun itu.”  Ia terus berjalan tanpa menoleh.

”Tapi..." Belum selesai aku mengatakannya Adrian sudah memotong ucapanku, ”jangan menolak. Menurut saja pada perkataan ku.” Ucap Adrian.

Aku tidak punya pilihan lain. Aku menurut saja.  Kuikuti ia dari belakang. Kami menuju ke garasi. Lalu aku masuk ke dalam mobil Adrian. Ini pertama kalinya aku duduk di dalam mobil Adrian. Selama ini ia tidak pernah mengajakku kemana pun. Disepanjang perjalanan Adrian tidak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya fokus kedepan. Aku diam saja melihat keluar jendela. Aku tidak ingin menggangunya menyetir.

Kami pun tiba di hotel bintang tujuh. Adrian menurunkanku di lobby hotel. Ia pun memberikan kunci mobilnya kepada petugas parkir. Lalu ia berjalan ke arahku. ”ayo masuk,” ajak Adrian. Aku hanya mengangguk saja.

Kemudian kami masuk ke dalam lift. Adrian menekan tombol 5. Saat keluar dari dalam lift, sejauh mata memandang tidak ada restoran disini. Hanya lorong panjang yang disebelah kanan dan kirinya adalah kamar.

”Hei..bukankah kau bilang kita akan dinner? Lalu kenapa kita ada di depan kamar ini?” Tanyaku penasaran.

”Ya, kita dinner disini. Aku juga memesan kamar untuk kita. Ayo, mari masuk." Ajak Adrian.

Perasaanku tidak enak. Aku memiliki firasat buruk tentang ini. Sebelum kami masuk kedalam kamar Adrian  mengambil ponselnya dari saku celananya. Ia menjauh untuk menghubungi seseorang. aku menunggunya di depan pintu kamar. Aku tidak tahu siapa yang dihubunginya tapi yang pasti kalimat terakhir yang kudengar adalah 'kami sudah di sini'.

Setelah selesai berbicara dari ponsel itu, Adrian kembali. Ia menyuruhku untuk menunggu di dalam kamar. ”Tunggulah sebentar disini. Aku meninggalkan dompetku di dalam mobil. Aku pergi mengambilnya dulu.”

”Mengapa dompetmu bisa tertinggal? Ya sudah, pergilah tapi jangan lama-lama ya.”

Adrian pun pergi meninggalkanku sendiri di kamar. Aku duduk diatas ranjang. Kamar ini sangat luas. Ada jendela kaca yang besar langsung menghadap ke luar. Pemandangan kota dari sini terlihat indah. Sudah 30 menit berlalu namun Adrian belum kembali juga. Aku mulai jenuh. 

Aku berjalan ke luar balkon. Lampu- lampu yang berkilauan di malam hari begitu indah di lihat dari atas sini. Lama aku berdiri disini tapi adrian belum juga kembali. Apa dompetnya belum ketemu? Kemudian aku kembali masuk ke dalam untuk mengambil ponselku. Aku mencoba menghubungi Adrian tapi ia tidak menjawab panggilan dariku. Berulang kali aku menghubunginya namun nihil.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seseorang masuk. Aku mengira itu adalah Adrian sontak saja aku langsung mengeluh kepadanya.

”Mengapa kau lama sekali? Apa dompetmu sudah ketemu.”

”Halo sayangku.”

Aku kaget bukan kepalang. Dia bukan Adrian melainkan tuan jackson . Mengapa ia disini. Aku panik. Adrian pun belum kembali juga.

”Maaf, sepertinya anda salah kamar tuan. Jadi segeralah keluar.” Perintahku padanya.

Tuan Jackson tersenyum. Namun senyumannya sungguh menakutkan. Seperti singa yang hendak memangsa makanannya. Dia melangkah mendekatiku. Kakiku sontak mundur.

”Mau apa kau? Jangan mendekat. Adrian sebentar lagi akan datang. Menyingkirlah.” Aku mendorong tuan Jackson ke belakang. Lantas aku mengambil ponsel menghubungi Adrian. Dia tidak menjawab panggilanku. Tuan Jackson tertawa melihat aku.

”Lalu dimana sekarang suamimu itu? Apa kau tidak merasa aneh. Dia meninggalkanmu sendiri disini. Dan aku juga disini. Kau mengerti maksudku kan?”

”Apa maksudmu? Aku tidak mengerti dengan semua ini. Adrian tidak mungkin meninggalkanku denganmu. Aku istrinya. Tidak mungkin dia melakukan itu.” Aku panik. Pikiranku mulai kalut. Mengapa Adrian belum kembali  juga?

Tuan Jackson mendekatiku lagi. Aku menghindar. Lalu aku berlari menuju pintu hendak keluar, namun tuan Jackson berhasil menarik tubuhku. Ia mendekap tubuhku dari belakang . Aku meronta berusaha melepaskan dekapan tuan Jackson. Usahaku sia-sia. Kekuatanku tidak bisa mengimbangi tenaganya. Aku menangis. Hanya itu yang bisa kulakukan.

”Kumohon lepaskan aku. Biarkan aku pergi,” aku memohon padanya.

”Tidak sayangku,” Ia membelai kepalaku. Kemudian ia melanjutkan ucapannya, ”Adrian sudah menyerahkanmu padaku. Suamimu itu perusahaannya hampir bangkrut . Ia memohon padaku untuk kembali berinvestasi di perusahaannya. Dan kau sebagai jaminannya.”

Hatiku sakit mendengarnya. Aku tidak percaya Adrian melakukan semua ini kepadaku. Pantas saja ia tiba-tiba mengajakku makan malam ternyata semua itu sudah di rencanakannya.

Aku meronta melawan tuan Jackson. Dengan sigap aku menginjak kaki tuan Jackson dengan ujung tumit sepatuku. Kemudian aku bergegas lari keluar kamar.  Namun sial diluar kamar ternyata ada pengawal tuan jackson. Ada 4  orang yang berdiri di lorong. Aku berusaha menerobos mereka.  Kemudian aku mendengar tuan Jackson berteriak, ”tahan wanita itu. Jangan biarkan dia pergi.”

Mereka menghalangi jalanku. Aku melakukan perlawanan. Tapi berujung sia-sia. Mereka berhasil menahan aku. Aku memohon pada mereka untuk melepaskan diriku. Mereka bahkan tidak memiliki empati.

Tuan Jackson kemudian mendekat. Ia menarik rambutku. Lalu plakk!!! Ia menampar wajahku. Pipiku terasa sakit dan perih. Aku menangis.

”Dasar wanita murahan. Aku tidak mungkin melepaskanmu begitu saja. ” kemudian ia menyeretku masuk kedalam kamar. Ia mengunci pintu kamar.

Aku berteriak berharap akan ada orang yang mendengarku. Namun tuan Jackson semakin menjadi . Ia memukuli aku dengan tali pinggangnya. Sekujur tubuhku terasa sakit. Aku bersujud dan menangkupkan tangan memohon kepada-nya.

”Kumohon lepaskan aku. Aku akan melakukan apa saja tapi biarkan aku pergi.” Aku memohon tapi dia malah tertawa. Kemudian ia menundukkan badannya mendekat ke wajahku.

”Kau yakin akan memberikan yang kuinginkan? Aku mau tubuhmu.” Tuan Jackson menyeringai memandangi aku.

Mendengar itu aku bergerak mundur sambil menggelengkan kepalaku. ”Tidak.. aku tidak mau melakukannya. Kumohon jangan lakukan itu padaku." Tangisku semakin menjadi. Aku kembali berteriak minta tolong.

”Tolong....kumohon siapa pun tolonglah.” Suaraku semakin serak.

”Tidak ada gunanya kau berteriak tak seorang pun akan menolongmu.” Ia menyeretku ke atas ranjang.

Aku melakukan perlawanan . Tangannya begitu kekar. Ia mencengkram kedua tanganku. Aku meronta-ronta. Ia semakin beringas. Aku tidak menyangka akan mengalami hal buruk seperti ini.                           

****************

Airmataku tiada hentinya mengalir. Mengapa ini harus terjadi padaku. Aku terkulai lemah. Seluruh tubuhku penuh luka dan memar. Bajuku sudah tersingkap. Aku malu. Aku hanya menangisi diriku. Tuan Jackson hanya tersenyum puas melihatku seperti ini. Ia membelai rambutku. Namun aku bergeming. Aku sudah tak memiliki tenaga lagi untuk melawan. Ia sudah menodai aku. Aku benci melihatnya. Kualihkan pandanganku ke sudut kamar.

"Kau membuatku sangat senang. Tubuhmu sangat indah.” Tuan Jackson mengecup leherku kemudian ia berdiri. Setelah itu ia pergi meninggalkan aku begitu saja tanpa merasa bersalah.

Aku pergi kekamar mandi menyiram tubuhku yang kotor. Lama aku duduk dibawah shower dengan air yang mengalir. Aku terus-terusan menangis. Hatiku sakit sekali. Adrian aku sangat membencimu. Setega itu kau padaku. Mengapa kau memberikan aku pada si bangsat Jackson.

Setelah selesai membersihkan tubuhku, aku pergi keluar hotel. Semua mata memandangku. Ada yang berbisik ketika melihatku. Mungkin mereka kasihan padaku atau menghinaku yang seperti ini. Wajar saja jika mereka melihatku dengan tatapan aneh. Gaun yang kukenakan sudah koyak. Sekujur tubuhku penuh luka memar akibat kibasan ikat pinggang tuan Jackson. Bibirku pun juga luka. Tak bisa kugambarkan kondisiku saat ini. Aku sendiri pun begitu kasihan melihat tubuhku. Aku hanya terus berjalan dengan tatapan kosong. Pikiranku melayang entah kemana. Bahkan aku pun tak merasakan kakiku kesakitan saat menginjak kerikil di sepanjang jalan.

Tanpa kusadari aku berjalan terlalu jauh. Aku melihat kesekeliling ternyata aku sudah berada di atas jembatan. Aku melihat kebawah. Kemudian terlintas di benakku untuk melompat. Aku tak ingin hidup. Aku malu. Mengapa aku harus mengalami ini? Lalu aku naik ke atas pagar jembatan. Sekali lagi aku melihat kebawah. Aku merasakan adrenalin ku di pompa. Jantungku berdegup kencang. Sebenarnya aku takut ketinggian.

”Tidak. Aku takut ketinggian. Aku harus turun.” Seketika aku membatalkan niatku untuk terjun kebawah.

Namun saat aku hendak turun kakiku tergelincir dan aku pun jatuh bebas ke bawah masuk kedalam air. Byurrr!!! Airnya terasa dingin menembus kulitku. Aku panik. Aku tidak pandai berenang. Sial kenapa dari dulu aku tidak belajar berenang saja. 

Aku meronta-ronta berusaha menggapai ke permukaan. Namun air yang masuk ke paru-paruku membuat aku semakin lemas. Aku terus jatuh dan mulai hilang kesadaran. Mungkin ini akhir hidupku. Terlintas bayangan ayah disaat terakhir. Maafkan aku ayah.

Bab 3

Samar-samar kudengar banyak suara yang memanggil dan mengguncang tubuhku. Aku pun tersedak. Semua air yang telah tertelan kumuntahkan kembali. Kepalaku pusing dan dadaku terasa sesak. Pandanganku pun kabur. Mereka kembali menepuk-nepuk punggungku.

Setelah beberapa saat aku pun mulai sadar. Ada beberapa pria yang mengerumuni aku. Mereka mengenakan jaket kulit. Tubuh mereka semua kekar. Mereka lebih terlihat seperti preman.

"Aku ada dimana? Kenapa aku disini?" Kualihkan pandanganku ke sekitar. Ternyata aku ada diatas kapal. Di sudut sana aku melihat ada beberapa wanita. Apa mereka yang menolongku? Tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Perutku mual. Aku mabuk laut.

"Terima kasih kalian sudah menolongku. Tapi bisakah kalian menurunkan aku? Aku ingin pulang."

"Nona pelabuhan masih jauh dari sini. Apa kau ingin turun ke dalam air ini lagi?" kata salah satu dari mereka.

Aku ingin pulang. Tapi aku tidak mau turun ke dalam air lagi. "Lalu kapal ini akan pergi kemana?" Tanyaku.

"Hongkong." Jawabnya lagi.

"Apa?" Aku hampir berteriak ketika mengucapkan itu. "Aku tidak ingin pergi bersama kalian ke Hongkong. Bisakah kalian menurunkan aku di dermaga terdekat? Aku mohon." Kataku lagi sambil memohon pada mereka.

Mereka saling pandang dan kemudian mengangguk. "Baiklah. Kau tunggu saja di sana." Ia menunjuk ke sudut kapal.

"Terima kasih," balasku.

Kemudian dengan tertatih aku berjalan ke sudut kapal bergabung bersama penumpang yang lainnya. Aku merasa aneh karena mereka semua adalah perempuan yang masih muda. Kuberanikan diriku untuk bertanya kepada mereka.

"Apa kalian ingin pergi ke Hongkong?" Tanyaku.

"Ya, kami ingin bekerja disana. Mereka menawarkan pekerjaan kepada kami." Kata wanita berbaju pink. Kemudian ia mengulurkan tangannya. "Aku Gladis." Ia tersenyum.

Aku meraih tangannya, "Naomi. Mmm..pekerjaan apa yang mereka tawarkan? Apakah harus wanita semua ya?" Tanyaku curiga.

"Kami tidak tahu detailnya seperti apa. Tapi yang jelas mereka hanya buka lowongan buat wanita saja."

Aku merasa aneh dengan jawaban Gladis. Jenis pekerjaan apa yang hanya membutuhkan wanita saja. Aku teringat sesuatu. Sontak aku membelalakkan mataku. Apa jangan-jangan mereka akan dijadikan sebagai wanita penghibur. Karena belakangan ini marak sindikat perdagangan wanita.

"Apa kalian tidak curiga kepada mereka? Mengapa kalian percaya pada mereka? Harusnya kalian memastikan dulu kebenarannya. Bagaimana jika mereka hanya menipu kalian saja?" Kataku kesal. Aku memegang kepalaku yang sakit. Mengapa aku harus diselamatkan para bandit ini.

Aku melihat dari kejauhan banyak cahaya-cahaya lampu . Pasti itu dermaga terdekat pikirku. Lalu aku berjalan menghampiri para preman itu yang sedang minum-minum.

"Maaf aku mengganggu kalian. Bisakah aku turun di dermaga itu? Aku ingin pulang, ayahku sedang menungguku di rumah." Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada mereka.

Mereka hanya saling pandang dan kemudian tertawa melihatku.

"Kapal ini tidak bisa menepi nona. Kami sedang dikejar waktu. Jika tidak, bos kami akan marah."

"Tapi..bukankah kalian sudah berjanji akan menurunkan aku di dermaga terdekat?"

"Kami berbohong." Mereka menyeringai. "Kau begitu cantik. Tubuhmu sangat indah. Bagaimana mungkin kami menurunkanmu. Banyak pria jahat di luar sana.” Pria bertubuh kekar itu memandangiku dari atas hingga ke bawah. Sontak aku menutupi dadaku dengan kedua tanganku.

Aku baru menyadari aku masih memakai gaun sialan ini. Gaunku masih belum kering. Angin malam berhembus kencang. Seketika aku menggigil kedinginan. Kemudian aku memohon pada mereka agar menurunkan aku.

"Aku mohon. Aku ingin pulang. Aku tidak ingin ikut bersama kalian. Ayahku sendirian dirumah." Aku memasang mimik yang menyedihkan berharap mereka akan iba. Namun mereka malah menertawakanku.

Aku merasa sial sekali. Habis keluar dari lubang buaya masuk ke sarang serigala. Mengapa semesta begitu kejam padaku. Air mataku mengalir. Aku mundur. Aku meringkuk di sudut kapal. Kubenamkan wajahku dia kedua lututku. Aku tidak ingin orang melihatku menangis. Ayah aku merindukanmu.

Adrian aku membencimu. Aku menyalahkan Adrian. Jika bukan karenanya aku tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini. Aku tidak akan memaafkanmu Adrian. Sampai kapanpun tidak akan.

"Kau menangis? Hmm.. aku mengerti perasaanmu. Menangis lah jika itu membuatmu lebih baik." Gladis duduk di sebelahku dan ia menepuk-nepuk punggungku. "Punggungmu?" Ia terdiam sejenak. Aku yakin dia pasti melihat punggungku yang penuh memar. "Emm...sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Tanya gladis penasaran.

Aku menoleh kepada Gladis. Aku butuh seseorang untuk meluapkan semua hal yang sudah aku alami.

"Mungkin ini hari terburuk dalam hidupku. Suamiku menjualku kepada rekan bisnisnya. Dan sekarang aku berakhir disini . Aku benar-benar sial." Aku hanya menunduk dengan tatapan kosong.

"Jadi karena itukah kau melompat ke air?" Tanya Gladis lagi. Aku hanya mengangguk saja.

Gladis merangkulku tangannya menepuk-nepuk punggungku yang memberikan sedikit ketenangan.

Entah sudah berapa lama kami berada di lautan. Aku sungguh rindu daratan. Sejauh mata memandang hanya ada air. Tubuhku semakin kurus. Kami hanya di beri makan pagi dan malam hari saja.

Kulitku pun terasa kering dan warnanya sudah kecoklatan akibat sengatan matahari. Wajar saja sebab aku hanya memakai gaun yang diberikan adrian waktu itu. Terlalu terbuka. Bila malam angin akan menembus masuk ke kulitku. Sungguh sangat menyiksa tubuhku.

Suara-suara bising dari kapal memecah lamunanku. Aku terperanjat melihat di depan sana ada daratan. Kapal-kapal besar juga berjejeran disana. Aku senang dan juga sedih. Senang karena melihat daratan lagi dan sedih karena aku tidak bisa pulang.

Kapal kami akhirnya bersandar di pelabuhan. Aku menghela napas lega. Mungkin kami sudah tiba di Hongkong . Aku bisa melihat gedung- gedung tinggi dari sini terlihat indah dengan cahaya lampu yang warna-warni. Aku yakin ini sudah tengah malam tapi aku melihat masih banyak orang yang beraktifitas di sekitaran pelabuhan.

"Hei kau! Cepat kesini." Pria botak itu memanggilku dengan garang. Lalu aku menghampirinya. Kulihat Gladis dan yang lainnya sudah turun. Aku mengikutinya turun kebawah.

"Bos ingin bertemu denganmu bersikap lah yang baik." Katanya lagi.

"Laoban (bos) , ini wanita yang kukatakan tadi." Si botak itu menunjuk ke arahku. Aku hanya memandangi mereka dengan tatapan waspada.

Wanita yang dipanggil bos itu tersenyum puas melihatku. Ia berwajah oriental. Ia memakai bedak tebal dengan lipstik merah menyala. Ia terlihat seperti seorang mucikari. Ia juga memegang kipas lipat di tangan kanannya. Kemudian ia memegang daguku menggoyangkannya kekanan dan kekiri. Sontak aku menepis tangannya dari wajahku.

Ia tersenyum dan kemudian berbicara dalam bahasa Mandarin. Aku hanya mengerti sedikit bahasanya. Dulu aku pernah mengikuti kelas bahasa Mandarin, tapi aku sering bolos.

"Aiya, kau sungguh cantik tapi lihat keadaanmu sungguh memprihatinkan. Tapi tak apa aku akan membuatmu semakin cantik lagi." Ia tersenyum senang dan kemudian ia meyuruh pria botak itu membawaku.

Aku berusaha melepaskan tangannya. Aku tidak mau ikut dengan mereka. Tapi apalah dayaku tubuhku saja masih lemah. Kekuatan yang kumiliki tidak sebanding dengannya. Ia menarikku dengan paksa. Tanganku terasa sakit. Aku hanya bisa menurut saja.

Mereka membawa kami ke dalam sebuah bangunan yang tampak sudah tua. Namun begitu masuk kedalam interiornya sangat bagus. Nuansa warna merah maroon dengan lampu yang tidak terlalu terang. Di sudut ruangan ada juga meja bar ada beberapa wanita dan pria yang sedang duduk disitu.

Aku baru menyadari ternyata ini adalah rumah bordil. Kakiku gemetaran. Aku tidak mau menjadi wanita penghibur. Aku harus pergi dari sini.

"Bawa dia masuk ke dalam kamar suruh Xiao Mei membersihkannya. Nanti Tuan Lei datang aku akan mengenalkannya pada tuan Lei." Kata wanita itu.

Lalu pria botak itu membawaku masuk ke dalam kamar. Di dalam sana ada seorang wanita. Ia tersenyum. Dia sangat cantik dengan rambutnya yang panjang terurai. Tapi pakaiannya minim sekali. Ia lebih terlihat seperti Tante girang.

"Laoban (bos) bilang kau harus membersihkan wanita ini. Ia akan dikenalkan pada Tuan Lei ." setelah mengatakan itu ia pergi keluar kamar.

"Jadi kau pekerja baru disini? Aku Xiao Mei dan kau siapa namamu?" Ia menghampiriku dan mulai membuka pakaian yang kukenakan.

"Aku Naomi. Apa yang akan kau lakukan padaku."

"Tentu saja membersihkanmu. Lihat semua luka ini. Cek..cek..cek...berapa usiamu? Kau terlihat masih muda sekali."

"29 tahun. Kalau bisa memilih,..." Aku terdiam sejenak. "Lebih baik mereka membiarkanku saja tenggelam di dalam air. Daripada harus menjadi wanita penghibur. Aku hanya ingin pulang. Aku merindukan Ayahku." Aku menangis meratapi nasibku.

Xiao Mei hanya diam mendengarku. Ia terus mengelap badanku. Kemudian ia memberikan baju baru padaku. Aku memakainya. Aku terlihat seperti wanita penggoda di balik cermin itu. Aku memakai gaun mini yang terlalu ketat. Seketika aku benci melihatnya.

Kemudian xiao Mei membawa aku keluar. Dia membisikkan sesuatu padaku. "Jika ingin bertahan disini menurutlah dengan apa yang mereka katakan. Maka kau akan aman."

Aku hanya diam saja. Pikiranku sedang memikirkan cara untuk keluar dari sini. Aku tidak ingin berada di sini lebih lama lagi. Xiao Mei membawa aku menemui wanita yang mereka panggil laoban (bos). Wanita itu sedang berbincang dengan seorang pria yang berpakaian rapi. Dilihat dari wajahnya sepertinya ia berusia 30 tahunan. Ia menoleh ke arahku dan membuat senyuman yang dipaksa.

"Tuan Lei, ini wanita yang kukatakan tadi. Bagaimana menurutmu, bukankah dia cantik?"

Pria itu menatapku dari atas hingga kebawah. Kemudian ia tersenyum dan membelai pipiku.  "Cantik sekali.” Dengan sigap aku langsung menepis tangan pria itu menjauh dari wajahku. Aku tidak Sudi disentuhnya.

Pria itu hanya tersenyum kaget melihat reaksiku. "Wah, ternyata kau sangat agresif. Aku semakin menyukaimu. Aku akan membawa dia bersamaku." Dia kemudian menoleh wanita itu.

Kemudian mereka bertransaksi. Aku tidak menyangka mereka menjualku kepada Tuan Lei. Nasibku sungguh sial. Mungkin dikehidupan sebelumnya aku seorang penghianat sehingga semesta menghukum aku seperti ini.

Tuan Lei merangkulku dan membawaku keluar. Aku risih disentuhnya. Kulihat di luar ada 2 orang pria bertubuh kekar berdiri di sebelah mobil. Mereka adalah pengawal Tuan Lei. Kemudian mereka membukakan pintu mobil untuk kami.

Di dalam mobil aku hanya diam saja melihat keluar jendela. Tuan Lei mengambil kesempatan meraba pahaku. Aku terperanjat. Sontak kutepis tangannya. Dia semakin menjadi. Ia mendekati wajahku hendak menciumku. Tanganku reflek mendorongnya ke belakang.

"Kumohon jangan lakukan itu padaku."

"Kau terlalu munafik nona. Tapi aku menyukainya. Semuanya yang ada pada dirimu aku menyukainya." Dia menyeringai.

Tiba-tiba kepalaku terasa pusing sekali. Perutku mual dan terasa kembung. Aku baru ingat aku belum makan sejak tadi pagi. Asam lambungku naik. Aku meringis kesakitan memegang perutku. Tuan Lei menyadari aku kesakitan ia segera menyuruh pengawalnya untuk menghentikan mobilnya di apotik terdekat.

Tuan Lei memberikan obat untukku. Tapi perutku mual sekali. Aku mau muntah. Sontak aku menutup mulutku dengan telapak tamganku agar isi lambungku tidak keluar. Tuan Lei membuka pintu memberikan isyarat untuk aku memuntahkannya di luar. Aku pun segera turun.

Aku merasa lega setelah aku memuntahkannya. Kupegangi kepalaku yang masih terasa pusing. Mataku memandangi kesekitar. Ada banyak orang disini. Sepertinya kota ini tidak pernah tidur. Meskipun sudah tengah malam namun masih tetap sibuk. Terlintas di benakku untuk melarikan diri dari mereka. Ini kesempatanku.

Aku melirik pengawal Tuan Lei, mereka masih mengawasiku. Aku mengambil napas dalam-dalam mengumpulkan keberanianku dan kekuatanku. Menunggu mereka lengah. Beruntung saja ponsel Tuan Lei berdering. Ia sedang sibuk menerima panggilan. Aku hanya perlu mengalihkan perhatian pengawalnya.

Aku memegangi perutku dan berakting hendak muntah lagi. Lalu aku meminta air minum kepada mereka. Saat pengawal yang satu lagi hendak mengambil air mineral dari dalam mobil, dengan segera aku berdiri dan berlari secepat mungkin.

Mereka menyadari niatku dan mengejarku. Aku terus berlari mengikuti kemana tujuan kakiku. Tak kurasakan lagi sakitnya telapak kakiku saat menginjak aspal yang kasar. Napasku terengah. Jantungku berdegup kencang. Aku sudah lelah berlari namun aku tidak ingin berhenti.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED