Seorang gadis cantik, dengan pelipis yang mulai berkeringat, terus saja mencoba memberi arahan, pada murid-murid untuk berbaris rapi.
Sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Seperti biasa, setiap pagi Qiandra akan mengecek para murid dan melaporkan murid-murid yang tidak berpakaian rapi pada guru yang nantinya akan menghukum mereka.
Beberapa anggota osis lain pun ikut membantu sang ketua OSIS untuk mengarahkan murid-murid yang sulit sekali diatur.
Suara deru mesin motor sport yang begitu melengking terdengar sangat keras di telinga Qiandra.
Gadis itu menoleh ke arah gerbang sekolah.
Melihat ke arah segerombolan orang-orang yang baru saja datang terlambat.
Qiandra menghela nafas nya.
Dia tidak perlu mencari tahu siapa orang yang baru saja datang itu.
Dia adalah ketua geng motor EXALTO bersama anggotanya.
EXALTO yang terdiri dari tiga nama cowok paling terpopuler di sekolah yang bergabung menjadi sebuah geng motor terbesar disekolah begitupun di luar.
Siapa lagi jika bukan Exal Jevon Danendra.
Panggil saja dia Exal atau Jevon ketua di geng EXALTO.
Tampan, kejam tak tersentuh.
Sedangkan orang yang berada di samping Exal adalah Aldo Mahesa, wakil ketua di geng EXALTO.
Aldo sering tebar pesona pada setiap Gadis-gadis.
Dan orang yang ada di samping Aldo bernama Tomy Winata orang nya agak lumayan kalem.
Mereka bertiga adalah pria idaman para gadis-gadis.
lihat lah baru saja datang, mereka sudah membuat para gadis-gadis di SMA high school klepek-klepek pada mereka.
Qiandra melangkah maju ke arah parkiran untuk menghampiri gerombolan murid-murid yang baru saja turun dari atas motor sport nya.
"Buka jaket." titah Qiandra dengan nada ketus.
Exal, hanya memasang wajah datar menatap Gadis di depannya sekilas.
"Buka jaketnya." Qiandra lagi-lagi berucap menyuruh Exal untuk membuka jaket nya dengan nada tinggi ia berucap kembali pada Exal.
Exal hanya memasang wajah datar dengan malas membuka jaketnya.
"Dasi!." Ucapnya Qiandra.
"Rumah," jawab Exal membalas ucapan Qiandra yang begitu singkat.
"Gue gak nanya rumah lo, Gue nanya dasi lo?" Ucap Qiandra dengan nada mulai kesal.
Exal, mendengus mendengar perkataan Qiandra.
Lalu menatap wajah cantik Qiandra dengan ekspresi datar
"Lo nanya dasi gue dimana? Ya, di rumah!" Ketus Exal.
Qiandra yang mendengar jawaban Exal, gadis itu merasa malu sendiri.
Apalagi banyak murid-murid yang mendengar percakapan mereka.
Walaupun murid itu adalah teman-temannya
Qiandra kembali menyelidiki Exal lalu kembali berucap dan mengabaikan perkataan sebelumnya.
" Mana, kaos kaki lo? Lo datang kesini niat sekolah atau mau jadi kuli bangunan. Gak ada rapi-rapi nya." Ucap Qiandra dengan begitu lantang.
"Banyak bacot lo jadi cewek." Ucap Exal yang mulai kesal dengan sikap Qiandra yang seperti ibu-ibu arisan.
Qiandra berdecak kesal karena ucapan Exal.
"Itu, lagi baju lo bukan nya di masukin."
" Ribet, banget lo jadi cewek. Apa susah nya masukin pake tangan lo."
Qiandra membelalakkan kedua matanya.
"Masukin sendiri." Titah Qiandra.
" Nggak!" Exal hendak pergi.
" Lo, mau kemana? Gue belum selesai, masukkan baju lo."
Exal berdecak kesal.
" Apa susah lo bantu gue masukin." Exal dengan senyum jahilnya, karena ia pikir Qiandra mana mungkin berani menyentuh dirinya atau memasukkan bajunya kedalam celananya.
Pikiran Exal melenceng jauh, ternyata Qiandra begitu berani memasukkan baju nya, kedalam celananya.
Qiandra hendak memasukkan baju seragam Exal yang sengaja dia dikeluarkan.
Kep!
Exal memegang tangan Qiandra dengan cepat lalu berkata.
"Mulai sekarang! kita jadian lagi, karena lo udah berani-beraninya nyentuh gue lagi." Qiandra mengernyit lalu melihat ke arah Exal yang tiba-tiba berkata seperti itu dan segera menepis tangannya.
" Gak jelas lo." Ucap Qiandra hendak pergi, tetapi tangan Exal kembali menarik tangan Qiandra. hingga Gadis itu tertarik ke arah dada bidangnya.
"Apa, lo lupa dengan perkataan gue waktu itu. Hubungan kita boleh putus, tapi jika lo berani nyentuh gue lagi maka lo milik gue lagi." Bisik Exal ditelinga Qiandra sambil tersenyum senang. Sedangkan tubuh Qiandra seketika menegang, mendengar bisikan Exal di telinga nya.
Suara Exal membuat darahnya berdesir, detak jantungnya kembali berdetak kencang seakan cinta itu kembali tumbuh. Namun sayang, rasa sakit hati di dalam dadanya, membuat Qiandra segera mendorong tubuh Exal.
" Sorry! gue lupa dengan perkataan lo itu, dan perkataan lo itu gak masuk akal sama sekali. Jika hubungan yang sudah berakhir, jangan harap bisa kembali." Setelah berkata seperti itu, Qiandra segera pergi dari hadapan Exal yang tersenyum tipis melihat Qiandra pergi begitu saja.
Qiandra memasang wajah marah, hatinya kembali sakit, mengingat hubungan yang dijalani nya selama bertahun-tahun, saat masih duduk di bangku SMP harus kandas saat mereka masuk ke kelas X SMA.
Qiandra benar-benar kecewa begitu dalam. Bahkan kini begitu membenci Exal yang mengkhianati kepercayaan nya, membuat hubungan mereka harus berakhir begitu saja.
Padahal hubungan mereka sudah sangat lama, kedua orang tua mereka begitu dekat sejak dulu.
Sejak kecil mereka selalu bersama-sama, di saat orang tua mereka berkumpul bersama.
Sampai akhirnya mereka berpacaran. Namun semua itu sudah berakhir.
"Qiandra, lo kenapa?" Tanya Ketty
" Gue gak apa-apa." Ucap Qiandra sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
Bel sekolah mulai berbunyi, menandakan para siswa untuk segera masuk kedalam kelas nya.
"Qiandra..." Teriak Lani yang baru saja datang kedalam kelasnya dia adalah teman satu kelas Qiandra.
"Berisik banget, lo!" Ucap Ketty yang duduk sebangku dengan Qindra.
" Kalian berdua tau gak?" Kata Lani dengan begitu senang.
" Mana gue tau, totol. Kan lo belum kasih tau." Ketty berucap sambil menoyor kepala Lani.
" Anjing! Sakit tau." Umpat nya
"Lani, lo mau ngomong apaan?" Tanya Qiandra penasaran.
" Gue mau ngomong apa ya... Gara-gara si Ketty nih! Gue jadi amnesia gini." Lani mencoba mengingat apa yang akan ia katakan pada kedua temannya.
" Haha... Bukan amnesia tapi faktor umur." Ketty menertawakan Lani yang memang sering lupa.
"Sialan, lo... Udah ah! Gue balik keluar dulu. Kata orang tua dulu, kalo mau ingat sama kata-kata sebelum nya harus balik lagi ke tempat sebelumnya."
Lani segera pergi begitu saja tanpa memperdulikan Qiandra dan juga Ketty yang menertawakan tingkat Gadis itu.
Baru saja beberapa menit Lani sudah kembali lagi dengan berteriak.
" Gue tau… Sekarang gue tau.. " Teriak Lani membuat heboh satu kelas dengan ulah Lani yang mengejutkan satu kelas dengan tingkahnya.
" Gak jelas lo Lani." Teriak seorang cowok yang diiringi dengan tawa dari temannya yang lain.
" Apa sih lo… gue gak ada urusan sama kalian." ucap Lani dengan nada kesal. Lalu segera menghampiri Qiandra dan juga Ketty.
" Sekarang lo udah ingat?" tanya Qiandra.
" Iya, gue udah ingat sekarang. gue itu mau cerita kalau kelas kita bakalan kedatangan murid baru yang amat-amat tampan. Ini bisa jadi saingan Exal." Lani begitu senang dengan gosip terhangatnya.
Qiandra memutar bola matanya malas. ia kira ada apa, ternyata hanya kedatangan murid baru.
" Pagi anak-anak."
Suara seorang guru yang masuk kedalam kelas membuat obrolan Qiandra dan juga teman nya harus terhenti terlebih dulu.
" Ayo masuk." Ajak sang guru pada seseorang yang masih di luar kelas.
Seketika kelas yang hening saat murid baru itu masuk, membuat kelas kembali begitu ramai dengan bisikan mereka dengan kedatangan murid baru yang seperti oppa korea.
" Witwiw…" Lani bersiul menggoda murid baru yang kini berdiri di depan kelas.
Ketty yang di belakang Lani mencubit ulahnya yang bertingkah.
Qiandra hanya menggeleng kecil dengan tingkah Lani.
Ketty segera berpindah tempat ke arah samping Lani yang kosong, membuat Qiandra membelalakkan matanya.
Bagaimanapun bangku kosong di dalam kelas, hanya tinggal satu yang sekarang berada disamping Qindra.
Mungkin sebelum nya bangku kosong itu ada di samping Lani tapi sekarang Ketty telah menempatinya membuat Lani yang awalnya begitu bahagia seketika dibuat cemberut dengan ulah ketty.
" Ketty, lo ngapain pindah sih!" keluh Lani.
" Suka-suka gue lah." ucapnya sambil melihat ke arah laki-laki di depan yang akan memperkenalkan dirinya.
Lani mencibirkan bibir nya.
"Ayo, silahkan perkenalkan diri kamu pada teman barumu." Titah sang guru pada murid baru itu.
"Nama gue Abraham Lincoln." Abraham memperkenalkan dirinya pada semua orang di depan kelas dengan gayanya yang terkesan cuek.
" Abraham, sekarang kamu duduk di samping Qiandra." Titah sang guru sambil menunjuk kursi kosong di dekat Qiandra.
" Wah, kacau ini mah. Qiandra lo menang banyaknya." Ucap Lani tiba-tiba
Qiandra mengernyit lalu kembali fokus ke arah buku tulis nya tanpa memperdulikan anak baru yang kini berjalan ke arahnya.
Abraham duduk disamping Qiandra yang mendadak tidak bisa diam karena perasaannya tidak karuan karena belum terbiasa duduk sebangku dengan laki-laki.
"Ayo, kita mulai sekarang pelajarannya." Ucap guru di depan yang kini mulai menerangkan mata pelajarannya.
Qiandra mulai fokus kembali belajar tanpa memperdulikan laki-laki di sampingnya.
Sedangkan di balik jendela seseorang sedang mengintip kelas Qiandra dari kaca jendela paling ujung.
Mengepalkan kedua tangannya begitu erat. Rasa cemburu mulai timbul dalam dirinya. Lalu segera pergi begitu saja, setelah rasa penasaran nya telah hilang.
" Boleh kenalan?" Kata Abraham sambil menjulurkan tangannya di depan Qiandra, setelah guru selesai mengajar dan jam istirahat pun telah dimulai.
" Boleh, dong kenapa enggak! Nama gue Lani." Lani begitu cepat membalikkan tubuhnya dan menyambar tangan Abraham saat laki-laki itu ingin mengajak Qiandra berkenalan.
Ketty terkekeh dengan ulah Lani yang tidak tau diri itu.
Plakk…
" Gak usah lama-lama kali, tangan orang nanti pegal-pegal karena berjabat tangan sama lo terlalu lama." Celetuk Ketty sambil menepuk tangan Lani yang saja menggenggam tangan Abraham sejak beberapa menit yang lalu.
Abraham hanya tersenyum tipis lalu kembali mengulurkan tangannya pada Qiandra.
Qiandra pun segera membalas tangan Abraham yang terulur padanya, sambil berkata.
" Nama gue Qiandra putri."
" Nama gue-" Abraham yang hendak menyebutkan namanya kembali seketika terhenti dengan perkataan Qiandra.
" Gue udah tau kok nama lo, Abraham kan?" Ucapnya.
Abraham menganggukkan kepalanya lalu mengajak Ketty berkenalan.
" Nama gue Ketty." Ucapnya
" Ayo, kita pergi ke kantin." Ajak Ketty kepada para teman-temannya.
" Let's go… " kata Lani sambil menunjuk ke arah pintu dengan suara yang begitu keras.
" Kalian berdua pergi aja duluan, nanti gue nyusul." Kata Qiandra yang masih berkutat dengan catatannya.
" Kebiasaan deh! Ya, udahlah kita pergi aja. Ayo Abraham kita pergi saja. Biar dia sendirian di kelas." Ajak Lani dengan berani nya melingkar tangannya di tangan Abraham.
" Habisnya, tugas gue masih banyak. Gue harus ngumpulin dulu ini ke bu vita. Ini tugas susunan acara perlombaan nanti. Permainan apa saja yang akan diadakan di acara tahunan."
Qiandra menjelaskan dengan begitu jelas pada kedua temannya.
" Lo, osis?" Tanya Abraham tiba-tiba sambil melepaskan tangan Lani secara perlahan, membuat gadis itu cemberut.
"Gue-" Qiandra tidak meneruskan perkataannya, dia tidak ingin dirinya dikira pamer jabatan.
" Qiandra itu ketua osis, tapi awas lo ketipu sama dia." Kata ketty mencoba memperingati Abraham.
"Gak jelas lo Ketty." Kata Qiandra sambil kembali fokus mengerjakan tugas nya.
Qiandra yang terlihat kalem, tegas, pintar. Namun semua itu hanyalah kedoknya di sekolah.
Dia adalah gadis yang terbilang nakal jika di luar sekolah.
Namun Qiandra tidak ingin dicap Gadis seperti itu jika berada di lingkungan sekolah.
Qiandra berusaha untuk menjadi ketua osis di sekolah, sebenarnya tujuan nya hanya ingin merubah seseorang yang pernah mengisi hati nya di masa lalu. Tapi sayangnya semua sudah berakhir.
" Ya, udah deh kita cabut duluan ya… ayo Abraham." Kata ketty.
"Ehmmm… Gue disini, aja bareng Qiandra. Gue juga mau pinjam buku catatan buat mencatat pelajaran yang ketinggalan sebelum nya." Kata Abraham menolak ajakan Lani dan Ketty
" Oke! Kalo gitu kita pergi berdua saja. Ayo Lani." Ajak Ketty merangkul pundak Lani yang cemberut karena Qiandra untung banyak.
Abraham kembali duduk di samping Qiandra.
" Qiandra, lo gak apa-apa kan berdua sama gue." Kata Abraham dengan nada sedikit canggung.
Walaupun Abraham terlihat pendiam dan cuek, tapi laki-laki itu. Cukup berani untuk berteman dengan siapa pun yang menurut nya nyaman.
" Gak, apa-apa. Relax aja!" Ucap Qiandra.
Melihat ke arah Abraham sekilas dan segera kembali melihat ke arah tugas nya.
"Sekalian gue mau pinjem buku-buku lo. Kalo gak selesai sekarang, gue boleh pinjem buku lo buat dibawa pulang gak?"
" Boleh! Lo tinggal pilih aja mau bawa buku gue yang mana dulu." Ucap Qiandra.
Sambil mengeluarkan beberapa buku yang ada di dalam tas nya.
" Gue pinjem, buku yang menurut lo bisa dipinjam agak lama sedikit. Karena gak mungkin kan kalo gue nulis sebanyak itu dalam satu hari. Nanti tangan gue pegal-pegal."
Qiandra terkekeh mendengar jawaban Abraham.
" Oke! Gue kasih lo dua buku ini aja." Qiandra memberikan buku matematika dan Indonesia ke hadapan meja Abraham.
" Thanks"
"Sip!" Lalu kembali fokus menulis
Di saat mereka berdua sedang serius dengan buku nya masing-masing.
Geng EXALTO masuk kedalam kelas Qiandra.
Exal yang jalan paling depan di ikuti oleh teman-temannya.
Langsung menghampiri ke arah Qiandra.
" Minggir!" Usir Exal pada Abraham yang sedang menulis.
Qiandra lebih dulu mendongak untuk melihat ke arah sumber suara yang tak asing di telinga nya.
Mata cantik Qiandra bertemu dengan mata tajam yang dipancarkan Exal padanya.
Membuat Qiandra segera memalingkan wajahnya. Lalu melihat ke arah Abraham yang sama sekali tidak peduli dengan Exal yang menyuruh nya pergi.
BRAKKK…
Exal menggebrak meja.
Qiandra terperanjat kaget sedangkan Abraham sama sekali tidak terkejut.
Lalu secara perlahan mulai melihat ke arah Exal.
"Minggir!" Titah Exal pada Abraham.
" Exal, lo apa-apaan sih!" Tanya Qiandra yang tak suka dengan ulah Exal yang yang mengganggu ketenangan nya. Dan baru kali ini setelah putus Exal kembali mengganggu nya lagi, bahkan sampai berani datang kelas nya.
" Gue bilang minggir, lo tuli?" Perkataan Exal membuat teman-teman nya yang lain menertawakan Abraham yang disebut tuli.
Exal malah mengabaikan perkataan Qiandra.
"Exal!" Bentak Qiandra
Exal yang melihat Qiandra berani membentak nya hanya karena laki-laki yang duduk di samping nya ia sebut tuli.
Seketika rasa cemburu dalam dirinya membuat rahang Exal mengeras, tangan nya mengepal erat.
Exal segera menarik kerah baju Abraham dan melemparkannya ke arah lain.
Ia sudah kehabisan kesabaran nya dengan ulah Abraham yang tetap saja diam, tidak menuruti perintah nya.
Membuat nya harus memperlihatkan sisi jahatnya di depan Qiandra yang sama sekali tidak pernah melihat dirinya marah atau memakai kekerasan di hadapannya.
"Ah… Exal, apa yang kau lakukan." Qiandra terkejut dengan ulah Exal.
Abraham meringis kesakitan terduduk di lantai.
Exal hanya diam, namun disaat Qiandra ingin menolong Abraham.
Exal segera meraih tangan Qiandra.
"Exal lepasin, tangan gue." Exal segera menarik tangan Qiandra untuk membawanya ke rooftop sekolah.
Pria itu hanya memasang wajah marah sambil menarik tangan Qiandra dengan penuh paksaan.
" Exal lepasin tangan gue sakit." Exal segera melepaskan tangan Qiandra.
Qiandra yang terbebas dari genggam tangan Exal, segera membalikkan badan nya untuk melarikan diri.
Exal berdecak lalu segera mengejar Qiandra mengangkat tubuh Qiandra dengan menaruh di pundaknya.
Membuat tubuh Qiandra kini menjadi menjadi terbalik.
" lo, apa-apaan sih! turunin gue…" titah Qiandra.
Namun sayang nya Exal sama sekali tidak menggubrisnya.
Sampai mereka tiba di rooftop sekolah, barulah Exal menurunkan tubuh Qiandra.
Qiandra memasang wajah kesal, sambil melipat kedua tangannya di dada.
" Gue laporin perbuatan lo itu."
Bukan nya membalas perkataan Qiandra Exal malah meraih pinggang Qiandra untuk mendekat ke arah nya dengan sekali tarikan.
"Jauhi, cowok itu." dengan nada penuh penekanan Exal mencoba memperingati Qiandra untuk menjauhi Abraham.
Jarak mereka begitu dekat.
" Apa urusan nya sama lo." Ketus Qiandra.
" Gue, gak suka kalo lo deket-deket sama cowok itu."
Exal menatap wajah cantik Qiandra.
" Sejak, kapan lo ngatur-ngatur gue. Lagi pula kita ini udah putus dan gak ada lagi urusannya sama lo, mau gue deket sama siapa pun itu hak gue. Paham!"
Setelah berkata seperti itu dengan wajah angkuh Qiandra hendak mendorong tubuh Exal untuk menjauh dari nya karena ia akan segera pergi.
Sudah cukup lama mereka berdua tidak pernah saling berbicara atau pun berdebat seperti ini. Bahkan setelah putus tak ada komunikasi lagi di antara mereka, walaupun terkadang Qiandra sering kali merindukan masa-masa saat mereka pacaran. Qiandra begitu kesulitan untuk berada di titik sekarang ini.
Ia terjatuh begitu dalam. hatinya terluka, karena Exal yang tiba-tiba berubah padanya.
Pria itu semakin menjauh darinya, ketika banyak orang yang membicarakan hubungan Exal dengan Gaury.
dia adalah wanita yang membuat hubungan nya dengan Exal menjadi berantakan seperti sekarang.
Gaury satu-satu nya wanita yang terbilang hebat bisa bergabung dengan geng EXALTO, mungkin karena mereka satu kelas. tidak heran jika mereka bisa berkumpul bersama.
" Lo gak usah bahas soal kata putus lagi, apa lo lupa dengan apa yang gue ucapkan tadi pagi. Lo udah nyentuh gue itu berarti hubungan kita sudah kembali seperti dulu. " perkataan Exal membuat Qiandra meradang karena pria itu dengan mudah nya berkata seperti itu tentang hubungan nya.
Mengajak Qiandra jadian kembali, tanpa ada nya penjelasan ataupun kata maaf yang diucapkan Exal padanya atas perbuatan yang dulu diperbuatnya.
" Dasar aneh, lo udah gila ya… gara-gara ditinggal Gaury liburan ke luar negeri dan lo gak di ajak. Makannya lo ngajakin gue balikkan buat jadiin gue pelarian doang di saat lo kesepian. Lo bener-bener keterlaluan tau gak. " Suara Qiandra semakin meninggi di akhir perkataan nya. Tubuh nya gemetar menahan sesak di dada nya yang ternyata masih tersimpan rasa yang begitu menyakitkan bagi nya.
Matanya mulai berkaca-kaca, namun Qiandra mencoba menahannya untuk tidak menangis. Ia tidak berani melihat ke arah wajah tampan Exal dan lebih memilih melihat langit-langit.
Exal hanya diam merasakan tubuh Qiandra yang menegang dan juga gemetar.
" Lo sakit?" tanya Exal yang mengira jika tubuh Qiandra seperti itu karena sedang sakit.
Walaupun ia tahu, bukan tubuhnya yang sakit melainkan hati nya. Bahkan ia sendiri pun merasakan kesakitan yang diderita Qiandra selama ini.
" Ya, gue sedang sakit. Sekarang lo lepasin gue!" Titah Qiandra.
Exal pun segera melepaskan tangan Qiandra.
Dengan cepat Qiandra segera berlari dari hadapannya dengan hati yang kembali terlalu.
Air matanya nya mulai berjatuhan.
Dia akan berlari menuju toilet, tetapi, saat di koridor ia tak sengaja bertabrakan dengan Abraham yang telah selesai dari toilet.
"Qiandra!" Ucapnya sambil melihat wajah Qiandra yang penuh dengan air mata.
Tanpa menjawab perkataan Abraham, Qiandra segera berlari begitu saja melewati nya.
Abraham melihat ke arah depan setelah Qindra pergi begitu saja.
Mata tajam seseorang begitu menusuk ke arah Abraham.
Exal berjalan mendekat ke arah Abraham yang sedang berjalan ke arah nya untuk menuju kelasnya kembali.
Setelah jarak mereka cukup dekat Exal mencoba menghalangi Abraham.
"Jauhi Qiandra, dia Cewek gue." Ucap Exal, lalu segera pergi begitu saja tanpa menuju jawaban dari Abraham.
Ini bukanlah yang pertama kalinya Exal mengancam para laki-laki yang berniat untuk mendekati Qiandra.
Sudah banyak laki-laki yang sempat dekat dengan Qiandra, tiba-tiba menjauhinya karena diancam oleh mantan kekasihnya yaitu Exal.
Dia adalah mantan pacar Qiandra, namun sayang nya, sikap Exal tidak mencerminkan bahwa ia hanyalah mantan yang seharusnya dilupakan.
Exal, malah seperti pacar yang sangat posesif. Namun secara diam-diam, tidak berani memperlihatkan sikapnya yang sering cemburu dengan Qiandra yang banyak didekati para laki-laki.
Namun hari ini, saat kejadian pagi-pagi. Qiandra telah berani menyentuh nya lagi, maka ia telah kembali menjadi miliknya lagi.
Exal sudah merasa muak dengan apa yang terjadi.
Ia tidak peduli kedepannya nanti hubungan nya akan seperti apa. Dan siapa yang akan merasakan sakit hati di antara mereka.
Yang jelas ia tidak ingin berjauhan dengan Qiandra, teman masa kecilnya sekaligus mantan pacar nya yang masih di cintai nya sampai detik ini juga.
Exal sangat mencintai Qiandra lebih dari apapun.
Exal memutuskan Qiandra karena ada satu hal yang terus saja ia sembunyikan dari gadis itu. Ia tidak ingin Qiandra tau dan lebih sakit hati lagi, mungkin dia akan membencinya lebih dari sekarang.
Ini lah yang membuat nya harus merasakan sakit hati yang tak bisa diungkapkan pada siapapun.
Seolah-olah Qiandra lah yang paling tersakiti.
Mungkin jika Qiandra tau dan merasakan di posisi Exal, dia juga akan merasa hal yang sama rasa bersalah dan takut kehilangan pun menjadi satu.
Namun Exal tidak ingin Qiandra mengetahui semua itu dan akhirnya memilih untuk memutuskan hubungannya.