Bab 1

Suasana pagi sehabis subuh sangat sejuk sekali. Terlihat pemandangan tiap pagi hari orang berbusana rapi menyandang kitab suci. Hilir mudik silih berganti untuk mengaji. Selain Farhan mengisi ngaji kitab setelah subuh. Dia juga ikut belajar mengaji kitab bersama Bapaknya yang kebetulan seorang Kiai.

"Farhan, Abi bangga memiliki anak laki-laki seperti kamu. Bagaimana tidak kamu yang baru pertama kali mengisi ngaji kitab kamu kelihatan sudah benar-benar menguasai materi," ucap Abi.

"Ah Abi bisa saja, Farhan masih tahap belajar. Bagusan Abi lah kan Abi udah senior sudah otomatis ilmunya banyak. Lah sedangkan Farhan cuman bisa sekedarnya saja," sahut Farhan.

"Farhan habis ini kamu ada waktu luang gak?" tanya Umi Fatihah.

"Farhan habis ini mau pergi ke perpustakaan kota Umi. Emang ada apa Mi?" jawab Farhan.

"Udah gapapa kalau kamu pingin ke perpustakaan. Umi cuman mau minta dianterin ke pasar," ucap Umi Fatihah.

"Ya udah gini aja Umi, Farhan akan antarkan Umi dulu ke pasar ntar habis antar Umi baru deh ke perpustakaan," sahut Farhan tersenyum.

"Gak usah Farhan ntar bisa repot kan kamu. Gampang lah Umi bisa naik angkutan," kata Umi Fatihah.

"Gapapa Umi Farhan gak keberatan sama sekali kalau harus ngantarin dulu ke pasar. Lagian Farhan ke perpustakaan cuman mau mengembalikan buku saja," lontar Farhan.

"Ya udah deh kalau kamu gak keberatan jam 10 antarkan Umi ke pasar," sambung Umi Fatihah.

Matahari lama-kelamaan terbit bersinar menerangi sampai rumah Farhan. Farhan sehabis mengajar ngaji tidak langsung tidur tapi dia menyibukkan diri siap berkutat di depan layar komputer. Kenapa Farhan menyibukkan diri di layar komputer tidak bersiap pergi kerja seperti yang lain? ya karena Farhan sendiri akhir-akhir ini sedang menunggu lowongan pekerjaan.

Sebagai pria tentunya dia malu jika terus-terusan minta uang saku kepada orang tua walau tidak menutup kemungkinan orang tuanya sendiri masih bersedia memberikan uang saku kepada anaknya.

"Mas Farhan lagi sibuk ya?" sapa Khalifa, adik Farhan satu-satunya yang masih duduk di sekolah TK.

"Eh Khalifa tumben jam segini udah bangun," jawab Farhan menoleh sembari mengusap rambutnya.

"Uda, soalnya tadi malam Khalifa bobok cepat jadinya Khalifa bisa bangun awal," ucap Khalifa mengucek kedua matanya.

Khalifa yang masih sedikit kucel keadaannya langsung meninggalkan Farhan menuju ruang TV. Terdengar suara Umi Fatihah terhadap Khalifa dari luar ruangan.

"Lho Sayangnya Umi ternyata uda bangun ya," sontak Umi Fatihah tak habisnya mengecup kening, pipi Khalifa yang masih khas bangun tidur.

"Umi, Khalifa mau minum susu," pinta Khalifa yang matanya fokus tertuju ke serial kartun Upin Ipin.

"Bentar ya Umi buatkan," jawab Umi Fatihah tersenyum lembut.

Setumpuk pesan email yang masuk ke dalam kotak masuk membuat Farhan tidak bisa beralih ke yang lain. Dia tidak ada waktu buat mengecek jam dinding yang sedari terus berputar.

"Farhan sudah dong ngerjain tugasnya. Sana makan dulu, sudah Umi siapkan," ajak Umi Fatihah.

"Ya Umi bentar lagi nih masih nanggung," jawab Farhan yang sesekali hanya menoleh.

"Baik, Umi tunggu di ruang makan. Jangan sampai lupa jam 10 ya antarkan Umi ke pasar. Kamu gak lupa kan?" sentil Umi Fatihah.

"Masya Allah hampir aja Farhan lupa. Makasih Umi sudah ingatkan Farhan yang pelupa ini," sahut Farhan menepuk jidatnya.

"Alhamdulillah akhirnya selesai juga email yang masuk," ungkap Farhan bersyukur.

Mberrrr ... mberrrr ....

"Abi, Umi berangkat ke pasar dulu sama Farhan," pamit Umi Fatihah.

"Ya Umi hati-hati," jawab Abi.

"Farhan bawa motornya jangan ngebut. Jangan lupa ikatkan pengaman helmnya juga," pesan Abi.

"Iya Abi, Farhan pamit dulu. Assalamualaikum," kata Farhan.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Abi.

Di jalan dia membawa motornya dengan pelan karena dia sendiri tahu kalau yang diboncengnya itu orang tuanya yang takut akan kecepatan tinggi.

"Farhan ntar Umi dianter sampai tempat pemberhentian angkutan aja. Kamu mau langsung pulang dulu atau mau tetap di situ? Oh ya katanya kamu tadi mau ke perpustakaan. Mending kamu langsung ke perpustakaan aja biar gak kesiangan. Ntar kalau udah selesai belanja Umi kabarin aja lewat telepon," kata Umi Fatihah.

"Tapi Umi beneran gapapa kalau Farhan gak bantu Umi bawakan belanja ntar punggungnya bisa kambuh lagi rasa nyerinya," jawab Farhan.

"Udah sana gapapa buruan!" seru Umi Fatihah.

Tanpa berfikir panjang Farhan langsung memutar balik motornya keluar dari area pasar. Waktu yang sudah terlihat siang membuat dia agak sedikit ngebut di jalanan sehingga tidak sengaja motornya menyerempet mobil mewah yang terparkir di parkiran perpustakaan.

"Innalilahi wa innailaihi rojiun," sontak Farhan tak sengaja menggores badan mobil bagian depan.

"Tuh orang ngapain dekat-dekat mobil aku. Hah," dengus Adelle melepas kacamata.

"Maaf Masnya ini mau ngapain ya dekat-dekat mobil me? Jangan-jangan mau maling ya," tuding Adelle tanpa melihat sosok ganteng Farhan.

"Ini Mbak saya tadi habis nabrak mobil ini tapi gak tau pemiliknya siapa," jawab Farhan.

"What, OMG please deh! tau gak kalo nih mobil harganya berapa. Aku pastikan kamu gak akan sanggup ganti kerugian mobil ini," ketus Adelle.

"Saya tau kalau ini mobil pasti harganya mahal tapi saya gak bisa lari dari tanggungjawab," jelas Farhan.

"Baik kalau kamu ingin tetap ngotot buat ganti perbaikan mobil ini. Aku bakal rinci semua kerusakan yang ada seperti body mobil yang tergores. Kalau ditaksir ini harganya bisa mencapai 350 juta," tandas Adelle.

"Apa 350 juta? saya dapat dari mana uang sebanyak itu. Masa tergores sedikit saja bisa nyampe segitu," lontar Farhan mengerutkan keningnya.

"Iya memang benar. Mobil yang kamu tabrak ini bukan sembarang mobil yang kamu temui di pasaran," kata Adelle.

"Gimana bisa ganti gak," sentil Adelle.

"Waoow very good. Ini pria benar-benar cool abis," gumam Adelle kagum.

"Baik insya Allah saya bersedia. Beri saya waktu," jawab Farhan.

"Oke aku kasih waktu 1 bulan. Eitszz serahkan dulu KTP kamu takutnya kamu kabur," ucap Adelle.

"Ini KTP saya Mbak, anggap saja ini sebagai jaminan saya jika saya berani kabur," kata Farhan.

"Oke!"

Setelah urusannya dengan Adelle selesai Farhan langsung masuk perpustakaan mengingat bentar lagi perpustakaan akan tutup.

"Ganteng juga ternyata, namanya agak keren, gayanya juga gak kampungan," puji Adelle tersenyum sendiri.

"Farhan Al Husayn." Adelle mengeja nama lengkap Farhan tanpa lepas dari melirik foto wajah Farhan.

***

"Farhan kamu habis dari mana saja? Umi dari telepon gak diangkat," kata Umi Fatihah.

"Maaf Umi Farhan tadi sempat ada kendala jadi sempat telat jemput," jawab Farhan menutupi.

"Kendala? bentar ini maksudnya kendala apa nih? kamu tadi di jalan baik-baik saja kan? gak kenapa-napa? apa kamu habis nabrak seseorang?" cerca Umi fatihah.

Saat mendengar kata "nabrak" berasa ngena banget di hati Farhan.

"Gak kok Umi. Pokomen Umi tenang saja. Umi tahu sendiri kalau Farhan di jalan gak ngebut," ucap Farhan.

Sesampainya di rumah Farhan membantu sang Umi membawakan belanjaan. Farhan kembali ke kamarnya tak sengaja hatinya ingin membuka buku diary miliknya.

"Telah lama sekali aku tak menyentuh diary ini," ucap Farhan mengusap buku diary penuh dengan debu.

Tok ... tok ....

"Farhan," panggil Abi.

"Dalem Abi," sahut Farhan.

"Tadi ada perempuan cantik datang ke sini ngasih Abi ini katanya buat kamu," lontar Abi menyerahkan sepucuk surat.

"Iya Abi terima kasih," kata Farhan.

"Perempuan cantik? apakah ini dari si perempuan yang aku tabrak mobilnya tadi," batin Farhan penasaran dengan isi surat.

Tulisan surat itu sangat rapi dan cantik seperti orang yang menulisnya. Di situ tanpa ada pengirim pena. Saat membaca tulisan surat itu tidak sadar Farhan terus tersenyum geli sendiri. Bahasa yang digunakan campur aduk sehingga menggelitik hati Farhan. Tangan Farhan rasanya gatal sekali ingin meluapkan isi hatinya pada secarik kertas. Sejak berprofesi sebagai penerjemah dia jarang banget membuka apalagi sampai menulis.

Keesokkan harinya Adelle datang ke rumah Farhan bersama sopir pribadinya. Mobil mewah yang masuk di halaman perkampungan membuat daya tarik tersendiri.

"Siapa perempuan itu?" cetus Ibu 1.

"Apa jangan-jangan pacar barunya Farhan," tebak Ibu 2.

"Maaf Mbak siapa? ada keperluan apa datang ke sini?" tanya Abi.

"Perkenalkan saya Adelle. Apa betul ini rumahnya Farhan?" sahut Adelle membaca kembali nama yang tertera di KTP.

"Iya betul. Mbak ini apakah teman kuliah anak saya?" ucap Abi.

"Eh, kamu mari silahkan masuk," sambut Farhan tak sengaja keluar.

Adelle menuruti perkataan Farhan untuk duduk. Mata Adelle tak luput dari pandangan seisi rumah Farhan. Rumah Farhan sangat sederhana yang hanya dipenuhi oleh lemari besar berisi kitab-kitab mengaji.

"Oh ya keperluan datang ke sini buat?" cetus Farhan.

"Sebenarnya kedatangan saya kemari cuman mau mengingatkan kamu buat ganti rugi kerusakan mobil saya. Ini aku datang ke sini juga ingin memberikan id card aku. Di situ tertulis nama, no telp, dan alamat lengkap aku soalnya kemarin aku buru-buru," celetuk Adelle menutupi gengsinya.

Tujuan Adelle sebenarnya hanya ingin bermain saja ke tempat Farhan tapi dia terhadap orang asing belum berani terbuka terlebih dia sebagai perempuan apabila mengatakan yang sebenarnya sama saja tidak memiliki harga diri.

"Terima kasih ya, kamu sudah mau merepotkan diri untuk datang ke sini," ungkap Farhan.

"Udah kalau gitu itu aja sih yang ingin aku sampaikan. Awas lho jangan sampai telat! kalau sampai telat aku bakal tambahin lagi dendanya," pesan Adelle langsung memasuki mobil.

"Siapa tadi Han? kelihatannya seperti bukan orang sembarangan," celetuk Abi.

"Bukan siapa-siapa kok Abi cuman sekedar teman saja," jawab polos Farhan padahal dianya sendiri gak tau siapa.

Di dalam mobil terlintas wajah Farhan pada bayangan Adelle. Tidak sangka ekspresi itu tertangkap oleh sopir pribadinya lewat spion mobil.

"Non Adelle kelihatannya lagi bahagia," celetuk sopir pribadinya.

"Apaan sih kepo aja sama urusan orang," timpal Adelle.

Bab 2

"Itu perempuan cantik-cantik unik juga," cicit Farhan.

"Farhan kenapa bengong? kamu naksir ya sama perempuan tadi," goda Abi.

"Apaan sih Abi, gak dong Abi. Farhan pingin menata hati dulu," jawab Farhan.

"Iya Farhan Abi cuman bercanda doang," cetus Abi.

"Tenang saja Abi Farhan tahu kok," ucap Farhan.

Di situ terlihat jelas kesibukan diantara mereka. Keluarga tersebut tidak ada kata lelah dalam hidupnya.

"Aduh gimana nih saya mana bisa ngumpulin duit 350 juta dalam satu bulan?" batin Farhan menggaruk kepala.

"Farhan, Umi lihatin dari tadi kelihatan bingung gitu. Lagi mikirin apa?" celetuk Umi Fatihah.

"Gak mikirin apa-apa Umi," jawab Farhan.

"Kelihatan dari raut wajah kamu lagi mikirin sesuatu. Curhat dong sama Umi mu ini. Kalau kamu merahasiakan sesuatu dari Umi ntar Umi kalau ada apa-apa gantian gak mau kasih tahu," ucap Umi Fatihah.

"Ya deh Farhan akan jujur. Sebenarnya Farhan lagi butuh uang 350 juta," lontar Farhan gugup.

"Apa 350 juta? uang segitu banyaknya mau buat apa Nang?" sontak Umi.

"Buat ganti rugi sama orang lain," jawab Farhan.

"Ganti rugi? maksudnya gimana Umi gak mudeng," sahut Umi Fatihah sesak dada.

"Tuhkan Umi jadi gitu. Farhan bilang juga apa," kata Farhan.

"Umi cuman shock aja dengar uang nyampe 300'an juta. Kamu utang sama orang lain?" timpal Umi Fatihah.

"Bukan Umi. Farhan waktu itu kena musibah saat di perpustakaan nyerempet mobil orang lain secara gak sengaja," terang Farhan.

"Astaghfirullah al'adzim terus orang yang kamu tabrak gimana? terus dia orang mana?" cerca nya.

"Gak ada yang luka untungnya cuman mobilnya saja yang lecet dikit," jawab Farhan.

"Syukur kalau gitu. Ngapain tuh si punya mobil minta ganti rugi sebanyak itu. Keterlaluan banget tuh orang main seenaknya meras orang kecil," geram Umi Fatihah.

"Umi yang sabar ya. Farhan akan coba cari pinjaman sama orang luar dulu," kata Farhan.

"Pinjaman orang luar mana Farhan. Mana ada orang mau pinjamkan segitu banyaknya," timpal Umi tidak habis pikir.

"Minta doanya saja Umi semoga dalam jangka waktu 1 bulan uangnya sudah ada," ucap Farhan.

"Iya Umi akan selalu doakan kamu. Ya sudah Umi mau ke depan dulu cari udara segar," kata Umi Fatihah menarik nafas.

Umi yang keluar dari ruangan Farhan berasa seperti habis keluar dari ruang operasi. Gimana tidak, orang Farhan sendiri masih memiliki utang yang harus dibayar sebanyak 350 juta. Sebagai seorang ibu tentu tidak tega jika anaknya harus terlilit hutang. Umi Fatihah terus berjalan ke depan tanpa menghiraukan apa yang ada di sekelilingnya.

"Umi, Umi," panggil Abi sampai 2 kali lalu menepuk pundaknya.

"Astaghfirullah. Maaf Abi Umi tadi sempat gak dengar kalau dipanggil," sahut Umi Fatihah.

"Umi lagi sakit ya? terlihat seperti gejala anemia saja," tebak Abi mengamati wajah istrinya.

"Abi ada uang gak?" celetuk Umi Fatihah.

"Oh uang. Tunggu bentar Abi ambilkan dulu," jawab Abi mengambil dompet di dalam saku celana.

"Ini," kata Abi menyerahkan pecahan uang 50 ribu.

"Abi bukan yang itu," dengus Umi Fatihah belum berani melontarkan kata 350 juta dari mulutnya

"Oh ya Abi baru ingat. Alhamdulillah hari ini Abi dapat komisi dari hasil Abi jadi makelar tanah. Gak banyak sih tapi setidaknya cukuplah buat kehidupan kita sekeluarga." Abi menyerahkan Amplop coklat berisi uang 15 juta.

"Masya Allah Abi banyak banget," sontak Umi Fatihah melongo.

"Tapi,-" Umi Fatihah menunduk lesu.

"Tapi apa lagi Umi? sebenarnya Umi itu ada apa? ngomongnya jangan setengah-setengah seperti lagi main tebak-tebakan sama anak kecil," cetus Abi.

"Umi lagi butuh uang buat nolongin anak kita si Farhan. Kasihan dia lagi kena musibah dan sial," terang Umi Fatihah membuka suara.

"Farhan sial? maksudnya Umi bilang barusan apa ada kata musibah dan sial. Hubungannya dengan Farhan apa?" kata Abi.

Umi menjelaskan apa yang sedang tertimpa pada putra sulungnya. Saat mendengar cerita dari sang istri hampir tidak percaya kalau anaknya sampai diperas oleh orang lain. Sempat ada perasaan tidak terima tapi tidak ingin menjadikan Farhan sebagai pengecut. Jadi dia menginginkan supaya Farhan bisa menggantikan kerugian itu secepatnya.

"Gimana ya Umi? nanti Abi bantu mikir gimana caranya?" jawab Abi nyantai sembari menghisap rokok Vape.

"Iya Abi, Umi pusing banget soalnya," sahut Umi Fatihah memijat keningnya.

Abi tidaklah seperti umi Fatihah yang hanya bisa berdiam diri di rumah. Walau umi Fatihah orang supel tapi dia sedikit sekali channel pertemanan tidak seperti Abi.

"Haryanto, kamu tau gak sekarang di mana yang bisa pinjam kan uang soalnya lagi butuh banget buat anak saya," ucap Abi.

"Oohh Pak Kiai mau pinjam uang ya. Kalau boleh tau berapa Pak Kiai? insya Allah akan saya pinjamkan," celetuk Haryanto.

"350 juta. Kamu ada uang segitu banyaknya?" tanya Abi.

"Waaduhhh 350 juta ya Pak Kiai," sontak Haryanto auto melotot.

"Uang segitu saya juga gak pernah lihat jumlahnya seberapa. Apalagi punya," decak batin Haryanto seakan ingin menarik kembali omongannya.

"Gimana? apakah kamu bersedia pinjam kan saya? kamu gak usah khawatir saya bakal ganti secepatnya," ucap Abi.

"Anu Pak Kiai bukannya saya gak mau pinjamkan atau gak percaya tapi sesungguhnya saya gak punya uang sebesar itu. Saya pikir tadi cuman 350 ribu," ceplos Haryanto nyengir.

