Semenjak kepergian ayahnya. Gadis berusia tujuh belas tahun yang mempunyai nama lengkap "Mutiara Embun Pagi" mau tidak mau harus menjalankan wasiat yang ditinggalkan oleh almarhum ayahnya.
------------------------
Untukmu anakku tersayang : Mutiara Embun Pagi
Surat ini adalah permohonan maaf sekaligus harapan ayah padamu.
Embun...
Ketika kecil, kamu bernaung di dalam pelukan ayah.
Membiarkan ayah melindungi, mengarahkan, mengajarkanmu hal-hal yang perlu kamu tahu dalam menghadapi dunia ini.
Ayah berusaha memberikan cinta dan perhatian kepadamu, meski terkadang kamu tidak dapat mengerti cara ayah melakukannya.
Pada akhirnya, kamu percaya bahwa kamu akan aman selama ayah ada bersamamu, karena ayah yang memberi kehidupan kepadamu.
Bahkan, kamu menganggap ayah superhero-mu.
Maafkan ayah, Nak.
Jika kamu membaca ini, berarti ayah sudah tidak lagi berada disampingmu.
Ayah harap kamu bisa meraih cita-cita yang kamu impikan, Nak.
"Rumah nomor 01. Jl. Johar Baru Utara 01, Jakarta Pusat."
Setelah membaca surat ini, ayah harap kamu dapat secepatnya datang kesana.
Ada sedikit uang yang ayah tinggalkan didalam guci di meja dapur.
Sekali lagi, maafkan ayah. Nak.
-------------------
Embun membaca surat itu dengan tangan yang bergetar dan hati yang menangis. Ia tidak menyangka, secepat itu ayahnya akan meninggalkannya. Ibunya telah meninggal disaat ia masih kecil, mungkin saat itu ia masih berusia dua tahun. Akhirnya ia hanya dirawat oleh nenek dan ayahnya. Akan tetapi tahun lalu, neneknya juga meninggal. Dan tahun ini ayahnya yang meninggalkannya.
***
Pagi- pagi buta, Embun sudah bersiap untuk pergi ke Jakarta. Dari Demak, ia menaiki biss untu pergi ke Jakarta. Embun membawa beberapa lembar uang seratus ribuan yang ditinggalkan ayahnya di dalam guci dapur.
Suasana pagi itu tak seramai biasanya. Kursi- kursi di dalam bis banyak yang kosong. Embun duduk di kursi tengah, di dekat jendela. Barang- barang yang dibawanya sudah dikemas rapi didalam koper yang ia taruh di bagasi bawah bus. Embun membawa beberapa bekal makanan, ada roti, permen, pisang, dan air putih untuk ia minum di dalam bis. Embun harus berhemat, ia harus segera sampai di alamat yang ditulis oleh ayahnya di surat itu.
Setelah menempuh kurang lebih sepuluh jam perjalanan, akhirnya Embun telah sampai di Jakarta Pusat. Jam tangannya telah menunjukkan pukul empat sore. Ia turun di Terminal Senen, Jakarta Pusat. Tak lupa, Embun mengambil koper yang ditaruhnya di bagasi bis. Dan Embun segera berjalan keluar dari Terminal Senen. Ia mencari kendaraan yang bisa mengantarkannya ke alamat yang tertera di surat wasiat ayahnya. Embun tampak menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia berpikir keras.
"Duh, naik apa ya. Ojek? Ah, tapi aku takut kalo naik ojek. Naik taxi? Mahal. Naik bajaj?" batinnya dalam hati.
Akhirnya ia terus saja berjalan. Sampai ia lihat ada Halte Bus.
"Sepertinya itu halte bus dalam kota, coba aja kesana lah," pikirnya sambil berjalan menyeret kopernya.
Awalnya ia tidak tahu, akan tetapi di halte bus ada penjaganya. Tanpa malu- malu, Embun segera bertanya pada perempuan muda penjaga halte.
"Permisi, Mbak. Maaf, saya mau bertanya. Kalo mau ke Jalan Johar Baru Nomor 01 bisa naik Busway Trans Jakarta ini?" tanya Embun.
"Bisa, dek. Silakan beli tiket busway dulu ya, harganya tiga ribu lima ratus, dek." jelas mbak penjaga halte.
"Oh, iya. Ini uangnya, Mbak." Embun menyerahkan selembar uang lima ribuan ke penjaga halte.
"Iya, tunggu sebentar ya." Tampak perempuan muda penjaga halte itu memencet mesin tiket, dan selembar struk tiket pun keluar dari mesin itu.
"Ini, struknya, ini kembaliannya. Silakan tunggung di koridor tiga ya!" perintah penjaga halte itu.
Embun menerima kembalian uang dan struknya. Lalu mengangguk dan berucap kearah penjaga itu, "terimakasih."
Embun duduk di kursi tunggu penumpang busway. Hingga terdengar seruan dari penjaga perempuan tadi.
"Dek, masuk bis itu," kata penjaga itu sambil menujuk bis yang berhenti.
Dengan cepat, Embun segera menaiki Busway Trans Jakarta itu.
"Wuah, bagus banget bis ini. Andai aja di Demak ada Trans Demak ya, pasti berangkat sekolah akan lebih nyaman. Gak perlu naik sepeda," pekiknya dalam hati.
Embun memejamkan matanya. Menikmati suasana menaiki Busway Trans Jakarta. Ada lagu- lagu yang diputar lembut dan AC bus yang dingin. Membuat Embun sangat betah berada di dalam busway.
Entah berapa menit lamanya ia berada di dalam busway. Penjaga bus menuju ke arahnya dan bertanya, "Mau turun dimana, dek?"
"Di jalan Johar Baru No.1, Kak." Embun menjawabnya,
"Oh, berarti habis ini turun ya," kata Mas laki-laki yang bertugas membukakan pintu busway.
"Iya Mas." Embun hanya mengangguk mengikuti arahannya.
Ting Tong!
Bel busway telah berbunyi. Setelah pintu terbuka, Embun segera turun dari bus dengan menyeret kopernya. Ia membuka ponselnya. Dilihatnya google maps. Embun berjalan kaki mengikuti peta. Memang benar ia sudah berada di Jalan Johar Baru No. 1 sekarang. Ia hanya perlu mencari rumah dengan nomor 01. Embun berjalan melihar satu persatu deretan ruko dan rumah mewah yang berada di jalan itu. Hingga dilihatnya ada pagar tinggi bernomor 01 diatasnya. Rumahnya gedongan dari luar tampak luas dan sangat mewah. Ada pak satpam yang berjaga di pintu gerbang rumah itu.
"Ini, pasti ini. Nomor 01," batinnya dalam hati.
Sebelum memasukinya. Embun membaca kembali suratnya. Jikalau saja ia salah alamat.
"Udah bener kok. Tapi apa ini? Aku disuruh ayah mendatangi rumah artis atau bagaimana? Luas banget!" pekiknya dalam hati.
"Huuuhh. Semoga ada banyak hal baik untukku di dalam sana."
Embun menyempatkan diri untuk berharap sebelum ia memasuki rumah itu. Dan akhirnya, ia melangkahkan kaki mendekati pintu gerbang yang dijaga oleh beberapa satpam.
"Permisi, Pak. Saya Embun. Saya mendapatkan pesan jika saya harus datang ke rumah ini," jelasnya pada pak satpam.
Pak Satpam yang melihat kedatangan Embun itu tampak saling pandang dengan rekannya.
"Joko! Mungkin ini gadis yang dimaksud Nyonya? Yang dsatang dari desa itu, disuruh menjadi pembatu di rumah ini?" Pak Satpam yang bernama Kris itu tampak bertanya- tanya.
"Iya, mungkin. Suruh masuk aja, jangan sampai Nyonya marah kembali dengan kita nanti," sahut Pak Satpam yang bernama Joko.
Ingin sekali Embun menjelaskan dengan Pak Satpam jika saja ia bukan pembantu. Tapi lebih tepatnya disebut tamu. Yang datang dari desa untuk memenuhi wasiat ayahnya. Akan tetapi, ia takut jika menjelaskannya pada Pak Satpam, ia tidak akan diizinkan masuk ke rumah itu.
"Bodo amat lah. Pak satpam mau nyebut aku calon pembantu atau apa! Yang penting aku bisa masuk ke rumah ini dan menunjukkan surat wasiat bapak pada pemilik rumah ini," pekiknya dalam hati.
***
Embun melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah nan megah itu. Tampak ukiran tulisan yang mewah bertuliskan "Keluarga Bhaskara Granada" tepat di atas pintu masuk rumah mewah itu. Embun menyeret kopernya dengan diikuti Pak Satpam yang tadi mempersilakannya masuk.
Ketika di dalam rumah, Pak Satpam yang bernama Kris itu langsung membawa Embun menemui Bi Ijah di rumah makan. Seorang kepala pelayan rumah mewah itu. Meski Bi Ijah sudah terhitung tua usianya dan ia berasal dari desa, Bi Ijahlah pembantu paling senior di Keluarga Bhaskara Granada. Mungkin saja karena ia telah mengabdi begitu lama pada keluarga itu.
"Bi Ijah, ini ada pembantu baru yang datang!" ujar Pak Kris yang mengenakan baju satpam cokelat mirip polisi.
"Eh?" sahut Embun.
Embun tampak memperhatikan sekelilingnya. Tampak para pelayan yang berjumlah lebih dari sepuluh orang sedang sibuk mempersiapkan jamuan makan malam.
Ruang makan Keluarga Bhaskara Granada begitu luas nan mewah. Gelas gelas kaca tertata rapi diatas meja. Begitu pula piring, sendok dan garpu yang ditata rapi di sebelahnya. Ditengah meja makan itu terdapat vas bunga beserta lilin. Persis tampak seperti dinner yang disiapkan di hotel berbintang.
Bi Ijah menghentikan sejenak kesibukannya. Ia menoleh kearah Pak Kris dan Embun yang barusaja datang.
"Pelayan yang dari Mojokerto, nduk?" tanya Bi Ijah menghampiri Embun.
"Eh? Ma-af, saya bukan dari Mojokerto bu, saya dari Demak. Dan sebenarnya saya kesini bukan untuk menjadi pelayan, saya ingin bertemu dengan pemilik rumah ini, ada suatu hal yang harus saya katakan," jelas Embun panjang lebar pada Bi Ijah.
"Suatu hal apa? Duduk dulu mari kita ke ruang tamu saja, nduk. Bibi kira kamu pelayan baru ternyata bukan, kita berbicara di depan saja ya, sebentar lagi ruang makan ini akan digunakan makan malam oleh Den Leon dan teman temannya," jelas Bi Ijah.
Embun hanya mengangguk mengiyakan saja perkataan Bi Ijah. Meski ia sebenarnya tidak tahu siapa itu Leon.
***
Bi Ijah melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Disusul oleh Embun yang berjalan dibelakangnya sembari masih menyeret kopernya. Pak Kris juga mengikuti mereka menuju ruang tamu. Ketika berjalan ke ruang tamu, Embun tak henti hentinya memperhatikan rumah yang luas itu.
"Ini rumah atau hotel ya, besar banget. Wuih lukisannya bagus banget," batinnya dalam hati melihat dinding yang terpajang berjajar lukisan dinding yang dilukis oleh pelukis terkenal spanyol.
Sesampainya di ruang tamu, Embun memperhatikan sofa yang begitu besar dan dinding ruang tamu yang juga dilukis dengan gambar bangunan khas Granada.
"Silakan duduk, Non."
Bi Ijah mempersilakan Embun duduk di sofa besar ruang tamu itu.
Tanpa pikir panjang, Embun mengiyakan dan segera duduk.
"Jadi begini, Bu. Saya Embun dari Demak. Saya datang ke rumah ini karena ingin menunjukkan surat wasiat dari ayah saya."
Embun mengeluarkan surat wasiat itu dari dalam ranselnya.
Bi Ijah duduk di sebelah Embun. Melihat surat wasiat yang ditunjukkan Rumpun padanya.
"Disini tertulis jika saya harus datang ke rumah ini, Bu. Alamatnya benar rumah ini kan?" tanya Embun memastikan.
"Betul, Non. Ini adalah alamat rumah Keluarga Bhaskara Granada. Coba saya telfon Nyonya dulu ya, Non."
Bi Ijah bangkit dari sofa dan mengambil ponselnya. Embun tetap menunggu di ruang tamu.
"Non, tunggu saja Bi Ijah ya, saya ke depan dulu," pamit Pak Kris pada Embun.
"Baik pak. Terimaksih."
Pak Kris kemudian berlalu meninggalkan ruang tamu.
Lalu Bi Ijah datang dengan membawa ponsel miliknya. Ia duduk kembali di sebelah Embun. Bi Ijah mencari nomor Nyonya Emma Bhaskara. Ia ingin memberitahu perihal kedatangan Embun ke rumah Keluarga Bhaskara Granada.
"Nyonya sedang perjalanan bisnis ke liar negeri, Non. Coba saya telfon dulu," ujar Bi Ijah sembari memencet tombol call pada nomor whatsapp Nyonya Emma.
"Iya Bu. Terimakasih."
Jantung Embun dag dig dug berdegup kencang. Dalam hatinya, ia berdoa agar Nyonya pemilik rumah mengangkat telfon Bi Ijah. Sebab, ia tak tau lagi harus kemana jika rumah Keluarga Bhaskara Granada tak menerimanya. Di Kota Jakarta Pusat yang besar Embun tak mengenal siapapun.
Tuutt! Tuuuut! Tuuut!
Telfon Bi Ijah terdengar berdering. Empun yang berada di sebelah Bi Ijah dapat mendengarnya. Mungkin karena Bi Ijah menyalakan tombol load speaker panggilannya.
("Halo, Bi. Ada apa?") sahut Nyonya Emma dari seberang sana.
("Maaf, Nyonya. Apakah saya mengganggu waktu Nyonya Emma?") tanya Bi Ijah hati-hati.
("Tidak, Bi. Saya di Spanyol sekarang. Ada pekerjaan tapi belum deadline. Ada apa Bi? Leon membikin ulah lagi?") tanya Nyonya Emma.
("Tidak Nyonya. Den Leon tidak membikin ulah hari ini, malahan Den Leon sepertinya menjalin hubungan baik dengan teman-temannya di sekolah. Malam ini teman temannya akan datang dan makan malam di rumah ini, Nyonya.") jawab Bi Ijah melalui telfon.
("Teman- temannya? Baiklah, tidak apa-apa Bi. Tetap awasi Leon ya, Bi.")
("Iya, Nyonya. Saya dan para pelayan disini pasti akan mengawasi Den Leon dengan baik, Nyonya.") ucap Bi Ijah terdengar patuh.
("Iya jadi kenapa tadi bibi telfon?") Nyonya Emma bertanya kembali.
("Eh, itu Nyonya. Hari ini ada anak perempuan yang datang ke rumah, katanya ingin bertemu Nyonya. Dia membawa surat wasiat ayahnya,") jelas Bi Ijah.
("Surat wasiat? Siapa namanya? Nama lengkap?") tanya Nyonya Emma.
Bi Ijah tampak menjauhkan sedikit telfonnya. Kemudian menoleh kearah Embun yang juga sedang mendengarkan panggilan itu dengan saksama.
"Embun, Bi. Mutiara Embun Pagi."
Embun membisikkan namanya ke telingan Bi Ijah.
("Embun Nyonya. Embun Pagi.") kata Bi Ijah menjawab pertanyaan Nyonya Emma di telfon.
Dan Embun seketika mengisyaratkan pada Bi Ijah jika Bi Ijah salah menyebut nama lengkapnya, "bukaan, Bi. Bukan Embun Pagi tapi Mutiara Embun Pagi."
("Embun Pagi?") sahut Nyonya Emma. Suaranya terdengar seperti ia sedang berpikir, mengingat siapa anak perempuan bernama Embun Pagi yang disebutkan Bi Ijah.
("Kebetulan ini orangnya masih di sebelah saya, Nyonya.")
("Tolong kasihkan telfon ini padanya, Bi.") pinta Nyonya Emma.
("Baik Nyonya.")
Bi Ijah menyodorkan ponselnya pada Embun.
("Salam Nyonya, saya Mutiara Embun Pagi.") ucap Embun menyapa Nyonya Emma melalui telfon.
("Oh, jadi kamu anak perempuan yang bernama Mutiara Embun Pagi. Maaf ya, saya masih di Spanyol. Jadi saya belum bisa menemui kamu secara langsung,") ujar Nyonya Emma.
("Tidak apa- apa, Nyonya.") jawab Embun ikut memanggil Nyonya Emma dengan sebutan Nyonya, bukan Bu. Ia hanya mengikuti Bi Ijah.
("Tolong telfonnya kasih ke Bi Ijah kembali,") pinya Nyonya Emma melalui telfon.
("Baik, Nyonya.")
Embun hanya menurut saja. Ia mengembalikan ponsel itu kepada Bi Ijah.
("Bi Ijah.") panggil Nyonya Emma.
("Iya, Nyonya. Gimana Nyonya?")
("Bi. Embun akan tinggal dirumah Keluarga Bhaskara Granada. Tolong bibi dan para pelayan lainnya dapat membantu kebutuhannya ya Bi. Untuk sekolahnya saya minta tolong daftarkan saja di sekolah yang sama dengan Leon.") ujar Nyonya Emma pada Bi Ijah.
("Baik, Nyonya. Saya dan para pelayan disini akan membantunya.") jawab Bi Ijah.
("Terimakasih, Bi. Saya tutup dulu telfonnya ya, saya masih harus menyelesaikan pekerjaan saya,")
("Baik, Nyonya.")
Dan Nyonya Emma menutup telfonnya.
***
"Non. Ayok Non, Nyonya Emma meminta bibi agar membantu Non. Mari bibi antarkan ke kamar Non Embun," ujar Bi Ijah pada Embun.
"Oh, iya Bi. Terimakasih ya Bi. Bibi baik banget," kata Embun pada Bi Ijah.
"Ah, tidak usah begitu, Non. Bibi jadi malu, ayok Non."
Bi Ijah bangkit dari sofa, dan masuk ke rumah megah itu. Embun mengikutinya dari belakang sambil menyeret koper. Embun melewati ruang makan yang besar tadi. Kali ini ruang makan itu sudah tertata rapi dengan semua hidangan makanan. Sudah tak ada lagi para pelayan yang berlalulalang di ruangan itu. Embun tetap berjalan saja di belakang Bi Ijah. Mereka melewati kolam renang dan taman yang berada di tengah rumah mewah itu. Ada ayunan berwarna putih di tengah taman. Embun masih terus berjalan, Bi Ijah dan Embun melewati ruang gym yang biasanya digunakan berolahraga oleh Tuan Muda Utama Keluarga Bhaskara Granada, Reyji.
Setelah berjalan beberapa waktu melewati rumah megah itu. Akhirnya mereka telah sampai di depan kamar yang nantinya akan ditinggali oleh Embun.
"Ini kamarnya, Non. Malam ini dan seterusnya Non bisa tinggal disini."
Bi Ijah berkata sambil membuka kunci pintu kamar itu. Setelah pintu terbuka, ia mempersilakan Embun untuk masuk.
"Silakan, Non. Kamarnya sudah dibersihkan para pelayan disini kok Non."
Bi Ijah menjelaskan. Embun segera memasuki kamar itu dengan menyeret kopernya. Kamar yang akan embun huni juga tampak mewah. Ada kamar mandi dengan shower yang di desain mewah, satu ranjang single bad. Sebuah almari, cermin, dan dinding yang dilukis gambar salah satu kota di spanyol. Benar benar tampak menakjubkan.
"Aku akan tinggal disini? Pasti nyaman sekali," batin Embun.
"Non, nanti serahkan berkas berkasnya Non ke bibi ya," ujar Bi Ijah pada Embun.
"Eh? Untuk apa Bi?" tanya Embun ragu-ragu.
"Non masih sekolah, kan?" tanya Bi Ijah.
"Eh iya, Bi."
"Iyaa, bibi minta berkasnya. Besok bibi yang daftarin Non ke sekolah ya. Nanti Non sekolah bareng sama Den Leon," ujar Bi Ijah pada Embun.
"Den Leon?" sahut Embun.
"Iya, Den Leon itu anak nomor duanya Nyonya Emma, Non."
Bi Ijah menjelaskan pada Embun.
"Oh, iya Bi. Kalo gitu saya mau menata barang barang saya dulu, ya Bi."
"Iya, silakan Non. Bibi tinggal dulu ya, nanti berkasnya tolong kasihkan bibi."
"Baik, Bi."
Bi Ijah berlalu meninggalkan kamar Embun. Tanpa menunggu lama lagi, Embun segera menata barang barangnya. Pertama ia melepas sepatu yang dipakainya. Ditaruhnya di rak sepatu yang telah tersedia di pojok kamarnya. Kemduian ia membuka kopernya, mengeluarkan baju-baju dari koper. Ia menatanya rapi didalam almari. Embun meraih peralatan mandinya seperti sikat gigi, sabun, dan shamponya di kamar mandi. Setelah ia menata semua dengan rapi, Embun bergegas mandi. Karena dirinya merasa perlu mandi setelah seharian menempuh perjalanan.
Embun memasuki kamar mandi mewah itu. Awalnya ia bingung, bagaimana cara ia mandi. Tidak ada gayung di kamar mandi itu. Yang ada hanyalah shower dan toilet duduk serta tisu. Lantai kamar mandi terbuat dari keramik dan di pinggir pinggirnya terdapat bebatuan kecil yang halus.
"Kamar mandinya kok gini? Ini saya kalo mandi kelihatan dari luar apa engga ya?" pikir Embun was was ketika mendapati dinding kamar mandi yang hanya dari kaca buram, bukan dari tembok. Pintu kamar mandi juga dari kaca. Ada handuk putih halus yang tergantung di sudut kamar mandi itu. Embun memutar otak bereksperimen. Ia mencoba menyalakan shower. Dan berhasil. Air dari shower memancar dengan sempurna.
Tanpa pikir panjang lagi, Embun segera melepas pakaiannya, kemudian menggantungkannya di sudut kamar mandi. Ia menikmati setiap air yang keluar memancar dari shower itu.
"Ahh segarnyaaaaaa," lengguh Embun. Tak lupa ia memakai sabun, kemudian membasuhnya kembali dibawah shower.
Setelah selesai mandi, Embun menggunakan handuk putih halus yang berada di sudut kamar mandi.
"Ini handuk? Tapi kok gini ya kayak pakaian," batin Embun.
"Oh, ini mungkin dipakai," pikir Embun. Akhirnya ia memakainya dan keluar dari kamar mandi.
Ia lalu mengambil baju tidurnya. Dan memakainya. Embun menyisir rambutnya di depan cermin dan memakai hand body lotion nya. Ia juga memakai cream wajah yang biasanya ia gunakan sebelum tidur.
Puk! Puk! Puk!
Embun menepuk nepukkan telapak tangannya pelan di kedua pipinya.
"Dah, selesai. Pengen tidur capeeeek," umpatnya kemudian melemparkan dirinya ke kasur yang empuk itu.
"Huuhhftt..," lengguhnya ketika melemparkan dirinya.
"Sebenernya hubungan ayah dengan Keluarga Bhaskara Granada apa ya? Apa mereka teman ayah? Atau salah satu kerabat tiri ayah?" pikir Embun mengira-ngira.
Akan tetapi, ia masih tak menemukan jawabannya. Sepertinya Embun harus mencari tahu sendiri. Yang terpenting sekarang adalah Embun tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan selama dia ada disini. Tujuannya disini adalah ia harus belajar serajin mungkin dan meraih cita-citanya. Karena tak ada lagi yang ia andalkan selain dirinya sendiri.
Ketika ia tengah sibuk berpikir, mendadak Embun teringat jika ia harus menyerahkan berkas berkasnya pada Bi Ijah. Ia segera bangkit dari tidurnya, kemudian mengambil berkas berkasnya.
Ia segera keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Bi Ijah.
"Bi Ijah tadi gak bilang dia mau kemana, dimana ya kamar Bi Ijah?" Embun berjalan menyusuri rumah keluarga bhaskara granada. Terlihat Embun yang membawa berkas berkas nya di tangan itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mengedarkan pandangannya disetiap sudut rumah itu, mencari-cari keberadaan Bi Ijah.
Embun melewati bagian dapur keluarga bhaskara granada yang sangat luas. Tampak ada delapan orang pelayan yang sedang berada di dapur itu membersihkan peralatan dapur.
"Sepertinya mereka baru selesai memasak," batin Embun.
Ia kemudian memberanikan diri untuk bertanya pada salah satu pelayan keluarga bhaskara granada.
"Permisi, maaf saya mau tanya Bi Ijah ada dimana ya?" tanya Embun hati-hati.
"Bi Ijah sepertinya tadi ada di ruang makan, coba cari disana," jawab salah satu pelayan rumah keluarga bhaskara granada.
"Oh iya, saya cari kesana coba, terimakasih, mari."
Embun berucap sembari senyum pada para pelayan itu.
"Iya," sahut pelayan yang tadi menjawab pertanyaan Embun.
***
"Itu siapa, syah?" tanya salah satu pelayan bernama Fitri.
"Gatau, tanya kebaradaan Bi Ijah. Yaa saya jawab aja ada di ruang makan," jawab Aisyah yang juga merupakan pelajan di rumah itu.
"Yaudah kita beres beres saja cepat. Sebentar lagi teman temannya Den Leon datang. Nanti kita di omelin sama Den Leon kalo masih disini," kata Fitri pada Aisyah.
"Iya iya," sahut Aisyah segera bergegas menyelesaikan tugas bersih bersih peralatan dapur itu.
***