Bab 2

BRAK

“SIALAN!” Fajar membanting semua yang dilihatnya sampai di rumah. “Siapa wanita itu?” menatap tajam pada Rifan.

Rifan mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Fajar “Wanita yang mana?” mencoba mengingat wanita yang dikatakan Fajar, “ah… cewek yang lo buat taruhan? Buat apaan? Udah nggak penting juga.”

Fajar menatap tajam, “gara-gara dia gue kalah.”

Rifan menatap bingung. “Dia salah apa? Deketin lo juga kagak terus gimana ceritanya dia bisa buat lo kalah taruhan? Ah...lo suka sama dia? Aduh… jangan macam-macam dia kesayangan semua karyawan lo.”

Rifan menggerakkan tangannya ke kiri dan kanan, Fajar memicingkan matanya melihat reaksi Rifan yang seakan melindungi cewek sialan satu itu.

“Lo nggak mau kasih tahu? Gue akan cari sendiri dia.” Fajar menatap tajam pada Rifan yang terdiam. “Lo bantuin gue atau gue yang akan cari sendiri dia? Lo tahu kan akibatnya kalau gue yang turun tangan?”

“Gue pikirkan nanti.” Rifan memilih menyerah dengan semuanya, “tapi gue minta lo jangan berbuat macam-macam sama dia.”

Fajar tersenyum simpul mendengar perkataan Rifan. “Lo pulang, gue mau tidur.”

Berjalan meninggalkan Rifan seorang diri, Fajar bahkan tidak peduli dengan keadaan ruangannya yang berantakan. Masuk kedalam kamar, menatap penampilannya depan cermin dengan mengangkat bibirnya. Fajar membayangkan reaksi gadis itu besok saat berada dalam ruangannya, otaknya sudah merencanakan apa saja yang harus dilakukan nanti ketika berhadapan dengan gadis itu. Memilih untuk beristirahat untuk kehidupannya besok, bertemu dengan gadis sialan itu.

Matahari sudah menampakkan sinarnya, Fajar sudah berada di meja makan menikmati sarapannya. Menatap sekitar dimana tampak baik-baik saja, tersenyum kecil terasa hidupnya sangat sempurna. Memastikan penampilannya tidak berantakan, memberikan lip balm di bibirnya agar terlihat segar.

Sapaan dari beberapa karyawan membuat Fajar tersenyum dengan melambaikan tangannya membuat beberapa karyawan bingung, perubahan sikap Fajar bukan hanya membuat karyawan yang ditemuinya bingung, tapi juga membalas sapaan dengan hormat.

“Pagi, Kunto.” Fajar menyapa dengan memberikan senyum lebarnya.

“Pagi, Pak.” Kunto menjawab sedikit ragu, “didalam ada Bu Mariska.”

Fajar menatap pintu dengan tatapan tidak suka, “kamu usir dia, aku malas ketemu.”

Kunto membelalakkan mata mendengar perintah Fajar. “Mengusir?” Fajar mengangguk pasti, “tapi...”

“Ah...ya aku lupa kalau kamu tidak berani mengusirnya.” Fajar mengibaskan tangannya ke arah Kunto.

Melangkah menuju ruangan, membuka dengan keras membuat wanita yang berstatus tunangannya terkejut. Mariska berdiri mendekati Fajar, tangan Fajar langsung menghadap lurus menghentikan gerakan Mariska yang ingin memeluk atau mencium dirinya. Bergidik ngeri membayangkan jika itu memang terjadi, melangkah menjauh dengan membiarkan pintu terbuka.

“Aku masih banyak kerjaan, jadi sebaiknya kamu pergi.” Fajar menatap datar pada Mariska.

“Biasanya kamu memberikan ciuman panas sebelum aku pergi, kenapa sekarang kamu menjauh?” menatap Fajar dengan tatapan sedih.

Fajar seketika mual melihat reaksi yang berstatus tunangannya ini. “Aku tidak punya waktu untuk menghadapi kamu, jadi lebih baik kamu pergi.”

Fajar memilih duduk di kursi kebesarannya, menatap berkas di hadapannya dengan malas. Lebih malas lagi melihat wanita tunangannya yang ada di hadapannya kali ini, Fajar memilih membuka berkas di hadapan dan membiarkan Mariska tetap berdiri dihadapannya. Mencoba tidak peduli, lebih tepatnya lagi mencoba berinteraksi dengan berkas yang ada dihadapan.

“Permisi, Pak.” Kunto membuka pintunya membuat Fajar bernafas lega. “Pak Rifan ingin bertemu.”

Fajar langsung bersinar mendengar Rifan menginginkan bertemu dengannya, memilih menutup berkas dan meminta Kunto membawa Rifan masuk.

“Aku kira sudah tidak ada yang perlu dibahas, kamu sendiri tahu kalau aku sibuk jadi...silahkan keluar.”

Mariska menatap tidak percaya, mengambil barangnya dan langsung keluar. Melihat itu membuat Fajar tersenyum kecil, betapa bodohnya Fajar asli menyukai wanita tidak punya otak macam itu. Pintu terbuka membuat Fajar tersenyum lebar, bertemu dengan Rifan selalu membuat jantungnya berdetak kencang. Mengerutkan keningnya saat melihat Rifan masuk bersama dengan wanita, cantik dan pastinya berbeda jauh dengan Mariska dan satu lagi aura yang dimiliki wanita itu membuatnya menahan nafas.

“Saya membawakan Ibu Indira atas permintaan anda semalam.” Fajar menatap bingung pada Rifan. “Semalam anda meminta untuk membawakan Ibu Indira.” Rifan melanjutkan kata-katanya saat tidak mendapatkan tanggapan dari Fajar.

“Ah...aku ingat. Maafkan aku suka lupa akan beberapa hal.” Fajar menatap penuh sesal yang dibuat-buat “Bajingan itu telah melakukan apa semalam?” berkata lirih untuk dirinya sebelum akhirnya mengalihkan pandangan pada Indira berkali-kali. “Apa sebaiknya kita keluar? Aku bosan berada disini.”

Fajar mengambil tasnya, berjalan mendekati Indira. Menatap wajahnya dan memberikan kode untuk mengikutinya. Fajar mengalihkan pandangan pada Rifan dan Mariska bergantian, mereka berdua tampak bingung dengan perubahan sikap Fajar. Mariska berhenti melangkah saat Fajar berjalan kearah Indira dan Rifan, seakan menunggu apa yang dilakukannya.

“Ada yang saya ingin bicarakan pada Ibu Indira, berdua.” Fajar mencoba untuk berkata datar dengan memberikan tatapan tajam. “Anda masih mau disini atau bersiap?” mengalihkan pandangan pada Indira yang terdiam membisu. “Apa perlu diulang kembali?” Fajar menatap kesal pada Indria yang hanya diam.

“Baik, Pak.” Indira berkata terkejut.

Fajar tersenyum kecil melihat bagaimana reaksi Indira saat ini, keluar dari ruangannya dengan tergesa. Mengalihkan pandangan ke arah Rifan dan Mariska yang masih terkejut dan juga menilai kejadian tadi, tapi tidak dipedulikan sama sekali. Langkah Fajar menuju Kunto yang sibuk dengan pekerjaannya, Kunto menatap bingung dengan keberadaan Fajar dihadapannya.

“Bilang pada security atau resepsionis di bawah jika Mariska datang harus menunggu keputusan aku.” Fajar menatap datar pada Kunto yang hanya bisa mengangguk, “aku keluar dengan Indira, tolong bersihkan ruangan dari bakteri, satu lagi makanan yang ada disana suruh bawa OB.”

“Fajar.” Mariska menatap tidak percaya dengan apa yang dibicarakan.

“Aku pinjam bawahanmu, bukankah kita ada perjanjian dengan salah satu perusahaan untuk kerjasama? Aku mau melihat bagaimana dia bekerja.” Fajar berkata dengan menatap Rifan datar, “bawa semua berkas dan aku tunggu di lobby.”

Berjalan meninggalkan mereka, sangat tahu jika mereka bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada dirinya. Fajar melangkah ke arah lobby, menunggu Indira dan memikirkan apa yang akan dirinya lakukan pada wanita satu itu. Fajar tidak menyadari apa yang diinginkan Fajar satunya, mendekati wanita yang sama sekali tidak sesuai dengan kriterianya. Bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi semalam pada Fajar lainnya itu, memikirkan apa yang dilakukan semalam membuatnya pusing.

“Saya sudah siap, Pak.” Fajar menatap sumber suara, menelan saliva kasar.

Berdehem singkat menghilangkan rasa gugup, “kita berangkat.”

Berdiri melangkah ke tempat dimana mobilnya berada, berangkat berdua dengan Indira membuat Fajar tidak tahu melakukan apa. Semua mata memandang ke arah mereka dengan tatapan bertanya-tanya, baik Fajar dan Indira tidak peduli dengan itu semua.

“Aw...sakit.” Fajar menghentikan langkahnya membuat Indira melakukan hal yang sama. “Sakit sekali kepalaku.”

“Bapak kenapa?” Indira menatap khawatir melihat Fajar memegang kepalanya, “kepalanya sakit? Tunggu saya mencari pertolongan.”

Fajar memijat kepalanya, tidak mendengarkan apa yang Indira katakan sama sekali. Rasa sakit di kepala yang sering terjadi akhir-akhir ini, membuat sesuatu dalam diri Fajar tidak bisa dikendalikan lagi. Mereka keluar tanpa bisa dicegah, hal ini membuat Fajar tidak bisa lagi mengontrol apa yang terjadi pada dirinya.

“Minta tolong bawa Pak Fajar duduk di sofa.” Indira berkata pelan.

“Apa yang kalian lakukan? Kembali ke pekerjaan masing-masing. Tidak ada yang boleh menyentuh tubuhku tanpa ijin.”

Bab 3

Fajar sangat tahu jika Indira menatap ke arahnya beberapa kali, memastikan bahwa semua baik-baik saja. Beberapa lirikan yang Indira lakukan membuat dirinya tidak nyaman sama sekali, perubahan dalam dirinya yang tiba-tiba semakin membuatnya tidak bisa mengendalikan diri.

“Apa anda baik-baik saja?” Indira membuka suara membuat keheningan mereka terhenti.

“Baik.” Fajar menjawab singkat, “kamu pelajari dengan baik mengenai kerjasama itu, saya yakin Rifan sudah memberikan penjelasan.”

“Saya sudah membaca, bahkan sampai ke titik koma. Kerjasama ini saya yang buat bukan Pak Rifan.” Indira menjawab kesal perkataan Fajar.

Fajar terdiam tidak tahu harus bersikap atau menjawab apa. Suasana kembali tenang, sibuk dengan pikiran masing-masing. Fajar mencoba mengingat mengenai keberadaan Indira disampingnya, biasanya yang ikut antara Kunto atau Rifan. Fajar yang mana membawa Indira berada disampingnya, menggelengkan kepala pelan tanda bahwa dirinya tidak bisa mengingat apapun.

“Bapak, tidak papa?” tanya Indira memegang lengan Fajar.

“Saya tidak suka ada yang memegang bagian tubuh saya, jadi jauhkan tanganmu dari lengan saya.” Fajar berkata datar tanpa menatap Indira.

Indira melepaskan sentuhan tangannya di lengan Fajar. “Maaf.”

Fajar membeku mendengar seseorang mengucapkan maaf, seluruh hidupnya tidak pernah mendengar kata itu dari orang lain. Fajar sendiri tidak pernah melakukannya, kata itu adalah kata-kata untuk pengecut dan bodoh. Wanita disampingnya hanya memegang bagian tubuhnya, dan dirinya tidak menyukainya langsung meminta maaf.

“Bodoh,” gumam Fajar dengan suara kecil yang hanya bisa didengar dirinya.

Melirik kesamping dimana Indira memilih menatap pemandangan yang ada disampingnya, wajah yang sangat berbeda dengan tunangannya membuat sesuatu dihati Fajar berdetak kencang. Mengalihkan pandangan ke samping, tindakan yang sangat bodoh menatap karyawannya.

Mobil tidak lama kemudian berhenti, Indira dan Fajar berjalan berdampingan. Klien yang satu ini memang sedikit sulit, beberapa kali Fajar bertemu tidak menemukan jalan terang. Fajar tidak ingat kapan tepatnya klien ini menyetujui kerjasama, langkah Fajar terhenti saat melihat salah satu pria mendatangi mereka dan berbicara dengan Indira, mereka terlihat akrab atau lebih tepatnya serius dalam berbicara entah apa.

Tidak ingin banyak bicara, mengikuti langkah pria itu. Fajar hanya mengamati apa yang dilakukan Indira, menggelengkan kepalanya pelan melihat wanita yang disampingnya. Sisi Fajar yang lain bisa menemukannya dengan baik, dibandingkan Fajar yang asli.

“Berkat penjelasan dari Ibu Indira, kami menerima kerjasama dengan perusahaan anda,” ucap pria yang memegang jabatan tertinggi di perusahaan ini, Fajar lupa siapa namanya.

“Memang sudah seharusnya dia melakukan yang terbaik untuk perusahaan.” Fajar berkata datar.

Suasana menjadi tenang, Fajar tidak peduli dengan semuanya. Memilih duduk kembali, menatap berkas yang harus mereka tanda tangani. Fajar membukanya, membaca sekilas isi dari perjanjian itu. Hembusan nafas panjang saat membaca ini semua, mengalihkan pandangan pada Indira dengan tajam.

“Mohon maaf, ada beberapa isi yang harus diubah.” Fajar mengatakan dengan suara datar, membuat semua mata memandang ke arahnya.

Indira berjalan mendekati Fajar dengan tatapan bingung, “bagian mana yang harus diubah, Pak?”

Fajar menunjukkan kata yang harus diubah. “Kamu salah menuliskan nama.” Indira membelalakkan matanya mendengar perkataan Fajar, “apa kamu tidak tahu nama atasanmu?”

Indira mencoba membaca, Fajar Herdianto itu namanya dan benar, “tertulisnya Fajar Herdianto, itu kan namanya?” menatap Fajar seakan meyakinkan.

“Dibaca sekali lagi.” Fajar mengetukkan tangan pada huruf yang dimaksud, tidak lama kemudian Indira membelalakkan matanya, “sudah tahu?”

“Maaf, Pak.” Indira menundukkan kepalanya. “Saya akan segera menggantinya.”

Indira mengambil berkas, seorang staf dari perusahaan klien mengarahkannya ke suatu ruangan. Fajar mengangkat sudut bibirnya melihat bagaimana reaksi Indira, mengalihkan pandangan pada pimpinan perusahaan ini, sekali lagi Fajar tidak mengingat namanya.

“Reputasi mengenai anda memang benar adanya.” Pria itu berkata dengan nada meremehkan, “kesalahan kecil sangat terlihat jelas, apalagi kesalahan besar.”

“Bukankah sebagai pengusaha kita harus jeli, pada hal terkecil sekalipun.” Fajar menatap datar.

Menunggu kedatangan Indira membuat dirinya kesal, menatap jam di tangannya dengan perasaan tidak tenang. Pria dihadapannya sangat payah untuk diajak berdiskusi, menatap ruangan yang ditempatinya membuatnya tersenyum kecil. Kantor kliennya memang tidak sebesar kantornya, hanya saja kantor ini memberikan kerjasama yang luar biasa.

“Apa sudah selesai?” tanya pria itu membuat Fajar mengalihkan pandangan ke arah Indira.

“Maafkan saya.” Indira menunduk untuk meminta maaf atas kesalahan yang dibuatnya.

“Bukan hal yang besar, kita bisa melanjutkannya. Pak Fajar silahkan dibaca terlebih dahulu, siapa tahu masih ada kesalahan sehingga bisa diperbaiki kembali.” Indira menundukkan kepala mendengar sindiran dari pria pemilik perusahaan.

Perjanjian kerjasama berlangsung cepat, setelah kesalahan kecil yang dibuat Indira. Fajar merutuki pegawainya yang tidak teliti, nanti saat sudah sampai di kantor akan memarahi Rifan. Fajar menggelengkan kepalanya, semua ini karena semalam melakukan balapan liar dan wanita ini menjadi bahan taruhan. Fajar sangat tahu kepribadiannya yang lain Frans akan membuat onar, dan juga Silvi yang membawa serta dalam perjanjian besar ini.

“Katakan pada Rifan, jangan mengirim kamu untuk ikut serta dalam perjanjian dengan klien. Saya tidak suka keberadaan kamu, semuanya jadi berantakan karena sikap tidak profesionalmu.” Fajar berkata dengan nada dingin, tanpa menatap Indira yang hanya menelan saliva kasar.

“Baik,” jawab Indira langsung.

Perjalanan mereka dari tempat klien ke kantor berjalan cepat, Indira turun terlebih dahulu. Fajar menatap punggungnya dengan tatapan penuh tanda tanya, salah satu sudut hatinya tidak suka dengan apa yang dilakukannya tadi.

“Aish...kenapa sekarang jadi suka pusing,” ucap Fajar memegang kepalanya dengan keras “Langsung pulang.” Fajar memerintahkan supirnya untuk pulang.

Kepala Fajar semakin sakit, rasanya ingin sekali pecah. Memegang kepalanya dengan sesekali menarik rambutnya, berharap sakit kepalanya hilang. Memejamkan matanya saat merasakan sakitnya semakin keras, Fajar tidak tahan dengan apa yang terjadi pada kepalanya.

“Apa tidak sebaiknya ke rumah sakit?” tanya supirnya, Amir.

“PULANG! AKU BILANG PULANG YA PULANG! JANGAN PERNAH MEMBAWA AKU KE TEMPAT SIALAN ITU!” Fajar teriak membuat Amir diam.

Rasa sakitnya semakin menjadi, Fajar benar-benar tidak bisa menahannya. Sampai ke rumah langsung meminum obatnya, itu yang saat ini ingin dilakukannya. Mobil berhenti tidak lama kemudian, langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang sangat dibencinya. Budi, pamannya yang selama ini merawatnya. Paman yang memberikan kenangan buruk untuknya, kepergian kedua orangtuanya membuat pria itu yang merawatnya dan memberikan kenangan buruk, membentuk kepribadiannya yang lain.

“Sudah pulang.” Budi berkata santai dengan menatap Fajar tajam. “Berhasilkan perjanjiannya? Jangan lupa persenan buatku.”

“PERGI! JANGAN PERNAH KAMU DATANG KESINI!” Fajar teriak dengan menunjuk Budi.

“Apa ini bentuk terima kasihmu pada paman yang merawat dari kecil? Anak tidak tahu diuntung...Cuih...” Budi meludah dekat Fajar dengan menarik rambutnya, “kamu harus membayar semua yang sudah aku keluarkan untukmu selama ini.”

Fajar tersenyum kecut. “Apa yang harus dibayar? Penyiksaanmu? Kalau memang itu maka akan aku lakukan dengan senang hati.”

PLAK

Tamparan keras membuat Fajar terdorong dan mengenai tembok, menatap Budi yang saat ini menatap dirinya tajam. Berusaha untuk tidak takut dengan apa yang dilakukan Budi, seperti apa yang dilakukannya saat Fajar kecil.

“Anak nggak tahu diuntung! Pantas saja orang tuamu meninggal karena kamu memang membawa kesialan,” ucap Budi dengan tatapan tajam. “Kirim uangnya atau aku akan melakukan hal lebih dari ini.”

Menatap punggung Budi dengan tatapan benci, tapi bukan Budi yang dibencinya melainkan dirinya sendiri.

“Aku bilang apa, seharusnya dari awal aku hajar sampai mati dia.” Frans

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED