"Tolong, tolong jangan lakukan ini padaku tuan, aku .... aku
mohon ... hiks hiks hiks." Gadis berjilbab hijau toska itu memohon kepada
Rajendra dengan wajah yang sudah memerah.
"Kau, kau menikmatinya bukan? Kenapa kau harus jual mahal hemmz...," Ucap Rajendra menyeringai. Tangan
besarnya meremas daging sekal pada dada gadis itu, yang seketika desahan terdengar sangat menggiurkan pada gendang telinga Rajendra.
"Akh .... ja .... ngan .... ja .... Ngan ... Sst," berusahamempertahankan kesadarannya gadis itu tetap melakukan penolakan. Rajendra yang mendengar penolakan gadis itu merasa terhina, harga dirinya merasa terlukai, seketika tangan besarnya mencengkram rahang gadis tersebut dengan sorat tajamnya, mata hitam itu menyalakan kemarahan yang berkobar.
"Berani sekali kau menolakku. Siapa kau, hingga berani beraninya menolak seorang Rajendra Antariksa." Kemarahan Rajendra terdengar menggema dalam ruangan VIP yang ia sewa dan kemudian di akhiri dengan
membanting tubuh gadis ramping itu keatas kasur.
"Kita akan melakukan malam panjang di sini pelacur, jadi lakukan tugasmu dengan baik." Rajendra dengan nada dinginnya.
"Tidaaak, tidaaakkk, jangan jangan lakukan ini padaku, aku
bukan pelacur, aku bukan pelacur, tidaaakkk." Teriaknya histeris kemudian gadis itu menangis dengan pilu.
"Hah, Haah, Haah...," Rajendara terbangun dari tidurnya, tarikan nafasnya memburu seperti habis berlari puluhan kilo meter. Sudah sembilan tahun ini mimpi buruk itu selalu menghantui. Teriakan histeris ,
desahan yang menggairahkan, tangisan pilu silih berganti setiap malamnya, tak ada lagi kenikmatan kasur empuk berukuran king size mewah yang Rajendra rasakan dalam waktu sembilan tahun ini.
"Amara, maafkan aku. Munculah ... Amara, aku akan menyerahkan hidupku kepadamu." Rajendra mendesah lirih, ia melirik jam yang berada di atas nakas, masih jam 2.30 pagi berarti ia hanya terlelap 2.30
menit saja. Dan setelahnya ia tidak akan bisa tidur nyenyak seperti biasa.
****
Pagi ini Rajendra kembali menghubungi Maxim sahabatnya saat di Dubai, mereka berdua bersahabat saat sama-sama sekolah di sana, Maxim adalah laki laki berkebangsaan Belanda yang menetap di Inggris.
"Morning Max, any news abouth my girl Max?" Tanya Rajendra. Ini adalah tahun kesembilan ia mencari jejak Amara. Ia bahkan sudah menguntit semua keluarga Amara selama bertahun tahun, namun hasilnya nihil. Empat tahun yang lalu Maxim sempat mendapatkan jejak Amara, sanyangnya ia dan Maxim
terlambat. Amara sudah menyadari kedatangannya terlebih dahulu hingga ia kembali kehilangan jejaknya.
"I'm Sorry, Rajendra." Ucapan itu sudah empat tahun ini ia dengar dari Maxim. Tak pernah berubah seperti kaset rusak yang di putar berulang-ulang.
"Oke, i have to work even harder, maybe." Ucap Rajendra
kemudian menutup telfonnya. Rajendara mengusap wajahnya dengan kasar.
"Amara dimana kamu sayang, Ampuni aku."
*****
"Ka, kita buat kerjasama lagi dengan Biyandra Hadyan Ibrahim, usahakan proyek kita dia yang mendapatkan tendernya.” Ucap Rajendra kepada Nayaka adik sepupunya.
"Bian lagi?" Tanya Nayaka, pasalnya sudah tujuh tahun ini
Rajendra seakan akan mengikuti perusahaan Bian.
"Iya, hasil kerjasamanya selama ini sangat memuaskan." Ucap Rajendra.
"Nepotismemu terlalu lama Jendra." Nayaka menatap Rajendra dengan tatapan curiga.
"Itu urusanku, urusi saja apa yang aku minta." Ucap Rajendra dingin.
"Kau tidak sedang mengejar Cinta Bian bukan? Kau belok?" Ucap Nayaka namun kemudian Nayaka mengangkat tangannya pertanda ia menyerah, laki laki yang bergelar sepupu Rajendra itu keluar dari ruang sang CEO begitumelihat wajah Rajendra sudah memerah karena marah.
"Beruang marah!” Teriak Nayaka sambil lari terbirit-birit begitu
mendengar teriakan menyeramkan dari mulut Rajendra
***"
Rajendra menekan kedua tangan gadis itu di atas kepalanya, pemberontakan gadis itu semakin membuatnya marah.
''Brengsek, dasar pelacur murahan, rasakan ini, kau menikmatinya bukan?'' Ucap Rajendra tubuh besarnya mengungkung gadis ramping di bawahnya, melakukan penetrasi dengan brutal, Rajendra memungut bibir merah muda gadis itu dengan kasar, rasa anyir darah tak ia hiraukan.
''Aakhh .... kau nikmat sekali sayang, kau menjepitku .... kau, .... pelacur! Kau menjepit, kau nikmat sekalihh .... Ohhggg!" Desahan Rajendra bersamaan dengan nafasnya yang memburu. laki laki berwajah kaukasia itu mengeram mendapatkan pelepasan dan bersamaan dengan itu pula matanya terbuka, mimpi, ia masih tetap bemimpi.
"Amara, lama lama aku bisa gila Amara ...," Desah Rajendra, kali ini ia merasakan basah di area selangkanganya, mimpinya kali ini sedikit membuat kepalanya terasa sedikit lebih ringan.
****
''Jendra, Ibu sudah memberikan waktu kepadamu untuk mencari pasangan sendiri, jika dalam enam bulan ini kamu belum mendapatkannya, Ibu yang akan mencarikannya." Ucap Bu Laras dengan lembut, perempuan asli jawa itu memang sangat menjunjung tinggi tata krama dan budi pekerti.
Rajendra menatap ibunya dengan dingin lalu meletakkan sendok dan garpu yang di pegangnya. Bangkit berdiri tampa sepatah katapun.
''Salah lagi ibuk to lee .... umurmu iku wes telung puluh pitu.'' Gumamnya lalu mengangkat kepalanya menolehkan kepada laki laki asli Pakistan yang menikahinya.
''Sorry Dad." Ucapnya sambil tersenym hambar.
''Jangan membiasakan membahas hal berat di meja makan Buk." Ucapnya Dingin.
''njih Dad.'' Ucapnya pelan, dalam hati ia menggerutu, Bapak dan anaknya sama, sama sama kulkas 3 pintu. "Dingin!" Gerutunya dalam hati.
****
''Tuan, siang nanti ada meeting dengan direksi di Rumah Sakit Medica, kemarin lusa Tuan sudah mengkonfirmasi untuk hadir." Hugo pagi ini mengingatkan Rajendra kembali tentang jadwal jadwal hari ini seperti biasa. Dua hari lalu Rajendra dan Hugo sudah tiba di Jawa Timur untuk mengontrol beberapa jenis Usaha yang di bangun Rajendra di daerah itu.
''Oke, materinya sudah aku lihat, ada beberapa alat medis yang harus di Upgrade, aku sudah meminta list harga kepada mitra kita di Sngapura, Jerman dan Jepang serta China sebagai perbandingan kwalitas dan harga, kita bicarakan nanti di forum." Ucap Rajendra.
Laki laki itu turun dari mobil Rolls Royce Phantom berwarna hitam menambah kesan mewah dan tak tersentuh padanya semakin lekat. Mata tajamnya menatap lurus kedepan menandakan ia tak terlalu peduli dengan apa yang ada di sekitarnya.
Brukkk, seorang anak laki laki sekira umur delapan atau sepuluh tahun menabraknya , bocah itu mengaduh memegang pantatnya yang beradu dengan lantai. Mata tajam mereka saling bersiborok, mereka berdua sama sama terkejut, dunia seakan berhenti bergerak, Rajendra dan bocah itu sama-sama mematung tak bergerak. Hugo yang berada di belakang Rajendra sudah bersiap dengan kemarahan dan teriakan Rajendra seperti biasanya jika ada yang tak sesuai dengan kemauan si Tuan Arogant, namun seketika Hugo di buat terkejut dengan apa yang di lakukan Rajndra, laki laki dingin bergelar kulkas empat pintu itu berjongkok membantu sang bocah untuk bangun namun sang bocah dengan pongahnya menolak dengan cara menepis kasar tangan Rajendra. Membuat Rajendra dan juga Hugo terkesiap.
''Kamu, kamu tidak apa apa Nak?'' Tanya Rajendra tergagap. Bocah itu mengibas ngibaskan tangannya ke celananya membersihkan debu-debu lantai yang menempel. Melihat itu Rajendra berinisiatif membantunya namun sekali lagi tangan bocah itu menepis tangannya dengan kasar.
''Jangan berani beraninya tangan kotormu menyentuhku!'' Desisnya. Rajendra mengerutkan keningnya ia merasa bahwa bocah tampan di depannya ini menganggap bahwa ia merupakan musuh besarnya menilik dari sikap kasarnya.
"Siapa kamu?" lirih Rajendra
''Siapa Namamu Nak?'' Rajendra bertanya kepada bocah tampan di depannya, hatinya bedesir, kenapa wajah bocah ini sama dengan wajahnya. Hugo yang berada di belakangnya mengerutkan kening dan terkejut dengan sikap Rajendra yang terkenal dingin dan angkuh itu berbicara sedikit lunak kepada bocah tampan di depannya. Kali ini bukan hanya Rajendra yang terkejut melihat wajah bocah itu, Hugo pun seperti melihat hantu, bagaimana tidak, lihatlah bukan hanya wajahnya yang mirip gaya berdirinya pun mereka juga sama, angkuh dan terlihat tak tersentuh. Hanya yang membedakan adalah yang satu versi dewasa dan yang satu versi anak anak.
''Siapa kau?'' Ucap bocah itu dengan angkuh, membuat Hugo tersedak ludahnya sendiri. lihatnlah sifat angkuhnya Rajendra sekali, sama persis.
''Mana sopan santunmu? Kenapa kau tidak sopan kepada yang lebih tua?'' Ucap Rajendra dingin ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
''Cihhh, tak sudi aku bersopan santun dengan bajingan tengik sepertimu!'' Desis bocah itu lalu dengan tenangnya meninggalkan Rajendra yang seketika tertegun, Rajendra memegang dadanya, kenapa rasanya berdesir dan membahagiakan bertemu dengan bocah itu. Siapa dia sebenarnya. Sedang Hugo yang berada di belakangnya melogo karena terkejut dengan sikap dan cara bicara bocah tampan itu. "Rajendra sekali!" kata kata itu berputar seperti kaset rusak dalam kepala Hugo.
''Aku, Batas Cakrawala tak pernah mengampunimu Rajendra Antariksa!'' Sumpah bocah itu dalam diam saat memandang Rajendra yang berjalan dengan gagah di iringi Hugo di belakangnya layaknya prajurit mengawal pangerannya. "Ciih Norak sekali!"
****
"Hugo, kau minta orang-orang kita untuk menyelidiki bocah tengil tadi," perintah Rajendra pada Hugo asisten pribadinya yang juga merupakansahabatnya.
"Hah, kau mau apa?Mau mengangkatnya anak?" Tanya Hugo cego.
"Lakukan perintahku tampa banyak tanya!"
Dan Hugo kicep, ia sedang malas berdebat dengan bos arogannya.
****
Rajendra tak bisa berkonsentrasi dalam meeting kali ini, pikiranya selalu mengingat bocah nan tampan tapi tak sopan itu. siapa dia, ia sangat penasaran, rasanya ia sangat menyesal kenapa tak menanyakan siapa nama bocah itu.
''Bagaimana Tuan?'' Tanya kepala rumah sakit kepada Rajendra. Sontak saja wajah yang biasanya dingin tak tersentuh itu tergagap, laki laki berwajah kaukasia itu tersentak dari lamunannya.
''Tuan merasa tidak enak badan?'' Tanya kepala rumah sakit begitu melihat wajah Rajendra tidak seperti biasanya.
''Tidak, lanjut saja.'' Jawab Rajendra.
''Jika Tuan Rajendra merasa tidak enak badan saya bersedia memeriksa anda, Tuan.'' Ucap seorang Dokter perempuan berpenampilan seksi yang sejak tadi berusaha menebar jaring-jaring pesona pada si Tuan Kaya Raya.
"Tuan kita harus mengapdate bebrapa perlatan kita -"
''Ya, aku sudah melihatnya, sekarang presentasikan kepadaku alat-alat yang kau ajukan berdasarkan kelebihan, kelemahan dan perbedaan harga antara produk yang sama degan buatan perusahaan yang berbeda dan berbagai negara.'' Ucap Rajendra. Kemudian kepala rumah sakit dan bagian pengadaan barang menjelaskan secara terperinci tentang alat medis sesaui kebutuhan mereka.
''Seberapa Urgent alat untu penyakit A di bandingkan dengan alat untuk penyakit B?" Tanya Rajendra.
''Sama sama Urgent Tuan, untuk sebuah penyakit kita berkejaran dengan waktu," Jawab kepala rumah sakit.
Rajendra menganggukkan kepalanya lalu berkata .''Minta bagian kepala Divisi Pengadaan Barang dan Jasa menyiapkan pengajuannya, RAB dan BEPnya.''
''Siap Tuan,'' Kepala rumah sakit berdiri menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepada Rajendra yang kemudian di ikuti oleh seluruh anggota meeting siang ini.
''Meeting kedepan semoga anggota meeting harus berpakaian sopan, ini Rumah Sakit bukan Rumah Bordil.'' Ucap Rajendra Dingin.
''Baik Tuan,'' jawab Kepala Rumah Sakit gugup dan ketakutan.
Rajendra kemudian menegakkan badannya berdiri pertanda urusannya sudah selesai, keluarnya Rajendra dari ruang meeting membuat semua anggota meeting bernafas lega yang sedari tadi dalam keadaan tagang.
*****
Rajendra tidak bisa berkonsentrasi sejak ia bertemu dengan bocah tampan bermata almond itu, berkali kali ia berusaha mengeyahkan bayangan bocah tampan itu namun selalu gagal. shit, umpatnya. ia tak bisa berkonsentrasi sama sekali.
Rajendra mengangkat tangannya yang tadi sempat menyentuh lengan bocah tampan itu, ia ingat bagaimana rasanya seperti ada gesekan magnet saat itu, manarik hatinya untuk menghangat, namun mata almond dengan tatapan penuh kemarahan dan penuh dendam itu membuatnya berfikir keras. ''Wajahnya sangat mirip denganku, ada rasa tak biasa saat aku mnyentuhnya, apa jangan-jangan dia anakku?'' Bisiknya dalam hati.
''Bocah itu sangat pemberani sekali,'' lirihnya lagi. ia ingat bagaimana bocah tampan itu berkata dengan lantang.
''Cihh! tak sudi aku bersopan santun pada bajingan tengik sepertimu!'' Ucapnya dengan penuh kemarahan saat iya bertanya tentang sopan santun padanya.
''Bajingan? Aku bajingan, bajingan tengik,'' gumam Rajendra.
''Seumur hidupku hanya ada satu orang yang mengatakan itu padaku, hanya dia dan sekarang bocah tampan Itu,'' gumamnya lagi, ia berfikir keras.
''Hugo kenapa belum ada kabar, bukannya aku sudah memintanya mencari informasi tentang bocah itu,'' gumamnya lagi. Sedari pagi laki-laki berwajah angkuh dan tak tersentuh itu bolak balik berdiri, duduk serta mondar mandir dalam ruangannya dengan gelisah, ini kali kedua ia di buat gelisah untuk kedua kalinya setalah yang pertama di sebabkan oleh Perempuan yang membuat hatinya bergetar untuk pertama kalinya namun ia rusak dengan kejam dan begis tampa sengaja.
Tangan besarnya mengambil phosel yang tergeletak di atas meja, lalu mendial sebuah nomor. ''Hugo, hasilnya?'' Ucapnya setelah panggilan tersambung tampa mnegucap salam dan basa basi pada orang yang di hubunginya.
''Bodoh! Kalau kau gagal lagi, enyah kau!'' Suara Bassnya menggelegar membuat Hugo asistennya di seberang sana berjengit kaget lalu melemparkan phonselnya kelantai dengan tak sengaja karena terkejut.
sementara Rajendra membanting Phonselnya ke lantai hingga pecah menjadi bebrapa bagian, lalu menelungkupkan wajahnya di atas meja. '' My Amor, kau dimana, aku bisa Gila karena lelah mencarimu ''.
****
hari sudah beranjak sore saat Rajendra bersiap untuk pulang, seharian ini ia berkantor di rumah sakit Antariksa cabang jawa timur, Rumah sakit tipe A yang menjadi rujukan dari beberapa rumah sakit daerah itu terbilang rumah sakit swasta yang cukup mewah walaupun tidak terletak di ibu kota propinsi.
"Siapkan smeua berkas-berkanya jangan sampai ada ynag tertinggal! Aku tidak mau buang-buang waktu karena keteledorannmu lagi!" Rajendra mempringatkan Hugo karena bebrapa hari lalu ia harus mengencel jadawal meetingnya karena keteledoran asisiten pribadinya itu.
"Siap, Tuan." Hugo menjawab dengan malas-malasan dari belakang Rajendra.
"Hugo!!!" terikan Rajendra menggema di ruangannya membuat Hugo terjengat kaget.
"Iya, iya." jawab Hugo dengan kencang. "Heran gue perasaan matanya ada di depan kenapa juga ia bisa melihatku yang ada di belakangnya, apa jangan-jangan ia memasang kaca spion," Hugo bermonolog dalam hati, iya benar-benar kesal karena tadi handphonanya rusak akibat jatuh karena ia kaget.
****
''Rolls Royce Phantom seharga 24 millyard, bagus sekali Rajendra kau bisa hidup mewah sedang ibuku bekerja menjadi clining service mengosek WC!'' Gumam Cakra memandang mobil Rajendra yang keluar dari halaman rumah sakit dari jendela ruang rawat VIP Atuknya dengan tajam dan penuh dendam.
Rajendra tidur dengan gelisah, kembali ia di hantui mimpi buruk tentang Amara, bagaimana ia memaksanya dan melakukan penetrasi dengan kasarnya hingga membuat perempuan cantik itu menjerit histeris kemudian manangis dengan pilu.
''My Amor ampuni aku, jika kita bertemu akau kan berlutut kepadamu, aku bersedia menjadi budakmu, asal kau mau berada di sampingku dan memaafkanku.'' Gumamnya.
Rajendra mengusap keringat dingin pada keningnya, dingannya AC yang terpasang di kamar apartementnya tidak membuat ia mengingil kedinginan, justru Rajendra menggigil ketakutan dan menjerit memanggil nama Amara dengan keringat bercucuran. Rajendra melihat jam yang di taruh di atas nakas, jam 3 pagi. ia mendesah, lagi-lagi ia tidur hanya tiga jam itupun dengan bantuan obat tidur. Yah, selam sembilan tahun ini ia selalu mengkonsumsi obat tidur yang di resepkan Profesor Lucas untuknya, seorang Dokter atau Profesr senior di luar Negeri tempatnya berkonsultasi, karena ia tidak mungkin mengkosultasikan masalahnya pada sembarang Dokter di dalam Negeri mengingat permasalahannya sangat riskan dan akan di manfaatkan oleh musuh-musuh serta saingan Bisnisnya, bisa-bisa di jadikan senjata untuk menyerangnya. Kejadian buruk sembilan tahun yang lalupun tidak ada yang tau termasuk orang tua atau keluarganya, hanya Profesor Lucas seorang yang Rajendra percaya hingga kini.
****
Rajendra berkeliling menyusuri Wisata Alam Natural Park miliknya di atar Manager yang menghandle Wisata Alam Natural Park, Usaha ini ia bangun empat tahun lalu setelah mendengar dari Maxim jika Amara sepertinya punya anak darinya, Rajendra bermimpi anaknya di manapun berada bisa bermain dengan bahagia seperti anak-anak yang berkunjung ke taman Wisata Alam miliknya. Ada rasa hangat saat ia melihat beberapa anak beserta para orang tuanya bermain bersama, keadaan memang sedikit sepi karena ini weekday. Saat Rajendra berkeliling mata hitam tajamnya menangkap sosok bocah yang di lihatnya beberapa hari lalu di rumah sakit, Rajendra tidak mengenalnya tapi ia penasaran dengannya. Aahh,Bocah tampan .... kenapa bocah tampan itu seperti bayangannya saja, ini sudah kali kedua ia bertemu dengannya, sedang Hugo belum bisa memberikan kabar siapa sebenarnya bocah tampan yang membuatnya penasaran setangah mati hingga mmebuatnya tak bisa tidur semalaman. Rajendra melihat tiga bocah itu sedang berebut untuk mencoba segala macam wahana permainan yang ada di wisata Alam Natural Park dengan ceria. Tawa dan teriakan bahagia memenuhi bagian area Wisata Alam Natual Park miliknya, Rajendra mengerutkan keningnya ia terheran heran saat melihat laki laki bertato yang sedang mengawasi tiga bocah itu, Rajendra sangat tau siapa laki laki itu, dia salah satu Preman yang sangat di segani di kota ini dan sekitar kota dimana Amara tinggal walaupun preman itu sudah Insyaf, Rajendra tau betul bahwa preman ini merupakan orang kepercayaan Satya, adik Amara. Hati Rajendra berdebar, apa hubungannya bocah tampan itu dengan Satya, Insting tajam Rajendra mulai bekerja, ia yakin bocah tampan itu ada hubungannya dengan dirinya, perlahan Rajendra mendekat tampa sepengtahuan laki laki bertato itu, ia memunggungi laki laki bertato itu juga para bocah bocah itu, Rajendra hanya ingin mencuri dengar, berpura-pura sedang membaca berkas tapi telinganya terpasang tajam, ia sedang mencari klu apa yang bisa ia tangkap hari ini untuk bocah tampan yang wajahnya mirip dengannya seratus persen tapi menatapnya penuh dendam saat bertemu dengannya.
"Mas Rafi," panggil salah satu bocah itu, membuat Rajendra penasaran yang mana yang namanya Rafi apa bocah tampan itu yang namanya Rafi? lalu terdengar lagi panggilan "Adik Bagas," Ahha mungkin dia namanya Bagas, lalu trdengar lagi teriakan "Mas Cakra," Cakra berarti ini si tengah, sedang besarnya bocah tampan itu sama dengan satu bocah lainnya, saat sedang berfikir keras ternyata tiga anak itu sudah pindah permainan membuat Rajendra sedikit ketinggalan langkah mereka, dari kejauhan dapat Rajendra lihat mereka berhenti pada permainan Flaying Fox dan dapat Rajendra lihat bahwa bocah tampan itu sedang ngotot mau bermain Flaying Fox yang sepertinya di larang oleh dua anak lainnya dan juga si mantan preman bertato. Rajendra, hatinya tiba-tiba merasa sangat khawatir dengan kengototan bocah tampan itu, ia mendekat agar bisa melihat bagaimnana antusiasnya si bocah tampan itu untuk bermain Flaying Fox dan tidak mau di Tundem.
''Aku tidak mau tandem, aku mau sendiri!'' Teriak bocah tampan Itu.
''Harus Tandem Mas, bahaya jika sendiri, belum cukup umur,'' Ucap mantan preman bertato itu dengan suara yang di lmbut-lembutkan, sangat kentara sekali bahwa ia sangat menghormati sang bocah.
''Sendiri, aku berani!'' Jawabnya dengan lugas.
''Ya sudah kita tidak jadi main, Pulang!'' Ucap si mantan Preman bertato itu tegas membuat bocah tampan itu matanya berkilat marah.
''Iya, tidak jadi main!'' teriaknya lalu membanting beberapa alat Safety Flaying Fox yang di pegangnya dengan kasar, kemudian bocah ia berlari sangat cepat meninggalkan dua temannya dan juga si mantan Preman bertato, membuat mereka dan juga Rajendra ketakutan.
''Mas Cakra!, Mas ...,'' panggil sang mantan Premana bertato.
''Mas Cakra,''
'' Cakra,''
Panggilan bersahutan itu membuat Rajendra tertegun, ''Cakra, namanya Cakra,'' gumam Rajendra hatinya menghangat. ''Cakra,'' Rajemdra mengulang-ulang menyebut nama Cakra.
Dan tiba tiba ia terbelalak saat panggilan untuk Cakra menggema , bocah tampan itu rupanya benar benar kabur karena marah membuat kedua teman dan si mantan preman kalang kabut. Rajendra duduk di tempat yang teduh, lalu membuka laptop yang di simpan dalam tasnya, mengecek cctv di seluruh sudut Wisata Alam Natural Park, hingga ia terbelalak saat melihat bocah itu manuju bukit yang pembangunanya belum selesai, di sana masih sangat sepi dan juga berada di ketinggian. Rajendra meninggalkan Tas dan Laptonya begitu saja, ia berlari menuju bukit dimana bocah itu berada.
Setelah berada pada posisi yang sangat dekat Rajendra memelankan langkahnya, namun kerikil-kerikil yang di injak sepatunya tetap menimbulkan bunyi hingga bocah tampan yang baru di ketahui bernama Cakra itu menoleh padanya. Mata Almond bocah itu terbelalak menatap tajam Rajendra.
''Kau ...,'' Jari telunjuk bocah itu mengacung pada wajah Rajendra, tepat lurus di wajahnya walau jarak mereka tidak begitu dekat, kurang lebih satu setangah meter, karena Posisi Cakra berada di tempat yang lebih tinggi sedang Rajendra berada pada tempat yang Rendah hingga wajah mereka yang serupa itu bisa sejajar, membuat Rajendra tertegun, ia seperti bercermin.
''Sedang apa kau disini? Mau membunuhku?'' Desis Cakra. membuat Rajendra terkesiap, terkejut dengan kata kata tajam bocah tampan di depannya ini namun ia tetap berusaha untuk bersikap tenang, tangan besarnya menyingkirkan telunjuk kecil Cakra, seketika hatinya merasa hangat,berdesir saat kulitnya bersentuhan dengan bagian tubuh Cakra, telunjuk kecilnya.