"Mas," panggilku pelan.
Kulihat Mas Yoga tengah memakai kaus santainya di depan lemari baju kami. Lalu ia mematut diri sebentar di sisi lemari yang terdapat cermin besar. Mas Yoga hanya menanggapi panggilanku dengan deheman singkat, lalu berjalan menuju ranjang dan merebahkan seluruh tubuh di atasnya. Aku menahan napas sebentar, sudah berkali-kali Mas Yoga mengabaikanku satu minggu ini.
"Seharusnya kamu sudah mendapat gaji untuk bulan ini, kan, Mas? Aku ingin meminta uang untuk membayar iuran RT, kebutuhan Zidan, dan kebutuhan sehari-hari. Tadi Bu RT kesini. Aku janji akan membayar iuran RT besok," jelasku meminta nafkah bulanan.
Pandanganku sama sekali tak teralih, terus menatap Mas Yoga yang asyik memejamkan mata.
Tak berselang lama, ia merotasikan kedua bola mata, lalu menatap ke arahku sembari menajamkan pandangan. Nyaliku langsung menciut, tetapi mau bagaimana lagi? Terus terang aku malu kepada Bu RT yang sudah tiga kali menagihku. Lagipula segala keperluan di dapur sudah sangat menipis. Aku ragu besok malam kami memiliki stok untuk makan malam.
"Aku belum mendapatkan gaji, keuangan perusahaan akhir-akhir ini sedang sulit. Pembayaran gaji karyawan ditunda," balas Mas Yoga dengan nada tak senang. Entah mengapa, aku malah ragu mendengar alasannya. Sudah empat bulan ke belakang Mas Yoga mengatakan alasan yang sama saat aku meminta jatah bulanan untuk keperluan hidup.
"Lagi-lagi seperti ini? Mengapa kamu tidak protes pada atasanmu, Mas? Aku juga pernah menjadi karyawan kantoran. Tidak mungkin ada karyawan yang mau haknya disepelekan oleh perusahaan. Apalagi sampai telat gajian terus-menerus," tanyaku kembali. Aku berusaha untuk tidak gentar dan memberanikan diri sendiri.
Namun Mas Yoga malah menggeram tak senang. Pria itu langsung membuang satu bantal ke sembarang arah. Lantas ia menatapku dengan tatapan penuh amarah. Aku yang ditatap sedemikian langsung memundurkan langkah. Zidan dalam gendonganku ikut terkejut dan menangis. Dengan lembut aku menepuk punggungnya seperti biasa, tetapi tangisannya malah semakin membahana. Suasana di dalam kamar sama sekali tidak nyaman, mungkin karena pertikaian yang mulai terjadi di antara kami.
"Kamu pikir protes ke atasan itu gampang? Lagipula yang telat gajian bukan cuma aku. Kalau aku sendirian yang ngotot minta gaji, bisa-bisa aku dipecat. Kamu bisa menanggung biaya hidup kita kalau aku jadi pengangguran?" hardik Mas Yoga.
Mas Yoga menatap ke arah Zidan sebentar lalu kembali melotot kepadaku.
"Kamu yang tidak becus memberikan ASI pada Zidan! Padahal uang susu formula sangat mahal jika direkap ulang! Uang kita cepat habis karena itu!" seru Mas Yoga kembali.
Ya, selalu seperti ini. Dia selalu menjadikan alasan ASIku yang tidak lancar sebagai sebuah alasan. Tidakkah Mas Yoga melihat jika kondisi tubuhku sangat memprihatinkan? Orang-orang berkata aku sangat kurus. Penyebab ASIku tidak lancar karena terlalu stres dan kurang asupan gizi. Setiap bulan aku selalu memikirkan kondisi keuangan kami yang memprihatinkan.
"Maaf, Mas," jawabku lirih. Hanya itu yang bisa kukatakan untuk mengakhiri pertikaian singkat antar kami. Aku sudah biasa dibentak setiap kali kami membicarakan masalah uang. Sakit hati itu sudah pasti. Namun kian hari aku kian kebal terhadap suara bernada tinggi yang terlontar dari bibir suamiku.
Malam harinya, aku menyadari jika Mas Yoga mendiamkan aku. Aku kewalahan menjaga Zidan sepanjang hari tanpa bantuan darinya. Mas Yoga seolah melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan ayah. Bahkan saat aku kerepotan membuat susu dan Zidan rewel, Mas Yoga sama sekali tidak beranjak dari atas sofa kecil yang kami miliki.
Dari arah dapur yang menyatu dengan kamar mandi, aku menatap Mas Yoga dengan pandangan nanar. Tanganku memegang sebuah botol dot yang tengah diresap isinya oleh Zidan. Sedangkan satu tanganku yang lain mengusap tubuh belakangnya.
Mas Yoga sama sekali tidak berinsiatif menggendong Zidan, setidaknya agar aku memiliki sedikit waktu untuk pergi membersihkan diri. Penampilanku jauh dari kata rapi. Bahkan rambutku yang panjang dan kuikat dengan jedai sudah nampak berantakan.
Beberapa kali aku mencoba menegur Mas Yoga. Sekedar agar dia bersedia menggantikanku menjaga Zidan sebentar. Aku ingin pergi ke kamar mandi dan memberishkan dapur sebentar saat Zidan tidur. Namun Mas Yoga tak menghiraukan permintaanku. Dia malah beranjak untuk sekadar menuntaskan makan malamnya dengan tenang. Jangan lupakan fakta jika sampai sekarang ini, aku belum sempat memakan apapun setelah pertikaian antar kami selesai.
Usai makan malam, Mas Yoga hanya sibuk dengan gawainya. Pria itu memainkan game online di ruang tamu sepanjang malam tanpa mengetahui kalau aku menangis dalam diam di kamar. Apalagi seluruh tubuhku terasa begitu lelah.
Aku tiba-tiba mengingat masa laluku di Yogyakarta. Dahulu ada banyak pria tampan yang berterus terang mengejarku dan berharap bisa meminangku sebagai istri. Saat itu di antara sekian banyak pria, aku memilih Mas Yoga. Alasan terbesarku adalah karena Mas Yoga pria yang begitu perhatian. Aku melupakan fakta bahwa tampangnya biasa-biasa saja dan berasal dari keluarga sederhana. Aku berpikir, jika suamiku sangat perhatian, aku akan bahagia. Tetapi sikap itu hanya sementara, perlahan Mas Yoga menunjukan sikap dan karakter aslinya.
Traumaku saat itu masih sangat kuat. Ketakutanku pada pria berwajah tampan membuat Mas Yoga menjadi pilihan akhirku. Dahulu, ayahku sangat tampan dan gagah. Banyak orang mengatakan paras cantikku adalah warisan dari gen ayahku.
Namun ketampanan ayahku justru membawa petaka bagi pernikahannya. Karena merasa ibu tidak cukup cantik, ayah gemar berselingkuh. Saat aku beranjak remaja, ia pergi tanpa jejak meninggalkan kami. Ini terdengar konyol, tetapi traumaku kepada pria berwajah tampan memang benar adanya.
Aku selalu berpikir jika memulai hidup baru dengan Mas Yoga pastilah sangat indah. Terlebih Mas Yoga sangat perhatian dan selalu bersikap lembut saat kami belum terikat pernikahan. Mas Yoga menjadi sosok yang paling mengerti kondsiku dan ibu saat itu.
Karena itulah aku memantapkan hati untuk meminta kejelasan atas hubungan kami. Mas Yoga berkata agar aku menunggu sebentar lagi. Dia sudah mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan finance di Jakarta. Dengan setia, aku menunggunya berbulan-bulan. Kami bahkan sempat lost contact, tapi aku melanjutkan hidupku dengan tumpukan pekerjaan di kantor. Kala itu aku juga bekerja sebagai staf akuntansi di salah satu perusahaan percetakan di Yogyakarta.
Lalu Mas Yoga datang dengan segala persiapan. Dia meminangku di depan ibuku. Kemudian kami mengadakan pesta cukup besar untuk merayakan ikatan halal kami. Jika dikenang, pernikahan awal kami berdua sangat terang benderang. Tidak abu-abu seperti sekarang.
Aku kembali menghembuskan napas. Menengadahkan wajah, menatap langit-langit kamar dengan harapan air mataku tidak meluncur kembali. Setiap kali meratapi nasibku sekarang, mataku selalu berlinang. Aku bahkan merelakan pekerjaan mapanku sebagai seorang akuntan untuk menikah dengan Mas Yoga. Bohong jika aku tidak menyesal memilih pernikahan ini. Pada kenyataannya Mas Yoga tidak seperti yang aku harapkan!
Seiring berjalannya pernikahan kami, lebih tepatnya saat aku dinyatakan hamil dua minggu oleh bidan di Pukesmas, sikap Mas Yoga perlahan berubah. Dia memperlihatkan karakter tersembunyi, sifat yang tidak pernah kuketahui saat kami menjalin cinta.
Mas Yoga memiliki sifat yang tak jauh berbeda dengan Ayah. Aku berani bersumpah jika saat Mas Yoga membentak atau mengamuk, semua itu mengingatkanku pada ayah. Aku seperti sosok ibu yang hanya bisa membisu sembari meratap. Nasib pernikahan kami sama-sama tidak sesuai dengan ekspetasi. Kadang aku berpikir, mungkinkah ini karma yang harus kutanggung akibat kegagalan pernikahan kedua orang tuaku?
Ingatanku kembali terdampar. Aku ingat betul, dulu saat awal kehamilan Mas Yoga sama sekali tidak memberiku uang sebagai pegangan. Alasannya karena Mas Yoga sendiri yang bisa memenuhi semua keperluan kami. Dia berkata akan mengatur keuangan sebagai kepala keluarga.
Aku jelas tersinggung karena merasa tidak dipercaya untuk mengelola rumah tangga kami. Namun aku hanya bisa mengalah. Sejak saat itu kami selalu memiliki alasan untuk bertengkar. Aku merasa tertekan karena tidak berhak membeli kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan Zidan. Semuanya harus meminta izin dan persetujuan dari Mas Yoga.
Sebagai seorang istri, aku tetap berusaha untuk patuh. Sebisa mungkin aku tidak mengeluarkan uang terlalu banyak untuk diriku sendiri. Aku jarang berdandan dan makan seadanya. Bagiku yang terpenting adalah mengedepankan kesehatan Zidan.
Anakku tidak bersalah. Seburuk apapun kondisiku, aku tidak menyesal telah mengandung dan melahirkannya ke dunia. Namun saat melihat keperluan Zidan sangat memprihatinkan, aku menyalahkan diri dan merutuki nasib yang sedang kujalani. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa memasrahkan segalanya pada Tuhan.
Mas Yoga jarang sekali mengantarku untuk memeriksakan kandungan. Kehamilanku selama sembilan bulan hanya diisi dengan rasa miris. Terkadang aku menatap iri para wanita hamil lain yang diperlakukan begitu baik oleh suami mereka. Aku melihat bagaimana mereka ditenangkan saat hendak melakukan pemeriksaan. Aku sangat menginginkan itu, tetapi Mas Yoga beralasan dia harus lembur di kantor karena pekerjaan yang menggunung. Di dalam hati, aku meragukannya. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi selama ini aku selalu berusaha untuk mengendalikan pikiranku dari prasangka buruk.
Malam hari, setelah aku memastikan Zidan terlelap dengan nyaman, aku memilih bangkit dari tempat tidur. Perutku berbunyi. Lapar, itu yang sedang aku rasakan.
Kedua langkah kakiku beranjak, keluar dari kamar dengan suara sepelan mungkin agar Zidan tidak terganggu. Dia sangat sensitif terhadap suara sekecil apapun. Jika Zidan sampai terbangun, akan sangat sulit untuk membuatnya tertidur kembali.
Pandanganku menangkap televisi yang menyala tanpa keberadaan Mas Yoga. Kedua alisku terangkat, dimana dia? Mengurungkan niatku untuk pergi ke dapur, aku memilih berjalan keluar dari rumah untuk memeriksa keberadaan Mas Yoga. Rasanya tidak mungkin jika suamiku pergi dari rumah, besok dia harus berangkat bekerja pagi-pagi sekali.
Aku tertegun sebentar, terpaku di ambang pintu dengan pandangan fokus pada Mas Yoga. Aku menatapnya tanpa ekspresi. Perasaanku campur aduk begitu saja. Ini bukan kali pertamanya aku mendapati Mas Yoga menelepon seseorang tanpa memikirkan keadaan sekitar. Dia tidak mempedulikan bahwa ini sudah larut malam. Pria itu seolah melupakan waktu, bahkan sesekali aku melihat tawa bahagia yang jarang ia berikan untuk sekedar menghiburku.
Kulihat ia menyadari keberadaanku, lantas berdeham satu kali. Aku masih berdiri di ambang pintu, berharap dia menghampiriku lebih dulu. Mas Yoga bersuara pada seseorang dalam telepon lagi, mengatakan jika akan menghubungi lagi nanti. Setelahnya memasukkan ponsel ke dalam saku celana, dan berjalan mendekat dengan wajah netralnya.
“Telepon dari siapa, Mas?” tanyaku sembari mengerutkan dahi.
Mas Yoga membasahi bibir berulang kali, kebiasaannya saat hendak berbohong. Kami sudah menikah cukup lama, aku tahu kapan ia berbohong dan kapan dia mengatakan yang sebenarnya. Dan geliatnya sekarang cukup membuktikan, Mas Yoga hendak menutupi sesuatu.
"Arya, dia menawariku untuk membeli motor tarikan dari customer yang gagal bayar," jawabnya santai. Mas Yoga berusaha tenang, tapi aku merasa ada yang janggal.
"Selarut ini?" tanyaku lagi.
Aku tidak terlalu bodoh untuk bisa memahami. Mas Yoga terlalu meremehkan kepekaanku terhadap gelagat mencurigakannya selama ini. Lagipula jika ini urusan kantor, mengapa dia harus pergi ke luar rumah untuk menjawab telepon? Bahkan sampai meninggalkan siaran bola favoritnya begitu saja.
"Kenapa menjawabnya di luar? Mengapa tidak di dalam rumah saja? Ini sudah malam, Mas, bagaimana jika tetangga kita merasa terganggu" tanyaku beruntun.
Aku berusaha untuk tidak meninggikan nada bicara marena tidak ingin didengar oleh tetangga. Jarak antar rumah petakan memang sangat dekat, hanya terpisah oleh setengah dinding. Aku yakin mereka bisa mendengar setiap kali kami berseteru.
Mas Yoga memutar bola mata malas, lalu menatapku dengan kedua alis menyatu.
"Kamu ingin membuat Zidan terbangun tengah malam?" tanya Mas Yoga balik. Aku tertawa sumbang, Zidan selalu menjadi alasan. Aku tidak akan percaya, karena sudah kesekian kalinya ia memaparkan alibi yang sama.
Karena enggan berdebat di malam hari, aku memilih untuk meninggalkannya di ambang pintu. Daripada kesal sendiri, aku masuk ke dalam kamar. Bahkan rasa lapar yang tadi begitu menyiksa mendadak lenyap begitu saja. Napsu makanku sudah terkalahkan oleh amarah terpendam yang siap meledak kapan saja. Aku lelah menghadapi Mas Yoga.
Di dalam kamar, aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Bulir air mataku mulai turun. Bibir bawahku kugigit dengan kencang, berusaha untuk tidak mengeluarkan sedikit pun suara agar Zidan tidak terjaga.
***
Tangisan kencang Zidan berhasil membuatku mengerjapkan pandang. Di subuh yang dingin ini, aku terbangun dengan mata sembap karena menangis terlalu lama. Pandanganku beralih pada Zidan sembari mengumpulkan kesadaran yang tersisa.
Terkejut, aku terkejut bukan main saat sprei bagian tengah basah. Namun itu bukan ompol, aku bisa melihat cairan pekat kemerahan mengenai paha Zidan. Bahkan selimut kecil yang sebelumnya aku selubungkan ke tubuh mungil putraku telah merosot karena kedua kakinya bergerak tak nyaman.
Aku bergegas membuka popok dengan pandangan khawatir. Darimana asal darah itu? Sejenak, aku terpaku. Tanganku bergetar saat mendapati Zidan buang air besar bercampur darah dengan jumlah banyak.
"Ya Tuhan. Kamu kenapa, Nak?” tanyaku dengan bibir gemetaran. Aku panik bukan main hingga kembali menangis. Isakanku padam karena tangisan Zidan jelas lebih kencang dariku.
Pikiranku langsung tertuju pada Mas Yoga. Aku harus memberitahukan kondisi Zidan pada suamiku. Zidan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Kedua kakiku beranjak turun dari tempat tidur, mencari keberadaan Mas Yoga yang rupanya berbaring di dalam kamar. Kulihat ia malah memejamkan mata di atas kursi dengan televisi yang masih menyala. Aku bergegas menggoyang-goyangkan tubuh Mas Yoga sementara air mataku masih berlinang. Khawatir dan takut akan kondisi Zidan membuat pikiranku kacau.
"Mas, bangun! Antar aku dan Zidan ke rumah sakit sekarang!" seruku. Aku berusaha sekeras mungkin untuk membangunkan Mas Yoga, tetapi dia tidak kunjung terjaga.
“Mas!” Aku kembali berseru. Setengah terkejut Mas Yoga langsung menyentak kedua tanganku dengan gerakan kasar. Aku hampir terjatuh ke atas lantai karena tidak bisa menjaga keseimbangan.
"Arista! Kenapa mengagetkan, hah? Aku baru saja tidur! Kamu mau membuatku kena serangan jantung!" serunya mengomel.
Aku menatap Mas Yoga dengan pandangan kecewa. Bahkan saat anak kami sedang tidak baik-baik saja, Mas Yoga lebih memilih melanjutkan tidurnya.
“Mas, tolong bangun. Zidan harus segera dibawa ke rumah sakit,” lirihku kembali. Menepis segala kekecewaan dan ketakutan yang ada agar Zidan ditangani secepatnya. Mas Yoga mengerang marah sebentar, lalu bangkit dari posisi berbaringnya. Dia bangun setelah mendengar suaraku yang lemah dan tidak berdaya.
"Ayo, cepat!” serunya tidak sabar. Dia menyambar jaket hitamnya yang tersampir di kursi. Aku bergegas menghapus air mataku dengan gerakan kasar, lalu berlari kecil menuju kamar untuk menggendong Zidan.
***
Sudah sekitar satu jam Zidan ditangani, namun dokter tidak kunjung menampakkan diri. Mas Yoga melanjutkan tidurnya di kursi tunggu, sementara aku menatap was-was di depan pintu IGD.
Pintu terbuka, seorang dokter dan suster di belakangnya keluar. Aku langsung mendekat dengan wajah khawatir. Dokter itu sempat melihat Mas Yoga yang terpejam nyaman dalam tidurnya, lantas beralih menatapku dengan senyuman singkat.
"Ibunda Zidan?” tanya dokter. Aku mengangguk cepat sebagai jawaban.
“Zidan menderita diare akut, untung saja dibawa kemari tepat waktu. Zidan harus segera diopname karena menunjukkan gejala dehidrasi, Bu. Darah di fesesnya juga sangat pekat dan membutuhkan penanganan lebih serius. Kami sudah memanggil dokter spesialis anak agar segera memeriksa Zidan," terang dokter jaga tersebut.
"Mas, kamu tidak boleh egois seperti ini, kita harus menuruti saran dari dokter!" Aku berseru tidak terima, tidak peduli hari mulai beranjak pagi. Banyak orang-orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit.
Mas Yoga bersikeras supaya Zidan tidak diopname. Ia ingin Zidan menjalani rawat jalan saja. Aku tidak mengerti mengapa Mas Yoga menjadi kepala batu seperti ini. Padahal yang paling penting saat ini adalah keselamatan putra kami.
Aku tidak kuat melihat Zidan terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Ia sudah buang air lebih dari lima kali. Aku lihat Zidan tidak mampu lagi meneteskan air mata. Menurut dokter ini adalah salah satu tanda dehidrasi. Andai saja kemampuan bicaranya sudah sebaik orang dewasa, ia pasti akan berkeluh kesah.
Sorot mata Zidan yang sendu serasa mengoyak habis hatiku. Aku tidak akan tega bila putraku satu-satunya tidak ditangani dengan baik. Namun Mas Yoga terus meninggikan ego, berkata jika Zidan tidak perlu ditangani seserius itu. Padahal dokter yang lebih mengerti kondisi Zidan dibandingkan dirinya.
"Diare itu penyakit yang tidak parah. Masa harus diopname segala. Minum oralit juga sembuh," tegas Mas Yoga bersikukuh. Wajahnya merah padam. Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya, tidak parah dia bilang? Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Zidan, tentu Mas Yoga yang pertama kali akan kusalahkan!
"Mas, ini bukan masalah parah atau tidak. Ini menyangkut kesehatan Zidan, putra kita!" serangku balik. Urat pada perpotongan leherku pasti menonjol keluar karena aku tidak bisa memendam amarah lebih lama lagi. Aku tidak boleh menuruti perkataan Mas Yoga kali ini.
Kuliat dia langsung meraup wajahnya sendiri. Ia menatap ke arah lain dengan pandangan tak terbaca. Aku masih menatap tajam Mas Yoga, menunggu pria itu mengudarakan suaranya.
"Aku tidak punya uang, Rista. Kalau Zidan diopname aku harus membayar pakai apa?" ujarnya dengan nada pelan.
Tidak ada lagi nada tinggi yang terucap dari bibir Mas Yoga. Mendengarnya, bahuku langsung meluruh.
"Tidak punya uang? Seharusnya kamu sudah menerima gaji sejak dua hari yang lalu. Kemana semua gaji itu?!" tanyaku berseru. Aku menahan air mata, menolak menangis di depan Mas Yoga.
Namun dia tidak menjawab pertanyaanku. Mas Yoga malah memalingkan wajah agar tidak bersitatap dengan mataku.
"Baik, kita lupakan tentang gaji bulan ini. Mungkin kamu akan berkata gajinya ditunda lagi. Tapi seharusnya masih ada sedikit sisa tabunganku dan THR tahun lalu kan, Mas?" tanyaku kembali. Aku mencoba mencari peluang lain agar Zidan segera ditangani.
Mas Yoga menatapku kembali. Dia mendesah panjang seraya membasahi bibir. Aku tetap diam. Naluriku mengatakan dia sedang mencari pembenaran.
"ATM dan tabunganku hilang. Aku sama sekali tidak punya uang," akunya sebagai alasan. Tawa sumbangku kembali terdengar, semudah itukah Mas Yoaga mengatakannya? Apakah dia tidak tahu jika gelagatnya sudah menjelaskan jika dia sedang mengarang cerita?
"Mas, mengaku saja. Kamu ingin lepas dari tanggung jawabmu sebagai kepala rumah tangga?" tanyaku menahan diri supaya tidak menangis.
Mas Yoga menatapku dengan pandangan terkejut. Mungkin ia tercengang karena ini pertama kalinya aku berani membentaknya. Lepas dari tanggung jawab berarti siap melepas identitas sebagai seorang suami. Mas Yoga tidak pernah memerankan diri sebagai kepala rumah tangga yang patut untuk dihormati.
"Arista, jangan berkata sembarangan! Katamu-katamu itu tidak pantas diucapkan oleh seorang istri!" sungutnya memarahiku.
"Tidak pantas? Aku pikir kelakuan Mas yang tidak pantas sebagai kepala keluarga!"
Aku berseru untuk kesekian kalinya. Air mataku menetes tepat setelah menyelesaikan perkataanku. Langkah kakiku berjalan lurus menyusuri koridor. Aku menangis bukan karena meratapi pernikahan kami. Namun karena Zidan tidak bisa ditangani sebelum biaya administrasi terpenuhi. Bahkan saat aku melangkah pergi, Mas Yoga tidak berminat untuk mengejar atau menghampiri. Sebenarnya apa yang aku harapkan dari pernikahan ini?
***
Aku memutuskan untuk mengabari Ibu lewat telpon mengenai keadaan Zidan. Sekaligus aku terpaksa meminjam uang dari Ibu untuk membayar biaya perawatan Zidan di rumah sakit. Ibu terkejut bukan main mendengar permohonanku, namun ia segera mentransfer sejumlah uang yang aku butuhkan.
Karena terlalu mengkhawatirkan Zidan, ibu memilih datang ke Jakarta dengan pesawat. Aku tidak bisa mencegahnya. Barangkali Ibu ingin melihat kondisi cucunya secara langsung. Selain itu sejak aku ikut Mas Yoga ke Jakarta, kami sudah cukup lama tidak bertatap muka.
"Arista, putriku," panggil Ibu.
Kami berpelukan setelah aku menunggu di depan pintu utama rumah sakit. Aku langsung mendekap ibu lebih erat guna menyalurkan rasa rindu. Aku tersenyum setelah kami menguraikan pelukan. Ibu menghembuskan napas seraya menatapku.
"Kamu sudah membayar biaya administrasinya?"
"Sudah, Bu. Aku sedang menunggu proses pemindahan Zidan ke ruang rawat. Maaf membuat Ibu repot kali ini," balasku melirih.
Ibu tidak menjawab. Kami berdua pergi ke tempat pemeriksaan Zidan. Aku menyerahkan bukti nota pembayaran kepada Ibu. Sementara aku meminta Ibu duduk di kursi tunggu. Ia pasti merasa lelah karena jarak Yogyakarta dan Jakarta tidaklah dekat. Aku benar-benar merasa bersalah sudah menyusahkan Ibu di hari tuanya.
Melihatku mendekat, ibu menepuk pelan sisi kursi kosong di sampingnya. Aku menurut, lantas mendudukkan diri di samping Ibu.
"Arista, kamu harus belajar tegas menghadapi suamimu. Ibu merasa janggal karena uang kalian lenyap begitu saja. Katamu Yoga juga sering telat gajian. Kamu harus menyelidiki Yoga secepatnya," ujar Ibu. Aku diam sebentar, mencoba meresapi nasehat ibuku kali ini.
Sejak dulu Ibu selalu mewanti-wanti agar aku bisa bekerja sendiri. Ibu takut hal seperti sekarang terjadi. Ibu sudah tahu kondisi pernikahanku yang tak jauh berbeda dengannnya dulu. Maka dari itu, ia memintaku waspada setiap saat.
"Arista, jamu mendengar nasehat Ibu kan?"
Pertanyaan itu mengudara. Aku menoleh cepat, lalu mengangguk mantap satu kali. Sudah cukup lama aku ingin menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya dengan Mas Yoga. Namun semuanya tertunda karena kesibukanku menjaga Zidan.
"Setelah Zidan membaik dan keluar dari rumah sakit, aku pasti akan menyelidiki Mas Yoga," jawabku mantap.
Ibu tersenyum, mungkin merasa lega setelah aku menuruti nasehatnya. Tidak ada yang salah, aku hanya ingin mencari tahu penyebab Mas Yoga berubah drastis.
Perbincangan kami berakhir karena Zidan dipindahkan ke ruang rawat oleh dua orang petugas. Ibu kuminta pulang ke rumahku sebentar dengan taksi untuk membersihkan diri.
Aku menunggu di depan ruang rawat sementara dokter masih di dalam. Kulihat Mas Yoga bersandar tak jauh dari pintu tanpa menatap ke arahku. Ia juga tidak menyapa Ibu. Kami bungkam satu sama lain. Pikiranku bercabang antara kondisi Zidan dan misi memulai penyelidikan.
Dering pada ponsel terdengar, aku ikut menolehkan atensi pada Mas Yoga yang tengah merogoh saku jeans yang dikenakannya. Aku memperhatikan tiap detail ekspresi wajahnya. Dia tampak terkejut saat menatap layar gawainya menyala dalam genggaman tangan. Dahiku berkerut, merasa penasaran dibuatnya.
Mas Yoga tampak cemas dan gelisah setelah menolak panggilan telpon tersebut. Dia menatapku sembari mengedipkan mata, jelas ada yang salah di sini. Aku tetap tidak berniat untuk membuka suara. Memilih memalingkan wajah agar tidak terus menerus memusatkan pandang ke arahnya.
Derap langkah kaki yang terdengar membuatku kembali mengubaf fokus. Aku membalikkan tubuh tatkala mendapati Mas Yoga berlari meninggalkanku dengan mimik panik. Kedua alisku menyatu, merasa keheranan dengan apa yang baru saja terjadi. Rasa penasaranku semakin tinggi, siapa yang baru saja menghubungi Mas Yoga? Mengapa dia menolak mengangkatnya dengan raut wajah gelisah?
'Ibu benar, aku memang harus menyelidiki Mas Yoga cepat atau lambat,' gumamku di dalam hati.
Untuk saat ini, lebih baik memprioritaskan kesembuhan putraku. Zidan membutuhkan aku.