Luna buru-buru mengajak Oliv segera pergi dari tempat itu. Dia pun tak menanggapi panggilan dari suaminya.
Sedangkan Arka sendiri mencoba mengejar Luna. Ada perasaan bersalah di hatinya saat dia kepergok bersama wanita lain, padahal tadi pamitnya mau menemui klien.
"Lun, tunggu!" teriak Arka, sedangkan Luna sendiri tetap tak menoleh sedikitpun, dia semakin cepat melangkahkan kaki nya agar segera sampai di parkiran.
Setelah dia berada di dalam mobil, Luna menyuruh Oliv untuk segera pergi, dia tidak mau bertemu suaminya.
Sempat terlihat Arka berlari kecil menuju ke arahnya, tetapi Luna keburu pergi dari tempat itu.
Luna menangis tersedu di samping sahabatnya. Dia merasa telah dibohongi. Kini dia sadar, kenapa suaminya selalu bersikap acuh kepadanya.
Ada nama wanita lain yang setiap saat selalu dia sebut. Ada wajah wanita lain yang selalu mengisi kepalanya di setiap waktu.
"Aku tidak tahu dosa apa yang sudah ku perbuat di masa lalu sampai Tuhan memberiku cobaan seperti ini," ucap Luna ditengah tangisnya.
"Ku kira dia belum bisa mencintaiku, tetapi aku salah. Dia sama sekali tidak mau mencintaiku, dia tidak mau membuka hatinya untukku. Lalu untuk apa pernikahan ini dipertahankan?" ucap Luna lagi.
"Kamu belum mendengarkan penjelasan apapun dari suamimu," jawab Oliv sambil terus fokus menyetir.
"Aku tidak butuh penjelasan apapun. Tanpa dijelaskan semuanya sudah sangat jelas. Suamiku bukannya belum mencintaiku, tetapi dia tidak mau mencintaiku."
Hening sesaat, Oliv sendiri tidak tahu harus berkata apa sebab ini menyangkut masalah rumah tangga sahabatnya dan dia sendiri adalah orang luar.
"Kita jadi ke yayasan?" tanya Oliv mengalihkan pikiran Luna agar sahabatnya itu tidak larut dalam kesedihan.
"Kita kesana saja. Sepertinya dengan menemui anak-anak itu pikiranku jauh lebih baik," jawab Luna.
"Tapi kamu jangan menangis. Ntar dikira aku melakukan sesuatu terhadapmu," ucap Oliv bercanda supaya Luna bisa tersenyum, tetapi Luna sama sekali tak merespon. Dia terlalu hanyut dalam pikirannya sendiri.
💔💔💔
Kehadiran Luna dan Oliv disambut hangat oleh pengurus yayasan dan juga beberapa anak kecil yang sudah lama mengenal Luna. Tak lupa sebelum masuk ke dalam dia menurunkan beberapa barang yang sudah dia beli untuk diberikan pada yayasan.
"Tante, yey, tante datang," ucap anak itu menghampiri Luna yang sedang duduk didampingi salah satu Ibu pengurus.
"Iya manis, tante datang," ucap Luna sambil mengacak lembut kepala anak lelaki itu.
Dengan melihat kebahagiaan terpancar dari wajah anak kecil ini, hati Luna juga ikut bahagia.
Ntah kenapa dia merasa nyaman berada di sini.
"Tante, boleh aku minta sesuatu?" tanya anak itu lagi.
Pengurus yayasan yang melihat anak itu terlihat geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Boleh, memang mau minta apa?" tanya Luna.
"Boleh aku memanggil tante dengan sebutan Ibu? Selama ini aku tidak punya Ibu," ucapnya lirih sambil menunduk. Dia merasa takut kalau Luna akan menolak permintaannya.
Luna menarik anak kecil itu kedalam pelukan. "Boleh, kamu boleh memanggil tante dengan sebutan Ibu."
"Terimakasih, Ibu."
Ucapan anak kecil itu langsung membuat Luna merasa bahagia. Lukanya sedikit terlupakan dengan dia berada disini. Rasanya dia masih enggan untuk segera pulang, dia ingin menikmati waktu lebih lama bersama anak kecil yang mencintainya dengan tulus.
Di lain tempat, Arka tengah gelisah menunggu kedatangan Luna. Dia melirik jam nya, dia juga membuka ponsel dan mencoba menghubungi Luna, tetapi nomor Luna tidak aktif.
"Kemana sih kamu?" ucap Arka.
"Bi, kesini sebentar," ucap Arka pada asisten rumah tangganya.
"Iya, Pak."
"Kamu tahu, siapa teman Luna yang sering datang kesini?" tanya Arka.
"Saya tidak tahu, Pak. Cuma neng Oliv, yang biasanya kesini."
"Ya sudah, lanjutkan bekerja," jawab Arka.
Arka semakin gelisah saja. Tidak biasanya dia seperti ini, mungkin karena dia menyesal telah berbohong pada istrinya.
Sekali lagi, dia mencoba menghubungi Luna tetapi tetap saja, nomor itu tidak aktif.
Kali ini dia berniat untuk datang ke rumah Oliv, sesuatu yang nyaris tidak pernah Arka lakukan selama dia menikah dengan Luna.
Arka tidak pernah mau tahu tentang siapa saja teman Luna. Hal itu baginya tidaklah penting.
💔💔💔
"Belum pulang anaknya, Mas," ucap seorang Ibu yang Arka tafsir berumur setengah abad. Dia adalah ibunya Oliv.
"Terimakasih, Bu. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu," ucap Arka.
Dia akan menunggu kepulangan Luna di rumah saja dan akan menjelaskan semuanya.
Luna berniat malam ini tidak akan pulang ke rumah. Rasa sakit telah dibohongi oleh sang suaminya membuatnya enggan kembali ke rumah yang selama ini telah dia tempati.
"Aku tidur di rumah mu ya?" ucap Luna pada Oliv.
"Lah, kamu tidak pulang?" tanya Oliv heran. Bukannya tidak mau Luna tidur di rumahnya, tetapi dia merasa Luna perlu menyelesaikan masalah pribadinya dengan sang suami.
"Aku malas pulang," jawab Luna.
"Lun, bukannya tidak mau ya, tapi kamu selesaikan dulu masalah kamu."
"Please!"
"Tapi?"
"Ya, Oliv?" ucap Luna sambil menangkupkan kedua tangan.
"Baiklah," jawab Oliv.
Setelah itu keduanya masuk ke dalam rumah, tak lupa Luna mengaktifkan data selulernya setelah hampir seharian dia matikan.
Rentetan panggilan tak terjawab juga pesan yang mulai masuk dari Arka membuatnya seolah tidak percaya.
Selama ini belum pernah Arka menghubunginya dulu, belum pernah dia berkirim pesan sebanyak ini.
Arka yang cuek dan bersikap dingin, kalau tidak dihubungi dia tidak akan menghubungi dulu.
"Ada apa, Lun?" tanya Oliv.
"Nggak apa-apa. Aku capek, pengen langsung tidur saja," jawab Luna.
Belum juga langkahnya sampai di depan pintu kamar, Luna sudah dipanggil ibunya Oliv dan mengatakan kalau suaminya tadi datang kesini untuk mencarinya.
Luna sebelumnya enggan untuk pulang ke rumah tetapi karena dipaksa oleh ibunya Oliv, dia menjadi tak enak untuk menginap di rumah sahabatnya itu.
🔥🔥🔥
"Darimana saja?" tanya Arka dengan nada dingin saat mengetahui istrinya masuk ke dalam rumah. Posisi Arka saat itu tengah duduk di sofa sembari menunggu kepulangan istrinya.
Dia bersikap seperti itu agar tidak ketahuan kalau sedari tadi dia mencemaskan keadaan Luna.
"Rumah teman," jawab Luna cuek. Setelahnya dia beranjak menuju ke kamarnya.
"Aku belum selesai bicara, tidak pantas seorang istri langsung pergi begitu saja saat suaminya belum menyelesaikan ucapan," ujar Arka dan berhasil membuat langkah Luna terhenti.
Seketika wanita itu menoleh ke arah Arka dan menghujam dengan tatapan tajamnya.
"Kamu menganggapku istri?" tanya Luna memastikan.
"Lha memang apa?"
Luna tak menjawab, dilangkahkan kaki nya menuju ke kamar sedangkan Arka mengikuti langkah istrinya dari belakang.
Luna langsung menuju ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut berwarna putih. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Arka yang melihat kelakuan istrinya hanya bisa menghela napas panjang. Ada rasa sesak, dia memang salah.
"Lun," ucap Arka sembari memegang pundak istrinya dari samping.
Luna diam saja, enggan menanggapi panggilan dari sang suami. Mengingat kejadian tadi siang membuat hatinya sakit.
"Aku bisa jelasin, tolong, kamu buka mata kamu," ucap Arka.
Luna masih diam dan itu membuat Arka semakin tak bisa menahan emosi.
"Dengar Lun. Wanita yang ku temui tadi siang adalah wanita yang selama ini masih ku cintai."
Ucapan Arka membuat hati Luna semakin sakit. Dia beranjak dari tidurnya dan menatap sang suami dengan lekat.
"Lalu apa artinya aku dalam hidup mu, Mas? Apa artinya kalau kamu masih menyimpan nama wanita lain di hatimu?" tanya Luna. Ada bulir bening yang hampir jatuh tetapi dengan sekuat tenaga dia tahan, jangan sampai dia terlihat lemah dihadapan suaminya.
"Tidak ada."
"Lalu kenapa kamu menikahi ku kalau aku tidak ada artinya di hidupmu?" tanya Luna lagi.
"Aku terpaksa, semua itu karena ibuku yang sangat menyukai kamu," jawab Arka.
"Semua karena ibumu kamu mengorbankan perasaan wanita lain? Hebat kamu ya," ucap Luna. Bulir bening pun jatuh dari kedua sudut matanya.
"Iya, dan ku harap kamu paham akan semua ini," ucap Arka.
Hati Luna benar-benar teriris dengan ucapan Arka.
"Ceraikan aku," ucap Luna.
"Tidak."
"Kenapa? Bukannya kamu mencintai wanita itu, bukan aku?"
"Aku tidak mau Ibu sakit," jawab Arka.
"Kamu egois!" Bentak Luna.
Arka diam saja, lalu setelahnya dia beranjak menuju ranjang samping tempat dimana dia tidur, lalu merebahkan tubuhnya begitu saja dan membiarkan Luna menangis sendiri.