Bab 2

Kharis menyepak batu kerikil berukuran sedang. Dia kaget saat baru itu melayang mengenai sesuatu.

Mata Kharis membulat sempurna. Di depannya sebuah kaca pada salah satu toko pecah karena batu kerikil yang dia sepak.

Si empunya toko langsung keluar dengan muka kaget bercampur penasaran.

"Siapa yang berani memecahkan kaca tokoku?" teriaknya lantang.

Kharis merinding. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya dia yang berdiri di situ. Sudah pasti dia yang akan dituduh sebagai pelaku oleh si pemilik toko.

Pria dengan badan tinggi tegap, berkumis, dengan tatapan garang menatap sengit ke arah Kharis.

Kharis tidak berkutik. Dia tampak ketakutan. Wajah pria si pemilik toko terlihat sangat menakutkan. Kharis berusaha bergerak mundur dan hendak melarikan diri. Namun, pria tersebut dengan sigap menarik kerah baju Kharis.

"Mau pergi ke mana kau, hah!" teriak pria itu dengan garang.

Lantas dia menarik Kharis masuk ke dalam tokonya.

Perdebatan sengit terjadi di dalam toko. Kharis mencoba merayu, tapi usahanya gagal. Pria si pemilik toko tersebut meminta ganti rugi pada Kharis atau jika tidak, dia akan melaporkan Kharis ke Polisi.

Kharis akhirnya mengalah. Dia pun membayar ganti rugi pada si pemilik toko dengan jumlah yang dia inginkan. Dari pada Kharis diboyong ke kantor polisi dan berurusan dengan pihak berwajib. Apalagi jika sampai Kharis dipenjara, bisa-bisa masalah makin bertambah rumit. Belum lagi jika kedua orang tuanya mengetahui tentang hal itu. Semakin ruwet dan runyam.

Kharis melangkah dengan gontai keluar dari toko. Mukanya terlihat kusut, sama halnya seperti baju yang dia pakai. Kusut dan lusuh. Kharis begitu tidak bersemangat. Setelah melangkah sedikit jauh dari toko si pria garang yang kacanya tidak sengaja dia pecahkan. Umpatan demi umpatan terucap dari mulutnya.

"Benar-benar hari sial. Apa salah gue hari ini hingga gue mengalami kerugian. Uang gue 500 ribu melayang tidak jelas. Apes sekali gue hari ini." Kharis menepuk jidatnya sendiri, tapi ....

"Aaww!" teriaknya merasakan sakit tepat di memar yang ada di keningnya. "Ini semua gara-gara cewek sialan itu." Kharis berteriak seperti orang gila, hingga membuat pemuda tampan itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat.

"Kasihan, ya," celoteh seseorang yang lewat di depan Kharis.

"Ih, bajunya dekil banget." Tampak dua orang saling berbisik-bisik sambil melihat Kharis yang sedang menggaruk-garuk kepalanya.

"Pasti dia orang gila baru," ujar seseorang yang berpapasan dengan Kharis.

"Bisa jadi. Sekarang zaman susah, cari kerjaan saja sulit. Mungkin dia stres karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan," sambung yang lainnya.

Menyadari bahwa dirinya sedang jadi omongan banyak orang di tempat umum. Wajah Kharis langsung berubah.

"Apa lu lihat-lihat!" bentak Kharis pada seorang anak berumur lima tahun yang berdiri di depannya.

Namun, anak itu bukannya takut pada bentakan Kharis. Justru si anak memberikan sebungkus minuman yang baru dia beli pada Kharis.

"Ini untukmu. Kau terlihat sangat lelah. Kau pasti kehausan. Ini minumlah," celotehnya dengan tersenyum.

Setelah memberikan bungkusan es teh, si anak langsung pergi berlari meninggalkan Kharis yang bengong dibuatnya.

"Haiss, dia pikir gue ini orang gila!" umpatnya lagi. Kharis membuang sebungkus es teh di sebuah got kecil, lalu dia melangkah dan berhenti di sebuah kaca besar.

"Wah, orang gila yang sangat sombong. Beruntung ada anak kecil yang memberinya sebungkus es teh, tapi kenapa dibuang begitu saja. Orang gila yang benar-benar tidak tahu caranya bersyukur," kata seorang kakek-kakek yang melihatnya dan tidak sengaja Kharis mendengarnya.

Merasa pandangan orang-orang sekitar sangat aneh, Kharis berjalan menjauh dan meraupkan kedua tangannya ke wajahnya. Dia sadar kenapa orang-orang sekitar menatapnya aneh.

Kharis baru menyadari jika bajunya kotor dan dekil. Terlihat di wajahnya ada kotoran, tepatnya di pipi kanannya. Rambut yang basah dan acak-acakan. Sungguh penampilannya terlihat seperti orang gila. Pantas saja jika orang-orang yang berpapasan dengannya saling berbisik-bisik dan memandangnya dengan tatapan yang sangat aneh, bahkan ada yang menutup hidungnya.

"Aargh!" Kharis berteriak sambil mengacak-acak rambutnya. Kharis berteriak tanpa melihat keadaan sekitarnya.

Mendengar teriakan dari Kharis, orang-orang semakin menjauh dan menjaga jarak dari Kharis. Mereka menyangka dan berpikir jika Kharis akan mengamuk dan mengejar mereka.

"Sini, Nak. Nanti kalau orang gila itu mengamuk, kau bisa langsung diterkam," kata seorang wanita. Tangannya langsung menarik dan menggandeng anaknya. Dia berjalan menjauhi dari Kharis.

"Kenapa semakin banyak orang gila di Ibukota?" celetuk seorang wanita dengan membawa tas jinjing.

"Apa kita perlu menghubungi rumah sakit jiwa untuk menjemputnya?" sambung seorang pria.

Mendengar celotehan orang-orang Kharis menjadi bergidik ngeri. Otak dia langsung berputar, Kharis membayangkan dirinya dibawa ke rumah sakit jiwa dan berkumpul dengan orang-orang gila lainnya.

"Ah, tidak-tidak. Gue tidak mau dibawa ke rumah sakit jiwa." Kharis menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lebih baik gue buru-buru pulang dan membersihkan diri. Dari pada gue masih berdiri di sini dengan keadaan dekil dan bau. Bisa-bisa gue diangkut dan dibawa ke rumah sakit gila. Gue ini kan masih waras." Kharis segera melangkah pulang meninggalkan orang-orang yang sedang membully dirinya.

Beberapa orang yang hampir berpapasan dengan Kharis mendadak berlari bersembunyi. Bahkan ada beberapa yang tidak sengaja berlari masuk ke dalam rumah orang.

"Menepi dulu, ada orang gila mau lewat," ujarnya menarik anak perempuan di sampingnya.

"Kenapa jadi gue berasa seperti diolok-olok," lirih Kharis.

Kharis melangkah masuk ke dalam sebuah gang, akan tetapi di sana justru dia mendapatkan teriakan dari anak-anak kecil yang sedang bermain.

"Orang gila baru ... orang gila baru," teriak enam orang anak.

"Gue bukan orang gila," bentak Kharis yang merasa diejek.

"Woi ... lu kenapa bentak-bentak anak gue." Seorang pria mengacungkan gunting rumput pada Kharis. "Sini lu kalau ingin gue pangkas habis!"

Kharis langsung memegang anu nya. Dia langsung ngacir berlari meninggalkan tempat itu. Namun, tiba-tiba dia berhenti dan memperhatikan sekitar. Kharis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kenapa gue bisa berasa di sini lagi? Yaelah ... jangan bilang kalau gue kesasar." Kharis menepuk keningnya. "Rumah susun yang sangat membingungkan," gerutunya kembali melangkahkan kakinya sebelum ada lagi yang akan berteriak pada Kharis.

Kharis buru-buru mengambil langkah seribu saat si pemilik toko yang berwajah seram itu keluar dari dalam tokonya. Kharis memilih melewati jalan yang sepi.

"Gue capek ... gue ingin segera sampai di rumah. Semua jalan yang ada di komplek rumah susun ini sangat membingungkan. Bisa jadi gue hanya berputar-putar komplek," keluh Kharis.

"Kharis!" Sebuah panggilan membuat Kharis menoleh ke belakang dan mata Kharis berbinar-binar. "Gue pikir bukan elu hahaha ... lu kenapa? Dekil begitu, mana bau lagi. Penampilan lu sudah seperti tikus kecebur got," ledeknya.

"Sialan lu ... jangan meledek. Gue sedang emosi ini," rutuk Kharis.

Bab 3

Risma terus mengayuh sepatu rodanya hingga dia berhenti di sebuah kafe yang tampak ramai pengunjung. Lalu Risma masuk ke dalam kafe dan mencari orang yang akan dia temui hari itu.

Manik mata Risma menangkap seseorang dengan baju warna kuning dengan bawahan jeans biru. Dia duduk di pojokan dekat meja Barista.

"Untung gue tepat waktu dan tidak terlambat," cicit Risma sambil mengatur napasnya pelan.

Risma melepas sepatu rodanya sebelum masuk ke dalam kafe, lalu dia melangkah mendekati wanita berbaju kuning tersebut.

"Bu Nila," sapa Risma. Wanita berbaju kuning itu mengangkat kepalanya dan menatap Risma.

"Aku kira kau tidak akan datang," balas wanita tersebut, "Duduklah!"

Risma meraih kursi dan menariknya ke belakang, lalu dia mendudukkan dirinya di sana.

"Telat semenit, mungkin kau tidak akan menemukanku dan akan aku menawarkannya pada orang lain," kata wanita yang bernama Nilawati dengan tegas.

"Ja-jangan begitu, Bu. Tadi ada suatu hal yang terjadi." Risma beralasan.

"Jadi?"

Nilawati memastikan kembali ucapan Risma. Wanita itu menatap gadis yang sedang duduk di depannya. Gadis cantik dengan rambut panjang sebahu itu membalas menatap Nilawati.

"Aku akan mengambilnya," ucap Risma meyakinkan.

"Baiklah," ucap Nilawati. Wanita paruh baya itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kunci, lalu menaruhnya di atas meja berdekatan dengan gelas Quick Berry miliknya. "Ini kuncinya." Nilawati memberi kode pada Risma.

"Hanya satu?" Risma merasa heran, "Biasanya ada beberapa kunci untuk cadangan," imbuhnya.

Nilawati menghela napas mendengarkan celotehan Risma.

"Kau bisa menduplikat kuncinya sendiri, tapi jika kau tidak mau aku tidak masalah. Jika hanya karena kunci dipermasalahkan dan kau membatalkannya, oke ... aku akan menawarkannya pada orang lain. Masih banyak kok yang mengantri di belakangmu."

"Eh, ja-jangan Bu. Oke, aku ambil ini." Risma segera meraih kunci yang tergeletak di atas meja sebelum wanita paruh baya itu berubah pikiran dan mengambilnya. "Aku ambil dan ini uangnya." Risma menyodorkan sebuah amplop putih.

"Bagus!" sahut Nilawati tersenyum puas dan menerima amplop putih dari Risma.

Nilawati membuka amplop tersebut, menghitung uang yang ada di dalam. Dia pun menganggukkan kepalanya.

"Deal!" Nilawati mengulurkan tangannya sebagai tanda transaksi telah berhasil. Risma membalas menatap wajah Nilawati, lalu tatapannya turun ke bawah.

"Terima kasih." Risma membalas uluran tangan wanita tersebut.

"Semoga betah, ya. Senang berbisnis denganmu, Ris." Nilawati beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Risma.

Gadis cantik dan tomboi itu masih duduk terdiam menatap kunci yang ada di dalam genggamannya, lalu dia melihat sisa uang yang ada di dalam amplop. Risma menghela napas menatap lembaran uang yang ada di dalam amplop.

"Hanya tersisa ini," keluh Risma, "Gue tidak mungkin pulang ke rumah. Apa kata Mama dan Papa. Ini sudah keputusan gue." Risma merenung sesaat. Memasukkan amplop kembali ke dalam tasnya, kemudian berdiri dan melangkah keluar dari kafe.

Risma duduk di sebuah kursi kayu di bawah pohon yang rindang. Menunduk dan mulai sibuk memakai sepatu rodanya. Kembali dia menghela napas, mengangkat kepalanya ke atas menatap langit siang yang begitu cukup terik.

"Seminggu lagi. Ah, kenapa gue jadi merasa frustrasi seperti ini," lirihnya pelan. Risma menggelengkan kepalanya, "Tidak-tidak ... gue tidak boleh mengeluh. Tidak ada kata mengeluh di dalam kamus gue."

Segeralah dia mengayuh sepatu rodanya menembus kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar. Tentunya dengan memperhitungkan keselamatan dirinya sendiri juga orang-orang di sekitar jalan.

💓💓

Berbicara tentang masalah hidup, tidak akan pernah ada hentinya. Manusia hidup di dunia tidak lepas dari masalah. Dalam kehidupan, masalah selalu datang silih berganti. Satu selesai, pasti akan datang masalah baru. Kita semua sejatinya manusia biasa. Kita bisa merasa senang, bisa juga berduka. Dalam hidup ini, kita juga bisa mengalami kebahagiaan atau penderitaan. Masalah dan kesulitan dalam hidup, sejatinya dialami semua manusia. Dengan jenis dan kadar yang berbeda, setiap orang pastinya punya masalahnya masing-masing.

Masalah adalah keadaan ketika apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Ya, hidup adalah kenyataan. Kenyataan adalah hidup. Hidup adalah kenyataan yang dipenuhi dengan banyak masalah. Masalah adalah pelangi yang mewarnai kehidupan kita semua. Hidup tanpa masalah adalah mustahil. Masalah akan selalu ada di manapun, kapanpun, dan besar ataupun kecil. Hidup tanpa masalah bagaikan sayur tanpa garam, karena sejatinya manusia hidup selalu berdampingan dengan masalah, dengan adanya masalah kita bisa menikmati manis asamnya kehidupan ini.

Begitu pun dengan Kharis. Pemuda berwajah tampan itu sedang terbelit masalah. Bukan masalah utang, tapi ini adalah masalah keluarga yang harus dia terima dan dia hadapi pada usianya yang baru menginjak remaja.

Kharis yang masih menumpang di tempat kos si Bagus, merasa sangat tersiksa. Baik lahir atau pun batin, tapi Kharis selalu bersabar dan terus bersabar, karena dia tidak tahu akan pergi ke mana jika dia harus pergi.

"Gus, lu kenapa jadi orang jorok sekali sih?" teriak Kharis yang merasa tidak nyaman melihat kamar kos yang dia tempati bersama dengan Bagus berantakan dan baunya sangat tidak enak. Baju-baju kotor yang berserakan di mana-mana, bahkan celana dalam banyak yang berceceran.

"Nanti gue akan merapikannya, kok," tutur Bagus santai.

"Ah, lu hanya ngomong doang. Yang ada gue juga yang merapikan dan membereskan kamar ini," rutuk Kharis.

"Tenang saja, nanti pasti gue rapikan," timpal Bagus yang masih dengan santainya bermain game.

"Baju kotor ya langsung dicuci, bukan malah disimpan seperti ini," teriak Kharis.

"Lu ini ya, lama-lama gue empet lihat lu," sindir Bagus.

"Kamar-kamar gue, jadi suka-suka gue dong. Lagi pula lu punya rumah kenapa tidak pulang saja sih?" imbuh Bagus.

Kata-kata Bagus benar-benar langsung menusuk hari Kharis.

"What? Sejak gue numpang di kamar lu ini, sudah dua puluh kali lu menyuruh gue pulang ke rumah. Lu ngusir gue?" bela Kharis. "Lagi pula gue juga ikut bayar kos ini." Sekali lagi Kharis membela haknya.

"Kalau lu memang merasa, ya sudah sana pulang."

"Iya, nanti gue bakal cari apartemen."

"Alhamdulillah ...." Bagus mengurut dada, dari raut wajahnya terlihat sangat lega mendengar pengakuan dari Kharis.

"Bagus!" teriak Kharis dengan nada panjang dan melempar pakaian kotor ke muka Bagus.

"Apa? Kenapa? Kalau lu tidak terima, sana pulang ke rumah. Lu punya rumah kenapa pakai acara kabur segala," sindir Bagus.

"Masalah buat lu?" balas Kharis.

"Sudah sana pulang. Lebih enak itu tinggal di rumah sendiri," celetuk Bagus.

"Nah ini--lebih enak rumah sendiri kan? Terus kenapa lu sewa kamar kos?" Kharis bertanya balik pada Bagus.

"Suka-suka gue dong. Gue kan nyewa kos, tidak seperti lu yang kabur dari rumah."

"Lu itu sebenarnya sahabat gue bukan sih? Kenapa suka sekali cari perkara sama gue?" Kharis melempar pakaian kotor lagi ke arah muka Bagus.

Begitulah hari-hari Kharis dan Bagus yang tinggal satu kamar di sebuah kost elite.

Bagus adalah teman sekaligus sahabat dekat Kharis. Keributan bagi mereka berdua sudah hal biasa.

Mereka berdua juga satu sekolah. Tidak heran setiap ribut pasti akan kembali akur seperti semula. Dua sahabat yang benar-benar seperti anjing dan kucing. Layaknya Tom and Jerry yang selalu bermain kejar-kejaran.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

KhaRisma

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED