Bab 1

‘Galas yang ini lebih kalem. Nggak banyak cerewet kayak yang biasa!”

Tidak lupa sebuah emotikon dikirimkan untuk melengkapi ekspresi Bella ketika mengirimkan pesan untuk Galas tersebut. masih centang dua tanpa warna biru. Mungkin Galas memang sedang sibuk bekerja.

Bella diam saja sekarang. Berusaha untuk tidak bersikap kekanak-kanakan lagi seperti hari sebelumnya. Berbicara dengan mama membuat Bella menyadari bahwa dirinya tidak harus bersikap kekanak-kanakan seperti itu pada Galas. Pria itu mungkin saja sedang mengalami hari yang berat dan Bella menambah beban suaminya itu untuk segera pulang. Tidak lagi!

Bella belajar mengerti Galas saat ini. Toh dijaman modern seperti ini mereka masih sering bertukar kabar. Lagipula Bella kenal Galas –kepribadian Galas meskipun dia tidak tahu rupa laki-laki itu- selama beberapa tahun terakhir sebagai pria yang bertanggung jawab. Laki-laki yang sangat menyayanginya.

Ia mengambil perlengkapan fotography yang dibelinya beberapa saat yang lalu. memotretnya dengan aesthetic lantas mengirimkannya juga pada Galas.

‘mama nawarin aku untuk lanjutin hobi lagi. Enggak apa-apakan? Mengisi waktu sampai kamu pulang. Janji bakal jaga diri kok!’

Bella kirimkan lagi pada Galas. Laki-laki itu bisa membacanya nanti saat Galas ada waktu. Terpenting sekarang, Galas tidak ketinggalan informasi tentang dirinya. Galas pun tidak akan memikirkannya lagi seperti sebelumnya. Semoga dengan seperti ini Galas bisa terbantu lebih banyak.

Selanjutnya Bella melirik ke seluruh apartemen. Mungkin dia bisa memulai harinya dengan memasak makan malam dulu. Kemudian dia bisa melanjutkan dengan menata ulang beberapa perabotan di apartemen tersebut.

Dulu Galas memang membentuknya untuk keselamatan Bella. Namun sekarang perempuan itu sudah bisa melihat. Mungkin Bella bisa menyingkirkan beberapa perabotan yang tidak perlu. Ia membuka lemari pendinginnya melemaskan bahunya ketika dia lupa membeli sajian untuk makan malamnya. Padahal Bella sudah sempat keluar. Keluar lagi rasanya malas.

Perempuan itu pada akhirnya memilih memesan delivery saja. Bersyukur di dunia yang ditinggalinya menyediakan layanan pesan antar hingga Bella tidak perlu kelaparan saat penyakitnya sebagai kaum rebahan kambuh. Pada siapapun yang memulai ide bisnis seperti itu dari awal, rasanya Bella sangat berterima kasih.

Sambil menunggu Bella memutuskan mandi sambil membayangkan bagaimana kira-kira nanti dia menyambut Galas saat laki-laki itu pulang ke rumah. Rasanya Bella sudah tidak sabar memasakkan Galas makanan. Secara selama ini laki-laki itu saja yang melakukannya. Galas terlalu memanjakannya selama ini dengan menyuruhnya untuk menjauh dari api atau apapun itu karena dianggap membahayakannya.

‘Yang kalem belum tentu ngangenin’

Balasan Galas masuk ke dalam ponselnya membuat Bella tersenyum membaca pesan laki-laki itu namun yang dikirimkannya hanya balasan delikan mata. Sekilas terlintas ide iseng dalam diri perempuan itu. Mengirimi Galas sebuah potret dirinya yang tengah merangkul sebuah boneka.

‘Aku tarik lagi deh tuh si Galas kw.’

Balasan pesan itu sukses membuat Bella meledakkan tawanya. “Apa?” Bella merasa senang sekali ketika Galas langsung menghubunginya melalui panggilan video. Meskipun yang terlihat hanya tangan laki-laki itu yang tengah mengerjakan sesuatu.

“Kamu lebih suka Galas yang itu atau Galas yang ini?” Galas bertanya dengan nada kecemburuan yang teramat kentara dalam jiwa laki-laki itu. Bella semakin meledakkan tawanya puas mendengar suara Galas itu. Memang itu yang diharapkannya.

“Kamu masih sibuk kerja?” Bella bertanya ketika melihat tangan Galas terlihat sangat sibuk.

Terdengar helaan nafas. “Ada sedikit masalah dengan proyek. Lebih tepatnya sama kontraktornya sih!”

Bella juga menghembuskan nafasnya. Terdengar decakan tipis dari Galas. “Kamu khawatir ya?”

“Hm…” Bella menjawab tanpa malu-malu.

“Bee, kamu masih tertarik dengan nature fotography?”

Bella menggigit bibirnya. Ada ketakutan dalam dirinya ketika Galas melarang hobinya untuk yang satu itu. “Ehh… habisnya aku merasa waktu aku terlalu banyak terbuang gitu.”

“Kalau nggak nature masih berminat?” Galas juga bertanya dengan nada hati-hati pada isterinya itu. Tahu sekali mimpi itu adalah hal yang terbesar yang Bella jalani.

“Maksudnya?” Bella bertanya ragu.

“Kalau pergi ke alam yang terlalu…”

Bella tertawa. “Nature photography itu nggak melulu pergi ke alam liar kok.”

Galas menghembuskan nafasnya. “Karena kamu baru sembuh aja, Hon. Kalau nanti udah stabil aku bolehin kok! Mungkin… aku juga temanin kalau ada kesempatan.” Nada Galas terdengar lemah untuk kalimat yang terakhir.

Bella tersenyum. Laki-laki itu sangat ingin sebenarnya berada di dekat Bella namun entah kenapa pekerjaan laki-laki itu kadangkala mengharuskannya pergi-pergi secara mendadak. Semenjak menikahpun Galas memang beberapa kali pergi.

Namun biasanya pakai pemberitahuan dulu. Hanya kali ini yang paling mendadak. Makanya Bella kurang siap beberapa hari yang lalu. terlebih lagi entah kenapa momennya terasa begitu kurang tepat. Bella hanya kecewa apa yang diharapkannya selama beberapa tahun tidak terwujud. Mungkin karena hal tersebut muncul berbagai macam spekulasi buruk yang tidak mendasar untuk Galas.

“Bee, bentar ada yang nelpon.”

Bella menganggukkan kepalanya mengerti. Ah, melihat Galas yang seperti itu dapat Bella bayangkan sesibuk apa suaminya itu sekarang. Andai saja Bella berada disamping Galas. Ingin sekali rasanya memberikan pelukan untuk meringankan sedikit masalah Galas.

Seketika Bella merasakan perutnya yang keroncongan. Perempuan itu melihat notifikasi pada ponselnya bahwa pesanannya sudah diterima. Siapa yang melakukannya? Ah, jangan-jangan tetangga sebelah yang menyebalkan itu, siapa lagi memang.

Sial! Bella menyambar pakaiannya asal berpakaian sedikit lebih baik kemudian menekan bel unit laki-laki itu. Tidak butuh waktu lama sampai wajah menyebalkan itu tampil dihadapan Bella. Tidak lupa dengan senyuman menyebalkannya yang membuat Bella memiliki keinginan untuk mencakarnya.

“Mana makanan gue!” Bella langsung bertanya ketus.

Neo melebarkan pintu rumahnya, memperlihatkan makanan Bella sudah dihidangkannya di atas meja laki-laki itu. “Kebetulan gue juga mau makan. Kenapa nggak makan bareng aja?”

Menyebalkan! Demi apapun kenapa harus ada makhluk seperti itu di muka bumi ini. Bella ingin kembali ke unitnya namun Neo menahan lengan perempuan itu. “Nanti sakit magh telat makan gitu.”

“Mau gue sakit kek dan nggak Kek apa pedulinya sama Loe!” Bella menyalak marah. Namun Neo malah memberikan perempuan itu tatapan mengintimidasinya. Terlihat tidak menyukai sifat keras kepala Bella untuk yang satu itu.

Seenak jidatnya Neo menarik perempuan itu masuk ke unitnya lantas mendudukkan Bella di salah satu kursi. “Makan dulu!” Neo menahan perempuan itu saat Bella ingin kembali ke unitnya.

Bella menghembuskan nafasnya kesal. Kali ini dia memang kalah dari laki-laki itu. Namun bukan berarti mengalah. Bella hanya tidak ingin berdebat banyak yang makin membuatnya berlama-lama menghabiskan waktu dengan Neo.

Neo tersenyum melihat perempuan itu yang akhirnya mau mengalah dengannya. “Baru selesai mandi?” Neo melemparkan pertanyaan aneh yang membuat Bella memplototkan matanya pada pria yang sebenarnya memilki paras cukup menawan. Neo tertawa entah karena hal apa yang lucu.

Bab 2

“Aku udah bilang belum ya, kamu seksi dengan rambut basah kayak gitu.”

Bella menghentikan makannya menggebrak meja Neo dengan keras. Laki-laki itu tidak hanya menghancurkan mimpinya. Tapi sekarang melakukan pelecehan secara verbal kepadanya. Kesabaran Bella benar-benar habis sepertinya untuk laki-laki itu.

“Oke maaf! Aku hanya bilang apa yang kulihat.”

Bella tidak menjawab hanya melemparkan tatapan tajamnya untuk laki-laki itu. Neo mengusap kepalanya. Beranjak dari kursi dengan raut sedikit takut. “Kamu memang semenyeramkan ini ya kalau marah?”

Bella tidak menjawab. Perempuan itu hanya sedikit tidak mengerti ketika Neo memberikan es krim dihadapan perempuan itu. “Mungkin bisa balikin mood kamu?”

“Nggak usah!” Bella berucap ketus.

“Yakin?” Neo bertanya dengan memakan beberapa suap memejamkan matanya seolah-olah memang seenak itu. Sial sekali! Dari mana laki-laki menyebalkan itu tahu Bella penyuka nomor satu es krim. Neo tersenyum puas.

“Boleh kok bawa pulang kalau kamu nggak mau makan disini!”

Neo memberikannya ke tangan perempuan itu. Bella masih bersikap ketus membanting pintu Neo dengan keras untuk menyelamatkan harga diri terakhirnya. Neo tersenyum tipis melihat kelakuan wanita itu. Namun entah kenapa di detik berikutnya ia meringis sambil merasai dadanya. Seolah-olah ada sesuatu yang luka pada bagian itu.

***

Pagi Bella tidak kalah lebih kacau dari sebelumnya. Laki-laki itu mengantarkan sarapan pada Bella dengan wajah terberengsek yang pernah Bella lihat. Heran! Kenapa dia harus ditakdirkan berdekatan dengan laki-laki itu saat ini.

“Bee, udah sarapan?” Galas melakukan panggilan video lagi padanya masih dengan kondisi kamera seperti sebelumnya. Kali ini ada sebuah piring yang menemani laki-laki itu sambil bekerja. Ah. Bella benar-benar khawatir.

“Lagi enggak mood…” bibir Bella maju beberapa saat.

“Kenapa?”

“Ehmm itu… bukan apa-apa.” Bella memilih menyembunyikan sementara dari Galas. Tidak tega dengan pria yang banyak pikiran itu makin terbebani.

“Bee…” nada Galas terdengar khawatir.

“Cuma tetangga sebelah apart, dia sedikit mengganggu itu saja.”

Galas mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja seolah ingin mempertimbangkan sesuatu. “Jangan khawatir. Aku Cuma sedikit bete aja.”

“Tumben kamu bisa benci sama orang!” Galas Berkomentar.

Bella memejamkan matanya. Ia memainkan bibirnya beberapa saat. Keningnya berkerut-kerut. “Dia pria yang nabrak aku…” Bellla bersuara lesu. Galas diam, sepertinya laki-laki itu memperhatikan wajah isterinya membuat Bella tidak tega pada Galas yang berfikir keras sementara dia juga sibuk dengan urusan lain saat ini.

Bella menarik nafasnya. “Sejujurnya aku sudah memaafkan mencoba melupakan tapi melihat wajah lagi saat aku membuka mata aku seperti melihat cerita kelam di masa gelap itu lagi. Kamu pasti ingat masa itu? Dia begitu mudahnya menghancurkan semuanya dan dibiarkan bebas setelah beberapa tahun aja? Dan kamu tahu, dia tidak pernah menunjukkan rasa bersalah apa-apa.”

Galas diam beberapa saat. “Lantas kamu ingin apa dari laki-laki itu, hon? Kamu ingin dia berlutut di kaki kamu atau kamu ingin dia mengalami seperti apa yang kamu rasakan juga?”

“Tidak perlu seperti itu. Cukup dengan pergi dari hidupku aja. Aku jijik melihat wajahnya itu.”

Galas diam lagi, mungkin pria itu mendengarkan saja semua amarah isterinya lantas berfikir mencari jalan keluarnya. Sekali lagi Bella tiba-tiba merasa bersalah pada suaminya itu. Ia menghapus air matanya yang tidak terasa menggenang begitu saja.

“Aku minta maaf terbawa perasaan.” Bella menarik nafasnya. “Kamu enggak usah terlalu mikirin. Pria itu pasti akan mendapatkan karmanya sendiri nanti.”

***

Pria tampan itu sedang tercenung sebentar sambil memutar kopinya. Pandangannya lurus ke depan pada pengerjaan konstruksi tapi yang jelas bukan itu yang laki-laki itu pikirkan. Ada hal lain yang ingin dilakukannya.

“Melamun di tempat kerja bisa bahaya, Pak!” Toro, arsitek tampan yang terlibat kerja sama dengannya dalam projek kali ini sekaligus salah satu teman terakrab yang dimilikinya. Pria itu mengambil tempat duduk disampingnya. Ia juga ikutan menyesap kopi bersama dengannya.

“Ada masalah apa sih? Dalem gitu mikirnya.” Toro melanjutkan komentarnya meniup secangkir kopinya berniat ingin menyesapnya lagi.

“Kalau tiba-tiba menceraikan isteri ke pengadilan akan ngabulin dengan mudah enggak ya?”

Phuft! Air yang sedang diteguk Galas tersembur begitu saja keluar mendengar teman terakrabnya itu mengucapkan kata perceraian. Toro memandang Galas dengan tatapan tidak yakin. sekali lagi menelisik keseriusan pria itu melalui wajahnya.

“Loe tadi ngomong apa?” Toro menggelengkan kepalanya.

“Loe akan menceraikan Bella? Kenapa? Galas Loe waras?” Toro melemparkan serangkaian pertanyaan yang becibun pada temannya itu.

Galas menarik nafasnya lantas mengusap wajahnya setelah itu. Toro masih melihat itu. Masih belum melepaskan pandangannya sedikitpun dari teman yang sudah cukup lama dikenalnya itu. Semenjak dirinya dan Galas sama-sama berkuliah lantas meniti karir dengan profesi masing-masing meski masih berhubungan.

Toro menarik nafasnya juga melihat pria itu. “Loe udah yakin?”

Sekali lagi tarikan panjang Galas berikan lantas mengusap wajahnya. “Gue udah berusaha sekeras yang gue bisa dan kayaknya emang enggak bisa.” Pria itu berkata lirih. Terasa teramat berat dan pahit. Lebih pahit dari sekedar kopi hitam yang tersaji dihadapan mereka.

Toro menyesap kopinya lagi. Agaknya pria itu mengerti kemana arah yang Galas maksud hingga membuatnya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau Loe ngomong kayak gitu gue bisa apa.” Hanya itu komentar Toro pada akhirnya.

“Udah bicara dengan mama?” tentu saja yang dimaksud disini mama mertuanya Galas alias ibunya Bella.

“Mungkin nanti. Setelah pulang kerja.”

Toro mengangguk-anggukkan kepalanya lagi. “Hm, Loe kan mintanya baik-baik, mulanginnya baik-baik juga kalau bisa.”

Galas hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan. Laki-laki itu tidak menyesap satu tegukpun kopi yang diminumnya. Hanya memutari pinggiran kopi dengan jarinya. Pikirannya pasti sekarang tertuju pada isterinya, membayangkan reaksi Bella menerima surat perceraian itu namun juga membayangkan reaksi Bella saat bersamanya.

Toro geleng-geleng kepala membaca pikiran kawannya tersebut. “Ada ya orang masih saling cinta tapi minta cerai.” Pria itu bangkit berdiri mungkin melanjutkan bagiannya. Sementara Galas masih terdiam disana. belum berhasrat sedikitpun untuk bergabung dengan Toro. Dia hanya menarik bibirnya tipis.

Di depan matanya tersaji kehangatannya bersama Bella. Bagaimana Galas selalu ketagihan mendekap perempuan itu setiap malamnya. Bagaimana Galas yang begitu suka memperhatikan gerak Bella dalam segala hal lantas pura-pura tidak tahu apa-apa ketika Bella menyadari kehadiran laki-laki itu. Galas pasti akan merindukan masa di mana dia akan pulang ke rumah secara diam-diam lantas mengejutkan Bella dari belakang. Memberikan sebuah kecupan kadangkala dibubuhi bunga kadangkala sekedar kecupan kecil pada pelipis Bella.

Galas akan kehilangan semua itu nantinya. Akan kehilangan rengekan Bella yang menanyakan tanggal kepulangannya. Disaat yang sama, Bella juga berusaha pengertian. Berusaha tahu Galas cukup sibuk hingga Bella menahan rindunya. Kadangkala hal itu membuat Galas tersentuh.

Ia mengusap wajahnya bermaksud melenyapkan semua bayangan itu di depan matanya. Efeknya hati laki-laki itu jadi semakin berat sekarang. Namun pertimbangan lain tentang Bella membuat Galas pada akhirnya menceraikan isterinya itu. Tiga tahun mereka memang harus berakhir sepertinya.

Bab 3

Bella menatap lembaran surat yang ada dihadapannya beberapa kali. Mengerjapkan matanya serta membalikkan kertas itu beberapa kali untuk memastikan. Ia masih tidak percaya bahwa Galas mencoba menceraikannya secara tiba-tiba. Kenapa? Mereka masih berkabar dua minggu yang lalu. Bella hilang akal, menjilat bibirnya sendiri tidak habis pikir.

Perempuan itu keluar kediamannya sambil menghubungi nomor Galas yang tentu saja nihil. Tidak ada nada sambung apapun dalam panggilannya pada Galas. Sepertinya kontaknya sudah diblokir suaminya.

Bella melangkahkan kakinya menuju sebuah rumah. Kediaman orang tua Galas. Dia ingat karena Galas sering menyebutkan alamat itu. Sekitar satu jam perjalanan Bella sampai di rumah yang agak asri. Tentu saja alam perdesaan identik dengan hal seperti itu. Sejauh mata memandang hanya ditemukan kenyamanan.

"Mbak Bella!" Seorang wanita lebih muda dari Bella menyambut perempuan itu setelah mengetuk pintu. Panggilan Mbak yang disematkan oleh wanita ayu itu untuknya sudah pasti dia pekerja di rumah itu. Narti, namanya. Wanita yang menemani wanita tua itu karena menolak untuk tinggal bersama anaknya, Galas dan Bella.

"Masuk dulu Mbak saya panggilkan ibu."

Tidak lama mertuanya itu datang. Itu kali pertamanya Bella melihat wajah mertuanya itu secara langsung. Tapi sepertinya Galas tidak mirip dengan ibunya berbeda sekali dengan yang Bella lihat di foto. Mungkin pria itu lebih memiliki kecenderungan itu untuk meniru wajah ayahnya. Tapi apa pentingnya hal itu bagi Bella sekarang? Ada hal lain yang perlu dia bahas dengan mertuanya.

"Bel, sudah sembuh?" Mama mertuanya berbasa-basi. Membawa menantunya tersebut duduk lantas menangkupkan tangannya di pipi Bella. Hal yang biasa wanita itu lakukan kepadanya semenjak pertama kali Bella datang ke rumah itu. Tidak pernah berubah bahkan setelah surat cerai yang dilayangkan Galas untuk menantu satu-satunya itu.

"Dengan siapa kesini? Mama?" Ibu Galas itu masih melemparkan pertanyaan lembut penuh perhatiannya pada Bella.

Bella menggelengkan kepalanya. Sorotnya lesu tidak membalas sehangat yang wanita tua itu lemparkan padanya. "Bella sendiri, Bu!"

Wanita tua itu sepertinya tahu apa yang Bella sampaikan sebelum dia berusaha menjelaskan sendiri melalui mulutnya pada orang yang sudah melahirkan Galas ke dunia itu. Terlihat dari cara wanita itu menggenggam tangannya dengan hangat. "Galas tidak ada disini jika itu yang kamu cari. Ibuk tidak bisa memberitahu dimana dia karena ibu sudah janji dengan Galas untuk tidak memberitahu kamu. Ibu minta maaf tidak bisa membantu kamu, Nak."

Bella menggigit bibirnya. "Tapi Bella butuh kejelasan, Bu! Kenapa Galas menceraikan Bella secara tiba-tiba? Kami masih berkomunikasi dua minggu yang lalu dan baik-baik saja. Bahkan Galas masih dengan nada perhatiannya. Dia juga mengirimiku sebuah boneka yang katanya pengganti dirinya."

"Kamu sudah terima suratnya kan? Ibuk rasa Galas juga menyebutkan alasannya disana."

Bella menggigit bibirnya. Air mata perempuan itu berjatuhan. Ibu menggenggam lagi tangan menantunya itu. Sebentar lagi mantan menantunya seandainya Bella mau menandatangani perceraian itu tanpa pengajuan gugatan.

"Bella, ibu senang kamu sama Galas. Tapi maaf ibu tidak bisa berbuat banyak untuk kalian. Seandainya ibu bisa menggantikan Galas unfuk menjadi seseorang yang kamu benci."

Bella diam. Gadis itu menggigit bibirnya teramat keras. “Bukan itu yang Bella cari kesini, Bu? Ketidakcocokan apa yang Bella dan Galas tidak bisa jalani? Apa Galas sebenarnya seorang laki-laki yang memiliki isteri sehingga ketika Bella bisa melihat semuanya akan ketahuan seperti itu? Bella merusak keluarga bahagianya?”

“Pernikahan kalian tidak akan tercatat secara resmi jika seperti itu keadaannya, Bel.” Ibu memberikan pelukan hangat pada Bella menenangkan perempuan itu. “Bisakah kamu memaafkan Galas, Bel? Ibu tidak masalah bagaimana cara kamu bahagia? Tapi bisakah kamu memaafkan semua kesalahan yang Galas lakukan?”

“Bagaimana aku bisa memaafkan Galas kalau aku enggak tahu salah Galas di mana, Bu? Apa karena sikap dia yang tiba-tiba seperti ini? Galas ingin apa sebenarnya? Ingin aku mencintainya atau mempertahankan pernikahan ini bersamanya.”

Ia membawa raganya keluar dari sana dengan kehampaan yang makin terasa. Tentunya setelah berbagi kesedihannya dengan sang mertua yang tidak memuaskan hatinya. Bukan itu yang Bella cari kesana. Ia butuh kejelasan. Dan sikap Galas seperti ini tidak pernah terjadi selama dia mengenal Galas dalam masa gelapnya.

Entah kenapa Galas Bella sedikit berbeda dengan Galas terangnya! Segalanya jadi semakin mendrama ketika hujan yang berjatuhan mengguyur raganya. Biarlah! Bella ingin menangis dibawahnya tanpa keteduhan apapun. Menumpahkan segala sedihnya atas hubungannya yang tidak berakhir baik dengan Galas.

Bella pikir bisa mendapatkan penglihatan lagi bisa membantunya untuk lebih bahagia dengan Galas. Menjadikan kehidupan mereka lebih bahagia dan sempurna. Atau, sebenarnya Galas sudah berencana menceraikan Bella dari lama? Dia ingat, pria itu berusaha keras sekali mencarikan donor mata untuk Bella.

Berupaya dengan sekuat tenaganya. Jangan-jangan itu bukan bentuk perhatian Galas. Jangan-jangan Bella saja yang merasa selama ini Galas begitu mencintainya. Jangan-jangan …

Bella tidak sanggup lagi berandai-andai dengan segala pemikiran buruk dalam kepalanya. Hatinya semakin sakit memikirkan semua itu. Terlebih lagi dengan sebagian dalam dirinya masih menolak bahwa Galas bukanlah pria sekejam itu. Masih ada kepercayaan bahwa Galas pernah tulus untuknya.

Sekali lagi kenyataan menghantam Bella dengan map yang berisikan pengajuan tuntutan cerai dari Galas atas dirinya. Dia tidak tahu entah sudah berapa lama dia berjalan meninggalkan kediaman Galas dengan berjalan kaki. Berjalan tanpa tujuan yang sama sekali tidak tahu akan kemana.

"Bel!" Seorang pria yang sedang melintasi kawasan itu menepikan mobilnya. Keluar lantas membawa payung serta sebuah jaket untuk menyelimuti tubuh yang kuyup itu dengan sangat cepat. Ada raut kelegaan dalam diri laki-laki itu sedikit ketika menemukan Bella meskipun di detik berikutnya sorot panik itu ada lagi melihat kondisi Bella yang kuyup separuh menggigil.

"Pergi sialan!" Bella masih berusaha memakinya. Memaki Neo, pria yang tidak akan pernah Bella inginkan untuk dia temui. Terasa makin sialan saat laki-laki itu hadir di tengah kondisi Bella yang sedang buruk. Laki-laki yang terlihat begitu akrab dengan dirinya.

Tapi Neo keras kepala untuk tetap menarik paksa perempuan itu dalam pelukannya. Sekuat apapun Bella meronta. “Jangan seperti ini, tolong!”

Kenapa dia harus meminta seperti itu? Pria itu merasa begitu menyesal sudah menghancurkan hidup Bella?

Bella mendorong tubuh Neo. “Kau tidak berhak ikut campur dalam hidupku!” berjalan menjauh Neo beberapa langkah lantas terjerembab pingsan.

“Bel,” Neo panik, menepuk-nepuk pipi wanita keras kepala itu. Tidak ada jawaban membuat Neo tidak berfikir panjang untuk memasukkan Bella ke dalam mobil lantas membawa gadis itu ke rumah sakit.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED