Bab 1

“Dik, memangnya enggak bisa kalau rumah sehari saja enggak berantakan?” Rasanya kepalaku ingin pecah setiap kali pulang ke rumah. Selalu saja disuguhkan pemandangan seisi rumah yang porak-poranda seperti diterjang angin puting beliung. Mainan gelas plastik semuanya tercecer di lantai. Darahku pun rasanya ikut naik ke kepala. Lagi-lagi harus menahan emosi mati-matian agar tidak sampai meledak. Mengingat anak-anakku yang pasti akan ikut menangis kalau sampai itu terjadi. Bukannya menyelesaikan masalah malah kepalaku bertambah pening mendengar tangisan mereka yang tidak pernah usai hingga larut malam.

“Maaf nanti adik bereskan ya, mau makan Bang?” tawar Nisa, istriku.

“Maulah pakai tanya!” sungutku kesal. Hari ini rasanya kesabaranku telah habis melihat penampilannya yang acak-acakan di tambah bau pesing yang menyeruak masuk ke indra penciuman, membuatku tidak lagi bisa menahan emosi yang terlanjur naik.

“Astaghfirrullah Bang,” lirih Nisa pelan. Namun, masih sampai ke pendengaran. Dia menatap nanar, tetapi aku mengabaikannya begitu saja memilih meneruskan langkah menuju sofa empuk di ruang tamu kami. Kulemparkan tas kerjaku dengan kasar ke meja hingga menimbulkan bunyi cukup keras. Nisa tampak mengusap dadanya perlahan. Ketika pandangan kami bertemu dia paksakan bibirnya untuk tersenyum menyambutku sedang aku hanya tersenyum kecut ke arahnya. Sampai aku menyadari raut mukanya tiba-tiba berubah sendu, ada kesedihan di sana. Mungkin selama ini aku terlalu memanjakannya sehingga baru sedikit membentak, dia bisa terlihat begitu menyedihkan. Rasanya muak. Istriku yang dulu menarik hati kenapa sekarang begitu membuatku kesal hingga tidak betah lama-lama di rumah?

Kuhempaskan bobot tubuh di kursi, meraup wajahku dengan kasar, mencoba menstabilkan amarah yang mulai memuncak. Aku bosan. Rumah tangga yang kujalani selama 15 tahun terakhir ini kenapa rasanya hampa? Tidak ada lagi gairah. Tidak pernah kurasakan lagi sesuatu yang berdenyut di dalam hati. Apa lagi sejak Nisa melahirkan Khalid dia tidak pernah mau kusentuh selalu saja beralasan belum siap padahal masa nifasnya pun sudah selesai. Pernah kupaksakan meminta hakku, yang terjadi dia malah merintih di bibir ranjang, seolah aku ini orang asing yang berusaha menjamah tubuhnya, padahal aku belum menyentuhnya sama sekali. Tidak sampai hati aku melakukannya melihat Nisa yang ketakutan hingga wajahnya memucat membuat hasratku lenyap seketika. 

“Mas ayo makan!” Suara Nisa kembali terdengar seolah menarikku kembali pada kenyataan.

“Ya sudah siapkanlah sana!” sungutku kasar. Tidak ada jawaban hanya rautnya yang berubah sendu.

“Itu makanannya sudah di meja.” Benarkah? Gegas kulirik meja di depanku. Benar, di situ ada piring lengkap dengan lauk pauknya. Nisa masih saja berdiri mematung di tempatnya, membuatku kesal saja.

“Ya sudah sana, beresin mainannya!” Nisa sedikit tersentak mungkin karena nada bicaraku yang mulai meninggi. Hingga anak-anak yang sedari tadi berteriak berebut mainan pun mendadak diam. Pandangan mereka kini beralih padaku. Melihat ekspresi mereka yang ketakutan. Kupaksakan tersenyum pada Reina dan Raina meskipun jengkel di hatiku terus menjalar.

“Mamah!” teriak anak-anak. Mereka menjerit sembari berlarian ke sana ke mari. Sayangnya karena mainan yang berserakan di lantai akhirnya membuat Kembar terjatuh. Nisa berlari membangunkan dua balita yang menangis kencang. Dua-duanya meminta untuk digendong. Bobot mereka yang lumayan berat tentu saja membuat Nisa kewalahan. Kutinggalkan piring makan yang tentu belum sempat tersentuh sama sekali. Kuangkat Reina ke dalam gendongan, tangisnya mulai mereda perlahan begitu pun dengan Raina. Mereka kembali melanjutkan aktivitasnya bermain. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tetapi mereka belum juga lelah padahal aku yakin Kembar telah bermain sejak pagi.

“Apa sih yang kamu lakukan seharian? Sudah ada asisten rumah tangga pun rumah masih saja berantakan."

“Khalid lagi rewel.”

“Ah Khalid terus yang kamu pikirkan. Ya sudah sana bereskan! Jangan sampai anak-anakmu yang lain enggak terurus cuma gara-gara Khalid.”

“Astaghfirrullah, dia juga anak kita. Wajar kalau perhatianku lebih banyak ke Khalid. Dia masih bayi.”

“Ya sudah terserah!” Aku bergegas pergi ke lantai atas ingin segera membaringkan tubuh yang dari tadi sudah berteriak minta diistirahatkan. Mengabaikan Nisa dan anak-anak yang masih sibuk dengan mainannya.

~

Keesokan harinya aku pergi ke kantor seperti biasa. kebetulan sepulang kerja ada acara makan-makan. Salah satu staf ada yang baru diangkat karyawan karenanya kami semua di traktir Cafe Lavanda. Jaraknya tidak jauh dari rumahku jadi sekalian saja aku ikut serta. Sebenarnya aku tidak terbiasa pergi ke acara seperti ini. Bagiku hanya buang-buang waktu tetapi tidak ada salahnya juga kalau kucoba kali ini. Dari pada pulang ke rumah yang hanya membuatku naik darah.

“Eh liat Si Santi anak magang yang baru, cantik ya?” Fredi memulai percakapan di antara kami.

“Lumayan, mau enggak ya jadi bini ke dua.” Haris ikut menimpali sembari terkekeh kecil.

Santi, memang cantik tetapi dia terlalu muda bukan seleraku juga. Aku hanya diam menyaksikan rekan kerjaku yang beradu argumen.

“Gila, mana mau sama aki-aki bau tanah." timpal Fredi.

“Walaupun begini gue masih bugar. Kalau dilihat-lihat Santi enggak alim-alim amat. Gue sering lihat kalau lagi digoda sama Haikal, langsung salah tingkah," ujar Haris.

“Jeli juga mata lu, Ris.”

“Lihat saja pakaiannya. Kucing dikasih ikan ya dimakan,” ucap Haris seraya tertawa cukup keras. Tawa kami pun pecah. Seakan-akan kami semua ikut terpapar virus tengil yang dibawa Haris. Saat itu pakaian Santi memang terbilang cukup berani. Setelan kemeja dengan rok ketat di atas lutut. Tentu saja mampu menghipnotis pria hidung belang macam dua temanku ini.

“Dia masih jomblo loh, Bos Wan,” tawar Haris padaku.

“Iya itu Bos, kasih ceramah dikit pasti boleh poligami,” tambah Fredi. Belum juga kujawab tawaran Haris dia sudah menyambar lebih dahulu.

“Gila lu Fred, jangan bawa-bawa agamalah enggak lucu.'' Haris langsung menunjukkan ekspresi tidak sukanya.

“Bukan selera gue.” jawabku asal. Meski aku atasan mereka tapi di luar kantor kami sudah terbiasa mengobrol seperti ini. Haris dan Fredi seangkatan denganku. Nasib baik lebih berpihak padaku. Tiga tahun lalu aku diangkat menjadi kepala cabang.

“Munafik lu, coba perhatikan baik-baik.”  Bukannya kapok Fredi malah tambah nekat. Aku pun refleks memutar bola mata. Seketika pandangan mata kami bertemu. Santi tiba-tiba melempar senyum sedang aku hanya mengangguk canggung.

“Yakin enggak mau?” tawar Fredi lagi.

“Cantik sih,” lirihku. Entah masih terdengar oleh mereka atau tidak.

“Cewek kayak begitu biasanya agresif. Dijamin enggak bakal bosan. Percaya sama gue!”

“Beda sama Nisa yang enggak punya inisiatif.” Astaga aku malah kelepasan mengatakan itu.

“Bagaimana maksudnya, Nisa membosankan begitu?” Haris sepertinya cukup terkejut. Matanya membelalak.

“Ya begitulah. Gue mulai jenuh. Sudah enggak pandai merawat diri, rumah pun selalu berantakan bikin enggak betah.”

“Ya sudah jadikanlah itu Santi bini muda!” Si Fredi ini lagi-lagi menyuruhku mendekati Santi. Kembali pandanganku beralih pada Santi. Gadis ini, entah kenapa aku merasa dia terus memperhatikanku. Dia terus saja tersenyum membuat dadaku berdebar tidak karuan.

“Jangan begitu Bos, ingat Nisa baru saja melahirkan. Wajarlah menurut gue. Apalagi Si Kembar masih kecil-kecil.” Nada bicara Haris terdengar lebih serius.

“Di rumah sudah disediakan Asisten Rumah Tangga masa iya masih kewalahan?”

“Biarkan saja, pasti maulah dimadu secara Nisa kan salihah.” Fredi kali ini memainkan alisnya seolah meminta pembenaran atas pendapatnya. Nisa memang istri yang sempurna. Namun benarkah dia mau jika dipoligami?

“Enggak usah ikut-ikutan Fredi Bos, kasihan Nisa,” ucap Haris sembari menepuk pelan pundakku.

“Bukan itu saja masalahnya Ris, selera Nisa itu kuno banget anak-anak saja sampai ikutan ketinggalan jaman.”

“Lu itu cuma bosan Bos. Ajak istri jalan-jalan bukan malah cari yang baru,” ucap Haris yang malah menasihatiku.

“Ah enggak asyik lu, Ris.” Fredi pun langsung berlalu dari hadapan kami.

Hari semakin larut anak-anak masih belum juga mau pulang. Selesai makan-makan malah mau lanjut karaoke. Sungguh aku tidak terbiasa berada dalam keramaian seperti ini. Bagiku sepi dan senyap adalah tempat ternyaman untuk tinggal. Keramaian seperti ini hanya mendatangkan kesenangan sesaat. Berbeda dengan kesunyian hadirnya mampu menenangkan jiwa selamanya. Kuputuskan untuk pulang lebih dulu. Tidak enak juga dengan Nisa takut dia menungguku, karena terlalu asyik aku sampai lupa memberinya kabar.

Niat hati ingin sedikit berdamai dengan Nisa. Baru saja membuka pintu sudah disambut dengan kondisi rumah yang seperti kapal pecah. Apa Nisa juga tidak sempat menyalakan lampu. Sudah selarut ini dibiarkan gelap gulita. Kutekan saklar lampu hingga seketika membuat ruangan menjadi terang benderang. Mataku terbelalak menatap keadaan kamar yang sedikit berbeda. Ada tulisan “SELAMAT ULANG TAHUN PAPAH TERSAYANG” terpampang di tembok serta banyak balon berbentuk hati di mana-mana.

Bab 2

Rasa penasaranku semakin menjadi. Ketika pandanganku beralih ke tempat tidur. Gegas aku berjalan mendekat. Rupanya tidak cukup sampai situ Nisa juga menaburi seprei dengan kelopak bunga mawar. Di tengah-tengah dia bentuk sedemikian rupa hingga terlihat seperti hati lalu di tengahnya ada sebuah kue ulang tahun. Seketika jantungku mendadak sakit ketika membaca kotak dari kue itu bertuliskan Lavanda Cake. Mungkinkah Nisa ada di sana? Dia mendengar semuanya? Aku mengatakan hal buruk tentangnya. Sekarang lihatlah yang di lakukan. Aku yang bahkan lupa dengan hari ulang tahun sendiri, tapi dia mau susah payah mendekor kamar kami hingga tampak begitu indah. Di tengah rasa bersalah yang terus menjalar ke lubuk hati terdengar suara pintu terbuka.

“Selamat ulang tahun, Sayang.” Dia berkata dengan mata nanar. Perempuan yang beberapa jam yang lalu telah kubuka aibnya di depan teman-temanku lalu kami menertawakannya tanpa merasa berdosa sedikit pun. Sekarang bagaimana bisa dia tengah tersenyum manis, dengan segala persiapan yang cukup merepotkan. Aku merasa begitu tidak tahu diri.

“Abang tahu bagian paling menyakitkan dari kehilangan?” tanya Nisa, sekaligus memulai pembicaraan di antar kami.

“Apa?” 

“Dilupakan, meski kenyataannya ragaku selalu disisimu. Dulu kita enggak saling mengenal hingga seiring berjalannya waktu. Aku jadi segalanya buat Abang tapi kemudian rasa itu mulai memudar. Hingga datang hari ini. Ketika hadirku tidak lagi berarti dan bukan lagi jadi prioritasmu. Meski enggak pernah mengungkapkannya secara langsung. Aku tahu hatimu telah lama berpaling. Entah di bagian mana namaku tersimpan atau jangan-jangan sekarang sudah terhapus seutuhnya?" Tidak menyangka dia akan mengatakan kalimat itu. Bukan salahnya lagi juga bukan salahku. Entah salah siapa yang jelas kami tidak bisa menolak ketika rasa bosan itu mulai menyapa. Tidak ada asap kalau tidak ada api. Mengakuinya atau tidak semua itu berawal dariku. Sengaja menabur api ke dalam rumah tanggaku sendiri. Kejenuhan ini membuatku lupa akan arti cinta sesungguhnya.

“Maafkan Abang, Dik.” Aku berjalan mendekatinya sembari berusaha memeluk tubuh mungil yang berbalut daster kumal yang menjadi gaya khasnya ketika di rumah. Mengabaikan bau pesing yang sekali lagi menyeruak masuk mengganggu Indra penciuman. Aku tetap merengkuhnya, membenamkan tubuh itu ke dalam dada. Untuk beberapa saat, kami larut dalam suasana yang entah. Sampai akhirnya dia berusaha melepaskan diri.

“Kalau aku maafkan. Maukah Abang, menautkan hati padaku lagi seperti semula?” tanya Nisa seraya menahan tanganku yang hendak memeluknya kembali.

“Dik.”

Aku tidak mau kalah, tetapi lagi-lagi Nisa menahan sekuat tenaga hingga tanganku tidak kuasa memeluknya.

“Aku tahu pasti enggak mungkin ‘kan?”

Aku terdiam sejenak, tidak tahu harus menjawab apa.

“Benar kata Abang aku ini istri yang membosankan dan seleraku itu kampungan, kuno! Sampai anak-anak pun ikut kelihatan kampungan.”

“Siapa yang berani mengatakan seperti itu, Dik?” Mataku kian lekat menatapnya tapi dia malah tertunduk. Aku bisa tahu ada kesedihan yang mendalam di sana. Nisa bersandar pada dinding, sedang tangannya mengepal kuat. Seperti berusaha menahan emosi yang sebentar lagi mungkin akan meledak.

“Abang sendiri yang bilang tadi sore, di depan semua teman-teman.”

“Tadi sore? Jadi Adik ada di situ?” Melihatnya begitu hancur mendadak sekelebat bayangan Fredi dan Haris yang tertawa di Cafe tadi sore melintas tanpa dapat kucegah. Tawa mereka yang nyaring itu. Kenapa justru membuat rasa bersalah kian menjalar ke dalam dada?

“Aku sama anak-anak ada di belakang, melihat saat kami jadi bahan lelucon teman-teman Abang.”

Nisa menatap lekat, tidak ada lagi tangisan hanya badannya yang sedikit bergetar.

“Kenapa enggak bilang? Kita mungkin bisa pulang sama-sama.”

“Enggak usah pura-pura, kami sudah dengar semuanya kok tadinya kami mau buat pesta kejutan ulang tahun. Kebetulan di sana ada banyak kue kesukaan Abang. Niatnya mau beli beberapa potong untuk dibawa pulang tetapi, di sana malah melihat orang yang begitu kami hormati menjadikan kami bahan tertawaan,” ujarnya  sedikit tercekat. Tatapannya yang memilukan seakan menghipnotisku hingga ikut larut dalam kesakitan yang ia rasakan.

“Harusnya bilang. Abang enggak tahu kalau Adik ada di sana.”

“Untuk apa? Kalau dengan kehadiranku cuma bikin malu.”

“Enggak seperti itu, Dik.”

Aku berusaha meraih tangan Nisa menggenggamnya erat supaya membuatnya percaya padaku.

“Abang mau menikah lagi?” tanya Nisa.

“Kamu mengizinkannya?” Nisa refleks merenggangkan tanganku. Namun, aku tetap mengeratkannya kembali.

“Kasih kesempatan Abang sekali saja.”

Aku meletakkan tangannya di depan dadaku. Nisa menatap Nanar, bibirnya mulai bergetar.

“Untuk apa?” tanyanya lirih hampir saja tidak terdengar.

“Izinkan aku menikahi Santi Dik.” Bulir bening yang sedari tadi dia tahan akhirnya mengalir tanpa dapat dicegah. Tidak ada jawaban hanya air matanya yang seakan bicara. Aku tahu bukan hal mudah baginya memberikan izin untuk menikah lagi tapi rasa ini tidak mampu lagi dicegah. Bukankah aku hanya laki-laki normal yang butuh asupan. Hidupku berantakan karena pikiran yang tak karuan. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya hampa bagai mati rasa. Aku bukan tak mencintainya tapi Nisa bahkan dia tak lagi mampu menyediakannya untukku.

“Aku enggak mengizinkannya, Bang.”

“Kenapa? Bukannya Adik sendiri yang bilang dari pada melakukan sesuatu yang diharamkan Tuhan akan lebih baik menghalalkannya.”

“Kalimat itu Abang ucapkan sebelum memintaku untuk jadi istri dan sekarang kenapa mengatakannya lagi sebelum melamar perempuan lain?”

“Dik, Abang enggak bisa menahannya kali ini. Takut nantinya terjerumus dalam dosa. Bukannya Adik pernah bilang tidak akan pernah menentang poligami.”

Aku masih ingat dengan jelas dahulu saat kami sering diskusi tentang poligami hal itulah yang Nisa katakan. Bisa kurasakan dari tangannya yang masih dalam genggaman. Tubuh Nisa bergetar hebat. Apakah ini terlalu menyakitkan?

“Aku enggak pernah menentangnya bukan berarti aku harus mengamalkan sunah itu? Aku belum siap. Selamanya aku tidak akan siap.” Nisa mengentakkan tangannya cukup keras membuatnya terlepas dariku.

“Tapi Dik ....”

“Ini demi anak. Kamu yang meminta untuk punya banyak keturunan tapi kamu malah mau menikah lagi hanya karena syahwatmu tak tuntas. Ini hanya soal waktu. Tidak bisakah kamu menunggu sebentar lagi?”

Nafasku tercekat semua yang dia katakan benar. Aku telah memilih seseorang untuk masuk ke dalam rumah tanggaku hanya karena alasan nafsu yang tak tersampaikan. Apa bedanya aku dengan pria brengsek.

“Kamu tidak mengerti bagaimana laki-laki, Nisa.”

Sudah tiga bulan dia tak kunjung memberi hakku. Aku mencoba mengerti kalau dia belum suci tapi ini sudah terlalu lama. Apakah melahirkan membuatnya trauma? Kurasa tak mungkin bukankah dia baik-baik saja saat melahirkan putri kembar kami sebelumnya.

“Aku enggak pernah memintamu mengerti perasaan perempuan, tapi yang kamu minta sama saja merenggut kebahagiaan hidupku,” kata Nisa. Kali ini bahunya ikut naik turun seolah larut dalam emosi.

“Abang bisa adil, kalaupun kamu tak mau ....”

“Abang mau bilang laki-laki tidak perlu izin istri untuk berpoligami? Lain kali tidak perlu minta izinku. Lakukan saja semaumu! Sesuai hukum yang kamu tahu.”

“Dik.”

“Enggak usah panggil Adik lagi Bang! Sekarang bagimu aku cuma orang asing ‘kan? Yang pendapatnya tidak perlu dihiraukan lagi.”

Tiba-tiba kilatan cahaya sejenak menerangi seisi ruangan, lalu tidak lama suara petir menggelegar tepat di saat Nisa selesai bicara. Aku sedikit tersentak, sedangkan Nisa tidak bergeming sedikit pun. Untuk menenangkan diri dari keterkejutan. Kuhembuskan nafas perlahan berkali-kali sembari memberi jeda untuk kami mendinginkan hati dan kepala yang mulai tersulut emosi.

Bab 3

“Apa lagi? Pergi! Cari kebahagiaan Abang sendiri. Untuk apa lagi di sini, bukankah sudah seperti neraka bagimu?”

"Dik, kita bisa bicarakan ini baik-baik.”  Kuraih lagi tangannya yang sudah terlepas dari genggaman memaksanya berada dalam pelukan.

“Untuk apa tetap mempertahankan aku, kalau hatimu telah milik orang lain.”

“Enggak sayang, Abang enggak akan memaksa kalau kamu enggak mau.” Kuusap punggungnya perlahan. Mungkin hal itu bisa sedikit membuatnya tenang.

“Benar?”

“Iya percaya sama Abang, maaf telah membuatmu terluka.” Tidak ada jawaban darinya hannya tangisnya yang kian bertambah intensitasnya. Bagaimana mungkin aku bisa setega itu, hanya karena nafsu sesaat.

“Kamu bisa bilang apa kurangku? Enggak perlu mencari perempuan lain yang lebih menarik, bukankah aku juga sama-sama perempuan.”

“Kamu enggak kurang apa pun, Sayang.”

“Bohong! Kamu bilang aku kuno, kampungan, apa semua itu bukan sebuah kesalahan?”

“Maaf Sayang, aku kelepasan.”

“Abang tahu istri itu pakaian untuk suaminya dan Abang dengan sengaja menanggalkan pakaianku di depan orang lain." Tatapan itu, aku yakin ada amarah dan kekecewaan yang amat sangat tapi tertahan di sana. Apa dia marah padaku? Aku sudah keterlaluankah?

“Kenapa apa diam? Abang senang, aku jadi bahan tertawaan?”

“Bukan begitu. Ah sudahlah. Abang janji ini untuk yang terakhir kali."

“Enggak peduli kali pertama atau terakhir sebuah aib yang sudah terbuka, selamanya enggak akan mudah di lupakan begitu saja.”

“Aku malu Bang, bahkan untuk sekedar menampakkan diri di depan rekan kerjamu.”

“Maafkan Abang Nisa." Aku bersimpuh di hadapan Nisa yang terduduk di bibir ranjang

“Maaf untuk semua kesalahan yang Abang lakukan.” Nisa menggeleng pelan. Aku tak mau menyerah kuraih tangannya, lalu meletakkannya di kepalaku.

“Demi Allah Nisa, Abang enggak akan pernah membuka aib rumah tangga kita pada siapa pun, tolong percayalah sekali lagi.” Aku tertunduk di pangkuannya. Sungguh melihatnya terpuruk seperti ini membuatku sadar tindakkan yang kulakukan telah melukainya. Sentuhan lembut Nisa di kepalaku selalu saja berhasil menentramkan hati. Dia mulai mereda. Kuberanikan diri menatapnya. Seutas senyum melengkung di bibirnya, meski air mata masih belum mengering juga. Kuusap ekor matanya perlahan, menghilangkan jejak basah di pipi gembulnya, dia sedikit gendut, mungkin karena nafsu makannya meningkat drastis setelah melahirkan dan menyusui.

“Terima kasih untuk kesempatan yang sudah Adik kasih buat Abang.” Nisa hanya tersenyum simpul. Diusapnya kembali kepalaku dengan lembut. Aku berdiri di depannya memegang kedua pundaknya, tapi dengan cepat Nisa menggeleng. Aku mengerti, lagi-lagi dia menolakku, aku benci penolakan. Aku beringsut dari tempatku berdiri, berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahku berkali-kali. Berharap mampu mendinginkan amarah yang mulai naik. Kugebrak dinding yang berada di sebelah cermin. Hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Entah Nisa mendengarnya atau tidak aku tak peduli. Lebih baik melampiaskannya pada benda mati dari pada langsung padanya. Kutatap wajahku di cermin. Kuletakkan tanganku di dagu, lalu beralih ke rahang, apa yang salah? Apa aku kurang menarik? Kenapa dia terus-terusan menolakku. Kamu jahat Nisa! Membiarkanku kelaparan begini, kamu bisa bilang apa kurangku, jangan terus menolakku tanpa sebab. Sepertinya sudah terlalu lama aku berada di dalam toilet hingga terdengar suara pintu di ketuk dari luar.

“Dik, kenapa?” tanyaku sedatar mungkin, Nisa menatap khawatir padaku, pandangannya langsung tertuju pada kedua lenganku. Kali ini tak mungkin kucari gara-gara lagi dengannya meski emosi ini sulit sekali di kendalikan.

“Jangan melampiaskan amarah pada benda mati Bang,”

“Kenapa?”

“Agama kita melarangnya.”

“Sejak kapan? Aku enggak pernah dengar ayat yang melarang tentang hal itu?”

“Ada di alquran.”

“Kamu harus menyebutkannya dulu baru aku percaya,” ucapku yang tak mau kalah, dia bisa tahu hukum seperti itu, lalu apakah dia lupa dengan kewajibannya.

Seorang istri yang menolak akan di laknat oleh malaikat sampai suaminya rido atas perbuatannya, tentang hal ini apa dia mengingatnya juga? Seharusnya sudah di luar kepala kenapa juga dia melakukannya padaku, jelas-jelas itu perbuatan dosa yang mengundang murka yang Maha Kuasa. Aku tak mau melepasnya kali ini kuraih lengan Nisa dengan cepat menahannya agar tak segera berlalu dari hadapanku.

“Jelaskan dulu, sejak kapan melampiaskan emosi pada benda mati dilarang agama.”

“Sejak kapan Abang tertarik dengan hal semacam ini, sudahlah biarkan kuobati luka di tanganmu dulu.”  Perempuan ini bukannya menjawab malah berusaha meraih lenganku.

“Jawab Dik." Kuangkat tangannya hingga sejajar dengan kepalaku, agar dia tak lagi meneruskan aktivitasnya mencari  luka di tanganku.

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, akan tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka."[QS. Al-Israa': 44]”

“Yang Abang lakukan tadi sudah pasti mengganggu tasbih mereka.” Aku tersenyum kecut ke arahnya.

“Kalau kamu tahu hukum agama dengan jelas dan detail, kenapa terus-terusan menolakku.” Aku berjalan mendekati Nisa tapi wanita itu malah berjalan mundur semakin menjauh dariku.

“A aku punya alasan.” ucapnya sedikit tercekat.

“Apa alasannya?” tanyanya.

“Aku belum siap Bang.”

Arhggg! lagi-lagi belum siap.

“Kenapa belum siap? Mau sampai kapan menunggumu siap?”

“Aku belum siap Bang, Maaf.” Dia malah tiba-tiba menangis terisak membuatku sedikit bingung juga. Setelah melahirkan secara caesar kenapa dia jadi begitu emosional lebih sering menangis. Bahkan untuk hal-hal yang tak perlu ditangisi, seperti kali ini. Dia hanya perlu menjawab alasannya tapi kenapa lagi-lagi tangisan yang dia berikan.

“Tunggu dulu?” Kutahan lengannya kian lama semakin erat, takut kalau dia malah pergi lagi.

“Tolong jangan paksa aku."

“Kenapa memangnya? Jangan bersikap seolah aku ini penjahat Nisa? Katakan yang sebenarnya ada apa?”  Emosi yang kutahan susah payah ini malah melonjak naik lagi, Tuhan aku tak mau menyakitinya lagi, tetapi kenapa wanita di hadapanku ini selalu saja menguji kesabaranku.

“Katakan Nisa jangan diam seperti ini!”

“Maaf Bang aku enggak bisa,” Nisa malah menggeleng pelan, ditambah dengan tangisnya yang tergugu.

“Nisa tolong katakan alasannya jangan membuat Mas bingung seperti ini,” ucapku dengan sedikit menekankan nada bicaraku berharap kali ini dia mau mengemukakan alasannya, sudah terlalu lama di gantung tanpa alasan seperti ini. Aku hanya butuh jawaban.

"A-aku ....” Nisa tercekat, dia terlihat gugup. Aura ketakutan terpancar jelas dari raut wajahnya. Meski begitu perempuan itu seperti tetap memaksa agar terlihat baik-baik saja

“Kenapa Nisa? Ini suamimu. Aku hanya menunaikan kewajibanku. Apa sekarang kamu enggak lagi membutuhkannya?” Aku sudah yang sudah terlanjur emosi, jadi nada bicaraku tak bisa terkontrol. Wanita itu tiba-tiba saja memeluk sangat erat. Tubuhku ikut terguncang, seiring dengan tubuhnya yang berguncang. Dia menangis lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED