"Dicukupin, Bun." Mario memberikan bukti transfer uang gajinya kepada Dona - Istrinya - yang selalu mengangguk dan tersenyum mendapat uang masuk setiap bulannya.
"Ok, Yah," ia mengambil ponsel miliknya dan mengecek melalui m-banking.
"Kacau, Bun. Nggak ada naik gaji tahun ini!"
"Nggak pa-pa, sabar, yang penting uang sekolah anak-anak bisa kebayar, 'kan?" Dona beranjak menyiapkan makan malam suaminya.
Ketiga anaknya sibuk di kamar masing-masing, yang tertua bernama Sakura, yang kedua Dimas dan yang ketiga Akasia.
Anak pertama dan terakhir punya nama pohon. Terdengar aneh, tapi punya arti bagus. Dona yang ngotot memberi nama itu. Suaminya ambil andil saat kelahiran Dimas. Akasia paling kecil, sekolah dasar kelas dua beranjak kelas tiga, yang tertua enam belas mau tujuh belas tahun, yang kedua lima belas tahun. Semua lahir secara normal dan bukan di rumah sakit. Tapi di bidan. Bidan turun temurun keluarga Dona alias ibundanya sendiri. Nenek dari ketiga putra putrinya. Selain Gratis, Dona juga mendapat fasilitas mewah di klinik milik ibundanya itu. Jelas, dong.
"Masak apa kamu, Bun?" tanya Mario saat menuju ke meja makan.
"Ayam penyet, Yah. Anak-anak udah makan kok, aku juga udah."
"Bener kamu udah?" tatapan Mario penuh telisik. Dona mengangguk sambil tersenyum.
Flashback dua jam sebelum.
"Punya Akas itu ayam pahanya, Abang ...!" rengek Akasia kepada Dimas yang tak sengaja mengambil ayam bagian paha bawah. Dimas memindahkan ayam itu ke atas piring Akas. Ia mengganti dengan mengambil ayam bagian paha atas.
"Kalau Abang makan ini, boleh?" tunjuk Dimas ke ayam yang sudah ia pegang. Akasia mengangguk. Dimas melirik ke piring kakak perempuannya.
"Diet lo. Makan nasi segitu, sama sayur doang. Udah kurus juga!" tegur Dimas sewot.
"Berisik!" jawab Sakura cuek.
Dona membawa satu mangkuk sop sayur dan ia letakan di tengah meja makan.
"Sayurnya di makan, yes ...." ucap Dona. Sakura mengambil sendok dan memasukan tiga sendok makan sop sayur itu ke piringnya. Berganti Dimas dan terakhir Akasia yang cuma mau makan wortel dan kuah saja.
"Bunda nggak makan?" tanya Sakura.
"Udah tadi. Makan ya kalian. Terus kerjain PRnya, ada 'kan?" Dona menatap satu persatu anak-anaknya. Dua anaknya mengangguk, kecuali si bungsu yang diam.
"Akas," tanya Dona.
"Udah selesai, Bun. Tadi dikerjain pas Bunda lagi ke rumah depan," jawab Akasia. Dona terkekeh dan mengusap rambut putra kecilnya itu.
Dona tersenyum melihat ketiga anaknya makan dengan lahap. Ia melirik ke satu potong ayam bagian dada yang besar. Hanya itu yang tersisa. Ia meneguk ludah dan menyingkirkan piring berisi ayam.
"Ini buat Ayah ya, kalian udah, 'kan?" Dona beranjak dan memasukan piring berisi ayam ke dalam lemari penyimpan makanan. Anak-anaknya mengangguk. Tak lama Akasia menyandarkan punggungnya. Ia melirik ke Dona.
"Kenyang?" tanya Dona sambil menyodorkan gelas berisi air putih untuk Akasia.
"Habisin Akas!" tegur Sakura. Akasia menggeleng.
"Udah ... Bunda aja yang habisin nanti." Dona tersenyum. Akasia beranjak untuk mencuci tangan. Sementara Dona menunggu kedua anaknya yang lain selesai makan.
"Sayur sopnya udah, nih?" lirik Dona. Dimas dan Sakura mengangguk.
"Oke. Buat bunda juga, ya." Dona menggeser mangkuk sop sayur yang hanya tersisa beberapa potongan wortel.
"Kita ke kamar ya, Bun .... " Dimas memeluk leher Dona lalu berganti Sakura yang juga memeluk bundanya itu.
"Oke. PR kerjain ya!" Dona kembali mengingatkan.
"Ya ...." jawab Sakura santai. Dona menatap piring bekas makan Sakura dan Dimas. Ia terkekeh. Dimas mirip dirinya, makan tak bersisa dan rapi. Hanya tulang ayam yang tak mungkin di telan. Sedangkan Sakura mirip suaminya, suka menyisakan makanan.
"Hajarrr ...." lirih Dona sambil memakan sisa makanan anak-anaknya.
Flash back end.
Dona duduk menatap suaminya yang makan dengan lahap juga. Setelah selesai, ia mencuci piring dan mengelap meja makan. Ia berjalan ke kulkas dan menyiapkan bahan makanan untuk esok sarapan pagi.
***
Dona membaca grup sekolah anak terakhir. Kehebohan terjadi karena membahas study tour. Hasil keputusan sekolah, mereka akan berkunjung ke taman binatang terbesar di puncak. Dan masing-masing anak membayar tujuh ratus enam puluh lima ribu. Belum dengan pendamping.
Keributan di grup kembali terjadi karena membahas tentang seragam anak dan pendamping juga. Jika Dona mentotal semuanya berjumlah satu juta dua ratus sekian ... sekian ... sekian.
Ia melihat tanggal terakhir pembayaran jika Akasia harus ikut. Dua bulan lagi. Dona lalu menghitung pengeluaran keluarganya dalam sebulan. Ia mendengkus. Tak ada sisa untuk ditabung khusus uang kegiatan Akasia. Ia melirik suaminya yang sudah tidur pulas. Jam menunjukan pukul sebelas malam.
Kamarnya di ketuk. Dona berjalan dan membuka pintu. Tampak Sakura berdiri dengan wajah cemberut.
"Lho, Kakak kok belum tidur?" Dona menatap Sakura lekat.
"Bunda, aku boleh minta uang jajan lebih nggak buat besok?"
"Berapa?"
"Seratus lima puluh ribu?"
"Eeehhh ...," Dona mengusap tengkuknya. "Buat apa cantik?" lanjut Dona.
"Mau nonton sama temen-temen. Besok kan jumat, mau nonton yang jam tiga sore," jawab Sakura.
"Emang berapa harga tiketnya, bukannya cuma empat puluh ribu?" Dona mencecar dengan cara halus.
"Iya. Tapi Kakak mau ada pegangan lebih Bun, takut temen ngajak jalan lagi atau jajan-jajan. Bisa nggak?" Sakura merengek. Pipinya gembung menunggu jawaban bundanya.
"Seratus ribu cukup?" Dona bernegosiasi.
"Yah Bundaaa .... " Sakura menunduk.
"Hmh ... yaudah, besok pagi ya, sekarang tidur."
"Iya. Makasih Bunda," Sakura berjalan kembali ke kamarnya. Dona menutup pintu. Ia berjalan ke lemari pakaiannya dan membuka dompet bermotif bunga.
Dompet itu khusus ia isi dengan uang untuk kesehatan. Karena mereka tak pakai asuransi jika sakit. Jadi Dona selalu menyisihkan uang setiap bulannya.
***
Pagi menjelang. Dona sudah sibuk di dapur. Ia membuat nasi kuning, kering tempe dan telur dadar yang ia iris tipis.
Suami dan ketiga anaknya menatap Dona.
"Why oh why, sayangku semua?" Dona tersenyum.
"Nasi kuning lagi, Bun? Udah empat hari berturut-turut, lho," tegur Mario.
"Makan aja Ayah. Bersyukur masih bisa sarapan," celetuk Dimas yang beranjak mengambil piring untuk ia dan Akasia. Dimas juga mengambilkan nasi kuning untuk Akas.
"Makan yang cepet, Kas, Abang ada piket pagi." Dimas mengambilkan lauk juga. Dimas dan akan berangkat bersama, dimas selalu mengantar hingga masuk ke kelas. Mereka berjalan kaki karena sekolah Akasia masih di dalam komplek. Setelahnya, baru Dimas berangkat bersama Fadil, teman sekelas sekaligus sahabat sejak kelas dua SMP.
"Bunda nggak sarapan?" tanya Sakura.
"Udah tadi. Nih, lagi ngeteh santai," sahut Dona. Padahal, ia belum sarapan. Seperti biasa, menunggu semua warganya makan dan berangkat beraktifitas, baru ia yang makan.
Dona memberikan uang permintaan Sakura. Putrinya itu tersenyum.
"Kak, Bunda dapat surat dari sekolah, besok rapatnya. Bunda boleh datang?" Sakura diam. Lalu menggeleng.
"Ayah aja ya, Bun. Rapat kenaikan kelas doang kok, Sakura masuk IPA, kemarin pengumumannya. Bunda nggak usah hadir."
"Kenapa? Bunda pingin lho, Kak lihat sekolah Kakak yang selesai renovasi, terakhir bunda ke sekolah kamu pas kamu kelas tiga SMP."
Sakura lagi-lagi diam.
"Ayah aja ya, Bunda, Bunda di rumah aja. Kakak berangkat ya, bye, Bunda!" Sakura mencium punggung tangan bunda dan menuju ke mobil temannya yang sudah menunggu di depan pagar rumah mereka.
Dimas dan Akasia pamit kemudian, terakhir, suaminya sambil melambaikan tangan dari dalam mobil.
Dona berjalan ke dalam rumah dan menatap hidangan yang berformasi seperti biasa. Ia menghabiskan sisa sarapan Sakura dan Mario. Sedangkan Akasia tumben menghabiskan sarapannya.
'Sakura kenapa ya, masa Bundanya nggak boleh ke sekolah.'
Dona berpikir sendiri. Ia akan coba mencari tau jawabannya pelan-pelan.
Bersambung,
Sakura berdiri bersandar di dinding luar kelasnya bersama ke tiga teman perempuan. Mereka heboh dan asik membahas drama korea yang sedang happening di TV. Tak hanya itu, mereka juga membahas boyband yang sedang naik daun. Apa itu namanya, ada X-X nya, author pun bingung Bunds.
"Gue pingin ke Korea, liburan kenaikan kelas mau ke sana, lo pada bisa ikut nggak?" tanya Meyra, anak paling kaya di antara ke tiga lainnya. Febi, dan Naura menggeleng, Sakura, ia memilih tersenyum.
"Ra, kenapa lo bisa masuk IPA sendirian. Sedangkan kita bertiga IPS, gue kan sedih ...." Meyra memeluk Sakura dari samping yang hanya terkekeh.
"Yaelah, kaya gue pindah ke angkasa aja. Gue mau ngejar nilai dan dapet beasiswa." Sakura kembali tersenyum. Meyra melepaskan pelukannya. Ia mengangguk.
"Sore nanti kita jadi nonton, kan?" Kini Febi yang bersuara. Ketiga sahabatnya mengangguk.
Sakura terkejut saat seseorang datang menghampirinya dengan napas ngos-ngosan. Ia melirik galak, begitu pun Meyra, Febi dan Naura.
"Yang namanya Sakura mana si?!" Cowok itu menatap keempat wanita itu.
"Gue. Kenapa?" jawab Sakura Judes.
"Nih. Gue disuruh anter ini dari Algen. Udah ya gue balik," entah siapa nama cowok itu, Sakura menerima kotak makan transparan dan ada note diatasnya.
'Buat kamu. Nanti sore nonton, yuk, balikin kotak ini kalau setuju, kalo nggak setuju buang.'
Sakura menatap ke ketiga sahabatnya. Mereka semua tampak heboh sampai jingkrak-jingkrak. Sakura membukanya, berisi roti keju dan teh kotak.
"Gimana?" Sakura menatap bingung ke ketiga remaja yang heboh kaya cacing kepanasan di hadapannya.
"Mau, Ra, udah mau. Lo tau Algen, kan? Most wanted sekolah." Naura loncat-loncat di tempat dengan heboh.
"Iya, Ra. Udah, mau, balikin nanti kotak makannya. Lumayan kita jadi ada personil tambahan buat nonton." Meyra cengar cengir.
Sakura menunduk menatap kotak makan yang ada di tangannya.
***
Di sekolah Dimas.
"Woy! Mas. Dipanggil ketua osis, tuh, gue denger elo mau di calonin jadi ketua osis yang baru." Fadil duduk di atas meja tempat Dimas.
"Ogah. Lo aja sana." Dimas beranjak. Fadil juga menolak. Ia tak akan sanggup menjadi ketua osis. Ribet. Tak bebas.
Dimas berjalan di lorong sekolah menuju ke ruangan dekat ruang guru.
"Dimas!" panggil seorang perempuan. Dimas menoleh. Tanpa ekspresi.
"Mau ke mana? Ikut dong," cewek itu memaksa. Dimas kembali jalan tanpa menggubris.
Kalila, nama cewek itu. Teman se-kelas Dimas yang terang-terangan menunjukan rasa sukanya ke Dimas sejak awal mereka masuk ke SMA itu. Sikap Dimas yang cuek cenderung dingin, justru membuat Kalila gemas.
"Dimas, ditanyain diem aja," kejar Kalila. Dimas tetap diam hingga ia masuk ke ruangan osis.
"Jangan ikut," celetuk Dimas ketus sambil menoleh ke Kalila yang senyum-senyum manggut-manggut.
Dimas duduk di depan sang ketua osis yang duduk dibelakang mejanya. Ia menyodorkan kertas pendaftaran calon ketua osis yang baru. Dimas menggeleng cepat.
"Sori, gue nggak bisa ikutan jadi pengurus osis. Yang lain aja deh," tolak Dimas sopan.
"Kenapa. Lo berpotensi, Dim. Sayang kalau lo cuma sekolah, pulang, sekolah lagi, pulang lagi."
Dimas terkekeh mendengar ucapan ketua osis itu.
"Sori, gue nggak bisa. Makasih tawarannya." Dimas beranjak dan berjalan keluar ruangan itu. Kalila masih berdiri di depan pintu ruangan osis.
"Kenapa Dim, lo nolak jadi ketua osis ya? Bagus, lah. Nanti lo sibuk, gue dicuekin. Sekarang aja lo nggak sibuk udah cuekin gue."
Dimas berjalan terus. Masih tak menggubris omongan Kalila. Kalila menarik tangan Dimas dan memberikan susu kotak yang sudah ia siapkan untuk Dimas.
"Buat lo, bye." Kalila berlari menuju ke teman-temannya. Tak menoleh lagi ke Dimas. Sedangkan Dimas memegang susu kotak itu dan memasukkan kedalam saku celana seragamnya.
'Buat Akasia lumayan.'
Ia lalu tersenyum dan berjalan kearah kelasnya kembali.
***
Dona sibuk menyetrika baju. Ia tak sendiri, ada Silvi si tetangga sebrang rumah yang rajin menemaninya. Silvi anaknya hanya satu, sepantaran Sakura, suaminya bekerja ditengah laut. Orang perminyakan. Jarang pulang karena ditempatnya di daerah sumatra sana.
"Sil, gimana ya, gue bingung nih, uang buat study tour Akasia, mahal banget aduhhh." Dona berkeluh kesah sambil tetap menyetrika pakaian-pakaian.
"Berapa. Mau pake duit gue nggak? Pake aja Don."
"Nggak. Utang gue waktu aja belum gue bayar. Mau nambah lagi." Dona menyemprotkan pewangi pakaian kisskiss ke baju seragam Sakura.
"Terus? Akas nggak ikutan pergi?" Kedua bahu Dona terangkat.
"Lagian ada aja sekolahannya. Uang kegiatan kan udah ada. Kenapa diminta lagi." Silvi memakan keripik pisang kiriman mertua Dona. Home made, karena kebun pisang milik mertuanya sedang panen.
"Nggak tau lah. Gue juga bingung, padahal awal-awal masuk situ nggak dibilangin lho, mereka bilang uang kegiatan udah sekalian semuanya sama uang daftar ulang kenaikan kelas."
"Marketing banget!" Silvi beranjak menuju meja makan dan mengambil minum sendiri.
"Guntar apa kabar nya Sil, betah masuk asrama? Niat banget sekolah taruna penerbangan, eh- bener nggak sih, istilahnya."
"Betah. Anak gue kalo udah maunya kan maunya. Alias keukeuh. Anak sama bapak betah banget ninggalin gue sendirian dirumah. Bapaknya di tengah laut, anaknya calon prajurit udara."
"Kan ada gue yang setia setiap saat temenin lo, Sil." Dona terkekeh sambil melipat kemeja kerja Mario.
"Jelas. Sapa lagi tetangga di sini yang tingkat kejulidtannya di bawah harga pasar, alias masa bodoh, cuma elo doang. Nggak mau peduli tetangga lo baru beli kulkas baru kek, nyicil mobil atau motor baru kek, anaknya punya pacar baru apa nggak kek. Lo tuh Don, lurusssnyakebangetan!" Silvi kembali duduk dan melanjutkan makan keripik pisang dengan memangku toplesnya juga.
"Gue kan, males ladenin kaya gitu-gitu. Rugi. Buat apaan."
"Bener. Makanya gue cocok temenan sama lo. Dari awal ini perumahan masih kebon engkong sampe jadi batu bata dan baja ringan semua. Kita berdua yang saling jaga dan sayang."
Dona menatap Silvi dengan tatapan nanar.
"Terharuuu ....." ucap Dona sambil kembali menyetrika baju.
"Don, pake duit gue ya, yang dampingin siapa. Lo atau Mario? Apa Sakura atau Dimas?"
"Gue pikir-pikir dulu, ya. Kalo bener-bener kepepet dan nggak ada jalan. Gue baru ke elo deh."
"Ah elo. Eh, ngomong-ngomong, yang suka jemput Sakura siapa?"
"Yang naik mobil putih itu?" Dona beranjak dan mengambil pakaian kering lainnya dari jemuran di samping rumah. Lalu kembali kedalam.
"Iya, siapa? Anak orang kaya ya?"
"Iya. Sahabatnya Sakura. Meyra namanya. Kenapa Sil?"
"Nggak bawa pengaruh jelek, 'kan? Gue cuma merhatiin aja. Sakura kayak sedikit beda sekarang, lebih modis kesekolah. Gue khawatir aja dia jadi ikut-ikutan temen-temennya itu. Gue takut Sakura juga jadi malu sama keluarganya sendiri."
"Nggak lah. Gue percaya anak gue. Sakura nggak kaya gitu, lagian malu kenapa si, rumah ada, mobil adam"
Silvi cekikikan.
"Mobil butut Mario, tuh, kalo kata Bapaknya Guntar, musium juga ogah ngambil jadi barang antik."
"Eh sembarangan. Itu mobil sejarahnya puanjangggg ... Silvi. Dari Mario masih kuliah, ngajak gue kencan pertama kali, ya sama si Bambi itu. Nggak ada yang bisa ngalahin Bambi."
Silvi terbahak-bahak.
"Segala lu namain Bambi!" Silvi meletakan toples keatas meja setelah ia tutup rapat. Lalu berjalan kearah dapur.
Tak lama ia berdiri berkacak pinggang menatap Dona.
"Gue ada beras. Masih satu karung. Lo ambil satu Don. Nolak gue kepret lo jadi keset!"
Silvi gemas sendiri dengan Dona. Sahabatnya itu menganggukan kepala sambil tersenyum.
"Makasih Silvi, nanti gue bantuin beberes rumah lo ya sebagai tanda terima kasih." Dona senyum-senyum.
"Nggak. Pembantu gue dua." Silvi berbalik badan dan duduk di sofa.
"Sombongnyaa juragan minyak," celetuk Dona. Lalu keduanya tertawa bersama.
Suara pagar terbuka terdengar. Akasia baru pulang sekolah dan main sebentar ke rumah temannya di belakang rumah mereka. Tak lama Dimas juga pulang. Jam sudah menunjukan pukul dua siang.
"Halo anak-anak Bunda," sapa Dona.
"Halo Bunda, halo Mami," sapa Akasia sambil mencium tangan Silvi. Lalu mencium pipi bundanya.
"Aduh. Bau matahari," ledek Dona ke Akasia yang sepertinya habis main bola.
"Akas mandi boleh, Bun?" tanyanya. Dona menggeleng.
"Ganti baju aja, tapi cuci tangan, cuci kaki dan cuci muka." Akasia mengangguk.
"Kas," panggil Dimas. Akasia menoleh.
"Nih." Dimas memberikan susu kotak ke tangan Akasia. Kedua mata adiknya berbinar.
"Makasih, Bang," dengan ceria Akasia menaruh susu ke dalam kulkas lalu menuju ke kamar mandi.
"Dari siapa, Dim," tanya Silvi sambil mencolek lengan Dimas yang duduk disebelahnya.
"Kalila," lalu Dimas beranjak
"Eeeewwww, siapa Kalila, Dim? Coba kenalin ke Mami. Kali-kali Mami srek sama ceweknya." Silvi melirik ke Dona yang diam menatap putra keduanya yang berjalan kedalam kamar.
"Temen doang, Mam, Bun. Jangan khawatir," jawab Dimas.
"Lebih dari temen juga nggak pa-pa Dim!" teriak Silvi. Lalu tatapannya berubah heran ke Dona.
"Kenape? Anak lo ada yang suka. Wajar, lah, usia segini. Gejolak kawula muda Don."
"Gue takut .... "
"Takut apa, sih? yang perlu lo khawatirin tuh Sakura. Bukan Dimas."
Dona diam. Anaknya itu bilang akan menonton di bioskop jam tiga sore. Berarti pulang setelah magrib atau jam tujuh malam paling telat. Dona akan bertanya nanti.
Silvi beranjak. Ia pamit untuk pulang. Tapi sebelumnya memanggil Dimas untuk mengambil beras dirumahnya. Dona merasa khawatir dengan Sakura. Ia lalu menghubungi putrinya dengan mengirim pesan singkat.
Bersambung,
Jam menunjukan pukul delapan malam. Dona belum mendapat balasan telpon atau pesan dari putrinya, Sakura. Ia duduk di depan teras rumah sederhana miliknya. Tak lama terdengar suara mobil Mario datang dan dengan cepat Dona membuka pintu pagar. Bambi masuk dan terparkir rapih di garasi. Terlihat asap sedikit banyak keluar dari knalpot. Dona tersenyum menatap Mario yang keluar dari dalam mobil. Ia terkekeh juga saat melihat ke arah knalpot.
"Besok Bambi bawa ke dokter aja, Ayah, kasian udah tua, pasti sering sakit-sakitan." Dona menutup pagar sambil cekikikan.
"Iya, Bunda Dona. Udah direncanain, kok. Anak-anak mana? Tumben sepi?" Mario celingukan sambil melepas sepatu kerjanya.
"Dimas lagi ke rumah Fadil, Akasia tidur ... habis makan tadi ngantuk katanya."
"Sakura mana?" Mario melepas dua kancing kemeja paling atas dan melipat lengan kemejanya hingga ke siku.
"Semalem izin ke aku mau nonton sama temen-temennya, tapi sampe sekarang belum pulang, aku udah chat sama telpon tapi nggak dibales, aku jadi mikir yang enggak-enggak, kan." wajah Dona begitu cemas.
Ia tak suka jika Sakura sudah seperti ini. Bukannya ia melarang, tapi memang Sakura anak perempuan dan harus ia jaga dua kali lipat dibanding anak laki-laki.
"Hang out kali, Bun sama temen-temennya. Toh, besok libur," sahut Mario yang memang cukup memanjakan Sakura. Tak jarang Sakura jadi keras kepala dan seenaknya. Kadang justru Dimas yang bersikap dewasa dibanding Sakura. Suara motor dan gelak tawa dua orang terdengar. Dimas dan Fadil. Anak keduanya itu turun dari boncengan Fadil sambil tetap masih tertawa geli.
"Oy!" Panggil Mario. Kedua anak muda itu menoleh.
"Malam Om Mario! Tante Donaaa! Anak perjakanya saya balikin tanpa lecet, nih," ucap Fadil konyol, sikapnya itu sudah dihafal Mario dan Dona.
"Makasih, Dil! Gue tunggu kabarnya yang tadi itu." Dimas mengangkat tangan dan membuka pagar.
"Siap! Hp lo stand by aja mamennnn! Om ... Tante, Fadil ganteng pulang ya!" Fadil melambaikan tangan. Mario dan Dona terkekeh.
"Bunda sama Ayah, kok masih di luar?" tanya Dimas yang duduk selonjoran di lantai teras.
"Nunggu Kakakmu, belum pulang. Ayah juga baru sampai." Dona menatap ke layar ponselnya lagi. Sudah jam delapan kurang.
"Emang Kakak belum pulang?" Pertanyaan Dimas membuat Dona dan Mario kompak memicingkan matanya menatap ke Dimas yang langsung senyum-senyum. Ia salah melempar pertanyaan, kalau Sakura sudah pulang, untuk apa Dona dan Mario duduk di teras depan rumah.
"Aduh ... Bunda khawatir, nih." Dona beranjak dan berjalan ke depan pagar. Mengintip ke kanan dan kiri tapi tak ada yang datang.
"Ayah mandi dulu, kamu temenin Bunda di sini. Coba hubungin Sakura, siapa tau mau bales atau angkat telpon kamu kalau bukan Bunda yang telpon." Mario beranjak.
"Emang Kakak nggak bales chat atau telpon Bunda?" Dimas menatap ke Dona dan tampak terkejut saat Dona menggeleng.
'Resek banget punya Kakak satu doang.'
Umpat Dimas sambil coba menghubungi Sakura.
***
Di dalam mobil.
Sakura sedang tertawa bersama Alden. Ya, dia di mobil Alden. Ia lalu menatap layar ponsel dan melihat nama adiknya muncul di layar.
"Ya, Dim" jawab Sakura.
"Di mana?"
"Arah pulang."
"Ok." Lalu telpon terputus. Sakura memasukan ponsel ke dalam tas dan diam. Ia tau, jika Dimas sudah berbicara singkat, tandanya ia bikin kesalahan. Jam menunjukan pukul setengah sembilan malam. Suara mobil terdengar. Mobil itu berwarna hitam. Bukan putih seperti mobil Meyra. Dona beranjak begitu pun Dimas. Kedua mata Dona membulat saat Sakura keluar dari mobil bersama seorang cowok. Masih dengan seragam SMA juga.
Dona sudah mau marah tapi ia urungkan. Dimas merangkul bahu bundanya dan mengusap. Menenangkan emosi. "Bunda," ucap Sakura pelan. Dona memaksa tersenyum.
"Maaf terlambat pulangnya." Sakura berjalan bersama cowok itu.
"Bun, ini temen sekolah Kakak, Senior satu tingkat. Algen namanya." Sakura tampak ragu. Ia sesekali menunduk.
"Malam Tante ... saya Algen." Alden meraih tangan Dona dan mencium punggung tangannya.
"Malam." jawab Dona singkat.
"Maaf kita pulangnya malam Tante, Algen nggak tahu nomor HP Tante, jadi nggak bisa izin," ucap Algen.
"Nggak bisa tanya sama Sakura!" kini suara berat seorang pria terdengar.
O-ow paduka raja yang muncul. Sontak Sakura menoleh ke Algen dan memberi kode supaya Algen pulang.
"Ma-lam, Om, " sapa Alden sedikit ragu campur takut.
"Anak mana kamu! Diajarin orang tuanya nggak bawa anak perempuan orang sampe malam gini! Di mana kamu tinggal!" kini suara seorang ayah yang terdengar. Dona mengerjap.
"Gue saranin lo balik. Dari pada itu pot bunga Bunda gue nabrak kepala lo. Lain kali kalau mau bawa Kakak gue--" Dimas menatap sinis ke Alden. "Yang sopan!" lanjutnya. Algen mengangguk.
"Saya pamit Om, Tante, permisi" Alden begitu ciut. Sakura pun tak di pamitkan oleh Alden. Kini Sakura yang kesal dan marah. Wajahnya sinis menatap Dona.
"Bunda kayak nggak pernah muda aja!" omel Sakura sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Dona diam.
"Lho, yang marah kan, Ayah, kenapa Bunda yang di semprot Sakura?" tatap Dona bingung ke Suami dan anak lelakinya.
***
"Kak, Kakak..." sudah kesekian kalinya Sakura tak menjawab ketukan pintu kamarnya. Dona terus memanggil anak perempuannya untuk makan. Ia melewatkan sarapan pagi bersama yang rutin dilakukan. Kini sudah mendekati jam makan siang. Sakura masih mengunci kamarnya.Dona menghela napas, ia duduk di ruang tamu. Memikirkan sejenak, sesuatu supaya Sakura mau buka pintu.
"Kakak marah sama Bunda ya? Kakak ngambek ya?" Dona kembali beranjak dan berdiri di depan pintu kamar Sakura.
"I am sorry sayang. Bunda cuma khawatir sama kamu, lho, Bunda juga pernah muda, tapi pergaulan sek--"
KLEK. Pintu kamar terbuka.
"Bunda, tuh, lebay. Bunda kebiasaan apa-apa takut, apa-apa khawatir. Kakak udah gede Bunda, udah mau tujuh belas tahun. Kakak bisa jaga diri. Kakak tau mana yang baik sama buruk. Kakak malu kalau Bunda apa-apa larang, apa-apa batasin! Kakak juga butuh bergaul dan deket sama lawan jenis Bunda. Kakak--" Sakura menghentikan ucapannya. Ia menatap Dona lekat.
"Kakak nggak mau kayak Bunda yang kuper dan di rumah terus. Kakak nggak mau kayak Bunda!" lalu Sakura menutup pintu kamar walau tak membantingnya. Dona diam. Tak menjawab atau membantah.
Mario dan Dimas yang baru pulang dari bengkel menatap terkejut. Mereka berdua melihat Sakura marah-marah. Dimas sudah emosi tapi Dona berjalan menghampiri sembari menggelengkan kepala. Meminta Dimas tak marah ke Sakura.
"Udah ... biasa, anak remaja. Udah ... udah." Dona lalu berjalan ke meja makan. Dimas dan Mario hanya saling menatap.
"Ayah, nanti jam satu bukannya ada rapat di sekolah Sakura?" suara Dona sengaja ditinggikan supaya Sakura dengar. Mario mengangguk. Dimas masih menatap kesal ke bundanya.
"Bunda boleh ikut?!" kembali Dona bernada sedikit tinggi saat berbicara. Pintu kamar Sakura kembali terbuka.
"Ayah aja yang ke sekolah Kakak, Bunda di rumah aja. Kakak nanti diledekin sama temen-temen karena penampilan Bunda." Begitu ketus, Sakura lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Kak!" bentak Dimas. Sakura menoleh dan menatap Dimas.
"Apa!" omel Sakura. Dimas maju selangkah. Dona berlari dan berdiri di antara dua anak remajanya.
"Mandi ya, Kak, Kakak harus ikut ke sekolah. Makan dulu sebelum berangkat, ya," ucap Dona sambil memeluk Dimas.
Mario hanya diam. Ia cukup terkejut melihat putrinya memaki Dona seperti itu. Ia duduk di kursi meja makan. Dona dan Dimas menyusul.
"Biasa kayak gini. Anak remaja ..., Bunda yang salah, bener kok apa yang dibilang Sakura, kalian makan ya, nanti Bunda pisahin untuk Sakura sama Akasia. Akas kemana ya, ngomong-ngomong." Dona sejak tadi tak melihat anak bungsunya itu.
"Di minimarket sama Mami. Tadi ketemu kita, Bun di jalan," jawab Dimas.
"Lihat nih, pasti pulang-pulang bawa dua kantung penuh. Mami Silvi tuh kebiasaan banget, Bunda sampe suka malu." Dona masih bisa tersenyum dan tertawa. Mario mengusap kepala istrinya itu dengan tatapan nanar.
"Kenapa, jangan lihatin Bunda kayak gitu. I'm ok. Anak remaja emang kayak gitu."
Dona tersenyum. Mario mengangguk, sedangkan Dimas menatap kesal ke bundanya.
***
Dona duduk di atas ranjang setelah ia memasukan pakaian suami dan dirinya yang sudah disetrika. Ia menatap sendu ke arah jendela. Lalu menoleh ke cermin meja rias miliknya. Ia menatap penampilannya.
Daster motif batik, rambut yang ia biarkan tergerai sepanjang punggungnya. Wajah tanpa riasan atau bedak. Bibir tipis yang pucat.
'Dona, keep smile.' ucapnya dalam hati. Walau kemudian air mata menetes di pipinya.
Ia tau, Sakura malu menatap penampilan dirinya. Tapi ia harus apa lagi. Jika ia membeli kebutuhan dirinya. Ia akan mengorbankan uang belanja harian dan kebutuhan suami serta anak-anaknya yang berkegiatan di luar rumah.
Ia memejamkan mata. Menghapus bulir-bulir air matanya dan tersenyum. Ia mengambil kunciran rambut lalu merapihkan rambutnya sembelum ia cepol rapi.
"Semoga Sakura sukses di masa depan, jangan kayak bundanya. Semangat Dona!" Ia berucap kepada dirinya sendiri di depan cermin.
"Bunda hujan!" teriak Akasia.
"Ehhh! Jemuran bundaaa! Dimassss ... angkatin tolong!" Dona berlari keluar dari kamar. Tanpa Dona tau, Dimas sudah mengambil jemuran yang sudah kering, lalu Dona membantunya.
"Bunda, Akas hujan-hujanan boleh?" Akasia sudah berdiri di teras.
"Iya. Sama Abang, ya," ucap Dona. Dimas meletakkan baju kering di atas Sofa ruang tamu, lalu ia dan Akas menuju ke halaman kecil di depan teras lalu ikut hujan-hujannya.
Dona tertawa melihat tingkah dua anak lelakinya. Bermain hujan pun, bisa menjadi hiburan untuk keduanya. Dona duduk di sofa ruang tamu sambil melipat baju dan memperhatikan raut wajah Akasia dan Dimas yang tertawa bersama.
'Maaf ya, Nak, Bunda sama Ayah belum bisa ajak kalian liburan.'
Bersambung,