Bab 1

Selina Arista duduk di kursi tunggu dengan jemari yang menggenggam ponselnya erat. Dinding klinik bernuansa putih bersih terasa begitu steril, seperti tidak ada ruang untuk kesalahan atau dosa. Tapi Selina tahu, tempat ini akan menjadi awal dari sebuah dosa yang mungkin tidak akan bisa dihapuskan.

"Nyonya Astor?"

Sebuah suara dalam yang sangat dikenal menyebut namanya. Tubuh Selina menegang. Ia mendongak, dan di hadapannya berdiri seorang pria dengan jas putih, sosok yang sudah lama ia coba lupakan-Adrian Vaughn.

Mata mereka bertemu, dan dalam sepersekian detik, dunia seakan berhenti berputar. Pria itu tidak banyak berubah. Rahangnya tetap tegas, sorot matanya tajam, dan bibir itu-bibir yang dulu pernah mengucapkan janji manis padanya-masih mengukir senyum tipis yang sama.

"Kita bisa mulai sekarang," kata Adrian akhirnya, suaranya tenang, nyaris datar, tapi Selina bisa merasakan ketegangan yang tersembunyi di baliknya.

Ia berdiri, berusaha mengatur napasnya sebelum mengikuti pria itu ke dalam ruang pemeriksaan. Langkahnya terasa berat, seperti ada sesuatu yang menyeretnya kembali ke masa lalu-masa ketika ia masih Selina yang bebas, bukan seorang istri dari Nathaniel Astor, pria yang ia nikahi bukan karena cinta, melainkan karena kewajiban keluarga.

Begitu pintu tertutup, keheningan menyelimuti mereka. Selina duduk di ranjang pemeriksaan, sementara Adrian berdiri di dekatnya, menatapnya lekat.

"Jadi kau sudah menikah," gumam Adrian, bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah kenyataan yang ia ucapkan dengan getir.

Selina mengalihkan pandangannya. "Begitu juga denganmu."

Adrian tidak menjawab. Selina tahu, pria itu juga sudah menikah. Semua orang tahu siapa Katherine Vaughn, istri sempurna seorang dokter sukses. Tapi mengapa ada keraguan di mata Adrian saat ia menyebutkan hal itu?

"Apa kabarmu?" tanya Selina akhirnya, mencoba meredakan ketegangan.

Adrian tertawa kecil-bukan tawa bahagia, melainkan tawa yang penuh luka. "Pertanyaan yang aneh setelah bertahun-tahun."

"Kau benar. Seharusnya aku tidak bertanya."

Adrian menghela napas, lalu berusaha kembali bersikap profesional. "Jadi, kau ke sini karena rekomendasi ibumu atau ibu mertuamu?"

"Ibu mertuaku," jawab Selina. "Dia bilang kau dokter terbaik."

"Kau setuju dengan itu?" tanya Adrian, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arahnya.

Selina tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke dalam mata pria itu, menelusuri sisa-sisa perasaan yang masih tertinggal di antara mereka. "Aku belum bisa menilai," katanya akhirnya.

Adrian tersenyum miring. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita mulai pemeriksaannya."

Sepuluh tahun lalu, Adrian adalah segalanya bagi Selina. Mereka jatuh cinta di bangku kuliah, berbagi impian, berbagi rencana untuk masa depan yang mereka pikir akan selalu mereka jalani bersama. Tapi semuanya hancur ketika Selina dipaksa menikah dengan Nathaniel demi kepentingan keluarga.

Adrian tidak datang di hari pernikahannya. Ia pergi tanpa sepatah kata pun, dan Selina mengira itu adalah akhir dari segalanya. Tapi kini, takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang kejam-sebagai dua orang yang terikat dalam janji yang berbeda, namun masih memiliki perasaan yang sama.

Adrian melepas sarung tangannya setelah pemeriksaan selesai. "Semuanya baik-baik saja," katanya.

Selina mengangguk, berusaha tidak melihat ke arah pria itu lebih lama dari yang seharusnya. Tapi saat ia hendak berdiri, Adrian tiba-tiba berkata, "Apa kau bahagia?"

Jantung Selina seketika mencelos. Ia menoleh, dan tatapan mereka bertemu lagi.

"Kau tidak perlu menjawab," lanjut Adrian, suaranya lebih pelan. "Aku sudah tahu jawabannya."

Selina ingin menyangkal, tapi ia tidak bisa. Tidak ada gunanya berbohong pada seseorang yang pernah mengenalnya lebih baik daripada siapa pun.

Saat ia akhirnya berjalan keluar dari ruangan itu, sesuatu di dalam dirinya berubah. Seperti ada pintu yang telah ia kunci rapat-rapat selama bertahun-tahun, kini terbuka kembali-dan ia tahu, tidak akan ada jalan untuk menutupnya lagi.

Bab 2

Adrian menatap layar USG dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tangan Selina beristirahat di atas perutnya yang masih datar, sementara gel dingin yang Adrian oleskan tadi terasa kontras dengan kehangatan jemari pria itu yang menyentuh kulitnya dengan begitu lembut.

"Jantungnya berdetak dengan baik," ujar Adrian, suaranya dalam namun lembut. "Kau sudah memasuki minggu ke-12, semuanya terlihat normal."

Selina menatap layar di hadapannya. Ada kehidupan kecil di sana, di dalam tubuhnya. Seharusnya ia merasa bahagia, tapi entah mengapa, justru kehadiran Adrian di ruangan ini yang membuatnya merasakan sesuatu yang jauh lebih intens dibandingkan dengan berita kehamilannya sendiri.

Tatapan Adrian perlahan turun ke perut Selina. Hening menyelimuti ruangan saat tangan pria itu masih bertahan di sana, mengusap dengan sentuhan yang hampir tidak kentara. Seolah-olah, dalam pikirannya, ia sedang membayangkan sesuatu yang mustahil.

"Andai saja anak ini adalah milikku," gumam Adrian pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Selina menahan napas. Kata-kata itu seharusnya membuatnya terkejut, atau setidaknya membuatnya tersinggung. Tapi yang ia rasakan hanyalah kehangatan yang menjalar di hatinya, sesuatu yang seharusnya tidak ia izinkan tumbuh.

Ia tersenyum kecil, lalu menatap Adrian dengan tatapan yang tak kalah dalam. "Apa kau ingin menjadi ayahnya, Adrian?" tanyanya dengan nada menggoda.

Adrian menoleh padanya, mata mereka bertemu dalam tatapan yang sulit diartikan. "Selina..."

"Jawab aku," desak Selina, bibirnya melengkung dalam senyum yang sulit diartikan.

Adrian menarik napas dalam, mencoba memahami situasi yang sedang terjadi. Selina sedang menggodanya-dan itu berhasil. Ia masih menginginkannya. Ia masih mencintainya. Tidak ada gunanya berbohong pada dirinya sendiri.

Tapi kemudian, sebuah pertanyaan muncul di kepalanya, mencabik kesadarannya. "Bagaimana dengan suamimu?"

Selina tersenyum tipis, seolah pertanyaan itu adalah lelucon. "Nathaniel tidak mencintaiku. Dia tidak pernah menyentuhku."

Adrian mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Anak ini... bukan hasil hubungan kami. Nathaniel tidak pernah menyentuhku, Adrian. Kehamilan ini hasil dari bayi tabung," ujar Selina tenang, seolah kenyataan itu bukan sesuatu yang menyakitkan.

Adrian terdiam. Pikirannya mencoba mencerna fakta yang baru saja ia dengar. Nathaniel Astor, suami Selina, tidak pernah tidur dengannya? Itu berarti selama ini, Selina menjalani pernikahan yang hanya ada di atas kertas-tanpa cinta, tanpa kehangatan, tanpa sentuhan.

"Selama ini..." gumam Adrian. "Kau hidup seperti itu?"

Selina mengangkat bahu. "Aku sudah terbiasa. Aku menikah bukan karena aku menginginkannya, tapi karena keluargaku menginginkannya."

Adrian menatapnya dengan mata yang semakin gelap. Ada kemarahan yang bergejolak dalam dirinya, bukan hanya pada Nathaniel, tapi juga pada situasi yang membuat Selina harus menjalani kehidupan seperti itu.

Dan di saat itu juga, ia sadar-ia tidak ingin membiarkan Selina terus berada dalam ikatan yang tidak membahagiakannya.

Tanpa pikir panjang, Adrian meraih wajah Selina dan menangkupnya dengan kedua tangannya. Selina terkesiap, tapi ia tidak menolak. Mata mereka bertemu, dan dalam sepersekian detik, sesuatu yang sudah lama terkubur di antara mereka kembali muncul ke permukaan.

Adrian menundukkan wajahnya, bibirnya hanya berjarak beberapa inci dari milik Selina. "Aku menginginkanmu," bisiknya, suaranya serak karena emosi yang ia tahan.

Selina tersenyum tipis, matanya berbinar penuh tantangan. "Lalu milikilah aku."

Itu adalah kata-kata terakhir sebelum Adrian kehilangan kendali atas dirinya. Bibirnya menutup jarak, mencium Selina dengan penuh hasrat-bukan hanya sekadar ciuman biasa, tapi sebuah ciuman yang dipenuhi oleh tahun-tahun yang terbuang, oleh rasa sakit, oleh keinginan yang tidak pernah benar-benar padam.

Selina membalasnya, jari-jarinya mencengkeram jas putih yang dikenakan Adrian, seolah ingin menarik pria itu lebih dekat, lebih dalam. Mereka tenggelam dalam dosa yang seharusnya tidak mereka lakukan, tapi tidak ada dari mereka yang berusaha menghentikannya.

Karena di saat itu, tidak ada lagi yang lebih penting selain satu hal-mereka masih saling mencintai.

Bab 3

Adrian merapikan kancing jasnya, sementara Selina sibuk merapikan blus yang sempat berantakan. Wajahnya masih memerah, bekas ciuman Adrian masih terasa di bibirnya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Jangan bilang kau menyesal," gumam Adrian sambil melirik Selina yang masih berdiri di dekat ranjang pemeriksaan.

Selina tersenyum kecil, matanya berbinar penuh godaan. "Kenapa aku harus menyesal? Aku menyukai sentuhanmu."

Adrian terkekeh pelan, lalu mendekat, menyingkirkan helaian rambut Selina yang jatuh di pipinya. "Kalau begitu, kau bisa mendapatkannya kapan saja."

Selina menatap pria itu dengan tatapan penuh arti. Godaan mereka terasa begitu ringan, tapi di baliknya ada perasaan yang jauh lebih dalam.

Tapi kemudian, ia teringat sesuatu. Ibu mertuaku!

Selina langsung mundur beberapa langkah, matanya membesar. "Astaga, Adrian! Ibu mertuaku ada di luar! Bagaimana kalau dia curiga?"

Adrian tersenyum santai. "Kalau begitu, aku harus berakting sebagai dokter profesional, bukan?"

Selina mendengus kecil, lalu menatap meja kerja Adrian. Matanya tertuju pada ponsel pria itu yang tergeletak di sana. Dengan cepat, ia meraihnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Adrian dengan alis terangkat.

Selina mengetik sesuatu di layar ponsel Adrian sebelum menyerahkannya kembali. "Menyimpan nomorku. Aku yakin kita butuh lebih banyak komunikasi."

Adrian terkekeh. "Dan kau yakin suamimu tidak akan curiga kalau aku meneleponmu?"

Selina mendekat lagi, jari-jarinya menyusuri dada Adrian, membiarkan sentuhannya membuat pria itu menahan napas. "Nathaniel tidak pernah peduli, Adrian."

Adrian menelan ludah. Wanita ini... dia tahu betul bagaimana membuatnya kehilangan kendali.

Tapi sebelum godaan itu semakin jauh, Selina melangkah mundur. "Aku pergi dulu. Kalau terlalu lama di dalam, ibu mertuaku bisa masuk dan menemukan kita dalam keadaan..."

Adrian menyeringai. "Tidak profesional?"

Selina tertawa kecil sebelum melangkah ke pintu. "Kita bicara lagi nanti, Adrian."

Saat Selina membuka pintu dan melangkah keluar, wajahnya langsung berubah menjadi ekspresi tenang dan lembut, seolah tidak terjadi apa pun di dalam ruangan itu.

Di luar, seorang wanita paruh baya dengan tatapan tajam langsung berdiri dari kursinya. Margareth Astor.

"Ibu," sapa Selina dengan nada lembut.

Margareth meliriknya sejenak sebelum mengarahkan pandangannya ke Adrian yang baru saja keluar dari ruangan. "Bagaimana keadaan kandungannya, Dokter?"

Adrian mengangguk sopan. "Semuanya dalam kondisi baik, Nyonya Astor. Bayinya berkembang dengan sehat, tidak ada masalah apa pun. Selina hanya perlu lebih banyak istirahat dan mengurangi stres."

Margareth mengangguk dengan ekspresi puas. "Bagus. Aku ingin cucuku lahir dalam kondisi sempurna."

Selina tersenyum tipis. Ia tahu, bagi Margareth, bayi ini lebih penting daripada dirinya sendiri.

"Kalau begitu, kami pamit dulu, Dokter."

Adrian melirik Selina sekilas sebelum mengangguk. "Tentu. Jangan ragu untuk menghubungiku jika ada keluhan."

Selina tersenyum kecil. Oh, tentu saja, aku akan menghubungimu, Adrian.

Sambil menggandeng lengan ibu mertuanya, Selina berjalan meninggalkan klinik. Tapi pikirannya masih tertinggal di dalam ruangan itu-bersama Adrian, bersama sentuhannya, bersama perasaan yang selama ini ia pendam.

Dan ia tahu, ini baru permulaan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED