“Cabut, cabut!”
“Dasar tolol!” makiku dengan perasaan campur aduk. Cemas sudah pasti, marah dan kesal juga iya pada Damar.
Kami terus berlari di antara gang-gang kecil di tengah pasar, berputar-putar, dan menghadapi caci maki dari pengunjung dan pedagang pasar.
Meski aku lebih sering menyerukan kata maaf, si Damar sialan ini justru terkekeh-kekeh saja, seolah-olah semua hal yang sedang terjadi sekarang ini adalah sesuatu yang memang dia cari. Atau sesuatu yang menyenangkan baginya.
Belasan menit kemudian, aku dan Damar berhasil keluar dari pasar itu dengan tanpa seorang pun yang mengikuti kami.
Yah, sepertinya dengan aku yang sangat hafal kondisi pasar itu memudahkan kami untuk menghindari kejaran anak-anak SMA dari sekolah lain tadi.
Dan rumahku, tidak berapa jauh lagi dari posisi kami sekarang.
“Ayo, kita ke rumah elu aja, Rin!”
“Ntar dulu, bego!” Aku terbungkuk-bungkuk dengan dada yang sesak, perut yang terasa kram, dan rusuk yang bernyut setiap kali menghela napas. “Ngap, gue ngap. Ntar dulu!”
Damar juga terbungkuk-bungkuk, kami saling pandang, dan dia terkekeh seraya menepuk-nepuk punggungku.
“Keren!” ucapnya.
“Berengsek lu!” makiku.
Dia tetap saja tertawa. “Ayok!”
Sampai di depan rumah, ayahku baru saja menaiki sepeda motornya yang sudah butut, dia memandangi kami dengan kening mengernyit.
“Lho, udah pulang?” tanyanya. “Padahal Ayah mo jemput kamu lho, Rin.”
“Gak usah, Om,” sahut Damar sembari merangkul bahuku. “Aku udah nemenin Rina ini, kok.”
Aku mendelik padanya dan dia tetap saja terkekeh menanggapiku. Dasar cowok selengean!
“Oh, ya udah,” balas ayahku.
“Ayah mo kemana lagi?” tanyaku dengan napas yang masih saja sedikit memburu.
“Mau tahu aja lu!”
Yah, begitulah ayahku. Entah dia menganggapku anaknya atau justru temannya, yang jelas, selalu saja percakapan di antara kami terjadi seperti percakapan di antara teman sepermainan.
Menyebalkan!
Mesin motor meraung dan sekejap kemudian, ayahku telah berlalu dari depan rumah.
“Ayuk ah, Rin!” Damar mendahului memasuki rumahku dengan terlebih dahulu melepaskan sepatunya. “Permisi, ada orang di rumah?”
“Nggak ada!” seruku dari belakang sembari melepaskan sepatu. “Penghuni udah pada mati!”
Dan si cowok sialan itu hanya tertawa-tawa saja menanggapi.
“Eh, Rin.”
“Apa lagi?” Yah, aku masih kesal padanya. Gara-gara dia aku terpaksa lari selama beberapa belas menit dan itu sangat tidak menyenangkan.
“Dih, sewot!” kekehnya seraya menghempaskan tubuhnya di sofa panjang di ruang tengah. “Ambilin gue minum, dong!”
“Berengsek lu, ya!” Aku berdiri tegap dengan tangan berada di pinggang dan menatap garang padanya. “Lu gak lihat, hah?”
Dia mengernyit seolah tak berdosa. “Lihat apaan?”
“Badan gue!” balasku. “Muka gue, habis semua basah. Semua gara-gara elu, anak setan!”
Dan sudah bisa ditebak, Damar lagi-lagi menanggapi kekesalanku dengan tertawa saja, bahkan dengan santai dia merebahkan punggungnya di sofa panjang yang sudah kusam itu, seolah-olah dia sedang berada di rumahnya sendiri.
“Buruan dong,” katanya, lagi. “Air dingin, ya!”
“Lu―”
Dan aku tidak bisa berbuat banyak selain meninggalkan Damar di ruang tengah sendirian.
Tapi ‘masa bodo’ saja dengan permintananya itu. Memangnya dia pikir aku ini pelayannya, begitukah? Main suruh begitu aja, ini kan rumahku―maksudku, rumah orang tuaku, bukan rumahnya dia.
Sialan! Dasar anak orang kaya!
“Assalamualaikum!”
“Waalaikumusalam.”
Dari dalam kamarku, selagi aku berganti pakaian, aku mendengar suara seorang wanita yang memasuki rumah dan disambut oleh Damar. Aku tahu itu adalah ibuku dan aku bergegas keluar dari kamar.
“Lho, Damar … habis ngapain, keringetan gitu?”
“Ahh, ini Tan, biasalah, habis jogging.”
“Jogging apaan?” Aku mendengus dengan dua tangan berada di pinggang. “Jangan percaya, Bu. Dia habis tawuran lagi, dasar bodoh!”
“Engg, nggak kok, Tan. Si Rina mah main tuduh aja,” sanggah Damar.
Aku mendelik padanya. Sementara ibuku tersenyum dengan menggelengkan kepala.
“Udah, udah,” kata ibuku. “Kalian itu, kalau ketemu kek anjing ama kucing aja, ribut aja bisanya.”
“Iya,” sahutku dengan sewot seraya menghampiri ibuku. “Dia anjingnya, aku yang kucingnya!”
Dan ya, si anak sultan itu tertawa-tawa lagi saja. Dasar menyebalkan!
“Tan, lihat, Tan!” sahutnya seraya menunjukku. “Rina kasar banget. Mana air minum gak dikasih lagi. Payah!”
“Payah, payah,” aku masih saja mengomel panjang-pendek seraya mengambil bawaan ibuku yang baru pulang berbelanja di pasar. “Lu yang payah!”
“Udah sih, Rin,” sahut ibuku. “Nggak baik ngomong keras-keras gitu.”
“Dengerin tuh!” Damar menyeringai. “Dasar aneh. Cewek kok kasar gini? Mana ada ntar cowok yang mau sama elu!”
“Lu tuh, ya!”
“Eeh, udah, udah!” Ibuku memasang badan, menghalangi langkahku. “Berantem mulu sih, Rin? Nggak capek?”
“Dih, Ibu kok malah ngebelain si Damar, sih?”
Dan ya, karena kesal, aku lantas memutar badan, melangkah ke arah dapur dengan mengentak-entakkan kaki lebih kuat ke lantai.
“Bentar ya, Mar,” kata ibuku pada si cowok berengsek itu. “Biar Tante ambilin. Mau air putih aja apa gimana, nih?”
“Ahh, gak usah, Tan,” jawab Damar. “Biar saya ambil sendiri ke belakang.”
Yah, begitulah kami. Maksudku, aku dan Damar. Kami berdua bisa dibilang sahabat baik dan sangat akrab malahan meskipun lebih sering dihiasi dengan pertengkaran.
Tapi berbeda dengan Damar yang sudah kenal baik dengan ayah dan ibuku, aku justru sebaliknya.
Seingatku, aku hanya pernah sekali saja main ke rumah orang tuanya Damar. Itu pun bersama teman-teman lainnya.
Rumah orang tuaku ini dibandingkan rumah orang tuanya Damar, ibarat Bumi dan langit. Jauh lebih besar garasi mobil yang mereka miliki untuk menempatkan mobil-mobil mewah mereka ketimbang rumah orang tuaku ini.
Tapi di situlah anehnya, Damar sama sekali tidak pernah mau menggunakan salah satu mobil ataupun sepeda motor yang dimiliki keluarganya.
Setiap kali aku ataupun teman yang lain bertanya tentang hal ini, dia selalu menjawab dengan seribu satu alasan.
Tapi bagiku, Damar hanya mencoba untuk tidak terlihat manja meskipun dia termasuk kategori anak sultan. Yah, lebih membaur atau membumi dengan lingkungan kecil seperti di mana aku tinggal sekarang ini.
Ada satu hal lagi yang membuatku heran sekaligus bingung pada sosok Damar. Hmm, mungkin dua atau tiga poin lagi. Entahlah, aku selalu bingung saja setiap kali memikirkan tentang dia.
Pertama, aku tidak tahu alasannya mengapa Damar justru lebih dekat padaku ketimbang teman-teman lain di kelas bahkan di sekolahan kami sekalipun.
Dan yang kedua, di saat anak-anak lain selalu berbangga hati, membusungkan dada dengan harta kekayaan orang tua mereka, Damar justru kebalikannya.
Padahal, dia sama sepertiku, maksudku, sebagai anak tunggal, anak semata wayang di keluarga masing-masing.
Mungkin karena lasan yang kedua inilah dia merasa lebih nyaman bersamaku.
Dan yang terakhir … meski cukup banyak cewek di sekolah yang tergila-gila padanya, tapi emang dasar cowok selengean, dia tidak merespon perasaan mereka. Tidak pernah sekali pun.
Aku pernah beberapa kali mendapati beberapa teman cewek di sekolah yang menangis tersedu-sedu di toilet akibat ditolak mentah-mentah oleh Damar.
Kadang aku kasihan melihat mereka, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Toh, itu kan haknya Damar. Dia mau bersama siapa, atau mengencani cewek yang mana satu, sepenuhnya adalah hak dia.