"Eaallah Haryanto ... Haryanto. Padahal tadi saya sudah senang banget kalau kamu bakal pinjamkan ke saya," sahut Abi.

"Hehehe maaf Pak Kiai tapi tenang saja saya punya channel Pak Kiai. Jadi dia itu kerja di bank suka menawarkan hutang. Gak perlu risau Pak Kiai masalah bunga. Bunga cuman 15 % saja," tutur Haryanto.

"Jangan yang bank dong. Jujur saya gak berani jika berurusan sama bank. Takut gak bisa lunasi," jawab Abi.

"Bentar Pak Kiai saya coba telepon kan teman saya dulu," cetus Haryanto.

"Emang teman mu kerjanya di mana?" tanya Abi.

"Dia itu kerjanya buka arisan di rumah. Jadi gini Pak Kiai sistem operasionalnya ada orang yang hutang nanti si hutang itu dimasukkan ke dalam daftar arisan. Terus bisa bayarnya lewat arisan. Misal gini cara gampangnya aku pinjam duit 10 juta ke teman saya terus nama saya langsung dimasukkan ke dalam daftar arisan. Ntar habis itu sudah otomatis saya bisa nyicil lewat tagihan arisan tiap hari. Dari sananya jelasin semisal jika pinjaman ada 10 juta maka dapat dijangkau jatuh tempo 2,5 tahun. Berarti ikut arisannya yang jangka pendek. Setelah utang terlunasi terserah si utang masih tetap lanjut arisan atau tidak," papar Haryanto.

"Kalau yang ini saya setuju. Gak kelihatan memberatkan," sahut Abi.

Haryanto sama siapapun sangat menolong sekali apalagi sama tokoh masyarakat seperti pak kiai sudah otomatis sikap tawadhu nya ada. Terdengar dari seberang sana suara khas perempuan. Perbincangan Haryanto dengan teman perempuan cukup lama. Melalui loud speaker pak kiai mendengarkan penjelasan dari temannya yang pada intinya sama.

Keesokan harinya Haryanto mengantarkan tak biaya ke tempat teman itu. Teman Haryanto itu bernama Reyna. Sejak dari dulu Reyna sudah menawarkan hutang dengan sistem arisan itu berawal ketika waktu itu Reyna merasa kesulitan saat ingin mencari uang buat pengobatan ayahnya. Berdasarkan pengalaman Reyna saat berusia 15 tahun sudah pernah berhutang di bank. Di Bank bunga yang didapat sangatlah banyak. Terasa bagi orang biasa seperti Reyna yang hanya bekerja sebagai buruh menyetrika baju. Bayaran yang didapat sangatlah sedikit. Hanya cukup memenuhi kebutuhan hidupnya. Belum lagi harus menanggung uang sekolah. Jangka waktu yang diberikan kepada bank selama 2 tahun dengan angsuran 850/bulan. Waktu setengah tahun Reyna bisa membayar cicilan+bunga tapi saat masuk 2 tahun Reyna merasa terlunta-lunta hampir membuat rumahnya tersita. Untung dia mengikuti arisan bulanan yang bisa diambil saat butuh. Kejadian itu muncul ide kreatif dengan cara membuka utangan dengan sistem arisan.

"Assalamualaikum Reyna," sapa Haryanto.

"Waalaikumsalam. Sabar tunggu sebentar," jawab Reyna.

"Eh, Haryanto mari silahkan masuk. Kamu datang ke sini ingin membicarakan arisan itu kan?" celetuk Reyna.

"Betul sekali, tapi saya hanya yang mengantarkan saja. Sebenarnya Pak Kiai berminat ikut arisan model seperti itu," kata Reyhan.

"Oh ya bentar saya ambil brosur dulu," kata Reyna beranjak.

Tidak lama kemudian Reyna datang.

"Ini brosurnya. Monggo silahkan bisa dilihat dulu," ucap Reyna menyodorkannya.

"Ini maksudnya gimana ya kok ada paket silver, platinum segala?" tanya Abi.

"Ini maksudnya klo bapak ikutnya yang platinum sudah otomatis bapak dapat tambahan bonus sembako sedangkan untuk yang silver kebalikannya dengan platinum," jelas Reyna.

"Angsuran cicilan berapa Mbak?" tanya Pak Kiai.

"Bapak mau ambil yang paket apa dulu nih?" tanya balik Reyna.

"Mau yang silver aja Mbak," jawab Pak Kiai.

"Benar ni Pak gak pingin ngambil yang platinum," bujuk Reyna.

"Gak ah Mbak."

"Baik Pak. Kira-kira bapak mau pinjam berapa?"

"350 juta Mbak."

"Kalau pinjam di atas 100 juta mending ikut yang platinum aja lho Pak Kiai. Eman-eman ntar Pak Kiai gak bisa dapat bonus sembako," kata Reyna.

"Angsuran 150 ribu/hari. Kalau sudah selesai hutangnya terserah boleh ikut arisan lagi atau tidaknya dan bakal ada tambahan bonus. Apabila dalam jangka tempo bapak sudah bisa melunasi Bapak akan mendapatkan hadiah elektronik bebas. Ada setrika, dan hp bapak bisa pilih sesukanya. Jika berminat bisa diisi formulirnya dulu Pak dan tanda tangan di atas materai," kata Reyna.

Sehabis memikirkan segalanya pak kiai langsung menyetujui ketentuan itu. Uang pinjaman tidak butuh waktu lama sudah bisa cair.

"Assalamualaikum Farhan katanya kamu lagi butuh duit banyak buat lunasi hutang. Ini Abi sudah ada uangnya," ujar Abi.

"Masya Allah Abi dapat uang sebanyak itu dari mana?" tanya Farhan.

"Abi, ini uang siapa? pinjam ke siapa Abi," cerca Umi Fatihah tidak sengaja mendengar.

"Abi pinjam sama seseorang Umi tapi tenang tidak ada bunganya. Ini juga super ringan karena angsurannya melalui ikut arisan."

"Emang ada ya Abi jaman sekarang seenak ini?" sontak Umi.

"Hati-hati loh Abi jaman sekarang banyak penipuan," sambung Farhan.

"Gak kok ini pinjam sama teman Haryanto," jawab Abi.

Bab 3

"Haryanto siapa Abi? teman Abi kah?" cetus Farhan.

"Haryanto itu lho tetangga kita yang bapaknya mantan pegawai kelurahan. Masa kamu gak kenal sih?" sahut Abi.

"Bentar-bentar anaknya pak Rahmat kan?" sahut Umi Fatihah.

"Betul itu. Tuh Umi tahu," kata Abi.

"Emang Haryanto sekarang ngutang-ngutangin kerajaannya?" kata Umi Fatihah.

"Abi uda bilang kalau temannya yang memberi pinjaman," kata Abi.

"Oh ya lupa. Maaflah namanya juga sudah tua," ucap Umi Fatihah tersipu malu.

"Uda Farhan ini uangnya. Selesaikan urusan mu sama tuh orang," kata Abi.

"Baik Abi, Terima kasih." Farhan memeluk Abi dengan perasaan haru.

Farhan langsung menelpon Adelle mengajak ketemuan untuk mengganti rugi kerusakan mobil. Saat hendak menelpon Farhan tidak menjumpai id card milik Adelle. Ternyata Id card yang pernah dikasih itu sempat ditaruh di dalam saku baju. Masih untung baju itu belum masuk ke rendaman baju.

"Assalamualaikum," sapa Farhan.

"Iya, ini siapa ya?" tanya Adelle.

"Ini saya Farhan yang pas itu tidak sengaja sempat nabrak mobil Mbaknya waktu di perpustakaan. Masih ingat kah?" jawab Farhan.

"Masih-masih, ada apa telpon aku? uangnya sudah ada kah?" sahut Adelle.

"Alhamdulillah sudah ada Mbak. Kalau bisa dan waktu senggang boleh kah saya ke rumah Mbaknya?" kata Farhan.

"Yeeess, asyik aku bakal ketemu sama cowok manis kayak dia lagi. Eitssz aku kok jadi deg-degan gini ya tapi kalau aku bolehin dia datang ke rumah ntar dia bisa GR lagi," batin Adelle memikirkan cara.

"Halo Mbak. Apakah masih di sana. Maaf nih kalau ganggu," cetus Farhan sedari tadi terdiam menunggu jawaban Adelle.

"Oke, kita ketemuan di resto. Ntar aku whatshapp. Punya whatshapp kan?" lontar Adelle.

"Iya Mbak saya punya. Akan saya tunggu kiriman alamatnya," kata Farhan.

Triitt ... (bunyi pesan masuk dari Adelle)

"Aku tunggu kedatangannya di resto ikatan cinta dekat pantai besok jam 10 pagi. Kamu gak usah khawatir saya sudah pesankan tempatnya," tulis Adelle dengan emoticon smile.

"Iya insya Allah saya akan datang menemui Mbaknya," balas Reyhan datar.

Adelle sangat sekali akan berjumpa dengan Farhan. Dia nampak sibuk memilah baju yang ada di lemari. Namanya juga orang kaya sudah pasti memiliki lemari banyak berukuran besar. Baju yang dia miliki berjumlah ratusan biji.

"Haduuh ... aku besok harus pakai baju apa? masa iya sih aku pakai pakaian minim gini," keluh Adelle menghela nafas.

"Ya ampun Sayang, ini kenapa baju mesti diobrak-abrik sih. Emang kamu mau cari apa?" sontak Mamanya mengangkat baju yang tercecer.

"Adelle kesal Ma, bajunya gak ada yang bagus," dengus Adelle memutar bola matanya.

"Hah? emang baju seperti apa yang kamu mau? ini baju bagus-bagus semua lho. Ini lagi masih baru kemarin beli di Paris kan?" ucap Adelle.

"Aduuhh Mama. Mama gak tahu sih," jawab Adelle malas.

"Terserah deh Mama pusing sama kamu. Oh ya datang ke sini cuman mau bilang besok jam 9 pagi ada janji dinner bareng rekan bisnis Papa mu," ujar Mamanya Adelle.

"Jangan lupa dandan yang cantik. Ingat jam 9 pagi uda siap. Boboknya jangan larut malam ntar besok bisa molor lagi," imbuh Mamanya Adelle.

"Tapi Ma,- ucap Adelle terputus keburu bayangan Mamanya sudah hilang.

"Tuh kan Mama main seenaknya sendiri," ucap Adelle memanyunkan bibirnya.

Semalaman Adelle gak bisa tidur dan terus memikirkan rencana untuk bisa kabur dari acara dinner itu. Kalau tidak kabur Mamanya sudah pasti maksa untuk ikut terlebih lagi Papanya yang keras kepala tidak mau menerima alasan Adelle. Dia dari malam hari sudah memasang alarm jam 6 pagi agar besok bisa langsung keluar rumah.

***

Pagi hari pun tiba alarm terus berdering mengusik tidur Adelle. Sebenarnya Adelle yang mempunyai kebiasaan bangun siang sulit sekali buat bangun pagi. Badannya terasa berat sekali saat bangun.

"Huwaaa ...." Adelle menguap, menggeliat dan terus mengacak rambutnya.

"Masih ngantuk nih," lirih Adelle bermain ponselnya dengan tujuan menghilangkan rasa kantuknya.

Keluarga Nicholas memiliki rutinitas kebiasaan bangun 7 pagi. Kesibukan masing-masing anggota keluarganya sangat sulit bagi mereka untuk memantau kegiatan mereka tersendiri.

Dari pemberitaan media televisi dikabarkan bahwa kondisi waktu itu kota berada pada suhu -19 derajat Celcius membuat dirinya tidak bisa berendam busa di bathtub. Dia hanya mandi biasa menggunakan air hangat.

"Aduuhh ini uda jam berapa nih?" Adelle melirik ke arah jam weker sembari mengeringkan rambutnya hair dryer.

Setelah kemarin melakukan seleksi pemilihan baju maka pilihannya jatuh pada model baju tunik. Butuh waktu 1/2 jam Adelle sudah siap tampil cantik.

"Aku mesti buru-buru nih. Bentar lagi papa mama bangun. Bisa kena investigasi keluarga nanti," gumam Adelle berjalan pelan menuruni anak tangga.

"Non, pagi begini mau ke mana," celetuk ART.

"Huh, Bibi bikin kaget aku aja. Sini kamu," timpal Adelle.

"Iya Non," jawab ART.

"Adelle mau minta tolong sama bibi," kata Adelle.

"Minta tolong apa nih Non?" tanya ART.

"Gini Bibi saya ini ada janji sama teman di luar rumah. Saya minta sama Bibi jika papa mama tanya bilang saja bibi pagi ini tidak melihat saya keluar kamar," bisik Adelle.

"Tapi Non, saya tidak berani takut dimarahin Tuan," kata ART.

"Ayok dong Bibi tolong Adelle kali ini. Ini ada uang buat bibi anggap saja sebagai tip karena sudah menolong saya," pinta Adelle memasang wajah melas.

ART Adelle sudah berkerja di rumah itu sejak Adelle berumur 2 tahun. Kedekatan antara Adelle dengan ART tidak ada celah sedikitpun. Adelle telah menganggap ART itu seperti anggota keluarganya. Saat sedih Adelle terkadang tidak sungkan buat curhat. Walau terdapat perbedaan status sosial tapi tidak lantas membuat Adelle membedakan.

"Iya deh Non tapi benar ya ini yang terakhir nyuruh bibi buat bohongi mama papa," lontar ART tidak kuasa menolak.

"Oke Bibi beres itu urusan gampang. See you Bibi," ucap Adelle melepas senyum.

"Ya Allah Gusti maafkan hamba telah banyak berbohong," kata ART.

Namanya juga orang kaya apapun selalu diawasi. Sampai gerbang keluar rumah aja sudah ada secruty yang mulai melontarkan pertanyaan.

"Maaf Non, pagi ini saya ditugaskan Tuan mencegat Non saat keluar rumah. Beliau juga bilang kalau Non hari ini mulai boleh keluar hanya dengan keluarga Non," kata Security.

Adelle sebagai majikan telah hafal betul karakter masing-masing bawahannya. Pak security penjaga gerbang memiliki karakter sulit dibujuk dengan apapun bahkan dia tidak segan melapor tingkah laku Adelle.

"Ide apa lagi ya? ini bapak-bapak sulit banget disuap," batin Adelle mulai tidak tenang.

"Aaahhaa ... aku punya ide mending aku pura-pura suruh ambil aja minuman di dapur. Tuh bapak-bapak pasti gak berani nolak majikan. Kalau nolak mau minta dipecat apa," batin Adelle.

"Bapak security saya mau minta tolong dong ambilkan aku minuman. Saya capek harus bolak-balik ke dapur," perintah Adelle.

"Siap laksanakan!" seru security seraya hormat.

"Yes, akhirnya tuh security pergi juga," ungkap Adelle lega.

"Giliran ambil kunci. Mana ya," kata Adelle mencari di pos satpam.

Banyak kunci yang digandeng menjadi satu dengan kunci lain membuat Adelle merasa kesulitan. Dengan kecerdasan yang dia miliki dimanfaatkan untuk memikirkan kunci mana yang kira-kira cocok.

"Wahai kunci gerbang utama tunjukkan pesona mu!" seru Adelle layaknya membaca mantra.

Kreekk .... (pintu gerbang terbuka secara perlahan)

Adelle mengendap seperti maling demi lolos dari rumah. Eh tidak tahunya malah melihat kakak laki-laki nya pulang dari joging pagi. Dia baru ingat ternyata hari ini weekend.

"Mampus deh aku!" cicit Adelle menutup wajahnya dengan daun.

Adelle berjalan melewati kakaknya. Kakaknya ternyata melihatnya lalu memperhatikan tingkah aneh perempuan yang ternyata adiknya.

"Mbak hello Mbak emang lagi hujan ya pakai ditutupi segala atau wajahnya lagi kurapan," ledek Kakak Adelle.

"Sial tuh Kakak kalau saat ini aku gak nyamar udah pasti aku tonjok," gumam Adelle.

Adelle langsung bergegas pergi menunggu taksi di depan komplek perumahannya.

"Eh Mbak tunggu, kita kan belum sempat kenalan," ucap Kakak Adelle terdengar samar di telinga Adelle tapi dia tetap menoleh sampai sedikit pun menoleh.

Jalan di ibu kota jakarta sangatlah padat terutama pada hari weekend. Banyak masyarakat yang pergi berlibur ke luar kota bahkan ke puncak. Taksi yang ditumpangi Adelle mau tidak mau harus menunggu sampai kondisi jalan renggang.

"Maaf ini Mbak kayaknya macetnya bakal lama. Gimana Mbaknya mau tetap nunggu di taksi atau mau cari ojek? terserah Mbak aja enaknya gimana," ujar sopir taksi.

"Kira-kira bisa nyampe berapa jam Pak?" tanya Adelle.

"Kurang tahu itu Mbak. Pas itu paling cepat 1/2 jam udah jalan," jawab sopir taksi.

"Ya udah deh aku tunggu saja lagian ini belum jam 09.30," lontar Adelle.

Lama Adelle menunggu di dalam taksi membuat dia menjadi boring.

"Pak sebenarnya di depan lagi ada apa sih? tumben macet parah banget gini. Apa gak ada jalan alternatif lain?" cerca Adelle menahan sumpek.

"Lho Mbaknya gak tau tho kalau pagi ini ada konser akbar band dari artis ibu kota," kata sopir taksi.

"Oohh pantesan," lirih Adelle menarik kaca mobil.

Dari jendela mobil Adelle melihat anggota keluarga yang miris banget bahkan diantara ada anak kecil yang seharusnya menikmati masa bermainnya malah mengemis di jalan. Tidak terasa air mata jatuh membasahi pipinya.

Seiring berjalannya jam perjalanan macetnya bisa menghantarkan Adelle ke tempat ketemuannya dengan Farhan. Farhan yang naik motor membuat dirinya nyampe duluan ke sana.

"Hey, kamu Farhan kan?" sapa Adelle.

"Iya betul. Pasti Mbaknya Adelle," sahut Farhan.

"Hmmm." Adelle mengagukkan kepala.

"Maaf ya telat datang soalnya di jalan macet," kata Adelle.

"Gapapa. Oh ya Mbak langsung saja ini saya mau mengantarkan uang ganti rugi," ujar Farhan.

Adelle yang melihat kesungguhan Farhan mengembalikan uang sebanyak itu membuat Adelle menjadi sosok pendiam.

"Ayok Mbak diambil. Kenapa masih bengong saja," ucap Farhan.

"Baik, tapi saya sekarang kayaknya sudah gak butuh uang ganti rugi ini," jawab Adelle.

"Kenapa Mbak bukannya waktu itu Mbak ngotot pingin minta ganti rugi," kata Farhan.

"Iya soalnya mobil saya ternyata waktu perbaikan gak nyampai segitu. Maafkan saya kalau waktu itu terkesan meras," ucap Adelle.

"Oohh ya udah deh, terima kasih Mbak sebelumnya. Alhamdulillah akhirnya saya bisa gunakan buat keperluan lain yang lebih penting," ceplos Farhan.

"Keperluan penting apa maksudnya?" tanya Adelle.

Farhan lantas tidak menjawabnya dan langsung pergi. Di sisi lain Adelle dibikin penasaran dengan uang itu yang akan dibawa ke mana oleh Farhan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED