Pernah malas sekolah karena dimusuhi satu circle?
Seperti seorang gadis yang saat ini berdiri di samping podium seorang diri. Ia menunduk dalam tak kuasa menerima terpaan sinar mentari yang begitu menyengat.
Padahal sedari tadi ia hanya diam tanpa ada sepatah kata dan tindakan apapun. Namun karenanya pula seluruh siswa yang menghadiri upacara Senin pagi ini mendemo pihak guru bagian pengurus OSIS. Hingga OSIS tahun lalu turun tangan mengamankan para siswa yang semakin ricuh.
Ketika sudah tenang, bu Rani selaku guru pembimbing OSIS berdiri di atas podium untuk menyampaikan beberapa hal. Semua yang telah beliau sampaikan sangatlah masuk akal, tapi tetap saja para siswa tak setuju akan hal itu. Lebih tepatnya mereka tak mau menerima.
Kerumunan siswa dibubarkan setelah mereka dinyatakan kalah telak dalam argumen. Akhirnya dengan terpaksa menerima keputusan sepihak oleh pembimbing OSIS tahun ini.
Sementara seorang gadis yang menjadi alasan kericuhan tetap terlihat tenang. Bola mata coklat terang yang indah itu melirik sekilas ke arah lelaki tampan satu angkatan dengannya di sekolah ini.
Ke-duanya saling berjabat tangan dan berjanji akan mensukseskan sekolah bersama. Tak lupa pula bagian dokumentasi memotret momen itu.
Gadis bernama lengkap Eva Nur Shafaah itu bedeham pelan. Sedikit mendongak untuk menatap wajah ganteng lawan bicaranya ini. Kelopaknya menyipit akibat terpaan cahaya mentari pagi.
"Banyak yang bilang gue sama lo bertolak belakang. Gue yang dikenal cewek pemalu dan gak pandai bergaul. Sedangkan lo cowok dingin dan cuek sama sekitar."
Jeda sejenak. Saat ini Eva mencoba mengatur detak jantungnya yang berpacu kelewat cepat entah memburu apa. Eva yang kurang bisa bergaul hanya punya empat orang teman semasa hidupnya. Semuanya segender. Jadi jujur, baru kali ini Eva berbicara sedalam ini pada seorang cowok.
Merasa gadis di depannya ini tak jua melanjutkan ucapannya yang terhenti, cowok berkulit putih bersih kemerah-merahan bernama lengkap Brian Adam Girikan itu menaikkan sebelah alis dengan tatapan merunduk ke bawah demi dapat melihatnya.
"Jadi?" Suara Adam yang berat akhirnya mengudara.
Hal yang membuat lamunan Eva buyar seketika. Berdiri berdepanan begini membuat perbedaan warna kulit mereka tampak kentara. Eva yang kuning langsat sedikit kecoklatan dan cowok itu justru putih bersih. Eva yang sedikit pesek sedangkan cowok itu dikaruniai hidung mancung. Alis dan bulu mata tebal berwarna hitam. Indah sekali dipadukan dengan kulitnya yang seputih susu. Meski demikian ia selalu tampak cool di setiap saat. Ketika olahraga perut sixpack-nya begitu tercetak jelas oleh keringat. Dia pejantan perkasa walau kulitnya seputih susu.
Menyudahi pemikiran membanding-bandingkan diri, Eva menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Masih mengusahakan diri untuk tetap tenang. Tak ingin terlihat gugup hingga bertindak bodoh di depan Adam.
"Jadi gimana bisa kita kerja sama secara totalitas buat mensukseskan sekolah sedangkan kita bertolak belakang?"
Adam mendengkus. "Bisa kalo kita kerja profesional."
Eva langsung mengerti. Cewek itu mengangguk pelan. Ternyata begini, ya? Profesional yang Adam maksud ialah tidak menyangkutpautkan urusan pribadi dengan project OSIS yang akan mereka kerjakan ke depan.
Menatap lamat wajah cowok itu, Eva tak ingin pembicaraan ini hanya sampai di sini saja. Dirinya menginginkan lebih lama. Karena suatu alasan yang jelas. Kelemahannya yang kurang bisa bergaul sering kali membuat Eva kagok sendiri ketika menjalin hubungan pendekatan dengan seseorang. Rasa tak nyaman seketika melingkupi sanubari meski Eva sudah mengusahakan semaksimal mungkin.
Dan saat ini Eva tengah berusaha menampik itu semua. Tak mau mengacaukan project ini dengan miskomunikasi karena buruknya ia ketika bersosial.
"Lo nggak masalah?" Eva bertanya penuh kehati-hatian.
Adam berdecih mendengarnya. Cowok berkulit putih bersih itu mengendikkan bahu. "Gue gak ngerti lo lagi bahas apa."
Ungkapan yang membuat Eva meringis pelan. Dengan ragu Eva menjelaskan. "Yang selama ini digadang-gadangkan sebagai ketos kan lo. Tapi tadi pas pelantikan justru gue yang naik jabatan dan lo turun."
Eva perhatikan sedari tadi raut cowok itu tak berubah. Tetap setia tampilkan wajah datarnya. "Mending lo pikirin nasib lo sendiri ke depannya. Gue rasa hati lo masih berfungsi buat ngerasain sakit. Posisi lo gak diinginkan di sini. Paham?"
"Iya, gue dibenci sama satu circle," ujar Eva murung. "Circle-nya satu sekolahan," lanjutnya lagi. Tapi kali ini senyuman tipis bertengger indah di bibir peach miliknya.
Hal yang membuat Adam termangu. Bisa-bisanya gadis itu tersenyum padahal sudah jelas satu sekolah menolak keberadaannya. Siapa yang tak tahu? Eva anak beasiswa. Ia yatim. Ibunya bekerja sebagai penjual kue di pasar. Latar belakang yang rendah bagi siswa Taruna Bangsa yang notabane-nya adalah anak para pebisnis kaya raya.
Jika Eva jadi ketos, mereka semua tak sudi berada di bawah kekuasaan si gadis miskin itu. Bahkan kompak untuk menjadi murid pembangkang dan tak peduli lagi pada kebijakan OSIS yang sekarang.
Pertentangan yang mereka lakukan di lapangan tadi ditentang balik oleh bu Rani hingga seluruh siswa kalah telak kehabisan argumen untuk melawan. Karena pada dasarnya Eva memang layak memegang jabatan ini.
Adam berdecih. "Bangga lo dibenci sesekolahan?"
Mata indah coklat terang gadis itu akhirnya menatap tajam lawan bicaranya. Melawan Adam yang memborbardir ungkapan sarkas padanya sedari tadi.
"Gue gak pernah mendaftarkan diri jadi OSIS melainkan ditunjuk langsung sama bu Rani. Mereka yang koar-koar di lapangan demi gagalnya pelantikan gue sebagai ketos akhirnya bungkam 'kan? Lo tau artinya apa? Karena emang gak ada yang pantes pegang jabatan ini kecuali gue!"
Setelahnya Eva beranjak pergi dari sana meninggalkan Adam yang terpukau mendengar ucapan Eva yang penuh angkuh tadi. Sampai sini sepertinya Adam sudah bisa menyimpulkan. Alasan Eva tak punya banyak teman selain karena ia tak pandai bergaul, gadis itu juga tak bisa mengerem mulutnya untuk menjaga keramah-tamahan pada sesama. Lihatlah bibir peach-nya tadi. Dalam satu kali pertemuan ia sudah bisa mengeluarkan suara malu-malu kucing, lalu gugup, kemudian tersenyum tipis, sampai tadi ia mengeluarkan kata-kata tajam menusuk hati.
Meski dari keluarga tak punya Eva menjunjung tinggi harga diri. Ia pantang tersentil meski sedikit saja. Mereka membangga-banggakan harta orang tua, maka Eva membanggakan kemampuannya sendiri!
Jadi, siapa yang lebih berkualitas?
***
Seorang gadis berseragam SMA Taruna Bangsa, mengenakan pashmina menutup kepala dengan model khasnya yakni melilit leher kemudian terikat rapih di bagian belakang sedang berdiri di depan pintu bertuliskan 'XII IPS 2'. Dipelukannya terdapat sebuah absen.
Pintu itu tertutup hingga menimbulkan senyap. Hampir seluruh ruangan SMA TB memang didesain kedap suara. Kelas ini menjadi salah satunya.
Gadis yang tiada bukan adalah Eva si ketos baru itu menekan knop pintu. Tanpa salam ia membukanya perlahan hingga timbulkan decitan. Suara yang sukses menarik atensi hingga suasana kelas yang tadinya berisik seketika menghening dengan pandangan yang kompak tertuju ke arah pintu masuk.
"Anjir! Gue kira guru tadi!" Salah seorang siswi berbandana maroon yang kebetulan duduk paling depan dekat pintu mengumpat. Rautnya sinis.
"Lo gak sendiri, Bro!" Cowok dengan dasi yang terikat di dahinya menyahut. Tangannya menepuk sok asik bahu cewek tadi yang langsung mendapat pelototan dari sang empu.
"Gak usah megang-megang, Babi!"
"Sensi amat. Pms lo?"
"Bukan urusan lo!"
Sudahlah, ruangan kembali riuh. Eva menyudahi acara menyaksikan drama tersebut. Ia mengedar pandang. Mendapati tak ada seorang pun memperhatikannya.
"Minggir!" Suara berat dengan intonasi angkuh menyapa indera pendengaran Eva. Belum sempat gadis itu menoleh ke belakang, tubuhnya sudah lebih dulu terhuyung. Nyaris tersungkur jika saja Eva tak sigap menyeimbangkan diri.
Detik setelahnya laki-laki paling berkuasa di sekolah ini melewatinya begitu saja. Disusul anggota geng terkenal seantero Jaksel ini yang berada di bawah kendali cowok tadi. Namanya Artanabil Hibrizi. Ketua geng Kompeni, sang legendaris yang telah berdiri sejak setengah abad silam. Selain itu ia juga merupakan cucu Arif Wijaya, pemilik SMA Taruna Bangsa. Sekolah terfavorit yang menjadi incaran para siswa, guru, dan orang tua.
Semuanya berlomba-lomba memasukkan anak mereka ke sekolah paling bergengsi se-Indonesia ini. Bukan sekolah internasional, tetapi prestasinya harum semerbak sampai ke seluruh dunia. Tak jarang dalam ajang perlombaan tingkat dunia, Taruna Bangsa merupakan sekolah dengan utusan paling banyak mewakili Indonesia.
Masuknya anggota inti Kompeni ke dalam kelas ini benar-benar menarik perhatian semua orang.
"Badan lo mungil? Disenggol langsung sempoyongan tidak?" Adelion Bramasta, cowok yang kerap dipanggil Yoyon itu menyuarakan tanya dengan nada khas sound yang tengah viral saat ini di aplikasi TikTok.
"Tidak?!" katanya terpekik histeris. "Ahh lemah!!" Demi mendalami peran, setelah berkata demikian Yoyon langsung berjoget pargoy dengan musik manual yang keluar dari mulutnya sendiri.
Cowok dengan jabatan sebagai wakil ketua geng Kompeni bernama lengkap Reza Pahlevi yang saat ini berdiri di sebelah Yoyon langsung menggeplak keras kepala cowok itu. "Gak usah ngedesah goblok!!"
Salahkan saja ia yang menggunakan pashmina dengan model melilit leher hingga masing-masing ujungnya menjuntai di belakang. Tubuhnya mundur dan kepala gadis itu mendongak mengikuti tarikan pada ujung kain panjang itu.
Ia memegang erat pashmina-nya yang menjuntai di belakang. Mempertahankan diri agar tak tertarik lebih jauh. Nyatanya kalah juga karena semakin melawan semakin terasa mencekik leher.
"Lepasin!" Ia mencerca. Ingin menoleh ke belakang, tapi lilitan di lehernya terlalu kencang hingga tak dapat gerakan kepala.
Di belakang sana salah satu anggota inti Kompeni yang bergelar sebagai perundung paling sadis seantero TB. Kabarnya beberapa anak yang menjadi korban memilih keluar dari SMA incaran ini demi kelangsungan hidup yang aman dan tenang.
Namanya Rehan Gunandya. Cowok itu bersandar di pintu dengan jemari tangan kanan mengetuk-etuk satu pahanya sendiri yang diposisikan menekuk. Sedangkan tangan kirinya menarik jilbab cewek dari kelas 11. Seorang adik kelas yang masuk sendiri ke dalam sini.
Ya, Rehanlah pelakunya.
Melihat cewek itu mundur dengan langkah yang tersendat-sendat seolah suatu kesenangan tersendiri untuknya. Tak heran ia mendapat gelar seorang pembuli paling sadis. Nyatanya ia memang suka menyiksa orang.
Seorang cowok bertubuh tinggi dengan kelopak menyipit tajam, tetapi bola mata hitamnya tampak lebar dan berkilau. Ia juga merupakan anggota inti Kompeni yang posisinya berjalan paling belakang tadi. Tak heran ia masuk paling terakhir. Arion Gazelle nama lengkapnya.
Ari berhenti tepat di pintu masuk melihat temannya yang sedang berulah. Siapa lagi jika bukan Rehan? Tangan Ari yang kekar menyentuh kepalan Rehan yang menggenggam ujung jilbab seorang cewek yang bukan anggota kelas ini.
"Lepas, Bro. Kasian," tuturnya.
Rehan mendengkus. Namun ia tetap menurut akan ucapan sahabatnya itu. Melepaskan genggamannya pada ujung jilbab gadis yang menjadi mainannya sesaat membuat sang empu detik itu juga menoleh ke belakang.
Eva melotot kesal pada kakel yang baru saja menjailinya tanpa dosa itu. "Rusak jilbab gue!" geram Eva sangat kesal. Tak takut sama sekali menunjukkan ekspresi kesalnya pada Rehan. Jiwa-jiwa penakut tak layak menjadi ketua OSIS!
Memakai jilbab dengan mempertahankan ciri khas serta berusaha untuk tampil rapih bukanlah hal gampang. Lantas mudah saja Rehan menghancurkan itu semua?!
Merasa tak dapat respon balik, Eva mengabaikan hal itu. Ia mengedar pandang dan bertanya cukup kencang. "Ketua kelasnya mana?"
Sayangnya beberapa detik berlalu tak ada sahutan. Eva benar-benar diabaikan membuat gadis itu terpancing emosinya sendiri. Malas teriak-teriak, ia mendatangi kakel berbandana marron tadi.
"Kak, ketua kelasnya mana?"
"Gak tau." Cewek itu menyahut ketus dan sangat cuek.
Sumpah demi apapun Eva juga sama muaknya. Sejujurnya absen yang ia bawa ini milik kelas ini 'kan? Tapi seakan-akan jadi Eva yang butuh sekali untuk meminta tolong mereka menyimpannya.
"Kemana?" tanya Eva lagi dengan datar. Tak tahu saja di bawah sana tangannya mengepal menahan emosinya yang hendak meluap-luap.
"Gak tau!" Agak ngegas. Pun kali ini pernyataannya penuh penekanan. Sepertinya kesal Eva tanyai terus sedari tadi.
Wah! Tidak tahu terima kasih sekali anak kelas satu ini, ya. Masih berbaik hati Eva membawakan absen ini pada mereka. Bisa saja Eva menolak ketika bu Minah menyuruh tadi 'kan?
"Gue nanya baik-baik lo bisa jawab baik-baik juga nggak?" bisik Eva emosi. "Ngegas mulu perasaan."
Kakel itu menatap Eva sangsi. "Apaan sih!" sinisnya balik. "Lo nanya mulu dari tadi! Gue udah bilang nggak tau 'kan? Ya berarti gue nggak tau! Dekel pantek!"
Tak disangka bisikan Eva tadi disahut sangat kasar. Ia meneriaki Eva hingga mereka berdua menjadi pusat perhatian satu kelas. Termasuk inti Kompeni menatap mereka juga.
Demi apapun tangan Eva gatal ingin banting absen ini di depan meja guru. Akan tetapi niat tersebut urung mengingat ada Kompeni di kelas ini. Gerombolan orang paling berkuasa di TB. Pastinya akan sangat segan sekali berlaku sesuka hati di depan mereka.
Sepertinya cewek ini termasuk orang yang ditakuti di kelas ini. Mungkin iya? Lihat saja Eva perhatikan sedari tadi ia sangat toxic dan sesuka hati sekali ketika bicara. Tak hanya pada Eva, tapi juga anak kelas ini.
Brak!
Dengan emosi yang meluap-lupa Eva membanting absen tersebut tepat di depan wajah cewek itu. Tak peduli dia kakak kelas. Tak peduli budaya senioritas. Tak peduli juga posisinya sebagai apa di sini. Kalau songong begini Eva tak mau menye-menye. Asal dia bukan termasuk Kompeni, Eva berani melawan karena sekolahnya pasti tetap aman.
"Anj! Maksud lo apa?!" Cewek itu berdiri dengan mata melotot murka.
Eva mendengus remeh melihatnya. "Nitip absen. Tolong kasihin ke ketua kelas!" Setelah bicara dengan tegas serta artikulasi yang jelas, Eva keluar dari kelas itu.
***
Suara pijakan pada undakan tangga terdengar membuat Zahra si wanita berkepala empat, tapi tetap saja cantik itu menoleh menampilkan sosok putra tampannya yang telah siap dengan seragam. Rambut semrawut menutupi sebagian dahi. Mata tajam berlensa abu-abu, hidung mancung serta tubuh proporsional. Sungguh manifestasi yang sempurna.
Dia Arta.
Tersenyum tipis untuk sang mami ketika tatapan mereka bertemu. Kemudian ia mendekat lalu menyematkan sebuah kecupan ringan di dahi wanita yang hanya setinggi bahunya tersebut.
Cup
Zahra tersenyum lebar menyambutnya. Setelahnya Arta menarik kursi untuk ia duduki.
"Morning, Boy." Dia Zaki-kepala keluarga di rumah ini. Lelaki itu telah siap dengan pakaian formalnya bersiap untuk ke kantor di pagi hari.
"Too." Arta menyahut sapaan sang papi.
"Arta mau sarapan pakai apa, Sayang?" Kali ini Zahra yang bertanya. Ia selalu siap melayani kebutuhan suami juga anak-anaknya walau memiliki pembantu.
"Samain kayak papi aja, Mi," tuturnya.
Segera Zahra menyiapkannya. Arta duduk diam memperhatikan pergerakan maminya yang begitu cekatan itu. Hanya 30 detik saja kini piring itu sudah disajikan di hadapannya.
"More?"
"Emm." Arta bergeleng menggumam. "Done."
Zahra mengangguk dan membiarkan putra sulungnya itu makan sendiri. Tatapan matanya terus terarah pada tangga, tentunya menunggu kedatangan sang putri bungsu yang selalu terlambat setiap pagi.
"Itu anak udah bangun belum sih?" decak Zahra memberengut kesal.
"Tadi Mami bangunin dia bangun nggak?" Sang suami bertanya seraya menyuapkan makanan ke mulutnya
"Kalau pas dibangunin jelas bangunlah. Mami gorok doang kalo gak bangun. Cuma kebiasaan tuh anak kalo Mami tinggal langsung lanjut bobo lagi," gerutu Zahra mulai habis kesabaran.
Zahra menarik napas kemudian berteriak menggelegar memenuhi seisi rumah. "Sabilaa!! Kamu telat terus, ditinggal baru tau rasa!"
Dari dalam kamar gadis itu berdecak seraya memukul kasur dengan bantal guling karena kesal. "Aaaa Mamiii!! Kaos kaki aku gak tau di mana. Lupa naruh ish!" Tak kalah berteriaknya juga Sabila menyahut.
Cewek-cewek di rumah ini memang bersuara cempreng semua.
Zahra berdecak dan berdiri meninggalkan acara sarapannya, menunda sementara untuk mengurus si bungsu. Ia berkacak pinggang.
"Kan Mami udah bilang?! Siapin malam hari, Dek!! Malaaam! Kalo bangunnya pagi mendingan. Ini udah siang, siapin apa-apa siang juga. Salah sendiri!" teriak Zahra macam toa.
Sementara di dalam kamar bernuansa pink Sabila mengobrak-abrik seluruh isi kamarnya dengan perasaan kesal. Kamar yang pada dasarnya sudah berantakan dari awal, menjadi semakin berantakan tak berbentuk.
Beberapa waktu setelahnya seketika mata Sabila berbinar melihat benda putih yang ternyata teronggok di bawah keranjang cucian kotor. Dengan cekatan ia meraih dan memakainya. "Alhamdulillah," gumamnya.
"Ooh, Iya, Mi. Iyaa! Udah Ketemu, nih. Waitt, Sabila Turunn!"
Baru saja Zahra hendak menyusul ke atas, tetapi urung ketika Sabila katanya telah menemukan kaos kaki yang ia cari. Dengan begitu Zahra kembali duduk di kursinya.
Gadis cantik itu menuruni tangga dengan semangat 45. "Yuhuuu!"
Ia langsung bergabung bersama keluarga kecilnya dan ambil posisi menyempil duduk di tengah-tengah abang dan papinya.
"Astaghfirullah ...." Zahra beristighfar dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan putri bungsunya itu. "Di sebelah Mami kosong nih ya Allah. Ngapain nyempil-nyempil di situ!" gemasnya.
Iya, saking gemasnya sampai rasanya ingin Zahra menampol anak itu dengan centong nasi di depannya ini.
"Mami, Sabila mau nasgor kayak papi sama abang," serunya tanpa peduli teguran dari maminya tadi.
Benar-benar kuping tembok!
***
Baru saja Sabila menyendokkan sesuap nasi tersebut ke dalam mulutnya, decitan dari kursi sebelah membuat gadis itu menoleh seketika menampilkan sosok cowok tampan yang menjulang tinggi.
Iya, siapa lagi cowok paling tampan di rumah ini kalau bukan abangnya?
Tentu saja Arta. Memangnya siapa lagi abangnya? Nothing!
"Pergi, Mi, Pi. Assalamu'alaikum."
Setelah menyalimi bonyok Arta menenteng tasnya dan berlalu begitu saja membuat adiknya tercengang atas tindakannya itu.
"Ish!! Swabila ditwin-nghal," gerutunya dengan wajah menekuk. Tak lupa mulutnya yang penuh dengan makanan ketika abangnya sudah tak nampak dalam pandangan lagi.
"Besok-besok telat lagi, ya," sindir sang mami.
Sabila meminum airnya kemudian mengelap mulutnya dengan punggung tangan. "Nanti Papi anterin Sabila, ya?"
"As you wish, Baby."
Seketika itu Zahra memutar bola matanya malas.
Sementara di luar Arta mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia meninggalkan adik tersayangnya bukan tanpa alasan, melainkan karena Rehan sahabatnya, salah satu anggota inti geng Kompeni berkata akan mengantar Sabila ke sekolah pagi ini. Cowok itu memang sudah menganggap Sabila sebagai adiknya sendiri. Nasib jadi anak tunggal. Tipe cowok idaman. Putra tunggal kaya raya.
Terlahir sebagai anak tunggal, saat ini Eva tak lagi miliki orang tua yang lengkap. Papanya meninggal akibat kecelakaan yang terjadi tiga tahun silam. Masih terekam jelas di kepala Eva hingga saat ini, bagaimana mengerikannya bentuk tubuh papanya yang telah hancur terlindas truk dengan muatan berat.
Tersisa ia bersama mamanya. Seorang ibu rumah tangga yang merangkap juga sebagai kepala keluarga. Pekerjaannya sehari-hari hanya membuat kue untuk dijual di toko-toko sembako berbagai tempat sekitar kawasan rumah. Beruntung lokasi rumah mereka dekat dengan pasar hingga memudahkan untuk membeli bahan-bahan juga meniagakannya. Hendak memperluas linglup bisnis, keluarga kecil ini terkendala kendaraan yang tak memadai. Ingin memakai jasa orang, sedang kebutuhan hidup saja sangat pas-pasan dan terkadang kurang.
Hanya ada sepeda berwarna pink dengan model khas perempuan. Terdapat keranjang mungil di bagian depan serta boncengan di belakangnya. Satu-satunya kendaraan di rumah ini.
Sepeda itu digunakan Eva untuk berangkat sekolah. Setidaknya Eva tak berjalan kaki ke sekolah ketika teman-temannya menggunakan kendaraan mewah.
"Mamah." Gadis berseragam SMA TB itu menghampirinya.
Vina menoleh padanya dengan pandangan penuh kasih sayang. Sebagai seorang ibu juga ayah, Vina tak ingin bermimpi terlalu banyak karena berjuang seorang diri bukanlah hal yang mudah dilalui. Butuh banyak perjuangan, pengorbanan, dan kesabaran. Cukup dapat memandang putrinya beranjak dewasa, melihatnya menemukan jati untuknya menjadi diri sendiri, dan menyaksikannya belajar dengan pendidikan yang layak.
Orang tua mana yang tak bangga pada anaknya ketika ia mengenakan seragam SMA nomor satu se-Indonesia ini?
Kemarin ia bercerita bahwa dipercayakan untuk menjadi ketua OSIS di Taruna Bangsa. Pencapaian yang Vina banggakan karena ketika masa sekolah dulu ia pun menjabat sebagai ketua OSIS.
Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya.
Jika suaminya masih ada ... mungkin ia pun akan ikut bangga. Mereka bisa bersama-sama bernostalgia di masa muda. Vina sebagai ketua OSIS, sedang Radit rajanya murid nakal, ketua sebuah komunitas terkenal. Entah kenapa takdir begitu lucu mempersatukan mereka dalam ikatan cinta suci pernikahan, tapi kemudian memisahkan kembali dengan kematian. Perpisahan paling jauh untuk manusia yang masih hidup di dunia dan menapak kaki di bumi.
"Mau sarapan di sini atau di sekolah aja?" Vina memecah keheningan yang sempat terjadi.
"Sekolah aja, Ma. Udah telat," sahut Eva.
Vina mengangguk dan memasukkan tuperwar yang telah diisi dengan nasi goreng juga beberapa potong kue manis. Tak lupa susu di dalam botol. Belajar juga butuh asupan.
Dulu Eva paling anti membawa bekal ke sekolah. Kayak apa banget, 'kan? Alhamdulillah ia menjumpai teman-teman yang sefrekuensi. Merasa kurang nyaman makan di kantin karena terlalu ramai dan berisik. Bertolak belakang sekali dengan mereka yang suka ketenangan. Biasanya ketika jam istirahat kelas akan sepi menyisakan Eva bersama para sahabatnya. Selama mereka juga tak malu membawa bekal, Eva pun akan turut menepis rasa malunya karena akan lebih baik ketika kita menjadi diri sendiri.
"Makasih, Ma. Aku berangkat dulu, yah."
Ia menyalimi punggung tangan wanita yang banyak berjasa dalam hidupnya tersebut kemudian keluar dan menggeret sepedanya turun dari rumah.
Sambil mengayuh menjauhi pekarangan Eva melambai pada mamahnya yang berdiri di depan pintu. "Assalamu'alaikum!"
Hidup hanya berdua, sebagaimana Vina yang hanya memiliki Eva dalam hidupnya, pun Eva yang hanya memiliki seorang mama tanpa kehadiran sosok papa dalam hidupnya.
***
Di tengah lapangan indoor terlihat jelas dua orang cewek berjalan sambil berlenggak-lenggok dengan baju sekolah yang telah mereka desain sedemikian rupa hingga sangat pas melekat di tubuh. Eva yang menyaksikan itu berdecak kesal. Sangat merusak pemandangan!
Mengambil langkah pasti, Eva menghampiri dua siswi dari kelas 10 tersebut yang masih berseliweran di tengah lapangan ketika bel masuk telah menggema.
Setelah sampai di depan mereka, makin sengaja Eva menarik kasar ujung baju salah satunya untuk menurunkannya ke bawah agar menutupi bagian pusar yang sengaja dipamerkan itu.
"Datang ke sini mau sekolah apa ngejablay hmm?"
Brak!
Terlalu cepat untuk Eva menyadari. Tubuhnya terhuyung begitu saja ke arah belakang. Hampir oleng jika saja ia tak bisa menyeimbangkan diri dengan baik.
"Mulut lo bangsat banget. Negur tuh baik-baik, gak usah segala ngehina!"
Cewek yang diketahui bernama Fitra, yang terkenal nakal di kalangan kelas 10 tersebut menyentak dengan penuh arogan. Menaikkan dagu menatap Eva yang hanya sebatas hidungnya tersebut.
Eva melotot masih bungkam atas tindakan yang ia terima tadi. Melihat reaksi ketua OSIS mereka tampak syok dengan raut khawatir membuat dua siswi tadi tersenyum miring. Lihatlah kakak kelas mereka ini, baru disentak begini saja sudah syok. Mental lemah!
Eva mendengkus dengan tangan menyilang di depan dada. Tadi ia sangat kaget dan sekarang sudah bisa mengontrol diri agar tak tersulut emosi. Malas meladeni debat para bocil yang sok iye, lebih baik langsung hukum saja. Kita lihat siapa yang lebih berkuasa di sekolah ini. Mereka yang anak orang kaya, atau Eva ketos dari anak beasiswa? Sangat dianjurkan bukan, sombong pada orang yang sombong?
Eva mengelilingi pandangan, tapi tak menemukan sedikit pun sampah di lapangan ini. Ia memandang dua cewek di depannya dengan raut datar.
"Menurut peraturan sekolah halaman delapan, bab dua, terkait aturan memakai pakaian di area sekolah. Pake baju puser keliatan gini lo pikir sopan hah?" Ke-dua tangan Eva turun ke arah pusar tersebut kemudian memelintirnya dengan kencang membuat ke-dua cewek itu berteriak kesakitan.
"Akhhh!"
Cubitan Eva memang menyakitkan. Fitra dan Nila sampai berjongkok dan menungging memegangi pusar mereka. Mampus!
"Dikatain ngejablay gak terima, cih. Lari keliling lapangan 10 kali. Sesuai jumlah halaman dan bab yang kalian langgar, halaman dua dan halaman delapan. Dijumlahkan totalnya ada 10."
"Keliling lapangan 10 kali putaran. S-e-k-a-r-a-n-g!" perintah Eva penuh penekanan.
"Bangun!" bentak Eva kasar. Tak ingin melihat drama mereka yang berteriak lebay.
"Gak usah main fisik gitu, anjim!" Nila berteriak. Ia berdiri dan mendorong Eva dengan brutal karena kelewat kesal.
"Astaghfirullah! Allahu!" Eva kaget menerima serangan seperti ini. Jika ia tak berjalan mundur menjauhi serangan mereka, bisa-bisa pantatnya akan jatuh mencium lantai.
"Aaaa!" Eva ikut berteriak kencang karena Nila dan Fitra berteriak padanya mengakibatkan suara Eva yang meminta mereka berhenti tenggelem oleh suara besar mereka.
Tak ada cara lain lagi, Eva menelan salivanya sangat syok sekali. Ia menarik napas dalam lalu setelahnya langsung berteriak sangat kencang hingga suaranya menggema di lapangan indoor yang maha luas ini. "Berani-beraninya kalian dorong-dorong ketua OSIS kayak gini!! Mau dipanggil orang tua kalian hah?!"
Teriakan berisi ancaman Eva kali ini berhasil membuat mereka berhenti, meski ekspresi garang masih tercetak jelas di wajah mereka. Percayalah, Eva benar-benar kalah telak. Dua lawan satu? Lagi pun tinggi Eva hanya sebatas hidung mereka. Ia benar-benar merasa dipojokkan.
Eva menarik napas. Ya ampun ia benar-benar kaget. Napasnya masih memburu bahkan ketika ia sudah berusaha untuk menenangkan diri.
"Apa natap gue kayak gitu?!" tantang Eva kelewat geram. "Laksanain hukuman kalian sekarang! Bantah? Siap-siap nama kalian berdua gue masukin daftar hitam!" tegas Eva seraya menunjuk kasar wajah mereka berdua. "Pelanggaran kalian jadi double. Ngelawan OSIS artinya ngelawan guru. OSIS tangan kanan guru. Paham?!"
***
Kegiatan belajar mengajar tengah berlangsung sementara Eva baru saja selesai dari mengawasi adik kelas tadi selama masa hukuman mereka. Kini baru saja ia sampai di kelasnya dan mendapati pintu tersebut tertutup.
Pagi ini adalah jadwal mata pelajaran Fisika yang diampu oleh pak Erik selaku guru di bidang tersebut. Beliau adalah guru baru, menggantikan bu Anti yang katanya ingin melanjutkan studi S2 di Amerika.
Tangan Eva menekan kenop pintu lalu mendorongnya untuk membuka. Ia dapati suasana senyap ketika beliau mengajar dan suara decitan yang ditimbulkan oleh pintu ini berhasil alihkan atensi seisi kelas. Eva mengumbar senyuman. "Permisi, Pak."
Pak Erik yang semula tengah fokus menerangkan materi akhirnya menoleh juga ke asal suara. Ia dapati siswi dengan penampilan rapih, kulit bersih walau warnanya tak putih, gingsul itu bagai pemanis ketika ia menarik senyuman.
Namun pak Erik tak peduli akan semua itu. Beliau mengutarakan pertanyaan dengan nada kurang bersahabat. "Dari mana kamu?"
Eva menyengir agar tak terlalu tegang. Ia percaya diri untuk sok imut seperti ini, karena baginya, dirinya itu memang lumayan cantik. Termasuk kategori cewek cantik di kelas ini walau bukan yang tercantik.
"Tadi ada something dikit, Pak. Anak kelas 10 ada yang ngelanggar peraturan. Jadi saya ke situ dulu buat negur dan ngurusnya," jawab Eva dengan sangat jelas. Walau ekspresi yang ditampilkan cengengesan, tapi Eva tak mau menye-menye ketika berbicara.
Pak Erik mendengus. Ia tak lagi menatap Eva, melainkan menyapu pandangan ke seisi kelas. "Lain kali gak ada alasan, ya. Mau OSIS atau siapa pun, kalau kalian ada mapel dengan saya, saya tidak suka ada yang baru datang ketika saya sudah mengajar. Sangat mengganggu, paham?"
"Paham, Paaakk!" Seluruh penghuni kelas berseru demikian hingga suara mereka menggema memenuhi ruangan ini.
Mendadak tenggorokan Eva terasa kering. Eva menelan saliva berusaha menampik kegugupannya. Dirinya berdiri di depan pintu sendirian, mendapat sindiran halus yang rasanya sangat memalukan dari pak Erik. Sementara teman-teman sekelasnya kompak sekali berseru seperti itu.
Eva itu siswi berprestasi kesayangan guru. Selama Eva bersekolah, baru kali ini ia dipermalukan seperti ini oleh guru. Gadis itu menarik napas perlahan seraya tersenyum tipis dengan kepala menduduk. "Saya minta maaf, Pak. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ujar Eva dengan tegas.
Seolah tak mendengar apa yang baru saja Eva ucapkan, pak Erik melanjutkan perkataannya tadi yang belum tuntas. "Parahnya masih nenteng tas?" Laki-laki seperempat abad itu menyemburkan tawa, seolah makin saja ingin mempermalukan Eva.
"Diliat sama anak-anak lain, kok ketua OSIS masih keliaran pas KBM. Mana nenteng tas lagi tuh. Malu nggak?"
"Maluuu!" Teman-teman sekelas kembali kompak berseru.