"Ini kuncinya Tuan," ucap Tina, salah satu pekerja yang bertugas di bagian resepsionis sambil melirik ke arah wanita muda yang berdiri di sebelah Prasna, anak pemilik hotel di mana Tina bekerja.
Prasna mengambil kunci tersebut tanpa bersuara, lalu menarik pelan tangan Kirani, wanita muda yang bersamanya.
"Wajah sih polos dan lugu, tapi bawah salome, idih amit-amit," cebik Nita sambil mengikuti langkah Prasna dan Kirani dengan ekor matanya.
"Kalau Non Nelsa tahu, pasti perang dunia ke empat." Sambil mengunyah permen karet mata Nita terus mengikuti ke mana anak pemilik hotel tadi membawa Kirani.
"Sstt ... ada Non Nelsa, diam! Pura-pura nggak tahu!" bisik Wanda, tangannya menyiku lengan Nita.
Mendengar ucapan Wanda, bergegas Nita mengambil tong sampah kecil dan pura-pura ke belakang untuk membuang sampah.
"Hai, kenapa diam saja?" tanya Prasna, pria tampan yang membawanya dari warung remang-remang tadi.
"Engg-enggak apa-apa Om, eh Tuan," Kirani menjawab dengan gugup, dia ingat tadi saat Nita memanggil pria itu dengan sebutan Tuan.
"Namamu siapa?" tanya Prasna sambil mengangkat dagu Kirani dengan tangan gemetar.
"Kir-Kir...."
"Kikir? Ha ha ha, nama yang unik!" Prasna tertawa untuk menutupi perasaan groginya.
"Ma-maaf Tuan, sebelum jam sembilan saya harus pulang," ucap Kirani pelan, Prasna mengerutkan dahinya heran, lalu matanya beralih ke pergelangan tangannya. Dua puluh delapan menit lagi tepat jam sembilan.
"Cepat lakukan sekarang Tuan!" Lirih, Kirani berucap, tangannya mulai melepas kancing bajunya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Prasna sambil menarik tangan Kirani.
"Sudah nggak ada waktu lagi Tuan, lakukan sekarang!" Kirani mendesak Prasna dengan suara lirih dan dengan nafas yang memburu.
Prasna menelisik wajah Kirani, dalam hatinya merasa heran dan aneh dengan sikap wanita yang berada di depannya.
Ingatan Prasna melayang pada kejadian sekitar satu jam yang lalu. Pikirannya sedang kacau karena habis bertengkar dengan tunangannya yang bernama Nelsa.
Prasna tak mau mengemudi dalam keadaan pikiran kacau, dan dia menghentikan mobilnya di depan sebuah warung.
Niat Prasna untuk membeli air mineral di sebuah warung berubah ketika melihat Kirani yang sedang duduk dengan gelisah, dan ketika pemilik warung itu membisikkan sesuatu di telinganya, tanpa berpikir panjang Prasna mengangguk dan langsung mengulurkan beberapa lembar uang merah kepada pemilik warung tersebut.
Kirani beranjak dan mengikuti langkah Prasna setelah pemilik warung itu mencolek bahunya, sambil menunjuk ke arah mobil Prasna.
"Tu-Tuan, hampir jam sembilan," Ucapan Kirani membuyarkan lamunan Prasna.
"Memang kenapa kalau jam sembilan, terserah saya mau pakai kamu sampai jam berapa!" jawab Prasna santai dan tanpa ekspresi.
"Nggak bisa Tuan, saya harus sampai rumah sebelum jam sepuluh, kalau tidak..."
"Kalau tidak kenapa?" tanya Prasna memotong ucapan Kirani, dia penasaran dan ingin tahu apa alasannya.
"Atau kamu punya janji dengan orang lain?" tanya Prasna lagi sambil menatap Kirani dengan tatapan tajam.
"Enggak ada Tuan, cepat lakukan sekarang, saya harus pulang dan harus membawa uang untuk kebutuhan keluarga saya!" jawab Kirani dengan cepat, lalu dengan cepat pula wanita itu membuka kancing-kancing bajunya.
"Jangan, bukan itu yang saya inginkan!" Prasna mengambil bantal untuk menutupi tubuh Kirani yang setengah terbuka.
"Lalu apa maksud Tuan membawa saya ke sini? Tuan sudah membuang waktu saya!" ucap Kirani dengan emosi yang ditahan, terbayang wajah suami dan ibu mertuanya kalau nanti pulang tanpa membawa uang sepeserpun.
Prasna tersentak mendengar ucapan Kirani. Rasa penasarannya semakin kuat terhadap wanita yang berwajah teduh dan polos itu. Ada gurat kesedihan yang terlihat oleh Prasna dalam tatapan Kirani.
"Tunggu! Jangan pergi!" Prasna berseru memanggil Kirani yang sudah siap membuka pintu.
Kirani menoleh dan menatap Prasna dengan tatapan sengit.
"Apa lagi yang Tuan inginkan? Mau mempermainkan saya?" setelah berkata seperti itu Kirani langsung pergi dengan membanting pintu kamar dengan keras.
Prasna terperanjat, bergegas dia lari mengejar Kirani. Timbul rasa sesal dan bersalah di hatinya.
"Sayang, apa yang kau lakukan dengan perempuan tadi?" Langkah Prasna terhenti karena dicegat oleh Nelsa yang dari tadi mencarinya di sekitar hotel tersebut.
"Bukan urusanmu!" sentak Prasna sambil menepis tangan Nelsa. Prasna terus berlari dan mencari Kirani, tapi lelaki itu harus menelan kekecewaan saat melihat Kirani masuk ke dalam sebuah taksi, Prasna hanya bisa pasrah saat taksi itu bergerak pergi.
Di sebuah lorong sempit, Kirani melangkah dengan gontai, jantungnya berdegup kencang membayangkan apa yang bakal terjadi sebentar lagi.
Tok tok tok!
Kirani mengetuk pintu rumahnya pelan, dia pasrah walau apa pun yang akan dilakukan oleh keluarga suaminya.
"Nah, itu yang kita tunggu pulang!" ucap Bu Uli sambil beranjak bangun untuk membukakan pintu. Hani, kakak ipar Kirani menyambut ucapan ibunya dengan senyum sumringah, terbayang uang yang akan didapat dari Kirani.
"Vin, Davin, istrimu pulang!" Hani memanggil Davin, adiknya yang sedang menikmati makan malamnya.
Mendengar suara kakaknya, Davin meninggalkan makanannya yang masih banyak tersisa.
"Hhmmmm, istri cantikku sudah pulang rupanya!" ucap Davin sambil merangkul Kirani yang berniat masuk ke kamarnya.
"Saya capek Bang, mau istirahat dulu," balas Kirani dengan suara lirih, badannya terasa lemas karena perutnya hanya terisi sepotong roti tadi pagi ketika bekerja di pasar.
Ya, dari pagi sampai menjelang sore Kirani bekerja di sebuah pasar besar. Bersama para pejuang keluarga yang lain, demi mendapatkan uang Kirani menawarkan jasa tenaganya membantu pengunjung pasar untuk mengangkat barang-barang, atau lebih tepatnya Kirani bekerja sebagai kuli angkut barang.
Membawa hasil yang tak seberapa akan menjadi malapetaka bagi Kirani, suami dan ibu mertuanya pasti akan menghadiahi lebam dan lukisan luka di sekujur badannya, dan karena tak mau itu terjadi Kirani mengambil jalan pintas untuk mendapatkan uang, yaitu menjadi penjaja cinta di warung remang-remang setiap habis pekerjaannya di pasar besar.
"Oh ... nggak masalah Sayang, istirahatlah, tapi ... itunya jangan dibawa dooong!" ucap Davin sambil menunjuk tas kulit yang tersangkut di badan Kirani.
Kirani hanya diam dan membiarkan ketika Davin menarik tas kulitnya dengan kasar, dia hanya melirik sekilas saat suaminya melonjak gembira dan berlari ke arah ibu dan kakaknya.
"Cihuuiiiyyy, kita pesta malam ini," Davin sambil membuka tas itu dan mengobrak-abrik isi di dalamnya.
Merasa tak puas karena tak mendapat apa yang dicarinya, Davin menumpahkan seluruh isi tas tersebut, Bu Uli dan Hani dengan antusias ikut mencari dan memporak porandakan isi tas milik Kirani.
Darah Davin mendidih, hanya uang recehan dan kertas-kertas lusuh yang berada di dalam tas Kinanti. Bu Uli dan Hani saling bertukar pandang, wajah mereka terlihat bengis karena marah.
"Kiraniiiiiii!"
Suara Davin menggelegar, di dalam kamarnya yang sempit Kirani bersiap-siap, dia pasrah memasang badannya, mau dihajar atau dibunuh sekali pun.
"Sini kau sialan! Aku bilang mau uang malam ini, tapi apa yang kau bawa, hah!" Davin menyeret Kirani dan mendorongnya keras, hingga istrinya itu jatuh terduduk tepat di kaki Bu Uli yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang.
"Heh mantu sialan, sudah ku bilang besok waktunya arisan, mau ditaruh mana mukaku ini kalau nggak ada uang!" pekik Bu Uli sambil menjambak rambut panjang Kirani.
"Dan aku besok mau ke salon, mau ketemu mas Feri, pokoknya aku nggak mau tahu, malam ini harus ada uang!" Hani tak mau ketinggalan, dia mengikuti jejak ibunya menjambak rambut Kirani.
"Cepat berikan uang itu sekarang! Pasti kau sembunyikan!" hardik Davin sambil menendang punggung Kirani.
"Nggak ada Bang, sumpah saya nggak dapat uang hari ini," ucap Kirani sambil menahan sakit. Tak ada tangisan atau air mata Kirani.
Plak!
Plak!
"Aku nggak mau tahu, aku mau uang malam ini juga!" hardik Hani dengan keras, dia memukul wajah Kirani dengan remot TV secara membabi buta.
"Cukup! Hentikan!"
"Mas Feri?" Bola mata Hani membulat sempurna saat melihat Feri, lelaki yang sangat dicintainya datang. Antusias dia hendak memeluk Feri, tapi lelaki itu dengan cepat menghindar.
Hani tertegun, dia menatap Feri dengan tatapan yang tajam, dia merasa heran.
"Mas? Kenapa?" Hani protes atas penolakan Feri.
"Saya nggak nyangka ternyata ini sifat aslimu, bar-bar dan kejam!" sahut Feri sambil meletakkan sebuah kantong plastik di atas meja makan.
"Mas jangan salah paham, kami memang biasa bercanda ...,"
"Cukup Hani, saya sudah melihat dan mendengar semuanya, mungkin dengan cara ini Tuhan menunjukkan bahwa kamu bukan jodoh saya!" Feri memotong kalimat Hani.
"Mak-maksudmu apa Mas?" tanya Hani dengan suara keras.
"Saya nggak mau punya keluarga yang nggak punya hati dan nggak berperi kemanusiaan, jadi rencana untuk melamarmu saya batalkan, kita putus!" ucap Feri dengan tegas, sambil mengibaskan tangannya yang hendak dipegang Hani.
"Jangan begitu Nak Feri, kamu nggak bisa memutuskan sebelah pihak, kita rundingkan baik-baik!" Bu Uli ikut bicara, dia tak mau Hani gagal menjadi istri Feri yang kaya raya itu.
"Nggak ada yang perlu dirundingkan lagi Bu, keputusan saya sudah bulat!" tegas Feri sambil menghindari Hani yang dari tadi berusaha mendekatinya.
Mata Feri berputar menatap wajah seisi keluarga itu satu-persatu, dan ketika pandangannya tepat ke arah Kirani, perasaan kasihan dan iba melihat keadaannya yang tak berdaya.
Feri melangkah mendekati Kirani, niatnya hanya ingin menolong karena rasa kemanusiaan.
"Jangan ikut campur urusan keluargaku!" hardik Davin sambil menyentak tangan Feri dengan kasar.
Feri mundur selangkah dari hadapan Davin yang sedang naik pitam, lelaki yang rencananya ingin melamar Hani itu menatap Davin dengan tatapan sengit, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena dia merasa tak berhak untuk ikut campur dalam keluarga itu.
"Memang bukan urusan saya, tapi perbuatan kalian ini bisa saya laporkan!" ancam Feri mendorong tubuh Hani yang dari tadi berusaha memeluknya dengan tangis dan rengekan manjanya.
"Ha ha ha! Mau lapor? Silakan!" tantang Davin dengan angkuhnya.
Mata Feri tak kuasa lagi menatap keadaan Kirani yang tak berdaya, dalam hatinya bertekat untuk menolongnya, tapi di sisi lain dia tak mau dituduh mencampuri rumah tangga orang.
"Mbak Kirani! Mbak harus lawan orang-orang biadab ini, jangan hanya pasrah!" seru Feri sebelum pergi meninggalkan keluarga itu.
Feri datang secara tiba-tiba karena kebetulan lewat dan sengaja membelikan martabak telur, makanan kesukaan Bu Uli.
"Jadi karena perempuan sial itu Mas Feri minta putus dari aku?" jerit Hani sambil menghalangi langkah Feri yang hampir sampai ke mobilnya.
"Semua karena sikapmu, nggak usah menyalahkan orang lain, berkacalah!" jawab Feri dengan datar sambil menarik tubuh Hani agar menjauh dari mobilnya.
"Nggak, aku nggak mau putus!" teriak Hani sambil menggedor-gedor pintu mobil Feri, dan Feri yang sudah berada di belakang kemudinya tak menghiraukan mantan tunangannya itu.
"Maaaas Feriii!" Hani menjerit histeris ketika mobil hitam milik Feri mulai bergerak perlahan meninggalkannya.
Para tetangga yang mendengar jeritan Hani keluar dari rumahnya masing-masing, mereka mendekati Hani yang duduk bersimpuh di depan pintu pagar rumahnya sambil menangis meraung-raung.
"Ada apa Mbak?" tanya Rini, tetangga sebelah rumahnya.
"Bukan urusan kalian, pergi! Pergi!" Hani berteriak sambil mengusir orang-orang yang berada di dekatnya.
"Huuuu, orang mau ditolong malah ngamuk, gila kali ya, ayo kita bubar!" seru Bu Irah, wanita paruh baya yang terkenal pedas bicaranya.
Hani bergegas masuk ke rumah, dengan nafas memburu dia menghampiri Kirani yang masih bergeming dari tempatnya.
"Sialan kamu!" Hani memukul Kirani membabi buta.
Plak!
Plak!
Bu Uli yang baru datang dari kamar mandi ikut menampar wajah menantunya. Sakit hati karena tak mendapatkan uang dan kini ditambah lagi Feri memutuskan hubungannya dengan Hani.
"Sudah Bu ... Mbak!" ucap Davin sambil menarik tangan Hani yang hendak memukul Kirani dengan seterika.
"Jangan larang aku Vin, aku mau perempuan sial ini mati, gara-gara dia Mas Feri ...,"
"Jangan Mbak, kalau dia mati aku jadi duda dong, dan nggak ada yang ngasih uang kita lagi!" Davin memotong ucapan Hani dan merebut seterika yang dipegang kakaknya lalu melemparkannya ke kolong meja.
Hani mendengus kesal, ditendangnya tubuh Kirani dengan kasar, setelah itu bergegas pergi ke kamarnya sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Vin, ada dapat sesuatu?" Bu Uli bertanya, sesaat setelah Hani pergi.
"Ada dong, ini!" ucap Davin sambil menunjukkan seutas kalung panjang.
Bu Uli membeliakkan matanya saat melihat kalung yang dipegang anak lelakinya itu. Begitu juga dengan Kirani, dia terkejut saat melihat kalung yang selama ini disembunyikan kini berada dalam genggaman suaminya.
Dalam kesakitan hati dan badannya, otak Kirani berputar keras mencari cara untuk merebut kalung itu, karena kalung itu satu-satunya harta peninggalan ibunya yang pergi waktu dia masih bayi.
Dengan antusias dan senyum sumringah Bu Uli merebut kalung tersebut.
"Jangan Bu, besok aku jual dulu, uangnya kita bagi-bagi, ha ha ha!"
"Halah, ibu cuma mau pegang sebentar!" Bu Uli memaksa Davin untuk melepaskannya.
"Dengan kalung ini ibu besok bisa bayar arisan, jadi nggak malu sama Bu Darsih yang sok kaya itu," ucap Bu Uli sambil mengamati kalung itu dengan takzub.
"Ternyata kamu berani menyembunyikan ini, hah!" ucap Davin sambil mendorong tubuh Kirani.
Kirani hanya diam dan menundukkan kepalanya. Bu Uli mencibir dan tersenyum senang saat melihat Kirani kesakitan.
Davin dan Bu Uli tertawa kegirangan, mereka membayangkan uang yang akan didapat dari hasil menjual kalung tersebut. Tanpa disadari, Bu Uli meletakkan kalung tersebut di meja, sementara dia menuang minuman ke dalam gelas.
Berbinar cerah mata Kirani, apa lagi Davin mengeluh sakit perut sesaat setelah menyerahkan kalung kepada ibunya. Dengan sisa tenaga yang ada, Kirani bangkit dan menyambar kalung tersebut.
"Heh, maling ... maling ...!"
"Davin ... Vin ..., kalungku, tolong Vin!" Bu Uli menjerit histeris memanggil Davin yang sedang membuang hajatnya di kamar mandi.
"Ada apa Bu? Kenapa teriak-teriak?" tanya Hani panik dan bingung saat melihat Bu Uli mondar-mandir di depan pintu seperti orang kebingungan.
"Daviiiiinnn!" Bu Uli menjerit kencang, mengabaikan Hani yang bertanya dari tadi.
"Apa sih Bu?" Davin tergopoh-gopoh menghampiri ibunya yang tampak panik.
"Kalungnya Vin ... kalungnya diambil istrimu!" sahut Bu Uli sambil menunjuk-nunjuk pintu depan.
"Ha? Ibu gimana sih? Susah payah aku dapat itu!" Davin membentak ibunya dengan keras.
"Kejar Vin!" teriak Bu Uli lagi.
"Vin, kalung apa sih?" tanya Hani yang dari tadi bingung melihat tingkah ibunya.
Davin tak menjawab pertanyaan Hani, bergegas dia berlari keluar mengejar Kirani. Tak perduli rintik hujan dan gelap, Davin mencari Kirani di sekitar perumahan.
Di dalam kontainer sampah besar dekat perumahan, tubuh Kirani meringkuk karena kedinginan, bau busuk dan gigitan nyamuk tak dihiraukannya, yang dia pikirkan hanya keselamatan, karena untuk berlari rasanya tak sanggup mengingat badannya lemas dan sakit akibat pukulan dan tamparan yang diterimanya tadi.
"Aaarrgghhh ... sialan ... ke mana perempuan sial itu lari?" Davin memaki-maki, tanpa sadar kakinya menendang kontainer sampah yang ada di dekatnya.
Kirani yang berada di dalamnya terkejut, jantungnya berdegup kencang, dalam hatinya berdoa sebisanya agar selamat dari kejaran Davin.
"Viiin, gimana, ketemu nggak?" Bu Uli tergopoh - gopoh menghampiri Davin.
"Nggak! Semua gara- gara ibu! Aarrggh!" jawab Davin kesal sambil memukul kontainer itu lagi.
"Nggak mungkin istrimu itu bisa lari jauh, badannya pasti nggak kuat, ibu yakin dia masih berada di sekitar sini!" ucap Bu Uli serius.
Davin termenung sejenak saat mendengar ucapan Bu Uli.
"Memang benar Bu, ayo kita cari! Mungkin dia lari ke arah komplek belakang sana!"
"Vin, mungkin nggak istrimu itu masuk dalam bak sampah ini?"
"Vin, mungkin nggak istrimu itu masuk dalam bak sampah ini?" tanya Bu Uli sambil menendang bak sampah besar yang terbuat dari besi itu dengan kaki kanannya.
Mendengar pertanyaan Bu Uli, jantung Kirani berdegup kencang, keringat dingin mengalir tanpa diminta. Dalam hatinya tak putus berdoa agar terbebas dari kejaran suami dan ibu mertuanya.
"Nggak mungkin lah Bu, bak ini tinggi, nggak mungkin istri sialan itu bisa naik, apalagi tadi kelihatan lembek gitu, mana mungkin ada tenaganya," jawab Davin sambil melongokkan kepalanya ke dalam kontainer besar tersebut, lalu dengan cepat ditariknya kembali, keadaannya gelap dan tak tahan dengan bau sampah yang menyengat.
"Mungkin dia sembunyi di belakang perumahan Bu!" ucap Davin lagi sambil mengibas-ibaskan telapak tangannya yang tak sengaja memegang sampah basah.
"Tunggu apa lagi, cepat ke sana! Cari sampai ketemu!" hardik Bu Uli keras, sambil mendorong tubuh Davin hingga hampir jatuh tersungkur.
"Duuuh, kenapa malah ibu yang marah sih? Coba kalau ibu nggak ceroboh, nggak mungkin ..."
"Sudah ... sudah, cepat cari lagi, ibu nggak mau besok malu karena nggak ada uang buat bayar arisan!" Bu Uli memangkas kalimat Davin dengan kasar, tak sedikitpun dia merasa bersalah.
Davin mendengus kesal, dengan langkah malas dia beranjak meninggalkan tempat itu dan Bu Uli mengikutinya, mulutnya tak berhenti mengumpat dan mengomel.
Kirani menghela nafas lega saat suara Davin dan Bu Uli tak terdengar lagi. Dengan hati-hati wanita berwajah teduh itu melihat keadaan di sekitarnya.
"Sudah aman, aku harus keluar dari sini, secepatnya, sebelum ada orang datang," gumam Kirani lirih.
Dengan segenap tenaga yang ada, Kirani keluar dari kontainer besar itu. Rasa sakit dan lapar ditahannya, bau sampah yang menempel di badan diabaikannya. Yang dia pikir hanyalah cepat pergi dan selamat dari kejaran keluarga suaminya.
Di depan sebuah rumah bercat kuning gading, dengan ragu Kirani mengetuk pintu rumah itu.
Tok tok tok!
"Kirani!" seru Mawar terkejut, bola matanya membulat saat melihat kondisi Kirani yang memprihatinkan.
Mawar adalah sahabat terbaik bagi Kirani. Dengan Mawarlah Kirani selalu berkeluh kesah tentang hidupnya, dan Mawar selalu menolong setiap Kirani mengeluh masalah keuangan.
Dengan wajah penuh lebam dan sedikit darah kering tersisa di ujung bibirnya, serta pakaian yang kotor dengan bau menyengat, membuat Mawar terkejut dan hampir tak percaya.
"Kamu kenapa Ran? Siapa yang membuatmu begini?" Mawar memberondong Kirani dengan banyak pertanyaan.
"Aku ... aku ..."
Brugh!
"Raniii!" Mawar menjerit histeris saat tubuh Kirani roboh dan dia tak sempat menopangnya.
"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Galih dengan suara parau, matanya tampak sembab karena mengantuk, Galih adalah suami Mawar yang memang tak suka diganggu kalau sedang tidur.
"To-tolong Bang!" ucap Mawar dengan panik.
"Siapa dia? Kenapa malam-malam mengganggu ketenangan orang?" tanya Galih ketus, lelaki berusia tiga puluh tahun itu membalikkan badannya tanpa memperdulikan Mawar kerepotan mengangkat tubuh Kirani.
"Alhamdulilah, akhirnya kamu sadar juga," ucap Mawar dengan perasaan lega. Dengan cepat diambilnya gelas berisi air yang sudah disiapkan dari tadi.
"War ...,"
"Sudah, jangan ngomong dulu, tenangkan pikiran dan pulihkan tenagamu dulu," kata Mawar sambil menyodorkan mie rebus telur.
Kirani tak segera menyambutnya, dia justru menatap Mawar dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu kenapa Ran? Aku tahu kamu pasti lapar kan?" ucap Mawar dengan penuh perhatian.
"Maafkan aku War, aku selalu merepotkanmu," ucap Kirani dengan lirih, tangis yang dari tadi ditahannya akhirnya meledak.
"Nggak, aku nggak merasa repot, cepat dimakan nanti keburu dingin!" ucap Mawar cepat dan memaksa Kirani untuk segera makan.
"Terima kasih War," ucap Kirani sambil meraih mangkok yang berada di meja kecil.
Kirani menyantap mie itu dengan lahap, rasa perih di bibirnya bekas tamparan mertuanya tadi tak setara dengan rasa perih hatinya.
"Ran... boleh aku tanya?" tanya Mawar dengan hati-hati.
"Nggak usah kamu tanya, aku pasti cerita War, tapi nggak sekarang," sahut Kirani cepat.
"Baiklah, kamu mungkin capek, kamu istirahatlah, tapi maaf hanya beralaskan karpet lusuh."
"Nggak apa-apa, ini sudah lebih dari cukup, sekali lagi terim...,"
"Siapa yang mengizinkannya untuk tinggal di sini? Ini rumahku, bukan yayasan untuk menampung orang yang nggak jelas asal usulnya!"
Kirani tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena Galih tiba-tiba datang, dengan wajah yang sangar.
"Abang! Kirani ini sahabatku!" sahut Mawar dengan mata melotot ke arah suaminya.
Kirani yang baru saja mau merebahkan tubuhnya, bergegas bangun dan berdiri, dia tak mau sahabatnya ribut dengan suaminya karena dirinya.
"Mau dia sahabatmu, atau siapa kek, yang jelas aku nggak suka ada orang asing numpang di rumahku!" sahut Galih dengan ketus.
"Ini rumahku! Rumah peninggalan orang tuaku, jadi aku juga berhak untuk mengizinkan sahabatku tinggal di sini!" sahut Mawar dengan suara keras.
"Kamu lupa? Berapa banyak hutang bapakmu yang belum dibayar?" Galih berkata dengan senyum sinis tersungging di bibir hitamnya.
"Kasihan dia Bang! Tolonglah untuk malam ini saja dia tidur di sini!" pinta Mawar dengan lirih, ditahannya tangan Kirani yang hendak keluar dari kamarnya, dia merasa kalah kalau suaminya menyinggung soal hutang-hutang bapaknya.
"Baik, dia boleh tidur di sini malam ini, atau selamanya, tapi ada syaratnya!" ucap Galih tegas, ditatapnya wajah Kirani dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Syarat?" tanya Mawar sambil menatap wajah suaminya, kemudian beralih menatap Kirani yang kebetulan juga sedang menatapnya dengan tatapan sayu.
"Tanya temanmu itu, sanggup nggak?" ucap Galih kasar.
"Sya-syaratnya ap-apa Bang?" Kirani memberanikan diri bertanya kepada Galih.
"Kamu harus mau melayaniku!" jawab Galih dengan enteng, tanpa memikirkan perasaan Mawar, istrinya yang sontak melotot ke arahnya.
Plak!
"Gila kamu Bang!" seru Mawar keras, setelah menampar pipi kanan suaminya dengan keras.
"Aku nggak setuju!" seru Mawar lagi, dengan emosi yang meluap, lalu pandangannya beralih ke arah Kirani yang sedang berdiri dengan kepala tertunduk, jari-jemarinya sibuk memilin ujung pakaian yang dipakainya.
"Aku nggak butuh persetujuanmu!" bentak Galih keras.
"Ran, kamu mau?" tanya Mawar kepada Kirani dengan suara keras.
Kirani tak menjawab pertanyaan Mawar, hujan lebat dan gelapnya malam, tak ada tempat tujuan dan kondisi badan yang sakit membuatnya bingung.
"Diam itu tandanya setuju, iya kan cantik?" Galih bertanya sambil tersenyum sinis, kemudian beranjak pergi ke kamar mandi.
Sejak pertama melihat wajah Kirani tadi, Galih terpesona, walau pun penuh luka dan lebam, baginya tak mengurangi kecantikan wajah sahabat istrinya itu.
"Ran ... jawab! Kamu mau menerima tawaran suamiku?" tanya Mawar sambil mengguncang tubuh Kirani, hatinya mulai kesal, perasaan cemburunya mulai hadir melihat sahabatnya yang hanya diam membisu.
"A ... aku ... aku .... "