Bab 1

"Sial!" Seorang pemuda menundukkan kepalanya, "Apa-apaan ini!" umpat seorang pemuda yang mendapatkan tubuhnya basah karena air yang baru turun dari atas. Bukan karena air hujan, tapi itu adalah air yang dibuang dari atas oleh seseorang yang baru saja selesai menjemur.

"Shit. Baju gue, basah." Kembali dia mengumpat. "Hari ini benar-benar hari sial buat gue," imbuhnya.

Kharis mengangkat kepala, menatap langit-langit. Pemuda itu sudah terbawa emosi.

"Woi ... jangan sembarangan membuang air bekas cucian dong," teriak Kharis.

Seorang laki-laki menyembulkan kepalanya dari atas.

"Opz ... sorry bro, gue tidak melihat lu di bawah sana. Lagi pula salah sendiri, kenapa lu berdiri di bawah situ?" teriaknya membalas.

"Eh, kenapa jadi lu yang nyolot!" teriak Kharis. Laki-laki tersebut menyembulkan kepalanya kembali. "Nah, lu sendiri sedang apa di situ? Kenapa pagi-pagi sudah nyempil di lorong?"

"Suka-suka gue lah," bentak Kharis.

"Eh, lu mau maling, ya?"

"Jaga mulut lu," gertak Kharis dengan mata melotot.

"Lah, kenapa jadi lu mendelik ke gue?" Terdiam sesaat. "Halah ... abaikan saja, tidak ada gunanya juga adu mulut yang tidak jelas."

"Eh, aturan lu harus minta maaf ke gue. Lu lihat nih, baju gue basah gara-gara lu!" teriaknya mendongak ke atas.

Namun, laki-laki tersebut telah masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya. Kharis yang tidak terima akan hal itu, dia berteriak ngomel-ngomel tidak jelas. Tiba-tiba ....

"Woi, mulut lu bisa diam tidak?" bentak seorang Ibu yang mengacungkan wajan teflon pada Kharis. "Pagi-pagi sudah berisik. Kalau lu mau adu mulut, sana pergi ke lapangan."

"Santai dong, Bu. Ini juga gue mau pergi."

Kharis melangkah keluar dari gang sempit di antara dua rumah susun. Ya, pagi itu Kharis sudah berada di area rumah susun di pusat kota.

"Sial sekali gue pagi ini," gerutu Kharis melangkah sambil membersihkan bajunya.

Kharis Abhimanyu pemuda yang sedikit urakan, menganggap dirinya seperti Bos, dan terkenal plaboy. Pemuda dengan perawakan tinggi 175 cm ini terlihat begitu menawan di hadapan para kaum hawa.

Beralih ke tempat lain yang tak jauh dari lokasi Kharis berdiri. Seperti biasa, pagi itu adalah hari yang cerah. Meskipun tidak secerah hari kemarin, setidaknya tidak ada awan gelap yang menutupi paras indah sang raja langit.

Tampak seorang gadis sedang menganyuhkan sepatu rodanya di trotoar jalanan ibukota. Gadis cantik dengan lesung pipi yang menghiasi wajahnya menganyuh sepatu rodanya dengan kecepatan rata-rata. Sesekali dia melihat jam digital yang melingkar di tangan kirinya. Dia memang terlihat sangat terburu-buru. Namun, dia tetap ingat akan keselamatan dirinya.

Rismaura Khairani adalah nama gadis itu. Gadis berparas cantik, berlesung pipi, berambut hitam lurus panjang. Pagi itu terlihat sangat tergesa-gesa.

Berkali-kali dia melirik jam tangannya dan kembali menatap jalan di depannya. Risma sangat mahir memainkan sepatu rodanya, kedua kakinya begitu lincah.

"Semoga aku tidak terlambat," pikirnya. Dia merasakan detak jantungnya tidak menentu. Dalam pikirannya terlintas bagaimana jika dia telat sampai tempat tujuan.

Risma menepis pikiran negatif itu, dia terus mengayuh kakinya dengan cepat. Dia ingin segera sampai di tempat sebelum terlambat.

Risma terus mengayuh sepatu roda kesayangannya hadiah pemberian dari sang Nenek tercinta. Sepatu roda itu selalu menemani aktivitas Risma setiap hari. Gadis itu begitu lihai memainkan sepatu roda di kakinya. Dia meluncur dengan sangat indahnya di trotoar.

Pagi yang cerah, jalanan masih tampak lenggang. Namun, di sisi lain Risma benar-benar takut kalau dia sampai terlambat. Diliriknya kembali jam yang menempel di tangan kirinya.

"Sedikit lagi dan hampir sampai," ujar pelan dan masih fokus dengan mata menatap lurus ke depan. "Satu belokan lagi," sambungnya.

Namun, karena kelalaiannya terjadilah sebuah tabrakan yang tidak bisa dihindari oleh Risma.

BRUUKK!

Risma terjatuh di atas aspal. Gadis itu meringis kesakitan, tapi untung dia menggunakan pelindung di tubuhnya. Risma memang tidak pernah melupakan helm serta Deker Protector In line Sepatu Roda. Alhasil, Risma sama sekali tidak terluka.

Berbeda dengan pemuda yang ditabraknya. Dia tersungkur di atas aspal juga dan sepertinya dia sedikit terluka. Sudah bisa ditebak, pemuda itu langsung marah-marah tidak jelas.

"Hei, lu punya mata tidak sih? Lu harus tanggung jawab," pekik Kharis terlihat marah dengan mata melotot.

"Tanggung jawab apa?" balas Risma.

"Lu nabrak gue. Lihat nih!"Kharis menunjuk kulitnya yang terluka.

"Kenapa jadi gue yang disalahkan? Lu sendiri jalan pakai mata tidak?" Risma makin judes.

"Jelas-jelas lu yang nabrak gue sampai jatuh. Masih saja mau ngelak." Suara Kharis makin meninggi.

"Salah sendiri lu jalan di tengah-tengah. Hei ... orang kalau mau jalan itu di trotoar, bukan di tengah jalan. Apa karena jalanan sepi jadi lu jalan seenak jidat lu. Lu pikir ini jalan nenek moyang lu," bentak Risma.

"Sudah tahu salah malah nyolot!" Kharis makin naik pitam. Kharis menggulung lengan bajunya.

"Eh ... eh, lu mau apa?" teriak Risma sambil memasang kuda-kuda.

Namun, sebelum aksi itu terjadi, seseorang berteriak dan mengalihkan atensi mereka berdua.

"Woi bro!" teriak seseorang.

Kharis dan Risma menoleh ke arah datangnya suara tersebut.

"Di sini lu yang salah, bro. Cewek itu tidak bersalah. Kalau lu tidak percaya, itu ada CCTV," tunjuk pemuda tersebut. "Lu bisa memeriksa CCTV di sini biar lu percaya," imbuhnya.

Kharis mendongak ke atas melihat CCTV dengan lampu warna merah yang berkedip-kedip. Lalu dia mundur dan mengangkat tangannya.

"Okay," ucap Kharis. Kemudian tatapannya beralih pada Risma di depannya.

"Kali ini lu selamat. Lain kali jika kita bertemu lagi, gue akan membuat perhitungan dengan lu," ancam Kharis sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.

"Whatever and I don't care!" Risma tersenyum mengejek, lalu dia menjulurkan lidahnya, dan memutar badannya. Setelah itu dia melesat meninggalkan Kharis yang sedang dalam keadaan dongkol.

"Huh ... dasar cewek sialan," seru Kharis menyepak angin di atas aspal. Mata Kharis terus menatap Risma yang mengayuh sepatu rodanya hingga hilang di belokan gang depan sana. "Kenapa hari ini gue sial terus?" gerutunya.

"Baju basah karena disiram orang yang tidak bertanggung jawab, dan ditabrak oleh cewek sialan," imbuh Kharis memegang jidatnya yang agak memar dan benjol.

Kharis melangkahkan kakinya kembali. Kali ini dia berjalan menyusuri trotoar dan tangannya masih memegangi keningnya, lalu beralih ke sikut.

"Sakit semua badan gue," rengek Kharis. "Sumpah ... kalau gue sampai ketemu dengan cewek itu lagi. Gue akan bantai habis si cewek sialan itu." Kharis menggerutu tidak jelas. "Agh ... benar-benar hari yang sangat sial!" umpatnya.

Kharis kembali menyepak sebuah batu kerikil berukuran lumayan yang ada di trotoar. Batu kecil yang dia sepak dan melayang mengenai sesuatu.

PYAAR!

Suara apa itu? Apakah Kharis akan mendapatkan masalah baru?

Bab 2

Kharis menyepak batu kerikil berukuran sedang. Dia kaget saat baru itu melayang mengenai sesuatu.

Mata Kharis membulat sempurna. Di depannya sebuah kaca pada salah satu toko pecah karena batu kerikil yang dia sepak.

Si empunya toko langsung keluar dengan muka kaget bercampur penasaran.

"Siapa yang berani memecahkan kaca tokoku?" teriaknya lantang.

Kharis merinding. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya dia yang berdiri di situ. Sudah pasti dia yang akan dituduh sebagai pelaku oleh si pemilik toko.

Pria dengan badan tinggi tegap, berkumis, dengan tatapan garang menatap sengit ke arah Kharis.

Kharis tidak berkutik. Dia tampak ketakutan. Wajah pria si pemilik toko terlihat sangat menakutkan. Kharis berusaha bergerak mundur dan hendak melarikan diri. Namun, pria tersebut dengan sigap menarik kerah baju Kharis.

"Mau pergi ke mana kau, hah!" teriak pria itu dengan garang.

Lantas dia menarik Kharis masuk ke dalam tokonya.

Perdebatan sengit terjadi di dalam toko. Kharis mencoba merayu, tapi usahanya gagal. Pria si pemilik toko tersebut meminta ganti rugi pada Kharis atau jika tidak, dia akan melaporkan Kharis ke Polisi.

Kharis akhirnya mengalah. Dia pun membayar ganti rugi pada si pemilik toko dengan jumlah yang dia inginkan. Dari pada Kharis diboyong ke kantor polisi dan berurusan dengan pihak berwajib. Apalagi jika sampai Kharis dipenjara, bisa-bisa masalah makin bertambah rumit. Belum lagi jika kedua orang tuanya mengetahui tentang hal itu. Semakin ruwet dan runyam.

Kharis melangkah dengan gontai keluar dari toko. Mukanya terlihat kusut, sama halnya seperti baju yang dia pakai. Kusut dan lusuh. Kharis begitu tidak bersemangat. Setelah melangkah sedikit jauh dari toko si pria garang yang kacanya tidak sengaja dia pecahkan. Umpatan demi umpatan terucap dari mulutnya.

"Benar-benar hari sial. Apa salah gue hari ini hingga gue mengalami kerugian. Uang gue 500 ribu melayang tidak jelas. Apes sekali gue hari ini." Kharis menepuk jidatnya sendiri, tapi ....

"Aaww!" teriaknya merasakan sakit tepat di memar yang ada di keningnya. "Ini semua gara-gara cewek sialan itu." Kharis berteriak seperti orang gila, hingga membuat pemuda tampan itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat.

"Kasihan, ya," celoteh seseorang yang lewat di depan Kharis.

"Ih, bajunya dekil banget." Tampak dua orang saling berbisik-bisik sambil melihat Kharis yang sedang menggaruk-garuk kepalanya.

"Pasti dia orang gila baru," ujar seseorang yang berpapasan dengan Kharis.

"Bisa jadi. Sekarang zaman susah, cari kerjaan saja sulit. Mungkin dia stres karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan," sambung yang lainnya.

Menyadari bahwa dirinya sedang jadi omongan banyak orang di tempat umum. Wajah Kharis langsung berubah.

"Apa lu lihat-lihat!" bentak Kharis pada seorang anak berumur lima tahun yang berdiri di depannya.

Namun, anak itu bukannya takut pada bentakan Kharis. Justru si anak memberikan sebungkus minuman yang baru dia beli pada Kharis.

"Ini untukmu. Kau terlihat sangat lelah. Kau pasti kehausan. Ini minumlah," celotehnya dengan tersenyum.

Setelah memberikan bungkusan es teh, si anak langsung pergi berlari meninggalkan Kharis yang bengong dibuatnya.

"Haiss, dia pikir gue ini orang gila!" umpatnya lagi. Kharis membuang sebungkus es teh di sebuah got kecil, lalu dia melangkah dan berhenti di sebuah kaca besar.

"Wah, orang gila yang sangat sombong. Beruntung ada anak kecil yang memberinya sebungkus es teh, tapi kenapa dibuang begitu saja. Orang gila yang benar-benar tidak tahu caranya bersyukur," kata seorang kakek-kakek yang melihatnya dan tidak sengaja Kharis mendengarnya.

Merasa pandangan orang-orang sekitar sangat aneh, Kharis berjalan menjauh dan meraupkan kedua tangannya ke wajahnya. Dia sadar kenapa orang-orang sekitar menatapnya aneh.

Kharis baru menyadari jika bajunya kotor dan dekil. Terlihat di wajahnya ada kotoran, tepatnya di pipi kanannya. Rambut yang basah dan acak-acakan. Sungguh penampilannya terlihat seperti orang gila. Pantas saja jika orang-orang yang berpapasan dengannya saling berbisik-bisik dan memandangnya dengan tatapan yang sangat aneh, bahkan ada yang menutup hidungnya.

"Aargh!" Kharis berteriak sambil mengacak-acak rambutnya. Kharis berteriak tanpa melihat keadaan sekitarnya.

Mendengar teriakan dari Kharis, orang-orang semakin menjauh dan menjaga jarak dari Kharis. Mereka menyangka dan berpikir jika Kharis akan mengamuk dan mengejar mereka.

"Sini, Nak. Nanti kalau orang gila itu mengamuk, kau bisa langsung diterkam," kata seorang wanita. Tangannya langsung menarik dan menggandeng anaknya. Dia berjalan menjauhi dari Kharis.

"Kenapa semakin banyak orang gila di Ibukota?" celetuk seorang wanita dengan membawa tas jinjing.

"Apa kita perlu menghubungi rumah sakit jiwa untuk menjemputnya?" sambung seorang pria.

Mendengar celotehan orang-orang Kharis menjadi bergidik ngeri. Otak dia langsung berputar, Kharis membayangkan dirinya dibawa ke rumah sakit jiwa dan berkumpul dengan orang-orang gila lainnya.

"Ah, tidak-tidak. Gue tidak mau dibawa ke rumah sakit jiwa." Kharis menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lebih baik gue buru-buru pulang dan membersihkan diri. Dari pada gue masih berdiri di sini dengan keadaan dekil dan bau. Bisa-bisa gue diangkut dan dibawa ke rumah sakit gila. Gue ini kan masih waras." Kharis segera melangkah pulang meninggalkan orang-orang yang sedang membully dirinya.

Beberapa orang yang hampir berpapasan dengan Kharis mendadak berlari bersembunyi. Bahkan ada beberapa yang tidak sengaja berlari masuk ke dalam rumah orang.

"Menepi dulu, ada orang gila mau lewat," ujarnya menarik anak perempuan di sampingnya.

"Kenapa jadi gue berasa seperti diolok-olok," lirih Kharis.

Kharis melangkah masuk ke dalam sebuah gang, akan tetapi di sana justru dia mendapatkan teriakan dari anak-anak kecil yang sedang bermain.

"Orang gila baru ... orang gila baru," teriak enam orang anak.

"Gue bukan orang gila," bentak Kharis yang merasa diejek.

"Woi ... lu kenapa bentak-bentak anak gue." Seorang pria mengacungkan gunting rumput pada Kharis. "Sini lu kalau ingin gue pangkas habis!"

Kharis langsung memegang anu nya. Dia langsung ngacir berlari meninggalkan tempat itu. Namun, tiba-tiba dia berhenti dan memperhatikan sekitar. Kharis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kenapa gue bisa berasa di sini lagi? Yaelah ... jangan bilang kalau gue kesasar." Kharis menepuk keningnya. "Rumah susun yang sangat membingungkan," gerutunya kembali melangkahkan kakinya sebelum ada lagi yang akan berteriak pada Kharis.

Kharis buru-buru mengambil langkah seribu saat si pemilik toko yang berwajah seram itu keluar dari dalam tokonya. Kharis memilih melewati jalan yang sepi.

"Gue capek ... gue ingin segera sampai di rumah. Semua jalan yang ada di komplek rumah susun ini sangat membingungkan. Bisa jadi gue hanya berputar-putar komplek," keluh Kharis.

"Kharis!" Sebuah panggilan membuat Kharis menoleh ke belakang dan mata Kharis berbinar-binar. "Gue pikir bukan elu hahaha ... lu kenapa? Dekil begitu, mana bau lagi. Penampilan lu sudah seperti tikus kecebur got," ledeknya.

"Sialan lu ... jangan meledek. Gue sedang emosi ini," rutuk Kharis.

Bab 3

Risma terus mengayuh sepatu rodanya hingga dia berhenti di sebuah kafe yang tampak ramai pengunjung. Lalu Risma masuk ke dalam kafe dan mencari orang yang akan dia temui hari itu.

Manik mata Risma menangkap seseorang dengan baju warna kuning dengan bawahan jeans biru. Dia duduk di pojokan dekat meja Barista.

"Untung gue tepat waktu dan tidak terlambat," cicit Risma sambil mengatur napasnya pelan.

Risma melepas sepatu rodanya sebelum masuk ke dalam kafe, lalu dia melangkah mendekati wanita berbaju kuning tersebut.

"Bu Nila," sapa Risma. Wanita berbaju kuning itu mengangkat kepalanya dan menatap Risma.

"Aku kira kau tidak akan datang," balas wanita tersebut, "Duduklah!"

Risma meraih kursi dan menariknya ke belakang, lalu dia mendudukkan dirinya di sana.

"Telat semenit, mungkin kau tidak akan menemukanku dan akan aku menawarkannya pada orang lain," kata wanita yang bernama Nilawati dengan tegas.

"Ja-jangan begitu, Bu. Tadi ada suatu hal yang terjadi." Risma beralasan.

"Jadi?"

Nilawati memastikan kembali ucapan Risma. Wanita itu menatap gadis yang sedang duduk di depannya. Gadis cantik dengan rambut panjang sebahu itu membalas menatap Nilawati.

"Aku akan mengambilnya," ucap Risma meyakinkan.

"Baiklah," ucap Nilawati. Wanita paruh baya itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kunci, lalu menaruhnya di atas meja berdekatan dengan gelas Quick Berry miliknya. "Ini kuncinya." Nilawati memberi kode pada Risma.

"Hanya satu?" Risma merasa heran, "Biasanya ada beberapa kunci untuk cadangan," imbuhnya.

Nilawati menghela napas mendengarkan celotehan Risma.

"Kau bisa menduplikat kuncinya sendiri, tapi jika kau tidak mau aku tidak masalah. Jika hanya karena kunci dipermasalahkan dan kau membatalkannya, oke ... aku akan menawarkannya pada orang lain. Masih banyak kok yang mengantri di belakangmu."

"Eh, ja-jangan Bu. Oke, aku ambil ini." Risma segera meraih kunci yang tergeletak di atas meja sebelum wanita paruh baya itu berubah pikiran dan mengambilnya. "Aku ambil dan ini uangnya." Risma menyodorkan sebuah amplop putih.

"Bagus!" sahut Nilawati tersenyum puas dan menerima amplop putih dari Risma.

Nilawati membuka amplop tersebut, menghitung uang yang ada di dalam. Dia pun menganggukkan kepalanya.

"Deal!" Nilawati mengulurkan tangannya sebagai tanda transaksi telah berhasil. Risma membalas menatap wajah Nilawati, lalu tatapannya turun ke bawah.

"Terima kasih." Risma membalas uluran tangan wanita tersebut.

"Semoga betah, ya. Senang berbisnis denganmu, Ris." Nilawati beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Risma.

Gadis cantik dan tomboi itu masih duduk terdiam menatap kunci yang ada di dalam genggamannya, lalu dia melihat sisa uang yang ada di dalam amplop. Risma menghela napas menatap lembaran uang yang ada di dalam amplop.

"Hanya tersisa ini," keluh Risma, "Gue tidak mungkin pulang ke rumah. Apa kata Mama dan Papa. Ini sudah keputusan gue." Risma merenung sesaat. Memasukkan amplop kembali ke dalam tasnya, kemudian berdiri dan melangkah keluar dari kafe.

Risma duduk di sebuah kursi kayu di bawah pohon yang rindang. Menunduk dan mulai sibuk memakai sepatu rodanya. Kembali dia menghela napas, mengangkat kepalanya ke atas menatap langit siang yang begitu cukup terik.

"Seminggu lagi. Ah, kenapa gue jadi merasa frustrasi seperti ini," lirihnya pelan. Risma menggelengkan kepalanya, "Tidak-tidak ... gue tidak boleh mengeluh. Tidak ada kata mengeluh di dalam kamus gue."

Segeralah dia mengayuh sepatu rodanya menembus kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar. Tentunya dengan memperhitungkan keselamatan dirinya sendiri juga orang-orang di sekitar jalan.

💓💓

Berbicara tentang masalah hidup, tidak akan pernah ada hentinya. Manusia hidup di dunia tidak lepas dari masalah. Dalam kehidupan, masalah selalu datang silih berganti. Satu selesai, pasti akan datang masalah baru. Kita semua sejatinya manusia biasa. Kita bisa merasa senang, bisa juga berduka. Dalam hidup ini, kita juga bisa mengalami kebahagiaan atau penderitaan. Masalah dan kesulitan dalam hidup, sejatinya dialami semua manusia. Dengan jenis dan kadar yang berbeda, setiap orang pastinya punya masalahnya masing-masing.

Masalah adalah keadaan ketika apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Ya, hidup adalah kenyataan. Kenyataan adalah hidup. Hidup adalah kenyataan yang dipenuhi dengan banyak masalah. Masalah adalah pelangi yang mewarnai kehidupan kita semua. Hidup tanpa masalah adalah mustahil. Masalah akan selalu ada di manapun, kapanpun, dan besar ataupun kecil. Hidup tanpa masalah bagaikan sayur tanpa garam, karena sejatinya manusia hidup selalu berdampingan dengan masalah, dengan adanya masalah kita bisa menikmati manis asamnya kehidupan ini.

Begitu pun dengan Kharis. Pemuda berwajah tampan itu sedang terbelit masalah. Bukan masalah utang, tapi ini adalah masalah keluarga yang harus dia terima dan dia hadapi pada usianya yang baru menginjak remaja.

Kharis yang masih menumpang di tempat kos si Bagus, merasa sangat tersiksa. Baik lahir atau pun batin, tapi Kharis selalu bersabar dan terus bersabar, karena dia tidak tahu akan pergi ke mana jika dia harus pergi.

"Gus, lu kenapa jadi orang jorok sekali sih?" teriak Kharis yang merasa tidak nyaman melihat kamar kos yang dia tempati bersama dengan Bagus berantakan dan baunya sangat tidak enak. Baju-baju kotor yang berserakan di mana-mana, bahkan celana dalam banyak yang berceceran.

"Nanti gue akan merapikannya, kok," tutur Bagus santai.

"Ah, lu hanya ngomong doang. Yang ada gue juga yang merapikan dan membereskan kamar ini," rutuk Kharis.

"Tenang saja, nanti pasti gue rapikan," timpal Bagus yang masih dengan santainya bermain game.

"Baju kotor ya langsung dicuci, bukan malah disimpan seperti ini," teriak Kharis.

"Lu ini ya, lama-lama gue empet lihat lu," sindir Bagus.

"Kamar-kamar gue, jadi suka-suka gue dong. Lagi pula lu punya rumah kenapa tidak pulang saja sih?" imbuh Bagus.

Kata-kata Bagus benar-benar langsung menusuk hari Kharis.

"What? Sejak gue numpang di kamar lu ini, sudah dua puluh kali lu menyuruh gue pulang ke rumah. Lu ngusir gue?" bela Kharis. "Lagi pula gue juga ikut bayar kos ini." Sekali lagi Kharis membela haknya.

"Kalau lu memang merasa, ya sudah sana pulang."

"Iya, nanti gue bakal cari apartemen."

"Alhamdulillah ...." Bagus mengurut dada, dari raut wajahnya terlihat sangat lega mendengar pengakuan dari Kharis.

"Bagus!" teriak Kharis dengan nada panjang dan melempar pakaian kotor ke muka Bagus.

"Apa? Kenapa? Kalau lu tidak terima, sana pulang ke rumah. Lu punya rumah kenapa pakai acara kabur segala," sindir Bagus.

"Masalah buat lu?" balas Kharis.

"Sudah sana pulang. Lebih enak itu tinggal di rumah sendiri," celetuk Bagus.

"Nah ini--lebih enak rumah sendiri kan? Terus kenapa lu sewa kamar kos?" Kharis bertanya balik pada Bagus.

"Suka-suka gue dong. Gue kan nyewa kos, tidak seperti lu yang kabur dari rumah."

"Lu itu sebenarnya sahabat gue bukan sih? Kenapa suka sekali cari perkara sama gue?" Kharis melempar pakaian kotor lagi ke arah muka Bagus.

Begitulah hari-hari Kharis dan Bagus yang tinggal satu kamar di sebuah kost elite.

Bagus adalah teman sekaligus sahabat dekat Kharis. Keributan bagi mereka berdua sudah hal biasa.

Mereka berdua juga satu sekolah. Tidak heran setiap ribut pasti akan kembali akur seperti semula. Dua sahabat yang benar-benar seperti anjing dan kucing. Layaknya Tom and Jerry yang selalu bermain kejar-kejaran.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

KhaRisma

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED